Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Content Marketing. Discount, dan Shopping Lifestyle Terhadap Impulse Buying di Shopee Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 Manajemen. Universitas Nahdlatul Ulama Jepara. Indonesia *Email: seleasalma@gmail. com1 , nurulhuda@unisnu. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2025-03-01 Diperbaiki : 2025-03-10 Disetujui : 2025-03-15 ABSTRAK Platform seluler Shopee merupakan hal baru di Asia Tenggara dan menawarkan beragam produk dan yang paling banyak ditemui adalah produk fashion, meningkatnya pembelian secara impulsive disebabkan karena banyaknya pembelian yang dilakukan oleh konsumen di shopee. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak content marketing, discount, dan shopping lifestyle terhadap impulse buying. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengambilan sempel menggunakan metode purposive Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 96 sampel. Survei online dengan menggunakan kuesioner (Google For. digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan data. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modelling- Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil yang diperoleh dari penelitian dapat disimpulkan bahwa content marketing dan discount berpengaruh signifikan terhadap impulse buying, tetapi ada satu variabel yang tidak memiliki pengaruh signifikan yaitu shopping lifestyle. Kata Kunci : Content Marketing. Discount. Shopping Lifestyle. Impulse Buying ABSTRACT The Shopee mobile platform is new to Southeast Asia and offers a variety of products and the most common is fashion products, the increase in impulsive purchases is due to the large number of purchases made by consumers at shopee. This study aims to analyze the impact of content marketing, discounts, and shopping lifestyle on impulse The method used in this research is quantitative method. Sampling using purposive sampling method, with a total sample size of 96 samples. An online survey using a questionnaire (Google For. was used as an instrument to collect data. The data analysis process was carried out using Structural Equation Modeling- Partial Least Square (SEM-PLS). The results obtained from the study can be concluded that content marketing and discounts have a significant effect on impulse buying, but there is one variable that does not have a significant effect, namely shopping lifestyle. Keywords: Content Marketing. Discount. Shopping Lifestyle. Impulse Buying Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Jaringan internet berkecepatan tinggi dapat menciptakan fenomena baru serta gaya hidup yang baru bagi masyarakat pengguna fasilitas internet digunakan tidak hanya untuk memfasilitasi penyediaan layanan dan pengumpulan informasi, tetapi juga untuk media dalam berkomunikasi Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 di pemasaran digital. Selain itu, menggunakan internet dalam ritel juga telah mengubah perilaku masyarakat dalam pembelian. Perilaku berbelanja secara online yang dilakukan masyarakat semakin tinggi tiap tahun, kemajuan pada teknologi bermanfaat untuk sistem perdagangan yaitu dengan muncul platform e-commerce (Suci Wahyuni et al. , 2. E-commerce juga dapat digambarkan sebagai toko belanja online yang melayani beragam kebutuhan untuk masyarakat. Shopee menjadi salah satu perusahaan e-commerce tertinggi yang ada di Indonesia. Sejak pertama kali Shopee diresmikan di tahun 2015 sebagai E-Commerce populer di Indonesia. Dalam bentuk aplikasi mobile. Shopee dapat mempermudah pengguna untuk berbelanja secara online tanpa harus mengakses situs web melalui komputer. Dengan fitur yang inovatif. Shopee berhasil memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam proses jual beli Menurut data dari databoks. id, pada tahun 2023 Shopee mengalami peningkatan sebesar 70,9 juta jumlah pengguna, dan menjadi platform e-commerce dengan pengguna terbanyak di Indonesia (Firdausi et al. , 2. Permasalahan yang diteliti yaitu mengenai impulse buying pada produk fashion di shopee yang berkaitan dengan meningkatnya pembelian produk fashion secara tidak terencana dikalangan Masyarakat pada saat ini yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Meningkatnya pembelian secara impulsive disebabkan karena banyaknya pembelian yang dilakukan oleh konsumen di shopee yang seringkali konsumen tersebut tidak menyadari bahwa produk yang dibelinya bukanlah produk yang dibutuhkannya. Kebiasaan berbelanja adalah salah satu hal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan orang secara emosional, sehingga dapat mengarah pada berubahnya dalam perilaku seseorang mulai yang semulaa melakukan belanja dengan merencanakan lebih dulu menjadi belanja yang tidak terencana atau disebut dengan impulse buying (Angela & Paramita, 2. Dengan meningkatnya impulse buying permintaan produk fashion juga mengalami peningkatan yang tinggi. Hal ini tergambar dari data GoodStats (Rafli, 2. yang menjelaskan bahwa sebagian besar persentase Indonesia untuk pakaian ditetapkan sebagai persyaratan utama masyarakat dalam berbelanja. Berdasarkan hasil survei Jakpat 2023, pembelian fashion melonjak hingga 88%, yang berpotensi menjadi level tertinggi di antara berbagai kategori konsumsi. Lebih lanjut. Badan Pusat Statistik mengindikasikan bahwa pada kuartal ketiga tahun 2024. Survei Jakpat terbaru yang menyelidiki kebiasaan belanja pakaian mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia lebih suka berbelanja pakaian secara daring melalui platform e-commerce, dengan Shopee menjadi pilihan paling disukai di antara mereka yang sering terlibat dalam belanja pakaian daring. Menanggapi pemasar online ini memiliki peluang besar untuk kompetisi dalam dunia e -commerce di Indonesia dengan menerapkan strategi dalam impulse buying dan mempelajari faktor yang dapat Dalam bidang perilaku konsumen. Pembelian impulsif adalah keputusan untuk membeli yang tidak disiapkan sebelumnya dan dilakukan konsumenn sesaat sebelum membeli suatu produk atau jasa. Pembelian secara impulsif akan terjadi saat konsumen merasakan keinginan kuat dalam membeli sesuatu produk sesegera mungkin. Faktanya, perdagangan secara online memiliki dampak yang lebih besar pada pembelian impulsif daripada perdagangan secara offline (Almas et al. , 2. Perusahaan biasanya menggunakan platform media sosial dalam meningkatkan strategi penjualan produk dan menjangkau lebih banyak konsumen. Semua kegiatan dalam media sosial Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat menyebabkan stimulasi pada konsumen (Trisa & Roosdhani, 2. Salah satu yang dapat mendorong para konsumen untuk tertarik pada produk yang dijual melalui platform media sosial yaitu pemasaran konten . ontent marketin. Content marketing merupakan manajemen teks, multimedia, suara, serta video yang dipublikasikan menggunakan media cetak serta digital untuk membantu pelanggan dan prospek mencapai tujuan Pemasaran konten dapat ditafsirkan sebagai strategi pemasaran dengan fokus dalam produksi serta distribusi konten yang konsisten dan relevan. Proses pemasaran konten dapat diterapkan pada bisnis dan melalui berbagai konten secara tidak langsung, termasuk teks, video, online, offline dan banyak lagi. Diskon merupakan pengurangan harga atau sejumlah uang yang diberikan oleh penjual kepada pembeli sebagai bentuk apresiasi pada momen tertentu. Penurunan harga menunjukkan setelah diagram diskon. Ketika orang-orang sebagai tolok ukur berbicara tentang manfaat finansial dari perusahaan miskin, mereka sering berkaitan dengan mendapatkan produk dengan biaya di bawah harga pasar. banyak individu berpendapat bahwa manfaat dari pengurangan harga dengan harga rendah dapat menarik konsumen untuk membeli suatu produk. Masyarakat dapat melihat diskon tersebut sebagai peluang yang menguntungkan, hal ini dapat menentukan konsumen untuk membeli produk yang dihargai dengan nilai dsikon yang ditawarkan oleh perusahaan pada suatu produk (Agustin et al. , 2. Shopping lifestyle merupakan respon aktif dari konsumen yang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti perubahan waktu, status social, maupun pendapatan. belanja berdampak pada berbagai kebiasaan konsumsi yang mempresentasikan Keputusan seseorang mengenai bagaimana cara membelanjakan uang atau waktunya. Adanya gaya hidup dari seseorang dalam hal membelanjakan uangnya mengakibatkan berkembangnya sifat dan karakteristik baru. Seseorang yang telah mengikuti perkembangan gaya hidup bersedia mencurahkan waktu untuk tetap mengikuti tren, selain itu, setiap orang juga pasti memiliki gaya hidup berblanja . hopping Shopping lifestyle juga erat kaitannya dengan waktu dan pengembangan teknologi yang lebih canggih (Ningrum & Widanti, 2. Penelitian ini didasarkan pada kesenjangan dalam temuan penelitian sebelumnya. penelitian (Sari & Rafida, 2. yang menyatakan bahwa content marketing berpengaruh terhadap impulse buying. Namun pada penelitian lain menyimpulkan implusive buying di ecommerce Lazada tidak di pengaruhi oleh content marketing. Pemasaran konten bisa dipahami sebagai metode dalam strategi pemasaran yang mengutamakan pembuatan dan penyebaran konten yang bermanfaat, sesuai, dan teratur. Proses pemasaran konten mampu mendukung baik suatu perusahaan maupun secara tidak langsung melalui berbagai jenis materi, termasuk tulisan, video, baik di dunia digital maupun di luar jaringan. (Mas et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Baskara, 2. , menunjukkan bahwa discount berpengaruh positif terhadap perilaku impulse buying. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh (Ittaqullah et al. , 2. menyimpulkan bahwa discount tidak berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Studi yang dilakukan oleh (Nurlinda & Christina, 2. , menyatakan bahwa shopping lifestyle berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. Namun pada penelitian Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 (Baihaqki et al. , 2. menunjukkan bahwa Shopping Lifestyle tidak memiliki pengaruh terhadap Impulse Buying. Temuan studi menunjukkan adanya kesenjangan atau gap dalam bukti-bukti yang ditemukan, yang disebut sebagai Evidence gap. Ini menandakan ketidaksesuaian antara bukti yang ditemukan di lapangan dengan fenomena yang umum terjadi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara apa yang diamati dan fenomena yang biasanya terjadi, dan ini memberikan dorongan untuk strategi baru dalam penelitian berikutnya (Riyanto, 2. Penelitian ini menguji kesenjangan hasil penelitian sebelumnya dengan melaksanakan penelitian mengenai pengaruh content marketing, discount, dan shopping lifestyle terhadap impulse buying produk fashion di Shopee. Temuan Penelitian ini bisa menjadi sumber informasi tambahan, khususnya bagi para pelaku bisnis online dalam mengatur elemen yang dapat dikelola oleh pemasar. Upaya ini bertujuan untuk mendorong konsumen agar melakukan pembelian impulsive, sehingga dapat meningkatkan penjualan melalui pengembangan strategi pemasaran yang lebih efisien. KAJIAN PUSTAKA Impulse Buying Toko online memudahkan konsumen membeli suatu produk dan menawarkan pilihan produk yang lebih beragam. Kebiasaan perilaku pembelian impulsif tidak terjadi begitu saja, ada beberapa alasan mengapa orang mengembangkan kecenderungan tersebut. Penjual di shopee dapat menggunakan perilaku pembelian yang tidak terencana untuk membujuk konsumen atau pelanggan agar membeli produk atau merek tertentu. Pembelian secara impulsif merupakan kecenderungan berbelanja konsumen dengan cara spontan sebab adanya rangsangan lingkungan (Sintia & Megawati, 2. Pembelian yang tidak direncanakan melibatkan pengeluaran uang di luar kendali, dan sebagian besar pelanggan membeli produk yang tidak mereka perlukan. Produk yang dikeluarkan biasanya merupakan produk yang diinginkan konsumen, bukan produk yang dibutuhkannya (Risma et al. , 2. Impulse buying yaitu kondisi pada diri seseorang yang membeli suatu produk tanpa merencanakan sebelumnya, pada situasi ini seseorang dapat mengalami kebingungan dalam berfikir serta mengontrol emosionalnya, emosial ini dapat menghasilkan perasaan pada individu bahwa mereka ingin segera memiliki suatu barang dan merasa nyaman atau puas setelah memperoleh barang yang mereka inginkan serta dapat mengabaikan dampak buruk yang mungkin akan muncul setelah pembelian barang tersebut. Terdapat 4 indikator impulse buying (Fadly Syahputra, 2. ,sebagai berikut: Pembelian yang dilakukan secara spontan. Pembelian tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Pembelian yang didorong oleh kondisi emosional individu. Pembelian yang terpengaruh oleh promosi atau penawaran menarik. Content Marketing Pemasaran konten . ontent marketin. mengacu pada metode yang digunakan perusahaan untuk mengembangkan iklan pemasaran mereka, yang menggambarkan bahwa konten yang lebih menarik menghasilkan hubungan yang lebih kuat antara konsumen dan produk Konten ini dapat berupa video pemasaran yang memberikan informasi yang jelas tentang Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 produk, petunjuk penggunaan, manfaat, diskon yang berlaku, dan banyak lagi (Hasanah & Sudarwanto, 2. Content marketing memberikan beberapa informasi pada konsumen dalam konten yang dihasilkan dengan informatif dan menarik bagi audiens. Konten yang menarik tidak hanya membedakan suatu produk dari pesaingnya, tetapi juga menarik minat konsumen, meningkatkan nilai produk yang dipersepsikan, dan menawarkan hiburan sambil tetap memenuhi tujuan promosi perusahaan. Terdapat 6 indikator content marketing (Puspitasari et al. , 2. Relevansi: Pemasar dapat menyajikan konten yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan membahas permasalahan yang relevan bagi mereka. Akurasi: Pemasar memastikan bahwa informasi yang disampaikan dalam konten benar dan terpercaya, sehingga konsumen menerima data yang akurat. Bernilai: Konten yang dibuat oleh pemasar harus memberikan manfaat serta memiliki nilai guna bagi konsumen. Mudah Dipahami: Pemasar menyusun konten dengan cara yang jelas dan sederhana agar mudah dimengerti oleh audiens. Mudah Ditemukan: Pemasar menyalurkan konten melalui platform yang tepat, sehingga memudahkan konsumen dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Konsisten: Pemasar menjaga keteraturan dalam menyediakan konten bagi konsumen agar tetap terhubung dan mendapatkan informasi secara berkelanjutan. Discount Menawarkan Diskon (Discoun. adalah salah satu opsi bahwa penjual akan menarik pelanggan potensial (Aryasa & Roosdhani, 2. Diskon tersebut yaitu harga populer karena dapat merangsang pembelian produksi produk dan menyebabkan peningkatan penjualan. Diskon ini merupakan penurunan dari harga harga publik yang dapat dikonsumsi dibandingkan dengan informasi harga yang diketahui konsumen. Secara umum, perusahaan tidak menawarkan semua diskon produk, tetapi penawaran diskon disesuaikan dengan waktu atau jenis pembelian produk Produk dengan harga lebih murah yang tertarik pada konsumen dan mendorong lebih banyak pembelian menawarkan harga yang lebih rendah. Terdapat 3 indikator discount (Rahmawaty et , 2. , sebagai berikut. Besarnya discount Ae Persentase atau jumlah nominal potongan harga yang diterima oleh konsumen dari penjual. Masa discount Ae Jangka waktu di mana suatu diskon tersedia sebelum kembali ke harga Jenis produk Ae Kategori produk yang ditawarkan dalam diskon, apakah produk kebutuhan atau Shopping Lifestyle Pola pengeluaran seseorang bisa menggambarkan preferensi mereka dalam mengalokasikan waktu serta mengikuti perkembangan terbaru. Shopping lifeistyle mengacu pada cara berbelanja adalah kegiatan yang rutin dalam memenuhi semua kebutuhan. Shopping lifestyle mengacu pada cara seseorang mengatur dananya bagaimana cara seseorang berbelanja itu mendeskripsikan tentang kondisi, rutinitas, serta martabat dari seseorang. Pada beberapa orang, cara hidup seseorang memiliki gaya hidup yang berbeda, melalui gaya belanja untuk Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 mengungkapkan diri mereka dalam pola perilaku yang berbeda antara orang lain dan diri mereka Terdapat 4 indikator shopping lifestyle (Husna & Ningsih, 2. , sebagai berikut. Tanggapan iklan fashion Ae Sejauh mana konsumen bereaksi terhadap iklan fashion, baik secara emosional, kognitif, maupun perilaku. Model terbaru Ae Ketersediaan dan daya tarik produk fashion yang mengikuti tren atau model terbaru di pasaran. Merek terkenal Ae Merek terkenal meningkatkan kepercayaan dan status sosial, yang memicu impulse buying tanpa banyak pertimbangan rasional. Keyakinan merek mengenai kualitas Ae Seberapa besar kepercayaan konsumen bahwa suatu merek memiliki kualitas yang baik sehingga mengurangi keraguan dan mempercepat keputusan impulse buying. Kerangka Konseptual Content Marketing (X. Impulse Discount (X. Buying (Y) Shopping Lifestyle (X. Gambar 1. Kerangka Konseptual Hipotesis Penelitian Menurut kerangka konseptual dalam Gambar 1, rumusan hipotesis yang diperoleh antara lain: H1 : Content marketing di duga berpengaruh signifikan terhadap impulse buying H2 : Discount di duga berpengaruh signifikan terhadap impulse buying H3 : Shopping lifestyle di duga berpengaruh signifikan terhadap impulse buying METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif. Sumber informasi yang dipakai adalah data asli . yang diperoleh dalam bentuk angka yang dapat diolah, data ini diperoleh yang telah Populasi untuk studi ini mencakup seluruh pengguna Shopee dan mereka yang pernah melakukan pembelian impulsive pada shopee di Jepara. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah Non-Probability Sampling melalui survei online menggunakan kuesioner (Google For. sebagai alat pengumpulan data yang berisi pertanyaan terkait variabel yang telah ditentukan. Adapun Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 untuk penentuan sample yang digunakan adalah Teknik purposive sampling yang merupakan Teknik pengambilan sampel dengan mamilih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang ditetapkan oleh peneliti. sampling minimum ditentukan menggunakan rumus rao purba karena jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jelas atau pasti. (Hair Jr et al. , 2. Dengan hasil n = 96,04 dibulatkan menjadi 96. Total sampel yang terlibat sebanyak 96 individu. tersebut ditetapkan menjadi 100 orang untuk mengantisipasi kuesioner yang mungkin tidak dapat digunakan dalam penelitian atau pemrosesan data. Adapun Metode analisis data yang diterapkan dalam studi ini adalah Partial Least Square (PLS) yang merupakan pilihan lain dari analisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yang berfokus pada Alat bantu yang digunakan untuk menjalankan analisis data adalah SmartPLS 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN Penelitian ini ditujukan kepada seluruh masyarakat yang merupakan pengguna shopee. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 116 responden secara daring di social media dalam bentuk google form. Proses pengumpulan data dilakukan dalam rentang waktu dua bulan yang dimulai dari bulan September hingga Oktober 2024. Gambar 2. Hasil Outer Model Smart PLS Uji Validitas Outer Model Tabel 1. Hasil Uji Outer Loadings Variable Content Marketing Discount Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. Indikator X1. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X3. Outer Loadings Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 Shopping Lifestyle X3. X3. X3. Y1. Y1. Y1. Y1. Impulse Buying Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Output Smart PLS 4. 0, 2024 Metode yang bisa dimanfaatkan untuk menilai validitas konvergen yaitu dengan melihat nilai outer loadings. nilai outer loading > 0,7 artinya data yang Nilai yang digunakan valid dan nilai kurang dari 0,7 harus diubah atau dibuang. Mengacu pada tabel 1. Dalam melakukan pengujian outer loadings, tidak ditemukan indikator yang tidak memenuhi kriteria karena mempunyai nilai > 0,7. Oleh karena itu tidak diperlukan penghapusan karena setiap variabel telah memenuhi syarat, dan dianggap AuvalidAy. Average Variance Extracted (AVE) Tabel 2. Hasil Uji AVE Variable Content Marketing (X. Average variance extracted (AVE) Keterangan Valid Discount (X. Valid Shopping Lifestyle (X. Valid Impulse Buying (Y) Valid Sumber: Output Smart PLS 4. 0, 2024 Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa nilai AVE pada variabel content marketing, discount, shopping lifestyle, dan impulse buying menghasilkan nilai AVE melebihi 0,5. Ini menandakan bahwa satu variabel laten mampu menangkap lebih dari setengah variasi dari indikator tersebut, dan indikator yang diterapkan untuk mengevaluasi variabel ini dianggap valid karena dapat menunjukkan validitas konveregen yang layak. Cross Loadings Tabel 3. Hasil Uji Cross Loadings X1. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X3. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 X3. X3. X3. Y1. Y1. Y1. Y1. Sumber: Output Smart PLS 4. 0, 2024 Dalam riset ini menggunakan kriteria crossloading untuk menguji validitas diskriminan. (Hidayat et al. , 2. menyatakan nilai crossloading yang baik harus mencapai minimal 0,7 untuk setiap variabelnya. Setiap indikator memiliki korelasi yang tinggi pada tiap variabel, seperti yang sudah ditunjukkan dalam Tabel 3. Uji Reliabilitas Tabel 4. Hasil Uji Realibilitas Variabel Cronbach's Content Marketing (X. Discount (X. Shopping Lifestyle (X. Impulse Buying (Y) Sumber: Output Smart PLS 4. 0, 2024 Composite . Composite . Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Uji reliabilitas dapat dinilai melalui 2 uji yaitu nilai composite reliability dan nilai cronbach's alpha. Seluruh nilai variabel dianggap dapat dipercaya berdasarkan nilai reliabilitas komposit yang lebih tinggi dari 0,5, dan nilai Cronbach alpha lebih tinggi dari 0,6. Berdasarkan pada tabel 4 dan 5, dapat dilihat bahwa hasil dari uji composite realibility semua variabel penelitian dianggap dapat dipercaya, karena nilai dari semua variabel lebih dari 0,5. Sedangkan hasil dari pengujian Cronbach alpa menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai nilai lebih dari 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel dapat dipercaya atau reliabel. Uji T Tabel 5. Hasil Uji T Variabel Original (O) Sample mean (M) Standard (STDEV) T statistics (|O/STDEV|) Content Marketing -> Impulse Buying Discount -> Impulse Buying Shopping Lifestyle -> Impulse Buying Sumber: Output Smart PLS 4. 0, 2024 Berdasarkan table 6, dapat dilihat hasil uji hipotesis terkait pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen sebagai berikut: Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 Pengujian hipotesis variabel content Marketing (X. terhadap impulse buying (Y). Nilai Tstatistik dari variable content marketing terhadap impulse buying yaitu 9. Temuan pengujian tersebut memperlihatkan bahwasanya nilai T-statistik lebih besar dari 1,96. nilai P value yaitu sebesar 0. urang dari 0,. maka dapat disimpulkan bahwa content marketing (X. berpengaruh signifikan terhadap impulse buying (Y), dengan demikian Hipotesis 1 diterima. Pengujian hipotesis variabel discount (X. terhadap impulse buying (Y). Nilai T-statistik dari variable discount terhadap impulse buying yaitu 2. Temuan pengujian tersebut memperlihatkan bahwasanya T-statistic menunjukkan angka lebih dari 1,96. Dengan P value yang tercatat sebesar 0,004 . i bawah 0,. , maka bisa disimpulkan bahwa discount (X. berpengaruh signifikan terhadap impulse buying (Y), dengan demikian Hipotesis 2 Pengujian hipotesis variabel shopping lifestyle terhadap impulse buying (Y). Nilai T-statistik dari variable shopping lifestyle terhadap impulse buying yaitu 1. Temuan pengujian tersebut memperlihatkan bahwasanya nilai T-statistik lebih kecil dari 1,96. dengan P value yaitu sebesar 0. ebih dari 0,. maka dapat disimpulkan bahwa shopping lifestyle (X. tidak berpengaruh signifikan terhadap impulse buying (Y), dengan demikian Hipotesis 3 PEMBAHASAN Pengaruh content marketing Terhadap impulse buying Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa content marketing berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Hasil uji hipotesis ini di dukung oleh penelitian (Mas et al. , 2. , hasil uji hipotesis mengonfirmasi bahwa Pemasaran Konten secara positif dan signifikan memengaruhi pembelian Impuls. Analisis yang dilakukan oleh peneliti mengungkapkan bahwa pemasaran konten dalam aplikasi Shopee menawarkan informasi relevan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, dengan fokus pada strategi penyampaian materi yang efektif dan bermanfaat berguna bagi khalayak sasaran. Ini meliputi informasi mengenai produk, saran cara menggunakan, kritik, dan materi yang memberikan manfaat tambahan sekaligus secara langsung menjawab kebutuhan pembeli. Pemasaran konten yang menarik berpotensi memengaruhi perilaku pembelian impulsif konsumen. Namun, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sitinjak et al. , 2. yang menyatakan bahwa content marketing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap impulse buying. Pengaruh discount Terhadap impulse buying Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa discount berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Hasil uji hipotetis ini didukung oleh uji coba sebelumnya yang dilakukan oleh (Risma & Sukmawati, 2. , diskon membawa pengaruh yang positif dan berpengaruh besar pada impulse buying dari para pengguna shopee. Dengan demikian, para pemilik toko bisa menyimpulkan bahwa mereka dapat meningkatkan daya tarik pembeli dengan memungkinkan diskon dan menyebabkan pembelian impulsif di antara konsumen. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yuliarahma & Nurtantiono, 2. , yang menyatakan bahwa discount tidak berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. A Selyasofa Zulfarikhatus Salma1*. Nurul Huda2 Pengaruh shopping lifestyle Terhadap impulse buying Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa shopping lifestyle tidak berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Hasil uji hipotesis ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Novita et al. , 2. , menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara shopping lifestyle terhadap impulse buying, yang artinya hipotesis dalam kajian ini menolak Ha dan menerima Ho. Uji ini secara sistematis menunjukkan bahwa shopping lifestyle tidak berpengaruh secara signifikan terhadap impulse buying. Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup berbelanja tidak memiliki pengaruh langsung terhaap pembelian impulsive. Ini menandakan bahwa meskipun seseorang memiliki gaya hidup berbelanja yang tinggi, tetapi ini tidak secara otomatis mendorong perilaku impuls buying pada kategori fashion di ecommerce. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Fauzi et al. , 2. , yang menyatakan bahwa shopping lifestyle berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. SIMPULAN Menurut hasil penelitian yang dilakukan tentang pengaruh content marketing, discount, dan shopping lifestyle terhadap impulse buying produk fashion di shopee, diketahui bahwa ada dua variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap impulse buying yaitu variabel content marketing (X. , dan Discount (X. Dan terdapat satu variabel yang tidak memiliki pengaruh signifkan yaitu shopping lifestyle (Y). Temuan penelitian ini dapat dapat memberikan tambahan informasi terutama dengan memberikan informasi tambahan kepada bisnis online dan mendorong konsumen untuk mendorong pembelian impulsif dengan merancang strategi pemasaran yang lebih efektif. Penelitian yang dilakukan saat ini memiliki keterbatasan antara lain waktu penelitian yang singkat. Adapun saran dari peneliti yaitu Bagi peneliti selanjutnya yang membahas tentang variable yang peneliti lakukan, peneliti berharap agar peneliti selanjutnya menambahkan beberapa variabel yang tidak dibahas pada penelitian ini atau berada di luar variabel yang digunakan peneliti, sehingga nantinya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat menentukan indikator untuk setiap variable pada Subyek penelitian. Hal ini bertujuan agar penelitian selanjutnya dapat mengetahui secara lebih terkait komprehensif yang lebih mendalam tentang pengaruh variabel dependen terhadap impulse buying, serta meningkatkan presisi dan kelengkapan penelitian selanjutnya. REFERENSI