http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. ANALISIS KELAYAKAN SUHU RUANG KERJA BERDASARKAN STANDAR KENYAMANAN PERMENAKER NO 5 TAHUN 2018 (STUDI KASUS: CV XYZ) Fertlio Dwyanton1. Febrina Agusti2. Ringgo Ismoyo Buwono3 1,2,3 Program Studi Teknik Industri Ae Universitas Duta Bangsa Surakarta Email: : 1 210312005@mhs. ABSTRAK Pertumbuhan industri di Indonesia mendorong peningkatan kebutuhan akan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja. Ketidaksesuaian suhu dengan standar kenyamanan dapat memicu kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan kesehatan yang berdampak pada penurunan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan suhu ruang kerja di CV XYZ, sebuah perusahaan percetakan buku edukatif di Karanganyar, berdasarkan standar kenyamanan termal Permenaker No. 5 Tahun 2018. Pengukuran dilakukan menggunakan metode Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) dengan mempertimbangkan suhu basah alami dan suhu bola, serta penilaian beban kerja berdasarkan SNI 7269:2009. Hasil pengukuran pada sepuluh area kerja menunjukkan nilai ISBB berkisar antara 33,19AC hingga 35,74AC, seluruhnya melampaui ambang batas aman untuk kategori beban kerja masing-masing dan berstatus AuTidak DiperkenankanAy untuk bekerja terus-menerus tanpa pengendalian panas. Nilai tertinggi tercatat di area Sharpline . ,74AC) dan terendah di Komori Lithrone . ,19AC) yang relatif lebih rendah karena dilengkapi pendingin ruangan (AC). Penilaian beban kerja menunjukkan lima area berkategori sedang . Ae255 kkal/ja. dan lima area berkategori ringan (<200 kkal/ja. Temuan ini menegaskan perlunya penerapan strategi pengendalian risiko panas sesuai hirarki pengendalian, meliputi eliminasi sumber panas, substitusi peralatan, pengendalian teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri, guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, nyaman, dan produktif. Kata Kunci : Ergonomi. Iklim Kerja. Beban Kerja PENDAHULUAN Pertumbuhan industri di Indonesia mendorong peningkatan kebutuhan akan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja. Lingkungan kerja fisik, khususnya suhu, memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi fisiologis dan psikologis tenaga kerja . Ketidaksesuaian suhu dengan standar kenyamanan dapat memicu kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan kesehatan yang berdampak pada penurunan produktivitas . , . Secara ergonomis, pengendalian suhu kerja bertujuan untuk menjaga kesejahteraan pekerja sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. menekankan bahwa kenyamanan termal merupakan faktor penting dalam meminimalkan tekanan fisiologis, sementara . menyatakan bahwa suhu kerja yang melebihi batas kenyamanan dapat meningkatkan beban jantung dan mempercepat kelelahan. CV XYZ, merupakan sebuah perusahaan percetakan buku edukatif di Karanganyar. Berdasarkan hasil observasi awal pada bulan April 2025 di CV XYZ, suhu di area kerja mesin web offset tercatat mencapai 37AC, melebihi ambang batas kenyamanan termal 28AC yang diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun Kondisi ini menyebabkan pekerja lebih cepat berkeringat, sering berpindah tempat http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. untuk mencari udara lebih sejuk, dan kehilangan waktu kerja efektif hingga sekitar 30 menit per hari. Dampak tersebut secara langsung memengaruhi produktivitas dan pemenuhan target Untuk mengukur beban panas secara objektif, digunakan metode Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang mempertimbangkan suhu kering, suhu basah alami, dan suhu bola. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi tingkat risiko termal dan penyusunan intervensi ergonomis berbasis data . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan suhu ruang kerja di CV XYZ berdasarkan standar kenyamanan Permenaker No. Tahun 2018, serta memberikan rekomendasi perbaikan guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan produktif. TINJAUAN PUSTAKA Ergonomi Merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia, fasilitas kerja, dan lingkungannya untuk mengoptimalkan kesejahteraan pekerja serta kinerja sistem . Tujuannya adalah menyesuaikan kondisi kerja dengan kemampuan fisik dan psikologis manusia agar tercapai efektivitas, efisiensi, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan kerja. Penerapan ergonomi mencakup perancangan dan perancangan ulang sistem kerja, perangkat, serta lingkungan, dengan melibatkan berbagai disiplin seperti anatomi, teknik industri, arsitektur, dan psikologi. Manfaat utamanya meliputi peningkatan kesehatan fisik dan mental melalui pencegahan penyakit akibat kerja, peningkatan kesejahteraan sosial melalui koordinasi kerja dan jaminan sosial, dan keseimbangan teknis, ekonomis, dan antropologis yang mendukung kualitas kerja dan hidup. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja adalah keseluruhan kondisi fisik dan non-fisik yang mengelilingi pekerja dan memengaruhi kenyamanan, keselamatan, serta produktivitas . Lingkungan kerja yang baik meningkatkan kinerja, semangat, dan mengurangi risiko kecelakaan maupun kelelahan: Menurut . , lingkungan kerja terbagi menjadi dua jenis: Fisik, kondisi yang dapat dirasakan pancaindra dan memengaruhi kenyamanan serta produktivitas, seperti suhu, kelembapan, pencahayaan, kebisingan, ventilasi, dan tata letak peralatan. Non-fisik, faktor psikososial dan organisasional, seperti hubungan kerja, gaya kepemimpinan, beban kerja, komunikasi, dan dukungan sosial. Iklim Kerja (Work Climat. Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2018, iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembapan, dan kecepatan udara dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. Secara umum, iklim kerja dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu: Iklim Kerja Panas (Hot Working Climat. , terjadi ketika suhu lingkungan melebihi kemampuan tubuh untuk mengatur panas, seperti pada area kerja dengan sumber panas Paparan berlebih dapat menyebabkan heat stress, dehidrasi, dan kelelahan . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . Iklim kerja dingin (Cold Working Climat. , terjadi saat suhu lingkungan di bawah batas kenyamanan tubuh, yang dapat menurunkan fungsi otot, ketangkasan, dan menyebabkan kekakuan sendi . Nilai Ambang Batas (NAB) adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2018. NAB Iklim Kerja (ISBB) yang diperkenankan sebagai tabel berikut : Tabel 1. Nilai Ambang Batas Iklim Lingkungan Kerja Industri Sumber : Permenaker No 5 Tahun 2018 Pengaturan waktu kerja setiap Waktu kerja 75%-100% 50%-75% 25%-50% 0%-25% Ringan ISBB (C) Beban Kerja Sedang Berat Sangat Berat Beban Kerja Beban kerja adalah total tuntutan fisik dan mental yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja dalam melakukan tugas tertentu . Beban kerja mencakup aktivitas tubuh, kekuatan otot, serta upaya kognitif yang diperlukan untuk mencapai target pekerjaan dalam waktu dan kondisi tertentu. Pengukuran beban kerja mengacu pada SNI 7269:2009 tentang Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori Menurut Pengeluaran Energi. Tabel 2. Tingkat Kalori Pengeluaran Energi Sumber : SNI 7269:2009 Pekerjaan Posisi Badan Duduk Berdiri . Pekerjaan dengan tangan Kategori I . ontoh : menulis, meraju. 0,60 0,90 . Kategori II . ontoh : menyetrik. 1,00 1,30 Kategori i . ontoh : mengeti. 1,40 1,70 Pekerjaan dengan satu tangan Kategori I . ontoh : menyapu lanta. 1,20 1,50 Kategori II . ontoh : menggergaj. 1,90 2,20 Kategori i . ontoh : memukul pal. 2,60 2,90 . Pekerjaan dengan dua lengan Kategori I . ontoh : menambang, 1,55 1,85 mengemas baran. Kategori II . ontoh : memompa, menemp. 2,25 2,85 . Berjalan . Berjalan Mendaki . 3,30 4,10 3,70 4,10 4,50 4,90 3,90 4,60 4,70 5,40 5,30 6,10 4,25 5,05 5,25 6,05 ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . Posisi Badan Pekerjaan Duduk Berdiri . Berjalan . Kategori i . ontoh : mendorong kereta 3,25 3,85 6,25 bermuata. Pekerjaan dengan menggunakan gerakan tangan Kategori . ontoh 4,05 4,35 6,75 administras. Kategori II . ontoh : membersihan karpet, 9,05 9,36 11,75 mengepe. Kategori i . ontoh : menggali lobang, 14,05 14,35 16,75 meneban. Berjalan Mendaki . 7,01 7,55 12,55 17,55 Disebutkan bahwa pada beban kerja ringan dibutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam, beban kerja sedang membutuhkan kalori >200-350 Kkal/jam, dan pada beban kerja berat membutuhkan kalori >350-500 Kkal/jam. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di ruang produksi CV XYZ untuk menganalisis kelayakan suhu kerja berdasarkan Permenaker No. 5 Tahun 2018. Tahapan penelitian meliputi: Identifikasi Awal Dilakukan studi lapangan untuk memperoleh gambaran kondisi suhu ruang kerja, dilanjutkan studi pustaka terkait standar kenyamanan termal dan metode pengukuran yang relevan. Berdasarkan hasil pengamatan awal, suhu udara terindikasi melebihi ambang batas Pengumpulan Data Data primer diperoleh melalui pengukuran suhu yang dilakukan di dekat pekerja, adapun pengukuran dilakukan pada siang hari untuk memperoleh hasil tertinggi. Pengolahan Data Hasil pengukuran direkap untuk mendapatkan nilai nilai Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB). Nilai ini dibandingkan dengan standar Permenaker No. 5 Tahun 2018 untuk menentukan tingkat kelayakan suhu. Adapun rumus dalam penentuan nilai ISBB . sebagai berikut: ISBB = 0,7SBA 0,3SG Keterangan: SBA = Suhu Basah Alami (AC) = Suhu Globe/Bola (AC) Analisis dan Penyusunan Usulan Perbaikan Data dianalisis untuk mengidentifikasi deviasi terhadap standar. Usulan perbaikan disusun sebagai rekomendasi agar suhu ruang memenuhi kriteria kenyamanan dan keselamatan kerja. http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Tabel 3 dibawah, diketahui hasil pengukuran masing-masing area kerja dan didapatkan suhu bola alami dan suhu globe yang telah diukur menggunakan alat area heat stress Tabel 3. Hasil Pengukuran ISBB per Area Kerja Sumber : Peneliti Area Kerja Harris V25 Goss Sharpline WIP Cover Potong Komori Sprint Komori Lithrone Martin Muller Packing WIP Naskah Suhu Bola Alami C) 24,08 24,57 25,06 24,01 24,85 22,75 23,73 23,24 23,59 Suhu Globe C) 10,59 10,74 10,68 10,68 10,53 10,47 10,44 10,41 10,38 10,38 ISBB C) 34,67 35,31 35,74 35,18 34,54 35,32 33,19 34,14 33,62 33,97 Gambar 1. Grafik ISBB per Area Kerja Sumber : Peneliti Berdasarkan Gambar 1 diatas, grafik pengukuran ISBB (Indeks Suhu Bola Basa. pada sepuluh area kerja di lingkungan percetakan, diperoleh nilai yang bervariasi antara 33,93AC hingga 35,75AC. Nilai ISBB tertinggi tercatat pada area SharpLine sebesar 35,74AC yang http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. disebabkan karena mesin yang cukup besar, sedangkan nilai terendah terdapat pada area Komori Lithrone sebesar 33,19AC karena dilengkapi AC. Tabel 4. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori Menurut Pengeluaran Total Energi per Area Kerja Sumber : Peneliti Area Kerja Penilaian Aktivitas . kal/ja. Kategori Beban Kerja Harris V25 218,31 Sedang Goss 211,00 Sedang Sharpline 214,33 Sedang WIP Cover 43,92 Ringan Potong 187,20 Ringan Komori Sprint 97,33 Ringan Komori Lithrone 97,33 Ringan Martin Muller 255,18 Sedang Packing 218,00 Sedang WIP Naskah 21,88 Ringan 156,45 Ringan Rata-Rata Beban Kerja Hasil penilaian aktivitas pada tabel 4, menunjukkan bahwa lima area kerja, yaitu Harris V25. Goss. Sharpline. Martin Muller, dan Packing, termasuk kategori beban kerja sedang . Ae 255 kkal/ja. yang menuntut aktivitas fisik lebih besar sehingga berisiko tinggi mengalami kelelahan panas, terutama bila dikombinasikan dengan nilai ISBB yang tinggi, sedangkan lima area lainnya, yaitu WIP Cover. Potong. Komori Sprint. Komori Lithrone, dan WIP Naskah, berada pada kategori beban kerja ringan (<200 kkal/ja. dengan aktivitas relatif statis dan risiko panas lebih rendah. secara keseluruhan, rata-rata beban kerja seluruh area adalah 156,45 kkal/jam . ategori ringa. , namun area dengan beban kerja sedang tetap memerlukan perhatian khusus dalam pengaturan waktu kerja dan istirahat. Tabel 5. Hasil Kategori dan Perkenaan Pajanan Panas per Area Kerja Sumber : Peneliti Area Kerja ISBB C) Kategori Beban Kerja Hasil Harris V25 34,67 Sedang Tidak Diperkenankan Goss 35,31 Sedang Tidak Diperkenankan Sharpline 35,74 Sedang Tidak Diperkenankan WIP Cover 35,18 Ringan Tidak Diperkenankan Potong 34,54 Ringan Tidak Diperkenankan http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. Komori Sprint 35,32 Ringan Tidak Diperkenankan Komori Lithrone 33,19 Ringan Tidak Diperkenankan Martin Muller 34,14 Sedang Tidak Diperkenankan Packing 33,62 Sedang Tidak Diperkenankan WIP Naskah 33,97 Ringan Tidak Diperkenankan Berdasarkan data pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) pada area kerja percetakan, seluruh titik menunjukkan nilai ISBB di atas batas rekomendasi untuk kategori beban kerja masing-masing, yang berakibat pada status tidak diperkenankan bekerja secara terus-menerus tanpa pengendalian risiko panas. Nilai ISBB tertinggi ditemukan pada area Sharpline . ,74 AC, beban kerja sedan. yang mengindikasikan paparan panas signifikan, diikuti Goss . ,31 AC, beban kerja sedan. dan Komori Sprint . ,32 AC, beban kerja Kondisi ini berpotensi menyebabkan kelelahan panas . eat stres. dan menurunkan produktivitas pekerja jika tidak dilakukan tindakan mitigasi. Dalam konteks pengendalian risiko, penerapan strategi sesuai hirarki pengendalian perlu dilakukan secara sistematis: Eliminasi Mengurangi atau menghilangkan sumber panas yang tidak diperlukan, misalnya dengan mematikan mesin yang tidak digunakan atau meminimalkan waktu kerja di area bersuhu Substitusi Menggantikan peralatan atau proses produksi yang menghasilkan panas berlebih dengan teknologi yang memiliki emisi panas lebih rendah. Pengendalian Teknis (Engineering Contro. Meningkatkan sistem ventilasi, penggunaan exhaust fan, pemasangan pendingin ruangan . ir conditioner atau evaporative coole. , isolasi panas pada mesin, dan penataan ulang tata letak fasilitas untuk mengoptimalkan aliran udara. Pengendalian Administratif Mengatur jadwal kerja dengan sistem rotasi, memberikan waktu istirahat berkala di ruang yang lebih sejuk, penyesuaian beban kerja berdasarkan suhu lingkungan, serta pelatihan pekerja terkait tanda dan pencegahan heat stress. Alat Pelindung Diri (APD) Menyediakan APD yang sesuai seperti pakaian kerja berbahan ringan dan menyerap keringat, penutup kepala, dan pelindung leher, meskipun langkah ini merupakan pilihan terakhir setelah upaya pengendalian teknis dan administratif dilakukan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) pada sepuluh area kerja di lingkungan percetakan, seluruh titik menunjukkan kategori AuTidak DiperkenankanAy untuk bekerja secara terus-menerus, meskipun tingkat beban kerja bervariasi antara ringan hingga Nilai ISBB yang berkisar antara 33,19AC hingga 35,74AC telah melampaui batas http://univ45sby. id/ejournal/index. php/industri/index Vol. 28 No. Hal. 73-80 . ISSN 1412 Ae 2146 (Ceta. ISSN 2721 Ae 5431 (Onlin. aman yang ditetapkan dalam standar K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerj. , sehingga berpotensi menimbulkan risiko kelelahan panas . eat stres. dan gangguan kesehatan Kondisi ini mengindikasikan perlunya penerapan strategi pengendalian yang komprehensif sesuai dengan prinsip hirarki pengendalian, yaitu: Eliminasi, melakukan penyesuaian tata letak dan penataan ulang sumber panas untuk menghilangkan paparan langsung terhadap pekerja. Substitusi, mengganti mesin atau peralatan yang menghasilkan panas tinggi dengan teknologi yang lebih efisien dan minim panas. Rekayasa Teknis (Engineering Contro. , memasang sistem ventilasi dan pendinginan . isalnya exhaust fan, air cooler, atau pendingin evaporati. untuk menurunkan suhu lingkungan kerja. Pengendalian Administratif, mengatur jadwal kerja dan waktu istirahat . isalnya sistem work-rest cycl. sesuai beban kerja dan suhu, serta membatasi durasi paparan di area dengan ISBB tinggi. Alat Pelindung Diri (APD), menyediakan APD yang sesuai seperti pakaian kerja berbahan breathable, cooling vest, atau pelindung kepala yang mampu mengurangi penyerapan panas. DAFTAR PUSTAKA