JSI (Jurnal Sistem Informas. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma p-ISSN: 2355-9675 e-ISSN: 2541-3228 Penerapan Metode Multiple Criteria Decision Analysis pada Analisis Keamanan Siber Siswa-siswi SMK Al-Mujahirin Yulisa Gardenia1,*. Fitria Risyda2. Muryan Awaludin3 1,2,Department of Informatics Management. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Indonesia 3Department of Information Systems. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Indonesia yulisagardenia@gmail. com, frisdya@gmail. com, muryanawaludin@gmail. Article Info Article history: Received November 15, 2024 Accepted Desember 16, 2024 Published January 2, 2025 Kata Kunci: Keamanan siber Kejahatan siber Multi Criteria Decison Analysis ABSTRAK . PT) Penelitian ini bertujuan adalah untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kesadaran akan keamanan siber yang dimiliki siswa-siswi SMK Al-Mujahirin. Metode analisis sekaligus metode perhitungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multi kriteria atau Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi Gform. Analisis tingkat kesadaran keamanan siber siswa-siswi diukur berdasarkan dimensi knowledge . , attitude . , dan behaviour . Area yang digunakan dalam konsep pengukuran adalah regulation, internet, password, data security, dan cyberattack. Karakteristik responden adalah representasi dari keberadaan responden yang terlibat, yaitu siswa-siswi SMK Al-Mujahirin. Berdasarkan kuesioner yang sudah disebar, diketahui bahwa reponden dari kelas TKJ (Teknik Komputer Jaringa. sebanyak 64 orang dengan presentase 53,3%, kelas Multimedia sebanyak 36 dengan presentase 30%, dan kelas DKV (Desain Komunikasi Visua. sebanyak 20 dengan presentase 16,6%. Kesadaran keamanan informasi siswa-siswi SMK Al-Mujahirin Depok sudah berada pada level "sedang" dan hampir baik dengan nilai keseluruhan 69,3%. Oleh karena itu, hanya perlu mempertahankan yang sudah baik dan meningkatkan yang masih berada pada level sedang. Untuk memastikan bahwa proses ke arah itu dapat dilakukan, diperlukan pengawasan yang berkelanjutan. Selain itu, semua pihak harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran terhadap keamanan data. Dari tiga dimensi, hanya dimensi tingkah laku yang menghasilkan hasil yang "buruk". Demikian pula, dari lima area pengukuran, hanya tiga area yang menghasilkan hasil yang "buruk". Sebagai contoh, "selalu taat pada aturan", "berhati-hati menggunakan perangkat seluler", dan "menyadari konsekuensi setiap tindakan" adalah bagian-bagian yang termasuk dalam kategori ini. Corresponding Author: Yulisa Gardenia. Department of Informatics Management. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Email: *yulisagardenia@gmail. PENDAHULUAN Revolusi Industri 4. 0 dan Society 5. 0 yang sedang terjadi, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan jumlah pengguna Internet. Kemajuan teknologi yang diperkenalkan pada era ini ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) telah mendorong perkembangan teknologi di seluruh aspek masyarakat, termasuk pendidikan. Pengajaran dan pembelajaran online telah memperoleh manfaat besar dari kemajuan teknologi Internet Namun, tidak semua orang menyadari dampak negatif yang terkait dengan peningkatan penggunaan Internet (Gardenia & Gani, 2. Salah satu dampak negatif yang terjadi karena adanya peningkatan jumlah penguna internet adalah peningkatan kejahatan siber . Hasil survei penetrasi internet Indonesia 2024 yang dirilis APJII menunjukkan peningkatan 1,4% dibandingkan periode sebelumnya. Sejak 2018, penetrasi internet Indonesia mencapai 64,8%, kemudian naik 73,7% pada 2020, 77,01% pada 2022, dan 78,19% pada 2023 (APJII, 2. Seiring berkembangnya dunia digital, istilah cybercrime menjadi lebih umum akhir-akhir ini. Cybercrime atau kejahatan di dunia maya sendiri merupakan salah satu akibat negatif dari penggunaan media internet sebagai platform yang saat ini banyak digunakan oleh individu-individu di Masyarakat (Widya Ramailis, 2. Cybercrime ialah kejahatan yang dilakukan melalui media digital dan contoh dari tindakan cybercrime tersebut adalah pembobolan beberapa data penting pada korban, hacker medsos, pengambilan dengan lembut saldo rekening korban, dan lain sebagainya (Saputra, 2. Kejahatan ini tidak hanya menyerang individu, tetapi juga perusahaan dan pemerintahan, menyebabkan ancaman keamanan informasi dan kerugian finansial besar. Serangan ransomware, phishing, dan penyebaran malware adalah contoh jenis cybercrime yang berusaha menggunakan kerentanan manusia atau sistem keamanan untuk mencuri kata sandi, data, atau uang secara langsung. (Agency, n. Teknologi Global IBM menekankan masalah pelanggaran sebagai salah satu masalah terpenting yang harus ditangani melalui langkah-langkah keamanan dan protokol praktik terbaik yang direkomendasikan (Awaludin, 2. Sebenarnya, telah ada penekanan yang meningkat baru-baru ini pada peran perilaku pribadi dalam pengurangan risiko siber. Meskipun demikian, pemahaman tentang bagaimana orang-orang berbeda dalam kesadaran, pemahaman, dan praktik keamanan siber mereka saat menghadapi berbagai ancaman siber masih agak terbatas. Selain itu, sejauh yang kami ketahui, belum ada studi yang belum membandingkan dan menilai ketiga elemen ini di seluruh negara (Zwilling et al. Kurangnya kesadaran akan bahaya penggunaan internet dan interaksi yang dilakukan dengan media sosial yang dilakukan secara online, menyebabkan hilangnya bahkan penggunaan data pribadi yang disalahgunakan oleh individu yang tidak berwenang. Semua usia yang merupakan penguna internet dapat terkena dampak dari kejahatan dunia maya, karena kurangnya pemahaman mengenai keamanan Para siswa sekolah menengah kejuruan juga dapat terkena imbas akibat kurangnya pemahaman mengenai keamanan siber dan kejahatan siber (Firdaus. Muksin, & Awaludin, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Irwan Cholid Husain mengenai kesadaran keamanan informasi yang dimiliki oleh siswa SMA XYZ kelas XII, disimpulkan bahwa tingkat kesadaran keamanan informasi yang dimiliki oleh siswa adalah baik. Lima indikator yang digunakan dalam mengukur tingkat kesadaran baik karena memiliki rata-rata nilai diatas 80%, namun dari lima indikator terdapat dua indikator yang diketahui memiliki tingkat kesadaran keamanan informasi yang buruk (Prasetya. , & Safriadi. Penelitian dikalangan siswa-siswi sekolah mengenai keamanan data juga pernah dilakukan oleh Abrar Farizi, dkk, hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah perlunya terus meningkatkan literasi digital pada kalangan siswa, walaupun Sebagian besar siswa-siswi sudah menunjukkan hasil yang baik dalam bermedia sosial tetapi penciptaan lingkungan digital yang aman dan bertanggung jawab bagi siswa akan terus didukung dengan dukungan terkoordinasi sekolah guru dan orang tua (Mahendra. Hatta, & Aristyagama, 2. Peneliti sebelumnya sudah pernah melakukan penelitian mengenai pengukuran kesadaran cybersecurity menggunakan metode AHP dan metode SEM dengan objek yang digunakan adalah mahasiswa Teknik penerbangan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma pada tahun 2023. Hasil dari penelitian adalah seluruh mahasiswa mempunyai kesadaran akan cybersecurity dan cybercrime. Penelitian ini dilakukan berdasarkan penelitian terdahulu yang sudah dilakukan oleh peneliti. Perbedaannya ada pada objek penelitian yaitu siswa-siswi sekolah menengah kejuruan Al-Mujahirin Depok, level penilaian dan metode perhitungan yang digunakan. SEM Amos menjadi metode perhitungan pada penelitian sebelumnya, sedangkan metode AHP yang digunakan untuk menentukan dimensi dan menggambarkan hierarki dari tingkat kesadaran akan keamanan siber. Skala likert dengan level Sangat setuju berbobot 5, setuju berbobot 4, cukup setuju bobotnya 3, tidak setuju 2 dan sangat ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) tidak setuju 1 merupakan level penilaian yang digunakan untuk perhitungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kesadaran akan keamanan siber yang dimiliki siswa-siswi SMK Al-Mujahirin. METODE Studi Literatur Pada tahap ini studi literature Pada tahap ini, penelitian literatur dilakukan dari berbagai sumber, termasuk jurnal nasional, jurnal internasional, e-book, prosiding, dan website. Hasilnya akan berupa teori atau konsep tentang model atau teknik pengukuran keamanan informasi dan keamanan privasi. Tabel 1 Penelitian Terdahulu Sumber (Haikal Arief. Arifa Fitri, & Malays Sari. Metode Penelitian Analisis statistik Pembahasan Metode yang digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, menganalisis distribusi frekuensi dan presentase jawaban responden, serta mengidentifikasi pola dan tren dalam data. (Gardenia & Gani, 2. Metode AHP dan SEM Amos Metode AHP digunakan untuk menentukan hierarki dimensi dan focus area. SEM Amos digunakan untuk menghitung hasil kuesioner. (Mahendra et , 2. Analisis statistik Penelitian ini menggunakan skala Guttmann untuk menghitung hasil kuesioner dan analisis penelitian menggunakan statistik deskriptif. (Kusumaningrum. Multi Criteria Wijayanto, & Decision Analysis Raharja, 2. dan Analytical Hierarcy Process Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode AHP, dimana metode ini menjadi salah satu metode dari multi criteria decision. Metode yang digunakan dalam penelitian dipilih berdasarkan tujuan dari penelitian dan hasil akhir yang diharapkan oleh peneliti. Beberapa metode yang digunakan oleh peneliti terdahulu untuk melakukan penelitian adalah analisis statistik deskriptif dan multi criteria decision analysis, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Analisis statistik deskriptif memiliki kelebihan mudah dipahami dan diterapkan oleh peneliti, kekurangannya tidak bisa memberikan informasi tentang hubungan antara variable. Metode multi criteria decision analysis memiliki banyak kelebihan salah satunya memiliki banyak alternatif metode yang bisa digunakan dan kekurangannya adalah jika kriteria yang diukur banyak, maka tingkat analysis akan semakin lama. Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survei online (Haikal Arief et , 2. Survei online digunakan dalam pengumpulan data yang hasilnya akan dihitung menggunakan metode multi criteria decision analysis. Kuesioner yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi Gform. Analisis tingkat kesadaran keamanan siber siswa-siswi diukur berdasarkan dimensi knowledge . , attitude . , dan behaviour . Area yang digunakan dalam konsep pengukuran adalah regulation, internet, password, data security, dan cyberattack. ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) Metode Multi Criteria Decision Analysis Salah satu elemen proses manajemen risiko yang termasuk dalam SNI ISO 31000 adalah penilaian Elemen ini terdiri dari tiga rangkaian aktivitas: identifikasi risiko, analisis risiko, dan penilaian Ketiga aktivitas tersebut dilakukan sebagai dasar untuk menilai seberapa penting suatu risiko bagi suatu organisasi/lembaga dan mengambil tindakan risiko. Teknik penilaian risiko dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat, termasuk analisis keputusan multi-kriteria atau Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA) (Antonius, 2. Menurut Mahdi. Teknik penilaian ini sangat sesuai untuk semua aktivitas penilaian risiko, terutama dalam mengevaluasi dampak dan tingkat risiko pada proses analisis risiko. Proses analisis keputusan multikriteria dapat dilakukan melalui lima tahap, yaitu menetapkan tujuan, menetapkan kriteria, melakukan pembobotan kriteria, menyusun penilaian, dan menyusun rekomendasi keputusan. Metode Analisis Keputusan Berbasis Beberapa Kriteria (MCDA) umumnya digunakan untuk membuat keputusan mengenai berbagai alternatif yang memiliki banyak Metode Analisis Keputusan Berdasarkan Kriteria Ganda digunakan untuk menilai nilai keseluruhan alternatif berdasarkan kriteria tertentu. Pendekatan MCDA dibagi menjadi tiga kategori (Kusumaningrum et al. , 2. Pengukuran menggunakan metode multi criteria decision analysis ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut: ycu ycO. = yuycn=1 ycycn . ycycn A . Keterangan : - V. adalah nilai seluruh alternative nilai seluruh alternative a, - ycycn . adalah nilai skor yang mewakili performansi alternative a, - ycycn adalah bobot yang diberikan untuk menggambarkan tingkat kepentingan kriteria i. Sumber: (Gardenia dan Alcianno, 2. Gambar 1 Kerangka Penelitian Keamanan Siber Untuk menguji knowledge . , attitude . dan behaviour . responden berkaitan dengan enam area kesadaran keamanan siber disusunlah pentanyaan sebanyak 15 . ima bela. buah, atau masing-masing area memiliki 3 . Setiap pertanyaan diberikan jawaban dengan 3 skala yaitu, benar, salah, dan tidak tahu. Pertanyaan ini digunakan untuk menghitung nilai ycycn. (Kusumaningrum et al. , 2. Tabel 1 (Gardenia & Gani, 2. merupakan contoh dari pertanyaan focus area kesadaran tentang keamanan siber. ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) Tabel 2 Pertanyaan dari Dimensi Tingkat Kesadaran Keamanan Siber Knowledge Attitude Pengetahuan akan Regulasi Selalu berhati-hati Behaviour memposting sesuatu Mengetahui keamanan data Menggunakan Tidak pernah menyebarkan berita bohong laptop dan gawai Selalu waspada jika ada yang mengirimkan data di sosial Mengetahui tentang kata sandi yang Menggunakan kata sandi yang Tidak pernah membagi kata aman di setiap aplikasi yang sandi dengan orang lain Mengetahui akan bahaya internet Mengetahui tentang kejahatan siber Menggunakan banyak aplikasi Mengunggah aplikasi yang di laptop dan di gawai Menyimpan data pribadi secara Tidak pernah meretas sosial media atau email orang lain Sumber: (Gardenia dan Alcianno, 2. Perhitungan perkalian dengan bobot ycycn dilakukan setelah mendapatkan nilai ycycn . Metode analitycal hierarchy process (AHP) digunakan untuk menentukan bobot ycycn , dimana metode AHP menjadi salah satu metode dari Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA). Skala yang digunakan mengikuti penelitian Krugger dan Kerney dan dapat dilihat pada tabel 2 (Kruger & Kearney, 2. Tabel 3 Bobot Tiap Dimensi Dimensi Pengetahuan Sikap Kebiasaan Bobot Sebelum menetapkan tingkat kesadaran keamanan informasi sebagai hasil akhir, proses penghitungan total skor untuk setiap dimensi per area yang telah disebutkan sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4 Perhitungan Total Nilai Dimensi Pengetahuan Sikap Kebiasaan Total Nilai A11 A12 A13 yuycn=1 ya1ycn/3 A21 A22 A23 yuycn=1 ya2ycn/3 Area A31 A32 A33 yuycn=1 ya3ycn/3 Total Nilai A41 A42 A43 yuycn=1 ya4ycn/3 A51 A52 A53 ycu yuycn=1 ya5ycn/3 ycu yuycn=1 ya1ycn/5 ycu yuycn=1 ya2ycn/5 ycu yuycn=1 ya3ycn/5 Tabel 4 merupakan presentase mengenai level tingkat kesadaran keamanan siber yang telah ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) ditetapkan yaitu baik, sedang dan buruk. Tabel 5 Tingkat Kesadaran Keamanan Siber (Kusumaningrum et al. , 2. Hasil Pengukuran . alam perse. 80 Ae 100 60 Ae 79 0 Ae 59 Level Baik Sedang Buruk HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden adalah representasi dari keberadaan responden yang terlibat, yaitu siswa-siswi SMK Al-Mujahirin. Berdasarkan kuesioner yang sudah disebar, diketahui bahwa reponden dari kelas TKJ (Teknik Komputer Jaringa. sebanyak 64 orang dengan presentase 53,3%, kelas Multimedia sebanyak 36 dengan presentase 30%, dan kelas DKV (Desain Komunikasi Visua. sebanyak 20 dengan presentase 16,6%. Tabel 6 Hasil Perhitungan Responden berdasarkan Jurusan Jurusan TKJ DKV Total Jumlah Presentase % 53,3 % 16,6 % Hasil perhitungan responden jurusan Teknik Komputer Jaringan sebesar 53,3% menunjukkan bahwa sebagian besar responden berasal dari jurusan TKJ. Perhitungan pembobotan yang dilakukan untuk fokus area yang sudah ditentukan menggunakan AHP dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 7 Hasil Pembobotan Dimensi Regulasi Internet Password Data Security Cyber Attack yeoyeO Dari tabel 6 diketahui bahwa focus area password . ata sand. memiliki bobot nilai yang paling Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswi SMK Al-Mujahirin mengetahui cara menjaga keamanan data pribadi dan mereka mengetahui cara pembuatan password yang kuat seperti apa. Setelah mengetahui hasil pembobotan, selanjutnya pada tabel 7 adalah hasil perhitungan tingkat kesadaran keamanan siber untuk tiap dimensi dan focus area. ISSN: 2355-9675 (PRINT), 2541-3228 (ON LINE) Tabel 8 Hasil Perhitungan Tingkat Kesadaran Keamanan Siber Dimensi Pengetahuan Sikap Kebiasaan Total Nilai Area Total Nilai Hasil perhitungan tingkat kesadaran keamanan siber untuk semua dimensi dari semua fokus area yang ada yaitu 69,3%. Berdasarkan tabel 4 yang merupakan level kesadaran keamanan informasi menunjukkan bahwa hasil tersebut masuk dalam level sedang . endekati bai. Pada level ini siswasiswi sekolah menengah kejuruan harus meningkatkan kesadaran akan keamanan data. Hasil pengukuran pada pengetahuan sebesar 77,6% dan sikap 77,2% menunjukkan bahwa dimensi pengetahuan dan sikap memiliki level baik, tetapi dimensi kebiasaan sebesar 69,3% yang artinya siswasiswi harus mengubah kebiasaan dan bebenah diri agar dapat memiliki kebiasan yang baik dalam menggunakan internet. KESIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 7, kesadaran keamanan informasi siswa-siswi SMK AlMujahirin Depok sudah berada pada level "sedang" dan hampir baik dengan nilai keseluruhan 69,3%. Oleh karena itu, hanya perlu mempertahankan yang sudah baik dan meningkatkan yang masih berada pada level sedang. Untuk memastikan bahwa proses ke arah itu dapat dilakukan, diperlukan pengawasan yang berkelanjutan. Selain itu, semua pihak harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran terhadap keamanan data. Dari tiga dimensi, hanya dimensi tingkah laku yang menghasilkan hasil yang "buruk". Demikian pula, dari lima fokus area pengukuran, hanya tiga area yang menghasilkan hasil yang "buruk". Sebagai contoh, "Selalu taat pada aturan perusahaan", "Berhati-hati menggunakan perangkat seluler", dan "Menyadari konsekuensi setiap tindakan" adalah bagian-bagian yang termasuk dalam kategori ini. DAFTAR PUSTAKA