1 Nama Lengkap Tanpa Gelar dan Nama Lengkap Tanpa Gelar : Judul Jurnal JAKA Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 http://publikasi. id/index. php/jaka PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 Ichmahtul Hidayah1 dan Melati Oktafiyani2* Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Dian Nuswantoro Jl. Nakula I No. 5-11 Semarang. Indonesia *Corresponding Author: melati. oktafiyani@dsn. 1,2Progdi Akuntansi. Diterima: April 2023. Direvisi: Mei 2023. Dipublikasikan: Mei 2023 ABSTRACT Financial performance is often associated with the level of achievement of company profits. Profit is used as a measure of the extent to which a company can implement the company's strategy which is used as a basis for analysis by investors in making The existence of a performance appraisal assists companies in developing corporate strategies to maximize performance and achieve company targets in increasing returns for shareholders. Therefore, this study aims to empirically examine the determinants of financial performance in terms of good corporate governance through managerial ownership, institutional ownership, independent commissioners and audit committees. Based on the purposive sampling method, this research has 17 mining companies listed on the IDX in 2017-2019. SPSS version 20 is a tool used for data processing to then be analyzed using multiple linear regression analysis. The findings of this study indicate that managerial ownership variables affect financial performance, while institutional ownership, independent board of commissioners and audit committee variables do not affect financial performance. Keywords: Financial Performance. Good Corporate Governance Mechanism. Mining Firms ABSTRAK Kinerja keuangan sering dikaitkan dengan tingkat pencapaian laba perusahaan. Laba digunakan sebagai tolak ukur sejauh mana perusahaan mampu mengimplementasikan strategi perusahaan yang digunakan sebagai dasar analisis oleh investor dalam mengambil keputusan. Adanya penilaian kinerja membantu perusahaan dalam menyusun strategi perusahaan guna memaksimalkan kinerja serta mencapai target perusahaan dalam peningkatan return bagi para pemegang saham. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris faktor determinan kinerja keuangan dari sisi good corporate governance melalui kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan komisaris independen dan komite audit. Berdasarkan metode purposive sampling, penelitian ini memiliki 17 perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun SPSS versi 20 merupakan alat bantu yang digunakan untuk pengolahan data untuk kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Temuan penelitian ini menunjukkan variabel kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja keuangan, sedangkan variabel kepemilikan institusional, dewan komisaris independen dan komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Kata Kunci: Kinerja Keuangan. Tata Kelola Perusahaan. Perusahaan Pertambangan ISSN 2723-2522 (Onlin. Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 PENDAHULUAN Perusahaan sektor pertambangan ialah salah satu perusahaan yang berperan dalam mendorong perekonomian nasional dalam pembangunan di negara ini, dikarenakan perannya dalam menyediakan sumber daya energi sangat diperlukan. Bahkan kontribusi tambang bagi pendapatan negara juga memiliki peranan yang tinggi. Selain itu industri pertambangan umumnya memerlukan investasi yang besar dan mempunyai tingkat ketidakpastian yang Tingginya tingkat risiko pada sektor petambangan ini membuat ekspetasi return dari investor juga meningkat. Oleh karena itu setiap kenaikan ataupun penurunan kinerja keuagan tentu akan selalu menjadi pusat perhatian para pemegang saham dan stakeholder (Nurhasanatang et al. , 2. Sasaran utama dalam aktivitas perusahaan yakni mengoptimalkan kemakmuran pemegang saham (Brigham & Houston, 2. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kinerja perusahaan. Penerapan Good Corporate Governance dalam jangka panjang pada perusahaan dianggap sebagai cara untuk mencapai peningkatan kinerja. Good Coorporate Governance sebagai elemen dalam peningkatan kinerja meliputi hubungan manajemen, dewan direksi, pemegang saham dan para stakeholder. Adanya penerapan GCG mendukung pengendalian operasional perusahaan, meningkatkan value added, melindungi kepentingan stakeholder, dan kepatuhan perusahaan mengenai peraturan perundangundangan. Bila melihat kinerja disektor pertambangan terdapat kabar gembira, dimana banyaknya perusahaan yang menerapkan GCG dengan tujuan mencapai kinerja perusahaan merupakan salah satu aspek yang menunjang peningkatan kinerja keuangan. Tak lainpun yaitu perusahaan pertambangan yang dibuktikan meraih penghargaan dalam ajang Good Corporate Governance 2018 mengenai implementasi Good Corporate Governance terbaik yaitu PT. Antam Tbk. Dalam melaksanakan aktivitas usahanya Antam berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG melalui transparansi informasi guna memberi imbal hasil positif bagi para pemegang saham serta stakeholders. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral juga menyebutkan bahwa PNBP dari sektor pertambangan tercapai 172,9 triliun pada tahun 2019. Adapun penyumbang PNBP ini tak lain dari setor minyak dan gas bumi sebesar Rp 115,1 triliun dan untuk sebesar Rp 44,8 triliun dari sektor mineral dan batubara. Sektor energi baru terbarukan konservasi energi sebesar Rp 1,9 triliun serta hilir migas lainnya menyetor sebesar Rp 11,1 triliun. Tak hanya itu PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) ini juga membuat kinerja positif. Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh GCG memberikan hasil penelitian yang berbeda-beda, tentu ini dikarena indikator tiap variabel dalam mengukur Mekanisme GCG dan kinerja keuangan pun berbeda. Agatha et al. dan Putri & Dewi . dalam penelitiannya GCG yang diukur dengan kepemilikan manajerial ternyata memberi pengaruh terhadap kinerja keuangan. Besarnya kepemilikan saham manajerial ternyata memberi kesamaan kepentingan manajemen dengan stakeholders. Semakin besar kepemilikan manajer mengindikasi semakin produktif manajer dalam bertindak terkait mengoptimalkan kinerja perusahaan. Berbeda dari penelitian Supriatna & Kusuma . dan Widyati . menunjukkan tidak terdapat pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kinerja keuangan. Ichmahtul Hidayah dan Melati Oktafiyani: PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 Putri & Dewi . dan Monica & Dewi . menyatakan bahwa mekanisme GCG . epemilikan institusiona. berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Dimana kepemilikan saham dari pihak institusi lain seperti bank, perusahaan asuransi, perusahaan swasta lainnya atau badan hukum lainnya dianggap sebagai salah satu bentuk pengawasan atas kinerja menejemen, oleh karena itu dengan pengawasan yang kuat tentu mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Berbeda dengan hasil penelitian Agatha et al. yaitu kepemilikan institusional tidak memberi pengaruh pada kinerja keuangan, dikarenakan kepemilikan institusional dianggap sebagai pemilik sementara dan lebih memfokuskan pada laba jangka pendek. Penelitain Agatha et al. dan Prayanthi & Laurens . menyatakan GCG yang di ukur menggunakan dewan komisaris independen memberi pengaruh kinerja Dewan komisaris independen mampu memberi pengawasan pada jalannya kegiatan perusahaan dianggap memberi solusi dan inovasi dalam pemecahan masalah yang ada diperusahaan, sebab komisaris independen bertindak independen dan objektif. Berbeda dengan Honi et al. dan Amaliyah & Herwiyanti . mengemukakan dewan komisaris independen tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Ini mengindikasikan keberadaan dewan komisaris hanya dianggap sebagai ketaatan regulasi dalam perusahaan. Dalam penelitiannya Agatha et al . dan Aprianingsih & Yushita . menjelaskan GCG yang diukur dengan komite audit memberi pengaruh terhadap kinerja Disini komite audit bertanggung jawab dalam mewujudkan dan menerapkan prinsip- prinsip GCG di perusahaan. Adanya komite audit mampu memberi peningkatan efektivitas dalam mencegah kecurangan yang ada di perusahaan. Namun penelitian Honi et . dan Widyati . menyatakan komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang dikarenakan keberadaan komite audit belum menjamin kualitas laporan keuangan, fungsi pengawasan dan pengendalian pada manajemen perusahaan. Adapun rumusan masalah pada penelitian yakni: apakah terdapat pengaruh dari Mekanisme GCG melalui kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan komisaris independen dan komite audit terhadap kinerja keuangan perusahaan pertambangan terdaftar BEI? TINJAUAN PUSTAKA Stakeholder Theory Chariri & Ghozali . menyatakan bahwa Stakeholder theory mengemukakan suatu perusahaan tidaklah entitas yang beroperasi demi kepentingan pribadi, akan tetapi berkewajiban memberikan manfaat untuk segenap stakeholders seperti . reditor, pemegang saham, konsumen, masyarakat, pemerintah, analisis, supplier, serta pihak lainny. Maksud pokok dari teori stakeholder ini yaitu mendukung administrasi organisasi untuk menciptakan pencapaian value dari hasil kegiatan guna meminimalisir kemungkinan kerugian bagi stakeholders, dengan tujuan mendukung manajemen perusahaan guna melakukan peningkatan serta pencapaian nilai sebagai hasil dari akivitas operasional,sehingga meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Oleh sebab itu perlu diciptakannya hubungan yang selaras antara kelompok-kelompok tersebut agar dapat terjalin hubungan yang baik antara kepentingan sosial dan kepentingan ekonomi perusahaan. Sehingga adanya GCG mampu meningkatkan kinerja internal serta eksternal perusahaan yang akan mempengaruhi Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 kinerja keuangan. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri BUMN Kep-117/MMBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002 pasal 3 terkait penerapan praktik GCG meliputi 5 prinsip terdiri dari transparency, independence, accountability, responsibility, dan fairness. Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kinerja Keuangan Dalam teori stakeholder keterkaitan manajer dan pemegang saham sama kuatnya dikarenakan manajemen memiliki tanggung jawab sebagai manajer perusahaan dan pemegang saham. Tingginya rasio kepemilikan manajerial maka seorang manajer yang juga pemegang saham akan mencapai keselarasan antara menjadi pemegang saham dan kepentingannya sebagai manajer sehingga kinerja perusahaan semakin baik. Sependapat dengan Candradewi & Sedana . menyatakan bahwa kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan dari sisi ROA. Tingkat kepemilikan saham yang dikendalikan manajemen mampu mendorong kebijakan perusahaan. Tingginya proporsi kepemilikan saham manajer akan membuat manajer melaksanakan perannya dengan baik sesuai tujuan perusahaan untuk memenuhi tingkat kesejahteraan pemegang saham dan stakeholder. Berdasarkan penjelasan tersebut maka disusun hipotesis: H1 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan Berdasarkan teori Stakeholder, keterlibatan antara institusi dengan perusahaan dapat berpengaruh dalam proses peningkatan kinerja keuangan (Agatha et al. , 2. Keberadaan investor institusional diharapkan dapat meningkatkan eksistensi investor institusional dalam mendorong mekanisme monitoring efektifitas manajer saat pengambilan keputusan secara transaparan dan akuntanbilitas, yang mampu mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam pencapaian kinerja perusahaan dan harapan stakeholder. Dimana dari keberhasilan perusahaan tersebut tentu akan meningkatkan profitabilitas dari kegiatan operasional perusahaan. Pernyataan tesebut sependapat dengan Monica & Dewi . dan Purnamawati et al. mengatakan kepemilikan institusional mempengaruhi kinerja keuangan yang di proksikan ROA. Proporsi kepemilikan institusional pada perusahaan besar maka institusi ataupun masyarakat akan mendapat perlakuan tanggung jawab dari perusahaan yang baik. Besarnya kepemilikan institusi tentu membuat semakin kuat suara akan dorongan institusi guna mengawasi manajemen sehingga membuat dorongan yang lebih kuat lagi dalam proses pengoptimalan nilai perusahaan yang berdampak juga pada peningkatan kinerja perusahaan. H2: Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Keuangan Menurut Peraturan OJK Nomor 57/POJK. 04/2017 guna meningkatkan prinsip GCG maka perusahaan publik wajib mempunyai dewan komisaris inependen minimum 30% dari seluruh jumlah anggota komisaris. Dalam teori stakeholder adanya monitoring dari dewan komisaris independen dapat memastikan apakah perusahaan telah berhasil mencapai tujuan dalam peningkatan kinerja keuangan perusahaan yang diharapkan dapat meminimalisir tingkat kerugian yang akan muncul. Maka adanya dewan komisaris independen perusahaan diharapkan dan mampu memaksimalkan kegiatan operasional perusahaan yang akhirnya memberi peningkatan pada kinerja keuangan perusahaan dan memberi perlindungan para Penelitian Latief et al. dan Monica & Dewi . mendukung pernyataan tersebut dengan menyatakan komisaris independen mampu memberikan pengaruh pada kinerja keuangan yang diproksikan denga ROA. Perihal ini mendukung pernyataan bahwa dewan komisaris sebagai wakil dari stakeholder mampu meningkatkan kinerja keuangan melalui pengawasan dalam mewujudkan tata kelola perusahaan baik. Ichmahtul Hidayah dan Melati Oktafiyani: PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 H3: Dewan Komisaris Independen berpengarh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan Komite audit ialah bagian dari Stakeholder yang mempunyai peran membantu dewan komisaris independen dalam melaksanakan mekanisme pengawasan tehadap manajemen serta bertanggung jawab menjaga akses komunikasi antar stakeholder (Agatha et al. , 2. Dalam teori stakeholder menunjukkan suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatannya memiliki tanggung jawab yang tidak terfokus hanya sebatas pada perusahaan saja, melainkan kesemua stakeholder memiliki hak disediakan informasi tentang kegiatan perusahaan. Keberadaan komite audit yang profesional dan independen merupakan alat pemantau yang bertujuan meningkatkan kontrol internal, peningkatan efisiensi, profitabilitas dan meningkatkan keyakinan investor dalam menjaga hak-hak pemegang saham dan stakeholder. Sependapat dengan penelitian Al Farooque et al. dan Hermiyetti & Katlanis . mengemukakan komite audit mampu mempengaruhi kinerja keuangan dari sisi ROA. Dimana besaran proporsi komite audit sebagai pelindung serta mengontrol proses akuntansi dan pelaporan Alhasil dari pengawasan tersebut memberi dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. H4: Komite Audit Berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Gambar 1. Kerangka Konseptual Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 METODE PENELITIAN Perusahaan pertambangan yang menjadi sampel dipilih berdasarkan metode Purposive sampling dengan kriteria: . Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 20172019 . Tidak mengalami kerugian selama periode penelitian serta . Memiliki kepemilikan manajerial dalam mekanisme GCGnya. Sumber data sekunder . aporan tahuna. diperoleh melalui website resmi BEI dan perusahaan terkait. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan didapatkan 17 perusahaan pertambahan sebagai sampel atau 51 data observasi. Data diolah dengan SPSS versi 20 dan dianalisis menggunakan analisi regresi linier berganda. Pengukuran dari variabel penelitian dapat dilihat seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Pengukuran variabel penelitian Variabel Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Dewan Komisaris Independen Komite Audit Proksi Sumber Agatha et , . yaycycoycoycaEa ycIycaEaycayco ycAycaycuycaycyceycycnycayco yayceycy. ycoycuyc = ycu 100% ycNycuycycayco ycIycaEaycayco yaAyceycyceyccycayc yaycycoycoycaEa ycycaEaycayco ycnycuycycycnycycycycnycuycuycayco yayceycy. yaycuycyc = ycu 100% ycNycuycycayco ycycaEaycayco ycayceycyceyccycayc yaycycoycoycaEa yaycuyciyciycuycyca yayceycycaycu yaycuycoycnycycaycycnyc yaya = ycu 100% yaycycoycoycaEa yaycuycoycnycycaycycnyc yaycuyccyceycyyceycuyccyceycu Agatha et , . Agatha et , . yaya = Kinerja Keuangan Agatha et , . ycAyceyc yaycuycaycuycoyce yayceycyceyc ycNycaycu ycIyceycycycycu ycCycu yaycycyceyc = ycu 100% ycNycuycycayco yaycycyceyc Agatha et , . ANALISA DAN PEMBAHASAN Berikut merupakan gambaran dari perusahaan sampel yaitu 17 perusahaan pertambangan . data obervas. yang telah memenuhi kriteria sampel yang telah ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2. Statistik Deskriptif Minimum Kinerja Keuangan (KINERJA) Kepemilikan Manajerial (KM) Kepemilikan Institusional (KI) Dewan Komisaris Independen (DK) Komite Audit (KA) Valid N . Sumber: data sekunder diolah . Maximum Mean Std. Deviation Ichmahtul Hidayah dan Melati Oktafiyani: PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 Mengacu pada tabel 2 terlihat variabel kinerja keuangan (ROA) pada perusahaan pertambangan menujukkan rata-rata sebesar 10,9295. Nilai rata-rata menunjukkan bahwa perusahaan pertambangan yang menjadi sampel memiliki rata-rata kemampuan manajemen perusahaan yang sudah efektif dalam memanfaatkan aset-asetnya untuk menghasilkan keuntungan sebesar 10,9295. PT Indika Energy Tbk pada tahun 2017 memiliki nilai ROA paling kecil yaitu 0,1 dan nilai maksimum ROA sebesar 45,60 oleh PT Bayan Resoirces Tbk tahun 2018 dengan standar deviasi 11,38376. Rata-rata variabel kepemilikan manajerial 05691580318 atau 5,69% dari jumlah saham yang beredar, menujukkan manajer sekaligus pemilik saham di perusahaan memiliki andil dalam keputusan perusahaan. Dengan nilai minimum sebesar 0,000000085 yang dimiliki PT Golden Energy Mines Tbk dari tahun 20172019 dan nilai maksimum 0,635579608 yang dimiliki PT Bayan Resources Tbk tahun 2018. Dengan nilai standar deviasi 0,163167948895. Rata-rata kepemilikan institusi sebesar 0,67779320029 atau sebesar 67,78% dari jumlah saham yang beredar, adanya kepemilikan yang dominan mengakibatkan kemampuan memonitor manajemen lebih besar, tentu ini sangat efektif mengurangi tindak manajemen laba. Dengan nilai minimum 0,093556311 dimiliki oleh PT J Resources Asia Pasifik Tbk tahun 2019, dan nilai tertinggi 0,973873051 dimiliki PT Cita Mineral Investindo Tbk tahun 2017 dan 2018, dan nilai standar deviasi 0,237263531781. Dewan komisaris mempunyai rata-rata 0,3992 atau 39,92% yang berarti proporsi dewan komisaris independen menunjukkan rata-rata fungsi pengawasan sebesar 39,92% dengan persentase dewan komisaris independen terendah sebesar 0,25 adalah PT Adaro Energy Tbk tahun 2018 dan PT Indika Energy Tbk tahun 2019, dan persentase tertinggi sebesar 0,67 adalah PT Delta Dunia Makmur Tbk tahun 2017. Hasil asumsi klasik dari analisis regresi ditunjukkan seperti pada Tabel 3 berikut: Tabel 3. Hasil Asumsi Klasik Asumsi Kriteria Normalitas Signifikansi KS > 0,05 Multikolinearitas Tolerance < 0,10 dan VIF > 10 Autokorelasi Du < DW < 4 - Du Heteroskedastisitas Sig. > 0,05 Hasil KS = 0,535 KM E Tol 0,474 VIF 2,109 KIETol 0,477 VIF 2,089 DKETol 0,991 VIF 1,009 KAETol 0,974 VIF 1,026 1,7218 < 2,070 < 2,2782 KM E Sig. 0,253 KI E Sig. 0,580 DK E Sig. 0,743 KA E Sig. 0,940 Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Sumber: data sekunder diolah . Terpenuhinya asumsi klasik pada analisis regresi linier berganda maka selanjutnya melihat apakah model layak untuk memprediksi dengan menggunakan ANOVA, t-test, dan Adjusted R Square sebagai pengukuran koefisien determinasi. hasil pengujian tampak seperti pada Tabel 4. Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 Tabel 4. Uji Model Fit dan Hipotesis Uji Model Fit Anova Adjusted square Kriteria Sig. O 0,05 Hasil Kesimpulan Model Fit (Variabel kepemilikan manajerial, kempemilikan institusional, dewan komisaris independen, serta komite audit berpengaruh secara simultan terhadap kinerja keuanga. 24,5% variabel independen mampu menjelaskan Kinerja Keuangan Sig. 0,004 0,245 Uji Hipotesis KME KINERJA Sig. 0,000 1= 48,340 Hipotesis satu (H. diterima KI E KINERJA Sig. 0,055 2= 17,153 Hipotesis dua (H. ditolak DK E KINERJA Sig. 0,490 3= -10. Hipotesis tiga (H. ditolak KAE KINERJA Sig. 0,110 4= -14,149 Sumber: data sekunder diolah . Hipotesis empat (H. ditolak Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kinerja Keuangan Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikan kurang dari 0,05 . ,000 < 0,. artinya hipotesis pertama (H. Hal tersebut menunjukkan penelitian ini selaras dengan teori stakeholder yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi merupakan salah satu faktor pengaruh kinerja keuangan adalah kinerja manajerial, sebab semakin tinggi rasio kepemilikan manajerial tentu bertambah baik pula kinerja perusahaan. Dimana teori ini membantu manajemen perusahaan untuk menciptakan nilai tambah melalui aktivitas yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja keuangan. Dimana rasio ROA merupakan salah satu bahan pertimbangan para investor untuk mengukur kemampuan penggunaan aset perusahaan dalam menghasilkan profit. Manajer sekaligus pemilik saham perusahaan akan sangat berhati-hati dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada return bagi dirinya sendiri dan para stakeholder. Hal inilah yang menunjukkan bahwa dengan keterampilan dan kemampuan pengelolaan dari manajemen yang efektif dapat melakukan proses pengambilan keputusan yang lebih akurat guna menjamin kemakmuran para stakeholder (NiAomah & Poerwati, 2. Hasil penelitian ini sependapat pada Agatha et al. Ongore & KAoobonyo . dan Candradewi & Sedana . yang mengemukakan bahwasanya kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh pada kinerja keuangan dari sisi ROA. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Keuangan Pada pengujian hipotesis kedua kepemilikan institusional tidak mempunyai pengaruh pada kinerja keuangan, dimana signifikansinya . ,055 > 0,. Dengan demikian tinggi rendahnya proporsi saham dari kepemilikan institusional tidak menjadikan pengaruh pada kinerja keuangan di perusahaan. Output ini tidak selaras dengan teori stakeholder yang mengemukakan keberadaan investor institusional di perusahaan mampu meningkatkan kinerja keuangan melalui dorongan pihak institusi dengan tujuan mengawasi manajemen perusahan (Agatha et al. , 2. Walaupun kepemilikan saham oleh instistusional tinggi tidak membuat fungsi pengawasan dari pihak institusional ke manajemen berjalan dengan semestinya, sebab kepemilikan saham oleh institusi didominasi pihak-pihak yang tidak berafiliasi satu sama lain. Hal inilah yang membuat pihak institusi berbuat demi kepentingan sendiri dan melalaikan kepentingan para pemangku kepentingan lainya. Terbukti pada rata-rata kepemilikan institusi Ichmahtul Hidayah dan Melati Oktafiyani: PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 pada penelitian ini sebesar 67,78% tentu angka ini hampir setengah saham perusahaan dimiliki oleh kepemilikan institusi. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Porter . yang mengemukakan konsep kepemilikan institusional bersifat sementara dan fokus pada keuntungan jangka pendek. Jikalau perubahan keuntungan jangka pendek dianggap tidak profitabel, alhasil mereka bisa melikuidasi sahamnya. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan temuan oleh Agatha et al. dan Fadillah . yang menemukan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kinerja Keuangan Pengujian hipotesis ketiga proporsi dewan komisaris independen tidak mempengaruhi kinerja keuangan yang di ukur ROA. Dibuktikan dengan tingkat signifikan lebih dari 0,05 . ,490 > 0,. Output ini tidak selaras dengan teori stakeholder yang menjelaskan keberadaan dewan komisaris independen mampu memberi pengaruh terhadap kinerja keuangan (ROA), dimana dewan komisaris independen ini bisa memastikan apakah perusahaan telah berhasil mencapai tujuan dalam peningkatan kinerja perusahaan, dengan pengawasan yang dilakukan dengan baik tentu perusahaan akan terhindar dari dampak penyelewengan manajer perusahaan. Pada penelitian ini belum memberi bukti bahwa adanya pengaruh GCG melalui proporsi dewan komisaris independen pada kinerja perusahaan. keadaan ini mengindikasikan adanya dewan komisaris independen pada perusahaan belum cukup memberi dampak positif terutama dalam melakukan tugas pengawasan terhadap manajemen perusahaan. Temuan ini dapat dijelaskan dari fenomena struktur kepemilikan perusahaan di Indonesia sangatlah terkonsentrasi, dimana komisaris independen ditunjuk berdasarkan faktor kedekatan dengan perusahaan dan tidak berdasarkan kompetensi serta profesionalisme. Selain itu adanya dugaan mengenai eksistensi dewan komisaris independen di perusahaan bagaikan pemenuhan regulasi saja, bukan untuk menegakkan GCG. Ini mendukung survey dari Indonesian Institute for Corporate Governance, . mengenai ketidak tegasan aturan GCG yang membuat mekanisme GCG diperusahaan belum berjalan dengan efektif. Tidak berjalan efekifnya mekanisme GCG di perusahaan, dikarenakan GCG hanya dipandang sebagai suatu ketaatan regulasi serta adanya perusahaan yang belum menyadari akan pentingnya manfaat GCG Penelitian ini mendukung penlitian dari Honi et al. Katutari & Yuyetta . dan Putra & Nuzula . yang mengemukakan dewan komisaris independen tidak mempengaruhi kinerja keuangan dari sisi ROA. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan Pada pengujian hipotesis keempat membuktikan komite audit tidak menunjukkan pengaruh pada kinerja keuangan (ROA), dibuktikan dengan tingkat signifikan lebih dari 0,05 . ,110 > 0,. Output ini tidak selaras dengan teori stakeholder yang mengemukakan tingginya poporsi komite audit perusahaan dapat memberi peningkatan kinerja perusahaan dari sisi pengawasan yang dilakukan dan memastikan integritas pelaporan keuangan melalui kontrol dan monitoring dalam membantu dewan komiasris dalam efektivitas sistem pengendalian internal. Dimana kinerja perusahaan meningkat tentu ditandai dengan meningkatnya investasi pada perusahaan, sebab para stakeholder memberikan kepercayaan kepada perusahaan untuk menyampaikan informasi yang akurat mengenai laporan keuangan dan proses akuntansi pada perusahaan terkait proses investasinya. Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 4 (No. , 2023. Hal: 105-116 Dari hasil analisa persamaan regresi yang diperoleh bahwa tingginya proporsi variabel komite audit yang dimiliki perusahaan ternyata memberi penurunan kinerja keuangan dari sisi ROA. Padahal untuk rata-rata proporsi komite audit di perusahaan sebesar 63,37% ini berarti dalam setiap perusahaan sudah memiliki komite audit paling sedikit 3 anggota dari anggota dewan komisaris, tentu hal ini sudah mengikuti peraturan OJK Nomor 55/POJK. 04/2015. Keadaan tersebut menunjukan proporsi komite audit belum menjadi jaminan untuk efektifitas kinerja komite audit dalam menjalankan pengawasan pada kinerja perusahaan (Widyati, 2. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Dewi & Tenaya . dan Ayuningtyas et al. mengemukakan komite audit tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Dikarenakan semakin tinggi proporsi komite audit akan semakin banyak pula pengendalian yang dilakukan. Sehingga membuat banyaknya jenis pertimbangan dalam keputusan komite audit yang berlatar pendidikan yang berbeda-beda. Proporsi komite audit yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan membuat komite audit lebih efektif dalam hal pengawasan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan tujuan dan harapan stakeholder, sehingga dari pihak stakeholder pun akan lebih percaya dengan proporsi komite audit yang disesuaikan pada kompleksitas dan kebutuhan perusahaan. Sebab disesuaikannya proporsi komite audit dengan kebutuhan perusahaan dapat menjembatani antara dewan komisaris dengan stakeholder, dibanding dengan banyaknya komite audit yang dirasa tidak memberi efektivitas informasi yang Hal inilah yang mempengaruhi nilai ROA. Pernyataan ini mendukung Governance . yang mengemukakan proporsi komite audit harus disesuikan pada kompleksitas dan kebutuhan perusahaan serta tetap memperhatikan efektifitas saat pengambilan keputusan. SIMPULAN Simpulan dari penelitian ini berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, maka: Mekanisme GCG (Good Corporate Governanc. melalui kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja keuangan (ROA) dari perusahaan pertambahan. Di sisi lain. Mekanisme GCG (Good Corporate Governanc. melalui dewan komisaris independen dan komite audit justru tidak memberi pengaruh terhadap kinerja keuangan (ROA) dari perusahaan pertambangan. KETERBATASAN DAN SARAN Penelitian ini tidak luput dari keterbatasan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk: . menggunakan perusahaan sektor lain yang terindikasi terjadi peningkatan kinerja keuangan pada tahun penelitian yang ditentukan supaya sampel tidak banyak terbuang karena alasan perusahaan mengalami kerugian, sebagai contoh perusahaan di sektor barang dan konsumsi Food and Beverage, manufakur dan properti & real estate. Menggunakan perusahaan sampel yang memiliki kepemilikan manajerial yang tinggi selama tahun penelitian. Menambahkan variabel lain yang memiliki kontribusi lebih besar dalam mempengaruhi kinerja keuangan pada perusahan, dimana kelemahan dari penelitian ini variabilitas variabel dependen hanya mampu dijelaskan sebesar 21,3% oleh variabel Ichmahtul Hidayah dan Melati Oktafiyani: PERAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2017-2019 DAFTAR PUSTAKA