CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 Program Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Strategi Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja melalui Penataan Kawasan Strategy of Gunung Meja Natural Park Management by region arrangement Daniel Leonard. Anton Silas Sinery*. Jacob Manusawai Program Studi Magister Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana UNIPA. Manokwari, 98314. Indonesia *Email: anton_sineri@yahoo. ABSTRACT: The purpose of this research is to formulate management strategies related to the condition and potential of the park. The results showed that land cover of Gunung Meja natural tourism park dominated by natural forest . 5%), followed by plantations forest . 7%), the former garden area . 6%), gardens . 4%) and open land, electricity network, tower and street with percent smaller extent. Potential natural forest vegetation is very high, includes 159 species of trees . individuals/ha, high diversity indec. , 149 species of poles . individuals / ha, medium diversity indec. , 164 species of saplings . ,904 individuals / ha, medium diversity indec. and 177 species of seedlings . ,300 individuals / ha, medium diversity indec. with the total of species is 223, as well as forest vegetation plants, medicinal plants and farm / plantation The diversity of wildlife species include 15 species of mammals . species protecte. , 35 species of birds . species protecte. , 21 other species . lizards, 3 amphibia, 9 snakes and 1 turtle. and 14 species of insects . species protecte. Potential support includes Japanese monument, caves, water and social communities. Utilization of the region has not done so well that affect the area as a result of the existence of agricultural activities, logging and utilities. Referral management includes policies . olicies that embody accommodate all interests through the zoning system by protected zone, farm exploit zone and buffer zon. Keyword: strategies, zoning area, natural tourism park. Gunung Meja ABSTRAK: Taman Wisata Alam Gunung Meja kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman jenis flora, fauna, ekosistem maupun jasa linkungan yang potensial dan sebagai tandon air bagi kota Manokwari. Kawasan hutan ini belum memiliki perencanaan pengelolaan aktual yang mempertimbangkan kondisi dan potensi, sehingga perlu dilakukan pengelolaan terkait kondisi dan potensi kawasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan potensi kawasan, pemanfaatan kawasan untuk selanjutnya menyusun strategi pengelolaan terkait penataan blok pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tutupan lahan didominasi hutan alam . ,5%), diikuti hutan tanaman . ,7%), areal bekas kebun . ,6%), kebun . ,4%) dan tutupan lain berupa tanah terbuka, jaringan listrik dan tower dan jalan dengan persentase luasannya lebih kecil. Potensi vegetasi hutan alam sangat tinggi, mencakup 159 jenis tingkat pohon . individu/ha, keanekaragaman jenis tingg. , 149 jenis tingkat tiang . individu/ha, keanekaragaman jenis sedan. , 164 jenis tingkat pancang . CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 individu/ha, keanekaragaman jenis sedan. dan 177 jenis tingkat semai . individu/ha, keanekaragaman jenis sedan. dengan jumlah jenis keseluruhan 223 jenis . real 100 h. demikian juga vegetasi hutan tanaman, tumbuhan obat dan vegetasi pertanian/perkebunan. Potensi keanekaragaman jenis satwa liar mencakup 15jenis mamalia . jenis dilindung. , 35 jenis burung . jenis dilindung. , 21 jenis herpetofaona . kadal, 3 ampibia, 9 jenis ular dan 1 jenis kura-kur. dan 14 jenis insekta . jenis dilindung. Potensi penunjang meliputi tugu jepang, goa, air dan kondisi sosial masyarakat. Pemanfaatan kawasan TWA Gunung Meja sesuai fungsinya belum dilakukan secara baik sehingga mempengaruhi eksistensi kawasan akibat kegiatan pertanian, penebangan hutan, pembangunan fasilitas umum seperti jaringan listrik, sarana telekomunikasi dan pembuangan sampah. Arahan pengelolaan yang dapat dilakukan adalah mewujudkan kebijakan baru terkait luas kawasan yang lebih mengakomodir semua kepentingan melalui sistem blok yang mencakup blok perlindungan, blok pemanfaatan dan blok penyangga . uffer zon. Keywords: Strategi. Penataan Kawasan. Taman Wisata Alam. Gunung Meja PENDAHULUAN Pelaksanaan pembangunan telah menghasilkan kemajuan dalam segenap aspek kehidupan bangsa yang tercermin melalui sarana dan prasarana fisik, dan semakin terpenujinya kebutuhan pokok rakyat sehingga telah meletakkan landasan yang kuat untuk memasuki tahap selanjutnya. Disamping peluang yang dimiliki, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam melaksanakan Pembangunan. Tantangan tersebut disebabkan adanya perubahan tuntutan dan keinginan masyarakat, baik karena perubahan kualitas hidup akibat pengaruh perkembangan teknologi dan Dalam melaksanakan pembangunan, penggunaan sumber daya alam dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya, dengan mengutamakan sebesar-besar kemakmuran rakyat, serta dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup serta keanekaragaman hayati guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam khususnya konservasi sumber daya alam hayati di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 . entang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemny. yang mencakup pengawetan sistem penyanggah kehidupan, perlindungan sumber daya alam dan ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dane kosistemnya. Kebijakan tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam sejumlah peraturan seperti halnya PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam/KSA dan Kawasan Pelestarian Alam/KPA) dan sejumlah aturan lainnya atau Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1999 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan perundang-undangan tersebut bertujuan untuk mengarahkan pengelolaan sumber daya alam baik dalam hubungannya dengan lingkungan . kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kegagalan pengelolaan sumber daya alam disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap lingkungan. Di sisi lain berhasilnya CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 pengelolaan unit pengelo-laan . awasan konservasi, kawasan lindung atau juga hutan produks. disebabkan karena adanya campur tangan manusia untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas unit manajemen. Sementara itu, desakan kebutuhan akan lahan bagi masyarakat sekitar lokasi kegiatan merupakan suatu hal yang mutlak dipertimbangkan dalam menunjang kelangsungan kegiatan pengelolaan (Sinery dkk, 2. Kenyataan menunjukkan bahwa ancaman tidak muncul saja terhadap kawasan-kawasan sebagai kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan eksploitasi saja, akan tetapi juga tertuju kepada kawasankawasan yang ditetapkan dan ditunjuk sebagai kawasan konservasi atau kawasan lindung. Ancaman tersebut disamping disebabkan oleh pertambahan penduduk, juga oleh perusakan langsung, konversi kawasan dan penangkapan satwa secara berlebihan. Pengelolaan sumber daya alam melalui pemanfaatan lahan, tumbuhan dan satwa liar serta komponen lingkungan lainnya di hutan tropis tidak lagi memperhatikan aspek-aspek kelestarian, sehingga menimbulkan ancaman kepunahan terhadap komponen lingkungan (Robinson Redford. Robinson dan Bodmer, 1999 dalam Pattiselanno, 2. Menurut Sinery . telah terjadi pergeseran pola pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat sekitar hutan dari pola pemenuhan kebutuhan dasar . asic nee. menjadi keinginan meningkatkan ekonomi . conomic need. Pola pemanfaatan tersebut dilakukan melalui pengembangan berbagai kegiatan usaha kawasan-kawasan pelestarian alam seperti halnya Taman Wisata Gunung Meja di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Hutan Gunung Meja merupakan salah satu kawasan pelestarian alam berstatus taman wisata alam di wilayah Provinsi Papua Barat yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 91/Menhut-II2012 dengan luas wilayah 462,16 Ha. Kawasan ini berada pada 16 - 177 m dpl dan merupakan laboratorium alam yang menyimpan keanekaragaman jenis flora maupun fauna yang cukup tinggi dan sebagai tandon air bagi kota Manokwari (Leppe dan Tokede, 2004. Sinery. Sesuai hasil survey spasial WWF tahun 2002 diketahui bahwa terdapat 5 mata air di dalam kawasan ini sedangkan berdasarkan Laporan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Manokwari, ada 12 mata air yang menjadi sumber pasokan air bagi masyarakat Kota Manokwari dan 7 diantaranya terdapat di dalam dan sekitar hutan ini (Liborang, 2. Kawasan Hutan Wisata Gunung Meja berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk di sekeliling maupun di dalam kawasan. Di tengah kawasan ini terdapat akses jalan yang membentang dari arah utara-selatan serta menuju sebelah barat. Kondisi demikian menyebabakan kawasan hutan ini mudah diakses dan rawan terhadap pemanfaatan sumber daya alam . engambilan kayu bakar, bahan bangunan, perburuan satw. dan konversi kawasan . embukaan lahan untuk ladang/kebu. Menurut Liborang . Lekitoo, dkk, . bahwa meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya pembukaan sebagian wilayah Hutan Wisata Gunung Meja untuk areal perladangan. Ancaman utama kerusakan kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja adalah akibat aktivitas masyarakat. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Menurut Ohuiwutun . dalam Sinery . kerusakan hutan Taman Wisata Gunung Meja sebagai akibat aktifitas masyarakat di sekitarnya mencapai 8,9 ha. Menurut Apriani . , pemanfaatan lahan Hutan Taman Wisata Gunung Meja tahun 2002 sebesar 39,42 ha dengan intensitas 8,6%, mencakup perladangan 35,32 ha . ntensitas 7,68%), penebangan 0,81 ha . ntensitas 0,18%), bekas perladangan 0,34 ha . ntensitas 0,09%) dan penggunaan lain 2,95 ha . ntensitas 0,64%). Kondisi ini mengakibatkan degradasi kawasan hutan yang menjadi fragmentasi habitat berbagai jenis satwa Selanjutnya menurut Kondororik . , ada 30 lokasi tumpukan sampah dengan luas areal tumpukan 2. 054 mA atau 0,2054 Ha Seiring dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan industrial, maka tekanan terhadap sumber daya alam menjadi semakin besar karena tingkat kebutuhan dan kepentingan terhadap sumber daya alam yang semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kenyataan betapa pembukaan hutan dan eksploitasi sumber daya alam lainnya dari tahun ke tahun bukannya menurun, akan tetapi semakin meningkat. Dengan demikian tentunya kawasan-kawasan tempat eksploitasi semakin terancam habis, sementara suksesi sumber daya alam yang dapat diperbaharui yang telah dieksploitasi membutuhkan waktu lama untuk dapat diperbaharui kembali. Kawasan Hutan Wisata Gunung Meja sejak penetapannya dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. Sejauh ini berbagai upaya telah dilakukan terkait pemanfaatan hutan ini, namun ancaman terhadap eksistensi kawasan terus Di sisi lain, sejauh ini belum ada perencanaan terkait sistem zonasi atau blok pengelolaan yang mempertimbangkan semua komponen kawasan, sehingga dinilai perlu dilakukan penelitian terkait kondisi Berdasarkan uraian permasalahan diatas, maka dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1 Bagaimana kondisi kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja berdasarkan kondisi fisik, biologi dan sosial. 2 Bagaimana arahan yang dapat dilakukan guna mewujudkan terkait blok atau sistem zonasi . oning syste. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi atau potensi kawasan Hutan Wisata Gunung Meja untuk selanjutnya merumuskan upayaupaya pengelolaan berdasarkan blok pengelolaan kawasan hutan ini di masa mendatang, dengan rincian tujuan 1 Mengetahui kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja berdasarkan kondisi fisik. 2 Mengetahui potensi kawasan keanekeragaman hayati flora dan fauna serta potensi lainnya termasuk kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat. 3 Mengetahui sumber daya alam di kawasan berdasarkan sistem ekologi. 4 Merumuskan pengelolaan guna menunjang optimalisasi pengelolaan sesuai fungsi kawasan CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Penelitian masyarakat dan instansi terkait yaitu: 1 Memberikan informasi tentang potensi Taman Wisata Alam Gunung Meja fungsi kawasan. 2 Memberikan pengelolaan guna menunjang kawasan di masa mendatang. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kawasan Taman Wisata Gunung Meja Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Secara geografis hutan ini terletak antara 134o03Ao17Ay sampai 134o04Ao05Ay Bujur Timur dan 0o51Ao29Ay sampai 0o52Ao59Ay Lintang Selatan dengan ketinggian tempat berkisar antara 17Ae177 m dpl. Penelitian selama 6 bulan dan dimulai pada bulan Juni sampai November 2014. Kegiatan penelitian, pelaksanaan pengambilan data dan analisis data yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Alat dan Bahan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: Peralatan analisis vegetasi, meliputi Global Positioning System (GPS), kompas, phi band, parang, tally sheet dan hasil-hasil penelitian terkait potensi flora. Peralatan monitoring satwa liar, identifikasi jenis satwa liar dan peta lokasi penelitian Peta kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja (SK Menhut No. 91/Menhut-II/2. Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja Yang Terletak Di Distrik Manokwari Barat Dan Manokwari Timur. Kabupaten Manokwari. Provinsi Papua Barat Seluas 462,16 (Empat Ratus Enam Puluh Dua Dan Enam Belas Perseratusi Hekta. Peta Digital Rupa Bumi Indonesia skala 1:25 000. Peta Administrasi skala 1:25 000. Peta Tata Batas skala 1:1 000 dan Citra Landsat . iputan tahun 2. Format isian, untuk pengumpulan informasi dan hasil observasi. Peralatan dokumentasi meliputi photo camera dan vedeo camera, peralatan tulis menulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian berupa kertas koran, alkohol 70% dan dietil eter /kloroform masingmasing untuk pembuatan spesimen tumbuhan dan satwaliar. Prosedur Penelitian Kondisi Umum Kawasan Untuk . okasi penelitia. yang mencakup data kondisi fisik, kondisi biologi dan kondisi sosial, dilakukan pengambilan data primer di lapangan maupun pengambilan data sekunder pada instansi terkait. Tutupan Lahan Data yang digunakan untuk menentukan kondisi tutupan lahan adalah hasil analisis interpretasi dan klasifikasi citra landsat lokasi Taman Wisata Alam Gunung Meja tahun 2012. Pengolahan data citra digital dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. - Data citra digital dari google maps . dicopy dengan menggunakan metode print screen. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 - Data selanjutnya disimpan dengan tipe Tagged Image File Format (TIFF). - Dengan bantuan software Global Mapper 8. 01 dilakukan penentuan ketepatan letak koordinat dengan memasukkan 4 titik di lapangan sebagai Ground Control Point (GCP). - Data siap dianalisis dengan software Image Analysis dan setelah Citra Satelit dianalisis dan diklasifikasi - Data hasil analsis selanjutnya dioverlay dengan peta kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja (SK Menhut No. 91 Tahun 2. untuk mengidentifikasi tipe-tipe tutupan lahan yang terdapat dalam kawasan ini untuk selanjutnya observasi lapangan. Potensi Penunjang Pengelolaan Kawasan Untuk kawasan dalam menunjang pengelolaan fungsi kawasan, dilakukan observasi terhadap potensi penunjang pengelolaan kawasan yang mencakup mata air, tugu jepang, jalan dan goa dan hutan yang mencakup hutan alam dan hutan Hasil observasi selanjutnya pertimbangan dalam penataan blok Potensi Keanekaragaman Hayati Untuk keanekaragaman hayati yang mencakup potensi flora dan fauna, maka dilakukan analisis vegetasi dan inventarisasi jenisjenis satwa liar. Analisis vegetasi dilakukan melalui sampling dengan Line Plot Sistematyc Sampling pada areal seluas 250 ha. Base line dibuat dengan azimut 180o, azimut jalur 90o. Jarak antar jalur 200 m, jarak antar plot dalam jalur 100 m, jarak antara titik start base line dengan jalur pertama 100 m (A jarak antar jalu. dan jarak antara plot pertama dalam jalur dengan base line 50 meter (A jarak antar plot dalam jalu. Jumlah jalur yang dibuat sebanyak 5 jalur, jumlah petak dalam jalur sebanyak 25 petak ukur dengan total petak pengamatan yang dibuat adalah 125 petak ukur masing-masing fase. Pengambilan data mencakup vegetasi semai/seedling . inggi O1,5c. petak 2 x 2m, pancang/sapling . inggi >1,5cm dan diameter <10c. petak 5 x 5m, tiang/poles . iameter 10Ae20c. petak 10 x 10m dan pohon/trees . iameter > 20c. petak 20 x 20m. satwa liar yang terdapat di dalam kawasan dilakukan secara langsung bersamaan dengan Metode digunakan adalah metode jalur/transek dengan sama dengan panjang jalur Pengamatan juga dilakukan melalui jalan koridor di tengah kawasan dari arah selatan - utara dan menuju barat dengan panjang jalur pengamatan 9Ae10 Pengamatan difokuskan pada satwa liar kelas mamalia dan aves, namun tidak terbatas juga untuk satwa liar lainnya . eptil dan amfib. Pemanfaatan Kawasan Pengamatan kawasan oleh masyarakat sekitar dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara terhadap jenis-jenis dan lokasi pemanfaatan. Berdasarkan hasil wawancara, selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap lokasi-lokasi dimaksud yang mencakup lokasi kegiatan ladang, penebangan, bekas ladang dan penggunaan lain. Data hasil pengukuran selanjutnya dikomparasikan . itumpang susun/overla. dengan hasil analisis citra landsat. Menurut Liborang . , ada 5 CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 memanfaatkan kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja yaitu kelurahan Manokwari Timur. Manokwari Barat. Padarni. Pasir Putih dan kelurahan Amban. Sesuai hasil penelitian tersebut, maka kelima kelurahan ini menjadi lokasi pengambilan data soial terkait Dari jumlah tersebut empat diantaranya berbatasan langsung masing-masing Kelurahan Manokwari Timur. Kelurahan Padarni. Kelurahan Pasir Putih Kelurahan Amban. Penentuan responden yang disampling dilakukan secara purposif sesuai kegiatan pemanfaatan kawasan yang pemanfaatan kawasan dan toko masyarakat dengan jumlah responden sebanyak 185 orang masing-masing kelurahan Manokwari Timur . KK). Manokwari Barat . KK). Padarni . KK). Pasir Putih . KK) dan kelurahan Amban . KK). Melalui pemetaan areal pemanfaatan kawasan dengan menggunakan GPS untuk selanjutnya di tumpang susun . dengan hasil analisis citra untuk menentukan lokasi dan atau luas arealareal potensial pemanfaatan. Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer yaitu data hasil pengamatan dan wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Data primer yang dikumpulkan terdiri atas: Kondisi umum . klim, topografi, hidrologi dan kondisi sosia. Tutupan lahan Potensi keanekeragaman hayati yang terdiri atas potensi flora dan Potensi pemanfaatan kawasan oleh masyarakat dan atau pihak terkait. Data dikumpulkan adalah data keadaan umum lokasi penelitian yang mencakup data terkait kondisi fisik . klim, geologi, tanah, hidrolog. kondisi biologi . otensi vegetasi dan satwa lia. dan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan. Analisis Data Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan masing-masing komponen dan ditampilkan secara tabulasi dan gambar . agan, grafik dan Kondisi umum lokasi penelitian Data keadaan umum lokasi penelitian yang mencakup data kondisi fisik, biologi dan sosial akan dianalisis secara tabulasi dan deskriptif. Tutupan lahan Untuk memperoleh tipe dan luas penutupan lahan dari interpretasi citra landsat, dilakukan analisis dengan terbimbing . upervised classificatio. dan klasifikasi tidak terbimbing . nsepervised classificatio. dan secara visual . isually classificatio. Dengan klasifikasi terbimbing bisa dilakukan . utomatic classificatio. dan secara visual . isually classificatio. Hasil klasifikasi visual akan dijadikan dasar penetapan tutupan lahan dalam kawasan. Tipe tutupan lahan dibedakan berdasarkan tutupan petunjuk Badan Planologi Departemen Kehutanan . Analisis sederhana minimal menghasilkan 7 tipe tutupan lahan antara lain hutan sekunder (HS), semak belukar (S. Hutan mangrove sekunder (H. , ekosistem rawa (ER). CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 tubuh air (T. , pemukiman penduduk (P. dan Tanah terbuka (T. Selanjutnya dengan bantuan pemetaan Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat diketahui luas masing-masing tipe penutupan lahan dapat diketahui selisih luas tutupan lahan yang dianalisis. Lebih dari itu perubahan tersebut dapat diprediksi tren perubahan kawasan baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Penilaian kelayakan kawasan berdasarkan aspek potensi lahan sebagai kawasan konservasi (Taman Wisata Ala. adalah pertimbangan aspek ekologis yang didukung oleh peraturan yang berlaku khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Analisis hasil tumpang susun dari berbagai peta adalah untuk mendapatkan gambaran umum serta menyeluruh mengenai keadaan wilayah TWA Gunung Meja, penggunaan lahan dan kesesuaiannya dengan fungsi kawasan. Hasil analisis ini juga akan memberikan gambaran fisik lapangan sebenarnya dimana akan diketahui apakah fungsi hutan tersebut masih sesuai atau sudah berubah oleh perkembangan dinamis keadaan sosial ekonomi dan perkembangan wilayah. Potensi Penunjang Pengelolaan Potensi penunjang pengelolaan yang mencakup potensi fisik seperti mata air, tuguh, goa, jalan dan potensi lainnya dianalisis secara deskriptif. Keanekaragaman Hayati Kondisi vegetasi di kawasan Taman Wisata Gunung Meja dianalisis dengan menggunakan persamaan Indeks Nilai Penting (INP) menurut MuellerDombois and Ellenberg . Soerianegara dan Indrawan . sebagai berikut. Kerapatan = Jumlah individu suatu jenis Jumlah luas plot contoh Kerapatan Relatif = Kerapatan suatu jenis Kerapatan seluruh jenis Frekuensi = Jumlah plot ditemukannya suatu jenis Jumlah seluruh plot contoh Frekuensi Relatif = Frekuensi suatu jenis Frekuensi seluruh jenis Dominasi = Jumlah luas bidang dasar suatu jenis Luas seluruh plot contoh Dominasi Relatif = Dominasi suatu jenis Dominasi seluruh jenis Luas Bidang Dasar (LBD) = A A . 2 Secara khusus untuk vegetasi tingkat tiang dan pohon diperoleh penjumlahan persentasi kerepatan, frekuensi relatif dan dominasi relatif (Indeks Nilai Penting/INP = Kerapatan Relatif Frekuensi Relatif Dominasi Relati. Selanjutnya untuk INP vegetasi tingkat semai dan pancang adalah penjumlahan kerapatan relatif dan frekuensi relatif. Untuk keanekaragaman jenis vegetasi sebagai indikator variasi jenis vegetasi di keanekaragaman jenis (HA. dengan persamaan menurut Shanon dan Wiener . dalam Odum . CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 E ni E E ni E E E ENE ENE E E E E Keterangan: HAo = Indeks keanekaragaman (Indeks Shannon-Wiene. ni = Jumlah individu jenis ke-n N = Jumlah individu seluruh jenis Untuk jenis-jenis satwa liar yang didata dianalisis secara tabulasi sesuai jenis dan kelas. Jenis-jenis tersebut perlindungan sesuai UU No. 5 Tahun 1990 . entang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemny. dan PP 7 tahun 1999 . entang Pengawetan Jenis Tumbuhan Satw. International Union Conservation Nature and Nature Resourches (IUCN Convention Interntional Tread Endanger Species (CITES, 2. Pemanfaatan kawasan Data terkait pemanfaatan kawasan oleh masyarakat sekitar maupun kegiatan pembangunan dianalisis secara deskriptif dengan teknik observasi. Penentuan Blok Pengelolaan TWA/Zonasi Proses yang dilakukan untuk membuat zonasi yang baru adalah dengan mengoverlaykan peta tutupan vegetasi dan penggunaan lahan yang didapatkan dari interpretasi Citra tahun 2012 dan peta penyebaran flora dan fauna yang bersumber dan peta Setelah overlay kemudian dilakukan pendijitasian secara on screen . endijitasian secara langsung pada menampilkan arahan blok atau areal dalam kawasan untuk digunakan sebagai arahan blok pengelolaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Kawasan Upaya pengelolaan Hutan Gunung Meja sebagai kawasan lindung dimulai pada bulan Agustus 1953, yaitu saat kunjungan Tim Kehutanan Pemerintah Belanda, yang terdiri atas : Ir. Zieck (Kepala Seksi Inventarisasi Huta. Ir. Fokkinga (Ketua Komisi Pertania. dan H. Schrijn (Kepala Pemangkuhan Huta. ke Gunung Meja. Pada saat itu, telah disepakati areal hutan primer seluas 100 ha dan hutan sekunder seluas 360 ha termasuk jurang dan tebing-tebing karang yang ada untuk diusulkan sebagai hutan lindung Hidroorologi. Hutan Gunung Meja sendiri mengalami beberapa kali proses terkait perubahan status kawasan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1. Sejak awal pemerintah Belanda menetapkan Hutan Gunung Meja sebagai kawasan lindung dengan fungsi utama pengatur tata air (Hutan Lindung Hidrorologi. Perkembangan selanjutnya dengan mempertimbangkan letak dan jarak dengan pusat Kota Manokwari, sehingga dikembangkan aneka fungsi kawasan bagi masyarakat maupun lingkungan. Rencana fungsi pemerintah Belanda, antara lain : 1 Fungsi pendidikan dan pelatihan di bidang kehutanan 2 Fungsi penelitian 3 Taman Hutan/Botani Garden 4 Tempat rekreasi untuk masyarakat kota Manokwari. Sejumlah upaya pengelolaan dilakukan oleh pemerintah Belanda dalam rangka mendukung rencana pengembangan fungsi kawasan hutan Gunung Meja adalah, sebagai berikut : 1 Kegiatan inventarisasi hutan primer dan menjelang awal tahun 1954 CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 mencapai 100 Ha dan dilanjutkan pada tahun 1956 dan 1957 hingga mencapai 360 Ha. 2 Sejalan inventarisasi hutan, telah dilakukan survei tanah dan analisis vegetasi pada kawasan hutan Gunung Meja untuk jenis pohon yang berdiameter lebih dari 35 cm dengan intensitas adalah 10 % oleh pengenal jenis lokal Bapak Jance Ainusi dan seorang ahli Botani Belanda Ir. Faber. 3 Pada tahun 1956 dilakukan pemetaan areal hutan Gunung Meja seluas 360 Ha oleh Kantor Agraria Manokwari. 4 Sesuai rencana pengembangan fungsi kawasan yang dibuat oleh pemerintah, maka untuk mencapai semua tujuan pengembangan fungsi kawasan dibutuhkan areal seluas 700 hektar. Realisasi pengelolaan kawasan tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana yang ditetapkan, karena situasi politik Pemerintah Belanda untuk meninggalkan Nederland Neuw Guinea (Tanah Papu. sekitar tahun 1960-an. Pada tahun 1963, kewenangan pengelolaan kawasan Hutan Gunung Meja diserahkan dari pemerintah Belanda kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat dan selanjutnya, berdasarkan surat keputusan Gubernur Irian Barat tahun 1963, kawasan dipertahankan sebagai kawasan lindung dengan fungsi utama adalah Hutan Lindung Hidroologis. Upaya pengelolaan yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan pada saat itu terbatas pada pengamanan hutan dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar hutan. Tidak tersedianya data sehingga informasi pengelolaan hutan Gunung Meja dalam periode 1963 sampai 1980-an tidak dapat dideskripsikan, namun demikian pengelolaan tetap dilaksanakan oleh pemerintah yang bertumbuh pada fungsi kawasan sebagai hutan lindung. Tabel 1. Sejarah Penetapan Taman Wisata Alam Gunung Meja Tahun Uraian Legalitas Larangan melakukan penebangan di Instruksi Kepala Pemangku Hutan hutan Gunung Meja Kunjungan Kepala Seksi Inventarisasi Hutan. Ketua Komisi Kesepakatan Luas Areal yang diusulkan Pertanian dan Kepala Pemangku sebagai kawasan lindung, yaitu 360 ha. Hutan Ke Gunung Meja Pendaftaran Hutan Gunung Meja Lembaran Negara Nomor 73 Tahun 1954 pada Ordonansi Perlindungan Tanah Penetapan Hutan Gunung Meja Surat Keputusan Gubernur Nederland sebagai Hutan Lindung dengan Nieuw Guinea Nomor 158 Tanggal 25 fungsi Hidroorologis seluas 358,50 Mei 1957 Hutan Gunung Meja sebagai Hutan Surat Keputusan Gubernur Irian Barat 1963 Lindung Hidrologis telah berlaku Nomor 44/GIB/1963 dengan luasan 468,50 Ha September 1963 Hutan Lindung Gunung Meja Keputusan Menteri Pertanian No. 1980 dirubah menjadi Hutan Wisata 19/Kpts/Um. I/1980 tanggal 12 Januari Alam dengan luas 500 Ha Taman Wisata Alam dengan luas Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 462,16Ha Menhut-II/2012 tanggal 3/02/2012 CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Di tahun 1980-an hutan lindung Gunung Meja dirubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No : 19/Kpts/Um/I/1980. Sejak saat itu, kewenangan pengelolaan kawasan yang Dinas Kehutanan dialihkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II melalui Seksi Konservasi Wilayah Manokwari. Perubahan fungsi ini didasarkan pada beberapa pertimbangan dan rekomendasi yang diberikan oleh pemerintah daerah, yaitu kawasan hutan ini letaknya strategis dekat pusat kota Manokwari dan mudah diakses, memiliki nilai keindahan alam yang artistik dan situs sejarah bangsa. Selain hutan ini diharapkan akan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) dan juga penambah devisa negara pada sektor kepariwisataan selain sektor lainnya. Upaya-upaya yang dilakukan dengan adanya perubahan fungsi kawasan menjadi Taman Wisata Alam Gunung Meja adalah, sebagai berikut : Tahun 1982 dilakukan penataan batas kawasan oleh Sub Balai Planologi Kehutanan VI Maluku Papua. Luas kawasan secara definitif 460,25 dengan panjang pal batas kawasan adalah 10,97 Km. Tahun 1990 dilakukan rekonstruksi tata batas Kawasan oleh Sub. Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Manokwari dengan luasan dan panjang pal batas yang sama pula. Kegiatan pembangunan home stay proyek kawasan lindung Kegiatan masyarakat di kampung Ayambori Kegiatan pemeliharaan pal batas Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sejak tahun 1980-an hingga saat ini belum ada yang terkait langsung dengan pengelolaan kawasan sesuai fungsinya sebagai taman wisata alam. Kegiatan yang dilakukan hanya berupa upaya pengamanan hutan, penyuluhan dan penyadaran kepada masyarakat sekitar Kecuali, pembangunan Tugu Jepang Dinas Pariwisata Kabupaten Manokwari sebagai obyek wisata sejarah atau situs sejarah perang dunia II dalam kawasan sebagai upaya memperkaya objek wisata sejarah. Pada tahun 2012 kawasan Taman Wisata Gunung Meja SK. 91/Menhutll/2O12 kawasan ini tetap dipertahankan sesuai fungsinya, namun mengalami 462,16 Pengelolaan tetap saja dilakukan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya berdasarkan rencana pengelolaan yang mempertahankan eksistensi kawasan dengan mengoptimalkan fungsinya sebagai taman wisata alam. Letak. Luas dan Batas Wilayah Kawasan Taman Wisata Gunung Meja secara geografis terletak pada 134A03Ao17Ay Ae 134A04Ao05Ay Bujur Timur dan 0A51Ao29Ay - 0A52Ao59Ay Lintang Selatan. Luas kawasan hutan ini 462,16 Ha dan terletak di tengah di kota Manokwari sehingga cukup strategis terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan. Taman Wisata Alam Gunung Meja berada pada . yaitu distrik Manokwari Barat dan distrik Manokwari Timur. Pada kedua distrik ini mencakup 5 wilayah kelurahan masing-masing kelurahan Amban, kelurahan Padarni, kelurahan Manokwari Timur, kelurahan Manokwari Barat dan kelurahan Pasir Putih. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Batas-batas wilayah Taman Wisata Gunung Meja sebagai berikut. Sebelah Utara: Pantai Laut Pasifik Sebelah Selatan: Kota Manokwari Sebelah tenggara: Kelurahan pasir putih Sebelah Barat Laut: Kelurahan Amban Iklim Berdasarkan data iklim yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah Stasiun Meteorologi Kelas i Manokwari selama 20 tahun terakhir . 4 Ae 2. , diketahui bahwa kawasan TWA Gunung Meja seperti halnya wilayah tropis lainnya memiliki kondisi iklim sumber daya alam. Jumlah curah hujan tertinggi di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja pada tahun 2012 yaitu 2978 mm dan terendah pada tahun 2003 yaitu 1572 mm. Rataan hari hujan berkisar antara 11,70 sampai 21,05 hari dengan intensitas hujan tertinggi pada tahun 1994 yaitu 17,97 mm/hari hujan dan terendah pada tahun 2008 dan 2010 masing-masing 7,2 mm/hari. Temperatur atau suhu udara di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja dan sekitarnya berkisar antara 27,0AC sampai 27,32AC. Suhu udara tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2002, 2003, 2004, 2007, 2008 dan 2010 yaitu 27,3AC dan terendah pada tahun 2001 yaitu 27,0AC. Rataan kelembaban udara di kawaan hutan ini dan sekitarnya berkisar antara 81,17% sampai 84,25% dengan kelembaban udara tertinggi pada tahun 2001 sebesar 84,25% dan terendah pada tahun 2009 yaitu 81,17 %. Berdasarkan data curah hujan ditabulasikan berdasarkan kriteria bulan basah, bulan sedang dan bulan kering sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Bulan Kering. Bulan Lembab dan Bulan Basah di Kawasan Taman Wisata Gunung Meja dan Sekitarnya Selama 20 Tahun Terakhir . Bulan kering Bulan lembab Bulan basah Tahun (<60 m. Ae 100 m. (>100 m. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Jumlah Rataan 1,75 Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Manokwari . Penentuan bulan basah dan bulan kering menggunakan kriteria Schmidt dan Fergusson . dalam Sinery . sebagaimana terlihat pada tabel di atas. Asumsi dasar pengelompokkan ini yakni bahwa bulan kering adalah bulan dengan curah hujan <60 mm, bulan lembab adalah bulan dengan curah hujan 60Ae100 mm, dan bulan basah adalah bulan dengan curah hujan >100 Perbandingan rataAerata bulan basah dengan bulan kering yang dinyatakan dalam % . ilai Q). Nilai Q Jumlah bulan kering x 100% Jumlah bulan basah x 100% = 22,01% Gambaran tentang klasifikasi tipe iklim berdasarkan sistem klasifikasi Schmidt dan Fergusson dapat dilihat pada Tabel Tabel 3. Klasifikasi Tipe Iklim di TWA Gunung Meja Menurut Sistem Schmidt dan Fergusson Tipe Iklim Nilai Q (%) 0 Ae < 15,3 15,3 Ae < 33,3 33,3 Ae <60 60 Ae < 100 100 Ae < 167 167 Ae < 300 300 Ae < 700 >700 7,95 Sesuai hasil analisis data curah hujan di atas, kawasan Taman Wisata Gunung Meja memiliki tipe iklim termasuk tipe iklim tropik basah dengan nilai Q = 15,3 Ae <33,3. Topografi dan Kelerengan Kawasan yang berada pada ketinggian antara 16 - 210 m dpl bergelombang ringan ke arah timur dan bergelombang berat dari timur ke arah barat dengan puncak tertinggi . uncak Bona. A210 meter dpl. Pada sisi bagian selatan dan utara terdapat beberapa tempat yang tebing karang terjal dan lereng yang curam. Pada puncak terdapat daerah yang relief yang kecil hampir datar menyerupai permukaan meja sehingga kawasan ini dinamakan Gunung Meja (Tafelber. Fisiografi lahan dengan tebing karang terjal dan berteras pada sisi sebelah selatan ke barat laut kawasan merupakan wilayah penyebaran mata air. Kondisi areal TWA Gunung Meja memilik kelas kelerengan datar . -8%) sampai sangat curam (>40%). Kondisi kelas lereng secara rinci dapat dilihat pada Lampiran Peta Kelerengan TWA Gunung Meja. Menurut Peday . kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja memiliki kondisi fisiografi yang cukup bervariasi. Fisiografi tersebut mencakup wilayah berkelerengan 0 Ae 8% . seluas 188,70 . %), berkelerengan 8 Ae 15 % . seluas 41,42 ha . %), wilayah berkelerengan 15 Ae 25 % . gak cura. seluas 179,50 ha . %), wilayah berkelerengan 25 Ae CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 40 % . seluas 32,22 ha . %) dan wilayah berkelerengan >40 % . seluas 4 ha . ,41%). Agak kelerengan wilayah berkisar antara datar sampai sangat curam. Geologi dan Tanah Berdasarkan wilayah Manokwari kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Departemen Pertambangan Energi dan Bureau of Mineral Resources. Geology and Geophysics. Departmen of Primary Industrial and Energy Australia diketahui bahwa kawasan taman Wisata alam Gunung Meja dilalui Formasi Manokwari (Qp. yang merupakan formasi batuan yang terdiri atas batu gamping terumbu, kalsirudit, kalkarenit, dan batupasir, konglomerat breksi nakabahan, dan gampingan. Menurut Leppe dan Tokede . Liborang . BBKSDA . , kawasan ini terdiri atas jenis batuan sedimen neogen dengan variasi tanah pasir dan tanah liat Tanah pasir tanpa batu berwarna coklat kemerah-merahan, tanah liat berpasir dengan batu berwarna coklat kemerah- merahan, tanah liat berpasir di atas batuan karang berwarna coklat kemerah-merahan, tanah liat kemerah-merahan tanpa batu dan tanah kemerah-merahan dengan batu serta tanah liat kemerah-merahan di atas batu karang. Dari jenis-jenis tersebut batu gamping merupakan sistem geologi yang menjadi pertimbangan lain nantinya dalam pengelolan hutan ini sesuai Surat Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral No. 1456/20/MEM/2000 Pemanfaatan Perlindungan Kawasan Karst. Hal tersebut didasarkan pentingnya kawasan karst sebagai ekosistem spesifik untuk eksistensi flora dan fauna spesifik. Terkait dengan fungsi karbon, maka pelestarian ekosistem Karst merupakan pelestarian jasa lingkungan berupa penyerapan karbondisoksida di udara secara alami. Menurut Cahyadi . dalam Sinery (Sinery, 2. karbondioksida diawali dengan larutnya karbondioksida (CO. di dalam air dan membentuk H2CO3. Sifat larutan H2CO3 yang tidak stabil akan mudah terurai menjadi HCO32- dan H dan HCI O3-. Proses kesetimbangan reaksi kimia tertentu dan setiap pelarutan 1000 kg batu gamping (CaCO. pasti diikuti oleh penyerapan karbondioksida (CO. sebanyak 120 kg. Menurut Ko . dalam Sinery . ekosistem Karst sangat penting bagi kehidupan karena ekosistem ini berfungsi sebagai pemasok air bagi Hal tersebut dipertegas PBB (UN) yang mengemukakan bahwa 25% persediaan air bagi kebutuhan penduduk dewasa ini dipasok dari sumber air karst (Sinery, 2. Gambaran secara rinci menganai sifat fisik tanah di bawah lima jenis tegakan hutan dan tanah kosong pada kedalaman 20 cm di Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja dapat dilihat pada Tabel 4. Tanah di hutan TWA Gunung Meja tanahnya digolongkan kedalam empat jenis tanah dan umumnya memiliki lapisan atas . op soi. yang sangat tipis (< 30 c. Tanah tersebut adalah tanah liat, tanah berkapur, tanah berbatu dan tanah berkarang. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Tabel 4. Sifat fisik Tanah pada di Kawasan Taman Wisata Gunung Meja Fraksi Jenis tegakan/ Klasifikasi tutupan lahan tekstur tanah Pasir (%) Debu (%) Liat (%) Calophyllum sp. Liat berdebu Koordersiodendron sp. Liat berdebu Palaquium sp. Lempung berdebu Tectona grandis Lempung liat berdebu Hutan alam Lempung berdebu Tanah kosong Lempung liat berdebu Sumber : Liborang . Manusawai . Perbedaan jenis tanah tersebut terlihat juga oleh perbedaan vegetasi yang tumbuh diatasnya. Tekstur tanah pada kawasan hutan TWA Gunung Meja adalah lempung berliat, liat berdebu, lempung liat berdebu dan liat, dengan kandungan liat berkisar antara 27,58 Ae 61,18 %, debu 35,04Ae52,97 % dan pasir 2,12 Ae 28,32 %. Tanah bersifat agak masam . H berkisar 5,94Ae6,. sampai netral . H berkisar 6,71Ae6,. Corganik tersedia berkisar sangat rendah sampai tinggi. N-total tersedia berkisar sangat rendah sampai rendah. P205 tersedia berkisar sedang sampai tinggi. Kapasitas Tukar Kation (KTK) tersedia berkisar rendah sampai sedang. Ca tersedia rendah sampai sedang. Mg tersedia berkisar sedang sampai tinggi. K tersedia berkisar rendah sampai sedang. Na tersedia berkisar rendah sampai sedang dan kejenuhan basa (KB) tersedia berkisar rendah sampai Berdasarkan kondisi sifat tanah tersebut, diketahui bahwa jenis tanah di kawasan ini tergolong jenis tanah marginal dengan tingkat kesuburan sangat rendah sampai sedang. Aksesibilitas Perjalanan menuju lokasi TWA Gunung Meja tidak sulit karena mempunyai aksesibilitas yang Kebijakan meningkatkan aksesibilitas antara ibu Kabupaten pedalaman sangat mendukung dalam mengakses di TWA Gunung Meja. Aksesibilitas menuju kawasan TWA Gunung Meja dapat ditempuh melalui jalan darat, air dan udara. Saat ini transportasi jalan darat menuju kawasan hutan ini cukup potensial baik antar distrik maupun maupun antar Peningkatan fasilitas jalan terus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menunjang penyelanggaraan Untuk transportasi udara prasarana bandara Rendani dengan telah beroperasinya maskapai penerbangan berbadan besar/jet seperti Expres Air. Lion Air (Boing 737-. dan Garuda. Tidak terbatas saja pada peningatan fasilitas pelabuhan udara, namun pembangunan perhubungan laut juga diprioritaskan untuk fasilitas pelabuhan laut Manokwari. Pelabuhan Manokwari disinggahi oleh Kapal Pelni, yaitu KM. Labobar. KM. Sinabung. KM. Ngapulu. Banyaknya dijadikan acuan untuk memperkirakan jumlah wisatawan yang datang. Nilai Estetika Nilai estetika kawasan TWA Gunung Meja perpaduan antara posisi kawasan Manokwari. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 keanekaragaman flora dan fauna Menurut BBKSDA Papua Barat . Manusawai . posisi kawasan Manokwari, keanekaragaman flora dan fauna serta nilai historis merupakan nilai keunikan yang penuh kerahasiaan dan keajaiban ciptaan Tuhan. Kota Manokwari memiliki keunggulan alami karena secara geografis mempunyai panorama dengan nilai keindahan alam yang sangat unik. Terletak sepanjang pantai Teluk Doreri dan dihiasi dua pulau kecil "Pulau Lemon dan Mansinam" di Sedangkan pada belakang kota di pagari hijauan pepohonan, tebing yang terjal dan curam membentuk suatu gugusan bukit yang indah (Gunung Mej. Apabila kita memandang lebih jauh ke arah Selatan Barat Daya membentang pegunungan Afrak yang Bentangan alam ini, baik berupa pulau di depan Teluk Doreri, jajaran pegunungan Afrak dan Gunung Meja merupakan kawasan penyangga (Buffer zon. Kota Manokwari terhadap kejadian dan gejala alam yang mungkin tejadi. Menurut BBKSDA Papua Barat . letak kawasan Gunung Meja yang berbatasan dengan wilayah kota Manokwari kepariwisataan yang cukup potensial. Keunggulan dan keunikan ini semakin diperkuat oleh karakteristik fisiografi lahan Gunung Meja yang melatarbelakangi kota. Merupakan jajaran pegunungan elevasi tertinggi 110 meter di atas permukaan laut yang di beberapa sisinya ditutupi tebing yang terjal dan lereng yang curam menampakan panorama alam yang indah. Panorama yang sama jika kita berada pada salah satu sisi tertinggi di kawasan sejauh mata memandang tampak panorama laut dengan pantai pasir putih dan pantai karang serta laut yang dikelilingi Nilai estetika tersebut akan lebih mengagumkan lagi bila keanekaragaman serta keendemikan flora-fauna keterwakilan . type hutan tropis dataran rendah yang hampir dijumpai di sepanjang pantai utara pulau New Guinea. Keunikankeunikan tersebut menjadi daya tarik bagi penjelajah alam dan pemerhati Daya tarik ini akan semakin kuat apabila dipadukan dengan nilai sejarah yang terkandung dalam kawasan, karena Gunung Meja dapat menjadi saksi sejarah dari zaman Belanda. Jepang dan zaman Sekutu dalam masa penjajahan di tanah ini. Potensi estetika tersebut yang menjadi dasar utama menetapkan Gunung Meja sebagai salah satu Manokwari dengan fungsi utama Wisata Alam. Keunggulan dan keunikan potensi alam inilah yang perlu ditumbuhkembangkan untuk memperkaya nilai kepariwisataan meningkatkan pendapatan daerah serta penunjang kebutuhan hidup Potensi Taman Wisata Alam Gunung Meja Tutupan Lahan Berdasarkan hasil tumpang susun . data citra satelit dan peta kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja (SK Menhut No. 91/MenhutII/2. dan beberapa peta tematik seperti peta jaringan jalan Papua Barat, data sebaran kampung Papua Barat dan CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 data tata batas TWA Gunung Meja tahun 2011 serta beberapa data lainnya diketahui, bahwa ada beberapa tipe tutupan lahan di TWA Gunung Meja dan didominasi oleh tipe tutupan lahan hutan primer yang merupakan salah satu potensi pengembangan kawasan ini. Hasil anylisis dan pengamatan menunjukkan bahwa hutan primer merupakan tipe tutupan lahan paling luas di wilayah TWA Gunung Meja yaitu seluas 357,98 ha atau 77,46% dari luas TWA ini dan tersebar secara merata di kawasan hutan ini. Struktur dan komposisi jenis yang cukup bervariasi menjadikan hutan ini kaya akan jenis-jenis vegetasi hutan seperti jenis-jenis tumbuhan berkayu, liana dan Demikian halnya dengan asosiasi jenis yang tinggi baik flora maupun Struktur vegetasi jelas terlihat menunjukkan adanya formasi jenis-jenis tertentu di hutan ini. Kondisi tersebut menjadikan hutan ini potensial sebagai dipertimbangkan terkait pengembangan wisata dan pendidikan serta penelitian. Hutan tanaman merupakan tipe tutupan lahan yang lebih luas setelah hutan primer dengan luas areal 54,27 ha atau 11,74% dari luas kawasan TWA. Hutan ini terbentuk sebagai upaya peningkatan nilai kawasan sebagai laboratorium alam melalui penyediaan berbagai vegetasi bernilai ekonomi. Hutan ini berada di bagian utara di membentang dari arah utara menuju selatan, termasuk pada bagian barat kawasan TWA ini. Jenis-jenis tanaman yang ditanam pada kawasan ini terdiri atas Tectona Pometia Koordersiodendron Palaquium Colophyllum Tajuk vegetasi yang merata pada bebera jenis tegakan menjadikan pemandangan tersendiri bagi pengunjung yang memasuki kawasan ini sebagaimana dideskripsikan secara rinci selanjutnya. Areal bekas kebun merupakan tipe tutupan lahan terluas selanjutnya setelah hutan primer dan hutan tanaman. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa luas areal bekas kebun di kawasan TWA Gunung Meja adalah 25,92 ha atau 5,61% dari luas kawasan hutan konservasi ini. Areal kebun tersebut tersebar pada bagian selatan dan timur kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. ArealAeareal tersebut merupakan areal bekas kebun yang diusahakan oleh masyarakat sekitar kawasan yang pada beberapa waktu mendatang akan diusakan kembali. Diharapkan arealareal tersebut dapat dipertimbangkan secara baik dalam rencana pengelolaan agar dapat ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya dimasa mendatang. Tipe tutupan lahan selanjutnya yang diidentifikasi di TWA Gunung Meja adalah areal kebun. Berdasarkan hasil anylisis, diketahui bahwa luas areal kebun di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja 15,73 ha atau 3,40% dari luas TWA Gunung Meja. Areal tersebut tersebar pada bagian barat dan selatan dari kawasan konservasi ini. Kebun-kebun tersebut diusahakan oleh masyarakat sekitar kawasan dan merupakan suatu potensi terkait eksistensi kawasan sehingga perlu dilakukan pengelolaan secara baik dimasa mendatang sehingga terwujud keharmonisan pengelolaan bersama Tutupan lahan lainnya adalah areal tanah terbuka dan fasilitas penunjang pengelolaan TWA seperti jalan, jaringan listrik dan pemancar telekomunikasi . Hasil anylisis CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 menunjukkan, bahwa luas areal tanah terbuka di TWA Gunung Meja 3,41 ha atau 0,7% dari luas kawasan ini. Areal tanah terbuka terdapat di bagian selatan kawasan TWA dan merupakan dampak kegiatan penggalian material batuan dan Areal tersebut nantinya perlu dilakukan pengelolaan secara baik sehingga dapat menunjang fungsi kawasan TWA sebagai areal konservasi. Jaringan listrik juga merupakan tipe diidentifikasi dengan luas areal 2,42 ha atau 0,5% dari luas TWA Gunung Meja. Fasilitas ini terdapat di bagian timur kawasan TWA mengikuti arah jalan raya menuju ke wilayah Litbang Kehutanan dan Kampung Ayambori. Tutupan lahan selanjutnya berupa jalan dengan luas areal 2,370 ha atau 0,5% dari luas kawasan taman wisata ini. Jalan di TWA Gunung Meja merupakan tipe tutupan lahan yang membentang dari arah utara (Kampung Ambo. (Perumahan Dosen Amba. dan menuju barat TWA (Kampung Ayambori dan Litbang Kehutana. Jalan koridor tersebut merupakan peninggalan masa Perang Dunia II, namun masih dalam kondisi baik dan dimanfaatkan untuk akses menuju kawasan ini. Kondisi jalan umumnya baik, namun di beberapa lokasi ada kerusakan sehingga perlu diperbaiki. Tutupan lahan terkahir yang diidentifiasi sesuai luasannya . Luas areal ini tower di kawasan TWA Gunung Meja adalah 0,05 ha atau 0,01 % dari luas TWA Gunung Meja. Fasilitas tower tersebut berada di bagian selatan kawasan TWA di pinggir jalan meunju Kampung Ayambori. Potensi pendukung pengelolaan TWA Gunung Meja lainnya adalah tower . enara pemanca. dengan luas 054 ha. Berbeda dengan tipe tutupan lahan lainnya, areal tower sangat kecil karena terbatas pada luas bangunan tower yang terdapat di sekitar Ayambori. Keberadaan fasilitas ini sangat penting bagi masyarakat sekitar kawasan termasuk pengunjung sehingga dalam pengelolaannya perlu perhatiaan yang Flora dan Fauna Taman Wisata Alam Gunung Meja merupakan salah satu kawasan hutan yang memiliki potensi flora dan fauna serta ekosistem yang cukup Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa potensi flora yang terdapat di kawasan ini terdiri atas tumbuhan semak, perdu dan herba, liana daPn rotan, angrek . , paku-pakuan, bambu dan palem serta tumbuhan berkayu baik pada hutan alam maupun hutan tanaman. Menurut BBKSDA Papua Barat kawasan TWA Gunung Meja terdapat 2 . tegakan hutan, yaitu tegakan hutan alam . dan tegakan hutan Tegakan hutan alam terdapat pada bagian Utara dan bagian Timur kawasan TWA Gunung Meja. Hutan primer Berdasarkan data hasil penelitian diketahui bahwa kawasan Taman Wisata Gunung Meja memiliki potensi vegetasi hutan yang cukup tinggi. kawasan hutan ini diidentifikasi 223 jenis vegetasi hutan yang mencakup 159 jenis vegetasi tingkat pohon, 149 jenis vegetasi tingkat tiang, 164 jenis vegetasi tingkat pancang dan 177 jenis vegetasi tingkat semai. Jenis-jenis vegetasi hutan tersebut diantaranya Pometia coreacea. Pimelodendron Pometia Pterygota Haplolobus lanceolata. Spathiostemon javensis. Koordersiodendron pinnatum. Euodia dan berbagai jenis lainnya CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 sebagaimana tercantum pada Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3 dan Gambar 4. Gambar 1. Indeks Nilai Penting 10 Jenis Vegetasi Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Gunung Meja Gambar 2. Indeks Nilai Penting 10 Jenis Vegetasi Tingkat Tiang di Taman Wisata Alam Gunung Meja Gambar 3. Indeks Nilai Penting 10 Jenis Vegetasi Tingkat Pancang di Taman Wisata Alam Gunung Meja Gambar 4. Indeks Nilai Penting 10 Jenis Vegetasi Tingkat Semai di Taman Wisata Alam Gunung Meja CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Berdasarkan sebagaimana terlihat pada gambar diatas menunjukkan bahwa dari jenis-jenis vegetasi hutan yang diidentifikasi pada tingkat pohon Pometia coreacea merupakan jenis yang dominan dengan INP selanjutnya diikuti Pimelodendron Pometia Pterygota horsfieldia dan jenis-jenis Selanjutnya jenis-jenis dengan INP Tetrameles nudiflora. Prunus sp. Praenea limpato. Spondias cytherea. Pouteria obovata. Litsea timoriana. Garcinia picrorrhiza. Fluggea Archidendron parviflorum. Artocarpus vriesianus. Campnosperma Baccaurea papuana dan Calophyllum Pada tingkat tiang seperti halnya pada tingkat pohon, didominasi oleh Pometia coreacea dengan INP tertinggi selanjutnya diikuti Pometia coreacea. Alstonia scholaris. Pimelodendron Koordersiodendron pinnatum dan berbagai jenis lainnya. Kondisi bahwa Pometia coreacea merupakan jenis yang memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi tempat tumbuh . sebagaimana tergambar dari kehadiran individu maupun penyebaran individu didalam petak pengamatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selain memiliki jumlah individu yang banyak, penyebaran individu jenis ini hampir dijumpai pada semua petak pengamatan yang menggambarkan adanya distribusi individu cukup merata pada hutan ini. Selanjutnya diidentifikasi 27 jenis vegetasi lainnya dengan INP terendah seperti Pisonia cauliflora. Paraltropis glabra. Pangium edule dan jenis Pada tingkat pancang tidak seperti halnya pada tingkat pohon dan tiang Pometia Pada tingkat ini didominasi oleh Medusanthera laxiflora dengan INP tertinggi selanjutnya diikuti Gymnacranthera Palaquium amboinensis. Parartocarpus venenosus dan berbagai jenis lainnya. Kondisi Medusanthera merupakan jenis yang memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi tempat tumbuh . pada tingkat ini, namun tidak berkembang dengan baik khususnya pada tingkat tiang dan pohon. Selanjutnya diidentifikasi 27 jenis vegetasi lainnya dengan INP terendah seperti Pisonia cauliflora. Paraltropis glabra. Pangium edule dan jenis Pada tingkat semai seperti halnya pada tingkat tiang dan pohon, didominasi oleh Pometia coreacea dengan INP tertinggi selanjutnya diikuti Lepiniopsis ternantensis. Palaquium amboinensis dan berbagai jenis lainnya. Kondisi bahwa Pometia coreacea merupakan jenis yang memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi tempat tumbuh . sebagaimana tergambar dari kehadiran individu maupun penyebaran individu didalam petak pengamatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selain memiliki jumlah individu yang banyak, penyebaran individu jenis ini hampir dijumpai pada semua petak pengamatan yang menggambarkan adanya distribusi individu cukup merata pada hutan ini. Menurut Wahyudi . Pometia spp merupakan jenis dapat tumbuh pada tempat yang kadang-kadang tergenang air, pada tanah berpasir, berlempung, berkarang dan batu cadas. Habitat tempat tumbuh jenis ini dimulai dari kondisi kelerengan datar, bergelombang ringan sampai curam dengan ketinggian wilayah sampai 120 m dpl. CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Secara umum vegetasi hutan khususnya hutan alam cukup potensial pada kawasan TWA Gunung Meja. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tegakan hutan alam di kawasan hutan ini mencakup potensi 300 individu /ha, pancang 904 individu/ha, tiang 867 individu /ha dan pohon 186 individu /ha dengan luas areal sampling 100 ha. Hal tersebut berbeda dengan Leppe dan Tokede . yang menyatakan bahwa tegakan hutan alam pada bagian Utara dari kawasan hutan ini memiliki potensi semai 22. 250 individu /ha, pancang 1. 580 individu /ha, tiang 240 individu/ha dan pohon 124 individu/ha, sedangkan pada bagian Timur kawasan TWA Gunung Meja memiliki potensi semai 10. individu/ha, pancang 2. 133 individu/ha, 130 individu/ha dan pohon 131 individu/ha. Disebutkan lebih lanjut bahwa kawasan ini memiliki kekayaan flora yang cukup tinggi dan 40 jenis diantaranya merupakan jenis penghasil buah-buahan yang dapat dikonsumsi. Menurut Smith . dalam Sinery . , bahwa struktur suatu tegakan hutan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor penyusunnya, seperti faktor biotik dan Gambar 5. genetik yang dimiliki setiap spesies pohon dan faktor lingkungannya. Struktur tegakan hutan selalu berubah menurut waktu, perubahan tersebut disebabkan oleh adanya kecepatan dari pertumbuhan dan kematian yang berupa kecepatan pertumbuhan diameter pohon dalam kelas diameter, adanya variasi ruang tumbuh yang diperlukan dalam pertumbuhan pohon, dan sebaran tegakan yang diperoleh. Gambaran tingkat diversitas vegetasi hutan alam di kawasan ini yang mencakup vegetasi tingkat pohon, tiang, pancang dan semai sebagai gambaran kemantapan komunitas digambarkan melalui Indeks Keanekaragaman Jenis (H) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5. Hasil keanekaragaman jenis vegetasi hutan alam sebagaimana terlihat pada gambar diatas menunjukkan, bahwa indeks keanekaragaman jenis vegetasi hutan alam di TWA Gunung Meja tertinggi pada tingkat pohon . dan terendah pada tingkat semai . Kriteria indeks keanekaragaman atau derajat keanekeragaman jenis menurut Odum . dalam Sinery dkk . bahwa keanekaragaman jenis dinilai tinggi bila H>3, sedang bila 1 Blok ini dimulai dari arah utara . atas arboretu. menuju arah selatan sampai batas jalan menuju Kampung Ayambori dan dari bagian timur . atas jaringan listri. menuju barat sampai batas kebun-kebun masyarakat . lok Luas areal blok ini kurang lebih 325,437 ha atau 66,36% dari luas kawasan. Blok ini diharapkan menjadi kawasan yang potensial untuk dilindungi dari semua bentuk kegiatan. Blok Penyangga (Buffer Zon. Areal yang diarahkan sebagai blok penyangga . uffer zon. kawasan TWA Gunung Meja adalah areal yang berfungsi menunjang eksistensi blok inti dan berbatasan dengan blok Areal blok penyangga merupakan areal aktivitas kebun/ladang dan areal bekas kebun. Areal dimaksud tersebut sebagian besar terdapat di bagian selatan, bagian barat dan wilayah bagian timur kawasan TWA. Arahan blok ini seluas 104,42 atau 22,59% dari luas kawasan dan membentang dari batas pinggiran blok perlindungan sejauh 100 Ae 250 meter menuju blok Selain areal kegiatan kebun/ladang kebun/ladang areal yang diarahkan penyangga adalah Areal tersebut terdapat di bagian utara, bagian barat dan sebagian di sepanjang jalan menuju arah selatan serta sebagian lagi di bagian selatan kawasan TWA. Blok ini diupayakan dengan kegiatan revegetasi pada lahanlahan yang terbuka. Blok Pemanfaatan Arahan merupakan suatu konsekwensi dari pemanfaatan lahan yang telah dilakukan dan belum diakomir didalam SK Menhut No. 91 /Menhut AeII/2012 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja Distrik Manokwari Barat Dan Manokwari Timur. Kabupaten Manokwari. Provinsi Papua Barat Seluas 462,16 (Empat Ratus Enam Puluh Dua Dan Enam Belas Perseratus Hekta. Pengelolaan diupayakan agar memberi ruang bagi masyarakat . hususnya dalam kawasa. untuk terlibat sebagai unit pengelola khususnya potensi penunjang kegiatan wisata dan secara langsung mengurangi potensi ancaman. Blok pemanfaatan diarahkan untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan lahan yang dilakukan oleh masyarakat dan kegiatan pembangunan fasilitas Kegiatan dimaksud meliputi jalan koridor, areal lokasi jaringan listrik, areal sarana telekomunikasi, areal potensi wisata meliputi tugu jepang dan goa alam dan buatan yang akan dikembangkan untuk menunjang pengembangan wisata sebagai kegiatan utama dalam program pengelolaan Selain itu diupayakan untuk melakukan pengembangan pertanian intensif melalui Kampung Organik Secara pengembangan kegiatan dimaksud akan dilakukan secara kolaborasi dalam masyarakat dan menjaga eksistensi CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 Upaya direncanakan sebagai program kerja yang akan dikoordinir secara langsung oleh BBKSDA sebagai lembaga teknis . pengelolaan Tamn Wisata Alam Gunung Meja. Luas blok pemanfaatan kurang lebih 51,06 ha atau 11,05% dari luas TWA Gunung Meja, sebagaimana terlihat pada Gambar 29. Blok ini diharapkan untuk tidak mengalami perubahan yang semakin besar, sebaliknya diupaayakan agar mengoptimalkan semua input produksi dalam pengembangan komiditi yang akan dikembangkan oleh masyarakat. Penyusunan Program Kegiatan Berdasarkan Blok Pengelolaan Menurut Sinery . legalitas sebenarnya mencakup tiga hal pokok, yaitu perlindungan sistem penyangga keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam beserta ekosistemnya. Beranjak program pengelolaan TWA Gunung Meja sesuai fungsi kawasan dilakukan melalui beberapa kegiatan, sebagai Pembinaan habitat dan populasi flora-fauna dan ekosistem pada pemanfaatan hasil hutan non kayu masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah suatu sumber daya alam yang bernilai ekonomis misalnya dengan pengembangan kampung organik pada blok Pendayagunaan potensi ekowisata terutama tugu jepang, hutan alam, hutan tanaman dan goa serta jasa lingkungan terutama air untuk peningkatan ekonomi dengan tetap keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kelestarian alam. Mengakomodasi penelitian dan pengembangan serta kegiatan pendidikan dan latihan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan status, keterampilan dan pemahaman petugas (Polisi Kehutana. terhadap perlindungan, sumber daya alam. Kerjasama badan pengelola dengan perguruan tinggi terkait pendataan potensi sosial, termasuk potensi usaha guna dikembangkan untuk peningkatan ekonomi. Penyuluhan dan pelatihan bagi masyarakat sekitar secara rutin dan menciptakan jenis-jenis usaha sehingga membantu mencarikan jalan keluar bagi ketergantungan terhadap kawasan hutan seperti kegiatan kampung organik dan kegiatan lainnya. Meningkatkan program pendidikan lingkungan hidup bagi masyarakat sekitar kawasan untuk lebih meningkatkan pemahaman dan rasa memiliki terhadap kawasan. Pengawasan dan Penegakan Hukum Meningkatkan pengawasan/pengamanan kawasan secara rutin dengan melibatkan pihak pemerintah daerah (Dinas Kehutana. , pihak keamanan dan pihak lainnya termasuk masyarakat. Mengoptimalkan sarana dan prasarana termasuk tenaga dan dana CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 pengawasan dalam pengelolaan Mengoptimalkan pengamanan kawasan melalui Optimalisasi penegakan hukum melalui pemberian sanksi guna memberi efek jera terhadap pelakupalaku terkait degradasi kawasan. Meningkatkan ruang partisipasi bagi para pihak dalam upaya penanganan kasus. Gambaran tentang arahan blok pengelolaan dan kriteria pertimbangan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Arahan Blok. Penetapan Kriteria dan Rencana Pengelolaan Blok Kriteria Rencana Pengelolaan Pengelolaan - Hutan primer, areal sumber - Pembinaan habitat dan populasi mata air dan goa alam, goa flora-fauna dan ekosistem buatan, daerah berkelerangan - Mengakomodasi > 45%. penelitian dan pengembangan serta Perlindungan - Mempertahankan proses kegiatan pendidikan dan latihan (Lindun. ekologis potensi kawasan - Peningkatan - Memiliki luas areal yang pengawasan/pengamanan kawasan cukup . ,437 h. - Pengembangan - Areal hutan yang membatasi - Mendukung proses ekologis blok blok lindung dan blok lindung dan pengembangan blok - Areal aktivitas kebun/ladang - Optimalisasi kegiatan revegetasi dan areal bekas kebun areal-areal Penyangga - Luas 104,42 ha . uffer zona - Fungsi perlindungan dengan kegiatan revegetasi pada lahan-lahan yang terbuka - Areal jalan koridor, lokasi - Pendayagunaan potensi ekowisata jaringan listrik, areal sarana terutama tugu jepang, hutan alam, hutan tanaman dan goa serta jasa - Areal potensi wisata meliputi lingkungan terutama air tugu jepang dan goa alam dan - Pengembangan pertanian intensif Pemanfaatan (Kampung Organi. - Luas 51,06 ha - Menunjang CASSOWARY volume 3 . : 153 - 191 KESIMPULAN Taman Wisata Alam Gunung Meja merupakan salah satu kawasan konservasi yang secara fisik memiliki kondisi iklim, topografi, kelerengan, tanah, mata air dan air serta tutupan hutan . utan alam dan tanaman 89,2%) sehingga potensial untuk menunjang pengelolaan sumber daya alam baik flora, fauna, ekosistem dan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, namun diperhadapkan dengan sejumlah ancaman terkait eksistensi kawasan akibat letak kawasan yang berada di tengah kota Manokwari. Potensi keanekaragaman hayati baik flora pada hutan alam yang cukup tinggi . jenis /100 h. , mencakup 159 jenis pohon . individu/h. , 149 jenis tiang . individu/h. , 164 jenis pancang . 904 individu/h. dan 177 jenis semai . 300 individu/h. , fauna yang mencakup 15 jenis mamalia . jenis dilindung. , 35 jenis burung . kadal, 3 ampibia, 9 jenis ular dan 1 jenis kura-kur. dan 14 jenis insekta . jenis dilindung. dan potensi vegetasi hutan tanaman yang mencakup 101 jenis pohon, 89 jenis tiang, 147 jenis pancang dan 162 jenis semai yang potensial menunjang pengelolaan kawasan dalam fungsi wisata, pendidikan dan penelitian serta sosial ekonomi dan budaya. Sejumlah masyarakat dari 5 keluruhan di sekitar Taman Wisata Alam Gunung Meja dengan jumlah 916 jiwa . 729 kepala keluarg. memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan kawasan sebagai Ayamfos atau dapur hidup . empat berkebun, sumber protein nabati dan hewani, sumber air bersih, tempat usaha ekonomi pertanian dan larangan/tempat masyaraka. sehingga potensial untuk dikelola secara baik guna menunjang rencana pengelolaan kawasan. Pemanfaatan kawasan Gunung Meja sesuai fungsinya sebagai TWA belum dilakukan secara baik akibat mekanisme pengelolaan yang bersifat umum . anpa sistem blo. sehingga berdampak terhadap eksistensi kawasan akibat kegiatan pertanian, pembangunan fasilitas umum seperti jaringan listrik, sarana telekomunikasi, pembuangan sampah dan pengambilan tanah dan pembangunan rumah. Arahan dilakukan meliputi pembentukan blok pengelolaan, pembentukan lembaga koordinasi (Mitra TWA Gunung Mej. , berdasarkan blok pengelolaan dan penegakan hukum. DAFTAR PUSTAKA