Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 7, Juli 2025 ISSN: 27342488 ANALISIS KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA Hilyatul Aulia1, Nur Ismi Awaliah2, Nur Fajrianty3, Alif Al Hafiz Anwar4, Ahyudi5, Andi Arizal6, Nur Kholifatun7 1 Email: hilyatulauliablk@gmail.com , nurismiawaliah05@gmail.com2, nurfajrianty29@gmail.com3, alifalhafiz0212@gmail.com4, diwhyu886@gmail.com5, andiarizal05@gmail.com6, uminur2076@gmail.com7 STAI Al-Gazali Bulukumba ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap Kurikulum 2013 pendidikan agama Islam di Indonesia dengan pendekatan kajian perpustakaan. Melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber literatur, termasuk buku, laporan penelitian, dan dokumen resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penelitian ini mengeksplorasi berbagai aspek penting dari kurikulum, seperti tujuan, struktur, dan implementasinya.Hasil analisis menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan kompetensi siswa secara holistik, dengan penekanan pada aspek spiritual, sosial, dan intelektual.Secara umum, Kurikulum 2013 PAI bertujuan untuk membentuk karakter dan akhlak siswa, meningkatkan pemahaman mereka tentang ajaran Islam. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi dalam implementasi kurikulum, termasuk kurangnya pelatihan dan pemahaman guru terhadap kurikulum, keterbatasan sumber daya pendidikan, serta perbedaan interpretasi kurikulum di antara para pendidik. Melalui kajian ini, tentu dapat memberikan wawasan yang lebih mudah di pahami mengenai efektivitas Kurikulum 2013 dalam pendidikan agama Islam, serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada upaya peningkatan kualitas pendidikan agama Islam di Indonesia, yang pada gilirannya dapat membentuk generasi yang lebih baik dan berakhlak mulia. Kata Kunci: Kurikulum 2013, Pendidikan Agama Islam, Implementasi Kurikulum. 46 PENDAHULUAN Kurikulum ini diperkenalkan sebagai respons terhadap kebutuhan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada, dengan tujuan menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan akhlak yang baik.Salah satu tujuan utama dari kurikulum ini adalah membentuk siswa yang beriman dan bertakwa, serta mampu menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Materi yang diajarkan dalam pendidikan agama Islam tidak hanya berfokus pada aspek teoritis, tetapi juga pada praktik dan penerapan nilai-nilai Islam dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang beragam.Dalam pelaksanaannya, analisis kurikulum K13 juga mempertimbangkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh pendidik dan siswa. Beberapa tantangan tersebut meliputi keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan bagi guru, serta perbedaan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap kurikulum baru ini. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap implementasi kurikulum ini, guna memastikan bahwa tujuan pendidikan agama Islam dapat tercapai dengan baik.Selain itu, analisis ini juga mencakup perbandingan dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), untuk mengidentifikasi perbedaan dan kemajuan yang telah dicapai. Dengan memahami kelebihan dan kekurangan dari kedua kurikulum, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Indonesia.Secara keseluruhan, analisis kurikulum 2013 merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk karakter generasi muda. Melalui pemahaman yang mendalam tentang kurikulum ini, diharapkan para pendidik, siswa, dan masyarakat dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik dan lebih kompetitif. ME TODE PE NE LITIA N Dalam penelitian ini digunakan metode perpaduan antara observasi (kualitatif) dankajian pustaka. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang menggunakan langkah, cara,dan prosedur yang lebih mengaitakan fakta dan penjelasan yang diperoleh melaluinarasumber. Sinopsis tertulis, yang menyampaikan pengetahuan dan teori dari masa lalu dan masa kini dikenal dengan pendekatan tinjauanpustaka. Menyortir literatur menurut subjek dan menyiapkan makalah yang diperlukan untukproyek penelitian. Widiarsa (2019:112). Data dalam penelitian ini dikumpulkan juga melaluiberbagai literatur seperti buku, jurnal, artikel melalui penelusuran secara online yang memanfaatkan berbagai sumber basis data seperti google scholar dan sumber lainnya. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam di Indonesia memiliki karakteristik yang beragam dan khas, mencakup aspek spiritual, moral, dan sosial. Ciri-ciri ini meliputi pendekatan yang berlandaskan Al-Qur'an dan Hadits, penekanan pada pembentukan akhlak, serta integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membentuk individu yang cerdas secara intelektual, sekaligus memiliki karakter yang baik dan mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Metode pengajaran dalam pendidikan agama Islam di Indonesia sering kali melibatkan interaksi langsung antara guru dan siswa, serta penggunaan berbagai media pembelajaran yang relevan. Selain itu, pendidikan ini juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan umum yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, sehingga siswa dapat memahami dan menerapkan ajaran agama dalam konteks yang lebih modern.Pendidikan agama Islam di Indonesia juga berfungsi untuk membangun toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dengan mengajarkan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, dan saling menghormati, 47 pendidikan ini berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang harmonis dan damai. 2. Karakteristik Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 (K13) adalah kebijakan pendidikan yang diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk dalam bidang pendidikan agama Islam. Kurikulum ini dirancang untuk menghadapi tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam konteks pendidikan agama Islam, K13 memiliki ciri-ciri khusus yang perlu dipahami oleh pendidik, siswa, dan orang tua seperti; a. Pendekatan Tematik dan Integratif Salah satu ciri utama dari Kurikulum 2013 adalah pendekatan tematik dan integratif. Dalam pendidikan agama Islam, pendekatan ini memungkinkan siswa untuk menghubungkan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, nilai-nilai yang diajarkan dalam pelajaran agama dapat diintegrasikan dengan pelajaran lain seperti PPKn, Bahasa Indonesia, dan Sains. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh kepada siswa mengenai ajaran Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. b. Penekanan pada Pengembangan Karakter Kurikulum 2013 menekankan pentingnya pengembangan karakter siswa. Dalam konteks pendidikan agama Islam, hal ini tercermin dalam upaya membentuk akhlak dan moral siswa sesuai dengan ajaran Islam. Melalui kegiatan pembelajaran yang berfokus pada nilai-nilai keagamaan, siswa diharapkan dapat menginternalisasi ajaran Islam dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Kegiatan seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kegiatan sosial menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. c. Pembelajaran Berbasis Proyek Dengan metode ini, siswa diajak untuk melakukan proyek yang berkaitan dengan tematema keagamaan, seperti kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, atau penelitian tentang nilai-nilai Islam. Pembelajaran berbasis proyek ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga melatih keterampilan kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab. d. Autentik Dalam Kurikulum 2013, penilaian dilakukan secara autentik, yang berarti penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran. Dalam pendidikan agama Islam, penilaian autentik dapat dilakukan melalui observasi, portofolio, dan penilaian diri. Hal ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman dan penerapan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan, bukan hanya dalam bentuk ujian tertulis. e. Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 mendorong penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, termasuk dalam pendidikan agama Islam. Pemanfaatan media digital, aplikasi pembelajaran, dan sumber belajar online dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. Dengan memanfaatkan teknologi, siswa dapat mengakses informasi tentang ajaran Islam secara lebih luas dan mendalam, serta berinteraksi dengan sumber-sumber keagamaan yang relevan. f. Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat Dalam konteks pendidikan agama Islam, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran. Kegiatan seperti pengajian, seminar, dan pelatihan bagi orang tua dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang pendidikan agama dan peran mereka dalam mendukung perkembangan karakter anak. Ciri-ciri Kurikulum 2013 dalam pendidikan agama Islam di Indonesia mencerminkan upaya untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dengan pendekatan tematik, penekanan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis 48 proyek, penilaian autentik, dan penggunaan teknologi, K13 berupaya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. 3. Tujuan Kurikulum 2013 .Kurikulum ini dirancang untuk menghadapi tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan masyarakat, serta untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak baik. Dalam konteks pendidikan agama Islam, tujuan K13 sangat penting untuk dipahami agar dapat diimplementasikan secara efektif dalam proses pembelajaran. a. Meningkatkan Pemahaman Agama Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap ajaran agama Islam. Melalui materi yang disusun secara sistematis dan terstruktur, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep dasar dalam agama Islam, seperti rukun iman, rukun Islam, dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadits. Pemahaman yang mendalam ini akan membantu siswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran agama. b. Mengembangkan Keterampilan Sosial Kurikulum 2013 juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa melalui pendidikan agama Islam. Dalam proses pembelajaran, siswa diajarkan untuk berinteraksi dengan baik, menghormati perbedaan, dan bekerja sama dengan orang lain. Kegiatan seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kegiatan sosial menjadi sarana untuk melatih keterampilan sosial siswa. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menjadi anggota masyarakat yang toleran dan peduli terhadap sesama. c. Mendorong Kemandirian dan Kreativitas Salah satu tujuan penting dari Kurikulum 2013 adalah mendorong kemandirian dan kreativitas siswa. Dalam pendidikan agama Islam, siswa diajak untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memahami ajaran agama. Melalui metode pembelajaran yang inovatif, seperti pembelajaran berbasis proyek, siswa didorong untuk mengembangkan ide-ide baru dan solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam konteks keagamaan. Hal ini akan membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. d. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Kurikulum 2013 juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Dalam pendidikan agama Islam, siswa diajarkan untuk memahami pentingnya tanggung jawab dalam menjalankan ajaran agama, seperti menjalankan ibadah, berbuat baik kepada orang lain, dan menjaga lingkungan. e. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Tujuan lain dari Kurikulum 2013 dalam pendidikan agama Islam adalah meningkatkan kualitas pembelajaran. Kurikulum ini mendorong penggunaan metode dan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik, sehingga siswa dapat lebih aktif terlibat dalam proses belajar. Dengan pendekatan yang beragam, seperti pembelajaran kolaboratif, diskusi, dan penggunaan teknologi, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami materi ajar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. f. Memfasilitasi Pembelajaran yang Berkelanjutan Kurikulum 2013 juga bertujuan untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan agama Islam, hal ini berarti bahwa siswa tidak hanya belajar tentang agama di sekolah, tetapi juga diharapkan untuk terus belajar dan mengembangkan pemahaman agama mereka di luar lingkungan sekolah. Dengan demikian, pendidikan agama Islam menjadi proses yang berkelanjutan dan tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Kurikulum 2013 untuk Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki sejumlah fungsi penting dalam proses pembelajaran. Pertama, kurikulum ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa melalui penguatan nilai-nilai agama dan akhlak. Selain itu, kurikulum ini juga berfungsi untuk mempersiapkan siswa agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, 49 serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif, sehingga siswa tidak hanya menguasai pengetahuan agama, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kurikulum 2013 PAI berperan penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik.Dalam pelaksanaannya, kurikulum ini menekankan pendekatan tematik dan integratif, yang menghubungkan materi agama dengan pelajaran lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh kepada siswa. Selain itu, kurikulum ini juga mendorong penggunaan metode pembelajaran aktif, di mana siswa diharapkan berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Secara keseluruhan, fungsi dari kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk individu yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan global dengan tetap berpegang pada nilai-nilai agama. 4. Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 2013 Di satu sisi, kurikulum ini mengadopsi pendekatan tematik dan integratif, yang memungkinkan siswa untuk memahami hubungan antara berbagai mata pelajaran, termasuk pendidikan agama Islam, sehingga diharapkan dapat memperkuat pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama dalam konteks ilmu pengetahuan. Selain itu, kurikulum ini menekankan pentingnya pengembangan karakter, bertujuan untuk membentuk akhlak dan moral yang baik pada siswa. Metode pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif juga mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar, sehingga mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengolah dan menerapkannya secara kreatif dan inovatif. Namun, di sisi lain, terdapat beberapa tantangan dalam penerapan Kurikulum 2013. Banyak guru mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum ini karena perbedaan yang signifikan dari kurikulum sebelumnya, serta kurangnya pelatihan yang memadai untuk mendukung mereka. Selain itu, beban kurikulum yang dianggap terlalu berat dapat mengurangi fokus siswa terhadap pendidikan agama Islam. Keterbatasan sumber daya, seperti buku ajar dan fasilitas yang memadai, juga menjadi hambatan dalam pelaksanaan kurikulum secara efektif. Di samping itu, sistem evaluasi yang kompleks dapat menyulitkan guru dalam menilai perkembangan siswa dengan akurat. Secara keseluruhan, meskipun Kurikulum 2013 menawarkan banyak potensi untuk meningkatkan pendidikan agama Islam melalui pendekatan yang lebih integratif dan fokus pada pengembangan karakter, tantangan dalam implementasinya, seperti kesulitan bagi guru, beban kurikulum yang berat, keterbatasan sumber daya, dan sistem evaluasi yang rumit, perlu diatasi agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan optimal. 5. Implementasi Kurikulum Pendidikan agama Islam memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk karakter dan moral generasi muda. Dalam naskah ini, kita akan membahas berbagai aspek terkait pelaksanaan kurikulum pendidikan agama Islam, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.Perencanaan kurikulum pendidikan agama Islam harus dilakukan secara teliti dan sistematis. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam perencanaan ini meliputi: Melakukan analisis terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui survei, wawancara, atau diskusi dengan berbagai pihak, termasuk orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.Menetapkan tujuan pendidikan yang jelas dan terukur. Misalnya, siswa diharapkan dapat memahami ajaran Islam, mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan memiliki keterampilan dalam beribadah. Materi ajar harus mencakup berbagai aspek, seperti aqidah, ibadah, akhlak, dan sejarah Islam. Selain itu, materi juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kurikulum antara lain: 50 Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan menarik. Metode yang dapat digunakan antara lain ceramah, diskusi, simulasi, dan proyek. Penggunaan teknologi informasi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembelajaran agama Islam, seperti pengajian, lomba hafalan Al-Qur'an, dan kegiatan sosial. Kegiatan ini dapat membantu siswa untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan kurikulum. Oleh karena itu, guru perlu dilatih dan diberikan pembekalan yang cukup agar dapat mengajar dengan baik. Evaluasi merupakan tahap penting dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan agama Islam. Evaluasi bertujuan untuk mengukur sejauh mana tujuan pendidikan telah tercapai. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam evaluasi antara lain: Melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa melalui ujian, tugas, dan proyek..Memberikan umpan balik kepada siswa mengenai hasil belajar mereka. Umpan balik ini dapat membantu siswa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka dalam memahami ajaran Islam. Berdasarkan hasil evaluasi, kurikulum perlu direvisi dan disesuaikan agar lebih efektif. Revisi ini dapat dilakukan setiap tahun atau sesuai dengan kebutuhan. Pelaksanaan kurikulum pendidikan agama Islam tidak terlepas dari berbagai tantangan. Beberapa tantangan yang sering dihadapi antara lain:Banyak sekolah yang mengalami kekurangan sumber daya, baik dari segi fasilitas maupun tenaga pengajar. Hal ini dapat menghambat pelaksanaan kurikulum secara optimal.Terdapat perbedaan pemahaman mengenai ajaran Islam di antara masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam menyusun materi ajar yang dapat diterima oleh semua pihak.Globalisasi membawa pengaruh yang besar terhadap generasi muda. Banyak siswa yang terpengaruh oleh budaya asing yang dapat mengikis nilai-nilai agama. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pendidikan yang kuat agar siswa dapat mempertahankan identitas mereka sebagai Muslim. KESIMPULAN Pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki karakteristik yang khas dan beragam, mencerminkan kekayaan budaya serta tradisi masyarakat Muslim di negara ini. Salah satu ciri utama pendidikan agama Islam adalah penekanan pada pembentukan akhlak dan moral siswa. Selain itu, pendidikan agama Islam di Indonesia juga mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya relevan dengan konteks sosial dan budaya yang ada.Kurikulum 2013 (K13) dalam pendidikan agama Islam membawa perubahan signifikan dalam pendekatan dan metode pembelajaran. Salah satu karakteristik utama K13 adalah penerapan pendekatan tematik dan integratif, yang memungkinkan siswa untuk mengaitkan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai ajaran Islam dan penerapannya dalam konteks yang lebih luas. Selain itu, K13 juga menekankan pengembangan karakter siswa, dengan fokus pada nilai-nilai moral dan etika yang terkandung dalam ajaran agama. Melalui pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai keagamaan, siswa diharapkan dapat menginternalisasi ajaran Islam dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Tujuan Kurikulum 2013 dalam pendidikan agama Islam sangat beragam dan mencakup berbagai aspek penting. Pertama, K13 bertujuan untuk membangun karakter siswa yang baik, sehingga mereka tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan etika yang tinggi. Kedua, K13 berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap ajaran agama Islam, dengan memberikan materi yang sistematis dan terstruktur mengenai konsep-konsep dasar dalam agama. Ketiga, K13 juga berfokus pada pengembangan keterampilan sosial siswa, dengan mengajarkan mereka untuk berinteraksi dengan baik, menghormati perbedaan, dan bekerja sama dengan orang lain. Selain itu, K13 menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, dengan 51 mengajarkan pentingnya menjalankan ajaran agama dan berbuat baik kepada orang lain.Kualitas pembelajaran juga menjadi fokus utama dalam K13, dengan mendorong penggunaan metode dan strategi yang lebih efektif dan menarik. Pendekatan yang beragam, seperti pembelajaran kolaboratif dan pemanfaatan teknologi, diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami materi ajar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, K13 memfasilitasi pembelajaran yang berkelanjutan, di mana siswa didorong untuk terus belajar dan mengembangkan pemahaman agama mereka di luar lingkungan sekolah. Secara keseluruhan, karakteristik pendidikan agama Islam di Indonesia, bersama dengan karakteristik dan tujuan Kurikulum 2013, mencerminkan upaya untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, keterampilan sosial, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dengan demikian, pendidikan agama Islam di Indonesia diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat bagi generasi masa depan yang berkarakter, berilmu, dan berdaya saing DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an, M. (2016). Perspektif Islam tentang Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Anwar, M. (2017). Konsep dan Penerapan Kurikulum 2013 dalam Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta. Arifin, Z. (2018). Teori dan Praktik Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kencana. Asy'ari, M. (2019). Ciri-Ciri Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Surabaya: Unesa University Press. Bafadal, I. (2014). Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi. Malang: UIN Malang Press. Budi, S. (2016). Pendidikan Karakter dalam Konteks Pendidikan Agama Islam. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Damanhuri, A. (2015). Pendidikan Agama Islam dan Tantangan di Zaman Modern. Jakarta: Prenada Media. Fathurrahman, A. (2017). Konsep dan Penerapan Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta. Hidayat, A. (2019). Teori dan Praktik Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Ibrahim, M. (2016). Kurikulum 2013: Pembelajaran Berbasis Karakter dalam Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Junaidi, A. (2018). Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Karakter Siswa. Jakarta: Pustaka Setia. Mardani, A. (2015). Teori dan Praktik Pendidikan Agama Islam dalam Konteks Modern. Jakarta: Pustaka Setia. Prasetyo, E. (2016). Analisis dan Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Salim, A. (2018). Inovasi dalam Pendidikan Agama Islam melalui Kurikulum 2013. Bandung: Alfabeta. Sari, R. (2019). Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Karakter Bangsa. Jakarta: Prenada Media. Setiawan, B. (2015). Teori dan Praktik Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Malang: UIN Malang Press. Supriyadi, A. (2016). Teori dan Praktik Kurikulum 2013 dalam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta. Tanjung, M. (2018). Pendidikan Agama Islam dan Tantangan Globalisasi. Yogyakarta: Deepublish. Utami, N. (2017). Pendekatan dan Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Pustaka Setia. Wibowo, S. (2019). Pembelajaran Berbasis Nilai dalam Pendidikan Agama Islam melalui Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya. 52