Jurnal Kesehatan Indonesia. Volume 15. Nomor 3. Juli. Tahun 2025 Peran Pengetahuan. Sikap. Sarana-Prasarana. Dan Kebijakan Terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar The Role of Knowledge. Attitudes. Facilities, and Policies in Household Waste Management Behavior in Karang Intan Subdistrict. Banjar Regency Ani Kipatul Hidayah1*. Lenie Marlinae1. Laily Khairiyati1. Agung Waskito1. Husaini1. Anugrah Nur Rahmat1. Cieca Tri Sulistia1. Maulidah1. Nurhaliza Putri1. Araya Maharani1 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Korespondensi: anikipatulhidayah@ulm. Abstract Household waste management is a crucial issue that impacts health, the environment, and This study aimed to analyze the relationship between knowledge, attitudes, facilities, and policies with household waste management behavior in Karang Intan Subdistrict. Banjar Regency. A cross-sectional design was applied involving 130 respondents selected through random sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using Spearman Rank correlation test. The results showed a positive and significant relationship between knowledge . = 0. and attitudes . = 0. with household waste management behavior. Facilities showed a positive but non-significant relationship . = 0. while policies indicated a significant negative relationship . = 0. In conclusion, increasing knowledge and fostering positive attitudes are key factors in improving household waste management behavior, while the effectiveness of policies requires reinforcement through proper socialization and targeted implementation. Practical implications highlight the need for continuous community education and stronger enforcement of local policies to achieve sustainable household waste management. Keywords: knowledge, attitude, facilities, policy, waste management behavior Pendahuluan Pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi persoalan mendesak di Indonesia, terutama di wilayah perdesaan. Data resmi menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga masih membuang sampah secara langsung ke lingkungan sekitar tanpa melalui proses pengolahan yang layak. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya volume sampah sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat. Pada tahun 2020, timbulan sampah nasional mencapai 67,8 juta ton, dengan 37,3% berasal dari rumah tangga . , yang kemudian meningkat menjadi 42,23% pada tahun 2021 . Sampai tahun 2024, diperkirakan sekitar 40% limbah padat di Indonesia belum dikelola secara memadai, sejalan dengan data tahun 2020 yang menunjukkan angka serupa sebesar 44,13% . Kondisi ini menyebabkan dampak serius seperti emisi gas rumah kaca, polusi air dan tanah, serta risiko kesehatan yang . Meskipun menargetkan "Indonesia Bebas Sampah 2029" dan "Kelola Sampah 100%", tingkat daur ulang nasional baru mencapai 22%, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan . Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Banjar. Kalimantan Selatan. Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa timbulan sampah di Kabupaten Banjar mencapai sekitar 290 ton per hari pada tahun 2022, terdiri dari 230 ton/hari yang masuk ke TPA Cahaya Kencana dan 60 ton/hari yang dibuang ke TPA Regional Banjarbakula. Meskipun tertangani dilaporkan mencapai 91,16% pada tahun 2022, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang membakar sampah, membuang ke lahan terbuka, atau ke badan air. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara capaian pengelolaan sampah secara administratif dengan praktik nyata di tingkat rumah tangga. Ani Kipatul Hidayah, dkk. Perilaku pengelolaan sampah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif anatara pengetahuan dan perilaku pengelolaan sampah. Individu yang memiliki pengetahuan yang baik cenderung . Demikian pula, sikap yang baik akan mendorong individu untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai keberlanjutan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sikap secara signifikan berkorelasi dengan perilaku pengelolaan sampah . Selain faktor internal, faktor eksternal seperti ketersediaan sarana dan prasarana serta kebijakan lokal juga memiliki pengaruh terhadap perilaku pengelolaan sampah. Kurangnya sarana prasarana dapat menjadi hambatan besar bagi masyarakat untuk menerapkan praktik pengelolaan sampah yang baik. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh signifikan sarana dan prasarana terhadap pengelolaan sampah . Di sisi lain, kebijakan lokal yang jelas dan ditegakkan, seperti peraturan tentang pemilahan sampah atau larangan membuang sampah sembarangan, dapat mendorong kepatuhan dan membentuk kebiasaan yang lebih baik . Penelitian ini berfokus pada Kecamatan Karang Intan. Kabupaten Banjar, yang merupakan wilayah pedesaan dan masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah rumah tangga. Sebagian masyarakat masih membuang ke sungai, membakar, atau mengubur sampah, yang dipengaruhi oleh keterbatasan sarana prasarana, rendahnya pengetahuan, sikap yang kurang mendukung perilaku ramah lingkungan, serta kebijakan lokal yang implementasinya belum optimal akibat minimnya sosialisasi dan pengawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, sarana prasarana, dan kebijakan lokal dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga di Kecamatan Karang Intan. pengelolaan sampah rumah tangga pada masyarakat di Kecamatan Karang Intan. Kabupaten Banjar. Penelitian ini melibatkan 130 responden yang dipilih secara acak menggunakan teknik random sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tertutup yang disusun berdasarkan indikator masing-masing variabel. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari pengetahuan, sikap, sarana pengelolaan sampah, sedangkan variabel terikat adalah perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan distribusi tiap variabel, serta bivariat untuk menguji hubungan antar variabel menggunakan uji korelasi Spearman Rank (SpearmanAos rh. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang bertujuan menganalisis hubungan prasarana, dan kebijakan dengan perilaku Berdasarkan mayoritas responden berada pada rentang usia produktif, yaitu 20Ae39 tahun sebanyak 62 orang . ,7%) dan 40Ae59 tahun sebanyak 56 orang . ,1%). Kondisi ini menunjukkan Hasil Analisis Univariat Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan 130 responden di Kecamatan Karang Intan. Kabupaten Banjar, distribusi frekuensi karakteristik responden yang meliputi usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia < 20 Tahun 20 Ae 39 Tahun 40 Ae 59 Tahun Ou 60 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Sumber: Data Primer Penelitian, 2025 Ani Kipatul Hidayah, dkk. bahwa sebagian besar pengelola sampah rumah tangga di wilayah tersebut merupakan individu yang aktif secara sosial dan ekonomi serta memiliki potensi besar dalam penerapan perilaku pengelolaan sampah yang lebih baik. Berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar responden adalah laki-laki sebanyak 113 orang . ,9%). Hal ini mengindikasikan bahwa laki-laki, yang umumnya berperan sebagai kepala keluarga, lebih banyak terlibat dalam pengambilan keputusan maupun peran utama dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Berdasarkan mayoritas responden hanya menamatkan pendidikan dasar, yaitu Sekolah Dasar (SD) sebanyak 79 orang . ,8%), diikuti oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 19 orang . ,6%). Distribusi ini memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan responden secara umum masih tergolong rendah, sehingga berpotensi memengaruhi pemahaman dan perilaku mereka dalam pengelolaan sampah rumah tangga secara Variabel Penelitian Berdasarkan hasil analisi univariat, diketahui bahwa dari 130 responden, sebanyak 45 responden . ,6%) memiliki perilaku pengelolaan sampah yang kurang, dan sebanyak 85 responden . memiliki perilaku pengelolaan sampah yang baik. Distribusi frekuensi variabel pengetahuan, sikap, sarana prasarana, dan kebijakan berdasarkan kategori perilaku pengelolaan sampah disajikan dalam tabel tabulasi silang Tabel 2. Tabel tabulasi Silang Pengetahuan. Sikap. Sarana Prasarana. Kebijakan Berdasarkan Kategori Perilaku Pengelolaan Sampah Perilaku Variabel Kurang Baik Pengetahuan Kurang 18 36,0 32 64,0 50 38,5 Baik 27 33,8 53 66,3 80 61,5 Sikap Negatif 27 42,9 36 57,1 63 48,5 Positif 18 26,9 49 73,1 67 51,5 Sarana Prasarana Kurang 14 31,8 30 68,2 44 33,8 Baik 31 36,0 55 64,0 86 66,2 Kebijakan Kurang 15 25,4 44 74,6 59 Baik 30 42,3 41 57,7 71 Total 45 34,6 85 65,4 130 Sumber: Data Primer Penelitian, 2025 Pada variabel pengetahuan, dari 50 pengetahuan yang kurang sebanyak 36,0% menunjukkan perilaku pengelolaan sampah yang kurang, sementara 64,0% menunjukkan perilaku yang baik. Di sisi lain, dari 80 responden dengan pengetahuan yang baik, sebanyak 27 orang . ,8%) menunjukkan perilaku yang kurang, dan mayoritasnya, yaitu 53 orang . ,3%), menunjukkan Temuan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Pada variabel sikap, responden yang memiliki sikap negatif terhadap pengelolaan sampah berjumlah 63 orang. Dari jumlah tersebut, 27 orang . ,9%) memiliki perilaku sedangkan 36 orang . ,1%) tergolong memiliki perilaku yang baik. Sementara itu, dari 67 responden dengan sikap positif, 18 orang . ,9%) menunjukkan perilaku kurang baik, dan mayoritas, yakni 49 orang . ,1%), menunjukkan perilaku yang baik. Hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa sikap positif lebih berkaitan dengan perilaku pengelolaan sampah yang baik. Pada variabel sarana dan prasarana, dari 44 responden yang menganggap sarana lingkungannya masih kurang, sebanyak 31,8% memiliki perilaku pengelolaan sampah 68,2% menunjukkan perilaku yang baik. Sementara itu, dari 86 responden yang menilai ketersediaan sarana dan prasarana sudah baik, sebanyak 36,0% tergolong memiliki perilaku kurang, dan 64,0% memiliki perilaku yang baik. Meskipun sebagian besar responden menunjukkan perilaku yang baik, perbedaan antara kedua kelompok tidak terlalu mencolok. Pada variabel kebijakan, dari 59 responden yang menilai kebijakan terkait pengelolaan sampah di wilayahnya masih kurang, sebanyak 15 orang . ,4%) memperlihatkan perilaku kurang baik, sementara mayoritas, yakni 44 orang Ani Kipatul Hidayah, dkk. ,6%), memperlihatkan perilaku yang baik. Sementara itu, dari 71 responden yang menilai kebijakan sudah baik, 30 orang . ,3%) masih menunjukkan perilaku kurang, dan 41 orang . ,7%) menunjukkan perilaku yang baik. Temuan ini memperlihatkan kebijakan baik, tidak serta-merta seluruhnya menunjukkan perilaku pengelolaan yang Analisis Bivariat Analisis bivariat dengan uji korelasi Spearman Rho mengidentifikasi hubungan antara variabel independen . engetahuan, sikap, saranaprasarana, dan kebijakan dengan variabel dependen . erilaku pengelolaan sampah rumah tangg. Hasil analisis korelasi disajikan pada tabel berikut: Tabel 3. Hasil Analisi Hubungan Pengetahuan. Sikap. Sarana Prasarana dan Kebijakan dengan Perilaku Pengelolaan Sampah Spearman Rho Variabel Correlation P Value Coeffition Pengetahuan 0,430 0,009 Sikap 0,245 0,028 Sarana Prasarana 0,153 0,082 Kebijakan -0,195 0,026 Sumber: Data Primer Penelitian, 2025 Berdasarkan hasil analisis hubungan antara variabel pengetahuan, sikap, sarana prasarana, dan kebijakan terhadap perilaku sebagaimana disajikan pada Tabel 3, ditemukan bahwa pengetahuan berhubungan positif dan signifikan dengan perilaku pengelolaan sampah, sehingga semakin tinggi pengetahuan tentang pengelolaan sampah, semakin baik pula perilakunya. Sikap juga berhubungan positif signifikan meski lebih lemah, yang berarti sikap positif tetap berperan dalam mendukung perilaku pengelolaan sampah, meskipun tidak sekuat Sementara itu, sarana prasarana tidak berhubungan signifikan dengan perilaku fasilitas saja belum cukup mendorong perubahan perilaku tanpa disertai faktor lain. Menariknya, kebijakan justru menunjukkan menandakan bahwa kebijakan yang ada belum sepenuhnya dipahami atau diterapkan secara efektif, sehingga belum mampu mendorong perilaku positif pengelolaan sampah rumah tangga. Pembahasan Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pengelolaan sampah Rumah Tangga Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,430 dan nilai p sebesar 0,009 Nilai koefisien 0,430 menunjukkan hubungan dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka semakin baik pula perilakunya dalam mengelola sampah. Hasil ini diperkuat oleh data distribusi, di mana dari 80 responden dengan pengetahuan baik, . ,3%) pengelolaan sampah yang baik. Pengetahuan penting sebagai dasar dalam membentuk mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang tepat. Individu dengan tingkat pengetahuan yang baik cenderung lebih pengelolaan sampah yang tidak memadai terhadap kesehatan dan lingkungan, serta kebersihan lingkungan secara berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat secara signifikan dapat mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih positif dalam pengelolaan sampah rumah tangga . Selain itu, pengetahuan yang cukup juga memperkuat kapasitas individu dalam mengenali peran dan tanggung jawab mereka dalam sistem pengelolaan sampah. Hal pemilahan sampah, pengurangan volume sampah dari sumbernya, serta pemanfaatan kembali sampah yang masih bernilai guna. Individu dengan pemahaman yang baik terhadap pengelolaan sampah cenderung menunjukkan kepedulian yang lebih tinggi Ani Kipatul Hidayah, dkk. Di sisi lain, terdapat 64,0 % responden menunjukkan perilaku baik. Situasi ini dapat terjadi karena adanya intervensi sosialspasial seperti adanya kelompok komunitas, sosialisasi program bank sampah, atau tekanan norma sosial lokal yang memperkuat Faktor lingkungan seperti program komunitas dapat memperkuat perilaku peduli lingkungan secara langsung, bahkan saat faktor pribadi tidak dominan . Hubungan Sikap Dengan Perilaku Pengelolaan sampah Rumah Tangga Sikap merupakan faktor predisposisi internal yang mencerminkan kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Menurut Theory of Planned Behavior, sikap positif terhadap suatu perilaku akan meningkatkan motivasi atau niat untuk melakukan perilaku tersebut, yang pada akhirnya dapat terwujud menjadi perilaku nyata. Sikap positif biasanya terbentuk melalui kombinasi pengalaman, pengetahuan, dan keyakinan terhadap manfaat perilaku yang dilakukan . Hasil Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara sikap dan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,245 dan dan nilai p sebesar 0,028. Nilai koefisien korelasi ini mengindikasikan bahwa meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah, namun arah hubungan tetap konsisten. Semakin positif sikap responden, semakin baik pula perilaku mereka dalam mengelola sampah. Hal ini diperkuat oleh analisis distribusi frekuensi yang menunjukkan bahwa 73,1% responden dengan sikap positif memiliki perilaku pengelolaan sampah yang baik, sedangkan pada kelompok dengan sikap negatif, persentasenya menurun menjadi 57,1%. Perbedaan ini, walaupun tidak terlalu besar secara kuantitatif, tetap menunjukkan tren yang relevan secara praktis. Sikap positif memiliki peran penting sebagai pemicu terbentuknya perilaku yang lebih baik. Individu yang memandang suatu tindakan secara positif umumnya memiliki dorongan internal yang kuat untuk melaksanakannya secara konsisten . Sikap positif dapat diwujudkan melalui kesadaran terhadap dampak lingkungan serta rasa tanggung jawab sosial. Kesadaran ini mendorong individu untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai upaya seperti pengurangan timbulan sampah, pemilahan berdasarkan jenis, dan pemanfaatan kembali material yang masih berguna . Perubahan sikap yang mengarah pada berdampak pada perilaku individu, tetapi juga berpotensi membentuk norma sosial baru di Ketika sikap positif diadopsi secara luas, perilaku ramah lingkungan dapat menjadi kebiasaan bersama yang tertanam kuat, sehingga melahirkan budaya peduli Hubungan Sarana Prasarana Dengan Perilaku Pengelolaan sampah Rumah Tangga Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 Tahun 2016, sarana prasarana merupakan segala bentuk fasilitas fisik yang disediakan untuk mendukung suatu kegiatan atau program, baik berupa peralatan, pendukung lainnya. Dalam konteks pengelolaan sampah, sarana prasarana mencakup ketersediaan tempat sampah terpilah, armada pengangkut, lokasi pembuangan sementara (TPS), serta Keberadaan sarana prasarana yang memadai berperan sebagai faktor pendukung . upporting facto. yang dapat menerapkan perilaku sehat. Namun, sikap bukan satu-satunya faktor penentu perilaku, karena perilaku manusia dipengaruhi pula oleh faktor predisposisi . engetahuan, sikap, kepercayaa. dan faktor penguat . einforcing facto. seperti dukungan sosial. Hasil uji korelasi Spearman pada penelitian ini menunjukkan bahwa sarana prasarana memiliki hubungan positif namun tidak signifikan secara statistik terhadap perilaku pengelolaan sampah dengan nilai korelasi sebesar 0,153, dan nilai p sebesar 0,082. Artinya, semakin baik penilaian responden terhadap fasilitas yang tersedia, sampah juga meningkat, tetapi hubungan Ani Kipatul Hidayah, dkk. tersebut tidak cukup kuat untuk dinyatakan Temuan ini diperkuat oleh analisis distribusi frekuensi, di mana 68,2% responden yang menilai sarana prasarana kurang tetap memiliki perilaku baik, sedangkan pada kelompok yang menilai fasilitas baik proporsinya hanya sedikit 64,0%. Kondisi menunjukkan bahwa keberadaan sarana prasarana tidak serta-merta menjamin perubahan perilaku, dan kemungkinan ada faktor internal atau sosial yang lebih dominan Secara teoritis, temuan ini selaras dengan model sosial kognitif, bahwa environmental facilitation seperti fasilitas fisik memang mendukung pembentukan perilaku, tetapi efeknya akan optimal bila didukung faktor internal . elf-efficacy, motivas. ukungan Dengan kata lain, sarana prasarana berfungsi sebagai enabler, bukan penentu tunggal . Ketersediaan memiliki peran penting dalam meningkatkan perilaku pengelolaan sampah secara lebih baik. Namun, manfaatnya akan lebih optimal jika disertai dengan upaya edukasi dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah . Hubungan Kebijakan Dengan Perilaku Pengelolaan sampah Rumah Tangga Kebijakan merupakan seperangkat aturan atau peraturan yang dirumuskan untuk mengarahkan perilaku masyarakat, termasuk dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Keberhasilan implementasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh kualitas sosialisasi, tingkat pemahaman masyarakat, dan kepatuhan terhadap aturan yang telah ditetapkan. Namun, hasil penelitian ini memperlihatkan pola yang cukup menarik, yaitu sebagian besar responden yang menilai kebijakan pengelolaan sampah kurang memadai justru menunjukkan perilaku pengelolaan sampah yang baik . ,6%), sedangkan responden yang menganggap kebijakan tersebut memadai memiliki persentase perilaku baik yang lebih rendah . ,7%). Nilai korelasi negatif sebesar Ae0,195 yang signifikan 0,026, mengindikasikan bahwa persepsi positif terhadap kebijakan belum secara langsung selaras dengan perilaku yang diharapkan. Temuan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kebijakan yang ada belum tersosialisasi secara optimal sehingga pemahaman masyarakat terhadap substansi dan manfaat aturan masih rendah. Kedua, lemahnya penegakan hukum membuat kebijakan tidak berjalan konsisten dan tidak menimbulkan efek jera. Ketiga, keterbatasan sarana prasarana pendukung menerapkan kebijakan secara nyata. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan formal saja tidak otomatis menjamin perubahan perilaku tanpa disertai mekanisme implementasi yang jelas, konsisten, dan Efektivitas sampah sering kali terhambat oleh rendahnya penegakan hukum, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung. Kondisi ini menyebabkan kebijakan yang ada belum mampu memberikan dampak nyata di lapangan . Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kebijakan formal saja tidak perubahan perilaku, apabila tidak diikuti dengan langkah-langkah pendukung yang . Partisipasi aktif masyarakat menjadi pengelolaan sampah. Melalui keterlibatan dalam kegiatan berbasis komunitas, hasil pengelolaan sampah dapat menjadi lebih baik, meskipun kebijakan formal belum berjalan secara optimal . Sejalan dengan Theory of Planned Behavior, faktor norma sosial dan persepsi kontrol perilaku terbukti memiliki pengaruh lebih besar dalam pro-lingkungan keberadaan kebijakan formal . Dengan demikian keberhasilan kebijakan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh isi dan kualitas kebijakan itu sendiri, tetapi juga oleh sejauh mana kebijakan tersebut diterima, dipahami, dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap berhubungan positif dengan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga, sementara sarana-prasarana tidak berhubungan signifikan, dan kebijakan justru Ani Kipatul Hidayah, dkk. menunjukkan hubungan negatif. Oleh karena masyarakat, penguatan sikap positif, serta implementasi kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Daftar Pustaka