(JKN) JURNAL KESEHATAN NASIONAL https://jurnal. id/index. php/jkn DOI Prefix 10. e-ISSN a Vol. 1 No. 1 (November, 2. Diterima Redaksi: 10-10-2025 | Selesai Revisi: 10-11-2025 | Diterbitkan Online: 21-11-2025 Case Study Evidance Based Practice Penerapan Senam Hipertensi terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi 1,2,3 Aksen Maabuat1. Esther Lontoh2. Vergeina Mastur3. Engryne Nindi4 Program Studi Profesi Ners. Fakultas Keperawatan. Universitas Pembangunan Indonesia. Manado. Indonesia Email: 1aksenmaabuat18@gmail. Abstract Hypertension is a Ausilent killer,Ay with 1 in 3 people with hypertension in Indonesia unaware that they are suffering from it. This persistent increase in blood pressure is positively correlated with a higher risk of developing heart disease, kidney failure, and Regular and routine check-ups are necessary so that hypertension can be detected early, allowing for early management and thus preventing complications as well as disability and death. By conducting early detection and checking blood pressure every month, it is expected that complications due to hypertension can be prevented and Hypertension treatment can be carried out in two ways, namely pharmacological and non-pharmacological treatments, in this case low-impact aerobic Low-impact aerobic exercise for hypertension is beneficial for improving and maintaining the health and endurance of the heart, lungs, blood circulation, muscles, and The purpose of this scientific paper is to implement Hypertension Exercise to reduce blood pressure in Mr. R in Kauneran Village. Sonder District. The results of the study, using evidence-based nursing with Hypertension Exercise performed for 3 days, showed that Hypertension Exercise was effective in lowering Mr. RAos blood pressure. The conclusion of this scientific paper is that there was a decrease in blood pressure in Mr. R with hypertension after being given low-impact aerobic exercise. Suggestion all healthcare workers are advised to provide interventions and education on Hypertension Exercise for clients suffering from hypertension. Keywords: Hypertension. Low Impact Aerobics. Nursing Care Abstrak Hipertensi merupakan Ausilent killerAy, dengan 1 dari 3 orang dengan Hipertensi di Indonesia tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita hipertensi. Peningkatan tekanan darah yang menetap ini berkorelasi positif terhadap meningkatnya risiko untuk terkena penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Perlu dilakukan pengecekan secara rutin dan berkala, agar dapat dideteksi secara dini sehingga tatalaksana awal dapat dilakukan, sehingga komplikasi dapat dihindari dan kecatatan dan kematian dapat dicegah. Dengan melakukan deteksi dini dan memeriksakan tekanan darah setiap bulannya, maka diharapkan komplikasi akibat hipertensi dapat dicegah dan dikendalikan. Pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pengobatan farmakologi dan nonfarmakologi dalam hal ini senam aerobic low impact. Senam aerobik low impact Penulis Korespondensi: Aksen Maabuat | aksenmaabuat18@gmail. Aksen Maabuat. Esther Lontoh. Vergeina Mastur. Engryne Nindi JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. terhadap hipertensi bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan daya tahan jantung, paru, peredaran darah, otot dan sendi. Tujuan dari karya ilmiah ini adalah terlaksananya SENAM HIPERTENSIterhadap penurunan tekanan darah pada Tn. R di Desa Kauneran Kecamatan Sonder. Hasil penelitian dengan penerapan evidence based nursing Senam Hipertensi yang dilakukan selama 3 hari, hasil evaluasi didapatkan bahwa Senam Hipertensi efektif dalam menurunkan tekanan darah pada Tn. Kesimpulan karya ilmiah ini terdapat penurunan tekanan darah pada Tn. R dengan hipertensi setelah diberikan senam aerobic low impact. Saran: kepada seluruh tenaga kesehatan agar dapat memberikan tindakan dan edukasi pemberian Senam Hipertensi pada klien yang menderita hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi. Aerobic Low Impact. Asuhan Keperawatan PENDAHULUAN Menurut Undang-Undang No 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia di Indonesia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun keatas. Memasuki usia lansia seseorang akan mengalami proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan baik dari dalam maupun luar tubuh (Mujiadi & Rachmah, 2. Secara global prevalensi lansia berusia 65 tahun keatas meningkat dari 9,3% pada tahun 2020 menjadi 10% pada tahun 2022 dan diperkirakan meningkat sebesar 16% pada tahun 2050 (WHO, 2022, 2. Prevalensi lansia usia Ou 60 tahun di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 10,48 % penduduk lansia. (Badan Pusat Statistik. Menurut World Health Organization (WHO) penyakit hipertensi terus mengalami peningkatan diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia menderita hipertensi (World Health Organization, 2. Berdasarkan data Riskesdas Nasional tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia usia Ou 18 tahun dengan tekanan darah tinggi yang didapat dari hasil pengukuran terus meningkat pada tahun 2013 sebesar 25,8% menjadi 34,11%. Penyakit terbanyak pada lansia adalah penyakit hipertensi dengan prevalensi menurut karakteristik kelompok umur yaitu, umur 55-64 tahun . ,23%), umur 65- 74 tahun . ,22%), usia 75 tahun ke atas . ,53%). Provinsi dengan prevalansi penderita hipertensi tertinggi yaitu Kalimantan Selatan sebesar 44,13%, tertinggi ke dua Jawa Barat sebesar 39,60%, tertinggi ke tiga yaitu Kalimantan Timur sebesar 39,30% dan provinsi dengan penderita hipertensi terendah yaitu Papua sebesar 22,22% sedangkan provinsi Bali menempati peringkat ke15 penderita hipertensi dengan prevalensi yaitu 29,97%. (Tim Riskesdas, 2. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling utama, karena setiap manusia berhak untuk memiliki kesehatan. Kenyataanya tidak semua orang dapat memiliki derajat kesehatan yang optimal karena berbagai masalah, diantaranya lingkungan yang buruk, sosial ekonomi yang rendah, gaya hidup yang tidak sehat mulai dari makanan, kebiasaan, maupun lingkungan sekitarnya (Sari, 2. Sehat dan sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari selama kita masih Tetapi kebanyakan manusia menganggap sehat saja yang memiliki makna. Sebaliknya, sakit hanya dianggap sebagai beban dan penderitaan (Badar dkk, 2. Gaya hidup sehat merupakan kebutuhan fisiologis yang hirarki, kebutuhan manusia paling dasar untuk dapat mempertahankan hidup termasuk juga menjaga agar tubuh tetap bugar dan sehat serta terbebas dari segala macam penyakit. Penyakit yang sering muncul akibat gaya hidup yang tidak sehat salah satunya yaitu hipertensi (Sufa dkk, 2. Hipertensi ialah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan Aksen Maabuat. Esther Lontoh. Vergeina Mastur. Engryne Nindi JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. tekanan darah diatas normal yang dapat mengakibatkan angka kesakitan . dan angka kematian . Hipertensi berarti tekanan darah di dalam pembuluhpembuluh darah sangat tinggi yang merupakan pengangkut darah dari jantung yang memompa darah keseluruh jaringan dan organ-organ tubuh (Aryantiningsih & Silaen. Hipertensi merupakan penyakit multifaktor. Secara prinsip terjadi akibat peningkatan curah jantung atau akibat peningkatan resistensi vascular karena efek vasokontriksi yang melebihi efek vasodilatasi (Kuswantoro E, 2. Hipertensi disebut silent diasase karena tidak ada gejalanya dan baru timbul gejalanya sesudah timbul komplikasi di jantung dengan muncul serangan jantung, di otak timbulnya serangan stroke, di mata menimbulkan retinopati hipertensi, dan diginjal dengan terjadinya nefropatik hipertensi (Purnomo dkk, 2. Hipertensi merupakan Ausilent killerAy, dengan 1 dari 3 orang dengan Hipertensi di Indonesia tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita hipertensi. Peningkatan tekanan darah yang menetap ini berkorelasi positif terhadap meningkatnya risiko untuk terkena penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Perlu dilakukan pengecekan secara rutin dan berkala, agar dapat dideteksi secara dini sehingga tatalaksana awal dapat dilakukan, sehingga komplikasi dapat dihindari dan kecatatan dan kematian dapat Dengan melakukan deteksi dini dan memeriksakan tekanan darah setiap bulannya, maka diharapkan komplikasi akibat hipertensi dapat dicegah dan Deteksi dini hipertensi dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah pada pasien usia Ou15 tahun (Kemenkes, 2. Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup dominan di negara- negara Di Indonesia, ancaman hipertensi tidak boleh di abaikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kian hari penderita hipertensi di Indonesia semakin meningkat. Namun sayangnya dari jumlah total penderita hipertensi tersebut, baru sekitar 50% yang Dan diantara penderita tersebut hanya setengahnya yang berobat secara Dalam mengendalikan hipertensi ternyata ada beberapa faktor yang menyulitkan seperti faktor umur, ras, dan perubahan zaman (Suirako I, 2. Lansia sering menderita tekanan darah tinggi karena rendahnya aktivitas fisik lansia, hal ini dipengaruhi oleh usia seiring bertambahnya usia kondisi fisik mulai memburuk, dan seiring bertambahnya usia tekanan darah meningkat dikarenakan katup jantung menebal sehingga peredaran darah melambat dan jantung bekerja lebih keras saat memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh (Jumaiyah et al. , 2. Dampak dari hipertensi yang terjadi dalam jangka waktu lama dan tidak ditangani akan mengakibatkan terjadinya stroke, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Manurung, 2. Hipertensi pada lansia dapat dicegah dan dikendalikan dengan membiasakan hidup sehat yaitu dengan melakukan aktivitas fisik olahraga. Jenis olahraga untuk mencapai kebugaran jantung paru dan mengontrol tekanan darah yaitu 3 melalui senam (Kumalasari et al. , 2. Adanya pengaruh senam terhadap, penurunan tekanan darah dikarenakan gerakan senam dapat merangsang daya pompa jantung dan merangsang pelebaran pembuluh darah, merileksasikan pembuluh darah sehingga peredaran darah menjadi lebih lancar dan tekanan darah menurun (Anwari et al. , 2. Olahraga seperti senam hipertensi mampu mendorong jantung bekerja secara optimal, dimana olahraga mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ tubuh, dimana akibatnya dapat meningkatkan aliran balik vena sehingga menyebabkan volume sekuncup yang akan langsung meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri meningkat, setelah tekanan darah arteri meningkat akan terlebih dahulu, dampak dari fase ini mampu menurunkan aktivitas Aksen Maabuat. Esther Lontoh. Vergeina Mastur. Engryne Nindi JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. pernafasan dan otot rangka yang menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun, setelah itu akan menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena menurunan ini (Ainurrafiq et al. , 2. Pengobatan menggunakan metode non-farmakologi secara umum lebih mudah untuk dilakukan secara mandiri dan lebih memanfaatkan waktu. Penderita hipertensi lebih banyak didominasi oleh usia dewasa ke atas yang mengalami kesusahan saat melakukan pemeriksaan kesehatan ke Puskesmas terdekat sehingga metode nonfarmakologi dinilai dapat berperan lebih untuk pengobatan yang diterapkan selama dirumah (Sari, 2. Keluarga memiliki peranan penting dalam meningkatkan tingkat kesehatan, peran keluarga sangat dibutuhkan untuk memberikan perawatan kepada pasien hipertensi, karena keluarga merupakan perawat primer bagi anggotanya yang berada dirumah (Dewi dkk, 2. Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilaksanakan Hernawan & Rosyid . tekanan darah sebelum pemberian intervensi sebagian besar adalah prehypertension . %), tekanan darah setelah pemberian intervensi senam hipertensi sebagian besar adalah normal . %) dan terdapat pengaruh senam hipertensi terhadap tekanan darah. Sumah, . juga membuktikan dalam penelitiannya bahwa senam hipertensi mempunyai pengaruh yang sangat besar dan signifikan dalam penurunan tekanan darah. Hubungan senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah sebagaimana yang disimpulkan dalam penelitian Efliani et al. , . Penderita hipertensi tidak melakukan kegiatan olahraga atau senam dapat disebabkan kurangnya informasi yang diperoleh. Sehingga jika penderita hipertensi tidak melakukan olah raga seperti senam hipertensi secara teratur dapat terjadinya peningkatan berat badan atau obesitas jika tidak ditangani akan mengalami gangguan iskemik dan stroke (Yildirim, 2. Untuk itu diperlukan peran perawat dalam memberikan memberikan informasi ataun sebagai edukator agar penderita hipertensi dapat melaksanakan olahraga khususnya senam hipertensi secara rutin untuk menambah pengetahuan tentang pengobatan hipertensi dalam mengendalikan tekanan darah yang dapat dilakukan di rumah tanpa mengeluarkan biaya. Sehingga hipertensi dapat Perawat keluarga memiliki peran yaitu membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan. Adapun peran perawat dalam membantu keluarga yang anggota keluarganya menderita hipertensi antara lain : memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar dapat melakukan asuhan keperawatan mandiri, sebagai pengawas kesehatan, sebagai konsultan dalam mengatasi masalah, sebagai fasilitator asuhan perawatan dasar pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi. DESKRIPSI KASUS Tn. R adalah seorang laki-laki berusia lanjut yang tinggal di Desa Kauneran Jaga IV Kecamatan Sonder. Klien memiliki riwayat hipertensi sejak beberapa tahun terakhir dan tidak rutin melakukan pemeriksaan kesehatan maupun kontrol tekanan darah. Hasil pengkajian yang dilakukan penulis pada tanggal 12Ae15 September 2025 menunjukkan bahwa klien sering mengeluh pusing, mudah lelah, serta memiliki pola tidur yang kurang Klien juga belum memahami cara mengendalikan hipertensi secara mandiri di Pengkajian awal tanggal 12 September 2025, tekanan darah klien tercatat 190/110 mmHg, menunjukkan hipertensi derajat II. Riwayat gaya hidup menunjukkan bahwa klien kurang melakukan aktivitas fisik dan tidak memiliki jadwal olahraga teratur. Klien menyatakan belum pernah mendapatkan edukasi tentang senam hipertensi maupun teknik Aksen Maabuat. Esther Lontoh. Vergeina Mastur. Engryne Nindi JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. nonfarmakologi lainnya untuk menurunkan tekanan darah. Pengkajian keperawatan menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) menemukan beberapa masalah keperawatan, yaitu Pemeliharaan kesehatan tidak efektif (D0. Gangguan pola tidur (D0. , dan Defisit pengetahuan (D0. terkait manajemen hipertensi. Intervensi keperawatan yang direncanakan merujuk pada SIKI, di antaranya Edukasi kesehatan (I. dan Dukungan Tidur (I. , serta implementasi terapi nonfarmakologis berupa Senam Hipertensi. Intervensi Senam Hipertensi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 12, 13, dan 15 September 2025, dengan durasi A15 menit setiap sesi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah aktivitas senam sebagai evaluasi efektivitas Hasil pengukuran menunjukkan adanya penurunan tekanan darah secara bertahap setelah sesi senam pada setiap hari intervensi: 12 September 2025: 190/110 Ie 180/100 mmHg 13 September 2025: 180/100 Ie 150/100 mmHg 15 September 2025: 160/100 Ie 130/100 mmHg Data tersebut menunjukkan bahwa terapi nonfarmakologi berupa Senam Hipertensi efektif membantu menurunkan tekanan darah klien. Klien juga melaporkan tubuh terasa lebih ringan, pusing berkurang, dan tidur menjadi lebih nyenyak setelah melakukan Selama proses implementasi, penulis juga memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya olahraga teratur, pemantauan tekanan darah, pola makan sehat, serta peran keluarga dalam mendukung manajemen hipertensi di rumah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberian Senam Hipertensi pada pasien dengan Hipertensi di Desa Kauneran Jaga IV Kecamatan Sonder, mengambil sampel pada keluarga Tn. R yang berfokus sebagai klien kelolaan yang diberikan implementasi. Penulis melakukan pengkajian pada Tn. dari tanggal 12 September 2025 sampai 15 September 2025. Setelah dilakukan pengkajian pada Tn. R yang merupakan klien kelolaan didapatkan masalah keperawatan dengan standar diagnosa keperawatan (SDKI) yaitu Pemeliharaan kesehatan tidak efektif (D0. Gangguan pola tidur (D0. Defisit pengetahuan (D0. dan dilakukan perencanaan dengan menggunakan standar intervensi keperawatan Indonesia (SIKI) sebagai intervensi yaitu Edukasi kesehatan (I. Dukungan Tidur (I. Implementasi peneliti menerapkan Evidence Based Nursing pemberian Senam Hipertensi pada klien kelolaan Tn. R sebelum melakukan hipertensi peneliti mengukur tekanan darah klien terlebih dahulu. Kemudian melakukan Senam Hipertensi pada Tn. R selama 15 menit, setelah itu peneliti mengevaluasi kembali tekanan darah setelah diberikan intervensi senam hipertensi. Nama Tabel 1. tekakan darah responden Waktu Tekanan Darah Pre 1 Tn. R 12 September 2025 190/110 13 September 2025 180/100 15 September 2025 160/100 Post 180/100 150/100 130/100 Keterangan Menurun Menurun Menurun Hasil studi kasus menunjukkan tekanan darah Tn. R pada tanggal 12 September 2025 diketahui sebelum diajarkan Senam Hipertensi tekanan darah 190/100 mmHg, dan tekanan darah setelah intervensi 180/100 mmHg. Pada tanggal 13 Aksen Maabuat. Esther Lontoh. Vergeina Mastur. Engryne Nindi JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. September diketahui sebelum diberikan dilakukan Senam Hipertensi tekanan darah 180/100 mmHg, dan tekanan darah setelah intervensi 150/100 mmHg. Tanggal 15 September 2025 diketahui sebelum dilakukan Senam Hipertensi tekanan darah 160/100 mmHg, dan tekanan darah setelah intervensi 130/100 mmHg. Hasil tersebut menunjukkan bahwa intervensi yang telah dilakukan selama 3 hari terdapat perubahan tekanan darah setelah dilakukan penerapan senam aerobic low impact. Penatalaksanaan untuk menanggulangi hipertensi secara garis besar meliputi 2 jenis penatalaksanaan, yaitu penatalaksanaan farmakologi dan penatalaksanaan non-farmakologi. Penatalaksanaan farmakologi yakni menggunakan obat-obatan, sendangkan non-farmakologi seperto melakukan gaya hidup dengan seimbang, termasuk dalam pola aktivitas, olahraga, istirahat, makanan dan manajemen stress. (Trihartuty, 2. Adapun penelitian lain yang dilakukan oleh Yildirim, . dengan judul Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya terhadap 39 responden didapatkan data pada awal pengukuran sebelum senam diperoleh rata-rata tekanan darah sistole sebesar 142,82 mmHg dan setelah dilakukan intervensi senam hipertensi diperoleh rata-rata tekanan darah sistole sebesar 133,85 mmHg, tekanan darah diastole rata-rata sebelum senam hipertensi 94,10 mmHg turun menjadi 82,82 mmHg. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hernawan & Rosyid, . juga menunjukan penurunan tekanan darah setelah dilakukan senam hipertensi dengan rata-rata tekanan darah sistol pretest . lebih tinggi dibandingkan rata-rata tekanan darah sistol posttest . Nilai rata-rata tekanan darah diastol pretest . lebih tinggi dibandingkan rata-rata tekanan darah diastole posttest . Penelitian lain yang dilakukan oleh Tina et al. , . pada 35 responden membuktikan bahwa senam hipertensi dapat mempengaruhi penurunan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik pada penderita hipertensi. Sejalan dengan penelitian Sartika et al. , . yang dilakukan di Desa Blembem Wilayah Kerja Puskesmas Gondang Rejo dimana senam hipertensi dapat mengontrol tekanan darah terbukti rata rata penurunan tekanan darah sebelum senam yaitu 158/96 mmHg dan setelah dilakukannya senam hipertensi menurun menjadi 146,88/88,75 mmHg. Penderita hipertensi yang rutin mengikuti senam hipertensi dapat menurunkan tekanan darahnya. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga atau senam hipertensi yang teratur dapat membantu meningkatkan aliran darah dan pasokan oksigen ke dalam otot-otot jantung dan dapat merilekskan pembuluh darah sehingga hipertensi dapat dikendalikan (Tina et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Intervensi yang telah dilakukan selama 3 hari terdapat perubahan tekanan darah setelah dilakukan penerapan senam hipertensi. Hasil studi kasus ini diharapkan bisa menjadi pilihan terapi nonfarmakologi yang dapat membantu klien dengan masalah hipertensi, karena pengobatan nonfarmakologi mempunyai banyak keuntungannya seperti dapat dilakukan dimana saja, dan tentunya biayanya relatif lebih murah. DAFTAR PUSTAKA