Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. PENINGKATAN KESADARAN REMAJA TERHADAP BAHAYA PERGAULAN BEBAS DI ERA DIGITAL MELALUI PENDEKATAN PEER EDUCATION Dodik Limansyah1*. Masmuri2. Nurul Hidayah3. Ruri Virdiyanti4 1,2,3 STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia Poltekkes Kemenkes Pontianak. Pontianak. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 18-10-2025 Disetujui: 20-10-2025 Dipublikasi: 08-11-2025 Kata Kunci: Peer Education. Remaja. Teman Sebaya. Pergaulan Bebas. Era Digital ABSTRAK Pergaulan bebas di era digital dapat membawa dampak serius bagi remaja jika tidak diwaspadai. Namun, dengan dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, remaja dapat belajar untuk memilih pergaulan yang sehat dan positif. Prinsip AuLove Yourself. Protect YourselfAy dapat dijadikan pegangan bagi setiap remaja dalam menjalani kehidupan sosialnya di era digital. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang bahaya pergaulan bebas adalah melalui pendidikan kesehatan dengan metode peer education. Metode ini dikemas secara sistematis dan menarik, sehingga mampu meningkatkan partisipasi serta minat peserta. Pelatihan peer educator menjadi komponen kunci dalam memastikan para pendidik sebaya memiliki pengetahuan, sikap, dan kepercayaan diri yang memadai. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap partisipan remaja dalam keterampilan pendidikan teman sebaya . eer educatio. setelah diberikan intervensi edukasi tentang bahaya pergaulan bebas di era digital. Peningkatan tersebut mencapai Ou 70%, melampaui target capaian sebelumnya sebesar Ou 30%, berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui sesi diskusi tanya jawab serta pengisian lembar kuesioner. Melalui metode edukasi ini, diharapkan remaja mampu menghadapi berbagai bahaya dan dampak negatif dari pergaulan bebas di era digital, serta berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan yang lebih baik, khususnya bagi remaja di wilayah Kabupaten Kayong Utara. PENDAHULUAN Permasalahan sosial yang sering muncul pada masa kini adalah pergaulan bebas di kalangan remaja. Fenomena ini menimbulkan berbagai dampak negatif yang berkaitan dengan perilaku kenakalan remaja, termasuk meningkatnya kasus seks bebas yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik maupun mental (Maretta et al. , 2. Perkembangan teknologi digital turut membawa pengaruh besar dalam dinamika sosial masyarakat, khususnya dalam pola pergaulan Media sosial, aplikasi perpesanan, dan berbagai platform digital membuka ruang komunikasi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, kemudahan ini juga memiliki sisi gelap karena dapat memicu terjadinya pergaulan bebas yang melanggar norma sosial dan nilai Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan penting: apakah pergaulan bebas di era digital merupakan ancaman atau tantangan bagi generasi muda? LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. Remaja pada umumnya lebih senang berinteraksi dengan kelompok atau teman sebaya dibandingkan menghabiskan waktu sendirian (Fitri & Amelasasih, n. Menurut penelitian DKT, perilaku remaja di Indonesia telah menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan karena sebagian dari mereka telah melakukan hubungan seks pranikah. Perilaku tidak sehat ini muncul karena dua faktor utama, yaitu pengaruh lingkungan dan proses pertumbuhan remaja itu Kurangnya pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), keterbatasan akses informasi, serta sikap orang tua yang enggan membicarakan isu reproduksi turut memperburuk kondisi tersebut (Yogi et al. , 2. Pergaulan bebas di era digital menggambarkan bentuk interaksi sosial yang tidak terkontrol, di mana batasan moral dan norma sosial sering kali Gejala ini tampak melalui hubungan sosial yang terlalu bebas tanpa memperhatikan nilai budaya, penyalahgunaan media sosial untuk aktivitas negatif seperti sexting dan cyberbullying, paparan terhadap konten dewasa yang tidak sesuai usia, serta pertemanan daring yang berisiko. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, sebanyak 8% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah (Ismiyati et al. , 2. Kabupaten Kayong Utara di Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang turut menghadapi persoalan serupa. Wilayah ini memiliki 75 pulau yang tersebar di berbagai kecamatan dengan kondisi geografis yang terpisah oleh sungai dan laut. Keadaan tersebut menyebabkan masyarakat sulit menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. Jarak yang jauh dan keterbatasan infrastruktur membuat masyarakat, khususnya remaja, jarang mengakses pelayanan kesehatan, bahkan sering kali hanya datang ketika dibutuhkan. Akibatnya, remaja di Kayong Utara cenderung kurang terpapar informasi kesehatan, terutama informasi yang bersifat promotif dan preventif. Pergaulan bebas merupakan isu sensitif yang membutuhkan pendekatan khusus agar upaya pencegahannya dapat diterima oleh kalangan remaja. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah pendekatan peer education atau pendidikan sebaya. Melalui metode ini, remaja dapat memperoleh informasi yang relevan, mudah dipahami, dan sesuai dengan konteks kehidupan Pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dengan pendidikan kesehatan, kesadaran digital, penguatan nilai-nilai agama dan budaya, serta peningkatan peran aktif orang tua agar risiko pergaulan bebas dapat dicegah sejak dini. Dalam pandangan Islam, hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan dilarang sebagaimana dijelaskan dalam Al-QurAoan surat Al-Isra ayat 32, yang menyebut bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar dan melanggar etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan (Lestari, 2. Peer education merupakan pendekatan di mana individu yang memiliki latar belakang, usia, atau pengalaman yang sama dengan kelompok sasaran dilatih untuk menyampaikan informasi, berbagi pengetahuan, serta mendorong perubahan perilaku. Melalui pendekatan ini, peer educator dapat memberikan pemahaman mengenai bahaya pergaulan bebas di era digital, seperti risiko kehamilan remaja, infeksi menular seksual (IMS), serta dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik. Selain itu, pendidikan sebaya juga mengajarkan keterampilan penolakan, yaitu kemampuan sosial untuk menolak ajakan melakukan perilaku yang tidak sehat. Remaja diajarkan untuk mampu mengatakan AutidakAy dengan percaya diri ketika dihadapkan pada situasi yang Dengan adanya dukungan dari teman sebaya, remaja dapat membangun lingkungan sosial yang positif, di mana mereka saling mengingatkan untuk menjaga batasan moral dan norma sosial. Pengaruh teman sebaya dan paparan konten seksual di media digital menjadi pemicu utama meningkatnya perilaku berisiko di kalangan remaja, sementara kurangnya pendidikan seksual memperburuk situasi tersebut (Maulida & Syeh, 2. Oleh karena itu, kegiatan alternatif seperti olahraga, seni, dan organisasi sosial perlu difasilitasi untuk memberikan wadah positif bagi remaja dalam menyalurkan energi dan kreativitas mereka. LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan program AuPeningkatan Kesadaran Remaja terhadap Bahaya Pergaulan Bebas di Era Digital melalui Pendekatan Peer EducationAy dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja di Kabupaten Kayong Utara. Kalimantan Barat. Edukasi dikemas dengan pendekatan peer education agar remaja memiliki pemahaman dan perilaku yang mampu mencegah potensi bahaya pergaulan Pendidikan kesehatan dalam konteks ini dimaknai sebagai seluruh kegiatan yang bertujuan memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap, serta praktik individu, kelompok, atau masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan mereka, baik secara fisik maupun Program ini juga berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan para pendidik sebaya, sebab bahasa dan cara penyampaian informasi antar remaja cenderung lebih mudah dipahami. Melalui peer educator, pesan-pesan sensitif dapat disampaikan secara lebih terbuka dan efektif, sehingga remaja dapat berperan sebagai sumber informasi bagi teman sebayanya dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan beretika. METODE Metode Peer Education merupakan salah satu pendekatan edukasi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan remaja. Melalui pendekatan ini, perilaku remaja dapat diubah secara konstruktif melalui proses pendidikan kesehatan dan pelatihan yang menekankan peran aktif peer educator atau pendidik sebaya. Metode ini dirancang secara sistematis agar menarik bagi peserta dan mampu menciptakan suasana belajar yang partisipatif serta interaktif. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kabupaten Kayong Utara. Provinsi Kalimantan Barat, dengan melibatkan kerja sama tim pelaksana dan mahasiswa S1 Keperawatan sebagai pendamping kegiatan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan dan berkesinambungan. Tahap pertama adalah koordinasi dan sosialisasi program. Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan penjajakan lokasi, inisiasi, analisis situasi, serta koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan pihak sekolah yang menjadi sasaran kegiatan, yaitu SMKN sebagai kelompok sasaran . eer grou. Sosialisasi program dilakukan melalui diskusi kelompok dan presentasi mengenai peningkatan kesadaran remaja terhadap bahaya pergaulan bebas di era digital. Pemerintah daerah dan pihak sekolah berperan penting dalam memfasilitasi seluruh proses kegiatan agar dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana. Tahap kedua adalah intervensi peer education dan pelatihan teman sebaya . eer educato. Pada tahap ini, pemateri melakukan pengenalan, pembukaan kegiatan, serta penyampaian materi yang telah dipersiapkan secara sistematis. Pelatihan teman sebaya menjadi komponen kunci untuk memastikan peserta memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri yang cukup dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada rekan sebayanya. Edukasi teman sebaya merupakan kegiatan berbagi pengalaman dalam proses pembelajaran yang dilandasi kesamaan usia dan cara berpikir (Maretta et al. , 2. Pemateri menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta agar pesan dapat diterima secara efektif. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pelatihan dan diskusi untuk memperdalam pemahaman Pendekatan peer education ini terbukti mampu mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja, khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya seks bebas di era digital. Tahap ketiga adalah pendampingan pelatihan dan edukasi. Kegiatan pendampingan ini berfokus pada peningkatan kemampuan peserta dalam berperan sebagai agen perubahan . hange agen. di lingkungan sekolah maupun komunitasnya. Melalui pendekatan yang partisipatif dan interaktif, peserta didorong untuk memahami pentingnya komunikasi yang efektif, empati, dan tanggung jawab sosial dalam menyampaikan informasi terkait kesadaran terhadap bahaya seks LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. bebas di era digital. Pengaruh teman sebaya, akses terhadap konten digital dan media sosial, serta kurangnya pendidikan seks terbukti menjadi pemicu perilaku negatif di kalangan remaja (Maulida & Syeh, 2. Oleh karena itu, proses pendampingan menjadi langkah penting agar para peserta tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks nyata di lingkungan mereka. Tahap keempat adalah evaluasi dan umpan balik. Evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas kegiatan dan sejauh mana tujuan program tercapai. Berdasarkan hasil observasi, penyebaran kuesioner, serta diskusi dengan peserta, pelaksanaan kegiatan dinilai berjalan efektif dan relevan dalam meningkatkan kesadaran, pemahaman, serta kemampuan peserta sebagai pendidik sebaya. Peer education merupakan pendekatan yang melibatkan teman sebaya sebagai fasilitator dalam menyampaikan informasi dengan cara yang lebih mudah diterima karena adanya kesamaan pengalaman dan usia (Fitri & Amelasasih, 2. Peserta memberikan respon positif terhadap kegiatan ini. Mereka mengaku memperoleh wawasan baru, meningkatnya rasa percaya diri, serta motivasi untuk berperan aktif dalam promosi kesehatan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Beberapa peserta juga memberikan masukan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala dengan durasi yang lebih panjang, serta disertai pendampingan lapangan agar keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan secara langsung. Metode peer education dalam kegiatan ini terbukti mampu menjawab tantangan yang dihadapi remaja di Kabupaten Kayong Utara. Melalui pembentukan peer educator, remaja dapat berperan sebagai agen perubahan . hange agen. yang berada di garda terdepan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan, baik fisik, psikologis, sosial, maupun kultural. Dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat, pendidikan sebaya menjadi strategi yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan remaja. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tahap awal kegiatan dimulai dengan penjajakan lokasi, analisis situasi, dan inisiasi program oleh tim pelaksana. Dalam tahap ini, tim melakukan koordinasi dan meminta persetujuan kepada Pemerintah Kabupaten Kayong Utara untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian Proses tersebut dilanjutkan dengan penyusunan dan penandatanganan kontrak kerja sama (MoU) sebagai bentuk kesepakatan bersama terkait rencana kegiatan yang akan Tim kemudian merancang metode edukasi yang sesuai dengan karakteristik sasaran, yaitu remaja tingkat SMK di Kabupaten Kayong Utara. Materi penyuluhan dikembangkan dalam bentuk media audiovisual yang dilengkapi dengan gambar-gambar menarik dan disajikan melalui layar proyektor (LCD) agar lebih interaktif dan mudah dipahami oleh peserta. Pada saat pelaksanaan kegiatan, para partisipan menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap materi yang Proses edukasi dilakukan secara dua arah melalui diskusi dan sesi tanya jawab, sehingga suasana kegiatan menjadi partisipatif. Kegiatan dilanjutkan dengan latihan keterampilan pendidik teman sebaya . eer educator trainin. yang berfokus pada peningkatan pemahaman dan kemampuan remaja dalam menyampaikan informasi mengenai bahaya serta dampak pergaulan bebas di era digital. Evaluasi kegiatan dilakukan untuk menilai efektivitas program dalam meningkatkan pengetahuan peserta. Evaluasi dilaksanakan menggunakan lembar observasi pre-test dan posttest, disertai metode observasi langsung, penyebaran kuesioner, serta wawancara singkat dengan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. Hasil evaluasi kemudian dikategorikan ke dalam tiga tingkat capaian, yaitu: kategori baik apabila partisipan menjawab benar Ou76%, kategori sedang dengan nilai antara 56Ae75%, dan kategori rendah apabila hasil jawaban benar O55%. Tabel 1. Distribusi Peserta Remaja SMK Yang Mengikuti Kegiatan Peer Education . Kelas Jumlah Persentase XI DKV XI AK XI Lakes X Lakes XI PH XI TKJ Total Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dan Keterampilan Pre-Test . Kategori Pre-Test Kategori Jumlah Persentase Tinggi Sedang Rendah Total Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta terkait peer education dan peran peer educator dalam memahami bahaya pergaulan bebas. Berdasarkan hasil pre-test, diperoleh bahwa sebanyak 20 orang peserta . %) berada pada kategori sedang, sedangkan 2 orang peserta . %) termasuk dalam kategori rendah. Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar peserta telah memiliki pemahaman awal yang cukup mengenai konsep peer education dan dampak negatif pergaulan bebas, meskipun masih diperlukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan lanjutan agar mereka lebih siap berperan sebagai pendidik sebaya di lingkungan sekolah. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dan Keterampilan Post-Test . Kategori Post-Test Kategori Jumlah Persentase Tinggi Sedang Rendah Total Hasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada peserta sebagai pendidik teman sebaya . eer educato. setelah pelaksanaan program peer education. Berdasarkan hasil post-test, diketahui bahwa Ou70% partisipan mengalami peningkatan kemampuan dalam melaksanakan peran sebagai pendidik sebaya, khususnya dalam memberikan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. edukasi mengenai bahaya pergaulan bebas di era digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan peer education efektif dalam meningkatkan pemahaman, kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi peserta dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada teman sebayanya. Gambar 1. Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Pembahasan Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah dilakukan intervensi melalui metode peer education. Hal ini terlihat dari hasil pre-test dan post-test, di mana sebelum intervensi pengetahuan dan keterampilan peserta bervariasi: tinggi . %), sedang . %), dan rendah . %). Setelah pelaksanaan kegiatan, terjadi peningkatan yang signifikan dengan capaian Ou70% peserta berada dalam kategori tinggi. Kegiatan pelatihan dan edukasi yang diikuti oleh 30 peserta kelas XI ini terlaksana sesuai dengan rencana tim pengabdian Pelatihan peer educator terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri dan kesadaran diri . elf-awarenes. terhadap perilaku berisiko pada remaja (Ismiyati et al. , 2. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga keterampilan praktis untuk berperan sebagai pendidik sebaya dalam memberikan edukasi tentang bahaya pergaulan bebas di era Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan interaktif dalam peer LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. education efektif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, terbuka, dan relevan dengan konteks kehidupan remaja. Sebagai tindak lanjut, tim merencanakan kegiatan monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan keberlanjutan program serta mendukung peningkatan kompetensi peer educator di masa mendatang. Penguatan kapasitas ini diharapkan mampu membentuk remaja yang resilien, adaptif, dan berperan aktif sebagai agen perubahan . hange agen. dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dan berkelanjutan. Selanjutnya, pengembangan program diarahkan pada penyusunan modul edukasi dan inovasi intervensi yang tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga keluarga, kader, serta tenaga Upaya ini penting mengingat kenakalan remaja sering kali disebabkan oleh kurangnya perhatian dan pengawasan keluarga, disharmoni rumah tangga, tekanan teman sebaya, serta paparan konten pornografi di media sosial (Maulida & Syeh, 2. Karena itu, pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan melalui pelatihan dan penyegaran kader kesehatan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan edukasi mengenai bahaya pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba pada remaja. Pergaulan bebas pada remaja merupakan masalah sosial dan kesehatan yang kompleks, sehingga memerlukan pendekatan holistik dengan melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, keluarga, dan sekolah (Mbayang, 2. Edukasi komprehensif melalui metode peer education menjadi salah satu pendekatan efektif karena mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman, terbuka, dan cost-effective dalam promosi kesehatan reproduksi serta isu-isu sensitif lainnya di kalangan remaja. Melalui metode ini, remaja dibekali kemampuan untuk membuat keputusan yang bijak dan menjalani kehidupan yang sehat di tengah tantangan era digital. Hasil kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi efektif peserta dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada teman sebaya. Program ini mendukung pendekatan promosi kesehatan berbasis masyarakat . ommunity-based health promotio. melalui pemberdayaan . mpowerment approac. , di mana remaja diberi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri serta menjadi fasilitator dan role model dalam penyebaran perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah dan masyarakat. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Kabupaten Kayong Utara pada remaja kelas XI menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri peserta. Melalui penerapan metode peer education dan pendampingan peer educator, peserta mampu memahami pentingnya komunikasi yang efektif serta menunjukkan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi mengenai bahaya pergaulan bebas di era digital secara benar dan konstruktif. Pendekatan yang partisipatif dan interaktif dalam kegiatan ini juga berhasil membangun perilaku positif di kalangan teman sebaya, memperkuat dukungan sosial, serta memperluas jejaring antar peserta. Selain itu, kegiatan ini mendorong terbentuknya komunitas peer educator yang berkelanjutan sebagai langkah strategis dalam upaya promosi kesehatan dan pencegahan perilaku berisiko pada remaja. Secara keseluruhan, program ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi remaja sebagai kelompok berisiko, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya melalui penyebaran informasi dan edukasi kesehatan yang lebih luas, relevan, dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, dan karunia-Nya sehingga kegiatan pengabdian masyarakat melalui Pendampingan Pelatihan dan Edukasi terkait Peer Education dan Pelatihan Teman Sebaya (Peer Educato. dapat terlaksana dengan baik dan Kami ucapkan terima kasih kepada tim pelaksana dan fasikitator kegiatan pengabdian LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Dodik Limansyah STIKes Yarsi Pontianak. Pontianak. Indonesia e-mail: limansyah1210@gmail. Vol. 1 No. 1 (OKTOBER Ae 2. kepada masyarakat yang penuh dedikasi dalam pelaksanaan kegiatan, juga kepada pihak mitra dan institusi terkait dalam hal ini pemerintah kabupaten Kayong Utara dan SMKN Kayong Utara yang telah memberikan dukungan moral serta kesempatan berkolaborasi dalam kegiatan ini. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal berkelanjutan dalam peer education dan peer educator sehingga mampu berkontribusi dalam kesehatan masyarakat yang berkeadilan sosial. REFERENSI