Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Volume 14 No 3 Oktober 2018 Available online at: http://ejournal. id/index. php/JIKK/index SELF-CARE MANAJEMEN GLUKOSA DAN PENGENDALIAN DIET SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN KADAR GLUKOSA DARAH PENYANDANG DIABETES MELLITUS Ahmad Asyrofi. Triana Arisdiani . Yuni Puji Widiastuti . Program Studi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal email: ahasyrofi@yahoo. Abstract Key word : selfcare, glucose dietary control, glycemic control, diabetes mellitus The phenomenon of the number of people with diabetes mellitus (DM) in the world today is increasing along with socio-cultural changes, and the large number of people with DM who are undiagnosed becomes increasingly potential to cause further complications. Self-care glucose management and dietary control are part of the pillars in DM care. The aim of the study was to determine differences in blood glucose management and dietary control between uncontrolled glycemic (HbA1c > 7%) and controlled glycemic (HbA1c O 7%). The study uses a case control design. The sample of this study was DM patients with adult and elderly age of 104 samples including: 52 uncontrolled glycemic groups and 52 controlled glycemic groups, with convinience techniques. The research tool uses Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ) subscale glucose management and dietary control. Data analysis using Mann-Whitney U Test. The results showed significant differences in glucose management . = 0. and dietary control . = 0. between uncontrolled glycemic groups and controlled glycemic groups. Recommended for people with diabetes mellitus to improve glucose management self-care activities and dietary control to control glycemic (HbA1c O . Subsequent research needs to look for factors that predict glucose management and dietary control for people with diabetes. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang sering tertutup diagnosisnya. IDF memperkirakan sebanyak 193 juta penduduk dunia mengalami diabetes yang tidak terdiagnosis, dan kondisi ini lebih berisiko terjadinya komplikasi (IDF, 2. Sekitar 30% klien diabetes sering tidak menyadari penyakitnya dan pada saat diagnosis ditegakkan, sekitar 25% sudah (Buell. Kermah, & Davidson, 2. Hiperglikemia terbesar pada perkembangan komplikasi lanjut Diabetes Melitus (Castro-Synchez et Hiperglikemia farmakologi dan farmakologi, dimana PENDAHULUAN Fenomena penyandang Diabetes Melitus (DM) akan terus meningkat akibat perubahan gaya hidup termasuk diet yang tidak tepat dan kurangnya aktifitas fisik. International Diabetes Federation jumlah penduduk dunia usia 20-79 tahun yang mengalami diabetes melitus pada tahun 2015 sebanyak 415 juta dan akan bertambah menjadi 642 juta pada tahun 2040 (IDF, 2. Diabetes Melitus tipe 2 merupakan prevalensi terbanyak di negara maju hingga 91%, dan telah meningkat seiring dengan perubahan sosial budaya (IDF, 2. Diabetes Melitus dan komplikasinya menjadi penyebab kematian mayoritas di banyak negara (IDF, 2. Asyrofi. Arisdiani & Widiastuti pengendalian diet dan latihan fisik bagi (Lewis. Dirksen. Heitkemper. Bucher, & Harding, 2. Pengendalian glukosa darah yang baik mikrovaskuler dan makrovaskuler (Akalin et al. , 2009. Spellman, 2. Beberapa faktor internal dan eksternal telah diketahui berkontribusi terhadap kadar glukosa darah, demikian juga perawatan diri . yang baik dapat melindungi terhadap komplikasi diabetes mellitus, dan pasien harus secara aktif mengatur perawatan diri untuk mengendalikan kadar glukosa darah yang optimal (Akalin et al. , 2. Tindakan self-care pasien diabetes melitus mengacu pada teori self-care Orem. Self-care mengupayakan orang lain memiliki kemampuan untuk dikembangkan atau dimiliki agar dapat digunakan secara tepat untuk mempertahankan fungsi optimal (Alligood & Tomey, 2. Sefl-care adalah proses pengambilan keputusan secara aktif terdiri: upaya untuk . dan berespon terhadap gejala-gejala yang dialami . serta bagaimana keyakinan pasien terhadap keseluruhan upaya self-care yang telah dilakukan . Tindakan self-care maintenance bertujuan untuk memelihara gaya hidup sehat yaitu mematuhi upaya pengobatan dan memantau tanda-gejala Self-care adalah kemampuan pasien untuk mengenal adanya perubahan tanda gejala penyakit, mengevaluasi adanya perubahan tanda gejala penyakit tersebut, mengambil keputusan untuk melaksanakan tindakan penatalaksanaan, dan mengevaluasi tindakan yang sudah Upaya self-care sangat berarti bagi penderita penyakit kronis seperti halnya penyakit diabetes melitus. Jurnial Ilmiah Kesehatan Keperawatan 84 Penyandang DM akan menjalani penyakitnya secara kronik yaitu seumur Perawatan . ontinuing of car. sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian status kesehatan yang optimal. Aktifitas self-care sebagai intervensi keperawatan menjadi kunci keberhasilan pengelolaan diabetes Self-care manajemen glukosa . luocose managemen. merupakan upaya penyandang DM dalam menggunakan terapi farmakologi meliputi: antidiabetic oral, insulin, dan kombinasi secara tepat serta memantau kadar gluksoa darah secara Self-care pengendalian diet . ietary contro. merupakan upaya penyandang DM dalam mengendalikan dan mengatur makanan atau minuman yang berpotensi menghasilkan kestabilan glukosa darah. Pengendalian merupakan salah satu target yang DM. Pengendalian glukosa darah dapat dinilai hemoglobin glikosilat atau disebut HbA1c (Berard. Siemens, & Woo, 2018. Ignatavicius. Lee, & Rose, 2012. Lewis et , 2. Kadar HbA1c merupakan pengendalian glukosa darah dan harus diukur minimal setiap 3 bulan ketika target glukosa darah tidak terpenuhi, dan diukur rentang 6 bulan jika target glikemik telah tercapai secara konsisten (Berard et al. Efektifitas self-care glukosa dan pengendalian diet penyandang DM terhadap pengendalian glukosa darah belum diketahui secara jelas. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan aktifitas self-care manajemen glukosa dan self-care kelompok penyandang DM glukosa darah tidak terkendali dan kelompok glukosa darah terkendali. Vol 14 Arisdiani No 3 Asyrofi, & Widiastuti METODE Variabel karakteristik . sia, jenis kelamin, lama DM, indeks massa tubuh, terapi DM, dan komplikas. , pengendalian glukosa darah . adar HbA1. , self-care manajemen glukosa, dan self-care pengendalian diet. Penelitian menggunakan desain case Hipotesis penelitian adalah terdapat perbedaan aktifitas self-care self-care pengendalian diet antara penyandang DM kelompok glukosa darah tidak terkendali (HbA1c > 7%) dan kelompok glukosa darah terkendali (HbA1c O 7%). Populasi penelitian adalah penyandang DM di wilayah Kabupaten Kendal. Pengambilan sampel secara convinience sampling, besar sampel sebanyak 104 sampel terdiri 52 kelompok kasus dan 52 kelompok kontrol dengan kriteria inklusi penyandang DM berusia dewasa dan lansia. Self-care manajemen glukosa dan pengendalian diet diukur menggunakan instrumen The Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ) sub scale Glucose Management dan sub scale Dietary Control yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya (Schmitt et al. , 2. Pengendalian kadar glukosa darah diukur dengan melihat kadar hemoglobin glikosilat (HbA1. Analisis unvariat mengunakan tendensi sentral dan menggunakan Independent T-Test. MannWhitney U dan Chi-Square Test. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis karakteristik . sia, jenis kelamin, lama DM. Indeks Massa Tubuh, terapi DM, dan pengendalian kadar glukosa darah . adar HbA1. self-care manajemen glukosa, dan self-care pengendalian diet. Penyandang DM kelompok glukosa tidak terkendali rerata usianya 54 A 9,8 tahun, median lama menyandang DM 4 tahun, dan rerata IMT 23,7 A 4, jenis kelamin 61,5% perempuan, terapi DM 71,2% tidak insulin, dan 73,1% tidak ada komplikasi. Penyandang DM kelompok glukosa Manajemen A. Jurnial IlmiahSelf-Care Kesehatan Keperawatan terkendali rerata usianya 63,2 A 10 tahun, median lama DM 4 tahun, dan rerata IMT 23 A 3,4 tahun, jenis kelamin 53,8% perempuan, terapi DM 86,5% insulin, dan 78,8% tidak ada komplikasi juga. Informasi selengkapnya terdapat pada tabel 1 dan 2 di bawah ini. Hasil penelitian pada penyandang menunjukkan rerata kadar HbA1c 10,6% A 2,3%, median manajemen glukosa 16, median pengendalian diet 11, sedangkan kelompok glukosa terkendali menunjukkan rerata HbA1c 6,4% A 0,6%, median Informasi selengkapnya terdapat pada tabel 3 di bawah ini. Hasil analisis perbedaan karakteristik antara kedua kelompok Independent T-Test menunjukkan perbedaan signifikan usia dan Indeks Massa Tubuh (IMT) antara kedua kelompok . =0,0001. p=0,0. Hasil analisis Mann-Whitney U Test tidak menunjukkan perbedaan lama menyandang diabetes melitus antara kedua kelompok . =0,. Hasil analisis perbedaan karakteristik menggunakan Chi-Square Test menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin, terapi DM, dan komplikasi antara kedua kelompok . =0,552. p= 0,070. p=0,. Hasil analisis perbedaan aktifitas sel-care Mann-Whitney Test menunjukkan perbedaan signifikan pada manajemen glukosa . =0,. , dan pengendalian diet . =0,. Informasi selengkapnya terdapat pada tabel 4, 5, 6 di bawah ini. Hasil variabel karakteristik antara kedua kelompok yaitu kelompok glukosa tidak terkendali (HbA1c >7 dan kelompok glukosa terkendali (HbA1c O . sebagian besar adalah sama . , hanya variabel usia dan indeks massa tubuh yang berbeda secara signifikan. Jenis kelamin antara kedua kelompok menunjukkan tidak ada perbedaan yang P r o p o r s i l a k i - l a k i d a n Asyrofi. Arisdiani & Widiastuti Jurnial Ilmiah Kesehatan Keperawatan 86 Tabel 1 Deskripsi Usia. Lama DM, dan IMT Penyandang Diabetes Melitus . = . Variabel Usia Tidak terkendali Terkendali Lama DM Tidak terkendali Terkendali Indeks Massa Tubuh Tidak terkendali Terkendali CI 95% for Mean Mean Std Dev Median Min - Maks 26 - 80 41 - 88 51,3 -56,8 60,4 - 66 1 - 22 1 - 30 3,6 Ae 5,9 4,6 Ae 8,6 14 - 36 13 - 31 22,6 Ae 24,9 22 Ae 23,9 Tabel 2 Deskripsi Jenis Kelamin. Terapi DM, dan Komplikasi DM . = . Variabel Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Terapi Diabetes Melitus Insulin Tidak Insulin Kombinasi Komplikasi Tidak ada CAD CKD Hipertensi Hipertensi & Stroke STEMI & Heart Failure Kelompok Glukosa Tidak Kelompok Glukosa ,5%) ,5%) ,8%) ,2%) ,5%) ,2%) ,3%) ,6%) ,5%) ,8%) ,1%) ,9%) ,2%) ,8%) ,8%) ,9%) ,5%) ,8%) ,9%) Tabel 3 Deskripsi HbA1c. Pengelolaan Glukosa, dan Pengendalian Diet Penyandang Diabetes Melitus = . Variabel Kadar HbA1c Tidak terkendali Terkendali Manajemen glukosa Tidak terkendali Terkendali Pengendalian diet Tidak terkendali Terkendali Mean Std Dev Median Min - Maks CI 95% for Mean 7,1 Ae 15,1 4,9 - 7 9,9 Ae 11,2 6,2 Ae 6,5 4 - 20 7 - 20 14,5 - 16 15,5 - 17 7 - 14 6 - 16 10,5 Ae 11,2 11,2 Ae 12,3 Vol 14 Arisdiani No 3 Asyrofi, & Widiastuti Manajemen A. Jurnial IlmiahSelf-Care Kesehatan Keperawatan Tabel 4 Analisis Perbedaan jenis kelamin. Terapi DM, dan Komplikasi antara Kedua Kelompok Penyandang DM . Variabel Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Terapi DM Insulin Tidak Insulin Kombinasi Komplikasi Tidak ada Ada Kelompok tidak terkendali (HbA1c >. Kelompok terkendali (HbA1c O . Total ,3%) ,5%) ,7%) ,5%) 0, 552 ,5%) ,1%) ,8%) ,5%) ,9%) ,2%) 0,070 ,1%) ,9%) 0,646 Tabel 5 Analisis Perbedaan Usia dan IMT pada Kedua kelompok Penyandang DM . = . Variabel & Kelompok Usia Tidak terkendali Terkendali Indeks Massa Tubuh Tidak terkendali Terkendali *signifikan Mean Diff CI 95% for Diff -9,2 -13 -5 0,0001* -0,7 Ae 2,2 0,0001* Mean Std Dev Tabel 6 Analisis Perbedaan Self-care pengelolaan glukosa dan Pengendalian Diet antara Kedua Kelompok Penyandang DM . Variabel & Kelompok Lama DM Tidak terkendali Terkendali Manajemen glukosa Tidak terkendali Terkendali Pengendalian diet Tidak terkendali Terkendali *signifikan Median Min - Maks 1 - 22 1 - 30 0,609 4 - 20 7 - 20 0,034* 7 - 14 6 - 16 0,001* perempuan antara kedua kelompok adalah Selaras dengan penelitian sebelumnya bahwa penyandang diabetes melitus yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 54,2% dan laki-laki 45,8% (Schmitt et al. , 2. Terapi DM yang meliputi: insulin, tidak insulin . ntidiabetic ora. , dan terapi kombinasi antara kedua kelompok menunjukkan tidak adanya perbedaan. Keadaan ini dapat menjadi kekuatan untuk self-care manajemen glukosa dan pengendalian diet terhadap pengendalian glukosa darah penyandang diabetes. Temuan penelitian yang serupa, bahwa penyandang DM Sebanyak 88,% menggunakan obat hipoglikemik oral (Putri & Hastuti, 2. Asyrofi. Arisdiani & Widiastuti Lama menyandang DM antara kedua kelompok menunjukkan angka yang sama yaitu median 4 tahun dalam rentang 1 Ae 22 Hasil ini penelitian ini menunjukkan bahwa lamanya menyandang DM tidak sebelumnya, yaitu durasi menyandang DM oleh klien 50% adalah O 5 tahun dan 50% adalah lebih dari 5 tahun (Bertalina & Purnama, 2016. Handayani. Yudianto, & Kurniawan, 2. Durasi DM yang homogen antara kedua kelompok dapat menjadi faktor yang menguatkan adanya self-care glukosa dan pengendalian diet dengan pengendalian glukosa darah. Komplikasi DM pada kedua kelompok menunjukkan tidak adanya perbedaan yang Hasil penelitian menunjukkan proporsi yang seimbang antara adanya komplikasi dan tidak adanya komplikasi pada kedua kelompok. Hal ini juga mampu menguatkan adanya keterhubungan selfcare manajemen glukosa dan pengendalian diet terhadap pengendalian glukosa darah. Usia penyandang DM antara kedua Penyandang DM kelompok glukosa tidak terkendali menunjukan ratarata usia dewasa yaitu 54 tahun, sedangkan pada kelompok glukosa terkendali rata-rata berusia lanjut usia yaitu 63,2 tahun. Selaras dengan temuan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 62,5% berusia dewasa dan 37,8% berusia lansia (Mulyani, 2. Penyandang DM kelompok terkendali yang rata-rata berusia lansia ini dapat diasumsikan bahwa lansia lebih berpotensi dalam berupaya mengendalikan kadar glukosa darah, hal ini diasumsikan dengan lebih tingginya motivasi dan kepatuhan lansia terhadap perawatan diabetes melitus. IMT penyandang DM menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua Hasil penelitian menunjukkan rerata IMT kelompok tidak terkendali terkendali adalah 23. Temuan ini secara statistik menunjukkan perbedaan, namun Jurnial Ilmiah Kesehatan Keperawatan 88 secara klinis kedua angka IMT tersebut masih rentang IMT yang normal. Karakteristik penyandang DM yang sebagian besar homogen antara kedua kelompok ini dapat mendukung kekuatan temuan penelitian, meskipun desain observasional case control. Pengendalian kadar glukosa darah pada penyandang diabetes melitus dinilai dengan pengukur kadar hemoglobin gliksilat atau glicated hemoglobin (HbA1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok glukosa tidak terkendali (HbA1c >7%) reratanya 10,6%, sedangkan pada kelompok terkendali (HbA1c O 7%) reratanya adalah 6,4%. Penggunaan HbA1c untuk pemantauan derajat kontrol metabolisme glukosa pasien diabetes melitus pertama diajukan tahun 1976, kemudian diadopsi ke dalam praktik klinik pada tahun 1990-an oleh Diabetes Control and Complication Trial (DCTT) dan the United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) sebagai alat monitoring derajat kontrol glukosa darah pada klien diabetes melitus (Misra. Hancock. Meeran. Dornhorst, & Oliver, 2. Komite ahli dari the American Diabetes Association (ADA) dan the European for the Study of Diabetes (EASD) merekomendasikan penggunaan HbA1c untuk mendiagnosis diabetes melitus, dan pada tahun 2010 ADA memasukkan HbA1c menjadi bagian dari kriteria diagnosis diabetes melitus (Gomez-Perez FJ et. , 2. Hemoglobin glikosilat atau Glycated hemoglobin (HbA1. adalah indikator yang penting dari efektivitas pengobatan glukosa darah dan harus diukur setidaknya setiap 3 bulan ketika target glukuosa darah tidak antihiperglikemik sedang disesuaikan atau diubah (Berard et al. , 2018. Soelistijo et al. Beberapa keadaan, seperti ketika dilakukan perubahan terapi secara signifikan atau selama kehamilan, lebih tepat untuk memeriksa HbA1C lebih sering, dan pemeriksaan pada interval 6 Vol 14 Arisdiani No 3 Asyrofi, & Widiastuti bulan dapat dipertimbangkan dalam situasi ketika target glikemik tercapai secara konsisten (Berard et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi HbA1c pada beberapa kelompok etnis Afrika. Asia, dan Hispanic dari pada orang Caucasia dengan konsentrasi glukosa plasma yang serupa (Herman et al. , 2. Self-care manajemen glukosa antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan Hal ini menunjukkan bahwa manajemen glukosa yang lebih baik berpotensi mengendalikan kadar glukosa Temuan ini selaras dengan hasil Alshareef menunjukkan bahwa pengelolaan glucosa . lucose terhadap pengendalian glukosa darah (Alshareef et al. , 2. Temuan serupa yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian Dahlan dkk, menemukan bahwa kepatuhan mengecek gula darah berkorelasi dengan nilai gula darah terkontrol pada penderita DM (Dahlan. Bustan, & Kurnaesih, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 55,6% penyandang DM melakukan monitoring gula darah dengan baik (Putri & Hastuti, 2. Manajemen glukosa merupakan salah self-care diprogramkan untuk dirinya dengan benar . enar obat, benar dosis, benar waktu, benar cara, dan benar pasie. , dan pemeriksaan kadar glukosa secara teratur (Schmitt et al. , 2. Manajemen glukosa antidiabetic oral, insulin, dan terapi kombinasi menjadi salah satu pilar dalam 4 . pilar pengelolaan diabetes (Soelistijo et al. , 2. Manajemen glukosa menjadi salah satu faktor yang berpotensi mengendalikan kadar glukosa darah yang ditunjukkan dengan kadar HbA1c. Self-care pengendalian diet antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan pula. Hasil peneltian Alshaeef dkk menunjukkan bahwa pengendalian diet . ietary contro. Manajemen A. Jurnial IlmiahSelf-Care Kesehatan Keperawatan mempengaruhi pengendalian glukosa darah (Alshareef et al. , 2. Temuan hasil penelitian yang selaras menunjukkan bahwa, pengendalian diet oleh penyandang diabetes sebagian besar . ,3%) adalah baik, dan terdapat hubungan signifikan selfmanagement dengan pengontrolan kadar gluksoa darah (Mulyani, 2. Keadaan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa kepatuhan diet pengendalian kadar glukosa darah (Primahuda Sujianto. Pengendalian diet merupakan salah satu upaya self-care dalam bentuk memilih makanan dan minuman yang tepat dan mematuhi diet yang direkomendasikan (Schmitt et al. , 2013. Schmitt et al. , 2. Pengendalian diet merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap pengendalian kadar glukosa darah penyandang DM yang ditunjukan dengan kadar HbA1c. KESIMPULAN Penelitian tentang perbedaan aktifitas self-care manajemen glukosa dan self-care pengendalian diet antara penyandang DM kelompok glukosa tidak terkendali (HbA1c > . dan kelompok glukosa terkendali (HbA1c O . menyimpulkan bahwa: . terdapat perbedaan signifikan pada manajemen glukosa . =0,. t erdapat perbedaan signifikan pengendalian diet . =0,. Simpulan hasil penelitian di atas merekomendasikan bagi penyandang diabetes melitus untuk meningkatkan aktifitas self-care manajemen glukosa dan self-care memperoleh kadar glukosa darah yang terkendali (HbA1c O . Penelitian selanjutnya perlu menggali faktor-faktor yang mempengaruhi self-care self-care pengendalian diet pada penyandang diabetes melitus. Asyrofi. Arisdiani & Widiastuti DAFTAR PUSTAKA