LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan STKIP PGRI BANDAR LAMPUNG http://jurnal. id/index. php/lentera PENGGUNAAN ALAT PERAGA TABEL PERKALIAN 2-9 DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN BELAJAR SISWA KELAS i SDN 4 KOTAKARANG Azimah SDN 4 Kotakarang azimah_mpd@yahoo. Abstrak: Alat peraga dalam pembelajaran matematika amat dibutuhkan untuk membantu siswa lebih cepat memahami materi pembelajaran. Pada penelitian kali ini disampaikan manfaat alat peraga papan tabel perkalian 2 - 9. Alat peraga ini hasil kreasi modifikasi penulis dari tabel perkalian 1-10 yang sering dipakai siswa dalam pembelajaran perkalian. Alat peraga ini dibuat dan dipakai dalam rangka meningkatkan keberhasilan pembelajaran pembagian cara bersusun pada siswa kelas i SDN 4 Kotakarang. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah Siswa kelas i SDN 4 Kotakarang. Pengumpulan data ini meliputi pretes, postes, dan observasi terhadap perhatian siswa dalam pembelajaran. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Penguasaan konsep pembagian cara bersusun mengalami peningkatan yang dibuktikan dengan nilai siswa yang masuk kategori baik dan sangat baik hanya 60% dari hasil siklus I menjadi 77,2% dari hasil siklus i. Perhatian siswa pada pembelajaran pembagian cara bersusun juga mengalami peningkatan sesuai dengan pengamatan melalui instrument yang telah disiapkan pada siklus I dengan rata-rata tingkat perhatian siswa dengan kategori baik ada 80,4% meningkat menjadi 90,9% pada siklus i. Kata kunci: pembagian cara bersusun, alat peraga, tabel perkalian 2 Ae 9 pendidikan yang lebih tinggi atau hidup Perkembangan teknologi modern didasari oleh matematika sebagai ilmu Matematika peranan penting dalam berbagai disiplin Perkembangan pesat di berbagai bidang teknologi, informasi, dan komunikasi juga Dalam kurikulum KTSP tahun 2008 pada latar belakang pengajaran matematika disebutkan bahwa diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali PENDAHULUAN Sehubungan dengan globalisasi di semua bidang kehidupan, sekolah diharapkan mampu memberi bekal kepada anak didik berupa pengetahuan dan ketrampilan yang amat dibutuhkan anak didik untuk memasuki era globalisasi Sekolah Dasar sebagai bagian dari institusi pendidikan dan peletak dasar kemampuan ketrampilan siswa, dituntut mampu memberikan layanan yang optimal kepada siswa. Layanan kepada siswa tersebut dalam hal memberikan pengetahuan dasar kepada siswa sebagai bekal siswa melanjutkan ke jenjang Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetetif. Bertolak dari peranan dan manfaat teknologi di berbagai bidang tersebut, sekolah dasar diharapkan memberikan pembelajaran matematika secara optimal matematika dapat tercapai. Kelas i sebagai salah satu tingkat/jenjang di SD sebagai tingkat awal di kelas tinggi dituntut mampu memberikan dasar operasi hitung sebagai bekal untuk menuju ke tingkat lebih tinggi yaitu kelas IV. V, dan kelas VI. Kemampuan operasi hitung pembagian, khususnya pembagian cara bersusun sangat diperlukan siswa untuk landasan pengajaran matematika Guru mengupayakan keberhasilan pembelajaran matematika seoptimal mungkin dengan menggunakan kemampuan dan potensi yang dimiliki, termasuk dalam hal ini materi operasi hitung pembagian cara Kenyataan di lapangan kadang jauh dari harapan. Prestasi hasil belajar matematika pada sebagaian besar siswa memperoleh hasil yang rendah. Siswa yang tidak lulus ujian kebanyakan karena tidak lulus pada mata pelajaran Rendahnya prestasi belajar matematika tersebut dimungkinkan oleh persepsi siswa terhadap pelajaran Sebagian siswa menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan, menjadi momok bagi Ada juga yang sudah mengeluh bahkan merasa alergi ketika mendengar pembicaraan atau mendengar kata Tidak menganggap pelajaran matematika itu sulit dan membosankan. Mengenai keadaan pendidikan matematika di SD. Hery Sukarman . matematika di tingkat Sekolah Dasar masih memprihatinkan. Banyak siswa yang merasa takut enggan, dan kurang tertarik pada pelajaran matematika. Pendapat ini tidak jauh dari kenyataan di Jika dicermati ketakutan dan keengganan pada pelajaran matematika itu berawal dari ketidakmengertian atau pembelajaran matematika sejak tingkat dasar dalam hal ini sejak duduk di SD. Pendapat ini didasari oleh kenyataan bahwa di SD lah peletak dasar matematika yang nantinya dikembangkan di sekolah yang lebih tinggi. Untuk mengubah persepsi siswa terhadap pelajaran matematika, dari anggapan matematika itu membosankan dan menakutkan menjadi matematika itu mudah, mengasyikkan dan menyenangkan perlu peran guru. Mengingat materi pembelajaran matematika itu bersifat abstrak maka cara yang dipandang efektif adalah penggunaan alat peraga. Dengan alat peraga, sesuatu yang sifatnya abstrak bisa diubah menjadi lebih konkrit. Disamping itu dengan alat peraga siswa menjadi lebih aktif, pembelajaran lebih sehingga siswa menjadi lebih bergairah. Pemilihan alat peraga yang tepat pembelajaran matematika. Alat peraga Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 membantu memudahkan siswa menerima dan memahami materi pelajaran yang sedang diajarkan, juga diharapkan dapat membantu membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan sehingga siswa lebih dapat memfokuskan perhatiannya pada proses pembelajaran. Pada kesempatan ini penulis menampilkan alat peraga berupa papan tabel perkalian 2-9 yang dibuat dalam rangka membantu siswa untuk memahami pembagian cara bersusun. Hal ini didasari pengalaman penulis sebagai guru kelas i yang hampir selalu mengalami kesulitan ketika menjelaskan pembagian cara bersusun kepada siswa. Sebagian besar siswa tidak segera memahami pembagian cara bersusun. Papan tabel perkalian 2-9 ini penulis kembangkan dari tabel perkalian yang sering dipakai yaitu tabel 1-10, pembelajaran pembagian cara bersusun. Walaupun kemungkinan alat peraga ini digunakan Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keberhasilan belajar pembagian cara bersusun pada siswa kelas i SDN 4 Kotakarang. KAJIAN TEORI Pembelajaran Matematika di SD Dalam kurikulum KTSP, pada latar belakang mata pelajaran matematika untuk Sekolah Dasar disebutkan bahwa dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi . ontextual proble. Dengan mengajukan masalah konstektual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, dan media Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD/MI menurut KTSP meliputi aspek: . bilangan, . geometri dan pengukuran, dan . pengolahan data. Permasalahan dalam Pembelajaran Matematika di SD Permasalahan mengenai pembelajaran matematika di SD telah banyak Permasalahan pengajaran matematika di SD yang klasik adalah rendahnya prestasi belajar matematika siswa SD. Supriyoko . menyatakan bahwa prestasi memuaskan, untuk tidak menyatakan Pada tingkat lokal sesekali dilaksanakan lomba matematika antar dan hasilnya banyak yang belum Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut timbul dari bebarapa sudut, misalnya dari murid, guru, media pembelajaran, kurikulum, dan lingkungan Berangkat dari akar permasalahan penyebab rendahnya prestasi belajar siswa ini maka upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dapat ditempuh dengan pembelajaran matematika, misalnya aspek guru, kurikulum, media, lingkungan anak, dan aspek siswa sendiri. Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang Lebih khusus. Sukarman . penyelenggaraan PBM matematika belum Beberapa faktor pendukung pendapat ini didasari atas beberapa hal, antara lain: - Penggunaan variasi metodologi dalam pembelajaran yang masih bersifat berpusat pada guru. - Kurang memanfaatkan alat peraga dalam menanamkan konsep-konsep - Kaidah-kaidah diktaktik seperti asas apersepsi, peragaan, belajar aktif, kerja sama, mandiri, korelasi, ulangan yang teratur belum dilaksanakan dengan baik oleh sebagian guru. - Pengelolaan PR yang belum optimal dilakukan jajaran pendidik. Sifat pembelajaran matematika yang materi bahasannya bersifat abstrak juga menjadi salah satu penyebab kesulitan belajar pada mata pelajaran matematika. Kesulitan anak ini berakibat apada rendahnya keberhasilan pembelajaran Untuk mengatasi sifat abstrak dari pembelajaran matematika ini dapat ditempuh dengan penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran yang relatif mudah didapat maupun dibuat adalah alat peraga matematika. Dengan penggunaan alat peraga ini diharapkan dapat membantu mengatasi kesulitan belajar matematika yang dialami peserta Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SD Kesulitan belajar siswa pada pembelajaran matematika disebabkan banyak aspek. Salah satu yang menjadi penyebab kesulitan belajar tersebut adalah sifat matematika yang abstrak. Dalam psikologi perkembangan anak usia SD termasuk dalam usia memasuki tahap operasional konkrit. Piaget (Mulyani Sumantri dan Nana Saodih: 2006:1. mengemukakan bahwa proses berpikir anak sampai mampu berpikir seperti orang dewasa melalui empat tahap perkembangan, yaitu:Tahap sensori motor . , tahap praoperasional . , tahap operasional konkrit . , dan tahap operasional formal ( 11-. Sesuai dengan tahap perkembangan kognitif seperti yang dikemukakan Piaget tersebut, anak usia SD akan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada materi sebagaimana materi bahasan pada mata pelajaran matematika. Untuk membantu siswa memahami materi pembelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika dapat dilakukan dengan penggunan alat Seperti yang dikemukakan Moh. Uzer Usman . alam Masrukun, 2004: . bahwa alat peraga pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru dalam memperjelas materi pelajaran dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri Adapun fungsi alat peraga menurut Masrukun . 4: . memberikan motifasi belajar. mempengaruhi daya abtraksi, dan memperkenalkan, memperbaiki, dan meningkatkan pengertian konsep dan fakta. Sehubungan dengan fungsi alat peraga ini lebih lanjut. Masrukun . mengemukakan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan alat Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 peraga selain akan membuat siswa mudah memahami materi yang dipelajari, juga akan meningkatkan kadar aktifitas siswa. Pembelajaran yang menyenangkan Keaktifan menentukan keberhasilan pembelajaran, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibrahim . , semua pendidik peranan penting dalam proses belajar. Guru sebagai salah satu dari unsur PBM memanfaatkan alat peraga yang telah ada Jika dirasa kurang, guru dituntut untuk mampu membuat sendiri alat peraga yang dibutuhkan dengan disesuaikan dengan materi pelajaran. Dalam rangka membuat alat peraga ini tentunya tetap berpijak pada materi pelajaran dan taraf perkembangan siswa. Jika memungkinkan maka alat peraga ini dapat dibuat bersama-sama siswa sehingga alat peraga ini lebih bermakna bagi siswa. Tabel Perkalian 2-9 sebagai Alat Peraga Pembelajaran Pembagian cara Besusun Untuk keperluan memenuhi macam, ragam, dan jenis alat peraga yang sesuai dengan materi bahasan, guru dapat mempergunakan media/alat peraga yang telah tersedia atau dapat membuat sendiri alat peraga yang akan digunakan. Pembuatan alat peraga dapat dilakukan dengan menciptakan alat peraga baru atau mengembangkan/memodifikasi dari alat peraga yang sudah ada. Pembuatan alat peraga disesuasikan dengan materi pembelajaran dan tingkat perkembangan Terpenuhinya kebutuhan alat peraga matematika, pada kesempatan ini penulis menyampaikan sebuah alat peraga buatan penulis yang penulis kembangkan dari alat peraga yang sudah ada yaitu alat peraga tabel perkalian 1-10. Alat peraga menyampaikan materi pembelajaran pembagian dengan cara bersusun. Alat peraga yang penulis sampaikan ini penulis beri nama Tabel Perkalian 2-9. Adapun karakteristik alat peraga ini sebagai berikut. Terbuat dari papan triplek Melamin berukuran 120 x 50 cm. Berisi tabel perkalian, yang terdiri dari angka 1-9 untuk kolom vertikal dan angka 2-9 untuk lajur horisontal atau mendatar. Pada tiap lajur mendatar, setiap lajur berisisi deretan bilangan kelipatan dari 2 sampai 9. Terdapat alat penunjuk yang dapat digeser ke kanan dan ke kiri pada mendatar untuk menemukan sebuah bilangan yang diperlukan dari lajur Terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kiri berisi table dan bagian kanan temapat mengerjakan pembagian cara bersusun dengan spidol. Tabel perkalian 2-9 ini digunakan untuk pembelajaran pembagian cara Dengan ketentuan bilangan pembagi terdiri dari satu angka, sedangkan bilangan terbagi adalah bilangan bulat, misalnya 48 : 4 = . 288: 9 = . , 921 : 3 = . , dan Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang METODE PENELITIAN Desain Penelitian Pendekatan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Peneliti sebagai guru kelas dalam penelitian ini berperan sebagai guru sekaligus sebagai peneliti. Tujuan akhir yang ingin dicapai dari pendidikan, mutu pendidikan, dan Khususnya peningkatan keberhasilan pembelajaran pembagian cara bersusun. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa siklus dan setiap siklus terdiri dari beberapa langkah, yaitu: . Sedangkan pengamatan dilakukan dengan terhadap hal berikut. Ketertarikan siswa dalam proses belajar-mengajar menggunakan alat peraga tabel Perkalian 2-9. Dorongan atau motifasi siswa untuk Peningkatan pembagian cara bersusun pendek sebagai dampak adanya pemahaman Subjek dan Setting Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas i SDN 4 Kota Karang tahun 2016/2017. Jumlah siswa ada 40, terdiri dari anak laki-laki 20 anak dan anak perempuan 20 anak. Penelitian dilakukan di kelas i SDN 4 Kotakarang. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan dari awal bulan Pebruari sampai Akhir Maret 2016. Peneliti berperan sebagai guru sekaligus Kolaborator PTK adalah guru SDN 4 Kotakarang. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode tes dan observasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Lembar Tes Lembar tes terdiri dari pretes dan postes untuk masing-masing siklus. Pada siklus I digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan bulat cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 2 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka. Pada siklus II digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan bulat cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 3 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka. Sedangkan pada Siklus i digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka. Lembar Observasi Pedoman observasi berisi daftar jenis kegiatan yang diamati, dalam proses observasi pengamat tinggal memberikan tanda chek lis ( Oo ) pada kolom pengamatan tempat suatu peristiwa Adapun kisi-kisi penelitian ini adalah perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian cara bersusun dengan alat peraga papan tabel perkalian 2-9. Tabel 1 Kisi-kisi observasi Perhatian siswa Aspek yang Kurang Cukup Baik Dinilai Memperhatikan Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 penjelasan guru Mencatat penjelasan guru Mengerjakan Aktif tugas kelompok Teknik Analisa Data Data dalam penelitian ini diperoleh pembagian cara bersusun dan teknik observasi untuk mengetahui perhatian siswa terhadap pembelajaran matematika melalui penggunaan alat peraga tabel perkalian 2-9. Observasi dilakukan Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dengan presentase. Adapun rumus yang digunakan adalah . P = iA x 100 % Keterangan : p : Angka prosentase f : Frekeunsi yang dicari prosentasenya N: Number of Case Data terkumpul dianalisa secara diskriptif Kesimpulan yang dihasilkan dalam proses pembelajaran ini adalah baik, cukup, dan Penentuan status menggunakan interval sebagai berikut: 80-100 % : Baik 60-79 % : Cukup O 59 % : Kurang Hasil tes dianalisa secara diskriptif dengan interval, selanjutnya diinterprestasikan dengan kalimat. Kesimpulan hasil dari pembelajaran ini adalah sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Penentuan interval nilai tes adalah: 86 Ae 100 : sangat baik 71 Ae 85 : baik 56 Ae 70 : cukup 41 Ae 55 : kurang O 40: Sangat kurang Pada akhir penelitian penulis Peningkatan penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun, menggunakan instrumen tes dengan hasil baik atau sangat Peningkatan terhadap pembelajaran matematika dengan alat peraga tabel perkalian 2-9, dengan perolehan kreteria baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas i SDN 4 Kota Karang, dengan mengambil materi pembelajaran pembagian cara bersusun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan data tes yaitu pretes dan postes, dan data observasi yaitu tentang perhatian siswa terhadap pembelajaran, maka dapat dipaparkan hasil lengkap sebagai berikut. Siklus I Kegiatan persiapan tindakan siklus I . Menyiapkan lembar pretes dan lembar observasi, siap dibagikan dan diisi. Alat peraga papan tabel perkalian 2-9, dipersiapkan. Menulis satu contoh soal pembagian cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri 2 angka Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang dan bilangan pembagi terdiri satu 4 / 48 Tindakan Membagi lembar pretes untuk dikerjakan siswa. Guru mengenalkan pada siswa alat peraga tabel perkalian 2-9, dalam hal bagian bagian alat dan cara menggunakan. Guru memperagakan cara menyelesaikan soal pembagian cara bersusun dengan menggunakan bantuan alat peraga tersebut, siswa memperhatikan urutan cara Dengan bimbingan guru siswa secara bergiliran mengerjakan soal pembagian cara bersusun yang diberikan guru dengan bantuan alat peraga Siswa tanpa bantuan guru mencoba mengerjakan soal pembagian cara bersusun dengan bantuan alat peraga tersebut. Membagi lembar postes untuk dikerjakan siswa Hasil Tindakan Siklus I . Data hasil pretes pada siklus I ini dapat divisualisasikan ke dalam Adapun tabel distribusi frekuensi hasil pretes disajikan dalam tabel Tabel 2 Distribusi frekensi hasil tes awal siswa . iklus I) Nilai 86 Ae 100 71 Ae 85 Frekuensi Presentase (%) 56 Ae 70 41 Ae 55 O 40 Jumlah Dari tabel 2, berdasar hasil pretes tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun siswa kelas i SDN 4 Kotakarang, dalam kategori sangat kurang 36,4 %, kategori kurang 27,3%, kategori cukup 13,6%, kategori baik 13,6%, dan kategori sangat baik 9 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penguasaan konsep pembagian cara bersusun masih kurang. Dengan postes pada siklus I Data mengenai hasil postes siklus I divisualisasikan dalam bentuk distribusi Adapun tabel distribusi frekuensi hasil postes tersebut sebagai Tabel 3 Distribusi frekuensi hasil postes siswa Nilai Frekuensi Presentase (%) 86 Ae 100 71 Ae 85 56 Ae 70 40 Ae 55 O 40 Jumlah Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 3, dapat disimpulkan masih ada 4 siswa yang masih berada dalam kategori cukup, 3 siswa kategori kurang dan 4 siswa dalam kategori sangat kurang. Data hasil obeservasi dengan pembelajaran pembagian cara bersusun dapat ivisualisasikan dalam tabel berikut. Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 Tabel 4 Distribusi frekeuensi perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian bersusun pada siklus I Aspek yang Dinilai Memperhatikan Guru Mencatat Mengerjakan Aktif dalam Skor 1 2 9,05 Skor 2 Skor 3 Keterangan : Skor 1 : Banyak partisipasinya kurang Skor 2 : Banyak partisipasinya cukup Skor 3 : Banyak partisipasinya baik Jumlah siswa : 22 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa aspek yang rendah terdapat pada aspek mencatat penjelasan guru dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas Dengan demikian kedua aspek ini perlu diperhatikan pada siklus Refleksi siklus 1 Berdasar nilai rata-rata pretes dan postes, terlihat adanya peningkatan prestasi belajar siswa setelah diadakan tahap tindakan. Walaupun begitu masih ada sebanyak 4 siswa yang masuk dalam kategori cukup, 3 siswa yang masuk kategori kurang dan ada 4 siswa yang masuk kategori sangat kurang. Berdasar hasil observasi oleh pengamat selama tindakan dilakukan dan diskusi dengan teman sejawat ( guru SDN 4 Kotakarang diketahui yang menjadi penyebab kurang tercapainya hasil seperti yang diharapkan antara lain : Alat peraga yang masih baru bagi anak membuat siswa cenderung terpaku pada alat peraga sehingga penjelasan guru kurang dipahami siswa. Siswa kurang aktif mencatat Ini mungkin disebabkan oleh perhatian siswa yang berlebihan pada bentuk alat peraga tersebut. Kurangnya keaktifan siswa terhadap kegiatan mengerjakan tugas kelompok. Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu adanya revisi pada siklus berikutnya, antara lain dengan cara . Memperbanyak frekuensi siswa untuk dalam mengerjakan soal di papan peraga sehingga siswa lebih terbiasa dengan alat peraga, dengan tujuan siswa lebih terfokus pada manfaat alat membantu menyelesaikan soal dan bukan pada bentuk alat . Guru memperhatikan catatan siswa serta mengingatkan jika ada siswa yang tidak mencatat. Membuat kelompok kerja baru dengan cara siswa memilih sendiri anggota kelompoknya. Siklus II Pelaksanaan merupakan hasil revisi siklus I. Pada prinsipnya pembelajaran pada siklus II ini sama dengan pembelajaran pada siklus I. Materi pada siklus II adalah Pembagian cara bersusun dengan bilangan terbagi Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang terdiri dari 3 angka dan bilangan pembagi tetap terdiri dari satu angka. Kegiatan persiapan . Menyiapkan lembar pretes dan dibagikan dan diisi. Alat peraga papan tabel perkalian 2-9, dipersiapkan. Menulis satu contoh soal dengan bilangan terbagi terdiri 3 angka dan bilangan pembagi terdiri satu angka. 5 / 785 Kegiatan Tindakan . Membagi lembar pretes untuk dikerjakan siswa. Guru menyelesaikan soal pembagian cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 3 angka dan bilangan pembagi terdiri dari bantuan alat peraga tersebut, siswa memperhatikan urutan cara mengerjakan soal maupun Siswa mencatat ontoh soal dan cara menyelesaikan soal tersebut. Dengan bimbingan guru, siswa bergiliran mengerjakan soal pembagian cara bersusun yang diberikan guru dengan bantuan alat peraga tersebut, siswa diminta mengerjakan di depan kelas sementara yang lain . Siswa tanpa bantuan guru mencoba mengerjakan soal pendek dengan bantuan alat peraga tersebut. Sesuai dengan kelompoknya siswa mengerjakan tugas yang . Membagi lembar postes untuk dikerjakan siswa Hasil pelaksanaan tindakan siklus . Data hasil pretes pada siklus II ini dapat divisualisasikan ke Adapun distribusi frekuensi hasil pretes disajikan dalam tabel berikut. Tabel 5 Distribusi frekensi hasil pretes siswa siklus II Nilai Frekuensi Presentase (%) 86 Ae 71 Ae 85 56 Ae 70 41 Ae 55 O 40 Jumlah Dari tabel 5, berdasar hasil pretes tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun dari bilangan terbagi terdiri dari 3 angka dan bilangan pembagi terdiri satu angka, dalam kategori sangat kurang 18,2%, kategori kurang 18,2%, kategori cukup 27,3%, kategori baik 13. 6%, dan kategori sangat baik 22,7%. Dengan demikian perlu tindakan lebih lanjut dari siklus II. Dengan postes pada siklus II Data mengenai hasil postes siklus II divisualisasikan dalam bentuk distribusi Adapun tabel distribusi Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 frekuensi hasil postes tersebut sebagai Tabel 6 Distribusi frekuensi hasil postes siswa pada siklus II Nilai Frekuensi Presentase (%) 86 Ae 71 Ae 86 56 Ae 70 41Ae 55 O 40 Jumlah Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 6, dapat disimpulan masih ada 3 siswa yang masih berada dalam kategori cukup, 2 siswa dalam kategori kurang dan 3 siswa dalam kategori sangat kurang. Data hasil obeservasi dengan lembar observasi penilaian perhatian siswa terhadap pembelajaran operasi hitung divisualisasikan dalam tabel berikut. Tabel 7 Distribusi frekeuensi perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian bersusun pada siklus II Aspek Yang Dinilai Memperhatikan penjelasan Guru Mencatat Mengerjakan Aktif dalam Skor 1 Skor 2 F % 2 9,0 Skor 3 19 86,4 Keterangan : Skor 1 : Banyak partisipasinya kurang Skor 2 : Banyak partisipasinya cukup Skor 3 : Banyak partisipasinya baik Jumlah siswa : 22 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa aspek yang masih rendah terdapat pada aspek mencatat penjelasan guru dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas Dengan demikian kedua aspek ini perlu diperhatikan. Refleksi siklus II Berdasar nilai rata-rata pretes dan postes, terlihat adanya peningkatan prestasi belajar siswa setelah diadakan tahap tindakan. Walaupun begitu masih ada sebanyak 3 siswa yang masuk dalam kategori cukup, 2 siswa yang masuk kategori kurang dan ada 3 siswa yang masuk kategori sangat kurang. Berdasar hasil observasi oleh pengamat selama tindakan dilakukan dan diskusi dengan teman sejawat . uru SDN 4 Kotakaran. diketahui yang menjadi penyebab kurang tercapainya hasil seperti yang diharapkan antara lain: Kekurangtelitian siswa dalam langkah pengerjaan sudah benar. Masih kurang aktifnya siswa selama tindakan, beberapa siswa yang nilainya dalam kategori cukup, kurang, maupun sangat kurang diketahui kurang aktif dalam kegiatan mengerjakan tugas Berdasar permasalahan di atas maka perlu adanya revisi pada siklus berikutnya yaitu siklus i, antara lain dengan cara . Memperbanyak frekuensi siswa untuk mengerjakan soal di papan Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang mengerjakan soal pembagian . Membagi anggota kelompok terdiri dari dua orang, dengan tujuan keaktifan siswa dalam kerja kelompok Siklus i Pelaksanaan siklus i hampir sama dengan pelaksanaan siklus II. Pelaksanaan siklus i ini merupakan hasil revisi dari siklus I dan siklus II. Materi pada siklus i adalah pembagian cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri satu angka, misal 3114 : 9 = . Kegiatan persiapan . Menyiapkan lembar pretes, siap dibagikan dan diisi . Menyiapkan lembar observasi untuk diisi selama tindakan . Alat peraga papan tabel perkalian 2-9, dipersiapkan. Menulis satu contoh soal Bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari 1 angka, misal 3114 : 9 = . Membentuk kelompok dengan anggota setiap kelompok terdiri dari 2 siswa saja. Dengan tujuan siswa lebih aktif dalam kerja kelompok. Kegiatan Tindakan . Membagi lembar pretes untuk dikerjakan siswa. Guru menyelesaikan soal pembagian cara bersusun dengan bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari bantuan alat peraga tersebut. Siswa memperhatikan urutan cara mengerjakan soal maupun Siswa mencatat contoh soal dan cara menyelesaikan soal tersebut. Dengan bimbingan guru, siswa bergiliran mengerjakan soal pembagian cara bersusun yang diberikan guru dengan bantuan alat peraga tersebut, siswa diminta mengerjakan di depan kelas sementara yang lain Guru selalu mengingatkan pada siswa, untuk lebih teliti sewaktu mengerjakan soal. Siswa tanpa bantuan guru mencoba mengerjakan soal dengan bantuan alat peraga . Sesuai dengan kelompoknya siswa mengerjakan tugas yang . Membagi lembar postes untuk dikerjakan siswa. Hasil pelaksanaan tindakan siklus i . Data hasil pretes pada siklus i ini dapat divisualisasikan ke dalam bentuk distribusi Adapun distribusi frekuensi hasil pretes disajikan dalam tabel berikut. Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 Tabel 8 Distribusi frekensi hasil pretes siswa pada siklus i Nilai Frekuensi Presentase (%) 86 Ae 71 Ae 85 56 Ae 70 41 Ae 55 O 40 Jumlah Dari tabel, berdasar hasil pretes tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun dari bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka, dalam kategori sangat kurang 13,6%, kategori kurang 18,2%, kategori cukup 13,6 %, kategori baik 22,8%, dan kategori sangat baik 31,8%. Dengan demikian, tindakan untuk siklus i masih perlu dilakukan. Postes pada siklus i Data mengenai hasil postes siklus i divisualisasikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Adapun tabel distribusi fre-kuensi hasil postes tersebut sebagai berikut. Tabel 9 Distribusi frekuensi hasil postes siswa pada siklus i Nilai Frekuen Presentase (%) 86 Ae 71 Ae 85 56 Ae 70 41 Ae 55 O 40 Jumlah Berdasar data yang terdapat pada tabel 3, masih terdapat 2 siswa berada pada kategori Cukup, 2 siswa dalam kategori kurang, dan 1 siswa dalam kategori sangat kurang. Sementara 17 siswa sudah mencapai kategori baik dan sangat baik. Data hasil obeservasi dengan lembar observasi penilaian perhatian siswa terhadap pembelajaran operasi hitung pembagcara bersusun dapat divisualisasikan dalam tabel berikut: Tabel 10 Distribusi frekeuensi perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian bersusun pada siklus i Aspek yang Dinilai Memperhati Mencatat Mengerjaka n tugas Aktif dalam Skor 1 Skor 2 F % 2 9,1 Skor 3 20 90,9 Keterangan : Skor 1 : Banyak partisipasinya kurang Skor 2 : Banyak partisipasinya cukup Skor 3 : Banyak partisipasinya baik Jumlah siswa : 22 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada setiap aspek penilaian untuk mengukur perhatian siswa terhadap pembelajaran matematika khususnya bersusun masuk dalam kategori baik. Refleksi siklus i Berdasarkan nilai rata-rata pretes dan postes, terlihat adanya peningkatan prestasi belajar siswa setelah diadakan tahap tindakan. Terlihat masih ada sebanyak 2 siswa yang masuk dalam kategori cukup, 2 siswa yang masuk kategori kurang dan ada 1 siswa yang Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang masuk kategori sangat kurang. Berdasar hasil observasi oleh pengamat selama tindakan dilakukan dan diskusi dengan teman sejawat . uru SDN 4 Kotakaran. diketahui bahwa siswa yang belum mencapai target tersebut memang termasuk siswa yang lambat belajar sejak mereka duduk di kelas I. Siswa tersebut perlu mendapat pengajaran remedial. Tujuan pengajaran remedial untuk membantu siswa agar mencapai target keberhasilan belajar yang diinginkan. Penggunaan alat peraga tabel perkalian 2-9 dalam pembelajaran pembagian cara bersusun bagi siswa kelas i SDN 4 Kotakarang, ternyata secara umum dapat meningkatkan penguasaan konsep pembagian cara bersusun serta tingkat perhatian siswa pada pembelajaran matematika khususnya pembelajaran pembagian cara bersusun, ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut. Konsep pembagian cara bersusun mengalami peningkatan, terbukti dengan adanya peningkatan nilai yang diperoleh subjek penelitian dari siklus I sampai siklus II. Selama pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi selama tindakan, dari siklus ke siklus peningkatan tingkat perhatian Pembahasan Pelaksanaan pembelajaran menggunakan alat peraga papan tabel perkalian 29 mampu meningkatkan keberhasilan sekaligus meningkatkan perhatian siswa pada proses pembelajaran matematika pada siswa kelas i SDN 4 Kota Karang 2016/2017 Pembelajaran peragaan, dan unjuk kerja siswa. Penelitian ilaksanakan dalam 3 siklus dan setiap siklus terdiri dari 3 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, dan refleksi. Pretes dilaksanakan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang konsep yang akan disampaikan pada setiap siklus. Selanjutnya guru menjelaskan pembagian cara bersusun dengan menggunakan alat peraga papan tabel perkalian 2-9. Siswa dengan bimbingan guru bergiliran ke depan kelas untuk berlatih menyelesaikan soal pembagian cara bersusun yang diberikan siswa dengan menggunakan alat peraga papan tabel perkalian 2-9. Secara berkelompok sesuai dengan kelompoknya siswa mengerjakan soal pembagian cara bersusun pendek menggunakan alat peraga papan tabel perkalian 2-9. Kemudian siswa mengerjakan lembar postes yang dibagikan untuk dikerjakan siswa secara mandiri. Untuk menjaga ketelitian dalam melakukan kegiatan observasi selama tindakan, peneliti meminta bantuan teman sejawat (Guru SDN 4 Kotakaran. untuk mengobservasi aspek perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi dengan memberi tanda ( Oo ) pada aspek yang muncul. Dibawah ini peningkatan penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun sebagai bentuk keberhasilan belajar siswa dan peningkatan perhatian siswa pada pembelajaran matematika khususnya pembelajaran pembagian cara bersusun. Azimah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. 49- 64 Peningkatan Penguasaan Pembagian Cara Bersusun Hasil yang diperoleh dari siklus I diketahui bahwa pada pretes nilai sebanyak 2 siswa, 71-85 sebanyak 3 siswa, 56-70 sebanyak 3 siswa, 41-55 sebanyak 6 siswa. O 40 sebanyak 8 siswa. Pada nilai postes terlihat nilai tertinggi dicapai diantara 86-100 sebanyak 6 siswa, 71-85 sebanyak 5 siswa, 56-70 sebanyak 4 siswa, 41-55 sebanyak 3 siswa. O 40 sebanyak 4 siswa. Dari perolehan hasil pretes dan postes yang dilakukan nampak bahwa ada peningkatan yang cukup berarti pada nilai postes dibandingkan dengan nilai pretes. Ini berarti bahwa hasil tindakan dari penelitian ini mampu meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Akan tetapi melihat rerata hasil yang dicapai siswa yang hanya mencapai kategori cukup, maka perlu dilakukan refleksi untuk perbaikan siklus II. Dari hasil refleksi memperoleh hasil seperti yang diharapkan disebabkan antara lain alat peraga yang masih baru bagi anak membuat siswa cenderung terpaku pada alat peraga dipahami siswa. Siswa kurang aktif mencatat contoh soal dan cara pengerjaannya, dimungkinkan karena perhatian siswa yang berlebihan pada bentuk alat peraga tersebut dan kurangnya keaktifan siswa terhadap kegiatan mengerjakan tugas kelompok. Pada siklus II, hasil pretes diketahui nilai tertinggi dicapai diantara 86-100 sebanyak 5 siswa, 71-85 sebanyak 3 siswa, 56-70 sebanyak 6 siswa, 41-55 sebanyak 4 siswa,O 40 sebanyak 4 Dari nilai postes terlihat perolehan nilai tertinggi yang di capai siswa antara 86-100 sebanyak 9 siswa,71-85 sebanyak 5siswa,56-70 sebanyak siswa, 41-55 sebanyak 2 siswa,O 40 sebanyak 3 Dilihat dari hasil pretes dan postes nampak terjadi peningkatan dibandingkan dengan hasil pretes maupun postes pada siklus I. Secara umum perolehan nilai siswa untuk pembelajaran pembagian cara bersusun masuk kategori baik. Beberapa siswa masih dalam kategori cukup, kurang, dan sangat kurang. Dari hasil refleksi diketahui bahwa penyebab belum tercapainya kategori baik untuk beberapa siswa tersebut adalah masih sekitar mengerjakan latihan soal pembagian bersusun cara dan kurang aktifnya siswa dalam kegiatan kelompok. Pada siklus i, hasil pretes diketahui nilai tertinggi dicapai diantara 86 sd 100 sebanyak 7 siswa, 71-85 sebanyak 5 siswa, 56-70 sebanyak 3 siswa, 41-55 sebanyak 4 siswa. O 40 sebanyak 3 siswa. Dari nilai postes terlihat perolehan nilai tertinggi yang dicapai siswa antara 86-100 sebanyak 12 siswa, 71-85 sebanyak 5 siswa, 56-70 sebanyak 2 siswa, 41-55 sebanyak 2 siswa. O 40 sebanyak 1 siswa. Dari postes tersebut dapat dilihat perolehan nilai hasil belajar pembagian cara bersusun ada peningkatan dari siklus I sampai siklus i. Pada siklus i 54,5 % siswa mempunyai nilai dengan kategori sangat baik dan 22,7% dalam kategori baik. Jadi, siswa yang masuk kategori baik dan sangat baik ada 77,2%. Sementara siswa yang belum memperoleh nilai baik atau masuk dalam kategori cukup, kurang, dan sangat kurang hanya 22,7%. Dari hasil diskusi dan pengamatan dalam refleksi Penggunaan Alat Peraga Tabel Perkalian 2-9 dalam Meningkatkan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas i SDN 4 Kotakarang didapat suatu kesimpulan bahwa mereka yang mendapatkan nilai dengan kategori cukup, kurang dan sangat kurang tersebut memang tergolong anak lambat belajar sejak mereka duduk di kelas I. Mereka memerlukan pengajaran remidial. Hasil tindakan kelas secara umum dengan melihat hasil pada siklus I. II, dan i terlihat ada peningkatan yang cukup pembagian bersusun dengan alat peraga tabel perkalian 2-9. Peningkatan Perhatian Hasil penelitian perhatian siswa khususnya pada materi pembagian bersusun pada siklus I, terlihat pada aspek Mencatat penjelasan guru dan keaktifan dalam mengerjakan tugas kelompok siswa memperoleh skor yang rendah. Pada Siklus II skor pada aspek mencatat penjelasan guru dan keaktifan guru mengalami peningkatan dan pada siklus i berdasar skor yang didapat dapat dilihat bahwa perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian bersusun dengan alat peraga papan tabel perkalian 2-9 masuk dalam kategori baik. SIMPULAN Dapat penggunaan alat peraga tabel perkalian 29 dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keberhasilan pembelajaran meningkatkan perhatian siswa terhadap proses pembelajaran pembagian cara bersusun pada siswa kelas i. Untuk penguasaan konsep pembagian cara bersusun, siswa yang masuk dalam kategori sangat baik 54,5% dan 22,7% siswa dalam kategori baik. Sedangkan pada peningkatan perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian cara bersusun 90,9% siswa mencapai kategori baik untuk rata-rata dari setiap aspek perhatian yang diteliti. DAFTAR PUSTAKA