Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 GAMBARAN TINGKAT STRES DAN POLA MAKAN PADA PENDERITAGASTRITIS DI PUSKESMAS TANJUNG PAKU KOTA SOLOK TAHUN 2024 Anita Mirawati. Indah Apriliani. Zulharmaswita. Desi Deswita (Kemenkes Poltekes Padang ) Abstract Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang disertai kerusakan atau erosi pada mukosa, berdasarkan data angka kejadian gastritis di seluruh puskesmas di Kota Solok selama setahun adalah 538 penderita. Puskesmas dengan penderita yang paling tinggi adalah Puskesmas Tanjung Paku dengan jumlah penderita yaitu sebanyak 222 penderita. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran tingkat stres dan pola makan penderita gastritis di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres dan pola makan yang berperan dalam mempengaruhi kejadian gastritis di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun. Tempat penelitian di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok. Subjeknya yaitu pasien yang telah di diagnosa Gastritis sebanyak 40 orang. Waktu penelitian selama 14 hari dimulai tanggal 15-26 April 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita gastritis memiliki tingkat stres ringan sebagian kecil . ,0%) dan pola makan yang kurang baik sebagian besar . ,5%). Penderita Gastritis biasanya dianjurkan untuk menerapkan diet lambung/gastritis. Tujuan diberikannya diet lambung diantarannya menetralkan kelebihan asam lambung dengan memberikan makanan yang adekuat dan tidak merangsang. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi dan pengetahuan mengenai stres dan pola makan yang dapat menyebabkan gastritis, sehingga dapat digunakan untuk referensi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan acuan pengembangan penelitian dalam praktik keperawatan medikal bedah. Kata kunci : Gastritis,TingkatStres,Pola Makan Abstrak Gastritis is inflammation of the gastric mucosa accompanied by damage or erosion of the Based on data, the incidence of ulcers in all community health centers in Solok City during a year is 538 sufferers. The health center with the highest number of sufferers is the Tanjung Paku Health Center with a total of 222 sufferers. The aim of this research is to describe the stress levels and eating patterns of gastritis sufferers at the Tanjung Paku Health Center. Solok City. The design of this research is descriptive and aims to determine the level of stress and eating patterns that play a role in influencing the incidence of gastritis at the Tanjung Paku Community Health Center. Solok Tahun City. The research location is Tanjung Paku Community Health Center. Solok City. The subjects were 40 patients who had been diagnosed with gastritis. The 14 day research period starts April 15-26 2024. The results of this study showed that the majority of gastritis sufferers had mild levels of stress . 0%) and the majority had poor eating patterns . 5%). Gastritis sufferers are usually advised to adopt a stomach/gastritis diet. The aim of providing a gastric diet is to neutralize excess stomach acid by providing adequate and non-stimulating food. It is hoped that this research will be useful as information and knowledge regarding stress and eating patterns that can cause gastritis, so that it can be used as a reference in developing knowledge and as a reference for research development in medical surgical nursing practice. Keywords: Gastritis. Stress Level. Diet Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 PENDAHULUAN Hidup di negara berkembang, selalu dihubungkan dengan kesibukan kerja dan makanan siap saji yang mudah didapat, hemat waktu dan energi. Itulah sebabnya problem perut dan lambung sering kali menjadi masalah bagi orang yang hidup di kota besar maupun kota kecil, khususnya kalangan pekerja dan profesional. Atas dasar tuntutan dari pekerjaan yang tinggi serta adanya persaingan kerja, para profesional sering lupa akan kebutuhan jasmani . mereka sehingga membawa dampak yang menghambat produksi kerja. Penyakit yang sering mengganggu saluran pencernaan ini dalam istilah kedokteran dinamakan penyakit Gastritis (Maa. (Jusup, 2. Salah satu survey menyatakan bahwa setiap 1 dari 2 orang profesional yang hidup di kota besar maupun di kota kecil, pasti mempunyai potensi terkena gangguan saluran Banyak orang menganggap penyakit ini sebagai penyakit umum yang tidak perlu diperhatikan, namun sebenarnya penyakit ini dapat menyerang siapa saja, bukan saja menyerang golongan atas, melainkan juga di setiap golongan dan status serta tidak membedakan kaum adam maupun hawa seperti oleh ibu rumah tangga, ibu yang sedang hamil, pekerja, atau siapa saja(Jusup, 2. Gastritis merupakan masalah saluran pencernaan yang paling sering ditemukan. Gastritis dapat bersifat akut yang datang mendadak dalam beberapa jam atau beberapa hari dan dapat juga bersifat kronis sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Gastritis adalah inflamasi pada mukosa lambung yang disertai kerusakan atau erosi pada mukosa. Gastritis akut biasanya disebabkan karena pola makan yang kurang tepat, baik dam frekuensi maupun waktu yang tidak teratur selain karena faktor isi atau jenis makanan yang iritatif terhadap mukosa lambung. Makanan yang terkontaminasi dengan mikroorganisme juga dapat menyebabkan kondisi ini(Diyono & Mulyati, 2. Selain itu, gastritis akut juga sering disebabkan karena penggunaan obat analgetik seperti aspirin termasuk obat anti-inflamasi nonsteroid (Non Steroid Anti Inflamation Drug/ NSAID). Kebiasaan mengonsumsi alkohol, kafein, refluk bilier, dan terapi radiasi juga dapat menjadi penyebab gastritis. Gastritis kronis merupakan kelanjutan dari gastritis akut yang terjadi karena faktor-faktor di atas, juga karena peran dari bakteri Helicobacter Pylori yang bahkan sering menyebabkan keganasan atau kanker lambung (Diyono & Mulyati, 2. Menurut data kematian gastritis dari World Health Organization (WHO) tertinggi di dunia dari beberapa negara pada tahun 2020 yaitu Guatemala dengan angka persentase 1,6%. Meksiko dengan angka persentase 0,6%. Ekuador dengan angka persentase 0,4%. Lithuania dengan angka persentase 0,3%. Jerman dengan angka persentase 0,2% dan Kazakstan dengan angka persentase 0,1% . Di dunia, kejadian penyakit gastritis sekitar 1,8 juta hingga 2,1 juta penduduk dari setiap tahunnya. Kejadian penyakit gastritis di Asia Tenggara sekitar 583. 635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Menurut Environment Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 Health Country Profile yang diterbitkan oleh World Health Organization, prevalensi gastritis di Indonesia adalah 274. 396 kasus per 238. 952 orang, dengan prevalensi 40,8% (Swardin, 2. Gastritis merupakan lima penyakit terbesar pada sistem pencernaan di Indonesia. Sebuah proses peradangan pada lambung yang mengiritasi mukosa lambung bersifat akut dan kronik. Insiden dari gastritis berkisar 1. 8, juta - 2. 1 juta di seluruh dunia (Purnamayanti et al. , 2. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari 238. 952 jiwa penduduk. Didapatkan data bahwa di Provinsi Sumatera Barat angka kejadian gastritis sebesar 15,8% (Profil Kesehatan, 2. Di Kota Solok Tahun 2023 gastritis menempati urutan ke lima dari 10 penyakit terbanyak dengan total angka kejadian 538. Puskesmas dengan penderita yang paling tinggi adalah Puskesmas Tanjung Paku dengan jumlah penderita yaitu sebanyak 222 penderita. Gastritis dapat berlangsung dalam waktu singkat . astritis aku. atau berbulan-bulan sampai bertahun-tahun . astritis kroni. Penyebab paling umum dari gastritis adalah obat-obat tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen yang diambil dalam jangka panjang dan infeksi perut oleh bakteri yang disebut Helicobacter pylori. Penyabab lain yang lebih jarang adalah gangguan autoimun . eperti anemia pernisios. , arus balik dar empedu ke dalam lambung . efluks emped. , dan makan atau minum zat kaustik/korosif . eperti racu. , stress ekstrim, infeksi virus, trauma atau penyakit yang parah tiba-tiba seperti operasi besar, gagal ginjal, atau ditempatkan pada mesin pernapasan (Ahyar & Muzir, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi gastritis dibedakan menjadi faktor internal dan faktor Faktor internal dipengaruhi oleh masuknya bakteri ke lambung bisa berasal dari makanan dan juga bisa dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, adanya kondisi dimana dapat memicu produksi asam lambung yang berlebihan yang dapat membuat tidak Dampak mengakibatkan sekresi lambung semakin meningkat dan akhirnya membuat luka-luka . dan dapat meningkatkan risiko terkena kanker lambung sehingga menyebabkan kematian (Arikah dkk, 2015 di dalam Febriana et al. , 2. Pada kasus gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri pada epigastrum. Gesekan akan lebih parah bila lambung dalam keadaan kosong akibat makan yang tidak teratur, pada akhirnya akan menyebabkan perdarahan pada lambung. Pola makan yang baik dan teratur merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan preventif dalam mencegah Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 kekambuhan gastritis. Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan (Kasron & Susilawati, 2. Gastritis atau sakit maag sering disebabkan karena waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan atau sering makan yang berlebihan. Untuk mendapatkan cukup energi, makanan harus menempuh perjalanan panjang dalam tubuh kita. Waktu yang dibutuhkan untuk membantu mencerna makanan adalah 4 jam tergantung dari banyaknya makanan yang dimakan. Untuk itu, lambung sebaiknya dilakukan pengisian ulang minimal 4 jam sekali. Kebiasaan makan yang tidak teratur bisa menyebabkan terganggunya keseimbangan enzim pencernaan di lambung. Hal yang perlu dilakukan dalam mengatasi gangguan yang paling utama adalah mengubah pola makan dengan makan yang secukupnya sesuai dengan kebutuhan tubuh dan istirahat yang memadai. Pada saat lambung dalam keadaan kosong maka asam lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri (Swardin, 2. Seseorang yang memiliki pengelolaan stres yang kurang baik dapat meningkatkan kadar asam lambung karena stres dapat menurunkan kadar hormon prostaglandin yang berfungsi membantu mempercepat barrier yang berfungsi melindungi lapisan asam lambung, dan dapat mengakibatkan iritasi pada mukosa lambung. Stres sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk salah satunya mempengaruhi asam lambung yang berkaitan dengan kejadian gastritis (Tina et al, 2018 di dalam Swardin. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Rahma et al . 3 di dalam Swardin, 2. dimana salah satu penyebab terjadinya gastritis adalah stres, dikarenakan sistem persarafan dari otak berhubungan dengan lambung. Jadi tanpa disadari, saat seseorang mengalami stres akan memicu terproduksinya asam lambung secara berlebihan. Stres baru nyata dirasakan apabila keseimbangan diri terganggu. Artinya kita baru bisa mengalami stres manakala kita mempersepsi tekanan dari stresor melebihi daya tahan yang kita punya untuk menghadapi tekanan tersebut. Stres mempunyai efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehingga berisiko mengalami gastritis. Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, misalnya karena beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal ini dibiarkan dapat menyebabkan gastritis (Prasetyo, 2015 di dalam Swardin, 2. Sejalan dengan penelitian Mustika et al. terdapat 24 . ,3%) responden memiliki pola makan yang tidak teratur pada penderita gastritis dan terdapat 30 . ,7%) responden mengalami stress pada penderita gastritis. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 Penelitian yang dilakukan oleh Syiffatulhaya et al. , . di dapatkan data bahwa penyebab yang paling banyak pada penderita gastritis ialah stres dan pola makan, disusul dengan penyebab yang lain yaitu kebiasaan merokok, kebiasaan mengonsumsi alkohol, jenis kelamin, usia dan konsumsi kopi. Penelitian yang dilakukan oleh Prasetya . di dapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dan tingkat stress dengan kekambuhan gastritis. Diharapkan dapat mengurangi makan makanan yang pedas karena terbukti dapat mempengaruhi terjadinya kekambuhan gastritis dan diharapkandapat mengurangi tingkat stress dengan terbuka terhadap masalah yang dihadapi kepada orang Perubahan pola makan meliputi tidak teraturnya waktu makan, frekuensi makan, jenis makanan, dan porsi makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi kekambuhan gastritis(Miftahussurur et al. , 2. Studi menunjukkan terdapat signifikansi antara stres psikologis dan gastritis, sebanyak 69,3% pasien dari 400 responden yang mengalami stres psikologis memiliki gastritis. Stres psikologis meningkatkan kejadian gastritis (Mahmoud, 2016 di dalam Miftahussurur et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 2 orang penderita gastritis di Puskesmas Tanjung Paku di dapatkan data bahwa penderita 1 mengatakan bahwa ia sangat sering memakan makanan yang pedas dan sering telat makan, pasien tersebut mengatakan tidak ada mengonsumsi obat-obatan dan alkohol . Pada penderita 2 mengatakan bahwa ia sangat sering sakit kepala di akibatkan karena tugas-tugas yang banyak pada saat perkuliahan, sering telat makan, sering minum minuman berkemasan, dan sering tertekan oleh masalah pribadi yang sedang dialami. Pasien tersebut juga mengatakan tidak pernah mengonsumsi alkohol dan tidak pernah merokok. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Gambaran tingkat stress dan pola makan pada penderita Gastritis di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Sumatera Barat Tahun 2024. Gastritis berasal dari kata gaster yang artinya lambung dan itis yang berarti inflamasi atau peradangan sehingga gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung. Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung, yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. Gastritis merupakan inflamasi dari mukosa lambung klinis berdasarkan pemeriksaan endoskopi ditemukan eritema mukosa, perdarahan (Kasron & Susilawati, 2. Terjadinya gastritis disebabkan karena produksi asam lambung yang berlebih. Asam lambung yang awalnya membantu lambung malah merugikan lambung. Dalam keadaan normal lambung akan memproduksi asam lambung sesuai dengan jumlah makanan yang Tetapi bila pola makan kita tidak teratur, lambung sulit beradaptasi dan lama kelamaan mengakibatkan produksi asam lambung yang berlebih. Penyebab asam lambung Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 tinggi adalah aktivitas yang padat sehingga terlambat makan, stres yang tinggi, yang berimbas pada produksi asam lambung berlebih, makanan dan minuman yang memicu tingginya sekresi asam lambung, seperti makanan dan minuman dengan rasa asam, pedas, kecut, berkafein tinggi, mengandung vitamin C dosis tinggi, termasuk buah-buahan. Pada kasus gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri pada epigastrum. Gesekan akan lebih parah bila lambung dalam keadaan kosong akibat makan yang tidak teratur, pada akhirnya akan menyebabkan perdarahan pada lambung. Pola makan yang baik dan teratur merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan preventif dalam mencegah kekambuhan gastritis. Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan Stres psikis baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat. lambung menjadi bertambah kuat. Hal ini dapat dan menyebabkan terjadinya luka dalam lambung. Penyakit maag . rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan pikiran dan tidak teraturnya jam makan. Banyak faktor yang menyebabkan gastritis akut, seperti merokok, jenis obat, alkohol, bakteri, virus, jamur, stres akut, radiasi, alergi atau intoksitasi dari bahan makanan dan minuman, garam empedu, iskemia dan trauma langsung. Penyebab gastritis akut juga seperti stres fisik dan makanan, minuman. Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal nafas, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat dan refluks usus-lambung. Hal ini disebabkan oleh penurunan aliran darah termasuk pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan gangguan pada produksi mukus dan fungsi sel epitel lambung. Pola makan adalah cara mengatur jenis atau jumlah makanan sesuai dengan proporsi kebutuhan tubuh untuk menjaga kesehatan dan kebutuhan gizi serta mencegah penyakit (Kemenkes, 2. Penyakit maag dalam istilah medis di sebut penyakit gastritis atau tukak lambung, dimana penyakit ini bukanlah penyakit sebenarnya, melainkan penyakit maag adalah suatu gejala dari peradangan pada lambung yang di sebabkan oleh virus/bakteri Helicobacter pylori yang mengakibatkan luka di lambung. Akan tetapi, ada juga faktor lain yang bisal memicu maag seperti seperti Stres, pola hidup tak sehat dan pola makan yang tidak teratur (Endris, 2. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 Menurut Santoso Soegeng . di dalam Widayanti et al. , . menyatakan bahwa keadaan pola makan atau individu tergantung pada pola konsumsi sehari-hari. Pola makan ditentukan oleh kuantitas serta kualitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan adanya zat gizi yang diperlukan tubuh sedangkan kuantitas menunjukkan jumlah masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh seseorang. Menurut Soetjiningsih . di dalam Widayanti et al. , . Permasalahan pola makan yang tidak teratur timbul yang mampu memicu timbulnya gastritis disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu memiliki kebiasaan tidak sarapan pagi, serta sibuk dengan tugas-tugas dan sering terjebak tidak sempat makan dan merasa lelah akibat melakukan aktifitas. Gastritis atau sakit maag sering disebabkan karena waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan atau sering makan yang berlebihan. Untuk mendapatkan cukup energi, makanan harus menempuh perjalanan panjang dalam tubuh kita. Waktu yang dibutuhkan untuk membantu mencerna makanan adalah 4 jam tergantung dari banyaknya makanan yang dimakan. Untuk itu, lambung sebaiknya dilakukan pengisian ulang minimal 4 jam sekali. Kebiasaan makan yang tidak teratur bisa menyebabkan terganggunya keseimbangan enzim pencernaan di lambung. Hal yang perlu dilakukan dalam mengatasi gangguan yang paling utama adalah mengubah pola makan dengan makan yang secukupnya sesuai dengan kebutuhan tubuh dan istirahat yang memadai. Pada saat lambung dalam keadaan kosong maka asam lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri (Swardin, 2. Pola makan erat pengaruhnya terhadap kesehatan pencernaan. Makanan sering kali menimbulkan masalah bagi kesehatan, terutama kesehatan pencernaan misalnya, waktu makan yang tidak teratur bisa menyebabkan gangguan pada lambung, menu makanan yang tidak seimbang dapat mempengaruhi buang air besar . Menurut fitri . gastritis terjadi akibat makan tidak teratur atau tidak makan apapun dalam waktu relatif lama, akibatnya kadar asam lambung meningkat sehingga permukaan lambung terkikis hingga menimbulkan semacam tukak. Jika pengikisan sudah terjadi, gastritis pun akan semakin beresiko. Gejala penyakit yang tidak muncul tidak lagi sekedar mual, muntah atau sakit perut, tetapi juga meningkat hingga feses yang berdarah (Swardin, 2. Salah satu penyebab utama meningkatnya asam lambung adalah pola makan yang tidak teratur. Makan yang tidak teratur, kebiasaan makan yang tergesa-gesa dan jadwal yang tidak teratur dapat menyebabkan dispepsia. Pola makan pada setiap orang berbedabeda tergantung pada selera, jenis makanan, agama, pendidikan dan pengetahuan, pendapatan serta keadaan sekitar lingkungannya. Jumlah zat gizi yang dibutuhkan dapat tergantung dari kualitas makanan karena efisiensi penyerapan dan pendayagunaan zat gizi Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 oleh tubuh dipengaruhi oleh komposisi dan keadaan makanan secara keseluruhan (Swardin. Menurut Depkes RI, frekuensi makan adalah berapa kali makan dalam sehari meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan. Frekuensi makan dalam sehari terdiri dari 3 kali makan utama yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam. Jadwal makan dibagi menjadi makan pagi . ebelum jam 09. , makan siang . dan makan malam . Biasanya makan makanan siap saji . ast foo. juga sangat mempengaruhi terjadinya gastritis yang mana komposisi gizinya tidak seimbang yaitu terlalu tinggi kandungan energinya, seperti pasta, fried chicken, dan biasanya juga disertai dengan mengkonsumsi minuman bersoda yang berlebihan maupun kebiasaan "ngemil" yang rendah gizi . urang kalori, protein, vitamin dan minera. seperti makanan ringan, krupuk, chips dll (Widayanti et al. , 2. Stres adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan tekanan atau situasi yang dianggap mengancam keseimbangan Kondisi stres ini dipicu oleh adanya rangsangan atau stresor yang bisa berupa masalah pekerjaan, hubungan, kesehatan atau faktor lingkungan. Dalam kondisi stres, tubuh akan mengeluarkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang berfungsi untuk memberikan energi tambahan dan mempersiapkan tubuh untuk bertindak (Shari et al. Stres psikis baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat. lambung menjadi bertambah kuat. Hal ini dapat dan menyebabkan terjadinya luka dalam lambung. Penyakit maag . rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan pikiran dan tidak teraturnya jam makan (Kasron & Susilawati, 2. Oleh karena itu penderita gastritis harus hidup lebih rileks dan menghindari stres, karena stres dapat merangsang produksi asam lambung sehingga menyebabkan terjadinya Seseorang yang memiliki pengelolaan stres yang kurang baik dapat meningkatkan kadar asam lambung karena stres dapat menurunkan kadar hormon prostaglandin yang berfungsi membantu mempercepat barrier yang berfungsi melindungi lapisan asam lambung, dan dapat mengakibatkan iritasi pada mukosa lambung. Stres sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk salah satunya mempengaruhi asam lambung yang berkaitan dengan kejadian gastritis (Swardin, 2. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres dan pola makan yang berperan dalam mempengaruhi kejadian gastritis di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2024. Lokasi penelitian ini dilakukan di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok pada tanggal 15-26 April 2024. Sampel dalam penelitian ini pasien yang berobat ke Puskesmas Tanjung Paku selama 2 minggu yang berjumlah 40 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Teknik Accidental Sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan / accidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagaisumber data, dengan kriteria pengambilan sampel sebagai berikut: Kriteria Inklusi: Bersedia menjadi responden . Dapat diajak berkomunikasi dan kooperatif . Bisa membaca dan menulis . Penderita gastritis yang berobat ke puskesmas Tanjung Paku . Pasien yang berobat 1x selama rentang waktu penelitian Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan angket, responden mengisi sendiri angket yang disediakan oleh peneliti. Angket terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama terkait tingkat stress pada penderita gastritis, terdiri dari 14 pertanyaan. Pada bagian pertama ini, responden diminta memilih melingkar salah satu jawaban yang dianggap responden paling benar yang terdiri dari Autidak pernah, kadang-kadang, sering, dan sangat seringAy. Selanjutnya pada bagian kedua terkait pola makan penderita gastritis, terdiri dari 10 Pada bagian kedua ini responden diminta melingkari diantara pilihan Autidak pernah, kadang-kadang, sering, dan sangat seringAyUntuk mendapatkan skor variabel pola makan peneliti menggunakan range, range adalah suatu perbedaan antara data yang dianggap data terbesar dengan data terkecil yang terdapat pada sekelompok data (Pamungkas & Usman, 2. Rumus mencari range yang digunakan untuk mencari skor pola makan adalah: Range = Skor tertinggi Ae Skor terendah / Jumlah Kategori Untuk variabel pola makan dikategorikan baik jika skor 10-24 diberi kode 1. Jika kurang baik skor 25-40 diberi kode 2. Untuk variabel tingkat stress menggunakan kuisoner DASS (Depresion Anxiety Stress Scal. Tingkat stress diketahui setelah menjumlahkan semua skor dari empat belas pertanyaan yang terdapat pada kuesioner DASS. Total skor Normal 0- Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 14. Ringan 15-18. Sedang 19-25. Berat 26-33 dan Sangat Berat >34. Skor tersebut nantinya akan di olah di SPSS sesuai dengan kategori tingkat stress tersebut. HASIL PENELITIAN Isi dari bab ini akan diuraikan mengenai hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap responden mengenai tingkat stres dan pola makan pasien gastritis. Tingkat Stres pada penderita gastritis diperoleh melalui wawancara dengan megajukan 14 item pertanyaan. Bila rata-rata sebagian besar responden menjawab semua pertanyaan dengan total skor 15-18 maka dapat di kategorikan stres ringan, normal jika skor 0-14, stres sedang jika skor 19-25, stres berat jika skor 26-33 dan stres sangat berat jika skor >34, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Stress Pada Penderita Gastritis Di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2024 Tingkat Stress Normal Stres Ringan Stres Sedang Stres Berat Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa terdapat 18 orang hampir setengahnya . ,0%) responden penderita gastritis dikategorikan stres ringan, terdapat 10 orang sebagian kecil . ,0%) responden dikategorikan stres sedang, terdapat 9 orang sebagian kecil . ,5%) responden dikategorikan stres yang normal dan terdapat 4 orang sebagian kecil . ,5%) responden dikategorikan stres berat. Untuk mendapatkan pola makan pada penderita gastritis diperoleh melalui wawancara dengan mengajukan 10 pertanyaan bila responden menjawab semua pertanyaan dengan skor 0-14 dikategorikan pola makan baik dan 15-30 dikategorikan pola makan yang kurang baik, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Makan Pada Penderita Gastritis Di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2024 Pola Makan Baik Kurang Baik Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari 40 responden terdapat 23 orang sebagian besar . ,5%) responden dikategorikan memiliki pola makan yang kurang baik dan 17 orang Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 hampir setengahnya . ,5%) responden dikategorikan memiliki pola makan yang baik, penyakit gastritis terjadi pada orang-orang yang mempunyai pola makan yang tidak teratur dan memakan makanan yang merangsang produksi asam lambung. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukan bahwa stres merupakan penyebab terjadinya gastritis karna semua penderita yang menjadi responden, umumnya memiliki tingkat stres ringan. Hal tersebut disebabkan seseorang yang memiliki pengelolaan stress yang kurang baik dapat meningkatkan kadar asam lambung karena stres dapat menurunkan kadar hormon prostaglandin yang berfungsi melindungi lapisan asam lambung dan dapat mengakibatkan iritasi pada mukosa lambung (Swardin, 2. Stres adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan tekanan atau situasi yang dianggap mengancam keseimbangan Kondisi stres ini dipicu oleh adanya rangsangan atau stresor yang bisa berupa masalah pekerjaan, hubungan, kesehatan atau faktor lingkungan. Dalam kondisi stres, tubuh akan mengeluarkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang berfungsi untuk memberikan energi tambahan dan mempersiapkan tubuh untuk bertindak (Shari et al. Stres psikis baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat. lambung menjadi bertambah kuat. Hal ini dapat dan menyebabkan terjadinya luka dalam lambung. Penyakit gastritis dapat ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang pelik sehingga mengaktifkan rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan pikiran dan tidak teraturnya jam makan (Kasron & Susilawati, 2. Stres mempunyai efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehingga berisiko mengalami gastritis. Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, misalnya karena beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal ini dibiarkan dapat menyebabkan gastritis (Swardin, 2. Stres dapat mempengaruhi penyakit gastritis melalui berbagai mekanisme. Salah satu mekanisme utama adalah melalui pengaruhnya terhadap sistem saraf otonom dan hormon stres. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh mereka melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini dapat meningkatkan produksi asam lambung dalam lambung, yang pada bagiannya dapat merusak lapisan pelindung lambung dan memicu peradangan pada dinding lambung (Swardin, 2. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 Selain itu, stres juga dapat mempengaruhi pola makan dan perilaku hidup seseorang. Beberapa orang cenderung merespons stres dengan mengonsumsi makanan tidak sehat, merokoksecara berlebihan, yang semuanya dapat meningkatkan risiko gastritis atau mengurangi gejalanya. Selain itu, stres juga dapat mengganggu pola tidur, meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri, dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri, yang semuanya dapat mengurangi kondisi gastritis. Dengan demikian, manajemen stres yang efektif sangat penting dalam penyembuhan gastritis (Swardin, 2. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh (Novan et al. , 2. menyatakan bahwa sebanyak 96 orang menunjukan terdapat hubungan bermakna secara statistik antara tingkat stres dan penderita gastritis pada mahasiswa fakultas kedokteran universitasy islam bandung, skala ukur dalam penelitian tersebut menggunakan kuesioner DASS 14. Sementara itu dalam penelitian Suwignjo et al. , . menyatakan bahwa terdapat 60 responden memiliki tingkat stres pada penderita gastritis, setengah dari responden mengalami stres sedang sebanyak 39 responden . 0 %). Responden yang mengalami stres ringan sebanyak 17 responden . 3 %) dan sedikit dari responden yang mengalami stres berat sebanyak 4 responden . 7 %). Menurut asumsi peneliti . ,0%) responden memiliki tingkat stres ringan, sedangkan . ,5%) responden memiliki tingkat stres normal, sedangkan . ,5%) responden memiliki tingkat stres sedang, dan . ,5%) responden memiliki tingkat stres berat. Penderita gastritis yang memiliki pola makan yang kurang baik . ,5%) memiliki permasalahan pola makan yang tidak teratur timbul yang mampu memicu timbulnya gastritis disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu memiliki kebiasaan tidak sarapan pagi, serta sibuk dengan tugas-tugas dan sering terjebak tidak sempat makan dan merasa lelah akibat melakukan aktifitas. Gastritis atau sakit maag sering disebabkan karena waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan atau sering makan yang berlebihan. Biasanya makan makanan siap saji . ast foo. juga sangat mempengaruhi terjadinya gastritis yang mana komposisi gizinya tidak seimbang yaitu terlalu tinggi kandungan energinya. Biasanya makan makanan siap saji juga sangat memengaruhi terjadinya gastritis yang mana komposisi gizinya tidak seimbang yaitu terlalu tinggi kandungan energinya (Widayanti et al. Mengonsumsi makanan atau minuman dengan pH rendah atau asam dapat memberikan perasaan tidak nyaman sampai dengan menimbulkan heartburn pad sebagian besar penderita gastritis, konsumsi teh, minuman bersoda yang berlebih dapat menyebabkan kerusakan dinding mukosa lambung menjadi lebih parah lagi dan juga konsumsi makanan yang berbumbu tajam atau pedas dapat memicu peningkatan sekresi asam lambung. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 menyebabkan terjadinya inflamasi pada dinding mukosa lambung (Mustika & Cempaka. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Apriyani et al. , . ditemukan responden . ,5%) memiliki hubungan pola makan dengan kejadian gastritis. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Herliyantiet al. , . menyatakan bahwa sebanyak 30 responden, diantara 6 responden . %) dalam kategori pola makan sangat baik, sebanyak 2 responden . %) dalam kategori pola makan baik, sebanyak 8 responden . %) dalam kategori pola makan cukup baik, dan 14 responden . %) dalam kategori pola makan kurang baik. Sementara itu hasil penelitian yang dialkukan oleh Putti et al. , . menyatakan bahwa bahwa dari 60 responden, setengahnya memiliki memiliki pola makan yang tidak baik sebanyak 33 responden . 0%), sedangkan responden dengan pola makan baik sebanyak 27 responden . 0 %). Maka dari itu terjadinya penyakit gastritis disebabkan oleh pola makan yang tidak baik dan tidak teratur , yaitu frekuensi makan, jenis, dan jumlah makanan sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Kebiasaan makan yang tidak teratur akan membuat lambung sulit beradaptasi. Jika hal tersebut berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung dan dapat terus berlanjut menjadi kerusakan lambung, mengkonsumsi makanan pedas secara berlebihan akan merangsang sistem pencernaan, terutama lambung dan usus untuk berkontraksi. Hal ini akan menimbulkan rasa panas dan nyeri di ulu hati yang disertai dengan mual dan muntah. (Kemenkes, 2. Penderita gastritis sering kali harus memperhatikan jenis makanan yang mereka konsumsi, karena beberapa jenis makanan dan minuman dapat memperburuk kondisi Makanan asam seperti kol, lobak, durian, nangka dan sayuran mentah dapat meningkatkan produksi asam lambung, yang dapat menyebabkan iritasi pada lambung dan memperparah gejala gastritis. Begitu juga dengan makanan pedas yang dapat merangsang produksi asam lambung, meningkatkan risiko peradangan pada lambung, dan memperparah rasa tidak nyaman pada penderita gastritis. Minuman bersoda juga merupakan faktor risiko bagi penderita gastritis. Kandungan gas dalam minuman bersoda dapat menyebabkan distensi lambung dan meningkatkan tekanan pada dinding lambung, yang dapat mengaktifkan iritasi dan peradangan pada lambung. Selain itu, kafein dalam minuman bersoda juga dapat merangsang produksi asam lambung, yang dapat memperparah gejala. Konsumsi makanan cepat saji atau junk food dapat melemahkan kondisi penderita maag karena kandungan tinggi lemak, gula, dan garamnya dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu peradangan pada lambung. Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 Mie instan dan kopi juga sebaiknya dihindari oleh penderita gastritis. Mie instan mengandung bahan pengawet dan penguat rasa yang dapat menyebabkan iritasi pada lambung, sedangkan kopi mengandung asam yang dapat meningkatkan produksi asam Kedua makanan tersebut dapat meredakan gejala gastritis dan mengganggu proses penyembuhan lambung. Oleh karena itu, untuk mengelola kondisi mereka, penderita gastritis sebaiknya membatasi konsumsi makanan dan minuman yang dapat memicu atau memperparah gejala mereka. Waktu makan, pola makan, dan jenis makanan sangat mempengaruhi kesehatan penderita maag. Penderita maag sebaiknya memperhatikan waktu makan mereka, hindari makan terlalu larut malam atau sebelum tidur karena hal ini dapat meningkatkan produksi asam lambung dan mengurangi gejala. Pola makan yang teratur dengan porsi kecil namun sering lebih disarankan daripada makan dalam porsi besar, karena dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung. Selain itu, jenis makanan yang dikonsumsi juga harus dipilih dengan hati-hati, menghindari makanan pedas, asam, dan berminyak yang dapat memicu peradangan pada lambung. Sebaliknya, memilih makanan tinggi serat, rendah lemak, dan mudah dicerna seperti sayuran, buah-buahan, dan protein tanpa lemak dapat membantu mengurangi gejala maag dan mendukung proses penyembuhan. Penderita Gastritis biasanya dianjurkan untuk menerapkan diet lambung/gastritis. Tujuan diberikannya diet lambung diantarannya menetralkan kelebihan asam lambung dengan memberikan makanan yang adekuat dan tidak merangsang. Syarat diet lambung yaitu makanan dalam bentuk rendah dan mudah dicerna, hindari makanan yang merangsang lambung seperti asam, pedas, keras, terlalu panas atau dingin, porsi yang diberikan kecil yang diberikan sering, dan cara pengolahannya direbus, dikukus, dipanggang dan tumis (Kemenkes, 2. Menurut Citra et al. , . menyatakan bahwa salah satu bentuk pencegahan gastritis adalah memberikan pendidikan kesehatan terhadap pasien gastritis untuk menghindari makanan yang dapat merangsang atau mengiritasi lambung seperti makanan pedas, makanan yang berbumbu seperti cuka dan makanan yang pedas, makanan asam, dan mengonsumsi makanan yang mudah dicerna seperti buah dan sayur yang rendah serat serta pola makan yang tepat baik dari segi frekuensi dan jenis makanan. SIMPULAN DAN SARAN Setelah dilakukan penelitian terhadap 40 responden pada tanggal 15-26 April 2024 tentang gambaran tingkat stress dan pola makan pada penderita gastritis di puskesmas tanjung paku kota solok tahun 2024 maka diperoleh kesimpulan Hampir setengahnya . ,0%) dari responden menderita gastritis memiliki tingkat stres yang ringan dan Sebagian Penerbit : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang https://jurnal. id/ojs/index. php/keperawatan/issue/archive Jurnal Keperawatan Sehat Mandiri. Volume 2 No 1 Mei 2024 e-ISSN 3026-3441 besar . ,5%) dari responden menderita gastritis memiliki pola makan yang kurang baik Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi dan pengetahuan mengenai stres dan pola makan yang dapat menyebabkan gastritis, sehingga dapat digunakan untuk referensi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan acuan pengembangan penelitian dalam praktik keperawatan medikal bedah. Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada penderita gastritis tentang bagaimana tingkat stres dan pola makan pada penderita gastritis karena sesuai dengan hasil penelitian peneliti, seluruh penderita gastritis memiliki tingkat stres dan pola makan yang kurang baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dalam kegiatan pembelajaran dan dapat mendukung untuk penelitian selanjutnya. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut terhadap variabel lain, desain dan cara ukur penelitian yang berbeda yang berhubungan dengan kejadian gastritis pada gambaran tingkat stres dan pola makan di Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2024. DAFTAR PUSTAKA