Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 Pembelajaran Guru PAUD Jabodetabek: Studi Terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Guru PAUD JABODETABEK Tahun 2014/20151 1,2,3 Fidesrinur, 2Nurfadilah, 3Nila Fitria Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja. Jakarta 12110 Penulis untuk Korespondensi/E-mail: fideza@uai. Abstrak - Perkembangan pendidikan anak usia dini berkembang dengan pesat. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari konteks pembelajaran yang dilakukan di lembaga PAUD. Konteks pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai factor, . sarana prasarana,. tenaga pendidik, sekolah, . tenaga kependidikan, dan factor psikologis lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD Jabodetabek. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti serta diperkuat melalui triangulasi data melalui observasi dan wawancara pengurus dan pendidik PAUD, orang tua, dan masyarakat sekitar sekolah. Terdapat 21 lembaga PAUD dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : pertama, terdapat 85% pembelajaran dilakukan dengan konteks pembelajaran klasikal, kedua, terdapat beberapa factor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD, yaitu: . luas lahan yang tidak memenuhi standar . kompetensi pendidik yang kurang mengeksplore potensi anak didik . biaya pendidikan yang bersaing dengan lembaga PAUD lainnya dan . sarana prasarana yang sangat minim. Kata Kunci: Penguasaan Pembelajran. Pendekatan Pembelajaran. Pendidikan Anak Usia Dini. Guru Abstract - The development of early childhood education is growing rapidly. It certainly can not be separated from the context of learning conducted in PAUD institutions. The context of learning is influenced by various factors, . infrastructure, . educators, schools, . education personnel, and other psychological factors. The purpose of this study is to determine the factors that affect learning early childhood teachers Jabodetabek. This research is analytic descriptive, the data is described by using descriptive statistics, and interpreted in depth based on the perspective of emik is the presentation of data naturally without doing a manipulation or treatment of the subject under study and strengthened through triangulation of data through observation and interviews of PAUD administrators and educators, parents, and communities around the school. There are 21 PAUD institutions in this study. Based on the result of the research, it can be concluded that firstly, 85% of learning is done with the context of classical Secondly, there are several factors influencing the learning of early childhood teachers: . the area of land that does not meet the standard . educational costs that compete with other early childhood institutions and . infrastructure facilities are very Keyword - Learning Mastery. Learning Approach. Early Childhood Education. Teacher Paper ini telah diseminarkan di seminar internasional Au International Conference of Early Childhood Education 2015 (ICECE ) Universitas Padang pada tanggal 20-21 September 2015 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 PENDAHULUAN Latar Belakang nak usia dini adalah anak usia lahir sampai dengan 8 tahun. Pada usia tersebut pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat kritis karena akan berpengaruh pada kehidupan manusia selanjutnya. Oleh karena itu. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh anak dengan memberikan stimulasi di berbagai aspek perkembangan. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini telah banyak diteliti para ahli. Satu di antaranya adalah Lindsey . alam Arce 2000:. , yang mengungkapkan bahwa perkembangan jaringan otak dan periode perkembangan kritis secara signifikan terjadi pada tahun-tahun usia dini, dan perkembangan tersebut sangat ditentukan oleh lingkungan dan pengasuhan. Pentingnya PAUD juga dikemukakan oleh Feldman . bahwa masa balita merupakan masa emas yang tidak akan berulang karena merupakan masa paling penting dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi. Kenyataan ini memperkuat keyakinan bahwa pendidikan dasar bagi anak seyogianya dimulai sedini mungkin, tidak hanya di usia pendidikan dasar 9 tahun dimana setelah sebagian besar kemungkinan pengembangan potensi anak mulai berkurang. Penelitian tentang otak menunjukkan sampai usia 4 tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 50%, pada usia 8 tahun mencapai 80%, dan sisanya sekitar 20% diperoleh pada saat berusia 8 tahun ke atas. Artinya apabila pendidikan baru dilakukan pada usia 7 tahun atau sekolah dasar stimulasi lingkungan terhadap fungsi otak yang telah berkembang Otak difungsikan tidak hanya membuat anak kurang cerdas tetapi dapat mengurangi optimalisasi potensi otak yang seharusnya dimiliki oleh Optimalisasi potensi anak sebagaimana dikemukakan di atas sangat tergantung pada lingkungan yang membentuknya mulai dari keluarga, masyarakat dan utamanya sekolah yang dipersiapkan khusus untuk pendidikan. Yussen & Santrock . mengatakan bahwa kemampuan sosialisasi anak sangat terkait dengan orang-orang di sekeliling anak yang disebut agen sosial, yaitu setiap orang berhubungan dengan seorang anak misalnya ayah dan ibunya, pengasuh, teman sebaya, guru dan keluarga lainnya dan orang tersebut mempengaruhi cara anak berperilaku. Dalam kaitan itu pula Feeney . mengemukakan bahwa sebagian besar nilainilai dan pelaksananan program pendidikan anak tumbuh dari nilai anak dalam suatu masyarakat yang diadopsi secara turun temurun, di antaranya juga dipengaruhi oleh pemimpin agama, pembaharu masyarakat, dan pendidik di masa sebelumnya. Para ahli pendidikan di Indonesia meyakini bahwa penyebab rendahnya kualitas manusia Indonesia pembelajaran yang bersifat kognitif dan mengabaikan afektif dan psikomotorik. Pengabaian terhadap pengembangan sikap dan perilaku serta keterampilan ini terlihat pada orientasi pembelajaran anak usia dini pada menulis membaca dan berhitung (Calistun. Padahal calistung dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat abstrak sementara pembelajaran PAUD semestinya bersifat pengalaman langsung dan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada dasarnya upaya untuk memperkenalkan belajar melalui bermain sudah sering disosialisasikan baik dalam bentuk seminar maupun kegiatan diklat berjenjang. Bahkan belajar melalui bermain merupakan salah satu materi ajar yang menjadi bagian dari Diklat berjenjang tersebut, dan salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum. Pendekatan pembelajaran tidak mungkin hanya pada perbaikan paradigma guru tentang belajar melalui bermain tetapi terkait kebutuhan orang tua dan tuntutan lulusan PAUD saat memasuki SD. Pada saat ini kursus untuk anak usia dini guna meningkatkan kemampuan calistung menjamur di seluruh pelosok negeri guna memenuhi tuntutan pasar yang serba instan. Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini dihadapkan pada permintaan pasar seperti permintaan orang tua, sekolah maupun masyarakat yang diawali dengan tuntutan masuk Sekolah Dasar. Permintaan sekolah Dasar misalnya, lulusan PAUD diharapkan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 sudah dapat membaca, menulis dan berhitung (Calistun. Merujuk kenyataan di atas diketahui bahwa pendekatan pembelajaran anak usia dini sangat bersifat sistemik. Pola pemikiran masyarakat yang serba instan dalam mendidik anak ini bertentangan dengan tujuan pendidikan anak usia dini yang bersifat holistik sehingga pendidikan bagi anak seutuhnya tidak dapat berkembang dengan baik. National Association for the Education of Young Children (NAEYC) atau Asosiasi Pendidikan Anak Usia Dini Nasional Amerika Serikat mengemukakan tiga dasar pemikiran dalam pengambilan keputusan profesional tentang anak usia dini: . pengetahuan perkembangan anak dan pembelajaran, pengetahuan tentang umur dalam hubungannya dengan karakteristik manusia sebagai dasar untuk memprediksi tentang rentangan umur dan kegiatan yang akan dilakukan, materimateri, interaksi, pengalaman yang aman, sehat, menarik, dapat dikuasai dan juga manatang bagi anak. pengetahuan tentang kekuatan, minat dan kebutuhan masing-masing individu anak dalam kelompok penyesuaian diri dan merespon perbedaan yang ada. pengetahuan tentang konteks sosial dan kultural dimana anak berada yang mendorong pengalaman pembelajaran yang bermakna, relevan dan penghargaan terhadap partisipasi anak dan keluarganya (Gestwicki, 2007:. Sehubungan dengan hal yang dikemukan di AyPEMBELAJARAN GURU PAUD Jabodetabek: Studi terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Guru PAUD Jabodetabek Tahun 2014/2015Ay dapat memecahkan permasalahan pendidikan anak Tujuan Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk pembelajaran guru PAUD Jabodetabek sehingga dapat diperkirakan dampak pendidikannya terhadap anak dalam pengembangan potensi anak secara . Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD Jabodetabek sehingga dapat faktor-faktor negatif yang berdampak pada anak dapat diminimalisir. Untuk mengetahui apakah yang melatar belakangi perbedaan pola guru PAUD Jabodetabek dalam pembelajaran PAUD. Ruang Lingkup Adapun bentuk kegiatan adalah pelatihan parenting, dengan fokus pada perkembangan aspek psikososial dalam bentuk pendidikan karakter serta pelatihan terkait perkembangan kognitif anak melalui Pelatihan Orangtua Anak Usia Dini. Pelaksanaan pelatihan akan dibagi menjadi beberapa sesi pertemuan agar dapat memberikan waktu bagi para peserta untuk mengaplikasikan materi yang diperoleh dan dievaluasi pada pertemuan berikutnya. TINJAUAN PUSTAKA Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Orang tua dan masyarakat umumnya melihat keberhasilan belajar melalui sesuatu yang mudah diamati seperti membaca, menulis dan Hal ini ironis sekali dengan ditimbulkan anak justru disebabkan karena kurangnya perhatian pada hal-hal yeng bersifat abstrak seperti sosial, emosial, seni yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran anak usia dini. Berkaitan dengan itu Schikendanz . 1:xi. mengemukakan bahwa manusia tidak sama dengan mobil yang dapat dipereteli untuk dianalisis dan kemudian digabung kembali. Anak sebagai manusia utuh, hidup dengan dunianya, berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya secara Akumulasi pengalaman anak membuat anak seperti adanya hari ini dan seperti apa adanya besok hari. Setiap perilaku mempertimbangkan perkembangan sebelumnya prediktor-prediktor Pembelajaran terjadi karena kebanyakan nilainilai dan pelaksananan program pendidikan anak tumbuh dari nilai yang diperoleh anak dalam suatu masyarakat yang dilaksanakan secara turun temurun (Feeney, 2006:. Nilainilai yang diadopsi secara turun temurun ini juga dipengaruhi oleh pemimpin agama, pembaharu masyarakat, dan pendidik di masa Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 Untuk itu Feeney mengemukakan dua prinsip dalam menyediakan pendidikan bagi anak agar hasil pendidikan dapat lebih didayagunakan: pertama, prinsip kesesuaian perkembangan, kemampuan dan kebutuhan. Kurikulum merupakan jawaban dari kebutuhan Melalui kurikulum, pengembangan anak dapat dilakukan sesuai dengan harapan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu maka kurikulum dalam pemahaman yang luas tersebut merupakan pengalaman penting berupa ide-ide, siapa pendidik, apa yang telah dilakukan pendidik, dan bagaimana pendidik tersebut mempengaruhi kehidupan anak. Zais . menambahkan bahwa kurikulum adalah blue print untuk pendidikan,yang memuat pengalaman-pengalaman yang penting dan terencana untuk anak. Menurut Kurikulum didefinisikan oleh Arce . sebagai keseluruhan pengalaman yang berkaitan dengan sekolah yang berpengaruh pada anak. Dengan perkataan lain, kurikulum adalah pengalaman-pengalaman baik pengalaman yang direncanakan maupun pengalaman yang tidak direncanakan dan kurikulum merupakan hasil dari nilai-nilai dan sikap-sikap dari guru, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat. Sementara itu dalam UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19 dikemukakan bahwa definisi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menyimak pengertian yang dikemukakan di atas maka kurikulum bagi anak usia dini adalah semua pengalaman yang mempengaruhi anak yang terkait dengan sekolah baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan serta hasil dari nilai-nilai dan sikap guru, staf, keluarga, dan masyarakat. Mengingat begitu luasnya pihak yang mempengaruhi anak, maka kurikulum anak usia dini semestinya menggambarkan keluaran pendidikan yang dapat menjadi bekal bagi anak untuk masa Ketika kelak anak menjadi dewasa maka ia akan membutuhkan kemampuan-kemampuan dalam hidupnya, yang menurut Gestwicki . berkomunikasi dengan baik, menghargai dan berhubungan dengan orang yang mempunyai pendapat dan fungsi yang berbeda-beda sebagai anggota suatu masyarakat. kemampuan menganalisa situasi, membuat pertimbangan yang masuk akal, dan memecahkan masalah yang dihadapi. dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, meliputi berbicara menulis dan menggunakan alat dan teknologi yang lebih kompleks dan sedang berkembang. secara terus menerus mempelajari pendekatan, keterampilan, dan pengetahuan yang baru sesuai dengan kondisi dan Semua hal yang dikemukan oleh Gestwicki ini tidak berarti bahwa anak usia dini diberikan informasi yang sama dengan orang dewasa tetapi anak usia dini perlu fondasi untuk menopang kenyataan yang akan mereka temukan di masa depannya nanti. Pengembangan watak anak sebagaimana yang dikemukakan di atas maka NAEYC dalam DAP pentingnya ide-ide kurikulum sebagai berikut: pemahaman tentang anak mesti dikaitkan dengan konteks keluarganya, budayanya, dan masyarakat di sekelilingnya, . anak dan orang dewasa perlu dibantu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam berhubungan dengan orang lain atas dasar kepercayaan, penghargaan, dan sikap positif serta menghargai dan mengakui keunikan masing-masing anak (Arce, 2000:. Makna dan nilai merupakan modal dasar untuk mengembangkan diri anak sesuai dengan perkembangannya kerena itu anak harus diterima sebagaimana adanya. Senada dengan itu Buchfield . mengemukakan bahwa anak harus diterima sebagaimana adanya sebagaimana orang dan pelajar dan ditantang untuk bergerak ke depan berdasarkan kemampuan yang telah dimilikinya. Berhubungan bermakna sebagaimana yang dikemukakan di atas. Bredekamp dan Rosegrant . bahwa kurikulum akan bermakna bagi anak apabila: . kurikulum sesuai dengan gaya dan siklus anak-anak belajar, . perhatikan anak secara keseluruhan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 dan kemudian tetapkan kegiatan sesuai dengan kecenderungan anak, . pahami anak secara mendalam dan kembangkan konsep yang terintegrasi dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, . perhatikan apakah kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, . apakah kegiatan mengacu kepada pengetahuan berbasis disiplin dan mempunyai integritas intelektual, dan merupakan hasil dari pengajaran interaktif. Prinsip-prinsip kurikulum akan memandu pengajaran dan pembelajaran dengan cara yang paling sesuai dengan anak usia dini dan dipastikan dapat menjadikan fondasi yang Pengembangan pendidikan harus menyentuh pikiran dan hati. Oleh karena itu, pendidik perlu memahami bagaimana anak belajar yaitu melalui observasi, eksplorasi, imaginasi, penemuan, penyelidikan, mengumpulkan informasi dan berbagi informasi dari lingkungan yang dekat dengan dirinya (Ministry of Education Singapore, 2003:. Kajian Teori Belajar Melalui Bermain Setiap anak yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas belum tentu mengalami Oleh karena itu Gartrell . mengartikan belajar sebagai apa yang dilakukan individu ketika ia menkonstruksi secara mental makna dari informasi. Belajar adalah pemerolehan pemahaman yang terjadi dalam domain-domain fisik, emosional, kognitif, sosial dan budaya. Proses tempat terjadinya pembelajaran adalah pendidikan baik pendidikan di rumah, di kelas dan di Penjelasan ini menunjukkan bahwa anak memperoleh pemahaman dalam domain fisik, emosional, kognitif, sosial dan budaya Dengan demikian, dukungan terhadap anak dalam bentuk motivasi penting artinya dalam menstimulasi anak dalam belajar. Pengajaran dan pengalaman belajar bagi anak merupakan proses pemaknaan, dimana anak kebanggaan, dan pengetahuan. Pembelajaran bukan hanya sesuatu yang dilakukan anak di sekolah tetapi pilihan-pilihan yang terjadi sepanjang hayat (Burchfiled, 1999:. Selanjutnya Froebel dalam Brewer . bahwa permainan dalam pendidikan anak usia dini merupakan fondasi bagi pembelajaran anak sehingga dapat menjembatani anak antara kehidupan di rumah dan kehidupan anak di sekolah. Kebutuhan perkembangan anak dapat dipahami melalui pemamahaman tentang bagaimana anak berubah baik perubahan dalam bentuk fisik, perilaku, dan perubahan dalam karakteristik Mengajar anak dengan baik berarti pendidik harus mempelajari anak itu sendiri (Arce, 2000:. Oleh karena itu, peran orang tua dari pespektif perkembangan anak dikatakan sebagai bagaimana orang tua memfasilitasi, menyokong dan berkembang sesuai dengan kebutuhan anak, tidak berdasarkan kepada kebutuhan orang tua (Essa, 2003:. Sehubungan dengan permasalahan tersebut di atas Wolfgang . 2:17-. Aujika anda ragu dalam memilih metoda mengajar yang paling baik, apakah pengajaran langsung atau pengajaran berbasis permainanAy. Salah satu caranya adalah dengan sedikit pertanyaan tersebut. Aumetoda manakah yang melakukan praktek sesuai perkembangan anak?Ay. Senada dengan itu Barrel . mengemukakan bahwa kebijaksanaan dalam pengajaran penggunaan konsep pemikiran dalam memaknai pengajaran secara penuh tentang tujuan, strategi dan pilihan-pilihan. Guru yang bijak terbuka terhadap ide yang baru dan tidak terjebak oleh kebiasaan dan rutinitas dan memikirkan segala sesuatunya secara cermat. Guru yang bijak, berupaya mengintegrasikan pikiran dengan Filosofi pendidikan seringkali disalah artikan oleh berbagai pihak termasuk guru. Kegiatan berpusat pada anak seringkali diartikan bahwa anak yang menentukan atau anak mendikte pendidik padahal tujuan kurikulum beorientasi anak mengandung pengertian bahwa keputusan yang diambil dalam pengembangan kurikulum diarahkan sesuai dengan kebutuhan anak dan cara-cara pembelajaran anak tersebut. Esensi dari kurikulum berpusat pada anak adalah pendekatan yang menekankan kepada anak secara utuh (Bredekamp dan Rosegrant, 1999:. Pernyataan Gestwicki ini sekaligus menjawab keraguan para ahli pengembangan kurikulum sebagaimana dikemukakan oleh Kessler yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 mempertanyakan apakah perkembangan anak merupakan kurikulum atau hanya merupakan penentu kurikulum atau hanya sebagai bahan pertimbangan agar praktek sesuai dengan perkembangan (Bredekamp dan Rosegrant, 1999:. Selanjutnya Espinosa . perkembangan anak belum dapat dijadikan sebagai sebuah bukti bahwa guru telah mendidik anak sesuai dengan perkembangan Lebih jauh dari itu, guru harus mempunyai pemahaman yang mendalam tentang bagaimana anak belajar, termasuk apa yang penting bagi anak untuk dipelajari (Espinosa, 1999:. Kurikulum Terintegrasi Pebelajaran selama ini lebih berorientasi kepada pengembangan pembelajaran permata Perkembangan pembelajaran yang mengaitkan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain merupakan pendekatan yang terintegrasi dari berbagai mata pelajaran dalam suatu aktivitas tertentu. Sehubungan dengan integrasi Drake . menemukan bahwa dipertukarkan dalam penggunaannya yang menggambarkan suatu kurikulum yang memnghubungkan berbagai disiplin dalam cara Berkaitan dengan itu Drake . kurikulum terintegrasi dapat dilihat dari berbagai cara, dan implementasi kurikulum terntegrasi juga bersifat unik sesuai dengan Secara umum kombinasi berbagai subjek dapat diintegrasikan sesuai dengan keinginan guru-guru yang terlibat. Barangkali seorang guru mengajar beberapa mata pelajaran melalui konsep atau tema yang bersifat umum. Atau kurikulum terintegrasi barangkali tim guru yang mengkombinasikan kawasan yang dikemukakan oleh para ahli. Kurikulum terintegrasi melalui pendekatan interdisiplin tidak dapat distandarisasikan atau bahkan sering merupakan replikasi atau contoh yang ditiru oleh guru-guru yang lain karena ingin melakukan hal yang sama. Berkaitan dengan itu maka guru harus kreatif, mengembangkan kurikulum sesuai dengan konteks yang relevan. Guru juga dapat mengembangkan kurikulum terintegrasi sesuai dengan kebutuhan anak atau meminta input dari anak tentang apa yang inginmereka Cara-cara untuk menghubungkan antar area subjek bersifat terbatas. Selanjutnya Schickendanz . memakai integrasi lintas domain dalam mengemukkan kurikulum terintegrasi. Lintas menggabungkan dua atau lebih domain konten dalam suatu aktivitas instruksional dan konteks pembelajaran. Untuk memperkuat Schickendanz disamping lintas domain diperlukan integrasi lintas setting. Integrasi lintas setting merupakan penggabungan yang memberikan kesempatan pada pembelajaran anak dalam domain tertentu atau dalam domain ganda yang didukung melalui setting yang bervariasi dalam kegiatan sehari-hari. Lebih jauh lagi Schickendanz . pembelajaran dalam domain konten ganda dan konteks pembelajaran yang beragam dapat membantu guru dalam mengelola waktu dan pembelajaran lebih kuat dan bermakna bagi anak. Selanjutnya menurut Hendrik dan Osborn dalam Kostelnik . mengemukakan bahwa tema membantu anak mengembangkan keseluruhan Melalui tema berbasis program, anak membangun hubungan antara bagian-bagan informasi yang terbentuk abstrak sampai dengan konsep yang kompleks. Mengingat terintegrasi baik terintegrasi domain dan setting pembelajarannya sehingga anak dapat mengoptimalkan kemampuannya melalui akivitas yang beragam. Berkaitan dengan aktivitas anak tersebut Rae . 7:x. perkembangan fisik merupakan hal utama dalam pembelajaran anak, untuk itu ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bahwa: . anak belajar dengan lebih apabila belajar melalui melakukan, seperti bermain, melakukan eksperimen, ekplorasi dan penemuan, . anak belajar secara utuh berarti anak belajar menggunakan pikiran, perasaan, gerak manusia yaitu belajar melalui sensorinya, . gerakan tubuh dapat memengaruhi kesehatan emosional anak. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 kemampuan belajar, dan kinerja intelektual anak, dan . anak akan dapat berpkir dengan baik apabila dalam rutinitasnya sehari-hari menggunakan aktivitas fisik. Berkaitan dengan itu maka konteks pembelajaran merupakan bagian penting dalam mendorong anak untuk belajar lebih mandiri dan bereksplorasi dengan lebh bebas dalam upaya optimalisasi potensi yang dimilikinya. Mengacu kepada pentingnya akativitas anak dalam gerak maka dapat dipahami bahwa Fogarty memakai istilah keterampilan dalam integrasi kurikulum. Menurut Fogarty . 1:x. secara spesifik memakai istilah intergrasi keterampilan, tema-tema, konsepkonsep dan topik-topik interdisiplin yang sama diketahui. Hubungan yang ekplisit ini digunakan untuk mendorong pembelajaran dalam bentuk perilaku yang bersifat holistik sehingga anak dapat menghubungkan ide-ide dari suatu subjek kepada ide dalam suatu subjek lainnya. Penggunaan tema ini menurut Kostelnik . berkembang setelah Dewey mengaitkan kehidupan nyata ke dalam Dalam pengembangan sebuah tema, guru memilih topik yang diyakininya relevan dan diminati oleh anak, kemudian dibangun pembelajaran terkait dengan ide utama tersebut. Lebih Schickendanz mengemukakan bahwa kekuatan kurikulum terintegrasi adalah untuk meningkatkan keseluruhan domain yang terintegrasi secara Untuk itu pengintegrasian pembelajaran guru harus: . memastikan mengambil tindakan untuk mendukung dalam satu domain tidak mengabaikan pembelajaran pada domain lainnya, . mempertimbangkan timing dalam melakukan integrasi, . mempertimbangkan urutan pembelajaran anak dan pengetahuan yang dimilikinya dalam domain yang dipelajari, . memikirkan secara seksama tentang penekanan yang diberikan pada setiap domain, . empertimbangkan integrasi tidak hanya dalam satu pengalaman istruksional, tetapi juga lintas domain dan pengalaman instruksional terkait, dan . berpikir secara pembelajaran ganda, seperti kelompok kecil atau saat di sentra. Bredekamp dalam Kostelnik . mengemukakan beberapa prinsip dalam dan pengimplementasian tematik yaitu: . mengembangkan pengalaman lansung pada objek untuk diperhatikan atau digunakan, . mengembangkan aktivitas yang melibatkan seluruh sensori anak, . membantu mengembangkan pengetahuan baru melalui apa yang telah diketahui dan tekah mengembangkan aktivitas dan rutinitas yang melibatkan semua aspek perkembangan baik kognitif, sosial, emosional, dan fisik, . mengakomodasi kebutuhan anak akan gerak self esteem positif, . memberikan kesempatan untuk menggunakan bermain untuk menterjemahkan pengalaman ke dalam pemahaman, . menghargai perbedaan individual, latar belakang budaya, dan pengalaman anak di rumah yang terbawa anak ke sekolah, dan . menemukan cara untuk melibatkan anggota keluarga anak. Dari uraian yang dikemukan di atas dapat dikemukakan bahwa integrasi domain dalam kurikulum seyogianya diperkuat dengan integrasi setting sehingga anak. Melalui integrasi doamin dan setting dapat diptimalkan efektivitas tujuan kurikulum sekaligus anak memperoleh aktivitas dari berbagai setting yang dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar anak. Efektivitas dan efisiensi pembelajaran untuk mengptimalkan potensi anak sangat dipengaruhi oleh pengembangan konteks belajar yang ada di lembaga PAUD tempat anak dididik dan lingkungan keluarga dimana anak dibesarkan. Konteks Pembelajaran Klasikal Setiap pendekatan pembelajaran mempunyai sendiri-sendiri. Menurut Schickedanz . aktivitas yang bersifat klasikal dapat berupa bernyanyi bersama, membaca puisi bersama, diskusi kelompok tentang fieldtrip, sementara guru memandu dan Untuk membuat diskusi lebih menarik guru dapat menyertakan media dan buku bergambar lainnya. Schickedanz . Langkah-langkah dalam . mempersiapkan pengorganisasian aktivitas dan materi-materi ajar, . cerita guru yang manantang, dengan konten yang kaya dan penuh dengan penjelasan serta pertanyaan yang Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 kritis, . menggunakan kosa-kata yang dimengerti oleh anak, . menghidarkan diri dari percakapan yang panjang dengan satu . emperhatikan Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Schickedanz . Dalam perencanaan tiap siklus sehari-hari, guru mempertimbangkan variasi baik dalam tujuan pembelajaran, lama waktu pembelajaran dan perilaku yang dituntut pada anak. Guru memberikan panduan secara substansi pembelajaran yang diasosiakan melalui lagu atau sajak. Disamping itu lagulagu dan sajak diikuti dengan gerakan atau tindakan-tindakan Pengulanganpengulangan dan dukungan secara fisik dan visual oleh guru dalam mempelajari lagu-lagu dan sajak bagi anak sehingga anak ikut kegiatan dengan rasa nyaman dan aman dalam Schickedanz . Pada saat lingkaran, guru menyeleksi aktivitas-aktivitas yang mempertimbangkan bagaimana urutan aktivitas cocok dengan kebutuhan anak di kelompoknya dan membuat anak tertarik dan terlibat dalam Kegiatan tersebut dapat antara lain dapat berupa: . aktivitas berdiri dan duduk, . aktivitas yang melibatkan tindakan dan berbicara dan aktivitas-aktivitas yang hanya melalui menyimak dan berbicara, . aktivitasaktivitas yang bergiliran dan yang tidak bergiliran, . aktivitas-aktivitas yang dikenal oleh anak dan aktivitas yang kurang dikenal anak atau aktivitas yang sama seklai baru bagi anak, dan . aktivitas dengan bentuk yang berbeda dan tingkat tantangannya bagi anak untuk berpikir. Schickedanz Pertama, penelitian McCartney . terhadap dampak pembelajaran klasikal diantaranya padaa saat lingkaran pembelajaran lebih produktif. Dibeberapa pra sekolah yang dilaksanakan menyelenggaran cerita dan saat lingkaran menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa anak lebih tinggi sementara pada saat guru bercerita lebih bersifat informatif dan kurang terfokus pada larangan-larangan, dan arahan-arahan dari guru. Kedua, hasil kajian Dickinson . percakaan yang bersifat informatif dan percakapan yang menantang di pra sekolah berkaitan erat dengan hasil belajar bahasa yang lebih baik. Ketiga. Hasil penelitian Klibanoff et al, . menemukan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penggunaan kosa kata Matematika dengan pemahaman tentang Matematika anak dari tahun ke tahun. Konteks Pembelajaran Sentra Schickedanz . Saat di sentra paling tidak selama 55-60 menit. Selama berada disentra, anak dapat memilih berbagai macam aktivitas di area yang berbeda-beda. Secara khusus sentra dapat berupa sentra balok, drama, membaca, puzzle, matematika sains, seni dan lain sebagainya. Anak dapat bermain dengan teman-temannya di berbagai area , atau kelompok kecil yang mereka pilih sendiri walaupun jumlah anak dalam suatu sentra umumnya telah ditentukan oleh guru. Schickedanz . Guru dengan aktif terlibat selama saat di sentra, tetapi guru tidak boleh menggunakan sentra untuk pengajaran secara formal. Bahkan guru mengikuti keinginan anak dan merespon anak dengan cara-cara memberi dukungan terhadap pilihanpilihan yang dilakukan oleh anak. Hasil penelitin menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara peningkatan pemahaman bahasa anak dengan pembicaraan guru dengan anak pada saat di sentra. Secara khusus juga ditemukan bahwa tingkat kepahaman bahasa yang tinggi antara anak dan guru berhunbungan dengan tingginya frekuensi percakapan antara guru dan anak, utamanya apabila pembicaran antara guru dan anak tersebut bersifat substatif dan berhubungan dengan aktivitas pembelajaran yang dilakukan anak. Selanjtnya juga ditemukan bahwa terdapat kaitan guru yang berkualitas tinggi dan percakapan dengan anak selama pembelajaran dengan pemahaman membaca anak pada tingkat 4. Schickedanz . Selama di sentra, guru bergerak ke sekeliling kelas berinteraksi dengan anak untuk mendukung pekerjaan dan permainan yang dilakukan oleh anak. Di sentra sering dirancang agar satu atau dua guru dapat bergerak dan berada pada area tertentu sehingga kegiatan anak terus mendapatkan dukungan dari guru. Pergerakan guru di sekeliling kelas mendukung alur aktvitas dan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 dapat membantu hal-hal khusus yang menjadi atau pertanyaan anak. Dimana tempat guru berada juga dapat mengamati sentra yang dekat dengan dirinya. Tentu saja, dinamisasi kealamiahan guru saat di sentra berkomunikasi satu dengan yang lainnya dan menentukan pergerakannya dan perannya dimana diperlukan penting untuk diketahui oleh guru. Isbell . mengemukakan bahwa anak usia dini sebagai pembelajar aktif belajar melalui meraba, merasakan, berskperimen dan Sentra yang efektif didisain untuk menghubungkan dunia anak sebagai pebelajar aktif dan perencanaan untuk mendorong keterlibatan anak dalam pembelajaran. Anak usi dini tertarik dengan dunia dilingkungan dia sentra merupkan representasi simbolik dunia mereka. Dalam dunia sentra ini anak dapat mencobakan berbagai ide dan menata ulang kejadian-kejadian yang sesuai dengan tingkat pemahamannya. Di dalam lingkungan sentra, anak dapat membangun rasa percaya dirinya dan mulai menyadari bahwa ia Di dalam sentra anak juga dapat bekerjasama, memamukan anak berinteraksi lebih sering daripada dari kelompok besar. Anak-anak bekerjasama pada saat memperoleh ide-idenya, berkomunikasi dan bekerja. perkembangan anak secara keseluruhan. Aktivitas di kelas memberikan kepada anak untuk terlibat secara individual, dalam tim dan kelompok kecil. Aktivitas tersebut baik diarahkan oleh guru atau pilihan anak sendiri. Sentra merupakan komponen khusus, . sentra memberikan kesempatan pada anak untuk memilih aktivitas sendiri, . Disentra anak berkesempatan berinteraksi dengan anak lain, . di sentra anak memperoleh kesempatan bekerja secara individual dan dengan berpasangan, membantu anak untuk menjadi lebih mandiri atau belajar bekerja dengan Isbell . sentra merupakan tempat pengintegrasian pembelajaran yang terbaik. Anak berbicara . ahasa ora. , menggunakan keterampilan motorik halus . oordinasi bersifat fisi. , bekerja bersama dalam proyek bersama . eterampilan sosia. , memilih piring pada (Matematik. , bagaimana membuat tempat mandi bagi bayi . , mengikuti arah gambar untuk menyimpan balok . dan membuat . Pembelajaran terjadi pada seluruh are perkembangan selama berada dalam sentra, dengan cara-cara yang bermakna yang cocok bagi pembelajaran anak usia dini. METODOLOGI PENELITIAN Isbell . bermain merupakan salah satu komponem penting dalam menentukan kualitas program pendidikan anak usia dini. merupakan pekerjaan anak dan anak menginginkan bermain. Dalam bermain anak mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dengan mencoba berbagai cara dalam melakukan sesuatudan dalam menentukan pendekatan yang paling tepat. Dalam bermain, mengembangkan dan menyeleksi bahasa pada saat berbicara dan menyimak anak lainnya. Ketika bermain, mereka mempelajari tentang orang lain dan pada saat yang sama mencoba berbagai peran dan berusaha bekerjasama sama dengan orang. Bermain bermanfaat bagi perkembangan anak baik secara intelektual, sosial /emosional dan fisik. Isbell . dalam lingkungan kelas anak usia dini didisain untuk mengembangkan Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti (Bogdan dan Taylor, 1975:. Disamping itu data deskriptif yang diisi oleh pengurus dan pendidik PAUD diperkuat melalui triangulasi data melalui observasi dan wawancara pada pengurus dan pendidik PAUD, orang tua, dan masyarakat sekitar sekolah. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di 20 PAUD yang berada di di Wilayah Jabodetabek. Sedangkan waktu penelitian berlangsung selama 9 . bulan, yaitu dari bulan Maret 2015Ae Nopember 2015. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 Ruang Ligkup dan Objek Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan ruang lingkup dan objek penelitian meliputi hal-hal sebagai berikut: Wilayah penelitian dibatasi pada 20 lembaga PAUD dengan kriteria: Berlokasi di Jabodetabek Memiliki ijin pendirian dan ijin Sasaran Penelitian adalah guru-guru PAUD kecederungannya dalam pembelajaran. Penelitian hanya mengkaji Guru PAUD yang mewakili sebagai pengajar di wilayah Jabodetabek. Data hasil dari tes yang berupa data statistik tersebut kemudian diolah menggunakan program Microsoft Excell. Teknik observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dalam proses pembelajaran sesuai dengan konteks pembelajaran yang dilakukan. Data yang terkumpul melalui observasi merupakan data kuliatatif. Pengumpulan data obesrvasi ini menggunakan pedoman observasi. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian inidigunakan untuk mengumpulkan data berupa jawaban pertanyaan dari butir-butir pertanyaan terhadap konteks pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran yang dijawab oleh guru dan kepala PAUD atau kepala TK. Alat dan Pengumpul Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan panduan wawancara. Temuan Khusus Berikut ini hasil temuan dalam penelitian Pembelajaran Guru PAUD Jabodetabek: Studi terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Guru PAUD Jabodetabek Tahun 2014/2015 Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data selanjutnya diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Temuan Umum Pembelajaran guru PAUD untuk wilayah Jabodetabek memiliki kekhasan dalam konteks Konteks pembelajaran setiap lembaga PAUD dipengaruhi dalam berbagai factor seperti sarana dan prasarana sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan factorfaktor psikologis lainnya. Tiga konteks pembelajaran dalam penelitian ini yaitu pembelajaran klasikal, pembelajaran sentra, dan pembelajaran kelompok kecil. Setelah data dikumpulkan, maka pengolahan data selanjutnya diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis statistic deskriptif dan analisis kualitatif. Analisis Statistik Deskriptif dimana data angket yang diisi oleh responden dianalisis dengan statistic deskriptif guna melihat kecendrungan data tentang persepsi responden sedangkan analisis kualitatif merupakan penjelasan secara deskriptif dari hasil wawancara dan observasi responden. Gambaran Umum Luas Tanah Lembaga PAUD Rata-rata luas tanah lembaga PAUD dari 21 lembaga PAUD adalah 579. 14mA dari 4 lembaga PAUD yang memiliki luas tanah 1500mA - 2500mA dan 17 lembaga PAUD yang memiliki luas tanah 100mA - 650mA. Peraturan Menteri Nomor 137 Tahun 2013 tentang Standar Nasional PAUD pasal 32 menjelaskan bahwa persyaratan pendirian PAUD haruslah memiliki luas lahan minimal 300mA . ntuk bangunan dan laha. Gambaran Umum Luas Bangunan Lembaga PAUD Rata-rata luas bangunan lembaga PAUD dari 21 lembaga PAUD adalah 258. Standar Nasional PAUD yang menjelaskan luas minimal 300mA . ntuk bangunan dan laha. dengan masing-masing ruang kegiatan yang man dan sehata dengan rasio minimal 3mA per anak dan tersedia fasilitas cuci tangan dengan air bersih, memiliki ruang guru, memiliki ruang kepala, memiliki ruang temapat UKS dengan kelengkapan P3K, memiliki jamban dengan air bersih yang mudah dijangkau anak, memiliki fasilitas bermain di dalam dan di luar, memiliki alat permainan edukatif yang aman dan sehat sesuai dengan SNI, dan memiliki tempat sampah yang tertutup. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 Gambaran Umum Jenis Layanan Rata-rata lembaga PAUD memiliki 1 jenis layanan PAUD dalam bentuk Taman KanakKanak (TK)/ RA/BA. Dalam Permen nomor 137 tahun 2013 pasal 36 ayat 2 jenis layanan terdiri dari: Usia lahir Ae 2 tahun dapat melalui TPA dan atau SPS Usia 2 Ae 4 tahun dapat melalui TPA. KB, dan atau SPS Usia 4 Ae 6 tahun dapat melalui Taman Kanak-Kanak (TK)/ Raudatul Athfal (RA)/Bustanul Athfal (BA) Gambaran Umum Jumlah Murid Rata-rata jumlah murid dari 21 lembaga PAUD adalah 57 anak. Gambaran Umum Jumlah Guru Jumlah guru dari 21 lembaga PAUD adalah 132 guru dengan rata-rata 6 orang di setiap lembaga PAUD. Maka rasio untuk tiap lembaga PAUD dari hasil penelitian ini adalah 1: 8. Peraturan Menteri No. 137 Tahun 2913 ayat 36 butir 4 menjelaskan bahwa rasio guru dan anak didik terdiri atas : Usia lahir- 2 tahun : rasio guru dan anak 1 :4 Usia 2-4 tahun : rasio guru dan anak 1:8 Usia 4-6 tahun : rasio guru dan anak 1: Gambaran Umum Pendidikan Guru Jumlah pendidikan guru di lembaga PAUD Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini 65 guru dari 21 lembaga PAUD. Sedangkan pendidikan guru yang lulus program Diploma 2 maupun Diploma 3 berjumlah 16 guru. Guru dengan lulusan SLTA dengan keterangan beberapa guru sedang meneruskan program strata satu berjumlah 6 guru. Kualifikasi akademik guru PAUD diatur dalam Permen Nomor 137 tahun 2013 pasal 25 yang berbunyi Kualifikasi Akademik Guru PAUD: Memiliki ijazah Diploma emapat (D-IV) atau Sarjana (S. dalam bidang pendidikan anak usia dini yang diperoleh dari program studi terakreditasi, atau . Memiliki ijazah diploma emapat (D-IV) atau sarana (S. kependidikan lain yang relevan atau psikologi yang diperoleh dari program studi terakreditasi dan memiliki sertifikat Pendidikan Profesi Guru (PPG) PAUD dari Kualifikasi Akademik Guru Pendamping: Memiliki ijazah D-II PGTK dari Program Studi terakreditasi, atau . Memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat dan memiliki sertifikat pelatihan/ pendidikan/ kursus PAUD jenjang guru pendamping dari lembaga yang kompeten dan diakui Kualifikasi Akademik Guru Pendamping Muda . Memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Dan emiliki sertifikat pelatihan/ pendidikan/kursus PAUD jenjang pengasuh dari lembaga yang kompeten dan diakui pemerintah. Gambaran Umum Konteks Pembelajaran Hasil observasi yang dilakukan terhadap 21 lembaga PAUD. Konteks pembelajaran yang diterapkan lembaga PAUD Jabodetabek adalah Konteks Pembelajaran Klasikal. Menurut Schickedanz . aktivitas yang bersifat klasikal dapat berupa bernyanyi bersama, membaca puisi bersama, diskusi kelompok tentang fieldtrip, sementara guru memandu dan Untuk membuat diskusi lebih menarik guru dapat menyertakan media dan buku bergambar lainnya. Gambaran Pembelajaran Guru PAUD Jabodetabek Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada responden diketahui bahwa gambaran pembelajaran guru PAUD Jabodetabek lebih berorientasi kepada konteks pembelajaran Dari 21 sekolah yang menjadi responden penelitian ini diketahui bahwa 18 sekolah . ,71%) menggunakan konteks pembelajaran klasikal dan sekolah yang melakukan pembelajaran konteks pembelajaran kelompok kecil 1 sekolah . ,76%), sedangkan pembelajaran sentra 2 sekolah . ,52%). Selain itu juga ditemukan bahwa diantara sekolah yang menggunakan pendekatan utama klasikal ini diantaranya ada juga menggunakan pendekatan kelompok dan pendekatan sentra pada kegiatan-kegiatan tertentu. Namun yang menggunakan konteks pembelajaran klasikal Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 dan konteks pembelajaran sentra sebanyak 1 sekolah . ,76%). Dilihat dari hasil angket terkait pelaksanaan pembelajaran yaitu: . kegiatan awal, . kegiatan inti, dan kegiatan akhir: Pertama, kegiatan awal dapat diketahui dengan beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya bernyanyi, membaca doa, absensi, penjelasan tema dan penerapan lingkaran . ircle tim. Dari hasil angket diketahui bahwa bernyanyi dan membaca doa merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh 18 sekolah . %). Kegiatan absensi dan penjelasan tema dilakukan oleh 13 sekolah . %). Kegiatan puisi di dalam kelas adalah kegiatan hanya dilakukan 8 sekolah ( 38%). Kedua, kegiatan inti merupakan kegiatan dimana anak-anak sudah mulai melakukan berbagai aktivitas diantaranya guru harus menyediakan media untuk menjelaskan tema. Selain itu guru juga harus menyediakan aktivitas yang dilakukan oleh anak dan menyiapkan aktivitas yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan perkembangannya. Dari hasil angket dapat ketahui bahwa guru selalu meyiapkan aktivitas untuk dilakukan anak-anak dan anak-anak juga melakukan aktivitas yang dibuat guru serta guru mengawasi anak-anak selama anak-anak melakukan aktivitas. Sebanyak 18 sekolah . %) melakukan kegiatan tersebut. Tetapi masih jarang guru yang menerangkan aktivitas yang akan dilakukan anak-anak, serta meyiapkan kegiatan yang mengajarkan anak untuk antri. Terdapat 13 sekolah dari 21 sekolah . %). Sedikit sekali sekolah yang menyiapkan aktivitas yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan perkembangan anak, sebanyak 7 sekolah . ,3%). Ketiga, kegiatan akhir dalam pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan setelah anak-anak melakukan istirahat . ermain dan makan bersam. Kegiatan akhir dapat melakukan evaluasi pembelajaran kepada anak . enanyakan kegiatan apa saja yang telah dilakukannya hari in. , guru memotivasi anak untuk menyiapkan dirinya untuk dating ke sekolah esok hari. Dari hasil angket dapat diketahui 18 sekolah . %) dalam kegiatan akhir selalu dipimpin oleh guru. Anak belum menjadi bagian dari proses pembelajaran di akhir kegiatan. Guru sudah melibatkan anak dalam melakukan evaluasi maupun bercerita sebanyak 15 sekolah . %). Dilihat dari hasil angket, terkait dengan konteks pembelajaran Sentra dapat dikemukakan dalam 4 lingkungan main: Pijakan Lingkungan Main . pijakan lingkungan sebelum main . pijakan lingkungan saat main . pijakan lingkungan setelah main Pertama, pijakan lingkungan sebelum main mencakup beberapa kegiatan seperti membuat jurnal, menceritakan isi jurnal, guru meminta anak untuk membentuk lingkrang, melakukan doAoa dan bernyanyi, guru mengingatkan aturan yang ada di sentra, dan menyiapkan anak untuk Dari hasil angket dapat dilihat 14% guru sudah memperkenalkan sentra apa saja yang ada di sekolah. Konteks pembelajaran sentra sebanyak 9,5% anak sudah melakukan kegiatan jurnal maupun mencorat coret di kertas serta menceritakan kembali isi jurnal. Kedua, lingkungan saat main merupakan kegiatan dimana anak sudah berada di dalam Di sana terdapat beberapa tempat main dimana anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan sentranya. Di dalam konteks pembelajaran sentra, 19% guru pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema dan guru merespon anak dengan mencari dukungan terhadap pilihan-pilihan yang dilakukan oleh anak. Sebanyak 14% guru yang melakukan konteks pembelajaran sentra sudah melakukan guru menyiapkan aktivitas yang akan dilakukan anak-anak di sentra, guru mengawasi anak-anak selama pembelajaran, guru mendorong minat anak untuk mendukung aktivitasnya baik dalam bentuk perhatian maupun pertanyaan, dan guru juga memotivasi minat anak untuk beraktivitas di sentra lain. Ketiga, lingkungan setelah main merupakan kegiatan dimana anak-anak selesai melakukan aktivitas di sentra serta merapikan mainan yang digunakan ketika melakukan aktivitas . Sebanyak 14% guru sudah melakukan kegiatan di lingkungan setelah main. Kegiatan . engkomunikasikan kegiatan yang dilakukan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 selama bermai. , mendorong kepemimpinan di dalam sentra, guru membiasakan anak untuk melakukan aktivitas. 19% guru melakukan aktivitas bersih-bersih bersama-sama anakanak. Konteks dikemukakan dalam beberapa tahapan: . kegiatan awal, . kegiatan inti, . kegiatan Pertama, pada konteks pembelajaran kelompok kecil kegiatan awal pembelajaran ditandai dengan pembagian anak ke dalam kelompokkelompok kecil yang terdiri 4-5 anak, melakukan doAoa, absensi, bernyanyi bersama. Sebanyak 14% guru melakukan kegiatan berdoAoa, bernyanyi, dan kegiatan rutinitas Kedua, pembelajaran kelompok kecil dilakukan dengan melakukan aktivitas dengan kelompok kecil, guru memberikan respon terhadap anak-anak dalam kelompok kecil. Sebanyak 14% guru sudah melakukan kegiatan di kelompok kecil seperti guru memberikan aktivitas di kelompok kecil dan meresponnya, guru menjelaskan tema, dan guru memotivasi kelompok kecil untuk bekerjasama menyelesaikan tugasnya. Ketiga, kegiatan akhir dilakukan dengan mengevaluasi kegiatan apa saja yang telah dilakukan, 14% guru sudah melakukan evaluasi, guru bersama anak berdiskusi kegiatan apa saja yang dilakukan, dan berdoAoa sebelum pulang. Faktor-Faktor Mempengaruhi Pembelajaran Guru PAUD Berdasarkan temuan umum dan temuan khusus, ada beberapa factor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD, yaitu: Dari hasil angket dapat diketahui bahwa 85% konteks pembelajaran yang diterapkan PAUD pembelajaran klasikal, dikarenakan konteks pembelajaran klasikal sudah dilakukan sejak PAUD berdiri. Terbatasnya luas sekolah menjadi salah satu factor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD Terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia di PAUD Konteks pembelajaran klasikal dianggap dapat memenuhi kebutuhan anak. Terbatasnya biaya menjadi salah satu factor yang mempengaruhi pemebelajaran guru PAUD Latar Belakang Perbedaan Guru PAUD Dalam Pembelajaran PAUD Dalam proses kegiatan belajar mengajar di PAUD, banyak hal yang melatarbelakangi perbedaan pembelajaran PAUD. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada guru maupun kepala PAUD, perbedaan tersebut dapat diketahui dari: Fasilitas atau sarana dan prasarana yang tersedia di PAUD tersebut Biaya menjadi salah satu hal penting yang menyebabkan sulitnya sekolah-sekolah mempunyai sarana prasarana yang sesuai dengan kebutuhan anak Tenaga pendidik . menyangkut kompetensi yang dimiliki tenaga pengajar dalam mengembangkan pembelajaran. Materi, pengetahuan tenaga pengajar untuk bisa mengembangkan materi pembelajaran juga menjadi factor yang melatarbelakangi perbedaan pembelajaran Jumlah siswa yang terlalu banyak menjadi salah satu factor yang melatarbelakangi kurang kondusif PEMBAHASAN Setelah melihat hasil angket dan wawancara maka peneliti akan membahas tentang factorfaktor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD. 85% konteks pembelajaran klasikal digunakan dalam pembelajaran PAUD. Dari hasil ini dapat kita ketahui bahwa sekolahsekolah yang sudah menerapakan konteks pembelajaran klasikal sejak berdirinya sekolah akan sulit sekali merubah konsep konteks pembelajaran yang baru. Sehingga sekolah beserta komponen yang ada di sekolah tersebut merasa sudah AunyamanAy dengan konteks pembelajaran yang sudah diterapkan. Hal tersebut menambah keyakinan guru bahwa konteks pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai dengan minat anak. Dengan alasan terbatasnya lahan dengan rata-rata luas tanah Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 579mA. Menurut Peraturan Menteri Nomor 137 Tahun 2013 tentang Standar Nasional PAUD pasal 32 menjelaskan bahwa persyaratan pendirian PAUD haruslah memiliki luas lahan minimal 300mA . ntuk bangunan dan laha. Sehingga dapat kita ketahui dengan rata-rata luas tanah 579mA dengan standar minimal luas lahan 300mA, guru dapat mengeksplore lahan di sekolah untuk melakukan pembelajaran yang bermakna yaitu suatu proses pembelajaran yang efektif dan membawa pengaruh perubahan tingkah laku anak didik dalam mencapai kompetensi atau tujuan yang telah dirumuskan. Sarana dan prasarana menjadi salah satu factor yang menjadi pengaruh pembelajaran PAUD. Sebaiknya guru dapat memfasilitasi sarana yang dibutuhkan oleh anak-anak dengan menggunakan barang-barang bekas. Hal tersebut dapat meningkatkan kreatifitas anak. Sarana prasarana yang minim juga akan menciptakan media atau aktivitas yang lebih kreatif dan edukatif. Biaya merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD. Hal tersebut menjadi dasar pemikiran bahwa banyaknya lembaga PAUD yang berstatus swasta sehingga harus membiayai semua kegiatan pembelajaran yang dilakukan di lembaga PAUD. Fenomena yang terjadi sekarang ini dengan menjamurnya berdiri lembaga PAUD, menyebabkan persaingan biaya sekolah di lembaga PAUD. Dengan tujuan utama adalah memperoleh peserta didik sebanyak-banyaknya. Semakin murah biaya pendidikan anak usia dini akan semakin banyak peserta didik yang diperoleh. Melihat konteks pembelajaran klasikal menjadi sangat dominan, dilanjutkan dengan konteks pembelajaran sentra, dan konteks pembelajaran kelompok kecil. Peneliti melihat latar belakang perbadaan guru PAUD dalam pembelajaran. Perbedaan tersebut dipengaruhi dari tenaga pendidik ( gur. , ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru menurut Permen No. 137 tahun 2013, yaitu . kompetensi pedagogik, . kompetensi social, . kompetensi kepribadian, . kompetensi Dalam hal ini seorang guru yang memiliki kompetensi pedagogik mampu merumuskan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan perkembangan anak. Seorang guru juga mampu mengembangkan materi yang akan dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Bukan hanya mentrasfer ilmu tetapi seorang guru juga harus mampu memotivasi anak untuk mengeksplore materi. Sehingga bermakna sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini. Biaya menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi perbedaan pembelajaran guru PAUD. Telah kita bahas sebelumnya bahwa semakin AumurahAy biaya sekolah tersebut semakin banyak peserta didik yang masuk ke lembaga PAUD tersebut. Sehinga jumlah pendidik tidak mengikuti standar Peraturan Menteri No. 137 Tahun 2913 ayat 36 butir 4 menjelaskan bahwa rasio guru dan anak didik terdiri atas : . Usia lahir- 2 tahun : rasio guru dan anak 1 :4, . Usia 2-4 tahun : rasio guru dan anak 1:8,. Usia 4-6 tahun : rasio guru dan anak 1: 15. Persaingan lembaga PAUD tidak memperhatikan prinsip pembelajaran PAUD. Sehingga proses kegiatan belajar hanya sekedar KESIMPULAN DAN SARAN Perkembangan pendidikan anak usia dini berkembang dengan pesat. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari konteks pembelajaran yang dilakukan di lembaga PAUD. Konteks pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai factor, . sarana prasarana,. tenaga pendidik, sekolah, . tenaga kependidikan, dan factor psikologis lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran guru PAUD Jabodetabek. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti serta diperkuat melalui triangulasi data melalui observasi dan wawancara pengurus dan pendidik PAUD, orang tua, dan masyarakat sekitar sekolah. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2016 Terdapat 21 lembaga PAUD dalam penelitian Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : pertama, terdapat 85% pembelajaran dilakukan dengan konteks pembelajaran guru PAUD, yaitu: . luas lahan yang tidak memenuhi standar . kompetensi pendidik yang kurang mengeksplore potensi anak didik . biaya pendidikan yang bersaing dengan lembaga PAUD lainnya dan . sarana prasarana yang sangat minim. DAFTAR PUSTAKA