Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Faktor Risiko Dengue Shock Syndrome (DSS) Selama Pandemi Covid-19 dan Implikasinya Untuk Mitigasi Pandemi Serupa di Masa Depan: Studi Kasus Kontrol di Kabupaten Buleleng I Gede Peri Arista1*. I Wayan Gede Artawan Eka Putra2. Putu Ayu Swandewi Astuti3 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 1. Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan. Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana 2. Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan. Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana3 *Penulis korespondensi: gedeperiarista19@gmail. ABSTRAK Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng pada masa pandemi COVID19 dilaporkan tertinggi di Indonesia dan semua kasus kematiannya diakibatkan oleh Dengue Shock Syndrome (DSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian DSS pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan 48 penderita DSS dan 100 kontrol yang dipilih secara acak dari penderita DBD yang dirawat inap di RSU Kertha Usada dan RSUD Kabupaten Buleleng. Data dikumpulkan dari rekam medis meliputi umur, jenis kelamin, status gizi, penyakit penyerta, riwayat DBD, keterlambatan datang ke rumah sakit, kepemilikan jaminan kesehatan, dan faktor lainnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji regresi logistik dengan 95% Confidence Interval (CI). Penelitian ini mendapatkan determinan individu terjadinya DSS adalah umur <10 tahun . OR = 13,026. 95%CI: 3,296-51,486, p=<0,. , status gizi obesitas . OR = 3,843. 95%CI: 1,546-9,552, p=0,. , penyakit penyerta paru . OR = 3,839. 95%CI: 1,286-11,461, p=0,0. , dan adanya riwayat DBD . OR = 5,228. 95%CI: 1,97913,807, p=0,. Determinan individu kejadian DSS pada pandemi COVID-19 meliputi usia <10 tahun, status gizi dengan obesitas, riwayat penyakit paru, dan riwayat DBD. Oleh karena itu, peningkatan kewaspadaan dini terhadap DBD dan pengoptimalan pemantauan status gizi menjadi penting untuk pencegahan jika ada pandemi serupa. Kata Kunci: Dengue Shock Syndrome, obesitas, penyakit paru. Pendahuluan Selama pandemi COVID-19, sistem kesehatan global terfokus pada penanganan virus SARSCoV-2, namun pandemi ini juga berdampak signifikan pada penyakit endemik lainnya, termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD, yang disebabkan oleh virus Dengue (DENV), telah lama menjadi masalah kesehatan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang memiliki angka kejadian DBD tertinggi di dunia (WHO, 2. Namun, kehadiran COVID-19 memperburuk kondisi ini, dengan meningkatnya kasus DBD yang mengarah pada kejadian komplikasi berat, seperti Dengue Shock Syndrome (DSS), yang menjadi penyebab utama kematian pada penderita DBD (WHO, 2. Pandemi COVID-19 menyebabkan banyak masyarakat enggan mencari perawatan medis di rumah sakit, karena ketakutan akan penularan SARS-CoV-2, yang berpotensi memperburuk kondisi pasien DBD. Hal ini mengarah pada keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan, meningkatkan risiko komplikasi DSS. Sebagai contoh, di Kabupaten Buleleng. Bali, yang melaporkan kejadian DBD tertinggi pada tahun 2020, angka kejadian DSS mencapai 2,5% dengan tingkat kematian akibat DSS yang tetap tinggi (Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, 2. Meningkatnya kejadian DSS selama pandemi COVID-19 menunjukkan adanya hubungan erat antara kedua penyakit tersebut. Penurunan kewaspadaan dini terhadap DBD selama pandemi COVID-19, terutama pada anak-anak yang merupakan kelompok rentan, semakin memperburuk situasi ini (Olive et al. , 2. Di samping itu, koinfeksi antara SARS-CoV-2 dan DENV dapat memperburuk kondisi pasien, terutama yang memiliki penyakit penyerta seperti penyakit paru atau obesitas (Tiwari et al. Fenomena ini menunjukkan bahwa COVID-19 tidak hanya berisiko menimbulkan penyakit pernapasan berat, tetapi juga dapat memperburuk penyakit lain, seperti DBD, yang memerlukan perhatian lebih. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Selain itu, pandemi COVID-19 menyebabkan gangguan pada sistem pelayanan kesehatan, dengan rumah sakit yang kewalahan menghadapi lonjakan kasus COVID-19, sehingga penyakit lain, termasuk DBD, kurang mendapatkan perhatian yang seharusnya. Surveilans epidemiologi DBD juga mengalami penurunan kapasitas, karena fokus utama beralih pada penanganan COVID-19, yang membuat jumlah kasus DBD yang tercatat tidak mencerminkan gambaran sebenarnya di lapangan (Phadke et al. , 2. Penurunan kewaspadaan terhadap DBD ini, jika tidak segera diatasi, dapat memperburuk situasi dan menyebabkan peningkatan jumlah kasus DSS yang berisiko mengarah pada kematian. Selain faktor perilaku masyarakat yang enggan berobat, ada faktor individu yang berperan besar dalam terjadinya DSS. Misalnya, anak-anak, yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya matang dan pembuluh darah yang lebih permeabel, berisiko lebih tinggi mengalami kebocoran plasma dan perkembangan DSS. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak-anak dengan riwayat infeksi DBD sebelumnya berisiko lebih tinggi mengalami DSS pada infeksi berikutnya (Manuaba. Sutirtayasa, and Dewi, 2. Selain itu, obesitas, yang juga menjadi masalah kesehatan terkait pandemi COVID-19, dapat meningkatkan risiko terjadinya DSS pada penderita DBD, karena jaringan adiposa yang berlebih mempengaruhi respons imun tubuh dan meningkatkan peradangan yang dapat merusak kapiler darah (Diarsvitri et al. , 2. Model pendekatan Hendrik L. Blum dapat digunakan untuk menganalisis berbagai determinan yang mempengaruhi kejadian DSS. Dalam model ini, faktor perilaku, lingkungan, sistem pelayanan kesehatan, dan faktor individu atau genetik saling berinteraksi dan mempengaruhi status kesehatan seseorang (Blum, 1. Selama pandemi COVID-19, pengaruh faktor-faktor ini semakin kompleks, dan perlu adanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai determinandeterminannya untuk merumuskan kebijakan pengendalian yang lebih efektif. Misalnya, dengan memahami bahwa keterlambatan datang ke rumah sakit dan penurunan kewaspadaan terhadap DBD berperan besar dalam kejadian DSS, maka diperlukan peningkatan pendidikan kesehatan masyarakat agar mereka lebih cepat menyadari gejala DBD dan segera mendapatkan perawatan medis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan-determinannya pada masa pandemi COVID-19, dengan harapan dapat memberikan panduan bagi penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan dalam merancang program pencegahan dan pengendalian DBD yang lebih tepat sasaran, serta menjaga kewaspadaan terhadap infeksi lain seperti DBD yang dapat berpotensi menambah beban sistem kesehatan, terutama dalam menghadapi pandemi. Metode Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan kasus kontrol, yang bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya Dengue Shock Syndrome (DSS) pada penderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Penelitian ini dilakukan secara retrospektif, di mana setelah kejadian DSS terjadi, penelusuran dilakukan untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya DSS. Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan, dari Januari hingga Mei 2022, di RSU Kertha Usada dan RSUD Kabupaten Buleleng, yang merupakan rumah sakit dengan angka kejadian DSS tertinggi pada tahun 2020. RSUD Kabupaten Buleleng adalah rumah sakit pemerintah tipe B pendidikan terbesar, sedangkan RSU Kertha Usada merupakan rumah sakit swasta tipe C terbesar kedua di wilayah tersebut. Penegakan diagnosis DSS pada kedua rumah sakit ini mengikuti pedoman nasional dari Kementerian Kesehatan RI, yang menetapkan bahwa penderita DBD yang mengalami kegagalan sirkulasi, seperti frekuensi nadi cepat, denyut nadi lemah, penurunan tekanan darah . , dan penurunan jumlah trombosit O100. 000 sel/mmA, serta peningkatan hematokrit Ou20%, dapat didiagnosis sebagai DSS (Kemenkes RI, 2. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 70 kasus penderita DBD yang mengalami shock dan 261 kontrol, yaitu penderita DBD yang tidak mengalami shock, yang dirawat inap di RSU Kertha Usada dan RSUD Kabupaten Buleleng serta bertempat tinggal di Kabupaten Buleleng. Sampel kasus dipilih dengan metode total sampling, sementara sampel kontrol dipilih secara simple random sampling dengan rasio 1:2. Alur pengambilan sampel dapat dilihat pada Diagram alir Gambar 1. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari rekam medis pasien, yang mencakup status DSS serta determinan individu seperti umur, jenis kelamin, status gizi, penyakit penyerta, dan riwayat DBD. Selain itu, data juga mencakup determinan perilaku, seperti keterlambatan datang ke rumah sakit dan kepemilikan jaminan kesehatan, serta determinan sistem pelayanan kesehatan, seperti kelas perawatan dan jenis rumah sakit. Faktor lingkungan, yaitu jarak tempat tinggal ke Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 rumah sakit, dikumpulkan melalui sistem informasi manajemen rumah sakit. Semua data yang terkumpul dicatat dalam formulir pengumpulan data. Proses pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 22. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan tabulasi silang yang disajikan dalam bentuk frekuensi . dan persentase (%) untuk tiap kategori, serta secara inferensial dengan uji beda proporsi dan regresi logistik ganda dengan interval kepercayaan 95% dan nilai signifikansi 0,05. Pengaruh variabel bebas terhadap kejadian DSS dilihat melalui adjustment Odd Ratio . OR). Setelah regresi logistik ganda dilakukan, analisis tabulasi silang juga dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel bebas. Hasil analisis ini digunakan untuk membahas temuan terkait determinan kejadian DSS. Izin etik diperoleh dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar. Bali. Indonesia 547/UN14. VII. 14/LT/2022 yang dikeluarkan pada tanggal 16 Maret 2022. Hasil dan Pembahasan Kami menemukan terdapat perbedaan distribusi kejadian DSS berdasarkan determinan invidu yang meliputi umur, status gizi, penyakit penyerta, riwayat DBD serta determinan perilaku yang meliputi keterlambatan datang ke rumah sakit dan kepemilikan jaminan kesehatan. Pada kelompok kasus mayoritas berumur <10 tahun, mengalami obesitas, memiliki penyakit penyerta paru, memiliki riwayat DBD, terlambat datang ke rumah sakit dan tidak memiliki jaminan kesehatan. Distribusi kejadian DSS secara lengkap dapat dilihat pada tabel 1. Determinan terjadinya DSS ternyata dipengaruhi oleh individu yaitu umur <10 tahun . OR = 13,026. 95%CI : 3,296-51,486, p=<0,. , status gizi obesitas . OR = 3,843. 95%CI : 1,5469,552, p=0,. , penyakit penyerta paru . OR = 3,839. 95%CI : 1,286-11,461, p=0,0. dan adanya riwayat DBD . OR = 5,228. 95%CI : 1,979-13,807, p=0,. Tabel 1. Distribusi Kejadian DSS Berdasarkan Determinan Individu. Perilaku. Lingkungan, dan Pelayanan Kesehatan Variabel Determinan Individu Umur . <10 tahun 10-18 tahun >18 tahun Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Status gizi Obesitas Tidak obesitas Penyakit penyerta Penyakit paru Penyakit non paru Tidak ada Riwayat DBD Tidak Determinan Perilaku Terlambat datang ke rumah sakit Tidak Kepemilikan jaminan kesehatan Tidak memiliki JKN PBI JKN non PBI Determinan Lingkungan Jarak tempat tinggal ke rumah Kejadian DSS DSS Tidak DSS n = 48 (%) n=100 (%) 95% CI Batas Batas Nilai p mean=11,67 SD=11. mean=20,36 SD=14. 9,225 3,749 Ref 3,136 1,247 27,139 11,271 <0,001 0,019 0,909 Ref 0,961 0,483 0,909 5,993 Ref 2,789 12,875 <0,001 5,943 2,696 Ref 2,428 1,058 14,544 6,870 <0,001 0,038 3,925 Ref 1,901 8,101 <0,001 Demam hari kemean=4. SD=1. Demam hari kemean=3. SD=0. 3,686 Ref 1,329 10,222 0,012 20,625 2,187 Ref 2,106 0,912 201,995 5,244 0,009 0,079 mean=23,66 mean=18,40 Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Variabel > 17,5 kilometer O 17,5 kilometer Determinan Pelayanan Kesehatan Kelas perawatan Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1 Jenis rumah sakit Swasta Pemerintah Kejadian DSS DSS Tidak DSS n = 48 (%) n=100 (%) 95% CI Batas Batas Nilai p SD=17. SD=15. 1,450 Ref 0,725 2,898 0,293 2,676 1,556 Ref 0,724 0,330 9,896 7,343 0,140 0,577 1,007 Ref 0,505 2,008 0,985 Tabel 2 Model Determinan Kejadian DSS Variabel Determinan individu Umur <10 tahun 10-18 tahun >18 tahun Status gizi Obesitas Tidak obesitas Penyakit penyerta Penyakit paru Penyakit non paru Tidak memiliki Riwayat DBD Ada Tidak Determinan perilaku Terlambat datang ke rumah Tidak Kepemilikan jaminan kesehatan Tidak memiliki JKN PBI JKN non PBI Determinan pelayanan Kelas perawatan Kelas i Kelas II Kelas I Model awal 95% CI Nilai p Model akhir 95%CI Nilai p 11,943 4,065 Ref 2,905-49,110 0,945-17,327 0,001 0,058 13,026 3,703 3,296-51,486 0,922-14,864 <0,001 0,065 4,244 Ref 1,610-11,190 0,003 3,843 1,546-9,552 0,004 3,656 2,756 Ref 1,160-11,517 0,773-9,817 0, 027 0,118 3,839 2,801 1,286-11,461 0,821-9,559 0,016 0,100 5,362 Ref 1,932-14,878 0,001 5,228 1,979-13,807 0,001 3,917 Ref 1,078-14,237 0,038 3,193 0,915-11,145 0,069 Ref 0,999 0,999 0,745 Ref 0,094-5,908 0,999 0,780 Kami juga melakukan uji asosiasi antar masing-masing variabel bebas yang diduga saling Umur dengan status gizi ternyata didapatkan asosiasi antara umur <10 tahun dengan status gizi obesitas (OR = 2,724. 95%CI : 1,189-6,241, p=0,. , umur dengan penyakit penyerta juga terjadi asosiasi antara umur >18 tahun dengan penyakit non paru (OR = 4,004. 95%CI : 1,8668,549, p=<0,. , status gizi dengan penyakit penyerta juga terjadi asosiasi antara status gizi obesitas dengan penyakit paru (OR = 2,155. 95%CI : 1,058-4,393, p=0,. dan kepemilikan jaminan kesehatan dengan kelas perawatan didapatkan asosiasi antara tidak memiliki jaminan kesehatan dengan perawatan kelas i (OR = 200,000. 95%CI : 10,748-3721,510, p=<0,. Selama pandemi COVID-19, terjadi penurunan kewaspadaan dini terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), khususnya pada kelompok berisiko, terutama anak-anak. Hal ini meningkatkan kerentanannya terhadap Dengue Shock Syndrome (DSS), yang merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak (Olive et al. , 2. Gejala klinis DBD pada anak sering kali sulit dikenali, yang dapat menyebabkan terjadinya shock hipovolemik (Kemenkes RI, 2. Anak-anak Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 memiliki pembuluh darah yang lebih permeabel, membuat mereka lebih rentan mengalami kebocoran plasma (WHO, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun memiliki risiko 13 kali lebih tinggi untuk mengalami DSS dibandingkan dengan anak-anak yang berusia di atas 10 tahun. Temuan ini dapat dijelaskan oleh teori reaksi silang antara antigen dan antibodi. Anak-anak yang terinfeksi DBD untuk kedua kalinya dengan serotipe virus yang berbeda memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami infeksi berat dan DSS (Manuaba. Sutirtayasa, & Dewi, 2. Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang memiliki riwayat DBD sebelumnya berisiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami DSS, karena antibodi yang terbentuk dari infeksi sebelumnya dapat memicu replikasi virus lebih lanjut (Candra, 2. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa sebagian besar anak yang mengalami DSS juga memiliki masalah obesitas. Obesitas pada anak dapat dipengaruhi oleh faktor genetik atau riwayat keluarga, dengan anak-anak yang memiliki orang tua obesitas berisiko 10 kali lebih tinggi untuk mengalaminya (Juliani & Sidiartha, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah 10 tahun berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami obesitas, yang diduga dapat memperburuk kondisi DBD hingga menyebabkan DSS (Kurnia & Suryawan, 2. Obesitas dapat menyebabkan akumulasi jaringan adiposa yang berlebih, yang kemudian mengekspresikan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-. IL-6. IL-8, dan IL-1. Sitokin ini meningkatkan permeabilitas kapiler, yang dapat menyebabkan kebocoran plasmaAisalah satu ciri utama DSS (Diarsvitri et al. , 2020. Budiarti et al. , 2. Penelitian ini konsisten dengan temuan dari berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa anak dengan obesitas berisiko lebih tinggi untuk mengalami DSS (Armenda et al. , 2021. Putri & Utama, 2020. Maneerattanasak & Suwanbamrung. Selain obesitas, penelitian ini juga menemukan bahwa penyakit paru-paru berperan sebagai faktor risiko penting untuk DSS. Individu dengan obesitas cenderung memiliki penumpukan lemak di paru-paru, yang meningkatkan risiko infeksi bakteri atau virus, yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperburuk kondisi infeksi DBD (Huttunen & Syrjanen, 2. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa anak dengan penyakit paru berisiko tiga kali lebih tinggi untuk mengalami DSS, yang sejalan dengan studi sebelumnya yang menemukan bahwa penyakit paru memperburuk kondisi penderita DBD (Werneck et al. , 2. Selama pandemi COVID-19, muncul dugaan adanya ko-infeksi atau reaksi silang antara SARS-CoV-2 dan virus dengue (Tiwari et al. , 2. Penelitian di Brazil menunjukkan bahwa 66% kasus DBD terkait dengan paparan atau riwayat kontak dengan penderita COVID-19 (Ribeiro. Telles, & Tuon, 2. Kedua infeksi ini dapat menghasilkan gejala klinis yang mirip, sehingga sulit membedakan antara DSS dan COVID-19 berat, karena kedua virus ini memiliki kesamaan struktur antigen (Phadke et al. , 2. Penelitian ini juga mendapati bahwa beberapa kasus DSS dapat disalahdiagnosis sebagai bronkopneumonia, padahal sebenarnya merupakan infeksi COVID-19. Meskipun jaminan kesehatan memiliki peran penting dalam akses ke perawatan yang tepat, penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar 10,4% kasus DSS terjadi pada individu yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Di Kabupaten Buleleng, sekitar 0,7% dari populasi masih belum terjangkau jaminan kesehatan, yang berpotensi memperburuk akses ke layanan kesehatan bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami DSS. Temuan ini menunjukkan bahwa pembaruan data kepemilikan jaminan kesehatan sangat penting untuk memastikan akses yang merata bagi seluruh lapisan Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya jumlah variabel yang tersedia dalam rekam medis yang terbatas, serta kesulitan dalam mendeteksi infeksi COVID-19 pada penderita DBD. Selain itu, variabel keterlambatan datang ke rumah sakit dan jenis kelamin tidak terbukti menjadi faktor determinan yang signifikan dalam kejadian DSS, meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan tersebut. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan implikasi yang signifikan untuk kebijakan kesehatan di masa depan. Peningkatan kewaspadaan dini terhadap DBD, terutama pada anak-anak dan individu dengan faktor risiko seperti obesitas dan penyakit paru, sangat penting untuk mencegah terjadinya DSS. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat, termasuk menjaga berat badan ideal dan menghindari paparan vektor penyakit, perlu Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus diintensifkan di daerah dengan angka kejadian DBD yang tinggi, khususnya di tengah pandemi atau krisis kesehatan lainnya. Pemerintah juga perlu memastikan akses yang lebih merata terhadap layanan kesehatan melalui jaminan kesehatan yang lebih inklusif, sehingga semua lapisan masyarakat dapat menerima perawatan yang tepat waktu dan memadai. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Simpulan Determinan individu kejadian DSS pada masa pandemi COVID-19 adalah umur di bawah 10 tahun, status gizi dengan obesitas, dan riwayat DBD. Determinan perilaku yang berhubungan dengan kejadian DSS adalah terlambat datang ke rumah sakit. Untuk pencegahan jika ada pandemi serupa, disarankan untuk mengintensifkan deteksi dini kasus DBD, memberikan penanganan khusus pada kelompok anak, individu dengan obesitas, serta mereka yang memiliki riwayat DBD. Pemantauan status gizi anak melalui program posyandu juga perlu dioptimalkan, sementara kewaspadaan dini harus ditingkatkan pada anak berusia di bawah 10 tahun. Daftar Rujukan Agrawal. et al. AoClinical profile and predictors of Severe Dengue disease: A study from South IndiaAo. Caspian Journal Interna Medicine, 9. , pp. 334Ae340. Aldriana. AoFactors Associated With Pneumonia in Children Under Five in The Region Rambah Samo Health Centers In 2014Ao. Jurnal Maternity and Neonatal, 1. , pp. 262Ae266. Arauz. et al. AoDeveloping a Social Autopsy Tool for Dengue Mortality : A Pilot StudyAo. PLOS ONE, 6(Februar. , 1Ae17. Available https://doi. org/10. 1371/journal. Armenda. et al. AoFactors associated with clinical outcomes of pediatric dengue shock syndrome admitted to pediatric intensive care unit : A retrospective cohort studyAo. Annals of Medicine and Surgery, 66(Jun. , p. Asyary. Al . AoKoinfeksi Coronavirus Dan Demam Berdarah Dengue: Literatur ReviewAo. Jurnal Medika Hutama, 03. , pp. 2118Ae2128. Available at: http://jurnalmedikahutama. Blum. Planning for Health: Generics for the Eighties. Human Sciences Press. Budiarti et al. AoThe Surge of Dengue Cases during COVID-19 in IndonesiaAo. The New Armenia Medical Journal, 14. , pp. 91Ae99. Candra. AoDengue Hemorrhagic Fever: Epidemiology. Pathogenesis, and Its Transmission Risk FactorsAo. Aspirator, 2. , pp. 110Ae119. Czeisler. et al. AoDelay or Avoidance of Medical Care Because of COVID-19-Related Concerns-United States. June 2020Ao. Morbidity and Mortality Weekly Report, 69. , pp. 1250Ae1257. Diarsvitri. et al. AoDengue Lurks During Coronavirus Disease-19 Pandemic in Indonesia : A Narrative ReviewAo. Macedonian Journal of Medical Sciences, 8(T. , pp. 391Ae398. Available at: https://doi. org/10. 3889/oamjms. Din. Asghar. and Ali. COVID-19 and Dengue Coepidemics : A Double Trouble For Overburdened Health Systems in Developing Countries. Jounal of Medical Virology. Islamabad Pakistan. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng . Epidemiologi DBD di Kabupaten Buleleng Tahun 2020. Singaraja. Harapan. et al. AoCovid-19 and dengue : Double punches for dengue-endemic countries in AsiaAo. Journal of Medical Virology, 10(Augus. , pp. 1Ae9. Huttunen. and Syrjanen. AoObesity and the risk and outcome of infectionAo. International Journal of Obesity, 13, pp. 333Ae340. Juliani. and Sidiartha. Hubungan Riwayat Obesitas Pada Orang Tua Dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar. Universitas Udayana. Kemenkes RI . Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Edited by V. Sitohang et al. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. Kemenkes RI . Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Edited by B. Hardana. Sibuea, and Widiantini. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kurnia. and Suryawan. AoThe Association between Obesity and Severity of Dengue Hemorrhagic Fever in Children at Wangaya General HospitalAo. Macedonian Journal of Medical Sciences, 7. , pp. 2444Ae2446. Lee. -K. et al. AoPrognostic Factors in Adult Patients with Dengue : Developing Risk Scoring Models and Emphasizing Factors Associated with Death O 7 Days after Illness Onset and O 3 Days after PresentationAo. Journal of Clinical Medicine, 7. , pp. 1Ae15. Mallhi. et al. AoClinico-Laboratory Spectrum of Dengue Viral Infection and Risk Factors Associated with Dengue Hemorrhagic Fever: a Retrospective StudyAo. BMC Infectious Diseases, 15. , pp. 1Ae12. Available at: https://doi. org/10. 1186/s12879-015-1141-3. Maneerattanasak. and Suwanbamrung. AoImpact of Nutritional Status on the Severity of Dengue Infection Among Pediatric Patients in Southern ThailandAo. The Pediatric Infectious Disease Journal, 39. , pp. 410Ae416. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Manuaba. Sutirtayasa. and Dewi. Immunopatogenesis Infeksi Virus Dengue. Universitas Udayana. Olive. -M. et al. AoThe COVID-19 pandemic should not jeopardize dengue controlAo. PLOS Neglected Tropical Diseases. September. , pp. 1Ae7. Pang. et al. AoDiabetes, cardiac disorders and asthma as risk factors for severe organ involvement among adult dengue patients: A matched case-control studyAo. Nature Scientific Reports, 7. , pp. 1Ae10. Pangaribuan. Prawirohartono. and Laksanawati. AoFaktor Prognosis Kematian Sindrom Syok DengueAo. Sari Pediatri, 15. , pp. 332Ae340. Phadke. et al. Dengue Amidst COVID -19 in India : The Mystery of Plummeting Cases. Journal Medical Virology. Kabul Afghanistan. Available https://doi. org/10. 1002/jmv. Plasencia-Dueyas. Failoc-Rojas. and Morales. - . Impact of the COVID-19 pandemic on the incidence of dengue fever in Peru. Journal of Medical Virology. Lima: John Wiley & Sons. Ltd. Podung. Tatura. and Mantik. AoFaktor Risiko Terjadinya Sindroma Syok Dengue pada Demam Berdarah DengueAo. Jurnal Biomedik, 13. , pp. 161Ae166. Pradipta. Laksanawati. and Pramono. AoSocial determinants of dengue shock syndrome in SemarangAo. BKM Journal of Community Medicine and Public Health, 32. , pp. 151Ae156. Pramudito. Sari. and Soemyarso. AoAssociation between nutritional status and the outcome of pediatric patient with Dengue Shock SyndromeAo. Majalah Biomorfologi, 30. , 1Ae6. Putri. and Utama. AoHubungan Obesitas Dengan Kejadian Sindrom Syok Dengue Pada AnakAo. Jurnal Medika Udayana, 9. , pp. 39Ae43. Ribeiro. Telles. and Tuon. AoArboviral Diseases and COVID-19 in Brazil: Concerns Regarding Climatic. Sanitation and Endemic ScenarioAo. Journal of Medical Virology, 55. , pp. 1Ae6. Available at: https://doi. org/10. 1002/jmv. Silva. da and Pena. AoCollapse of the public health system and the emergence of new variants during the second wave of the COVID-19 pandemic in BrazilAo. One Health, 13(Apri. Sinaga. AoFaktor Risiko Bronkopneumonia pada Usia di Bawah Lima Tahun yang di Rawat Inap di RSUD Dr. Abdoel Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015Ao. Jurnal Kesehatan Unila, 3. , pp. 92Ae98. Teixeira. et al. AoArterial Hypertension and Skin Allergy Are Risk Factors for Progression from Dengue to Dengue Hemorrhagic Fever: A Case Control StudyAo. PLOS Neglected Tropical Disease, 9. , pp. 1Ae8. Tiwari. et al. AoCOVID-19 with dengue shock syndrome in a child: coinfection or crossreactivity?Ao. BMJ Global Health, 13. , pp. 1Ae5. Trisiyah. and W. AoHubungan Kondisi Lingkungan Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Taman Kabupaten SidoarjoAo. The Indonesian Journal of Public Health, 13. , pp. 119Ae129. Unicef Indonesia . Indonesia: Tingkat obesitas di kalangan orang dewasa berlipat ganda selama dua dekade terakhir. Available at: https://w. org/indonesia/id/pressreleases/indonesia-tingkat-obesitas-di-kalangan-orang-dewasa-berlipat-ganda-selama-duadekade. Wahyuni. Mirayanti. and Eka Sari. AoHubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Di UPTD Puskesmas Tabanan iAo. Bali Medika Jurnal, 7. , pp. 11Ae23. Wang. et al. AoScienceDirect Dengue hemorrhagic fever e A systemic literature review of current perspectives on pathogenesis , prevention and controlAo. Journal of Microbiology. Immunology and Infection, 53. , pp. 963Ae978. WHO . Dengue Guidlines For Diagnosis. Treatment. Prevention and Control. New. Edited by A. Kroeger et al. Geneva Switzerland: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. WHO . Comprehensive Guidlines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Expanded E. Edited by N. Kalra et al. New Delhi: World Health Organization. WHO Dengue Health Topics. Available https://w. int/southeastasia/health-topics/dengue-and-severe-dengue (Accessed: 23 June 2. WHO . WHO Director-GeneralAos opening remarks at the media briefing on COVID-191-11 March Available at: https://w. int/director-general/speeches/detail/who-directorgeneral-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---11-march- Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 2020#::text=WHO has been assessing this,be characterized as a pandemic. (Accessed: 18 January 2. WHO . Dengue and severe dengue. Dengue. Genewa. Available at: https://w. int/newsroom/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue (Accessed: 23 June 2. Yatra. Putra. and Pinatih. AoDisease History and Delayed Diagnosis of Dengue Infection as Risk Factors for Dengue Shock Syndrome in Wangaya Hospital DenpasarAo. Public Health and Preventive Medicine Archive (PHPMA), 3. , pp. 150Ae154. Yusof. and Suardamana. Demam Derdarah Dengue. Universitas Udayana. Zakaria. and BZ. AoPredictors For Severe Dengue in Adults: A Systematic ReviewAo. International Journal of Publich Health and Clinical Science, 7. , pp. 148Ae166.