ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Arsitektur Redundan pada Agrowisata Bambu Sungai Redundant Architecture in Bambu Sungai Agro-Tourisme Anggi Ahmad FauziA dan Sri Prasetya WidodoA AProgram Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Mpu Tantular AProgram Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Mpu Tantular Aunitprime006@gmail. Awwd3972@gmail. Abstract The development of agro-tourism as a strategy to strengthen food security and local economic resilience requires an adaptive architectural approach. Global food security issues have become a national urgency, especially post-pandemic, exposing the vulnerability of logistics supply chains and rural economies. However, double dependency on agriculture and tourism sectors carries when one sector is hit, regional economic stability is threatened. An interesting phenomenon occurred at the Bambu Sungai Agro-tourism study site, where operational data in 2020 showed harvest failure up to 70% due to extreme weather factors, yet the remaining 30% of surviving harvest was able to cover all capital costs. This study aims to formulate a multifunctional agro-tourism facility design using a redundant architecture approach. This research uses a Mixed Methods approach with an Exploratory Sequential Design strategy. The research method uses a qualitative-descriptive approach through literature review, site observation, and policy analysis, this approach was chosen because the research begins with qualitative phenomenon exploration which is then analyzed quantitatively for architectural space programming needs, and collected data were synthesized using SWOT analysis. The findings indicate that redundant architecture enhances land-use efficiency and local economic resilience. Three key findings from this design are: . Spatial Redundancy allows one space to serve multiple functions . roduction and recreatio. so that land efficiency . System Redundancy ensures facility operations run independently during city utility disruptions. Physical Integration with the Merah Putih Cooperative creates a tangible economic safety net for local farmers. This design research concludes that the Redundant Architecture concept acts as an effective solution in facing climate and economic uncertainty, where redundancy is no longer interpreted as inefficiency, but as a resilience strategy. Keywords: agro-tourism, redundant architecture, food security, local economy. Abstrak Pengembangan agrowisata sebagai strategi penguatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal memerlukan pendekatan perancangan adaptif. Isu ketahanan pangan global telah menjadi urgensi nasional, terutama pascapandemi Covid-19 yang mengekspos kerentanan rantai pasok logistik dan ekonomi masyarakat pedesaan. Namun, ketergantungan ganda pada sektor pertanian dan pariwisata ini membawa risiko tersendiri. ketika satu sektor terpukul, stabilitas ekonomi kawasan terancam runtuh. Fenomena menarik terjadi di tapak studi Agrowisata Bambu Sungai, di mana data operasional tahun 2020 menunjukkan kegagalan panen hingga 70% akibat faktor cuaca ekstrem, namun sisa 30% hasil panen yang selamat ternyata mampu menutup seluruh biaya Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan fasilitas agrowisata multifungsi dengan pendekatan arsitektur redundan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Metode Campuran (Mixed Method. dengan strategi Exploratory Sequential Design. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur, observasi tapak, serta analisis kebijakan, pendekatan ini dipilih karena penelitian diawali dengan Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 eksplorasi fenomena kualitatif yang kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk kebutuhan pemrograman ruang arsitektur, dan data yang terkumpul disintesis menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur redundan meningkatkan efisiensi lahan dan ketahanan ekonomi Tiga temuan kunci dari perancangan ini adalah: . Redundansi Spasial memungkinkan satu ruang melayani berbagai fungsi . roduksi dan rekreas. sehingga efisiensi lahan meningkat. Redundansi Sistem menjamin operasional fasilitas tetap berjalan mandiri saat terjadi gangguan utilitas kota. Integrasi Fisik dengan Koperasi Merah Putih menciptakan jaring pengaman ekonomi yang nyata bagi petani lokal. Penelitian perancangan ini menyimpulkan bahwa konsep Arsitektur Redundansi mampu menjadi solusi efektif dalam menghadapi ketidakpastian iklim dan ekonomi, di mana redundansi tidak lagi dimaknai sebagai inefisiensi, melainkan sebagai strategi ketahanan. Kata kunci: agrowisata, arsitektur redundan, ketahanan pangan, ekonomi lokal. Pendahuluan Isu ketahanan pangan global telah menjadi urgensi nasional, terutama pasca-pandemi Covid-19 yang mengekspos kerentanan rantai pasok logistik dan ekonomi masyarakat pedesaan. , . Di Indonesia, wilayah peri-urban seperti Kabupaten Purwakarta memegang peranan vital sebagai penyangga produksi pangan bagi kota-kota besar di sekitarnya. Kecamatan Wanayasa, yang secara geografis terletak di dataran tinggi Purwakarta, memiliki karakteristik unik sebagai kawasan agropolitan sekaligus destinasi wisata alam . Namun, ketergantungan ganda pada sektor pertanian dan pariwisata ini membawa risiko tersendiri. ketika satu sektor terpukul, stabilitas ekonomi kawasan terancam runtuh. Fenomena menarik terjadi di tapak studi Agrowisata Bambu Sungai di Desa Tanjak Nangsi. Wanayasa. Berdasarkan data operasional tahun 2020, lahan seluas A6000 mA tersebut mengalami kegagalan panen hortikultura hingga 70% akibat faktor cuaca ekstrem dan hama. Secara teoritis, angka kegagalan ini seharusnya menyebabkan kerugian finansial total. Namun, data menunjukkan fakta sebaliknya: sisa 30% hasil panen yang selamat ternyata mampu menutup seluruh biaya modal/BEP (Break Even Poin. dan bahkan memberikan margin keuntungan yang signifikan . Anomali data tersebut mengindikasikan adanya potensi "resiliensi tersembunyi" pada tapak, yang belum dikelola secara optimal. Jika dalam kondisi krisis . anen 30%) lahan tersebut masih menguntungkan, maka optimalisasi melalui intervensi arsitektur yang tepat berpotensi melipat gandakan nilai ekonomi dan sosial kawasan. Permasalahan desain yang muncul adalah bagaimana merancang fasilitas fisik yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi mampu mengakomodasi ketidakpastian tersebut. Arsitektur konvensional yang cenderung kaku dan monofungsi . dinilai tidak lagi relevan menghadapi era disrupsi iklim dan ekonomi saat ini . Penelitian ini mengusulkan penerapan konsep Arsitektur Redundansi sebagai solusi perancangan. Dalam ilmu rekayasa dan ekologi, redundansi sering disalahartikan sebagai "pemborosan", namun dalam konteks resiliensi, redundansi adalah strategi kritis penyediaan sistem cadangan atau fungsi berlapis untuk mencegah kegagalan sistem total . Melalui penelitian ini, konsep redundansi akan ditranslasikan ke dalam desain agrowisata yang mengintegrasikan fungsi produksi pertanian, edukasi, dan pariwisata berbasis komunitas melalui kemitraan dengan Koperasi Merah Putih. Tujuan dari penelitian perancangan ini adalah menghasilkan masterplan dan desain skematik agrowisata yang adaptif, di mana ruang-ruang yang terbentuk memiliki fleksibilitas fungsiAiberubah peran saat kondisi normal maupun saat terjadi krisisAisehingga menjamin keberlanjutan ekonomi masyarakat Wanayasa. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar 1 Lokasi dan Kondisi Eksisting Agrowisata Bambu Sungai Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Metode Campuran (Mixed Method. dengan strategi Exploratory Sequential Design. Pendekatan ini dipilih karena penelitian diawali dengan eksplorasi fenomena kualitatif . tudi kasus kegagalan panen dan potensi tapa. yang kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk kebutuhan pemrograman ruang arsitektur. Tahapan penelitian dibagi menjadi dua fase utama: Fase Eksplorasi Kualitatif: Meliputi observasi lapangan langsung ke tapak Agrowisata Bambu Sungai di Wanayasa untuk memetakan kondisi fisik . opografi, hidrologi, vegetas. dan wawancara mendalam dengan pengelola serta petani lokal terkait pola tanam dan risiko kegagalan panen. Studi literatur dan preseden dilakukan terhadap objek sejenis seperti Green School Bali . rsitektur bamb. dan Desa Wisata Bromo . isata berbasis Fase Perancangan (Problem Solvin. : Data yang terkumpul disintesis menggunakan analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. untuk merumuskan konsep Arsitektur Redundansi. Konsep ini kemudian diterjemahkan ke dalam gubahan massa, zonasi, dan sistem utilitas bangunan. Lokasi penelitian berada di Jalan Raharja. Desa Tanjak Nangsi. Kecamatan Wanayasa. Kabupaten Purwakarta, dengan luas tapak perencanaan A6000 mA. Analisis peraturan mengacu pada Perda Kabupaten Purwakarta No. 11 Tahun 2012 tentang RTRW dan PP No. 110 Tahun 2015 tentang Usaha Wisata Agro Hortikultura . Hasil Dan Pembahasan Analisis Tapak dan Potensi Wilayah Kecamatan Wanayasa ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dengan fungsi ganda sebagai kawasan Minapolitan . dan Perkotaan Hijau. Tapak Agrowisata Bambu Sungai memiliki kontur berbukit dengan elemen alam yang kuat: aliran sungai di sisi selatan, rumpun bambu eksisting, dan tebing batu di sisi timur. Orientasi tapak memanjang dari Barat ke Timur, memberikan keuntungan paparan sinar matahari maksimal untuk area pertanian. Tantangan utama tapak adalah aksesibilitas melalui Jalan Raharja yang merupakan jalan sekunder dengan lebar terbatas, menuntut strategi manajemen sirkulasi yang efisien di area entrance. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar 2. Peta Lokasi dan Kondisi Eksisting Tapak Agrowisata Bambu Sungai Berdasarkan analisis tapak, ditemukan bahwa elemen sungai dan bambu bukan sekadar estetika, melainkan aset Sungai berpotensi sebagai sumber irigasi mandiri . edundansi ai. dan wahana wisata . iver tubin. , sedangkan bambu merupakan material konstruksi berkelanjutan yang tersedia melimpah di lokasi . okalitas materia. Ae. Implementasi Konsep Arsitektur Redundansi Konsep utama "Resiliensi Produktif" diterjemahkan ke dalam desain melalui tiga strategi redundansi: Redundansi Program (Multifungsi Spasia. Berbeda dengan zonasi kaku pada umumnya, desain ini menerapkan overlapping function . , . , . Tabel 1 menunjukkan analisis program ruang yang dirancang untuk beradaptasi terhadap skenario normal dan krisis. Tabel 1 Skema Redundansi Program Ruang Zona Publik Fasilitas Utama Farm Market Fungsi Normal (Wisata Ramai/Panen Sukse. Toko Ritel & Souvenir Wisatawan Semi-Publik Resto & Cafe Area Kuliner Komersial EduProduksi Rekreasi Lahan Tani Wisata Petik Buah & Edukasi Fungsi Redundan (Wisata Sepi/Gagal Pane. Pusat Distribusi & Logistik Pangan (Koperas. Balai Pelatihan Petani & Ruang Pertemuan Warga Area Camping Ground & Produksi Intensif Sungai Wahana Wisata Air Sumber Irigasi Darurat & Konservasi Air Redundansi Sistem (Utilitas Cadanga. Bangunan dirancang untuk tidak bergantung pada satu sumber daya . ff-grid read. - Sistem Air: Menggabungkan PDAM/Sumur Bor . dengan sistem pemanenan air hujan . ainwater harvestin. dan filtrasi air sungai . untuk irigasi . - Sistem Energi: Menggunakan jaringan PLN . yang didukung oleh panel surya atap dan potensi mikrohidro dari aliran sungai . untuk penerangan area vital. Redundansi Ekonomi (Integrasi Kelembagaa. Desain fisik Farm Market diintegrasikan dengan operasional Koperasi Merah Putih. Program nasional ini berfungsi sebagai offtaker . embeli siag. Ruang ini dilengkapi dengan Cold Storage dan area pengepakan . acking Keberadaan fasilitas ini menjamin bahwa meskipun tidak ada wisatawan yang datang . eperti saat pandem. , hasil tani tetap terserap pasar melalui jalur distribusi digital yang dikelola koperasi . Dan menjamin keberlanjutan ekonomi masyarakat Wanayasa . , . Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Struktur bangunan menggunakan sistem rangka bambu awetan . reated bambo. dengan sambungan baut baja, memungkinkan kemudahan penggantian komponen . jika terjadi kerusakan, yang merupakan prinsip dasar redundansi struktur. Area tepi sungai dipertahankan sebagai zona hijau penyangga . uffer zon. selebar 1015 meter untuk mencegah erosi dan menjaga ekosistem air, sesuai prinsip konservasi dalam PP No. 67 Tahun 1996 . Analisis Kelayakan Desain (SWOT) Penerapan desain diuji kembali menggunakan matriks SWOT untuk memastikan validitas solusi arsitektur terhadap masalah awal. Tabel 2 Analisis Strategis Desain (SWOT) Aspek Strengths (Kekuata. Weaknesses (Kelemaha. Opportunities (Peluan. Threats (Ancama. Analisis Tapak & Desain Pemanfaatan kontur alami untuk view dan gravitasi irigasi. Penggunaan material bambu lokal menekan jejak karbon dan biaya konstruksi. Integrasi fungsi produksi dan rekreasi dalam satu tapak. Akses jalan yang terbatas membatasi volume kendaraan besar . us pariwisat. , sehingga desain parkir difokuskan pada kendaraan pribadi dan shuttle kecil. Dukungan regulasi "Perkotaan Hijau" dan program Koperasi Merah Putih memberikan landasan legal dan finansial yang kuat bagi operasional fasilitas. Perubahan iklim ekstrem tetap menjadi ancaman bagi struktur bambu di luar ruang, diantisipasi dengan detail arsitektur perlindungan atap . yang lebar. Hasil perancangan menunjukkan bahwa dengan menyediakan fasilitas multifungsi, luasan bangunan efektif dapat ditekan, menyisakan lebih banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) produktif. Area yang pada musim tanam digunakan untuk produksi sayur, pada masa jeda tanam atau gagal panen dapat beralih fungsi menjadi area outbond atau camping ground, menjaga arus kas . tetap positif sepanjang tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan konsep arsitektur redundan pada Agrowisata Bambu Sungai memungkinkan terciptanya ruang-ruang multifungsi yang adaptif. Area pertanian dapat berfungsi sebagai ruang edukasi dan rekreasi, sementara fasilitas pendukung mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan Gambar 3 Skema Konsep Arsitektur Redundan pada Agrowisata Kesimpulan Penerapan arsitektur redundan dalam perancangan Agrowisata Bambu Sungai memberikan kontribusi signifikan terhadap fleksibilitas fungsi, ketahanan ekonomi, dan keberlanjutan kawasan. Konsep ini berpotensi menjadi alternatif pengembangan agrowisata di wilayah agraris Indonesia. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Penelitian perancangan ini menyimpulkan bahwa konsep Arsitektur Redundansi mampu menjadi solusi efektif dalam menghadapi ketidakpastian iklim dan ekonomi di kawasan agrowisata. Melalui perancangan Agrowisata Bambu Sungai di Wanayasa, redundansi tidak lagi dimaknai sebagai inefisiensi, melainkan sebagai strategi ketahanan . Tiga temuan kunci dari perancangan ini adalah: . Redundansi Spasial memungkinkan satu ruang melayani berbagai fungsi . roduksi dan rekreas. sehingga efisiensi lahan meningkat. Redundansi Sistem menjamin operasional fasilitas tetap berjalan mandiri saat terjadi gangguan utilitas kota. Integrasi Fisik dengan Koperasi Merah Putih menciptakan jaring pengaman ekonomi yang nyata bagi petani lokal. Desain ini diharapkan dapat menjadi model rujukan bagi pengembangan agrowisata berbasis komunitas di Indonesia yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Ucapan Terima Kasih