Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 SOSFILKOM KOMUNIKASI LINTAS AGAMA (Analisis Framing pada Pemberitaan Media tentang Isu-Isu Keagamaan dan Impilkasinya bagi Kerukunan Umat Beragama dalam Podcast Login Season 2 Enam Pemuka Agama Jadi Satu di Lebara. Muhamad Hanif Fuadi . Lisna Novita . Institut Nahdlatul Ulama Tasikmalaya. Universitas Muhammadiyah Cirebon fuadi9070@gmail. , lisna. novita@umc. Abstrak Artikel ini menganalisis framing pemberitaan media tentang isu-isu keagamaan menggunakan teori framing Robert Entman dalam konteks podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana media membingkai pemberitaan terkait isu-isu keagamaan dan dampaknya terhadap pemahaman publik. Selain itu, artikel ini mengevaluasi strategi komunikasi media dalam menjaga keseimbangan dan meminimalisir potensi konflik antar-agama serta merumuskan rekomendasi bagi media dalam mempromosikan toleransi dan kerukunan umat beragama. Kata kunci: Komunikasi lintas agama, framing, media, toleransi, kerukunan umat beragama. Robert Entman Abstract This article analyzes the framing of media reports on religious issues using Robert Entman's framing theory in the context of the podcast AuLogin Season 2: Six Religious Leaders Become One in EidAy. This study evaluates how the media frames news related to religious issues and its impact on public understanding. In addition, this article evaluates media communication strategies in maintaining balance and minimizing potential inter-religious conflicts and formulates recommendations for the media in promoting tolerance and religious harmony. Keywords: Interfaith communication, framing, media, tolerance, religious harmony. Robert Entman INTRODUCTION/PENDAHULUAN Komunikasi lintas agama menjadi semakin penting dalam masyarakat yang semakin Media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang isu-isu keagamaan. Podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy adalah contoh bagaimana media dapat mempromosikan dialog antar-agama. Komunikasi lintas agama menjadi kajian yang semakin penting dalam konteks masyarakat yang plural, terutama di era digital di mana media memainkan peran utama dalam membentuk persepsi publik terhadap isu-isu sensitif, termasuk agama. Masyarakat yang beragam membutuhkan platform di mana dialog terbuka dapat toleransi dan pemahaman antar-umat Salah satu contoh kontemporer adalah podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di Lebaran,Ay yang Diterbitkan oleh FISIP UMC menyajikan diskusi dengan pemuka agama dari berbagai keyakinan. Ini memberikan mempromosikan kerukunan melalui dialog lintas agama. Komunikasi lintas agama memiliki peran penting dalam menciptakan kerukunan di masyarakat yang plural dan beragam, terutama ketika dilihat melalui perspektif Salah satu contoh terkini yang relevan adalah podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy, di mana tokoh agama dari berbagai kepercayaan berkumpul untuk berbagi pengalaman dalam suasana perayaan Lebaran. Media, dalam hal ini podcast, menjadi wadah penting untuk mengatasi prasangka, memperkuat dialog, dan menemukan nilai-nilai bersama, seperti yang dijelaskan dalam aspek komunikasi lintas agama. SOSFILKOM Salah satu hal yang ditekankan dalam episode podcast tersebut adalah perlunya pemahaman mendalam mengenai ajaran dan praktik agama lain. AuPemahaman lintas menciptakan perdamaian dunia, dan ini hanya dapat dicapai melalui dialog yang jujur dan terbukaAy (Kyng, 2004: . Dialog dalam episode tersebut berfungsi sebagai contoh praktis di mana para pemuka agama menunjukkan kesamaan nilai, seperti kasih sayang dan perdamaian, yang dapat dijadikan fondasi untuk memperkuat hubungan antarumat beragama. Dalam buku Karen Armstrong AuThe Case for GodAy . , ia menekankan Aupentingnya empati dalam memahami agama lain, serta bagaimana nilai-nilai moral yang universal dapat menjadi jembatan dalam dialog lintas agamaAy (Armstrong, 2009: . Armstrong menegaskan bahwa kesadaran akan nilainilai bersama ini bisa membangun rasa solidaritas di antara pemeluk agama yang berbeda, yang tercermin dalam podcast saat para tokoh agama berbicara tentang kasih sayang dan persaudaraan sebagai nilai Stereotip dan prasangka sering kali menjadi hambatan utama dalam komunikasi lintas agama. AuStereotip dapat dilawan melalui partisipasi aktif dalam dialog lintas agama, terutama di kalangan generasi mudaAy (Patel, 2010: . Dalam konteks podcast ini, pertemuan para pemuka agama dalam suasana yang penuh dengan empati dan keterbukaan adalah contoh bagaimana prasangka dapat Para tokoh tidak hanya membagikan pandangan agama mereka tetapi juga pengalaman personal, yang memungkinkan audiens untuk melihat kesamaan kemanusiaan yang melampaui sekat agama. Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 Pada konteks komunikasi lintas agama. Aumedia berfungsi sebagai agen sosial yang memediasi hubungan antara agama dan masyarakatAy (Hjarvard, 2016: . Dalam hal ini, podcast berfungsi sebagai ruang interaktif di mana para tokoh agama dapat berbicara secara langsung kepada audiens, membuka ruang dialog yang tidak hanya informatif tetapi juga transformasional. Media digital, khususnya podcast, memungkinkan pesan-pesan toleransi dan kerukunan disebarkan lebih luas. Auperan media sosial dalam menghubungkan komunitas lintas agama di seluruh duniaAy (Campbell & Tsuria, 2021: . Podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy adalah contoh konkret bagaimana media berperan dalam memfasilitasi komunikasi lintas agama yang efektif. Dengan menggunakan pendekatan dialog yang inklusif, podcast ini membantu mengatasi prasangka, memperkuat nilai-nilai bersama, dan menciptakan ruang untuk diskusi terbuka tentang peran agama dalam masyarakat. Menghubungkannya komunikasi lintas agama yang dibangun oleh para tokoh seperti Hans Kyng. Karen Armstrong, dan Eboo Patel, media digital modern semakin menunjukkan potensinya dalam membangun kerukunan umat Dalam penelitian komunikasi, teori framing yang dikemukakan oleh Robert Entman menjadi kerangka yang relevan untuk membingkai pesan dan mempengaruhi pemahaman publik. AuFraming melibatkan pemilihan dan penekanan aspek tertentu dari realitas untuk menafsirkan suatu peristiwa atau isuAy (Entman, 1993: . Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berdampak pada . SOSFILKOM bagaimana audiens memahami dan merespons isu-isu yang diangkat. Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh identitas agama, media berperan sebagai jembatan komunikasi. AuMedia telah menjadi agen sosial yang kuat dalam memediasi hubungan antara agama dan masyarakat, di mana media tidak hanya menjadi saluran informasi, tetapi juga AopenengahAo yang membentuk bagaimana agama dipahami dan dikomunikasikan di ruang publikAy (Hjarvard, 2016: . Pada level ini, podcast dan platform digital lainnya menawarkan ruang yang lebih fleksibel untuk dialog lintas agama. Podcast AuLogin Season 2Ay menjadi studi kasus yang menarik karena melibatkan pemuka agama dari Islam. Kristen. Hindu. Buddha. Katolik, dan Konghucu yang bersama-sama Lebaran. Pendekatan ini tidak hanya menyoroti toleransi, tetapi juga menunjukkan kesediaan untuk berdialog dalam kerangka perayaan agama tertentu. AuMedia digital telah memfasilitasi Audialog interaktifAy yang memungkinkan lebih banyak keterlibatan personal dari audiens, yang sebelumnya tradisionalAy (Gillespie, 2020: . Sementara, framing dalam media berfungsi untuk menyusun pesan dan menekankan elemen tertentu dalam liputan. AuFraming dalam empat elemen utama: definisi masalah, diagnosis penyebab, evaluasi moral, dan rekomendasi penyelesaianAy (Entman, 1993: . Dalam konteks podcast ini, framing dilakukan dengan cara: Pertama. Definisi Masalah: Podcast ini mendefinisikan isu lintas agama sebagai mempromosikan kerukunan di tengah masyarakat yang semakin plural. Dalam wacana ini. Lebaran sebagai momentum agama Islam diangkat sebagai medium Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 dialog antar-agama, yang memberi kesan bahwa perayaan agama dapat menjadi sarana pemersatu. Kedua. Diagnosis Penyebab: Penyebab ketegangan antar-agama dalam masyarakat dapat ditelusuri dari kurangnya dialog dan pemahaman antar-keyakinan. Dengan menampilkan pemuka agama dari berbagai latar belakang, podcast ini membingkai bahwa dialog adalah solusi utama untuk mengatasi ketegangan tersebut. Ketiga. Evaluasi Moral: Media melalui podcast ini menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati di antara umat beragama. Episode tersebut secara eksplisit mengajukan narasi bahwa pluralitas agama di Indonesia harus dilihat sebagai kekayaan yang memperkuat persatuan, bukan sebagai sumber konflik. Keempat. Rekomendasi Penyelesaian: Rekomendasi yang disampaikan secara implisit dalam episode ini adalah pentingnya meningkatkan ruang-ruang dialog antar-agama, baik melalui media digital maupun platform lain, sebagai upaya membangun kesepahaman yang lebih kuat. AuFraming dalam media juga dapat digunakan untuk melestarikan status quo atau mendorong perubahan sosial, tergantung pada bagaimana narasi dibangun dan diterima oleh audiensAy (Van Gorp, 2007: . Dalam kasus podcast ini, perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih inklusif dan toleran terhadap Media memberikan ruang untuk partisipasi yang lebih luas dan beragam dalam percakapan lintas agama. AuMedia sosial dan platform digital memfasilitasi ruang di mana keyakinan agama bisa dibahas secara lebih terbuka dan inklusifAy (Campbell & Tsuria, 2021: . Fenomena ini mengindikasikan . SOSFILKOM bahwa media digital tidak hanya sekedar saluran informasi, tetapi juga agen dalam membentuk norma dan persepsi sosial, termasuk dalam konteks agama. Podcast AuLogin Season 2Ay menyoroti relevansi penggunaan media digital dalam mendorong dialog lintas agama dengan cara yang lebih personal dan interaktif. Audiens dapat mendengarkan berbagai perspektif agama dan merasakan adanya kedekatan emosional, yang dihasilkan melalui percakapan intim dan informal. AuKeintiman digital seperti ini penting dalam membangun Auagama sebagai praktik kehidupan sehari-hariAy di ruang digitalAy (Lyvheim, 2020: . Melalui format podcast, agama dipersepsikan sebagai bagian integral dari kehidupan sosial yang inklusif, bukan sebagai elemen yang Melalui analisis framing Robert Entman, bagaimana media, khususnya podcast, berperan dalam membingkai isu-isu lintas Dengan menampilkan pemuka agama dari berbagai keyakinan dalam suasana perayaan agama tertentu, podcast AuLogin Season 2Ay membangun narasi kerukunan dan toleransi. Ini sejalan dengan pandangan Entman bahwa media memiliki peran kunci dalam membentuk persepsi publik, baik dalam hal memahami perbedaan maupun dalam membangun solusi atas perpecahan. Konteks terkini menunjukkan bahwa media digital memberikan ruang baru untuk dialog lintas agama yang lebih inklusif. Dengan demikian, framing yang dilakukan oleh media dalam kasus ini bukan hanya sebagai cara untuk menyampaikan informasi, tetapi juga sebagai upaya untuk membentuk dan memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan kerukunan. Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 RESEARCH METHOD/ METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode menganalisis episode podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy. Data dikumpulkan melalui menggunakan teori framing Entman. Analisis ini mengidentifikasi tema-tema utama, cara framing, dan dampaknya terhadap pemahaman publik tentang kerukunan umat beragama. Penelitian ini menggunakan analisis framing Robert Entman sebab dianggap relevan untuk mengevaluasi bagaimana episode tersebut membentuk pemahaman publik tentang kerukunan umat beragama. AuFraming sebagai proses memilih beberapa aspek dari kenyataan yang dirasakan dan membuatnya lebih menonjol dalam konteks komunikasi sehingga mempromosikan definisi masalah tertentu, interpretasi dan/atau rekomendasi penanganan. Ay (Entman, 1993: Dalam konteks komunikasi lintas agama, framing dapat mempengaruhi bagaimana isu-isu keagamaan dipahami oleh publik dan dapat mempengaruhi kerukunan umat beragama. Penelitian yang menganalisis konten media terkait kerukunan umat beragama sering menggunakan metode analisis konten kualitatif untuk memahami bagaimana pesan-pesan keagamaan dibingkai dan disampaikan kepada publik. Dalam konteks ini, podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy menjadi contoh kasus yang baik. Metode ini mengeksplorasi tema-tema dan pola framing yang digunakan dalam diskusi lintas agama. Analisis konten kualitatif merupakan pendekatan yang berfokus pada penafsiran mendalam terhadap teks atau materi . SOSFILKOM AuMetode ini memungkinkan tersembunyi dan kompleksitas pesan melalui pengkodean dan identifikasi temaAy (Krippendorff, 2018: . Dalam penelitian ini, transkrip episode podcast dianalisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang terkait dengan kerukunan umat Salah satu langkah penting dalam analisis konten kualitatif adalah proses pengkodean, di mana teks dibagi menjadi unit-unit makna yang lebih kecil. AuProses pengkodean ini memerlukan sistematisasi yang ketat agar hasil analisis dapat diandalkan dan validAy (Schreier, 2012: . Dalam konteks penelitian ini, tema-tema seperti toleransi, dialog antar-agama, dan kerukunan menjadi fokus utama yang diidentifikasi melalui transkrip episode. Metode dilengkapi dengan kerangka teori framing Robert Entman . Teori ini membantu peneliti memahami bagaimana media memilih elemen-elemen tertentu dari suatu isu untuk ditonjolkan dan bagaimana elemen tersebut mempengaruhi persepsi AuEntman berpendapat bahwa framing berfungsi untuk mengatur cara suatu peristiwa dipahami oleh audiens melalui empat elemen utama: definisi masalah, identifikasi penyebab, evaluasi moral, dan rekomendasi solusiAy (Entman, 1993: . Dalam kasus podcast AuLogin Season 2Ay, framing dapat diidentifikasi melalui antar-agama sebagai solusi untuk mengatasi ketegangan Misalnya, podcast membingkai Lebaran, perayaan utama dalam Islam, sebagai titik temu bagi para pemuka agama dari berbagai keyakinan untuk berbagi perspektif tentang toleransi dan kerukunan. Framing ini menyajikan agama bukan sebagai sumber perpecahan, tetapi sebagai sarana persatuan. Selain itu. Auframing juga berkaitan dengan aspek-aspek budaya dan sosial yang mendasari bagaimana suatu isu dipersepsikan oleh audiensAy (Van Gorp. Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 2010: . Dalam konteks kerukunan umat beragama, framing media terhadap dialog antar-agama dapat memperkuat narasi sosial tentang pentingnya pluralitas dan kerjasama lintas keyakinan. Penggunaan teori framing untuk menganalisis media dalam isu-isu agama memiliki dampak yang signifikan terhadap bagaimana publik antar-umat AuFraming memengaruhi cara suatu isu dipahami, tetapi juga membentuk sikap dan tindakan publik terhadap isu tersebutAy (Gamson & Modigliani, 1989: . Dalam penelitian ini, cara podcast AuLogin Season 2Ay membingkai diskusi antar-agama dapat memengaruhi pendengarnya untuk melihat perbedaan agama sebagai peluang untuk saling memahami dan bekerjasama. Framing yang positif seperti ini dapat antar-agama. AuFraming yang terfokus pada nilai-nilai inklusivitas dan saling menghormati dapat menciptakan efek positif dalam hubungan lintas agama, terutama dalam konteks masyarakat yang pluralisticAy (Scheufele, 2014: . Analisis konten kualitatif yang dikombinasikan dengan teori framing Robert Entman memberikan pendekatan yang kuat untuk memahami bagaimana media membingkai isu-isu agama dan dampaknya terhadap pemahaman publik. Dalam konteks podcast AuLogin Season 2Ay, metode ini berhasil mengidentifikasi tematema utama yang mendukung narasi kerukunan antar-umat beragama. Framing yang dilakukan oleh media tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk membentuk dan mengarahkan sikap publik terhadap pentingnya dialog lintas agama. RESULTS AND DISCUSSION/ HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis konten menunjukkan bahwa episode podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy menggunakan framing yang menekankan . SOSFILKOM persatuan, dialog, dan toleransi. Tema utama yang diangkat meliputi pentingnya memahami perbedaan, bekerja sama untuk tujuan bersama, dan menghormati keyakinan masing-masing. Framing ini mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya kerukunan umat Penelitian Scheufele . menunjukkan bahwa Auframing media dapat mempengaruhi persepsi publik dan sikap terhadap isu-isu sosial. Dalam konteks keagamaan, penelitian oleh HooverAy . menemukan bahwa media memiliki peran penting dalam membentuk dialog antar-agama Studi ini mendukung pentingnya analisis framing dalam memahami dampak media terhadap kerukunan umat beragama. Dampak framing ini terhadap pemahaman publik adalah positif, dengan banyak kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya toleransi antar-agama. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa framing yang tidak seimbang atau terlalu menekankan satu perspektif dapat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman atau konflik. Komunikasi antaragama menjadi semakin penting dalam masyarakat yang semakin Media, sebagai salah satu aktor utama dalam membentuk persepsi publik, memegang peranan kunci dalam menjaga kerukunan umat beragama. Podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy menjadi contoh nyata bagaimana media dapat berperan dalam mempromosikan dialog antaragama dengan menggunakan strategi framing yang Dalam podcast ini, dialog antara enam pemuka agama dari latar belakang yang berbeda, yang dikemas dalam suasana Lebaran. Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 mempromosikan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan saling memahami. Analisis Framing dan Peran Media dalam Kerukunan Umat Beragama Menurut Auframing merupakan proses seleksi dan penekanan elemen-elemen tertentu dari realitas untuk membentuk pesan yang diterima oleh Dengan menekankan nilai-nilai tertentu, media dapat mempengaruhi cara publik memahami suatu isuAy (Entman, 1993: . Dalam konteks podcast ini, framing yang digunakan secara konsisten mengangkat tema-tema persatuan, dialog, dan toleransi. Elemen-elemen yang difokuskan dalam episode ini adalah pentingnya saling memahami perbedaan, bekerja sama untuk tujuan bersama, dan menghormati keyakinan masing-masing. Selaras dengan uraian di atas, penelitian Scheufele . juga menemukan bahwa framing media memiliki Audampak signifikan dalam membentuk persepsi publik dan sikap terhadap isu-isu sosial, termasuk isu keagamaanAy (Scheufele, 2000: Dalam hal ini, framing yang digunakan dalam podcast mendorong audiens untuk melihat bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk menciptakan harmoni sosial. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan dialog yang lebih inklusif. Begitu pula, studi Hoover . menggarisbawahi Auperan media dalam mempromosikan dialog antaragama dan menghubungkan berbagai pemeluk agama, yang pada akhirnya meningkatkan toleransiAy (Hoover, 2012: . Dalam kasus podcast ini, media digunakan untuk menciptakan ruang dialog yang netral, di . SOSFILKOM disampaikan dengan penuh rasa hormat dan Meminimalkan Potensi Konflik melalui Framing yang Seimbang Framing yang digunakan dalam media, terutama dalam isu-isu sensitif seperti agama, harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari konflik. AuFraming yang tidak seimbang atau terlalu menekankan satu perspektif dapat memperburuk menimbulkan konflikAy (Van Gorp, 2007: Oleh karena itu, penting bagi media untuk menjaga keseimbangan dalam menyampaikan pesan. Dalam podcast ini, keseimbangan dijaga dengan memberikan ruang yang sama kepada semua pemuka agama untuk berbicara, tanpa ada satu agama yang lebih ditekankan dibandingkan yang lain. Hal ini membantu menciptakan dialog yang adil dan inklusif. AuPentingnya keseimbangan dalam liputan media tentang isu-isu agama. Cottle menekankan bahwa media harus memfasilitasi dialog yang pluralis dan adil, yang mencerminkan keragaman masyarakatAy (Cottle, 2006: . Dalam podcast ini, kesetaraan dalam pembagian waktu bicara dan narasi yang inklusif menunjukkan bahwa episode ini dirancang untuk mendorong toleransi tanpa memihak satu agama tertentu. Dampak Positif Framing pada Pemahaman Publik Framing yang digunakan dalam podcast ini berdampak positif terhadap pemahaman publik tentang pentingnya toleransi Penelitian bahwa banyak pendengar podcast ini melaporkan peningkatan kesadaran tentang pentingnya kerukunan umat beragama setelah mendengarkan episode ini. AuMedia dapat menjadi alat yang kuat untuk meningkatkan pemahaman publik dan Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 mempromosikan nilai-nilai BersamaAy (McQuail, 2010: . Dalam podcast ini, tema-tema utama yang diangkat, seperti menghargai perbedaan dan bekerja sama untuk tujuan bersama, memperlihatkan bagaimana dialog yang inklusif dapat memperkuat hubungan Framing ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan toleransi di kalangan audiens. Framing sebagai teknik yang digunakan media untuk menyajikan informasi dengan menekankan aspek-aspek tertentu dari sebuah isu, yang pada akhirnya mempengaruhi cara publik memahaminya. Pada episode podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy, framing yang digunakan menekankan pada tema persatuan, dialog, dan toleransi antar pemeluk agama yang Enam pemuka agama dari latar belakang yang beragam berkumpul dalam suasana perayaan Lebaran, dan diskusi menghormati perbedaan, bekerja sama untuk tujuan bersama, dan saling memahami keyakinan masing-masing. Pendekatan ini menegaskan pentingnya kerukunan umat beragama sebagai landasan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis. Framing yang digunakan dalam podcast ini sesuai dengan teori Robert Entman . , yang menyatakan bahwa framing berfungsi pemahaman tertentu dengan menekankan aspek-aspek tertentu dari realitas. Dalam hal ini, fokus pada persatuan dan dialog yang inklusif memberikan pesan bahwa keberagaman agama bukanlah sumber konflik, tetapi dapat menjadi alat untuk membangun harmoni. Media, dalam peranannya sebagai pembentuk opini menyampaikan isu-isu keagamaan dengan . SOSFILKOM hati-hati dan berimbang, karena framing yang tepat dapat mendorong pemahaman yang lebih baik di kalangan masyarakat. Scheufele . menekankan bahwa framing media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik dan sikap terhadap isu-isu sosial, termasuk Ketika media menekankan tema persatuan dan toleransi, audiens lebih mungkin untuk menerima pesan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, framing yang tidak seimbang atau menekankan perbedaan secara negatif dapat memperkuat prasangka dan polarisasi. Dalam konteks podcast ini, framing yang positif berhasil membentuk persepsi yang lebih baik tentang pentingnya dialog dan kerja sama lintas agama. Rekomendasi bagi Media dalam Mempromosikan Kerukunan Umat Beragama Untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan potensi konflik, ada beberapa rekomendasi yang bisa diajukan kepada media, berdasarkan analisis podcast ini dan teori framing: Pertama. Membangun Dialog yang Inklusif: Seperti yang ditunjukkan oleh podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy, media harus menciptakan ruang dialog yang inklusif dan adil untuk semua pihak. AuEmpati dan toleransi harus menjadi pilar utama dalam komunikasi lintas agama, dan media dapat membangun dialog iniAy (Armstrong, 2014. Kedua. Menghindari Framing yang Bias: Media harus berhati-hati untuk tidak menekankan satu perspektif secara AuMedia memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan bahwa framing yang digunakan tidak memicu stereotip atau prasangkaAy (Van Dijk, 2011: Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 Ketiga. Menyoroti Nilai-Nilai Bersama: Nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian dapat menjadi elemen kunci dalam framing media untuk mempromosikan kerukunan antaragama. AuMedia harus berfokus pada aspek-aspek yang memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi polarisasiAy (Galtung, 2010: Keempat. Memperkuat Pendidikan Publik tentang Agama: Media dapat berperan dalam memberikan edukasi kepada publik tentang ajaran dan praktik agama yang Ini dapat membantu mengurangi prasangka dan meningkatkan pemahaman. AuPentingnya pendidikan lintas agama dalam meningkatkan toleransi dan mengurangi konflikAy (Patel, 2012: . Podcast AuLogin Season 2: Enam Pemuka Agama Jadi Satu di LebaranAy adalah contoh yang sangat baik tentang bagaimana media dapat menggunakan framing untuk mempromosikan toleransi dan kerukunan Dengan persatuan, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan, podcast ini berhasil menciptakan narasi yang inklusif dan Strategi framing yang seimbang dan inklusif, seperti yang digunakan dalam podcast ini, sangat penting dalam menjaga harmoni sosial di masyarakat yang Bagi media, ada tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan dalam rekomendasi yang telah dirumuskan dapat membantu media dalam mencapai tujuan CONCLUSION/KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa framing media dalam pemberitaan tentang isu-isu keagamaan memiliki dampak signifikan terhadap pemahaman publik dan kerukunan umat beragama. Media harus berhati-hati . SOSFILKOM dalam memilih cara framing untuk meminimalisir potensi konflik antaragama. Rekomendasi bagi media termasuk: Menggunakan menekankan persatuan dan dialog. Menjaga pemberitaan dengan menyertakan berbagai Mengedukasi publik tentang pentingnya toleransi dan kerukunan lewat programprogram yang informatif dan inklusif. REFERENCES/DAFTAR PUSTAKA