Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 PERAN SEKOLAH DALAM MENGINTERNALISASI PROFIL PELAJAR PANCASILA DI LINGKUNGAN SMK AISYIYAH PALEMBANG Ayu Putri Adiya Pramesti1 . Umi Chotimah2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas Sriwijaya. Indonesia E-mail: ayup98805@gmail. com1, umi. chotimah@unsri. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya SMK Aisyiyah Palembang dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila . melalui pendekatan pembelajaran dan budaya sekolah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah mengintegrasikan nilai-nilai p seperti religiusitas, gotong royong, kemandirian, bernalar kritis, dan kreativitas dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta pembiasaan harian. Program-program seperti one day one juz, jumat bersih, pembelajaran kontekstual, dan keterlibatan siswa dalam organisasi menjadi media efektif dalam membentuk karakter peserta didik. Meskipun demikian, implementasi masih menghadapi kendala, seperti rendahnya partisipasi sebagian siswa dan kebutuhan akan inovasi program. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi p bergantung pada sinergi antara guru, peserta didik, dan pihak sekolah secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang konsisten dan reflektif, sekolah dapat menjadi tempat strategis dalam membentuk karakter pelajar Indonesia yang berakhlak mulia, mandiri, dan berdaya saing global. Kata Kunci : Profil Pelajar Pancasila. SMK ABSTRACT This study aims to describe the efforts of SMK Aisyiyah Palembang in realizing the Pancasila Student Profile . through a learning approach and school culture. The approach used is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the school integrates p values such as religiosity, mutual cooperation, independence, critical thinking, and creativity in intracurricular, co-curricular, extracurricular activities, and daily habits. Programs such as One Day One Juz. Clean Friday, contextual learning, and student involvement in organizations are effective media in shaping the character of students. However, the implementation still faces obstacles, such as low participation of some students and the need for program innovation. This study concludes that the success of p implementation depends on the synergy between teachers, students, and the school as a whole. With a consistent and reflective approach, schools can be a strategic place in shaping the character of Indonesian students who are noble, independent, and globally competitive. Keywords: Pancasila Student Profile. Vocational High School PENDAHULUAN Perkembangan globalisasi saat ini telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Globalisasi telah menciptakan keterhubungan antarnegara memungkinkan pertukaran informasi, budaya, dan nilai secara cepat dan masif. Meskipun globalisasi membawa banyak manfaat dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga menimbulkan tantangan yang signifikan, khususnya dalam hal pelestarian nilai-nilai kebangsaan dan karakter generasi Generasi muda, khususnya para pelajar, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh negatif globalisasi. Kemudahan akses terhadap informasi yang tidak terbatas, arus budaya luar yang masuk tanpa penyaring nilai, serta gaya hidup semakin individualistik menjadi tantangan terhadap pembentukan karakter pelajar Indonesia. Adapun fenomena ini menimbulkan masalah sosial seperti kenakalan remaja, menurunnya sikap saling menghormati, hilangnya semangat gotong royong, hingga degradasi moral yang terlihat dalam perilaku keseharian peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak yang harus diterapkan secara menyeluruh di setiap jenjang pendidikan (Suyitno et al. , 2. Pendidikan tidak hanya berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk karakter peserta didik yang unggul, berakhlak mulia, dan memiliki jati diri kebangsaan yang kuat. Seiring dengan itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi menggagas sebuah program strategis dalam rangka penguatan karakter peserta didik, yaitu melalui https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 130 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . implementasi Profil Pelajar Pancasila . dalam Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar Pancasila merupakan representasi ideal dari pelajar Indonesia yang diharapkan mampu menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global serta berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil ini dirumuskan dalam enam dimensi utama, yaitu: . Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Berkebinekaan global. Bergotong . Mandiri. Bernalar kritis. Kreatif. Keenam dimensi tersebut dirancang untuk membentuk karakter pelajar Indonesia yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki integritas, rasa empati, nilai-nilai kebangsaan Penerapan p dunia pendidikan dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pembelajaran intrakurikuler, kegiatan kokurikuler, pembiasaan budaya sekolah, serta aktivitas ekstrakurikuler. p bukanlah semata-mata program yang dihafalkan atau dipelajari secara kognitif, melainkan nilai-nilai yang harus dihidupkan dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun masyarakat (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset. Teknologi, 2. Namun demikian, implementasi nilainilai p di berbagai satuan pendidikan masih menghadapi berbagai kendala. Beberapa studi menunjukkan bahwa sekolah masih belum optimal dalam mengintegrasikan nilai-nilai p ke dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman guru, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya konsistensi dalam pelaksanaan programprogram penguatan karakter. Dalam beberapa kasus, pelaksanaan p sebatas formalitas substansial pembentukan karakter siswa. Menjawab tantangan tersebut, peran sekolah menjadi sangat strategis. Sekolah merupakan lembaga formal yang memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung terbentuknya karakter peserta didik. Sekolah bukan hanya sebagai tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan kepribadian dan watak siswa. Sekolah perlu menyusun strategi dan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila agar dapat diterima dan dihayati oleh seluruh warga sekolah (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi, 2. SMK Aisyiyah Palembang sebagai salah satu satuan pendidikan menengah kejuruan di E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 kota Palembang turut mengambil bagian dalam mewujudkan visi besar pendidikan karakter melalui implementasi p. Sekolah ini memiliki komitmen untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aktivitas pembelajaran maupun budaya sekolah. Beberapa upaya konkret telah dilakukan, seperti membiasakan berdoa sebelum dan lingkungan sekolah, menjalankan kegiatan Jumat bersih, serta program religius seperti One Day One Juz. Selain itu, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler seperti senam sehat, diskusi kebangsaan, dan berbagai lomba juga menjadi bagian dari strategi sekolah dalam membentuk karakter peserta Namun, seperti halnya sekolah lainnya. SMK Aisyiyah Palembang juga menghadapi hambatan dalam pelaksanaan program p. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya konsistensi dalam menjalankan program yang telah dirancang. Beberapa peserta didik masih menunjukkan perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, serta rendahnya kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan yang bersifat karakter. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta peserta didik itu sendiri untuk menjadikan nilai-nilai p sebagai budaya yang hidup dan menjadi bagian dari keseharian. Melihat pentingnya peran sekolah dalam membentuk karakter generasi muda melalui p, maka penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana strategi dan upaya yang dilakukan oleh SMK Aisyiyah Palembang dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik pendidikan karakter di sekolah, serta menjadi referensi bagi satuan pendidikan lainnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila Dengan memahami berbagai strategi yang dilakukan, tantangan yang dihadapi, serta dampak yang dirasakan, maka hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan evaluasi dan perumusan kebijakan dalam penguatan implementasi p di lingkungan pendidikan menengah. Pendidikan karakter yang baik tidak hanya akan melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan moral dan sosial yang tinggi, yang pada akhirnya akan membawa kontribusi positif bagi pembangunan bangsa secara menyeluruh. Dengan diterapkannya Profil Pelajar Pancasila di SMK Aisyiyah Palembang https://ejournal. id/index. php/mp | 131 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . bertujuan untuk membentuk peserta didik yang dapat menghasilkan generasi yang unggul, berkarakter dan siap menghadapi tantangan METODE Penelitian ini dilaksanakan di SMK Aisyiyah Palembang Jl. Burlian km. Kecamatan Alang-Alang Lebar. Penelitian ini telah dilaksanakan mulai dari September sampai November Alasan dilaksanakannya penelitian di SMK Aisyiyah Palembang permasalahan terkait profil pelajar pancasila yang perlu untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan dengan metode Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai upaya sekolah dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila di SMK Aisyiyah Palembang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, serta enam orang peserta didik sebagai informan pendukung yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan member check untuk memastikan validitas HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pelajar Pancasila . Profil Pelajar Pancasila merupakan gambaran ideal peserta didik Indonesia yang memiliki kompetensi global serta berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam Kurikulum Merdeka, p berperan sebagai fondasi utama dalam penguatan karakter peserta didik melalui enam dimensi utama, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan global (Kemendikbudristek, 2. p tidak hanya dimaknai sebagai tujuan akhir pendidikan karakter, tetapi juga sebagai proses yang terus berlangsung dengan melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta budaya sekolah (Susilowati et al. , 2. Keberhasilan p ditentukan oleh sejauh mana sekolah mampu menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke dalam keseharian siswa melalui program yang Menurut Susilowati et al. , pelajar Pancasila adalah pelajar sepanjang hayat yang tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 juga untuk berkontribusi terhadap masyarakat Maka dari itu, p tidak bisa sekadar dijadikan indikator penilaian, tetapi harus menjadi budaya hidup yang ditanamkan secara sadar dan konsisten di lingkungan pendidikan (Rahayuningsih & Iskandar, 2. Peran Sekolah Dalam Pendidikan Karakter Sekolah sebagai lembaga pendidikan menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta Melalui pengelolaan lingkungan belajar yang kondusif, penanaman budaya sekolah yang positif, serta keterlibatan aktif guru dan tenaga (Faisal et al. , 2. Pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran tertentu, tetapi juga ditanamkan secara kontekstual dalam aktivitas harian siswa. Penelitian oleh Chotimah et al. bahwa banyak peserta didik yang cerdas secara akademik tetapi belum menunjukkan karakter yang tangguh, sehingga pendidikan karakter menjadi sangat krusial. Pembentukan karakter melalui sekolah harus dimulai dari keteladanan guru, pembiasaan yang berkelanjutan, serta pemberian ruang bagi siswa untuk mengaktualisasikan nilai-nilai positif. Rahayuningsih menyebutkan bahwa budaya sekolah yang sehat akan menciptakan ekosistem belajar yang mendukung perkembangan karakter, karena peserta didik akan meniru lingkungan yang mereka alami sehari-hari (Rahayuningsih & Iskandar, 2. Oleh karena itu, sekolah perlu bertransformasi menjadi institusi yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga membina dimensi afektif dan psikomotorik secara utuh. Penelitian mendeskripsikan dan menganalisis berbagai upaya yang dilakukan oleh SMK Aisyiyah Palembang dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila . melalui pendekatan budaya sekolah, kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. https://ejournal. id/index. php/mp | 132 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Table 1. Hasil Wawancara Implementasi Profil Pelajar Pancasila di SMK Aisyiyah Palembang Narasumber Temuan Wawancara Dimensi p Wakil Kepala Sekolah (Kurikulu. Sekolah menerapkan p melalui intrakurikuler,kokurikuler, ekstrakurikuler dan budaya sekolah, peserta didik diwajibkan untuk di menjaga kebersihan lingkungan sekolah, berdoa sebelum memulai pelajaran, menghargai perbedaan yang ada, berkata dan berbuat baik sesuai ajaran agama, berikap ramah dan sopan. peserta didik dapat bertanggung jawab dan peduli terhap lingkungan dengan cara menjaga kebersihan dan keindahan di sekolah, peserta didik dapat menjadi warga negara yang baik dan tidak melawan hukum yang ada seperti tidak seperti dilingkungan tidak membully sesama teman, peserta didik mewujudkan rasa kasih sayang dan perhatian kepada diri sendiri dengan memberikan self riward seperti istirahat atau belajar dalam waktu yang sama beristirahat yang menjaga kesehatan . peduli sesama memberikan bantuan kepada siapapun yang membutuhkan. harus saling tolong menolong terhadap sesama manusia melakukan atau membantu mereka yang kesusahan. saling memahami dan menghargai setiap perbedaan saat di lingkungan sekolah teman teman berasal dari berbagai daerah dan kita harus bisa saling menerima perbedaan dan menghargai setiap harus saling berteman tanpa danya memandang suku dan budaya mereka. pesert didik yang baim harus selalu berinteraksi sesama teman tanpa memandang suku budaya dan perbedaan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik di sekolah selalu di ajarkan untuk mencintai budaya dan tradisi mencintai budaya kita sendiri dan dapat melsetarikannya dengan baik agar terciptanya budaya yang unggul dan dapat mencajdi contoh bagi masyarakat yang ada disekitar. peserta didik harus saling tolong menolong antar sesama. didik dapat saling tolong menolong antar sesama yang tidak dapat hidup sendiri, berpatisipasi menjaga lingkungan sekolah dengan cara mengikuti kerja bakti dalam menjaga lingkungan sekolah membuang sampah pada tempatnya, membersihkan selokan di lingkkungan sekolah dan kegiatan positif lainnya yang berguna agar terciptanya lingkungan yang baik. memiliki kesadaran diri untuk belajar dan meningkatkan kemampuan untuk menggapai impian yang diinginkan karena setiap siswa memiliki kesadaran diri untuk belajar. peserta didik dapat bertangung jawab dengan cara menerima hukuman dari guru atas perbuatan yang telah diperbuat contohnya seperti melakukan pelanggaran di sekolah, hal tersebut sebagai bentuk rasa tanggung jawab atas masalah yang telah diperbuat. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik sering bertanya hal hal yang lebih mendalam contohnya saat proses pembelajaran dalam kelas sering bertanya kepada guru agar mendapatkan informasi yang lebih lengkap terhadap materi yang telah di dapat. Berdasarkan hasil wawancara untuk mengevaluasi seberapa sering peserta didik terlibat dalam diskusi bersama, baik dalam konteks pembelajaran maupun pemecahan masalah Berdasarkan hasil wawancara peserta didik memiliki kemampuan kreatif dan keterampilan praktis dalam menghasilkan kerajinan atau prakarya yang memiliki nilai manfaat serta peserta didik dapat membuat kerajinan tangan dan karya-karya lain yanng dapat peserta didik mampu dalam berpikir kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan proyek. Jika peserta didik mampu memberikan ide-ide baru, hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki daya pikir kritis, imajinatif, dan mampu berkontribusi secara Pembelajaran Intrakurikuler,Kok Peserta Didik (Kelas X,XI,XII) Peserta Didik (Kelas X,XI,XII) Peserta Didik (Kelas X,XI,XII) Peserta Didik Kelas ( X,XI,XII) Peserta Didikk Kelas (X,XI,XII) Peserta Didik (Kelas X,XI,XII) Beriman, bertakwa yang maha esa Berkebinekaan Global Gotong Royong Mandiri Bernalar Kritis Kreatif Sumber : hasil gabungan wawancara yang telah disusun dalam bentuk tabel ringkasan wawancara, dengan kolom untuk narasumber, temuan, dan dimensi Profil Pelajar Pancasila . Dari hasil pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, diperoleh temuan bahwa sekolah secara aktif mengintegrasikan nilai-nilai dalam p ke https://ejournal. id/index. php/mp | 133 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . dalam berbagai aspek kehidupan dan pembelajaran di sekolah. p yang terdiri dari enam dimensi utama beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan globaldianggap sebagai fondasi karakter pelajar yang tidak hanya dihafal, tetapi harus dihidupkan melalui kebiasaan dan perilaku sehari-hari (Kemendikbudristek, 2. Dalam penelitian ini menggunakan Teknik observasi partisipatif yaitu dengan cara peneliti dating langsung ke tempat penelitian, peneliti mengamati langsung kegiatan Profil Pelajar Pancasila di SMK Aisyiyah Palembang. Berikut hasil dokumentasi peserta didik dalam melaksanakan kegiatan p : E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Gambar 8. Kegiatan Hisbul Wathan Gambar 9. Kegiatan Tapak Suci Gambar 1. Kegiatan Menjaga Kebersihan Lingkungan Sekolah Gambar 10. Kegiatan One Day One Juz Gambar 2. Kegiatan Program Kebekerjaan Gambar 11. Kegiatan Aisyiyah Sumsel Exspo Gambar 3. Kegiatan Praktek Kebekerjaan Gambar 5. Kegiatan Peserta Didik Mengerjakan Tugas Gambar 4. Kegiatan Belajar Di dalam Kelas https://ejournal. id/index. php/mp | 134 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . Gambar 6. Peserta Didik Sedang Melaksanakan Diskusi Gambar 7. Peserta Didik Sedang Membuat Kerajinan Salah satu bentuk upaya utama sekolah dalam menanamkan nilai-nilai tersebut adalah melalui pembentukan budaya sekolah yang Pembiasaan seperti berdoa sebelum dan lingkungan, hingga kegiatan one day one juz menjadi bagian dari rutinitas yang ditanamkan untuk membentuk karakter religius siswa. Kegiatan ini sesuai dengan dimensi pertama dari p, yaitu membentuk siswa yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Selain itu, sekolah juga melaksanakan program Jumat Bersih dan Senam Sehat untuk menanamkan semangat (Rahayuningsih Iskandar, 2. budaya sekolah yang positif akan menjadi ekosistem yang mendukung terciptanya karakter peserta didik secara alami dan berkelanjutan. Dalam hal ini, guru berperan penting sebagai teladan dan motivator agar peserta didik dapat mengikuti pembiasaan dengan kesadaran pribadi, bukan karena Namun demikian, hambatan tetap ditemukan dalam pelaksanaan pembiasaan ini. Beberapa konsistensi dalam mengikuti kegiatan yang telah diprogramkan, baik karena kurangnya motivasi internal maupun pengawasan yang belum Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi nilai-nilai karakter keterlibatan aktif dan menyeluruh dari semua unsur, termasuk guru, orang tua, dan peserta didik sendiri (Susilowati et al. , 2. Tidak cukup hanya dengan membuat program, tetapi perlu E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 evaluasi rutin dan pembinaan berkelanjutan memastikan bahwa pembiasaan benar-benar menanamkan nilai, bukan sekadar menjadi rutinitas administratif. Selanjutnya, dalam aspek pembelajaran formal atau intrakurikuler. SMK Aisyiyah Palembang telah mengintegrasikan nilai-nilai p ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus, dan kegiatan Dalam mata pelajaran PPKn, guru mengarahkan siswa untuk memahami dan mempraktikkan nilai-nilai toleransi, gotong royong, serta cinta tanah air melalui diskusi, studi kasus, dan refleksi pribadi. Misalnya, saat membahas tema kebinekaan, siswa diminta untuk menceritakan pengalaman mereka dalam menghadapi perbedaan dan bagaimana mereka menyikapinya secara konstruktif. Menurut (Faisal et al. , 2. integrasi nilai karakter dalam pembelajaran formal menjadi kunci keberhasilan Kurikulum Merdeka karena siswa tidak hanya dituntut memahami materi psikomotorik dalam kehidupan nyata. Hasil observasi peneliti juga menunjukkan bahwa siswa secara aktif terlibat dalam diskusi kelas dan mampu mengaitkan materi pelajaran dengan situasi aktual, seperti sikap toleran terhadap perbedaan agama, budaya, dan pendapat dalam kehidupan sekolah. Selain pembelajaran formal, kegiatan kokurikuler juga menjadi bagian penting dalam proses penanaman nilai p. Di SMK Aisyiyah Palembang, kokurikuler meliputi kegiatankegiatan yang dijalankan di luar jam pelajaran utama seperti proyek berbasis masyarakat, tugas tematik lintas mata pelajaran, serta kegiatan keagamaan dan kebangsaan. Salah satu kegiatan unggulan yang ditemukan adalah program bakti sosial dan donasi untuk korban bencana alam. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk memiliki kepekaan sosial, rasa empati, serta sikap gotong royong yang tinggiAinilai yang sesuai dengan dimensi gotong royong dan berkebinekaan global dari p. Menurut,(Yoan Intania et al. , 2. kegiatan kokurikuler berfungsi sebagai jembatan antara teori dan praktik nilai-nilai karakter, karena siswa tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan guru, tetapi juga dari pengalaman nyata dalam kehidupan sosial mereka. Namun, pelaksanaan kegiatan kokurikuler tidak lepas dari tantangan. Salah satu hambatan yang ditemukan adalah kurangnya koordinasi antar guru dalam menyelaraskan jadwal dan beban tugas siswa. Beberapa siswa mengaku mengalami kelelahan karena terlalu banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan yang lebih https://ejournal. id/index. php/mp | 135 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 1. Juni . sistematis agar kegiatan kokurikuler benarbenar menjadi sarana penguatan karakter, bukan justru menjadi beban tambahan (Lutviana Nur H, 2. Kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi instrumen penting dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan seperti Pramuka. Paskibra, seni tari, marawis, futsal, dan organisasi siswa (OSIS) tidak hanya melatih keterampilan teknis siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kemampuan kepemimpinan. Dalam kegiatan ini, nilai-nilai seperti kreativitas, kemandirian, dan kolaborasi sangat ditekankan. Misalnya, dalam latihan Paskibra, siswa dilatih untuk disiplin waktu, bertanggung jawab terhadap peran masing-masing, dan bekerja dalam tim untuk mencapai hasil terbaik. Menurut (Agus Mulyana et al. , 2. kegiatan ekstrakurikuler berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter karena memberi ruang ekspresi dan pengalaman langsung yang tidak didapat dalam kelas formal. Adapun memberikan manfaat besar, namun terdapat beberapa kendala seperti kurangnya partisipasi siswa dan rendahnya dukungan fasilitas dari Beberapa siswa lebih memilih pulang cepat atau tidak mengikuti kegiatan karena alasan kelelahan atau kurang minat. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih kreatif dari sekolah dalam mendesain program ekstrakurikuler agar lebih menarik dan sesuai dengan minat siswa (Shilviana, 2. Selain itu, pelibatan alumni dan komunitas luar sekolah juga bisa menjadi solusi untuk memperkaya pengalaman siswa dalam kegiatan tersebut. Secara umum, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi Profil Pelajar Pancasila di SMK Aisyiyah Palembang telah berjalan dengan cukup baik dan menyentuh seluruh aspek pendidikan di sekolah. Sekolah telah mengupayakan berbagai strategi melalui pembiasaan budaya sekolah, pembelajaran formal, dan berbagai kegiatan pengembangan diri siswa. Meski demikian, masih ditemukan beberapa hambatan yang perlu ditangani secara serius, seperti inkonsistensi pelaksanaan program, rendahnya partisipasi siswa, serta keterbatasan dalam pengawasan dan fasilitas. Maka dari itu, diperlukan sinergi antara pihak sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua agar implementasi p tidak hanya menjadi program jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari Dalam konteks ini, sekolah perlu terus melakukan refleksi dan perbaikan agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang mampu melahirkan generasi pelajar Indonesia E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 menghadapi tantangan global. KESIMPULAN Pendidikan karakter merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, sosial, dan spiritual yang kuat. Dalam konteks globalisasi dan tantangan zaman yang kompleks, implementasi nilai-nilai karakter yang terangkum dalam Profil Pelajar Pancasila . menjadi kebutuhan strategis bagi dunia pendidikan di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian di SMK Aisyiyah Palembang, dapat disimpulkan bahwa sekolah telah melaksanakan berbagai upaya konkret dalam menanamkan nilai-nilai p melalui kokurikuler, ekstrakurikuler, serta pembiasaan budaya sekolah. Nilai-nilai seperti religiusitas, gotong royong, kemandirian, berpikir kritis, dan kreativitas telah terinternalisasi dalam aktivitas keseharian siswa melalui program seperti One Day One Juz. Jumat Bersih, diskusi kelas, dan kegiatan organisasi siswa. Meskipun demikian, tantangan seperti partisipasi siswa yang belum pelaksanaan program masih menjadi catatan Oleh karena itu, penguatan peran guru sebagai teladan, sinergi dengan orang tua, serta evaluasi berkelanjutan menjadi kunci agar implementasi p benar-benar membentuk karakter peserta didik yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. DAFTAR PUSTAKA