ISSN: 2988-2850 Volume 3. Nomor 2. Juli 2025 DOI 10. 28926/pyschoaksara. Relationship Lansia: Persepsi Lansia Terhadap Dukungan Keluarga Setelah Tinggal di Panti Werda Pengayoman Siti Hikmah Anas . Allena Rahma Fadhilah . Afthon Yussac Syarief . ANimas Aliya Azzahra . Faila Sifa Ulya . Mona A Irmahjati . Alifia Herman . Fia Barlanty Mudliati . Lila Salma Wijayanti . Dienita Dwi Rahmawati . Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Email: hikmahanas@walisongo. id 2allenarahma81@gmail. afthonys@gmail. com 4nimasaliyaazzahra1907@gmail. com 5ulyasifa61@gmail. monajirmahjati15@gmail. com 7alifiaherman31@gmail. barlanty@gmail. com 9lilasalma17@gmail. com 10dienita181@gmail. Abstract This study aims to explore the perceptions of elderly people living in Pengayoman Werda Home towards the family support they get, the method used is a qualitative method with a phenomenological approach and data collected through semi-structured interviews with three elderly informants. The results of thematic analysis show that despite living apart from their families, the elderly still feel significant forms of support, namely emotional, informative, instrumental, and appreciative support. Emotional support is reflected in attention and affection, informative support in the form of advice, especially related to health and spirituality, instrumental support includes the fulfillment of daily needs and appreciation support comes in the form of motivation and recognition from the family. All of these forms of support have a positive impact on the psychological condition of the elderly, especially a sense of being valued and loved. This research confirms the importance of family involvement in maintaining the welfare of the elderly in Werdha homes. Keyword : Reliationship. Elderly. Perception. Family Support. Nursing Home Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi lansia yang tinggal di Panti Werda Pengayoman terhadap dukungan keluarga yang mereka dapatkan, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur terhadap tiga informan lanisa. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa meskipun tinggal terpisah dari keluarga para lansia tetap merasakan bentuk-bentuk dukungan yang signifikan yaitu dukungan emosional, informatif, instrumental, dan Dukungan emosional tercermin dalam perhatian dan kasih sayang, dukungan informatif berupa nasihat terutama terkait kesehatan dan spiritual, dukungan instrumental mencakup pemenuhan kebutuhan sehari-hari serta dukungan penghargaan hadir dalam bentuk motivasi serta pengakuan dari keluarga. Seluruh bentuk dukungan ini memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis lansia terutama rasa dihargai dan disayangi. Penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam menjaga kesejahteraan lansia di Panti Werda Pengayoman. Kata Kunci : Reliationship. Lansia. Persepsi. Dukungan Keluarga. Panti Jompo Received: 12 Februari 2025 Accepted: 26 Maret 2025 Published: 15 Juli 2025 Pendahuluan Jumlah penduduk lanjut usia . di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke Berdasarkan data BPS, pada tahun 2023 jumlah lansia telah mencapai 11,75% dari total populasi, dengan kecenderungan terus meningkat seiring pertumbuhan usia Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi harapan hidup (Badan Pusat Statistik, 2. Peningkatan jumlah lansia ini menimbulkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal perawatan fisik, psikologis, dan Keluarga yang mengalami keterbatasan dalam memberikan pengasuhan intensif kepada lansia cenderung memilih alternatif berupa panti jompo sebagai tempat tinggal lansia (Firdaus et al. Namun, penempatan lansia ke dalam panti jompo tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga sangat memengaruhi kondisi psikologis Lansia yang tinggal di panti jompo rentan mengalami kesepian, kehilangan koneksi emosional, serta merasa diabaikan oleh keluarga (Shafyra 2. Menurut Sarafino dalam bukunya The Science of Psychology: An Appreciative View . dalam (Mahmuda and Jalal 2. , dukungan sosial merupakan bentuk penerimaan yang diberikan oleh individu atau kelompok kepada seseorang, sehingga orang tersebut merasa dirinya dicintai, diperhatikan, dihargai, dan mendapatkan Dukungan sosial dari keluarga berperan penting dalam meningkatkan kesehatan mental lansia dan memperkuat kesejahteraan psikologis mereka (Maratning et al. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Erdoan and Mersin 2. dijelaskan dalam hierarki kebutuhan Maslow pemenuhan kebutuhan memiliki kaitan yang erat dengan kesejahteraan psikologis pada lansia setelah pemenuhan dasar seperti makanan, dan rasa aman tercukupi, kebutuhan akan hubungan sosial . serta penghargaan menjadi prioritas selanjutnya. Apabila lansia tidak memperoleh dukungan emosional dari keluarga, maka pemenuhan kebutuhan ini dapat terganggu yang pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa percaya diri atau harga diri . elf-estee. mereka (Santri. Nurrochmah, and Pradana 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Wahda 2. temuan ini mengutip teori Bowlby dan menegaskan bahwa hubungan emosional yang kuat dan aman antara keluarga memberikan rasa aman, percaya diri, dan kestabilan psikologis dalam menghadapi tantangan hidup. Teori Bowlby juga menekankan pentingnya hubungan emosional yang aman dan stabil dalam menciptakan kesejahteraan psikologis sepanjang hidup. Selain itu dukungan sosial menurut Sherbourne & Stewart . dalam (Afifah dan Luawo 2. menekankan pada pemberian bantuan yang mencakup aspek emosional, instrumental, dan infromasional. Berdasarkan pemahaman tersebut dukungan sosial dapat diartikan sebagai bentuk bantuan yang diterima individu dari orang lain dalam wujud dukungan emosional, bantuan nyata . , pemberian infromasi, evaluasi diri, serta interaksi positif yang mendukung. Seluruh elemen ini berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup individu yang bersangkutan. Dalam konteks ini relationship atau hubungan lansia dengan keluarga memiliki peran yang krusial di mana hubungan antara keluarga terhadap lansia yang tinggal di panti jompo menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis mereka, hal tersebut dapat berupa pemenuhan kebutuhan personal harian, kunjungan, perhatian, serta komunikasi secara rutin akan membuat lansia merasa diperhatikan lebih aktif dan tidak merasa kesepian meski tinggal di panti jompo (Arini et Dukungan keluarga menurut Friedman dalam bukunya yang berjudul Buku Ajar Keperawatan Keluarga yang dikutip dari (Zuroida 2. mengemukakan bahwa dukungan keluarga merupakan proses yang berlangsung terus menerus sepanjang Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi kehidupan seseorang, dukungan keluarga berfokus pada interaksi sosial yang terjadi dalam berbagai hubungan serta dinilai secara subjektif oleh individu yang menerimanya. Dukungan dari keluarga mencerminkan sikap, tindakan, serta penerimaan keluarga terhadap anggotanya, jika setiap anggota keluarga selalu siap membantu dan memberikan pertolongan saat dibutuhkan maka individu tersebut akan merasa Friedman dalam (Zuroida 2. menyebutkan bahwa dukungan keluarga terdiri dari empat aspek utama dengan berbagai bentuk, yaitu: pertama, dukungan informasional, di mana keluarga berperan sebagai sumber informasi dengan memberikan saran, masukan, dan penjelasan yang membantu individu memahami atau menyelesaikan masalah. Kedua, dukungan penilaian dan penghargaan, yaitu keluarga berperan dalam membimbing serta menjadi penengah dalam proses pemecahan masalah, sekaligus menjadi tempat validasi identitas diri melalui perhatian dan Ketiga, dukungan instrumental, yang merujuk pada bantuan nyata dari keluarga dalam bentuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti keuangan, makanan, minuman, dan waktu istirahat. Keempat, dukungan emosional, di mana keluarga menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat dan memulihkan diri, serta membantu dalam mengelola emosi melalui kepercayaan dan perhatian yang diberikan. Menurut Setiadi . dalam (Triono and Hikmawati 2. , mengemukakan bahwa dukungan dari keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu secara menyeluruh dukungan yang kuat dari keluarga terbukti dapat menangani penderita hipertensi, kehadiran dan dukungan dari keluarga juga mampu meningkatkan kepercayaan diri, memotivasi individu untuk menghadapi tantangan, serta berkontribusi pada peningkatan kepuasan hidup. Selain itu dukungan keluarga juga berperan penting dalam membantu individu beradaptasi terhadap berbagai peristiwa hidup yang penuh tekanan dan stress. Banyak penelitian sebelumnya lebih menyoroti efek kuantitatif dari keberadaan atau ketiadaan dukungan keluarga terhadap lansia, seperti tingkat depresi atau kualitas hidup (Hendayani and Afnuhazi 2. & (Amelia 2. Namun, masih jarang penelitian yang mengeksplorasi secara mendalam bagaimana lansia sendiri memaknai bentuk dukungan yang mereka terima setelah tinggal di panti. Gap ini menunjukkan bahwa pendekatan kualitatif masih sangat dibutuhkan untuk menggali persepsi lansia terhadap relasi mereka dengan keluarga. Penelitian ini bersifat melengkapi dan memperluas temuan sebelumnya, dengan menempatkan persepsi subjektif lansia sebagai fokus Dengan menggali pengalaman pribadi lansia, studi ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mereka terhadap dukungan keluarga setelah tinggal di Panti Werda Pengayoman. Penelitian ini juga ingin memahami dampak dari dukungan tersebut terhadap kondisi psikologis dan sosial lansia secara lebih utuh dan mendalam. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi lansia terhadap dukungan keluarga setelah tinggal di Panti Werda Pengayoman. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi berdasarkan aspek-aspek dukungan keluarga. Wawancara dilakukan secara langsung di Panti Werda Pengayoman pada hari Senin, 28 April 2025. Informan berjumlah tiga orang, terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan yang telah tinggal di panti Werdha Pengayoman lebih dari 2 bulan. Setiap wawancara berlangsung sekitar 30 menit dalam suasana yang nyaman dan kondusif. Penelitian ini berfokus untuk memahami secara mendalam makna subjektif dari pengalaman lansia terkait dukungan keluarga yang mereka rasakan setelah tinggal di panti. Tabel 1. Identitas Subjek Inisial Subjek Usia Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Data dianalisis menggunakan metode thematic analysis yang dikembangkan oleh (Braun dan Clarke 2. yaitu metode yang bertujuan mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola atau tema yang terdapat dalam data. Proses analisis dimulai dari transkripsi verbatim wawancara, kemudian dilakukan pengkodean awal untuk menemukan makna-makna penting, yang selanjutnya dikelompokkan ke dalam tematema utama. Wawancara bersifat terbuka dan fleksibel guna menggali pengalaman pribadi lansia secara lebih mendalam. Hasil analisis disajikan dalam bentuk narasi tematik yang diperkuat oleh kutipan langsung dari partisipan, sehingga dapat menunjukkan keaslian data dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap makna pengalaman yang dialami lansia. Hasil dan Pembahasan Hasil dari penelitian ini menggali makna dari pengalaman para lansia yang tinggal di Panti Werda Pengayoman terkait persepsi mereka terhadap dukungan keluarga setelah tinggal di panti jompo. Berdasarkan temuan yang diperoleh dari penelitian, ketiga infroman yaitu JH. MR dan AN menunjukkan temuan yang sesuai dengan aspek-aspek dukungan keluarga. Yang mana menyatakan bahwa mereka masih merasakan bentuk dukungan dari keluarga baik dalam aspek emosional, infromatif, instrumental, serta penghargaan yang memberikan dampak positif bagi lansia meskipun tidak tinggal bersama secara langsung. Tabel 2. Hasil Wawancara Subjek Dukungan Emosional Terpenuhi Dukungan Informatif Terpenuhi Dukungan Instrumental Terpenuhi Dukungan Penghargaan Terpenuhi segala aspek Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar emosional oleh yakni oleh anak dan adiknya. Terpenuhi emosional oleh Terpenuhi emosional oleh yakni oleh Psycho Aksara Jurnal Psikologi melalui telepon. seperti perhatian atau semangat. Terpenuhi Terpenuhi primer maupun Terpenuhi Terpenuhi segala aspek Terpenuhi sungkan untuk Terpenuhi meski terbatas Dukungan Emosional: mendapatkan empati, perhatian, kasih sayang, dan Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada informan AN mendapatkan hasil, "Iya sama adek, sering kesini tapi ngga tentu harinya, main, diajak jalanjalan, naik mobil adeknya, ya ngga mesti setiap minggu, sabtu paling, ya seneng ngga kesepian, bawa anaknya juga main kesini, kalo dia sibuk ya ngga main, telfon kadangAy (AN. Kemudian selaras dengan wawancara dengan informan MR yang mengatakan AuIya sering dijenguk, tapi yo ndak setiap minggu dateng, nek sibuk yo gak dateng, tergantung dia sibuk atau enggaAy. AuPernah pas itu imlek diajak keluar kalau ndak ya ndakAy. AuNek pas tahun baru sama ulang tahun masih sering ngerayain setiap tahun, mulai aku disini sampai sekarangAy. AyKalau sama keluarga rame tapi kalau disini cuma dikasih doang ga rame-rameAy. (MR. Ditambahkan kembali dari hasil wawancara dengan informan JH yakni. AuYaa, sayang yaa. Carikan tempat gitu yang layak, gitu. Nggak seperti orang di TV-TV, dibuang. Ay. AuIya, namanya keluarga seneng ya. Padahal cuma anak 2. Ay. AuYa. ehh anak saya setiap momen-momen dalam ulang itu pasti. Ay. AuYa. terus sama tuh dia mau datang ke sini. Hari-hari hari apa, anuu, lebaran. Ay. AuDibilang seneng ya seneng, kalau dibilang susah ya susah. AyDi sini kayak kemana mana. di sini tuh susah, belum bisa. Ay. AuNggak pernah dijenguk. Anak saya tuh yang satu di Bandung. Ay. AuYang satu di Tangerang. Ay. AuIya, udah nggak pernah. Ay. AuYa selama di sini baru 3 bulan. Ay. AuWaktu diantar tok, heeh. Ay. AuBukan anak, tapi adek udah pernah ke sini berapa kali. Ay. AuBukan jalan-jalan. Paling kalau ke sini pengin mangan, apa nanti bawain. Ay. AuNggak, maksud saya jauh ngaknya yah. Jauh nggaknya ya wong sekarang ada HP ya, bisa untuk komunikasi setiap hariAy (JH. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa persepsi dukungan emosional lansia merasa terpenuhi dukungan emosionalnya walapun berada di panti jompo, yang disimpulkan dari hasil wawancara dengan lansia berinisial AN. MR, dan JH. Lansia AN mempresepsikan bahwa dukungan emosionalnya sudah terpenuhi oleh adik beserta keluarga adiknya, meskipun dari keluarga seperti anaknya tidak informan ungkapkan. Hal tersebut dibuktikan bahwa adik dan keluarga adiknya menjenguk dan mengajaknya keluar panti, walaupun tidak selalu karena faktor kesibukan lainnya. Meski begitu informan mengatakan bahwa senang dan merasa tidak kesepian dengan kehadiran adik beserta keluarga adiknya. Kesimpulannya bahwa informan AN mempresepsikan dukungan emosional dengan baik dan terpenuhi. Kemudian untuk informan MR mempresepsikan bahwa dukungan emosionalnya sudah terpenuhi oleh keluarganya di tunjukkan bahwa anak dan keluarganya suka menjenguknya walaupun tidak selalu dikarenakan faktor kesibukan lainnya. Informan MR juga menyebutkan bahwa informan dengan keluarganya sering merayakan hari raya, tahun baru dan ulang tahun bersama. Kesimpulannya bahwa informan MR mempresepsikan dukungan emosional dengan baik dan terpenuhi. Kemudian lansia JH mempresepsikan bahwa dukungan emosionalnya sudah terpenuhi oleh anak dan adiknya, meskipun lebih banyak kontak langsung dengan adiknya dikarenakan dengan anaknya terhalang oleh 2 faktor yakni jarak dan perizinan kerja anaknya dan informan JH juga memaklumi hal tersebut, kemudian ditambahkan juga bahwa informan baru memasuki panti sehingga belum mendapatkan jengukan dari anaknya, namun orang yang mengantarkannya ke panti adalah anaknya, dan tetap berkomunikasi dengan baik melalui handphone. Kesimpulannya bahwa informan JH mempresepsikan dukungan emosional dengan baik dan terpenuhi. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan temuan (Firdaus et al. yang menunjukkan bahwa lansia yang tinggal di panti jompo tetap dapat merasakan dukungan emosional, dimana la menggap bahwa hal tersebut merupakan bentuk perhatian, kasih sayang, dan tidak terabaikan meskipun interaksi dengan keluarganya terbatas. Kemudian juga disebutkan dalam temuan (Maulidhea and Syafiq 2. yang menyebutkan bahwa dukungan emosional lewat handphone terbukti sangat membantu lansia yang berada di panti jompo untuk dapat merasa terhubung dengan keluarga. Dengan komunikasi yang di bantu handphone dapat memberikan rasa diperhatikan sehingga dapat mengurangi perasaan kesepian, meskipun tidak sepenuhnya dapat menggantikan dukungan emosional yang didapatkan dari interaksi langsung, namun karena adanya keterbatasan, maka dengan pemenuhan dukungan emosional melalui handphone dapat menjadi solusi utama ditengah banyaknya keterbatasan, dengan tujuan agar dukungan emosional tetap dapat terpenuhi. Hal ini sejalan dengan teori Sherbourne & Stewart dalam (Afifah and Luawo 2. yang menyebutkan bahwa dukungan emosional dapat diwujudkan melalui penyampaian sebagai bentuk pengertian dari apa yang dialami orang lain, serta mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga mendukung mereka agar dapat mengutarakan isi hatinya. Sehingga dukungan ini berupa kepedulian, rasa sayang serta kepekaan terhadap perasaan orang lain. Dukungan Informatif: mendapatkan saran, sugesti, atau informasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan suatu masalah Berdasarkan wawancara yang dilakukakan kepada informan MR mendapatkan hasil Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi AuIya biasanya diceritain keadaan dirumah, nek ada yang meninggal ya di kabarin, dikasih saran minum obat apalah, dikasih saran suruh banyak ngobrol juga, ya seneng tetep dapet info keadan rumah juga sama dikasih saran gimana cara jaga kesehatanAy (MR. Senada dengan hasil yang diperoleh informan AN yang mengatakan Ausering cerita, kadang engga, sibuk dia, sering cerita juga kegatan di sini, kadang-kadang ditelfon, kalo kangen ngga telfon dulu, takut ganggu dia kerja tapi sering nelfon kok dianya terus juga dikasih info biar sehat tips tips apa begitu (AN. Ay Selain itu juga senada dengan hasil yang di peroleh dengan informan JH AuYa ya, cuman. ya saran sing santaii. Dari sembuh pulang katanya, tapi pastinya kan belum tahu. Ay. AuNyaman sih,. Ay. AuOiya, pasti tiap pagi disuruh minum obat, dikasih saran minum obat apa aja kalo saya ngeluh sakit apa nanti dicariin solusinya jugaAu (JH. Dapat disimpulkan dari hasil wawancara dari seluruh informan JH. MR, dan AN yang merasakan bahwa dukungan informatifnya terpenuhi meskipun berada di panti jompo, informan sering mendapatkan informasi berupa saran untuk memastikan infroman tetap menjaga kesahatannya, baik dari segi maupun mental serta infroman selalu disarankan untuk sering mengobrol dengan teman teman di panti jompo supaya tidak merasa kesepian, dukungan infromatif disampaikan dari keluarga baik ketika bertemu langsung maupun melalui telepon yang tentunya membuat infroman merasa senang, nyaman, optimis serta aman karena sering diberi infromasi supaya masalah apapun yang dialami di panti jompo dapat terselesaikan. Hal ini sesuai dengan temuan (Dewi et al. yang mengungkapkan bahwa lansia di panti jompo memiliki dukungan informatif adalah dukungan yang diberikan oleh pengasuh panti dalam bentuk informasi yang berkaitan dengan kesehatan fisik, psikis, keagamaan, hidup sosial, atau informasi kesejahteraan (Pepe et al. juga mengungkapkan dalam temuannya bahwa dukungan informasioal juga diberikan dengan cara menyampaikan kabar dan saran kepada lansia agar mereka tetap bisa menjalankan peran dalam lingkungan sosialnya. Upaya ini dilakukan agar lansia tidak tidak merasa tersisih, meskipun sering kali saran yang diberikan sulit dipahami dan dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama karena penyampainnya lebih banyak dilakukan secara tidak langsung, seperti melalui telepon atau bantuan petugas panti. Hal ini diperkuat dengan teori sosial informatif oleh Sherbourne & Stewart . dalam (Afifah dan Luawo 2. yang menjelaskan bahwa dukungan infromasional merupakan bentuk bantuan yang berupa arahan, saran, atau umpan balik yang membantu individu menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi dapat bedupa penjelasan mengenai kondisi kesehatan maupun mengenai prosedur pengobatan yang harus dijalani, dalam konteks ini lansia akan menunjukkan tingkat kecemasan rendah dan merasa lebih siap dalam mengadapi kondisi kesehatannya serta bekontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup lansia. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Dukungan Instrumental: mendapatkan bantuan materi, kebutuhan keuangan, makan, dan minum Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada informan JH mendapatkan hasil Ayiya semuanya ditanggung, makanan, obat-obatan juga, seneng saya jadinya kalo masih di kirim-kirimin gituAy (JH. Senada dengan hasil yang diperoleh informan AN yang mengatakan AyOh iya bahwa roti, bawa obat, bawa pakaian, anak saya bilang gini Aoini loh ku belikkan pakaian buat imlekan, buat natalan, dibeliin semua, ya saya seneng karna mereka masih ngasih kebutuhan primer jadi kaya sayangnya nyata gituAy (AN. Selain itu Senada dengan hasil yang diperoleh dengan informan MR yang mengakatan AySetiap bulan adik sering uang jajan, ngasih obat obatan, kalo kesini selalu bawa jajan yang saya suka, jadi tenang rasanya kalo keluarga masih ngasih-ngasih gitu tandanya kan masih sayang yaAy (MR. Dapat disimpulkan dari hasil wawancara seluruh informan yaitu JH. MR, dan AN merasakan dukungan instrumentalnya terpenuhi meskipun sudah tinggal di panti jompo, keluarga pasrtisipan memenuhi kebutuhan sehari-hari baik dari segi kebutuhan primer maupun sekunder sehingga infroman memaknai dukungan instrumental sebagai bukti nyata rasa aman dan bekecukupan dari segi apapun meski tinggal di panti jompo. Hal ini sesuai dengan temuan (Nurrohmi 2. yang mengemukakan bahwa lansia di panti jompo memiliki persepsi positif terhadap dukungan instrumental yang diberikan oleh keluarga, lansia merasa dukungan tersebut sebagai bentuk nyata kasih sayang serta tanggung jawab keluarga dengan membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya. (Pepe et al. juga mengungkapkan dalam temuannya bahwa jika keluarga berperan dalam memberikan dukungan instrumental kepada lansia di panti jompo seperti menyediakan sesuatu yang membuat lansia bahagia sehingga tidak merasa kesepian dan tetap memiliki hubungan sosial yang luas. Hal ini diperkuat dengan teori dukungan sosial instrumental oleh Sherbourne & Stewart . dalam (Afifah dan Luawo 2. yang mengemukakan dukungan instrumental disebut sebagai bentuk dukungan nyata karena melibatkan pemberian bantuan secara langsung, seperti pemenuhan fisik maupun finansial untuk pengobatan, dalam konteks ini lansia yang mendapatkan dukungan ini dapat memberikan rasa aman dan dihargai yang berdampak positif terhadap kondisi psikologis mereka. Dukungan Penghargaan: mendapatkan bimbingan, dukungan, dan perhatian Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada informan AN, mendapatkan hasil Aylewat hp, iya disini boleh pegang hp biasanya buat telfonan sama keluarga, nanya kabar, ngasih semangat juga, kalo ketemu juga sering ngobrol santai, tetep ngasih motivasi juga dikasih tips jaga kesehatan juga seringAy (AN. Senada dengan hasil yang diperoleh dengan informan MR yang mengakatan Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Ayiya, kalo kesepian paling main hp terus nelfon keluarga ngobrol banyak, habis itu jadi tenang lagi, kalo pas hari dijenguk juga sering ngobrol banyak ngasih dukungan semangat gitu, emm kadang juga dikasih bimbingan buat tetep jaga kesehatan, disuruh sering sering ngobrol sama temen temen disini "(MR. Selain itu selaras dengan hasil yang diperoleh dengan informan JH yang mengakatan Ayiya masih nyemangatin ya seneng pastinya kalo di semangatin sama anak saya, jadi tenang gitu rasanya, disuruh jaga kesehatan jugaAy (JH. Sehinga dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, bahwa infroman AN. MR, dan JH merasakan dukungan penghargaan yang cukup, selain itu infroman AN dan MR sering dijenguk oleh keluarganya sementara dikarenakan informan JH baru di tempatkan di panti jompo sehingga belum pernah di jenguk, namun seluruh infroman sering diperhatikan kondisi kesehatannya baik via whatsaap, maupun ketika bertemu langsung, infroman selalu diberi apresiasi dan motivasi dalam menjalani hari di panti jompo sehingga infroman memaknai hal tersebut sebagai kesenangan batin yang mana infroman tetap merasa nyaman meski tinggal jauh dari keluarga, namun tetap mendapatkan penghargaan yang cukup. Hal ini selaras dengan temuan (Tan et al. yang mengemukakan bahwa dukungan penghargaan dari keluarga tidak selalu dari materi tetapi juga nasihat, empati, perhatian dan simpati, membuat lansia memaknai dukungan sebagai pengakuan atas keberadaan mereka secara emosional maupun (Rahmadhani et al. juga mengemukakan bahwa lansia yang menerima dukungan penghargaan akan dimaknai oleh lansia sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian karena merasa keberadaannya masih di hargai dalam keluarga. Hal ini diperkuat dengan teori dukungan sosial oleh Sarafino . dalam (Hidayah 2. yang menyatakan individu yang mendapatkan dukungan sosial maka akan memberikan rasa aman secara fisik dan emosional terutama bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan atau stress, dengan adanya dukungan ini seseorang cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih baik dan mampu menghadapi stress dengan lebih efektif. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persepsi lansia terhadap dukungan keluarga setelah tinggal di panti jompo cenderung positif. Para lansia memandang bahwa dukungan keluarga tetap hadir meskipun mereka tidak lagi tinggal Dukungan ini dirasakan melalui perhatian emosional, pemberian informasi atau nasihat, bantuan kebutuhan sehari-hari, serta penghargaan dalam bentuk motivasi dan perhatian. Meskipun bentuk dukungan tersebut tidak selalu diberikan secara langsung atau rutin, para lansia tetap memaknainya sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian dari keluarga. Dukungan ini memberi dampak positif terhadap kondisi psikologis lansia, karena mereka tetap merasa dihargai, disayangi, dan diperhatikan. Dengan demikian, kehadiran dan keterlibatan keluarga, sekecil apa pun bentuknya, tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan lansia yang tinggal di Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah partisipan yang masih sedikit. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi sehingga untuk penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak partisipan agar cakupan gambaran mengenai persepsi lansia terhadap dukungan keluarga menjadi lebih luas dan mendalam. Referensi