Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis Nurani1*. Merita Diana2. Junaina3. Safitri Agustina4. Agus Pahrudin5. Bujang Rahman6 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Universitas Lampung *nurani270513@gmail. How to cite . n APA Styl. : Nurani. Diana. Junaina. Agustina. Pahrudin. Rahman. Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 18 . , pp. Abstract: The stagnation of the academic atmosphere in Islamic educational institutions is often caused by management practices that are trapped in administrative formalities and a scientific dichotomy that separates religious knowledge from science. This study aims to deconstruct Islamic education management practices and offer a new model based on an Islamic epistemological This research is a qualitative library research utilizing a philosophicalpedagogical approach. Data were sourced from authoritative literature on Islamic educational philosophy and modern management, analyzed using content analysis and hermeneutics methods. The findings reveal that ideal Islamic education management must be built upon the integration of three epistemological reasonings: Bayani . Burhani . ational-empirica. , and Irfani . Bayani reasoning serves as a guardian of religious identity and ethics. Burhani reasoning encourages a culture of research and scientific innovation, while Irfani reasoning strengthens the dimensions of character and spirituality. This study recommends an "integrative-circular management" model that synergizes these three reasonings to create a holistic academic atmosphere, aiming to produce 'ulul albab' graduates who possess spiritual strength . , intellectual capacity . , and good deeds . Keywords: Islamic Education Management. Academic Atmosphere. Epistemology. PENDAHULUAN Manajemen Pendidikan Islam (MPI) pada era kontemporer menghadapi tantangan yang kompleks, tidak hanya sekadar persoalan administratif dan teknis, melainkan juga menyangkut orientasi filosofis lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan Islam dituntut untuk bertransformasi menjadi pusat peradaban yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan kemajuan sains modern. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa praktik manajemen sering kali terjebak pada formalitas birokratis dan pemenuhan standar administratif semata, sehingga kehilangan "ruh" keilmuan yang seharusnya menjadi fondasi utama Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis (Bashori, 2. Akibatnya, lembaga pendidikan Islam sering kali gagap dalam merespons dinamika perubahan zaman karena lemahnya tata kelola yang berbasis pada visi keilmuan yang kokoh. Jantung dari sebuah institusi pendidikan adalah atmosfer akademik yang hidup dan dinamis. Atmosfer akademik yang sehat ditandai dengan adanya kebebasan mimbar akademik, budaya riset yang kuat, serta dialektika intelektual yang intensif antara dosen dan mahasiswa. Sayangnya, iklim ini sering kali terhambat oleh dikotomi ilmu yang masih tajam antara ilmu agama dan ilmu umum, serta dominasi pendekatan normatif-doktriner yang kaku (Nata, 2. Kondisi ini menyebabkan stagnasi intelektual, di mana lembaga pendidikan Islam lebih banyak berfungsi sebagai "penjaga warisan" . ransfer of value. semata, dan kurang berperan sebagai "produsen pengetahuan" . roducer of knowledg. yang inovatif (Kuntoro, 2. Permasalahan stagnasi atmosfer akademik ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan perbaikan fasilitas fisik atau peningkatan anggaran semata, melainkan memerlukan peninjauan ulang terhadap landasan epistemologis yang digunakan. Manajemen pendidikan yang tidak berlandaskan pada epistemologi yang jelas akan menghasilkan kebijakan yang parsial dan tidak menyentuh akar masalah pengembangan ilmu. Qomar . menegaskan bahwa kegagalan pendidikan Islam sering kali bermula dari kerancuan epistemologi, di mana tidak adanya keseimbangan antara penggunaan nalar . , teks . , dan intuisi . Tanpa kerangka epistemologi yang terintegrasi, manajemen pendidikan hanya akan menjadi aktivitas rutin tanpa arah pengembangan intelektual yang jelas. Dalam konteks inilah, pendekatan epistemologi Islam yang meliputi Bayani . endekatan tekstua. Burhani . endekatan rasional-empiri. , dan Irfani . endekatan intuitif-spiritua. menjadi sangat relevan untuk dikaji kembali dalam bingkai Integrasi ketiga nalar ini dalam sistem manajemen, mulai dari perencanaan kurikulum, pengembangan SDM, hingga budaya organisasi, diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik. Manajemen pendidikan Islam tidak boleh hanya condong pada satu aspek saja, misalnya hanya Bayani yang melahirkan konservatisme, atau hanya Burhani yang melahirkan sekularisme, tetapi harus mampu meramu ketiganya menjadi kekuatan pendorong atmosfer akademik yang unggul (Abdullah, 2. Berdasarkan paparan di atas, penelitian mengenai "Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis" menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Penelitian ini penting tidak hanya untuk mengisi kesenjangan teoretis dalam literatur MPI yang jarang menyentuh aspek filsafat ilmu, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi pengelola lembaga pendidikan. Dengan memahami landasan epistemologis, para manajer pendidikan diharapkan mampu merancang kebijakan strategis yang dapat menumbuhkan iklim akademik yang integratif, di mana wahyu memandu sains, dan sains memperkokoh keimanan, sehingga melahirkan ulul albab yang kompeten secara intelektual dan spiritual (Saihu, 2. Berdasarkan uraian di atas, fokus utama penelitian ini adalah untuk mengurai bagaimana manajemen pendidikan Islam dikonstruksi dalam upaya membangun Nurani. Merita Diana. Junaina. Safitri Agustina. Agus Pahrudin. Bujang Rahman LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 287-296 atmosfer akademik di lembaga pendidikan. Secara lebih spesifik, penelitian ini akan menelaah bagaimana tinjauan epistemologis, meliputi aspek Bayani. Burhani, dan Irfani, memandang hubungan dialektis antara praktik manajemen dan pembentukan iklim keilmuan yang sehat. Lebih jauh lagi, penelitian ini hendak menggali implikasi dari landasan epistemologis tersebut terhadap pembentukan sebuah model pengembangan atmosfer akademik yang ideal dan integratif dalam konteks pendidikan Islam. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif konstruksi manajemen pendidikan Islam dalam konteks pengembangan budaya akademik. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk menganalisis fondasi epistemologis yang mendasari praktik manajemen serta pengaruhnya terhadap atmosfer akademik yang terbentuk. Puncaknya, penelitian ini berupaya merumuskan sebuah konsep manajemen pendidikan Islam yang berbasis pada integrasi epistemologi Islam guna memperkuat dan menghidupkan atmosfer akademik yang holistik. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan Manajemen Pendidikan Islam (MPI), khususnya dalam memperkuat landasan filosofis pendidikan Islam yang sering kali terabaikan dalam diskursus manajerial. Adapun secara praktis, temuan penelitian ini dapat menjadi panduan strategis bagi para pengelola lembaga pendidikan Islam, mulai dari Kepala Sekolah. Dekan, hingga Rektor, dalam merancang kebijakan manajerial yang berorientasi pada pengembangan iklim akademik yang kondusif, integratif, dan bermutu tinggi. METODE Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dengan jenis kepustakaan atau library research. Objek material penelitian ini adalah konsepkonsep pemikiran mengenai manajemen pendidikan dan epistemologi Islam yang tersebar dalam berbagai literatur (Zed, 2. Penelitian ini berupaya menggali, menafsirkan, dan merekonstruksi teori-teori yang ada untuk menjawab permasalahan atmosfer akademik. Sebagaimana dijelaskan oleh Moleong . , penelitian kualitatif semacam ini bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, dalam hal ini subjek pemikiran atau teks, secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Untuk membedah permasalahan secara mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis dan mengintegrasikan pendekatan pedagogis. Pendekatan ini diperlukan untuk melihat implikasi praktis dari konsep filosofis tersebut terhadap proses pendidikan yang nyata. Melalui kacamata pedagogis, analisis epistemologi tidak hanya berhenti sebagai wacana abstrak, tetapi diterjemahkan ke dalam praksis pendidikan, seperti bagaimana manajemen kurikulum disusun dan bagaimana interaksi guru-siswa dibangun untuk menciptakan iklim akademik yang kondusif (Nata, 2. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis data primer dan data sekunder. Data primer merujuk pada karya-karya otoritatif yang membahas filsafat pendidikan dan epistemologi Islam secara langsung. Karya-karya monumental dari tokoh seperti Muhammad Abid Al-Jabiri tentang trilogi epistemologi (Bayani. Burhani. Irfan. Syed Naquib Al-Attas tentang islamisasi ilmu, serta literatur klasik karya Al-Ghazali dan Ibn Khaldun menjadi rujukan utama untuk membangun kerangka teoretis (Arikunto, 2013. Bahri, 2. Sementara itu, data sekunder meliputi literatur pendukung yang relevan namun tidak menjadi objek kajian utama. Ini mencakup buku-buku manajemen pendidikan kontemporer, artikel jurnal terakreditasi yang membahas isu atmosfer akademik terkini, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. Data sekunder ini berfungsi untuk memperkuat argumen, memberikan konteks kekinian, serta menjadi pembanding . terhadap konsep-konsep yang ditemukan dalam data primer, sehingga analisis yang dihasilkan lebih komprehensif dan aktual. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Menurut Sugiyono . , studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif, namun dalam library research, ia menjadi metode utama. Peneliti melakukan penelusuran terhadap berbagai literatur, baik cetak maupun digital, kemudian melakukan klasifikasi bahan hukum atau bahan pustaka yang relevan dengan tema manajemen pendidikan dan epistemologi. Proses ini melibatkan langkah-langkah identifikasi wacana dari buku, makalah, jurnal, majalah, atau berita yang relevan. Peneliti tidak hanya mengumpulkan buku, tetapi menelusuri gagasan-gagasan spesifik di dalamnya, mencatat kutipan penting, memverifikasi validitas sumber, dan mengelompokkannya berdasarkan tema pembahasan . untuk memudahkan proses analisis selanjutnya (Zed, 2. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. dengan pisau analisis hermeneutika filosofis. Mengingat objek kajian ini berupa teks dan pemikiran, maka diperlukan interpretasi mendalam untuk menangkap makna di balik teks. Teknik analisis ini meliputi interpretasi . enafsirkan makna teks sesuai konteksny. , koherensi internal . emeriksa konsistensi logis antar gagasa. , dan heuristika . enemukan pemahaman bar. (Bakker & Zubair, 2. Lebih lanjut, data yang terkumpul dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Peneliti membandingkan . ketiga perspektif epistemologi (Bayani. Burhani. Irfan. untuk melihat letak perbedaannya, kemudian melakukan sintesis untuk merumuskan model manajemen Tujuan akhirnya adalah menghasilkan sebuah konstruksi pemikiran yang utuh . mengenai manajemen pendidikan Islam yang ideal, yang tidak hanya bersifat deskriptif tetapi juga preskriptif solutif. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Manajemen Pendidikan Islam Saat Ini Kondisi objektif manajemen pendidikan Islam saat ini sering kali terjebak dalam dilema antara idealisme nilai dan tuntutan pragmatisme birokrasi. Di satu sisi, lembaga pendidikan Islam berupaya mempertahankan identitas keagamaan yang Nurani. Merita Diana. Junaina. Safitri Agustina. Agus Pahrudin. Bujang Rahman LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 287-296 kuat, namun di sisi lain, mereka dihadapkan pada regulasi pendidikan nasional yang menuntut standardisasi administratif yang ketat. Azra . menyoroti bahwa banyak lembaga pendidikan Islam menghabiskan energi manajerialnya untuk pemenuhan akreditasi dan administrasi teknis, sehingga abai terhadap pengembangan substansi keilmuan. Akibatnya, atmosfer akademik yang terbentuk lebih bersifat prosedural daripada intelektual. dosen dan guru disibukkan dengan laporan beban kerja daripada inovasi riset, yang pada akhirnya mematikan kreativitas akademik di lingkungan kampus atau madrasah. Selain jebakan birokratis, dinamika manajemen pendidikan Islam juga masih diwarnai oleh dikotomi keilmuan yang berdampak pada iklim akademik yang Pemisahan antara "ilmu agama" dan "ilmu umum" tidak hanya terjadi pada level kurikulum, tetapi juga meresap ke dalam pola pikir manajerial dan budaya Suryadi . menjelaskan bahwa manajemen sering kali menempatkan studi Islam sebagai entitas sakral yang tidak boleh disentuh oleh metode kritis, sementara sains umum diperlakukan secara sekuler tanpa sentuhan nilai. Hal ini menciptakan atmosfer akademik yang timpang. di satu sisi terdapat dogmatisme yang kaku, dan di sisi lain terdapat saintisme yang kering nilai, sehingga gagal melahirkan lulusan yang integratif. Untuk merespons tantangan tersebut, diperlukan pergeseran paradigma manajemen dari sekadar "maintenance management" . anajemen pemeliharaa. menuju "development management" . anajemen pengembanga. Manajemen pemeliharaan hanya berfokus pada menjaga agar rutinitas sekolah berjalan, sedangkan manajemen pengembangan berorientasi pada inovasi dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Darno . dan Kuntoro . menegaskan bahwa transformasi ini hanya mungkin terjadi jika pemimpin lembaga pendidikan memiliki visi epistemologis yang jelas. Tanpa visi tersebut, modernisasi fasilitas fisik di lembaga pendidikan Islam tidak akan berkorelasi linear dengan peningkatan mutu atmosfer akademik, karena "ruh" atau nalar yang menggerakkan sistem tersebut masih bersifat stagnan. Analisis Epistemologis terhadap Manajemen Pendidikan Dimensi Bayani dalam Manajemen Epistemologi Bayani, yang bersumber pada teks . wahyu, memainkan peran krusial sebagai penjaga identitas dalam manajemen pendidikan Islam. Dalam konteks manajerial, nalar Bayani bermanifestasi pada kebijakan kurikulum yang menekankan penguasaan literatur klasik . , hafalan Al-Qur'an, dan transmisi ilmu melalui sanad yang bersambung. Al-Jabiri mendefinisikan Bayani sebagai metode pemikiran yang menjadikan teks sebagai otoritas tertinggi (Bahri, 2. Dalam praktiknya, manajemen berbasis Bayani menciptakan atmosfer akademik yang penuh dengan nuansa religiusitas, ketaatan pada otoritas guru . yai/ulam. , dan pelestarian tradisi. Kelebihannya adalah terciptanya stabilitas budaya dan kuatnya karakter religius peserta didik yang tidak mudah terombang-ambing oleh arus budaya Namun, dominasi pendekatan Bayani yang berlebihan dalam manajemen pendidikan memiliki risiko menciptakan iklim akademik yang konservatif dan Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis kurang kritis. Ketika manajemen hanya fokus pada "transfer pengetahuan" secara tekstual tanpa dialog kritis, maka atmosfer akademik menjadi pasif. Roqib . mencatat bahwa di beberapa lembaga, kritik terhadap materi ajar dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan . u'ul ada. , yang secara tidak sadar mematikan nalar kritis Oleh karena itu, tantangan bagi manajer pendidikan adalah bagaimana menempatkan nalar Bayani sebagai fondasi etis dan sumber nilai, bukan sebagai pembatas yang mengekang eksplorasi intelektual dalam memahami realitas Idealnya, manajemen pendidikan harus mampu mentransformasi nalar Bayani dari sekadar hafalan teks menjadi pemahaman kontekstual. Kebijakan manajerial harus mendorong studi teks yang hidup . iving tex. , di mana Al-Qur'an dan Hadis dijadikan inspirasi untuk menjawab problem kekinian. Dengan demikian, atmosfer akademik yang terbangun adalah atmosfer yang "religius-dinamis", di mana teks suci tetap dijunjung tinggi, namun dipahami dengan metode yang relevan dengan tantangan zaman. Ini menuntut peran kepala sekolah atau rektor untuk mendesain program yang menjembatani kesenjangan antara teks klasik dan konteks modern. Dimensi Burhani dalam Manajemen Berbeda dengan Bayani, epistemologi Burhani yang berbasis pada rasio, logika, dan pembuktian empiris, menawarkan landasan bagi manajemen pendidikan yang modern dan progresif. Dalam perspektif ini, validitas kebenaran diukur melalui koherensi logis dan korespondensi dengan fakta empiris. Abdullah . menekankan bahwa nalar Burhani sangat penting untuk mengembangkan budaya riset dan inovasi sains di lembaga pendidikan Islam. Implementasi manajemen berbasis Burhani terlihat pada kebijakan yang memprioritaskan metode ilmiah, penggunaan teknologi pembelajaran, analisis data statistik untuk pengambilan keputusan, serta pengembangan laboratorium dan perpustakaan modern. Penerapan nalar Burhani dalam manajemen pendidikan secara langsung berdampak pada terciptanya atmosfer akademik yang rasional, objektif, dan Iklim ini mendorong civitas akademika untuk tidak sekadar menerima informasi begitu saja . aken for grante. , melainkan melakukan verifikasi, observasi, dan eksperimentasi. Dalam konteks manajemen mutu, pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) yang berbasis data. Kehadiran dimensi Burhani mencegah lembaga pendidikan Islam terjebak pada mitos atau klaim kebenaran sepihak tanpa bukti, serta menjadikan lembaga tersebut responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global (IPTEK). Meskipun demikian, penerapan Burhani tanpa kendali nilai agama dapat mengarah pada sekularisasi pendidikan, di mana ilmu pengetahuan dilepaskan dari tanggung jawab spiritualnya. Manajemen yang terlalu teknokratis dan positivistik dapat menjadikan atmosfer kampus terasa "kering" dan transaksional. Oleh karena itu, analisis epistemologis menunjukkan bahwa Burhani harus ditempatkan sebagai alat analisis . ool of analysi. yang tajam dalam membedah fenomena alam dan sosial, namun arah dan tujuannya tetap harus dipandu oleh nilai-nilai etis. Sinergi ini akan melahirkan sains yang tidak hanya benar secara logis, tetapi juga bermanfaat . bagi kemanusiaan. Nurani. Merita Diana. Junaina. Safitri Agustina. Agus Pahrudin. Bujang Rahman LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 287-296 Dimensi Irfani dalam Manajemen Dimensi Irfani, yang bertumpu pada intuisi . , pengalaman batin, dan penyucian jiwa, memberikan "ruh" atau jiwa pada manajemen pendidikan Islam. Jika Bayani mengurus teks dan Burhani mengurus rasio, maka Irfani mengurus hati dan Fathonah et al. menjelaskan bahwa pengetahuan Irfani diperoleh melalui direct experience . engalaman langsun. yang bersifat spiritual. Dalam konteks manajemen, nalar Irfani tercermin dalam budaya organisasi yang mengedepankan adab, keikhlasan, keteladanan . swah hasana. , dan hubungan interpersonal yang penuh kasih sayang . Atmosfer akademik tidak hanya dipandang sebagai interaksi intelektual, tetapi juga sebagai interaksi spiritual antara guru dan murid. Implementasi manajemen berbasis Irfani sangat krusial untuk mengatasi krisis moral dan kekeringan spiritual yang sering melanda dunia akademik modern. Manajemen kurikulum tidak hanya menyajikan materi kognitif, tetapi juga menyediakan ruang bagi tazkiyatun nafs . enyucian jiw. dan praktik ibadah. Atmosfer akademik yang diwarnai nalar Irfani akan terasa sejuk, damai, dan penuh Dosen dan mahasiswa tidak hanya mengejar indeks prestasi atau jabatan akademik, tetapi memaknai proses belajar mengajar sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Tuhan . Hal ini membangun self-control internal yang kuat dalam diri warga sekolah/kampus. Namun, tantangan dalam menerapkan epistemologi Irfani adalah sifatnya yang subjektif dan sering kali sulit diukur dengan indikator manajemen formal. Terlalu dominannya aspek Irfani tanpa keseimbangan rasionalitas juga bisa menjebak lembaga pada fatalisme atau pengabaian terhadap kaidah-kaidah manajemen profesional . Oleh karena itu, manajemen pendidikan Islam harus mampu memformulasikan nilai-nilai Irfani ke dalam indikator budaya kerja yang nyata, seperti integritas, kejujuran akademik, dan etos pelayanan. Irfani menjadi jembatan yang menghubungkan kecerdasan intelektual dengan kearifan spiritual, menjadikan ilmu tidak hanya "tahu" tetapi juga "merasa". Tabel 1. Perbandingan Implikasi Epistemologi dalam Manajemen Pendidikan Aspek Epistemologi Epistemologi Epistemologi Irfani Manajemen Bayani Burhani (Intuisi/Spiritua. (Teks/Wahy. (Rasio/Empiri. Fokus Penguasaan materi Penguasaan sains. Pendidikan karakter Kurikulum keagamaan, hafalan teknologi, . , tazkiyatun nafs, teks, studi metodologi riset, nilai-nilai sufistik, dan turath/klasik. logika, dan analisis Gaya Paternalistik. Rasional-legal. Spiritual-transformatif. Kepemimpinan karismatik berbasis profesional, berbasis melayani . ervant keilmuan agama, data, dan inovatif. penjaga tradisi. Atmosfer Religius, taat Dinamis, kompetitif. Tenang, harmonis. Akademik otoritas, stabil, objektif, berorientasi beretika tinggi, penuh pada temuan baru penghayatan nilai. lokal/pesantren. Manajemen Pendidikan Islam dan Atmosfer Akademik: Sebuah Tinjauan Epistemologis Metode Pembelajaran Resiko Dominasi Ceramah, sorogan. Konservatisme, kurang kritis, stagnasi inovasi. Diskusi, eksperimen, studi kasus, pemecahan masalah . roblem solvin. Sekularisme, kekeringan spiritual. Refleksi, internalisasi nilai, praktik ibadah. Subjektivitas tinggi, pengabaian sistem. Rekonstruksi Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Epistemologi Integratif Rekonstruksi manajemen pendidikan Islam harus bergerak menuju model integratif yang tidak lagi memisahkan ketiga nalar epistemologis di atas. Amin Abdullah . menawarkan paradigma "Integrasi-Interkoneksi" dengan metafora jaring laba-laba . pider we. , di mana wahyu (Al-Qur'an & Hadi. menjadi pusat yang menjiwai seluruh disiplin ilmu lainnya. Dalam konteks manajemen, ini berarti kebijakan institusi tidak boleh berjalan secara parsial. Seorang manajer pendidikan harus mampu mendesain sistem di mana nalar Bayani memberikan landasan etis, nalar Burhani menyediakan metodologi pengembangan yang efektif, dan nalar Irfani memastikan proses tersebut bermakna secara spiritual. Model manajemen integratif ini menuntut adanya "circular management" . anajemen sirkula. , di mana terjadi dialog terus-menerus antara teks, konteks, dan Secara praktis, ini bisa diterjemahkan dalam kurikulum yang ulul albab: mahasiswa kedokteran tidak hanya belajar anatomi (Burhan. tetapi juga etika medis Islam (Bayan. dan empati terhadap pasien (Irfan. Begitu pula mahasiswa tafsir tidak hanya menghafal ayat, tetapi menggunakan sosiologi (Burhan. untuk membedah masalah masyarakat. Atmosfer akademik yang tercipta dari manajemen semacam ini adalah atmosfer yang holistik, di mana tidak ada lagi tembok pemisah antara "kampus agama" dan "kampus umum". Pada akhirnya, tujuan dari rekonstruksi ini adalah melahirkan output pendidikan yang paripurna. Manajemen yang integratif akan menghasilkan lulusan yang memiliki dzikir . ekuatan spiritual/Irfan. , fikir . ekuatan intelektual/Burhan. , dan amal shaleh . ekuatan implementasi/kontekstualisasi Bayan. Manajemen pendidikan Islam masa depan adalah manajemen yang mampu meramu ketegangan antara tradisi dan modernitas menjadi sebuah harmoni. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam tidak hanya menjadi menara gading yang asing dari realitas, atau pengekor modernitas yang kehilangan jati diri, melainkan menjadi pusat peradaban yang mencerahkan. SIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa stagnasi atmosfer akademik di lembaga pendidikan Islam tidak semata-mata disebabkan oleh masalah teknis manajerial atau minimnya pendanaan, melainkan berakar pada kerancuan epistemologis yang menciptakan dikotomi antara ilmu agama dan sains. Praktik manajemen yang cenderung parsial, hanya menitikberatkan pada aspek Bayani . ekstual-normati. yang melahirkan konservatisme, atau aspek Burhani . yang melahirkan sekularisme, gagal membentuk ekosistem pendidikan yang Nurani. Merita Diana. Junaina. Safitri Agustina. Agus Pahrudin. Bujang Rahman LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 287-296 Oleh karena itu, konstruksi manajemen pendidikan Islam harus dibangun di atas landasan epistemologi integratif yang menyeimbangkan ketiga nalar tersebut. Nalar Bayani berfungsi sebagai penjaga otoritas etis dan identitas keislaman, nalar Burhani sebagai pendorong inovasi riset dan objektivitas ilmiah, serta nalar Irfani sebagai penguat dimensi spiritual dan karakter. Implikasi dari temuan ini menegaskan perlunya model "manajemen integratifsirkular" dalam tata kelola pendidikan Islam. Dalam model ini, atmosfer akademik tidak lagi dipandang sebagai ruang kompetisi intelektual semata, melainkan sebagai ruang ibadah dan pengabdian yang holistik. Keberhasilan manajemen tidak hanya diukur dari pencapaian akreditasi administratif, tetapi dari kemampuannya melahirkan kultur akademik yang hidup, di mana teks wahyu berdialog dengan konteks sains, dan logika berpadu dengan etika. Sinergi ini pada akhirnya akan mencetak lulusan ulul albab yang memiliki kekuatan zikir, pikir, dan amal, serta mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri spiritualnya. Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan bagi para pemangku kebijakan di lembaga pendidikan Islam, seperti Kepala Madrasah. Rektor, dan Ketua Yayasan, untuk melakukan audit epistemologis terhadap kebijakan manajerial yang sedang Pemimpin lembaga perlu merumuskan ulang visi-misi dan kurikulum agar tidak terjebak pada polarisasi keilmuan. Kebijakan konkret yang dapat diambil meliputi: . merevisi kurikulum agar mengintegrasikan materi agama dan umum secara substantif, bukan sekadar tempelan. menciptakan program pengembangan SDM yang mewajibkan dosen agama memahami metodologi riset (Burhan. dan dosen sains memahami etika Islam (Bayan. membangun budaya organisasi yang menghargai kebebasan mimbar akademik sekaligus menjunjung tinggi adab dan spiritualitas (Irfan. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menguji konsep manajemen berbasis epistemologi integratif ini melalui studi lapangan . ield researc. atau Research and Development (R&D) di lembaga pendidikan tertentu. Penelitian lanjutan dapat difokuskan pada pengembangan instrumen evaluasi kinerja berbasis epistemologi integratif, sehingga konsep filosofis ini dapat diturunkan menjadi indikator manajerial yang terukur dan aplikatif. Selain itu, kajian mengenai dampak finansial dan resistensi budaya dalam penerapan manajemen integratif ini juga menjadi celah riset yang menarik untuk didalami lebih lanjut guna menyempurnakan model manajemen pendidikan Islam yang ideal. DAFTAR PUSTAKA