Ganesha Civic Education Journal Volume 7. Number 2. Oktober 2025, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index TINGKAT KECENDERUNGAN PERILAKU EKSTREMISME BERBASIS AKTIVITAS DIGITAL DI KALANGAN MAHASISWA Annisa Istiqomah 1 * . Marzuki 2. Cucu Sutrisno 3,Samsuri4. Sulthon Abdul Aziz5 Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia ABSTRAK ARTICLE INFO Ekstremisme di kalangan mahasiswa bisa berdampak sangat serius. Tidak hanya dapat merusak citra dan reputasi institusi pendidikan, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan sosial yang lebih luas. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa dapat menciptakan ketakutan, merusak hubungan antar kelompok di masyarakat, dan memperburuk ketegangan Kata Kunci: Penelitian ini bertujuan untuk . mengidentifikasi tanda-tanda awal dari perilaku ekstremis di kalangan mahasiswa melalui media sosial. mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang mendorong atau mengurangi Keywords: kecenderungan perilaku ekstremisme melalui medial sosial. Hasil extremism, digital, penelitian menunjukkan bahwa : 1. Secara keseluruhan tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa dapat dikategorikantinggi , karena frekuensi terbanyak responden . ,10%) berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih cukup rentan terhadap paparan konten ekstremisme di ruang digita: . Kecenderungan ekstremisme berbasis digital pada mahasiswa lebih banyak terletak pada level ideologis dan sikap . oyalitas, pembenaran kekerasan, dan penolakan keberagama. dibandingkan pada level tindakan nyata . kses, keterlibatan komunitas, maupun kesiapan bertindak ekstre. Dengan kata lain, mahasiswa berada pada fase kerentanan ideologis yang memerlukan perhatian serius melalui program literasi digital, penguatan pemahaman kebangsaan, serta pembelajaran toleransi untuk mencegah berkembangnya sikap ideologis tersebut menjadi perilaku ekstrem yang konkret. Article history: Received 20 Juli 2025 Accepted 6 Oktober 2025 Available online 28 Oktober ABSTRACT Extremism among students can have very serious consequences. It can not only damage the image and reputation of educational institutions, but can also cause broader social damage. Violent acts carried out by students can instill fear, damage intergroup relations in society, and reduce social tensions. This study aims to . identify early signs of extremist behavior among students through social media. Identify specific factors that encourage or reduce the tendency of extremist behavior through social media. The results of the study indicate that: 1. Overall, the level of tendency of digital-based extremist behavior among students can be considered high, because the frequency of the majority of respondents . 10%) is in the high These results indicate that students are still quite vulnerable to exposure to extremist content in the digital space: . The tendency of digital-based extremism among students is more at the ideological and attitudinal level . oyalty, justification of violence, and rejection of diversit. than at the level of concrete actions . ccess, community involvement, and commitment to extreme actio. In other words, students are in a phase of ideological vulnerability that requires serious attention through digital literacy programs, strengthening national understanding, and learning tolerance to prevent the development of these ideological attitudes into concrete extreme behavior. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: annisa. istiqomah@uny. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Pendahuluan Ekstremisme adalah pandangan, tindakan, atau ideologi yang jauh di luar batas norma atau nilai yang diterima dalam suatu masyarakat atau kelompok. Hal ini dapat mencakup ideologi politik, agama, atau sosial yang cenderung menggunakan metode atau pendekatan yang sangat radikal, termasuk kekerasan, diskriminasi, atau bentuk ekstrem lainnya untuk mencapai tujuan Bentuk ekstremisme ini dapat berujung pada ketegangan sosial, kekerasan, atau konflik yang merusak stabilitas dan keharmonisan dalam masyarakat. Fenomena ini sering kali dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang merasa terpinggirkan atau tidak terwakili oleh sistem politik yang ada, sehingga kelompok tersebut mencari cara-cara yang lebih radikal dan penuh kekerasan untuk menyuarakan pendapat atau mencapai perubahan. Menurut Perpres No. 7 Tahun 2021 Pasal 1 ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme adalah keyakinan dan atau tindakan yang menggunakan cara-cara kekerasan atau ancaman kekerasan ekstrem dengan tujuan mendukung atau melakukan aksi terorisme. Penyebab ekstremisme berbasis kekerasan sangat kompleks, melibatkan faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Sementara di Indonesia, beberapa faktor kunci yang dapat diidentifikasi sebagai latar belakang tumbuh dan berkembangnya ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, antara lain adalah . besarnya potensi konflik komunal berlatar belakang sentimen primordial dan . kesenjangan ekonomi. perbedaan pandangan politik. perlakuan yang tidak serta . intoleransi dalam kehidupan beragama (Perpres No. 7 Tahun 2. Dengan demikian, ketidakadilan sosial, ketimpangan ekonomi, diskriminasi, dan marginalisasi dapat menjadi pendorong kuat bagi individu atau kelompok untuk mengadopsi ideologi ekstremis. Kelompok-kelompok tersebut sering kali merasa bahwa cara damai tidak akan membawa perubahan yang signifikan, sehingga kekerasan menjadi jalan yang dipilih untuk mencapai tujuan. Selain itu, faktor ideologi juga memainkan peran besar dalam ekstremisme. Misalnya, beberapa kelompok ekstremis dapat meyakini sedang memperjuangkan kebenaran mutlak atau nilai-nilai tertentu yang dianggap lebih tinggi, yang dapat memvalidasi penggunaan kekerasan sebagai sarana untuk memperjuangkan tujuan tersebut. Menurut Schmid . kelompok ekstremis merupakan kelompok yang menganut paham kekerasan ekstrem atau ekstremisme. Ekstremis cenderung berpikiran tertutup, tidak bertoleransi, anti demokrasi, dan dapat menghalalkan segala cara, termasuk penipuan, untuk mencapai tujuan mereka. Kelompok ini berbeda dengan kelompok radikalis, kelompok yang menganut paham radikal atau radikalisme. Jalil . menjelaskan bahwa ekstremisme merupakan paham atau keyakinan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi batas kewajaran, dan dapat melanggar hukum. Ekstremisme merupakan doktrin politik atau agama yang membuat aksi untuk mewujudkan tujuannya dengan berbagai macam cara, seperti gerakan anarkis dan fanatik terhadap sesuatu. Pemahaman yang salah tentang ajaran agama atau keyakinan politik juga dapat memperburuk situasi ini, karena beberapa individu atau kelompok merasa bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk melawan apa yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai yang dianut. Media sosial dan teknologi juga semakin memperburuk masalah ini. Platform-platform digital memberikan ruang bagi penyebaran ideologi radikal dengan lebih mudah dan cepat. Aktivisme digital merupakan sebuah gerakan atau kegiatan melalui media digital, yang dapat mengorganisir, mengakomodasi seluruh kepentingan (Zakiyah BZ, dkk. , 2. Aksi aktivitisme digital yang semakin mengglobal masih dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat kontekstual, seperti politik, ekonomi, dan sosial (Zahiran & Hermanadi. Aktivisme digital merupakan penggunaan teknologi informasi elektronik seperti media sosial, email, podcast untuk berbagai bentuk kegiatan seperti kampanye atau gerakan yang bertujuan untuk perubahan sosial dan politik (Joyce, 2010: vii. Sivitanides & Shah, 2011: . Kegiatan tersebut memungkinkan komunikasi yang lebih cepat antar anggota gerakan dan penyebaran informasi untuk kalangan yang lebih luas (Pathak, 2014: . Hal ini memungkinkan kelompok ekstremis untuk merekrut anggota baru dan menyebarkan propaganda mereka kepada audiens yang lebih luas, terutama di kalangan individu muda yang rentan terhadap pengaruh eksternal. Pada tahun 2019 narasi propaganda kelompok radikal di dunia maya cukup massif dan terstruktur, kondisi banjirnya informasi di internet dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk menyebarluaskan konten dan propagandaAy. Golongan ini memanfaatkan fitur internet yang minim filter namun memiliki Annisa Istiqomah. / Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Aktivitas Digital Di Kalangan Mahasiswa Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. jangkauan yang luas (Dewi & Triandika, 2. Terdapat tiga isu yang selalu disebarkan oleh kelompok radikal, pertama adalah, anti-Pancasila, anti NKRI dan intoleransi (Damai, 2020. Zubair, et. al, 2. Hal ini terbukti dari adanya halaman online, akun media sosial, portal daring dan video yang sengaja dirancang untuk menyebarkan ideologi kekerasan dan pidato kebencian, termasuk gagasan mendirikan negara Islam (Sulfikar, 2. Penting untuk dicatat bahwa ekstremisme bukan hanya terjadi dalam konteks satu agama atau kelompok budaya tertentu, melainkan merupakan fenomena global yang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di seluruh dunia salah satunya di kalangan mahasiswa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Setara Institue . menunjukkan adanya: . perkembangan gerakan keagamaan ekslusif seperti gerakan salafi-wahabi, gerakan tarbiyah, dan gerakan tahririyah. derajat eksklusivitas wacana dan gerakan keislaman di perguruan tinggi. aktor-aktor kunci di perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mengurangi structural opportunity dan mendestruksi enabling environments bagi berkembangnya wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus, khususnya kampus- kampus negeri. Ekstremisme di kalangan mahasiswa menjadi salah satu isu yang patut mendapatkan perhatian serius, mengingat peran penting mahasiswa sebagai agen perubahan dan intelektual dalam masyarakat. Mahasiswa, yang sering kali berada dalam fase pencarian identitas dan pemahaman terhadap dunia, dapat rentan terhadap pengaruh ideologi-ideologi ekstremis, baik itu yang berbasis agama, politik, maupun Fenomena ini berpotensi menimbulkan ancaman bagi stabilitas sosial dan keamanan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemunculan ekstremisme di kalangan mahasiswa antara lain: . pencarian identitas dan ideologi. ketidakpuasan terhadap sistem sosial, politik, dan ekonomi sering kali menjadi pendorong munculnya ekstremisme. kurangnya pemahaman terkait Pendidikan Kewarganegaraan dan toleransi. Kelima, faktor lingkungan dan kelompok sebaya yang memengaruhi proses pembentukan identitas mahasiswa. Ekstremisme di kalangan mahasiswa bisa berdampak sangat serius. Tidak hanya dapat merusak citra dan reputasi institusi pendidikan, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan sosial yang lebih luas. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa dapat menciptakan ketakutan, merusak hubungan antar kelompok di masyarakat, dan memperburuk ketegangan sosial. Di sisi lain, mahasiswa yang terjerumus dalam ekstremisme juga dapat kehilangan kesempatan untuk berkembang secara intelektual dan berkontribusi positif terhadap masyarakat. Dengan demikian, guna memahami dan mencegah potensi ancaman yang dapat merusak stabilitas sosial dan ketertiban dalam kehidupan kampus maupun masyarakat secara luas, penelitian ini akan mengkaji tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis aktivitas digital di kalangan Penelitian ini bertujuan untuk . mengidentifikasi tanda-tanda awal dari perilaku ekstremis di kalangan mahasiswa melalui media sosial. mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang mendorong atau mengurangi kecenderungan perilaku ekstremisme melalui medial sosial. Metode Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif (Creswell . , yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis aktivitas digital di kalangan mahasiswa. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sleman pada 15 MaretAe15 Oktober 2025. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif di Sleman, dengan jumlah sampel ditentukan menggunakan tabel Krejcie & Morgan pada tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 2,5%. Variabel penelitian adalah perilaku ekstremisme berbasis aktivitas digital. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert melalui cross sectional survey. Keabsahan data diuji melalui uji validitas isi (AikenAos V) dan uji reliabilitas (CronbachAos Alph. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif (Sugiyono, 2. untuk menggambarkan tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme digital mahasiswa. Hasil dan pembahasan 1 Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Digital di Kalangan Mahasiswa GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. Analisis tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa diperoleh berdasarkan jawaban dari mahasiswa dengan rentang 1-5 dari 42 item. Skor harapan tertinggi dari instrumen tersebut adalah 210 . sedangkan skor harapan terendah adalah 42 . dengan nilai rata-rata 66,86 dan standar deviasinya adalah 16,51, sehingga penentuan hasil kategori sangat tinggi berada pada skor >83,3, kategorisasi tinggi pada skor 83,3< X O 66,86, kategori rendah berada pada skor 66,86 < X O 50,34, dan kategori sangat rendah berada pada skor < 50,34. Distribusi skor mahasiswa secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 1 dan grafik pada gambar 1. Tabel 1. Kategorisasi Skor Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Digital di Kalangan Mahasiswa Kategori Interval Frekuensi Persentase Sangat Tinggi X > 83,3 14,99% Tinggi 83,3 > X > 35,10% Rendah 66,86 > 31,81% 50,34 Sangat rendah X < 50,34 18,10% Total Gambar . Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Digital di Kalangan Mahasiswa SANGAT TINGGI TINGGI RENDAH SANGAT RENDAH Gambar menunjukkan distribusi hasil skor secara menyeluruh tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa. Pertama, sebanyak 82 mahasiswa . ,99%) berada dalam kategori sangat tinggi. Kedua, sebanyak 192 mahasiswa . ,10%) berada dalam kategori tinggi. Ketiga, sebanyak 174 mahasiswa . ,81%) berada dalam kategori rendah dan keempat, 99 mahasiswa . ,10%) berada dalam kategori sangat Dengan demikian, secara keseluruhan tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa dapat dikategorikantinggi , karena frekuensi terbanyak responden . ,10%) berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih cukup rentan terhadap paparan konten ekstremisme di ruang digital. Tingginya kecenderungan ini dapat diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa media digital menjadi ruang yang signifikan dalam membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku mahasiswa terkait isuisu radikalisme maupun ekstremisme. Fenomena ini juga mengisyaratkan adanya tantangan serius bagi institusi pendidikan tinggi, pemerintah, maupun masyarakat dalam membangun literasi digital, literasi kritis, serta penguatan nilai kebangsaan dan toleransi. Jika tidak Annisa Istiqomah. / Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Aktivitas Digital Di Kalangan Mahasiswa Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. diantisipasi dengan baik, kecenderungan ini berpotensi berkembang menjadi tindakan nyata yang dapat mengganggu harmoni sosial maupun stabilitas nasional. Asmuni . menegaskan bahwa keluarga merupakan ruang pertama dan paling menentukan dalam membentuk cara pandang mahasiswa terhadap nilai keberagamaan yang moderat, karena dari lingkungan terdekat inilah mereka belajar memahami perbedaan, toleransi, dan sikap keberagamaan yang tidak ekstrem. Ia menjelaskan bahwa penguatan peran keluarga dan lingkungan sosial menjadi kunci untuk mencegah radikalisme, sebab komunikasi yang terbuka, pola asuh yang dialogis, dan dukungan sosial yang sehat dapat membangun daya tangkal mahasiswa terhadap ideologi yang menyimpang. Dengan demikian. H=hasil penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi preventif dan edukatif yang berkelanjutan untuk menekan kecenderungan ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa. 2 Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Digital di Kalangan Mahasiswa Berbasis Indikator Tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa berdasarkan indikator secara menyeluruh digambarkan sebagai berikut. Tabel 2. Kategorisasi Skor Berdasarkan Indiktaor Indikator Rata-rata Skor Kategori Merasa sistem tidak adil 1093,71 Rendah terhadap kelompoknya Loyal kepada kelompok 1191,17 Tinggi Justifikasi Kekerasan 1194,33 Tinggi Akses terhadap konten Rendah Terlibat dalam Komunitas Rendah Esktrem Menolak 1386,333333 Tinggi Kesiapan Rendah Gambar 3. Tingkat Kecenderungan Perilaku Ekstremisme Berbasis Digital di Kalangan Mahasiswa Berbasis Indikator Kesiapan bertindak ekstrem Menolak keberagaman pandangan Terlibat dalam Komunitas Esktrem Akses terhadap konten ekstrem Justifikasi Kekerasan Loyal kepada kelompok ideologis Merasa sistem tidak adil terhadap 800 1000 1200 1400 1600 Berdasarkan hasil analisis per indikator, terlihat adanya variasi kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa. Indikator merasa sistem tidak adil GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. Oktober 2025, pp. terhadap kelompoknya memperoleh skor rata-rata 1093,71 dan berada pada kategori rendah, yang menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak memiliki persepsi kuat bahwa sistem sosial maupun politik mendiskriminasi kelompok mereka. Demikian pula, indikator akses terhadap konten ekstrem . dan keterlibatan dalam komunitas ekstrem . juga berada pada kategori rendah, yang mengindikasikan bahwa mahasiswa relatif jarang mengakses ataupun terlibat langsung dalam jejaring kelompok ekstremis secara digital. Selain itu, indikator kesiapan bertindak ekstrem juga tergolong rendah dengan skor 1114,5, menandakan bahwa meskipun terdapat paparan, mahasiswa belum menunjukkan kecenderungan signifikan untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata. Namun demikian, terdapat tiga indikator yang menonjol dengan kategori tinggi, yaitu loyal kepada kelompok ideologis . , justifikasi kekerasan . , dan penolakan terhadap keberagaman pandangan . Hal ini menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memiliki kecenderungan untuk berpihak secara kuat pada kelompok ideologis tertentu, cenderung memberikan pembenaran terhadap tindak kekerasan, serta menunjukkan resistensi terhadap pandangan atau keyakinan yang berbeda. Ketiga aspek ini mencerminkan adanya potensi radikalisasi yang lebih ideologis dan kognitif, meskipun belum sepenuhnya terwujud dalam bentuk keterlibatan komunitas maupun tindakan langsung. Secara keseluruhan, pola ini memperlihatkan bahwa kecenderungan ekstremisme berbasis digital pada mahasiswa lebih banyak terletak pada level ideologis dan sikap . oyalitas, pembenaran kekerasan, dan penolakan keberagama. dibandingkan pada level tindakan nyata . kses, keterlibatan komunitas, maupun kesiapan bertindak ekstre. Menurut Dewi & Triandika . kelompok ekstremis memiliki kemungkinan untuk merekrut anggota baru dan menyebarkan propaganda mereka kepada audiens yang lebih luas, terutama di kalangan individu muda yang rentan terhadap pengaruh eksternal. Golongan ini memanfaatkan fitur internet yang minim filter namun memiliki jangkauan yang luas. Dengan kata lain, mahasiswa berada pada fase kerentanan ideologis yang memerlukan perhatian serius melalui program literasi digital, penguatan pemahaman kebangsaan, serta pembelajaran toleransi untuk mencegah berkembangnya sikap ideologis tersebut menjadi perilaku ekstrem yang Simpulan dan saran Berisi simpulan dan saran. Simpulan memuat jawaban atas pertanyaan penelitian. Saransaran mengacu pada hasil penelitian dan berupa tindakan praktis, sebutkan untuk siapa dan untuk apa saran ditujukan. Ditulis dalam bentuk essay, bukan dalam bentuk numerikal. 1 Simpulan Secara keseluruhan tingkat kecenderungan perilaku ekstremisme berbasis digital di kalangan mahasiswa dapat dikategorikantinggi , karena frekuensi terbanyak responden . ,10%) berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih cukup rentan terhadap paparan konten ekstremisme di ruang digital. Kecenderungan ekstremisme berbasis digital pada mahasiswa lebih banyak terletak pada level ideologis dan sikap . oyalitas, pembenaran kekerasan, dan penolakan keberagama. dibandingkan pada level tindakan nyata . kses, keterlibatan komunitas, maupun kesiapan bertindak ekstre. Dengan kata lain, mahasiswa berada pada fase kerentanan ideologis yang memerlukan perhatian serius melalui program literasi digital, penguatan pemahaman kebangsaan, serta pembelajaran toleransi untuk mencegah berkembangnya sikap ideologis tersebut menjadi perilaku ekstrem yang konkret. 2 Saran