JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 p-ISSN. 2443-115X e-ISSN. ANALISIS RISIKO REAKSI OBAT YANG TIDAK DIKEHENDAKI PADA PASIEN HIPERTENSI GERIATRI DI RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU Submitted : 4 April 2019 Edited : 15 Mei 2019 Accepted : 25 Mei 2019 Septi Muharni. Erniza Pratiwi. Yuwanda Iswari Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau. Pekanbaru, 28928 Email : septimuharni@stifar-riau. ABSTRACT Adverse Drug Reaction (ADR) is every adverse event related to the use of a drug in Geriatrics have a 7 times greater risk of developing ADR. Hypertension is the most common disease suffered by geriatric patients. The purpose of this study was to analyze the risk of ADR occurrence in geriatric hypertension patients and also to analyze the relationship of demographic data with the incidence of ADR. This study was carried out in an observational manner which was descriptive analytic with a cross sectional approach in 88 medical record samples of geriatric hypertension patients in inpatient installations using gerontoNET scores. Based on the ADR risk variable according to the gerontoNET score, there was 1 patient with Ou4 comorbid, 45 patients had heart failure, 5 patients had liver disorders, 19 patients received 6-7 drugs and 37 patients received Ou8 drugs, no patients with ADR history, and 28 patients developed kidney problems. From the results of this study, there are 37 patients who have a high risk of ADR events which are marked by gerontoNET score Ou4. Based on the correlation analysis of gender and age range on ADR risk obtained a weak relationship and no significant correlation . = 0. 116, p = 0. 017, p = 0. , so that gender and age in geriatric hypertension patients are not related to the risk of ADR. Keywords : ADR. Geriatric. GerontoNET. Hypertension PENDAHULUAN Pasien geriatri memiliki risiko 7 kali lebih besar mengalami Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) dibandingkan dengan orang yang lebih muda . Secara global populasi lanjut usia diprediksi terus mengalami peningkatan . Berdasarkan data penduduk, pada tahun 2017 terdapat 23,66 juta penduduk lanjut usia di Indonesia. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat sampai dengan tahun 2035, dengan jumlah pada tahun 2020 yaitu 27,08 juta, tahun 2025 yaitu 33,69 juta, tahun 2030 yaitu 40,95 juta, dan pada tahun 2035 yaitu 48,19 juta . AKADEMI FARMASI SAMARINDA Meningkatnya jumlah lanjut usia di Indonesia dapat menimbulkan permasalah terkait aspek medis, psikologis, ekonomi, dan sosial. Pada tahun 2015 angka kesakitan geriatri sebesar 28,62%, artinya bahwa setiap 100 orang geriatri terdapat sekitar 28 orang diantaranya mengalami sakit, dan juga terdapat 47,17% pasien Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh lanjut usia dengan pravalensi menurut kelompok usia 55-64 tahun 45,9%, usia 65-74 tahun 57,6%, dan usia diatas 75 tahun 63,8% . JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 Meningkatnya usia dapat menjadi hipertensi . Komorbid atau komplikasi hipertensi menyebabkan sekitar 9,4 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Octaviani di dapatkan bahwa sebanyak 70 . ,5%) dari 88 pasien Menurut penelitian yang dilakukan Supraptia et al. , pasien hipertensi dapat mengalami lebih dari satu macam komplikasi atau komorbid yang terdiri dari diabetes melitus tipe 2 . ,7%). Hypertension Heart Disease . ,4%), tulang dan sendi . ,3%), penyakit mata . ,1%), stroke . ,8%), penyakit jantung kronis . ,4%), hiperurisemia . ,7%), penyakit saluran cerna . ,4%), dan hiperlipidemia . %) . Semakin besar jumlah komorbid maka semakin banyak jumlah obat yang diresepkan sehingga sering terjadinya polifarmasi . Penelitian yang dilakukan oleh Hamilton et al. pada pasien geriatri didapatkan 34% pasien mendapatkan O5 obat perhari, 46% mendapatkan 6 sampai 10 obat perhari, dan 20% mendapatkan lebih dari 10 obat perhari . Polifarmasi merupakan keadaan yang sering dialami pasien geriatri karena pengobatannya yang sangat kompleks dan biasanya bersifat multipatologi, sehingga kejadian reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD). Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dan Sunarti di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang terdapat 72% pasien geriatri yang mengalami masalah terkait obat yang disebabkan oleh polifarmasi yang akan meningkatkan risiko terjadinya ROTD . Terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan pada pasien hipertensi geriatri SEPTI MUHARNI juga terjadi di instalasi rawat inap RSUD Tabrakan Jakarta, . 42,17% . Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad adalah Rumah Sakit Kelas B Pendidikan, merupakan institusi pemerintah provinsi Riau yang mempunyai tugas dan fungsi mencakup upaya pelayanan kesehatan perorangan, pusat rujukan dan pembina Rumah Sakit Kabupaten/Kota se-provinsi Riau serta merupakan tempat pendidikan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Institusi Pendidikan Kesehatan lainnya . Berdasarkan hasil uji pendahuluan dari penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani. Jumlah pasien hipertensi geriatri berusia Ou65 tahun yang menderita komorbid Tercatat dari tahun 2015 sebanyak 111 pasien dan mengalami peningkatan pada tahun 2016 yaitu sebanyak 123 pasien . Pada penelitian yang dilakukan oleh Sari di RSUD Arifin Achmad, terdapat pasien hipertensi geriatri yang disertai komorbid berjumlah 70 pasien atau 79,5% dari total pasien hipertensi geriatri yang ada, dengan jenis komorbid tertinggi yaitu Congestive Heart Failure. Pada tahun yang sama, terdapat 73 . %) dari 88 pasien geriatri di RSUD Arifin Achmad yang mendapat jumlah obat Ou5. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat dan menganalisis adanya risiko ROTD terhadap pasien hipertensi geriatri di RSUD Arifin Achmad. Selain bertujuan untuk menganalisis risiko terjadinya ROTD pada pasien hipertensi geriatri, dilakukan juga analisis hubungan data demografi dengan kejadian ROTD. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi farmasis dan Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dalam memberikan dan menentukan obat yang rasional dan meningkatkan kualitas hidup pasien AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 Achmad. RSUD Arifin METODOLOGI Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2018 di Instalasi Rekam Medik RSUD Arifin Achmad provinsi Riau. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap pasien hipertensi geriatri rawat inap di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau. Populasi dalam penelitian ini adalah 91 data rekam medik pasien hipertensi geriatri rawat inap di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau periode bulan Januari - Desember tahun Sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling dimana sampel minimal dalam penelitian ini kriteria inklusi yaitu rekam medik pasien hipertensi geriatri yang mendapatkan terapi obat. Adapun kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah rekam medik pasien hipertensi geriatri dengan dengan data demografi tidak lengkap . enis kelamin dan umu. Pada penelitian, diambil sampel sebanyak 88 rekam medik pasien karena terdapat 3 rekam medik yang tidak mendapatkan terapi obat karena hanya dilakukan tindakan hemodialisis. Metode pengumpulan data pada penelitian ini secara retrospektif. Data yang diambil adalah data sekunder, yaitu semua data dalam rekam medik terakhir pasien dirawat yang meliputi data demografis, alasan masuk rumah sakit, anamnesis, diagnosis, riwayat penyakit, komorbid, pemeriksaan fisik, data terapi, catatan laboratorium pertama saat pasien dirawat, dan riwayat alergi. didapat kemudian dikumpulkan dan dipindahkan ke dalam lembar pengumpul data. Penelitian GerontoNET skor yang terdiri dari 6 AKADEMI FARMASI SAMARINDA SEPTI MUHARNI variabel (Ou4 comorbid, gagal jantung, gangguan hati, jumlah obat, riwayat ROTD, dan gangguan ginja. dengan skor masing-masing pada tabel 1. Uji statistik dilakukan pada penelitian ini untuk melihat apakah data demografi . enis kelamin dan usi. berpengaruh terhadap risiko terjadinya ROTD pada pasien GerontoNET skor. Tabel 1. Variabel GerontoNET Skor No. Variabel Ou4 komorbid gagal jantunga gangguan hati b jumlah obat Ou8 riwayat ROTD gangguan ginjal c Skor Keterangan: Apabila pada tingkat i atau IV menurut New York Heart Association Apabila kerja enzim transaminase 2 kali lebih besar dari normal Apabila laju filtrasi glomerulus O60mL/menit/1,73m2 Hasil dan Pembahasan Analisis Univariat Pada tabel 2 dapat kita lihat data univariat yang diambil. Data tersebut berupa data jenis kelamin, rentang usia, jumlah komorbid, kondisi jantung, kondisi hati, jumlah obat yang pasien terima dan konsumsi selama dirawat. ROTD dan kondisi ginjal. Jenis kelamin perempuan berjumlah 52,14% dan laki-laki 47,86%. Jenis kelamin perempuan sedikit lebih banyakd disbanding jenis kelamin laki-laki, hal ini disebabkan perempuan usia lanjut yang JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 mengalami hipertensi disebabkan oleh sindrom pre-menopause yang akan muncul pada rentang usia 40 tahunan . Selain itu, disebabkan Angka Harapan Hidup (AHH) perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki, hal ini terlihat dari jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2017 yaitu sebesar 9,53% untuk perempuan dan 8,54% untuk laki-laki. Usia geriatri dibagi menjadi 3 golongan menurut Multani dan Verma, yaitu youngold . opulasi berusia antara 65-74 tahu. , middle-old . opulasi berusia 75-84 tahu. , dan old-old . opulasi berusia lebih dari 85 tahu. Menurut data pasien hipertensi geriatri di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau, golongan young-old merupakan golongan dengan populasi terbanyak yaitu sebanyak 70 . ,54%) pasien, dilanjutkan middle-old SEPTI MUHARNI memiliki populasi 15 . ,04%) pasien, dan golongan terkecil yaitu old-old dengan populasi 3 . ,42%) pasien dari 88 Angka Harapan Hidup (AHH) di dunia menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2011 adalah 66,4 tahun, sedangkan di Indonesia adalah 69,43. Pada tahun 2015 AHH di Indonesia mengalami kenaikan yaitu menjadi 70,8 tahun . Angka Harapan Hidup (AHH) di dunia maupun di Indonesia berada di kelompok young-old, hal inilah yang menjadi alasan banyaknya pasien geriatri pada kelompok ini. itu, dapat juga disimpulkan pasien hipertensi geriatri akan semakin menurun populasinya ketika usianya melebihi AHH, populasinya menurun. Tabel 2. Deskripsi data analisis univariat No. Kategori Jenis kelamin Keterangan Laki-laki Perempuan Rentang Usia Young-old . -74 tahu. middle-old . -84 tahu. old-old (Ou85 tahu. Jumlah Komorbid Tidak Ada Komorbid 1 Komorbid 2 Komorbid 3 Komorbid 4 Komorbid Kondisi Jantung Tidak Gagal Jantung Gagal Jantung Kondisi Hati Tidak Gangguan Hati Gangguan Hati Jumlah Obat Ou8 Riwayat ROTD Tidak Ada Riwayat Ada Kondisi Ginjal Tidak Gangguan Ginjal Gangguan Ginjal Jumlah . Persentase (%) 52,14 47,86 79,54 17,04 3,42 20,45 45,45 26,14 6,82 1,14 94,32 5,68 36,36 21,59 42,05 68,18 31,82 AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 SEPTI MUHARNI Hasil penelitian menunjukkan 37 . ,05%) dari 88 pasien hipertensi geriatri di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau mendapatkan skor Ou4 menurut metoda GerontoNET. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah dari populasi sampel yang ada memiliki risiko tinggi untuk mengalami kejadian ROTD. GerontoNET merupakan alat untuk menilai risiko ROTD yang terdiri dari enam variabel . danya 4 atau lebih kondisi komorbid, gagal ginjal, gagal jantung, penyakit hati, jumlah obat, dan riwayat ROTD) . ihat tabel . Dari total skor, variabel jumlah obat merupakan variabel dengan skor yang paling tinggi yaitu 167 . ,72%) dari total skor yang ada . ihat tabel . Hal ini menunjukkan bahwa pada a. penelitian ini jumlah obat adalah masalah b. utama yang membuat pasien hipertensi c. geriatri di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau memiliki risiko yang tinggi terhadap kejadian ROTD. Jumlah komorbid tidak banyak memberikan skor pada risiko ROTD, karena variabel ini hanya memberikan skor 1 dari total keseluruhan Skor ini diberikan kepada pasien yang memiliki komorbid Ou4 dengan skor Meskipun variabel jumlah komorbid tidak memberikan skor besar, tetapi jumlah komorbid memberikan dampak terhadap jumlah obat. Hal tersebut disebabkan karena 70 . ,54%) pasien hipertensi geriatri memiliki 1 atau lebih komorbid dan juga adanya penyakit penyerta lainnya yang terdapat pada Semakin komplikasi/ komorbid pada geriatri, semakin banyak . mendapatkan obat . Gagal jantung merupakan variabel dengan kontribusi kedua terbesar dalam menentukan risiko ROTD. pasien gagal jantung memiliki kecenderungan untuk beresiko mengalami ROTD, karena gagal jantung menyebabkan aliran darah menuju ginjal menjadi lambat, sehingga bisa terjadi akumulasi obat dan kemungkinan terjadi intoksikasi. Selain itu, gagal jantung dapat mengubah ketersediaan hayati obat yang disebebkan perlambatan kecepatan aliran darah ditempat-tempat absorpsi, mempengaruhi distribusi, dan klirens obat . AKADEMI FARMASI SAMARINDA Tabel 3. Jumlah Pasien Berdasarkan Variabel Risiko ROTD Variabel Risiko ROTD Ou4 Komorbid Gagal Jantung Gangguan Hati Jumlah Obat Ou8 Riwayat ROTD Gangguan Ginjal Jumlah . Persentase (%) 1,15 5,68 36,36 21,59 42,05 31,82 Variabel memberikan kontribusi besar dalam menentukan skor risiko ROTD adalah gangguan ginjal. Ginjal merupakan organ dominan dalam mengeksresikan obat, jika terdapat gangguan ginjal maka dosis obat perlu dikurangi terutama pada obat indeks terapi sempit. Pengurangan dosis ini kemungkinan terjadinya ROTD yang mungkin timbul akibat akumulasi obat didalam tubuh. Gangguan hati juga menjadi variabel yang ikut berkontribusi dalam memberikan skor risiko ROTD. Gangguan hati dapat mengubah keadaan profil obat di dalam darah dan target obat . , sehingga Gangguan hati menyebabkan obat tidak dieliminasi yaitu tahap biotransformasi . , jika obat tidak dimetabolisme akan menyebabkan JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 obat akan tetap berada di dalam tubuh dan dengan konsentrasi yang tinggi di dalam darah. Tabel 4. Skor Keseluruhan Pasien Menurut GerontoNET skor Variabel Risiko ROTD Ou4 Komorbid Gagal Jantung Gangguan Hati Jumlah Obat Ou8 Riwayat ROTD Gangguan Ginjal Skor Total Skor Seluruh Pasien Analisis Bivariat Analisis Uji Korelasi Jenis Kelamin terhadap Risiko ROTD Pada penelitian, jenis kelamin perempuan sedikit lebih banyak dri jenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 45 . ,14%) dari 88 pasien. Jenis kelamin perempuan merupakan jenis kelamin yang memiliki risiko ROTD lebih besar dari pada laki-laki, hal ini dilihat dari 22 . ,49%) dari total 45 pasien perempuan di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau memiliki risiko ROTD yang tinggi dibanding laki-laki dengan jumlah 15 . ,88%) dari 43 pasien. Dari uji yang telah dilakukan, diperoleh nilai r=sebesar 0. 116 dengan arah positif dan nilai p=sebesar 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara dua variabel tersebut sangat lemah dan juga tidak terdapat korelasi yang bermakna, sehingga jenis kelamin tidak mempengaruhi risiko terjadinya ROTD pada pasien hipertensi geriatri di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau secara statistik. Korelasi yang sangat lemah dan tidak bermakna ini disebabkan besaran antara risiko ROTD SEPTI MUHARNI pada jenis kelamin perempuan tidak jauh berbeda secara jumlah dengan jenis laki laki. Analisis Uji korelasi Usia terhadap Risiko ROTD Analisis ini menggunakan uji korelasi SomersAod untuk melihat sejauh mana korelasi atau hubungan antara Usia terhadap risiko ROTD. Usia dikelompokkan menjadi Young-old . -74 tahu. , middle-old . -84 tahu. dan old-old (Ou85 tahu. Dari hasil penelitian, pada kelompok young-old terdapat 29 . ,43%) pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami ROTD, 7 . ,67%) pasien pada kelompok middle old, dan 1 . %) pasien pada kelompok old-old. Berdasarkan uji yang telah dilakukan, didapatkan nilai r=0. 042 dengan arah negatif dan p=0. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara usia dengan risiko ROTD sangat lemah dan juga tidak terdapat korelasi atau hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut. Korelasi yang lemah dan tidak bermakna ini disebabkan besaran jumlah pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami ROTD pada masing-masing kelompok tidak jauh berbeda, sedangkan jumlah pasien pada masing-masing perbedaan yang sangat jauh berbeda. SIMPULAN Berdasarkan penelitian tentang analisis risiko reaksi obat pada pasien hipertensi geriatri di RSUD Arifin Achmad provinsi Riau didapatkan bahwa 37 . ,05%) pasien memiliki skor gerontoNET Ou4, sehingga berisiko tinggi mengalami reaksi obat yang tidak dikehendaki. Berdasarkan uji analisis korelasi jenis kelamin dan rentang usia terhadap risiko ROTD, diperoleh hubungan yang lemah serta tidak memiliki korelasi yang bermakna . = 0. 116, p=0. r = 0. 017, p = 0. AKADEMI FARMASI SAMARINDA JURNAL ILMIAH MANUNTUNG, 5. , 73-80, 2019 UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih peneliti ucapkan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau atas dana penelitian hibah dosen pemula. DAFTAR PUSTAKA