Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat ISSN 2086-6569 | eAeISSN 2776-351X Web: http://jurnal. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Terakreditasi Peringkat SINTA 4 DOI: 10. 55511/jpsttd. Penentuan Titik Lokasi Stasiun Dan Rute Jaringan Jalur Sepeda Bike-sharing dalam Mendukung Mobilitas Wisatawan di Kawasan Pantai Barat dan Timur Pangandaran Ditha Nurrizkyta1. Yopi Juansyah Abdulrahman2. Bima Willy Anto3 Program Studi Magister Transportasi. Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Institut Teknologi Bandung *Correspondence to: nurrizkytaditha@gmail. Abstract: Pangandaran one of the leading area in West Java which known famous for itAos natural beauty coastal scenary. Tourist favorite destinations in Pangandaran are West And East Coast Beach Pangandaran. They often travel to Pangandaran for holiday using private vehicles which can cause traffic congestion, especially during peak season. Therefore, bike-sharing system can make a new alternative mobility option. The most important thing in managing bike-sharing system is to plan optimal location bikesharing station and determine bicycle lane route. Data collection techniques used primary data, consist of AHP methode and road inventory survey, while secondary data used road network, land use, terminal distribution and bus stop maps. The analysis technique used is SMCA (Spatial Multicriteria Analysi. to determine the potential location of bike-sharing stations and analysis of determining bicycle lane routes by considering the technical guidelines in bicycle lane planning, road conditions from road inventory surveys, and potential location points of bike-sharing stations. The purpose of this research is to know which areas in West and East Coast Pangandaran are potential for planning bike-sharing stations and route bicycle lane. Based on the results SMCA, seven potential locations of bike-sharing stations was proposed and for bicycle lane route, eight road sections selected with the various considerations from the techinal requirements, but some of the existing road sections need to re-design with recommendations for road geometric conditions and traffic engineering so that the technical requirements meet the minimum road width for bicycle activity as mention in technical guidelines for bicycle lane planning. Keywords: Bike-sharing. SMCA. bicycle route. bike station. Pangandaran Abstrak: Kabupaten Pangandaran merupakan daerah unggulan di Provinsi Jawa Barat yang terkenal akan keindahan alam Destinasi favorit wisatawan yaitu berada di pantai barat dan timur Pangandaran. Wisatawan yang berkunjung di dominasi oleh kendaraan pribadi yang dapat menimbulkan kemacetan lalu-lintas. Oleh karena itu, sistem bike-sharing dapat menjadikan pilihan alternatif mobilitas baru. Namun yang terpenting dalam pengelolaan sistem bike-sharing adalah lokasi stasiun bike-sharing yang optimal dan penentuan rute jaringan jalur sepeda bike-sharing. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu kuesioner AHP dan survei inventarisasi jalan, sedangkan data sekunder yang digunakan yaitu peta jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta sebaran terminal, dan peta halte bus stop. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis data SMCA (Spatial Multi Criteria Analysi. untuk penentuan titik lokasi potensial stasiun bike-sharing dan analisis penentuan rute jaringan jalur sepeda dengan mempertimbangkan ketentuan pedoman teknis dalam perencanaan jalur sepeda, kondisi jalan dari survei inventarisasi jalan, dan titik lokasi potensial stasiun bike-sharing. Tujuan penelitian ini menentukan titik-titik potensial lokasi stasiun sepeda bike-sharing dan merencanakan rute jaringan jalur sepeda. Berdasarkan hasil analisis SMCA terdapat tujuh titik potensial lokasi stasiun bike-sharing dalam setiap radius 400 m di kawasan pantai barat dan timur Pangandaran. Sedangkan pada rute jaringan jalur sepeda, terdapat 8 . ruas jalan yang terpilih dengan berbagai pertimbangan di atas, namun sebagian ruas jalan yang ada perlu dilakukan perbaikan dengan rekomendasi terhadap kondisi geometrik jalan dan rekayasa lalu lintas agar memenuhi persyaratan teknis minimal lebar jalan bagi lalu lintas sepeda dan kendaraan bermotor sebagaimana pedoman teknis perencanaan jalur sepeda. Kata Kunci: Bike-sharing. SMCA. Jalur Sepeda. Stasiun Sepeda. Pangandaran Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Pendahuluan Perjalanan menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi saat ini cukup populer bagi wisatawan di seluruh dunia (Khajehshahkoohi et al. , 2. Sepeda menjadi salah satu cara bagi wisatawan dalam menjelajahi Kawasan wisata yang dikunjungi (ITDP, 2. Kemampuan atau kemauan bersepeda berada dalam kisaran 1-5 km untuk 15 menit bersepeda, tergantung pada tujuan perjalanan sepeda jarak pendek seperti bekerja/sekolah atau aktivitas rekreasi di pusat kota (Ossling, 2. Bike-sharing adalah cara transportasi baru yang beroperasi dengan menawarkan penyewaan sepeda yang tersedia untuk umum di stasiun yang tersebar di perkotaan (Bhuyan et al. ITDP, 2. Sistem Bike-sharing pertama kali diperkenalkan sebagai moda pariwisata dan rekreasi di Kawasan perkotaan (Fan & Harper, 2. Sistem ini menjadi semakin popular dan banyak terdapat di seluruh dunia yang dapat menjawab beberapa tantangan mobilitas transportasi dengan estimasi sebanyak 3. 00o system bike-sharing yang diperkirakan mencapai 10 juta operasional sepeda di seluruh dunia pada Tahun 2021 (Fan & Harper, 2024. PBSC Urban Solution, 2. Implementasi bike-sharing sukses terjadi seperti di New York dari semula sebanyak 8 juta perjalanan di tahun 2014 menjadi 10 juta perjalanan di tahun 2015, yang dipengaruhi oleh faktor peningkatan Panjang jalur dan jumlah stasiun yang tersedia (Bi et al. , 2. Faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan program tersebut yakni Lokasi stasiun sepeda yang disesuaikan dengan target potensi penggunanya (Garcya-Palomares et al. , 2. Keberlanjutan ini juga tidak lepas dari konektivitas dan aksesibilitas terhadap bike-sharing yang berfungsi dalam rangka pengembangan pariwisata dan penciptaan lapangan pekerjaan bagi penduduk (Xu & Chow, 2. Untuk mengakomodir pergerakan pengguna sepeda, perlu disediakan fasilitas lajur sepeda untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas dalam bersepeda (Maulidya, 2. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu daerah unggulan yang terkenal akan keindahan alam pesisir Pantai di selatan Provinsi Jawa Barat. Pantai barat dan Timur Pangandaran menjadi destinasi kunjungan favorit dibandingkan lokasi wisata lainnya karena lengkap dan banyaknya tempat penginapan dengan berbagai pilihan fasilitas pendukungnya. Sebagai daerah yang menjadi destinasi favorit masyarakat untuk berwisata, tentu diperlukan sistem transportasi yang memadai untuk menunjang mobilitas wisatawan. Sistem transportasi harus dirancang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, meningkatkan efisiensi energi, dan mendukung kesejahteraan sosial serta ekonomi Masyarakat (Banister, 2008. Dong et al. , 2. Teori mobilitas dalam pariwisata menekankan pentingnya aksesibilitas dan kelancaran pergerakan wisatawan dalam menikmati berbagai atraksi di destinasi wisata (Hall, 2. Faktanya, mode share wisatawan masih didominasi menggunakan kendaraan bermotor baik kendaraan roda maupun roda empat sebesar 78% (Tim Studio Magister Transportasi, 2. Kondisi ini menjadi salah penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di Pantai Barat dan timur Pangandaran terutama pada musim liburan . eak seaso. dan berdampak pada pemborosan bahan bakar yang berpengaruh pada kualitas udara lingkungan. Penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi aktif hanya sedikit digunakan oleh wisatawan mengingat keberadaan penyewaan terfokus di tepi Jalan Pamugaran Pantai Barat Pangandaran yang tidak semua mudah dijangkau dan dekat dengan tempat penginapan tersebar serta belum didukung dengan fasilitas jalur sepeda yang memadai. Mengacu pada berbagai hal di atas, penelitian ini bertujuan untuk menentukan titik-titik potensial Lokasi stasiun Bike-sharing yang tersebar di Kawasan wisata pesisir Pantai Barat dan Timur Pangandaran. Lokasi menjadi elemen penting dalam implementasi sistem bike-sharing, jika lokasinya buruk akan mengancam keberhasilan pelaksanaannya (Frade & Ribeiro, 2. Selain itu perlu didukung dengan merencanakan jaringan jalur sepeda yang terintegrasi antar titik Lokasi stasiun penyewaan agar wisatawan mudah menjangkau dan bersepeda dengan aman dan selamat, hal ini selaras dengan rencana penyediaan jalur sepeda dalam Peraturan Bupati Pangandaran . tentang Rencana Detail Tata Ruang Perkotaan Pangandaran Tahun 2022 Ae 20242. Implementasi bike-sharing di Pantai Pangandaran akan meningkatkan aksesibilitas di kawasan tersebut dan wisatawan akan lebih mudah dan cepat menjelajahi area pantai sehingga terhindar potensi terjadinya kemacetan lalu lintas. Kondisi tersebut akan menciptakan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan efisien untuk pengguna bike-sharing. Metode Penelitian ini dilakukan di kawasan pantai barat dan timur Kabupaten Pangandaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan berupa informasi pendukung yang diperoleh dari berbagai literatur, sumber internet dan instansi yang memiliki data sesuai target kebutuhan. Adapun kebutuhan data yang diperlukan berupa peta wilayah studi, peta jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta sebaran terminal dan halte bus stop. Selain itu. Pengumpulan data primer yang dibutuhkan dalam Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 penelitian ini dilakukan melalui kuesioner terhadap orang expert atau ahli yang memahami dan berwenang di bidangnya dalam hal ini Dinas Perhubungan kabupaten Pangandaran. Peneliti melakukan survei kuesioner terhadap pejabat dan staf pada periode 3 Ae 10 Maret 2024 untuk memperoleh pandangan atau pendapat untuk memperoleh variabel input yang digunakan untuk analisis lebih lanjut. Survei kuesioner yang dilakukan merupakan perangkat dari Metode Analysis Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan variabel yang penting dalam analisis penentuan titik lokasi bike-sharing. Metode AHP memiliki ketergantungan terhadap input utamanya. Input utama tersebut yaitu berupa persepsi ahli sehingga dalam hal ini melibatkan penilaian secara subyektifitas dari sang ahli. Selain itu model menjadi tidak berarti apabila ahli memberikan penilaian yang salah (Supriadi et al. , 2. Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan mengacu pada penelitian yang dilakukan (Kurniadhini & Roychansyah, 2. untuk menentukan titik lokasi stasiun sepeda dengan mempertimbangkan kedekatan terhadap integrasi transportasi, guna lahan dan permintaan . yang lebih rinci terdapat pada tabel berikut. Tabel 1. Variabel-variabel yang berkaitan dalam penentuan titik lokasi stasiun sepeda Kategori Variabel Kedekatan dengan jalur sepeda Kedekatan dengan terminal bus Transportasi Kedekatan dengan stasiun kereta api Kedekatan dengan halte bus stop Kedekatan dengan atraksi kuliner dan pertokoan Kedekatan dengan Mall Kedekatan dengan atraksi cultural Guna Lahan Kedekatan dengan perkantoran Kedekatan dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kepadatan penduduk Kedekatan dengan Universitas Permintaan Kedekatan dengan sekolah Kedekatan dengan hotel Sumber : Kurniadhini dan Roychansyah . Tidak semua variabel-variabel yang ada akan digunakan dalam metode AHP, mengingat perlu disesuaikan dengan kondisi guna lahan eksisting yang ada di Pantai Barat dan Timur Pangandaran dan tujuan penelitian yang akan dicapai sehingga hasil akhirnya diperoleh bobot variabel yang akan digunakan sebagai dasar pada tahap analisis selanjutnya. Analisis utama yang digunakan peneliti dalam penentuan titik lokasi stasiun bike-sharing adalah metode analisis data SMCA (Spatial Multi Criteria Analysi. Metode SMCA merupakan analisis multidisiplin yang menggabungkan data spasial wilayah studi dan bobot variabel terpilih dari metode AHP yang telah dilakukan Metode SMCA berperan dalam pengambilan Keputusan lokasi potensial dan meminimalkan risiko (Kurniadhini & Roychansyah, 2. Tahapan dalam menggunakan metode ini adalah setelah diketahui variabel yang digunakan berdasarkan AHP, selanjutnya melakukan analisis spasial menggunakan euclidean distance . enggambarkan hubungan setiap sel dengan variabel berdasarkan jarak garis lurus berupa data raste. dengan jarak 400 meter dari setiap variabel karena 400 m adalah jarak ideal seseorang untuk berjalan kaki dengan menggunakan perangkat bantuan ArcGIS. Kemudian melakukan analisis Weight Sum yaitu hasil dari setiap variabel yang sudah dilakukan euclidean distance akan dikalikan dengan bobot AHP sehingga menghasilkan wilayah titik-titik potensial diletakannya stasiun bike-sharing. Dalam mendukung bike-sharing, perlu didukung dengan fasilitas jalur sepeda bagi penggunaannya. Perencanaan Jaringan jalur sepeda perlu dianalisis dengan mempertimbangkan Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR . nomor 05/SE/Db/2021 tentang Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda, kondisi jalan yang ada, serta titik lokasi stasiun dari hasil analisis yang dilakukan sebelumnya. Secara keseluruhan, langkah-langkah atau tahapan dalam proses penelitian yang dilakukan secara visual direpresentasikan melalui bagan alir sebagaimana berikut. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Gambar 1. Bagan Alir Penelitian Hasil dan Pembahasan Penentuan Titik Lokasi Stasiun Bike-Sharing Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terpilih sebanyak 5 . variabel dengan pertimbangan yang telah dijabarkan sebelumnya pada bagian metode. Pada kategori transportasi, terpilih 2 dari 4 variabel yakni kedekatan stasiun bike-sharing dengan terminal bus dan halte bus, karena tidak terdapat jalur sepeda dan stasiun kereta api. Untuk kategori guna lahan terpilih variabel kedekatan stasiun dengan kuliner dan pertokoan serta ruang terbuka hijau (RTH) dari 5 . variabel keseluruhan. Sedangkan pada kategori permintaan terpilih variabel kedekatan dengan hotel karena memang wilayah sudi ini berada di kawasan wisata, mengingat target penggunaan bike-sharing akan ditujukan kepada wisatawan yang sedang berlibur. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kawasan Pantai Barat dan Timur Pangandaran yang mencakup Kelurahan Wonoharjo. Kelurahan Pangandaran, dan Kelurahan Pananjung dengan peta persebaran setiap variabel yang digunakan pada wilayah studi dapat dilihat sebagaimana Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Gambar 2. Peta Persebaran Variabel terpilih dalam AHP Variabel yang terpilih tersebut digunakan dalam kuesioner untuk menentukan bobot dalam metode AHP dengan responden pejabat dan staf Dinas Perhubungan Kabupaten Pangandaran yang berkompeten di bidangnya untuk memberikan penilaian. Terkumpul sebanyak sembilan orang yang memberikan feedback dengan hasil sebagai Tabel 2. Pembobotan Variabel AHP Kategori Permintaan Guna Lahan Transportasi Variabel Bobot Persentase Kedekatan Stasiun bike-sharing dengan hotel Kedekatan Stasiun bike-sharing dengan kuliner dan pertokoan Kedekatan Stasiun bike-sharing dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kedekatan Stasiun bike-sharing dengan Terminal Bus Kedekatan Stasiun bike-sharing dengan Halte Bus Total Berdasarkan hasil pembobotan melalui metode AHP, diperoleh bahwa variabel kedekatan stasiun bike-sharing dengan hotel menjadi bobot tertinggi dalam penentuan titik lokasi stasiun karena wilayah studi merupakan kawasan wisata, maka target penggunanya adalah wisatawan. Stasiun bike-sharing yang dekat dengan penginapan/hotel Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 diharapkan juga menarik minat wisatawan untuk menggunakan sepeda sebagai sarana mobilitas. Variabel kedekatan terminal bus dan halte bus memperoleh bobot terkecil karena hanya terdapat satu terminal angkutan umum yakni Terminal Pangandaran berstatus Tipe B yang mengakomodir pergerakan eksternal Ae internal antar kota, sedangkan sepeda berfungsi sebagai sarana mobilitas aktif jarak dekat untuk mengeksplorasi daerah wisata pada konteks kawasan wisata Pangandaran. Langkah selanjutnya setelah mendapatkan nilai bobot 5 variabel terpilih, dilakukan analisis spasial dengan bantuan software ArcGIS menggunakan tools Euclidean Distance. fitur ini berfungsi untuk mengetahui jarak dari sumber variabel terhadap luas kawasan perencana. Jarak yang dipilih adalah 400 meter dari setiap titik variabel yang berada di Kawasan Pantai Barat-Timur Pangandaran. 400 meter merupakan jarak ideal kemampuan orang untuk berjalan Hasil yang didapatkan yaitu berupa jarak dari setiap sel dengan variabel terdekat dalam bentuk akhir adalah data raster. Hasil euclidean distance setiap variabel ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Euclidean Distance terhadap lima Variabel Penentuan Titik Lokasi Stasiun Bike-Sharing Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Dapat dilihat pada Gambar 3 zona berwarna hijau menunjukan lokasi tersebut jauh dari variabel yang diuji dalam analisis euclidean distance sehingga kemungkinan besar lokasi tersebut tidak cocok diletakan stasiun bike-sharing. Sedangkan lokasi yang berada di zona dengan warna merah pekat menandakan tempat tersebut kemungkinan besar nantinya akan berpotensial untuk diletakkan stasiun bike-sharing. Tetapi hasil dari euclidean distance tidak dapat langsung digunakan dalam menentukan titik potensial stasiun dikarenakan belum terdapatnya nilai bobot setiap variabel dan belum dilakukannya teknik overlay antara keseluruhan variabel. Hasil dari euclidean distance kemudian akan dilanjutkan sebagai input proses pengerjaan SMCA. SMCA akan mengkalikan nilai data raster . dengan bobot 5 variabel yang sudah didapatkan dari AHP. Sebagai contoh bobot variabel kedekatan hotel . dikalikan dengan nilai piksel hasil Euclidean distance variabel kedekatan dengan hotel, begitupun dilakukan terhadap 4 variabel lainnya dengan bantuan tools weighted sum. Tools weighted sum berfungsi untuk meng-overlay data raster 5 variabel dan mengkalikannya dengan bobot . asil AHP). Sehingga Gambar 4 menghasilkan peta wilayah potensial titik stasiun bike-sharing beserta dengan titik rencana penempatan stasiun bike-sharing. Zona dengan warna merah pekat menunjukan bahwa lokasi tersebut sangat potensial untuk diletakannya stasiun bike-sharing sedangkan semakin berwarna terang . menandakan sebaliknya. Oleh karena itu rencananya akan diletakan 7 titik stasiun bike-sharing di Kawasan Pantai Barat-Timur Pangandaran. Gambar 4. Hasil SMCA dan Rencana Titik Lokasi Stasiun Bike-Sharing Berdasarkan metode SMCA, titik lokasi stasiun bike-sharing sangat potensial diletakan di bagian utara (Titik . , pada Jalan Merdeka. Pada kondisi eksistingnya 5 variabel penentu titik lokasi stasiun sepeda sudah tersedia di sekitar Jalan Merdeka walaupun tidak terlalu di dominasi oleh guna lahan hotel sebagai pemegang nilai bobot tertinggi, tetapi hanya Jalan Merdeka yang memiliki prasarana transportasi berupa terminal, hal ini dapat dilihat pada Gambar 2. Sedangkan semakin ke arah ujung bagian barat tidak cocok untuk diletakan stasiun bike-sharing dikarenakan minimnya persebaran hotel, pertokoan dan kuliner. RTH, terminal, serta halte bus stop. Selain berdasarkan metode SMCA, dalam menentukan titik lokasi stasiun juga didasarkan pada radius pelayanan. Radius pelayanan setiap stasiun sepeda berdasarkan ITDP adalah 500 meter dengan harapan untuk meminimalkan penumpukan jumlah stasiun di wilayah/lokasi tertentu dan juga agar cakupan stasiun sepeda dapat menjangkau seluruh Kawasan Wisata Pantai Barat-Timur Pangandaran. Dengan demikian. Lokasi rencana stasiun bike-sharing akan diletakan di 7 ruas jalan dengan rincian sebagai berikut: Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Titik Stasiun 1 Ae Jalan Merdeka Titik Stasiun 2 Ae Jalan Pamugaran Bulak Laut Titik Stasiun 3 Ae Jalan Pamugaran Bulak Laut Titik Stasiun 4 Ae Jalan Pamugaran Bulak Laut Titik Stasiun 5 Ae Jalan Pantai Timur Titik Stasiun 6 Ae Jalan Pantai Timur Titik Stasiun 7 Ae Jalan Kidang Pananjung Penentuan Jaringan Jalur Sepeda Jalur sepeda di Kabupaten Pangandaran sampai saat ini belum tersedia, tetapi dalam perencanaannya Pemerintah sudah memasukkan hal tersebut dalam regulasi Rencana Detail Tata Ruang wilayahnya. Bike-sharing jalur sepeda yang akan direncanakan pada penelitian ini termasuk dalam prioritas perencanaan pada Sub Wilayah Perkotaan (SWP) A dan B. Menurut (Rupprecht et al. , 2. , dalam perencanaan rute sepeda terdapat dua aspek sesuai dengan peruntukannya yakni sebagai utilitas untuk mobilitas harian dan rekreasional untuk mobilitas hiburan/wisata dalam bersepeda. Bike-sharing yang direncanakan di Pangandaran ditargetkan kepada wisatawan, rute jalur sepeda perlu mempertimbangkan atraktivitas pada jalurnya karena fungsi dan tujuan bike- sharing adalah sebagai sarana rekreasi, maka rute perlu melintasi kawasan-kawasan yang menarik minat wisatawan. Selain itu, dalam analisis perencanaan rute jalur sepeda memperhatikan rencana lokasi stasiun sepeda agar saling terkoneksi dan masih termasuk jangkauan radius stasiun sejauh 400 m. Kedua hal tersebut tercakup dalam analisis pemilihan lokasi stasiun lokasi bike-sharing sebelumnya. Maka usulan ruas jalan yang terpilih ke dalam rute jalur sepeda adalah sebagai berikut. Tabel 3. Ruas Jalan yang terpilih rute Lebar total Nama Ruas Tipe Jalan per arah Fungsi Jalan Kelas Jalan Jalan Raya Pangandaran 4/2 D Kolektor Primer Jalan Raya Jalan Merdeka 2/1 UD Kolektor Primer Jalan Raya Jalan Kidang Pananjung 2/2 UD Kolektor Primer Jalan Sedang Jalan Pantai Timur 2/2 UD Lokal Primer Jalan Raya Jalan Pamugaran Ae Bulak Laut 2/2 UD Kolektor Primer Jalan Raya Jalan Prapat 2/1 UD Kolektor Primer Jalan Sedang Jalan Pengadilan Lama 2/2 UD Kolektor Primer Jalan Sedang Jalan Cijulang 2/1 UD Kolektor Primer Jalan Sedang Keterangan : 4/2 D : jalan 4 lajur dua arah terbagi median 2/2 UD : jalan 2 lajur dua arah tanpa median Selain pemilihan ruas jalan yang akan dijadikan rute, pertimbangan selanjutnya adalah menentukan tipe jalur yang tepat untuk disediakan berdasarkan kondisi eksisting jalan yang ada, hal ini diatur lebar dan tipe lajur disesuaikan menurut fungsi jalan dan lebar minimal jalan yang dipersyaratkan sebagaimana tabel berikut ini. Tabel 4. Tipe lajur berdasarkan fungsi jalan Fungsi Jalan Jalan Raya Jalan Sedang Arteri Primer Kolektor Primer Lokal Primer Lingkungan Primer Arteri Sekunder A/B A/B Kolektor Sekunder A/B/C A/B/C Lokal Sekunder B/C B/C Lingkungan Sekunder B/C B/C Keterangan : = Jalur terproteksi . adan jalan atau di luar badan jala. Jalan Kecil A/B B/C B/C B/C Kecepatan Rencana 30 km/jam 20 km/jam Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 = lajur sepeda di trotoar = lajur sepeda di badan jalan Sumber : Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Marga nomor 05/SE/Db/2021 tentang Pedoman Perancangan Fasilitas Pesepeda Adapun penempatan lajur sepeda yang terletak di sisi kiri badan jalan tidak boleh mengurangi lebar jalur minimal yang dipersyaratkan bagi lalu lintas kendaraan bermotor dengan lebar minimal sebesar 3,5 meter untuk jalan raya dan jalan sedang dan 2,75 meter untuk jalan kecil. Sehingga, syarat lebar jalan yang dapat ditetapkan untuk disediakan lajur sepeda minimal 4,2 meter. Usulan rute jalan yang telah dipilih sesuai konektivitas antar stasiun bike-sharing, kemudian dibandingkan antara kondisi lebar jalan dengan kesesuaian syarat minimal lebar jalan berdasarkan tipe lajur sepeda. Hasilnya terdapat 4 ruas jalan yang memenuhi ketentuan pedoman teknis lajur sepeda tipe A, yakni Jalan Raya Pangandaran. Jalan Merdeka. Jalan Prapat dan jalan Cijulang. Sedangkan 4 ruas jalan lainnya tidak memenuhi syarat minimal lebar jalan baik untuk tipe lajur tipe A dan tipe C sebagaimana gambar 5. Gambar 5. Peta Rencana Rute jalur Sepeda Ketidaksesuaian jalur sepeda tersebut dapat dilakukan agar memenuhi ketentuan minimal yang dipersyaratkan berdasarkan tipe jalan. Berdasarkan pengamatan di lapangan . ihat gambar 6. ), ruas jalan tersebut masih dapat diberikan perbaikan agar sesuai ketentuan dengan rekomendasi sebagai berikut : Melebarkan ruas jalan yang ada saat ini agar memenuhi batas minimal yang dipersyaratkan, hal tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan karena tersedia cukup ruang di tepi badan jalan. Pemasangan lajur sepeda ditempatkan pada satu sisi ruas jalan, agar tetap mengakomodir lalu lintas kendaraan bermotor kedua arah. Bila tidak memenuhi persyaratan, dapat melakukan pengurangan jumlah lajur yang semula dua menjadi satu lajur agar dapat memenuhi lebar minimal ruang gerak lalu lintas bagi kendaraan bermotor dan lajur sepeda. Dalam melakukan hal tersebut perlu dilakukan rekayasa lalu lintas pada jalan tersebut dengan mengubah tipe jalan dua arah menjadi satu arah. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Jalan Pamugaran Bulak Laut Jalan Pantai Timur Jalan Kidang Pananjung Jalan Pengadilan Lama Gambar 6. Ruas Jalan perlu dilakukan perbaikan Dengan dilakukan perbaikan geometri lebar jalan dan manajemen lalu lintas, ketentuan dalam penyediaan lajur sepeda dapat terpenuhi sehingga jaringan jalur sepeda terbentuk sebagai bagian dalam pelaksanaan bike-sharing di kawasan wisata Pantai Barat dan Timur Kabupaten Pangandaran. Kesimpulan Dalam penelitian yang dilakukan terdapat 7 . titik stasiun bike-sharing yang ditempatkan tersebar di ruas jalan kawasan pantai barat dan timur Pangandaran berdasarkan hasil analisis SMCA dengan radius layanan stasiun sepeda sejauh 500 meter, pertimbangan bahwa lokasi stasiun dapat menjangkau seluruh kawasan wisata dan tidak terdapat lokasi yang menumpuk atau terpusat pada satu area tertentu. Adapun lokasi tersebut dekat dengan kawasan hotel, pertokoan dan kuliner. RTH, halte bus stop dan terminal bus yang merupakan variabel-variabel dalam pembobotan AHP terkait pemilihan lokasi. Selain itu, perencanaan jaringan rute jalur sepeda yang mempertimbangkan fungsi sebagai sarana rekreasi wisatawan, konektivitas antar stasiun bike-sharing dan pedoman teknis jalur sepeda diusulkan sebanyak 8 . ruas jalan. Sebagian ruas jalan dimaksud belum memenuhi persyaratan teknis lebar minimal yang ditentukan baik untuk tipe lajur tipe A dan tipe C, yakni Jalan Kidang Pananjung. Jalan Pantai Timur. Jalan Pamugaran Bulak Laut, dan Jalan Pengadilan Lama. Adapun rekomendasi yang diberikan agar memenuhi ketentuan dengan melakukan pelebaran ruas jalan, pemasangan lajur sepeda pada satu sisi dan pengurangan lajur kendaraan dengan melakukan perubahan rekayasa lalu lintas satu arah. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan dan staf Dinas Perhubungan Kabupaten Pangandaran yang telah berkenan dalam memberikan respon dalam penelitian ini. Serta rekan-rekan Tim Studio ITB 2024 dan Pihak Bappenas yang membantu dan mendukung dalam proses penyusunan artikel ini Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Volume 15 Issue 2 Year 2024 Pages 01-11 Daftar Pustaka