JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 7 Nomor 3. September 2024 IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PENGELOLAAN KELOMPOK BERMAIN DENGAN ANALISIS SWOT Ashil Asayyidatina Ramadianty1. Safuri Musa2. Abdul Muis3 1,2,3 Pendidikan Masyarakat. FKIP Universitas Singaperbangsa Karawang. Jawa Barat. Indonesia 1910631040007@student. id, 2safuri@unsika. id, 3abdulmuis1961@gmail. Received: Juli, 2023. Accepted: September, 2024 Abstract The background of this research is the government policy regarding the independent curriculum. The results of studies on the implementation of the independent curriculum show positive and significant changes in the development of learning for students. As what has been done by who year brp. With regard to that, the purpose of this study is to conduct a swot analysis of the planning, organization, implementation, and supervision of the Aditya Karawang playgroup. Implementation of the independent curriculum in play groups in this case is a case study of the aditya play group. The theories used in this research are the independent curriculum according to Wasis, management according to Sudjana, playgroups according to the Ministry of Education, swot analysis according to Siagian. This research method uses descriptive qualitative with four research subjects, namely one manager, two tutors, and one parent of students. Based on the results in the field, it was found that the implementation of an independent curriculum in planning, organizing implementation, and supervision. The conclusion of the results of this study is to describe the implementation of the playgroup curriculum running well and smoothly but there are obstacles with limited electronic devices, learning media, control The recommendations for the implementation of the independent curriculum in playgroups have not been maximized due to limited communication technology tools, teachers have not participated in med development training. Keywords: implementation, independent curriculum, management, playgroup, swot analysis Abstrak Latar belakang penelitian ini yaitu kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan kurikulum merdeka. Hasil studi tentang implementasi kurikulum merdeka menunjukan perubahan yang positif dan signifikan terhadap perkembangan pembelajaran terhadap peserta didik. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh siapa taun brp. Berkenaan dengan hal itu maka tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis swot terhadap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan kelompok bermain aditya karawang. Implementasi kurikulum merdeka pada kelompok bermain dalam hal ini adalah studi kasus kelompok bermain aditya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kurikulum merdeka menurut Wasis. Pengelolaan menurut D. Sudjana, kelompok bermain menurut Depdiknas, analisis swot menurut Siagian. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian empat orang yaitu satu orang pengelola, dua orang tutor, dan satu orang tua peserta didik. Berdasarkan hasil dilapangan ditemukan hasil implementasi kurikulum merdeka dalam perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, dan pengawasan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu mendeskripsikan implementasi kurikulum kelompok bermain berjalan baik dan lancar namun adanya hambatan dengan terbatasnya alat elektronik, media belajar, kemampuan pengendalian. Rekomendasinya untuk implementasi kurikulum merdeka dikelompok bermain belum maksimal karena terbatasnya alat teknologi komunikasi, guru belum mengikuti pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis media digital. Maka kepada pengelola jika ingin melakukan kurikulum merdeka harus memenuhi kriteria tersebut. Kata Kunci: implementasi, kurikulum merdeka, pengelolaan, kelompok bermain, analisis swot 302 Ramadianty. Musa, & Muis. Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pengeloaan Kelompok Bermain Dengan Analisis SWOT How to Cite: Ramadianty. Musa. & Muis. Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pengeloaan Kelompok Bermain Dengan Analisis SWOT. Comm-Edu (Community Education Journa. , 7 . , 301-307 PENDAHULUAN Kurikulum pendidikan terus mengalami perbaikan dan perkembangan. Bagi tenaga pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini, menghadapi tantangan dalam mengimplementasikan kurikulum yang terus diperbarui adalah hal yang umum. Perubahan kurikulum, yang bertujuan mengikuti perkembangan pendidikan, tentu akan memengaruhi kegiatan belajar anak-anak dan pengelolaan lembaga yang perlu disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kurikulum Merdeka Belajar mengandung arti kebebasan belajar, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan kebebasan (Wasis, 2. Dalam pendekatan pembelajaran ini, anak-anak diajak untuk belajar dengan suasana yang tenang, santai, dan bahagia tanpa adanya stres dan tekanan. Prinsip ini juga memperhatikan minat dan penguasaan anak terhadap bidang ilmu di luar hobi dan kemampuannya, sehingga setiap anak memiliki portofolio yang sesuai dengan passion mereka (Abidah et al. , 2020. Rasmani et al. , 2. Pendapat lain juga menekankan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar menghargai minat dan bakat anak (Inrawati et al. , 2. Hal ini bertujuan agar perkembangan anak dapat optimal dan Dalam pendekatan ini, anak-anak didorong untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka, sehingga mereka dapat berkembang secara holistik sesuai dengan potensi yang Dengan memberikan kebebasan belajar. Kurikulum Merdeka Belajar bertujuan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan inspiratif bagi anak-anak. Dalam suasana yang bebas dan tanpa tekanan, diharapkan anak-anak dapat lebih termotivasi, kreatif, dan aktif dalam proses pembelajaran. Ini membantu mereka mengembangkan minat mereka secara lebih mendalam, meningkatkan kepercayaan diri, dan membantu mereka menemukan passion mereka sejak usia dini. Dalam kurikulum ini, peran guru menjadi lebih sebagai fasilitator dan pendamping yang mengarahkan dan mendukung anak-anak dalam eksplorasi minat dan bakat mereka. Guru juga berperan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memfasilitasi pengembangan keterampilan dan potensi setiap anak. Dengan demikian. Kurikulum Merdeka Belajar diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak untuk mengembangkan diri, mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta mencapai potensi penuh mereka dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Depdiknas . 0: . menyatakan bahwa kelompok bermain (KB) adalah suatu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 3-6 tahun yang berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, termasuk siap memasuki pendidikan dasar. Kemendikbud memberikan kebebasan kepada satuan PAUD untuk melaksanakan kurikulum di masing-masing Lembaga. Kurikulum merdeka dibagi menjadi tiga kategori sebagai pilihan untuk mengimplementasikan di Lembaga pendidikan (Eka Retnaningsih & Patilima, 2. Volume 7. No. September 2024 pp 301-307 Ketiga kurikulum tersebut adalah mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagi pada kurikulum mandiri belajar dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan saat menerapkan Kurikulum Merdeka beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD. Kurikulum Mandiri Berbagi di mana satuan pendidikan mmengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) (Kemendikbukristek Republik Indonesia, 2022. Syahrir, 2. LANDASAN TEORI Kurikulum Merdeka Belajar mengandung arti kebebasan belajar, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan kebebasan (Wasis, 2. Dalam pendekatan pembelajaran ini, anak-anak diajak untuk belajar dengan suasana yang tenang, santai, dan bahagia tanpa adanya stres dan tekanan. Prinsip ini juga memperhatikan minat dan penguasaan anak terhadap bidang ilmu di luar hobi dan kemampuannya, sehingga setiap anak memiliki portofolio yang sesuai dengan passion mereka (Abidah et al. , 2020. Rasmani et al. , 2. Menurut D. Sudjana . Pengelolaan atau manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk melakukan suatu kegiatan, bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi. Depdiknas . 0: . menyatakan bahwa kelompok bermain (KB) adalah suatu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 3-6 tahun yang berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, termasuk siap memasuki pendidikan dasar. Menurut Siagian . , analisis SWOT terdiri dari empat aspek utama, yaitu: . Strengths . adalah sumber daya keterampilan atau keunggulan keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani oleh perusahaan atau organisasi. Kekuatan adalah kompetensi khusus yang memberikan keunggulan komparatif bagi perusahaan di pasar. Weaknesses . adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan atau Fasilitas, sumber daya keuangan, kapabilitas manajemen, keterampilan pemasaran, citra merek dapat merupakan sumber kelemahan. Opportunity . adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan atau organisasi. Kecenderungankecenderungan penting merupakan salah satu sumber peluang. Threaths . adalah situasi penting yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan atau organisasi. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang yang diinginkan organisasi. Masuknya pesaing baru, lambatnya pertumbuhan pasar, meningkatnya kekuatan tawarmenawar pembeli atau pemasok penting, perubahan teknologi serta peraturan baru atau yang direvisi dapat menjadi ancaman bagi keberhasilan perusahaan. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitaif. Pendekatan kualitaif merupakan pendekatan dengan cara memandang objek penelitian sebagai suatu sistem, artinya objek kajian dilihat dari satuan yang terdiri dari unsur yang saling terkait dan mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada (Suharsimi Arikunto, 1998: . Hal tersebut sesuai dengan pendapat mengenai pengertian penelitian deskriptif yang dikemukakan oleh 304 Ramadianty. Musa, & Muis. Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pengeloaan Kelompok Bermain Dengan Analisis SWOT Nazur . ikutip oleh Soejono, 2005: . yang mengatakan bahwa penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatankegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari satu fenomena. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di salah satu Lembaga Kelompok Bermain Aditya Karawang. Teknik pengumpukan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi kegiatan implementasi kurikulum seperti rapat dan kegiatan Kemudian juga melakukan wawancara pada pengelola, guru dan wali murid terkait bagaimana pelaksanaan kurikulum di sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kurikulum merdeka merupakan kurikulum menggunakan pembelajaran intrakurikuler yg Kurikulum merdeka serius dalam konten-konten yg esensial supaya siswa mempunyai relatif saat buat mendalami konsep & menguatkan kompetensi. (Saku & Dasar. Berbagai studi nasional juga internasional menerangkan bahwa Indonesia sudah mengalami krisis pembelajaran yang relatif usang. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa anak-anak Indonesia sulit memahami. Maka kemendikbudristek menyebarkan bacaan sederhana dan matemarika dasar. Kurikulum Merdeka menjadi bagian krusial pada upaya memulihkan pembelajaran menurut krisis yg telah usang kita alami. Konsep Merdeka Belajar yang diluncurkan Menteri pendidikan selaras menggunakan konsep pembelajaran pada PAUD, yaitu menaruh kebebasan pada anak buat menentukan aktivitas belajar yg diinginkannya, dan memenuhi hak anak yaitu bermain. Oleh sebab itu PAUD bukan hanya mengajarkan anak cepat membaca, menulis & berhitung saja, tetapi memberikan pembelajaran yang bermakna. Pendidik PAUD juga perlu menerapkan pembelajaran 5M, yaitu pembelajaran yang memberikan anak mengalami pengalaman belajar melalui aktivitas mengamati, menanyakan, menalar atau mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Untuk menerapkan pembelajaran saintifik pengajar perlu tahu cara mempersiapkan lingkungan belajar yang kondusif, pengajar perlu mengelola pembelajaran efektif dan memberi kesempatan anak berinteraksi dengan lingkungannya. Jika konsep pembelajaran tadi diterapkan dalam anak usia dini maka anak akan mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berfikir kritis, dan bertindak kreatif. Maka. Indonesia akan mempunyai generasi yang bukan hanya pandai menghafalkan, tetapi juga bisa membentuk halhal baru, baik pada bidang pendidikan, sosial politik, budaya, teknologi, sehingga Indonesia Emas 2045 bisa tercapai secara optimal. Pembahasan Implementasi Perencanaan Kurikulum Merdeka Kelompok Bermain Aditya Awalnya, kebijakan pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar hanya diberlakukan untuk sekolah penggerak. Namun, mulai tahun ajaran 2022-2023, kebijakan ini telah diperluas untuk semua sekolah di Indonesia. Tujuan dari kebijakan ini adalah mengubah paradigma pembelajaran di Indonesia agar tidak hanya menekankan pada pencapaian akademik semata. Menteri Pendidikan menegaskan bahwa kegiatan bermain yang dipilih dalam Kurikulum Merdeka Belajar harus memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna bagi Volume 7. No. September 2024 pp 301-307 anak-anak. Dalam konteks ini, penting untuk mendukung kegiatan bermain dengan penggunaan sumber-sumber belajar yang nyata dan ada di sekitar lingkungan anak-anak. Hal ini akan membantu anak-anak mengembangkan pemahaman yang lebih konkret dan terhubung dengan realitas sekitar mereka. Selain itu, penguatan profil pelajar Pancasila di PAUD dilakukan melalui perayaan tradisi lokal, hari besar nasional, dan internasional. Dalam pelaksanaannya, penguatan profil pelajar Pancasila dapat dilakukan dengan mengalokasikan waktu khusus dalam kegiatan di PAUD. Melalui pengalaman ini, diharapkan anak-anak dapat memahami nilai-nilai Pancasila secara lebih mendalam dan menghayati arti pentingnya dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi Pengorganisasian Kurikulum Merdeka Kelompok Bermain Aditya Berdasarkan hasil dari wawancara dengan pengelola yaitu para guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah mengetahui adanya kurikulum merdeka belajar yang bersumber dari pengawas Kabupaten Karawang yang memberikan informasi saat pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Setelah adanya informasi mengenai kurikulum merdeka, pengelola mengambil keputusan dalam rapat guru dengan berusaha untuk update kurikulum yang lama menjadi kurikulum yang baru. Kesepakatan tersebut menjadi motivasi pada pendidik untuk mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar. Implementasi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Kelompok Bermain Aditya Dengan memperluas pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar ke semua sekolah, termasuk PAUD, diharapkan terjadi perubahan yang signifikan dalam pembelajaran di Indonesia. Pendekatan yang lebih menyenangkan, bermakna, dan inklusif diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar anak-anak, mengembangkan kreativitas dan minat mereka, serta memperkuat penguatan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan. Kelompok Bermain Aditya Karawang pembelajaran dengan kurikulum lama sebelum adanya kurikulum merdeka belajar yang digunakan yaitu kurikulum 2013. Berdasarkan dari hasil wawancara, dengan guru kelas, model pembelajaran yang diimplementasikan adalah pembelajaran berbasis sentra dan didukung dengan program inovasi. Pada pembelajaran sentra terdiri dari sentra seni dan budaya, sentra bermain peran, sentra balok, sentra persiapan dan sentra kreativitas. Kurikulum 2013 yang digunakan sudah mulai mengguanakan pembelajaran student center yang mana anak adalah pemeran utama dalam pembelajaran. Pembelajaran sudah berpusat pada anak dan anak dibiasakan agar dapat mengungkapkan apa yang ada dipikiran mereka. Salah satunya yaitu dengan meningkatkan kualitas belajar di kelas dengan tanya jawab, diskusi, melakukan kegiatan problem solving dan menumbuhkan nilai percaya diri. Tahap persiapan implementasi kurikulum mandiri belajar juga mengikuti petunjuk dari kemenristekdikti dengan mengunduh dan memasang platform merdeka mengajar. Kemudian para tenaga pendidik juga mengikuti arahan dengan mengikuti pelatihan, melihat vidio implementasi pada setiap jenjang, dan mempelajari asesmen kurikulum merdeka belajar. Implementasi Pengawasan Kurikulum Merdeka Kelompok Bermain Aditya Pengawasan dengan internal yaitu diawasi oleh pengelola satu bulan sekali. Untuk pengawasan eksternal yaitu diawasi langsung oleh pengawas atau penilik dari kecamatan setempat. Analisis SWOT dalam implementasi kurikulum merdeka kelompok bermain aditya yaitu : Kekuatan Anak akan mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berfikir kritis, dan bertindak kreatif. Didorong untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka, sehingga mereka 306 Ramadianty. Musa, & Muis. Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pengeloaan Kelompok Bermain Dengan Analisis SWOT dapat berkembang secara holistik sesuai dengan potensi yang dimiliki. Anak-anak diajak untuk belajar dengan suasana yang tenang, santai, dan bahagia tanpa adanya stres dan tekanan. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan inspiratif bagi anak-anak. Dalam suasana yang bebas dan tanpa tekanan, diharapkan anak-anak dapat lebih termotivasi, kreatif, dan aktif dalam proses pembelajaran. Ini membantu mereka mengembangkan minat mereka secara lebih mendalam, meningkatkan kepercayaan diri, dan membantu mereka menemukan passion mereka sejak usia dini. Dalam kurikulum ini, peran guru menjadi lebih sebagai fasilitator dan pendamping yang mengarahkan dan mendukung anak-anak dalam eksplorasi minat dan bakat mereka. Guru juga berperan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memfasilitasi pengembangan keterampilan dan potensi setiap Dengan demikian. Kurikulum Merdeka Belajar diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak untuk mengembangkan diri, mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta mencapai potensi penuh mereka dengan cara yang menyenangkan dan Kelemahan Terbatasnya sarana dan prasarana yaitu alat elektronik atau kuota media belajar kemampuan Rekomendasinya untuk implementasi kurikulum merdeka dikelompok bermain belum maksimal karena terbatasnya alat teknologi komunikasi. guru belum mengikuti pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis media digital. Peluang Berbeda dengan lembaga PAUD yang ada disekitar belum menngunakan kurikulum merdeka. Ancaman Adanya lembaga PAUD dengan menerapkan kurikulum merdeka namun sudah sangat optimal dalm pelaksanaannya. KESIMPULAN Hasil dari implementasi kurikulum merdeka dalam pengelolaan kelompok bermain aditya yaitu sudah berjalan dengan baik dan lancar karena adanya analisis swot tersebut. Namun terdapat hambatan-hambatan yang muncul di kelompok bermain aditya dalam penerapan kurikulum merdeka yaitu terbatasnya sarana dan prasarana salah satunya media belajar dan kemampuan Guru belum mengikuti pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis media digital yang mengurangi keoptimalan dari pelaksanaan pembelajaran menggunakan kurikulum merdeka. REKOMENDASI Implementasi kurikulum merdeka dikelompok bermain belum maksimal karena terbatasnya alat teknologi komunikasi, guru belum mengikuti pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis media digital. Maka kepada pengelola jika ingin melakukan kurikulum merdeka harus memenuhi kriteria tersebut. Volume 7. No. September 2024 pp 301-307 DAFTAR PUSTAKA