http://ejournal. id/index. php/meteor METEOR STIP MARUNDA JURNAL ILMIAH NASIONAL SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN JAKARTA Optimalisasi Sistem Gas Lembam Untuk Penanganan Muatan Crude Oil di MT. Galunggung Cahyaningtyas. Subardi A. Andi Wahyu3 1, 2, 3 Program Studi Teknika. Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Indonesia Disu bdisubmit pada : 12/3/19 direvisi pada : 5/5/19 pada : 12/05/19 diterima pada : 12/5/193/19 Abstrak MT. Galunggung dengan jenis kapal tanker yang bermuatan crude oil, terdapat kendala yang berkaitan dengan pelaksanaan sistem gas lembam, yaitu kurangnya pengetahuan crew kapal mengenai sistem gas lembam, sehingga penggunaan dan perawatan pada alat-alat sistem gas lembam tersebut juga tidak dapat maksimal. Hal ini menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja di MT. Galunggung, seperti ledakan di dalam tangki pada tanggal 19 Mei 2018. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penyebab pelaksanaan sistem gas lembam di MT. Galunggung tidak optimal serta upaya untuk mengoptimalkannya dan mengetahui penyebab terjadinya ledakan dalam proses bongkar di MT. Galunggung. Metode penelitian menggunakan fishbone analysis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penyebab pelaksanaan sistem gas lembam di MT. Galunggung tidak optimal adalah kurangnya familiarisasi, pengetahuan dan training kepada crew kapal serta kurangnya alat dan bahan untuk perawatan dan perbaikan, sehingga dilakukan upaya, yaitu memberikan pengetahuan, mengadakan training, memberikan familiarisasi, mengecek dan memastikan alat dan bahan sistem gas lembam dalam keadaan baik. Penyebab terjadinya ledakan dalam proses bongkar di MT. Galunggung adalah kurang stabilnya supply gas lembam ke dalam tangki, sehingga kadar oksigen lebih dari 8%. Copyright A 2020. METEOR STIP MARUNDA. ISSN:1979-4746, . EISSN: 2685-4775 Kata Kunci : Optimalisasi, sistem gas lembam, penanganan muatan, crude oil Permalink/ DOI: https://doi. org/10. 36101/msm. PENDAHULAN Kapal tanker adalah kapal yang menetapkan standar keselamatan yang paling tinggi mengingat muatan yang dibawanya sangat berbahaya (Pratama. Kapal tanker mempunyai resiko tinggi terhadap bahaya kebakaran serta ledakan di tangkitangki muat. Untuk menghindari terjadinya kebakaran tersebut, khususnya pada kapalkapal pengangkut muatan minyak, maka konvensi organisasi Internasional konsultatif International Maritime Consultative Organisation (IMCO) pada Februari 1978 mengenai keselamatan kapal tanker dan pencegahan pencemaran atau *) Penulis Korespondensi : Email : supriyanto. amni@yahoo. Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP) mengadakan petunjuk tentang pelaksanaan penggunaan sistem gas lembam atau Inert Gas System (IGS) pada proses bongkar muat dan keselamatan di atas kapal (Alky. Penggunaan flue gas atau gas buang dari ketel uap untuk membuat lembam atmosfir dalam tangki muat bukanlah merupakan konsep baru (Sarifuddin. Ketel uap adalah sebuah bejana tertutup yang dapat membentuk uap dengan tekanan lebih besar dari sari atmosfer dengan jalan memanaskan air ketel uap yang berada di dalamnya dengan gas-gas panas dari hasil pembakaran bahan bakar (Ardiansyah. Pertama-tama sistem ini digunakan pada kapal-kapal tanker METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 di Amerika Serikat sejak tahun 1925. Dengan bermacam-macam alasan sistem ini dilupakan atau ditinggalkan selama beberapa tahun. Perusahaan Sun Oil di Philadelphia adalah yang pertama kali menggunakan sistem ini sebagai alat keselamatan pada kapal-kapal tanker mereka pada tahun 1932 karena sebelumnya terjadi ledakan pada salah satu Kemudian British Petroleum Tanker menggunakan sistem ini pada dua kapal uap pengangkut minyak mentah pada tahun 1961. Kebijaksanaan ini dilanjutkan dan sejak tahun 1963 semua kapal pengangkut minyak mentah dilengkapi dengan sistem ini. Menyusul kemudian penggunaan sistem ini ditekankan dalam Safety of Life At Sea (SOLAS) Konvensi 1974 dan peraturan-peraturan serta penggunaannya disempurnakan lagi dalam konvensi International di London mengenai keselamatan dan pencegahan pencemaran di kapal tanker atau TSPP protokol 1978 Wahyu Sesuai konvensi IMCO bulan Februari 1978 mengenai TSPP 1978 dengan menekankan pelaksanaan penggunaan sistem gas lembam dan ketentuan-ketentuan yang diperlukan guna pelaksanaan sistem tersebut memenuhi persyaratan-persyaratan yang ada. Sehingga semua kapal tanker diharuskan dilengkapi gas lembam yang berfungsi untuk menjaga rongga udara yang ada di dalam tangki agar memiliki jumlah oksigen sesuai dengan ketentuan (Endah. Kebakaran dan ledakan di dalam tangki muat kapal tanker, seperti yang terjadi di MT. Betelgeuse yang meledak di Belanda milik perusahaan France Owned Tanker pada tanggal 8 Januari 1979, dimana bukan saja kapal dan muatan yang hilang tetapi juga banyak korban manusia dan sangat merusak lingkungan hidup akibat dari tumpahan minyak . il spil. dari kapal (Anjang. Seperti pengalaman yang sudahAesudah bahwa waktu yang berbahaya dan sering terjadi kecelakaan selama kapal tanker beroperasi adalah sewaktu pencucian tangki . ank cleanin. serta pemuatan . dan pembongkaran . (Vivin. Selama pelaksanakan praktek laut di MT. Galunggung dengan jenis kapal tanker yang bermuatan crude oil, terdapat kendala yang berkaitan dengan pelaksanaan sistem gas lembam, yaitu kurangnya pengetahuan crew kapal mengenai sistem gas lembam, sehingga penggunaan dan perawatan pada alat-alat sistem gas lembam tersebut juga tidak dapat Hal ini menyebabkan tejadinya kecelakaan kerja di MT. Galunggung, seperti ledakan di dalam tangki pada tanggal 19 Mei Sistem ini pada dasarnya harus diterapkan secara maksimal. Ini pun harus ditunjang oleh sumber daya manusia yang baik dan pengawasan dari perwira sebagai penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan (Arsanova E. Semua crew diatas kapal memiliki sebuah tanggung jawab untuk menjaga muatan (Maulana. menunjang pencegahan bahaya ledakan dan kebakaran di atas kapal hingga keselamatan jiwa, materi, dan pencegahan pencemaran lingkungan yang merugikan berbagai pihak dapat terlaksana. Tujuan mengetahui penyebab pelaksanaan sistem gas lembam di MT. Galunggung tidak optimal serta upaya untuk mengoptimalkannya serta penyebab terjadinya ledakan dalam proses bongkar di MT. Galunggung. METODE Metode menggunakan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Fokus dan lokus dari penggunaan sistem gas lembam saat penanganan muatan crude oil dengan mengetahui penyebab pelaksanaan sistem gas yang tidak optimal serta upaya untuk penyebab terjadinya ledakan dalam proses bongkar di MT. Galunggung. Sumber data dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Narasumber data primer dalam penelitian meliputi Nakhoda. Mualim I. Kepala Kamar Mesin (KKM) dan Bosun. Data sekunder bersifat mendukung dan melengkapi data primer yang diperoleh dari arsip-arsip atau dokumen dan buku-buku yang ada di kapal yang mempunyai kaitan dengan optimalisasi penggunaan sistem gas lembam saat penanganan muatan crude oil di MT. Galunggung. METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 Penelitian lapangan dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka, dan Observasi langsung dilakukan, sedangkan wawancara dilakukan terhadap Nakhoda sebagai penanggung jawab kapal. Mualim I sebagai perwira penanggung jawab muatan di kapal. KKM sebagai perwira penanggung jawab mesin di kapal serta Bosun sebagai ketua pelaksana kegiatan bongkar muat di deck. Studi pustaka dilakukan dengan cara meneliti dan mencatat serta mempelajari buku-buku maupun dokumen-dokumen yang ada di atas kapal maupun yang berhubungan. Dokumentasi penelitian berasal dari bukubuku. SOP, port log dan foto-foto yang berada di atas kapal. Pengumpulan data dengan triangulasi dan menguji kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data. Teknik analisa data yang digunakan dalam skripsi ini adalah fishbone diagram. Faktor pendekatan yang digunakan adalah man, method, machine dan material. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dengan nakhoda. Mualim I. KKM dan Bosun, diperoleh informasi mengenai penyebab pelaksanaan sistem gas lembam yang tidak Gambar 1. menunjukkan diagram tulang ikan sebagai penentu penyebabpenyebab pelaksanaan sistem gas lembam tidak optimal yang berpotensi. Setelah dilakukan analisa menggunakan diagram, faktor-faktor menyebabkan sistem gas lembam tidak optimal antara lain: Man Power Manusia memegang peran paling penting di antara faktor-faktor yang lain, dikarenakan manusia menjadi pihak utama yang bertanggung jawab terhadap kinerja sistem gas lembam dan perawatannya. Ketidaksadaran para Anak Buah Kapal (ABK) akan . , pengenalan . dan latihan khusus . mengenai sistem gas lembam menjadi faktor utama sistem gas lembam tidak bekerja optimal. Pengetahuan adalah usahausaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan mengingatkan pemahaman ABK dari berbagai segi penggunaan sistem gas lembam. Pengetahuan ini dapat didapatkan dari berbagai sumber, seperti membaca manual book dan buku-buku lain serta referensi dari internet, bertanya kepada para perwira senior yang lebih mengerti dan paham serta mengikuti seminar-seminar yang membahas sistem gas lembam. Pengenalan sistem gas lembam juga harus dilakukan kepada setiap crew baru bergabung di atas kapal oleh para perwira senior yang benar-benar ahli dalam bidang ini. Pengenalan ini lebih ditujukan kepada crew kapal baru yang belum pernah mengoperasikan sistem gas lembam di kapal Pelatihan dilakukan agar semua awak kapal mampu terampil dalam mengoperasikan alat-alat sistem gas lembam secara baik dan benar, pada waktu penanganan muatan crude oil dan agar semua crew kapal mampu bertindak dengan baik serta aman jika terjadi keadaan darurat saat penggunaan sistem gas lembam. Selain itu, faktor lain dari manusia adalah kurangnya komunikasi dan kerjasama antar sesama crew kapal. Kinerja kerja crew kapal ditentukan dari caranya menyampaikan informasi dengan benar dan secara efektif. Hal ini berkaitan dengan komunikasi yang efektif. Crew kapal akan tidak maksimal kinerja kerjanya apabila informasi yang disampaikan dari nakhoda dan kepala kerja tidak sesuai atau Ketidakefektifan dalam komunikasi dapat berdampak pada sudut pandang yang Nakhoda dan crew kapal harus dapat berkomunikasi yang baik untuk membangun pandangan yang sama. Karena apabila ada perbedaan persepsi, akan menimbulkan Kerjasama antar crew deck dan crew mesin juga sangat penting. Hal ini bertujuan terjadinya sinkronisasi antar crew kapal sehingga apabila terjadi kesalahan prosedur yang menyebabkan situasi darurat, semua crew kapal dapat dengan siap Material (Raw. Consumable, et. Dari segi material, yang menjadi faktor tidak optimalnya penggunaan sistem gas lembam adalah kurangnya alat dan bahan untuk perawatan dan perbaikan serta keterlambatan dan ketidaksesuaian supply alat dan bahan dari perusahaan. Berikut adalah alat-alat sistem gas lembam yang harus dilakukan perawatan: METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 Method Man Kurangnya education dan training Pelaksanaan tidak sesuai SOP Kurangnya komunikasi dan kerjasama antar sesama crew Crew kurang paham mengenai manual book Bahan bakar main engine viscousity yang Pelaksanaan penggunaan sistem gas lembam kurang optimal Kurangnya alat dan bahan untuk perawatan dan perbaikan Steam dump pada boiler tidak berfungsi Machine Keterlambatan supply alat dan bahan dari Material Gambar 1. Diagram Tulang Ikan (Fishbone Diagra. Inert gas scrubber Pemeriksaan dilakukan melalui lubang orang . , yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian yang terkena karat, kotoran-kotoran, dan bagian-bagian yang rusak seperti dinding scrubber dan bagian bawah atau bottom, cooling water pipe dan spray nozel, float switches dan temperature sensor, bagian-bagian lain didalam scrubber seperti lempengan-lempengan atau trays, serta plat-plat dari filter dan demister kalau demister terpasang dalam scrubber. Inert gas blower Pemeriksaan secara visual melalui lubanglubang yang tersedia pada tutup blower, cukup untuk mengetahui keadaan dari bagian-bagian lain dalam blower. Deck water seal Jangan sampai ada pipa masuk . nlet pip. berkarat dan juga float control valve harus betul dijaga jangan sampai rusak. Pipa drain diluar badan kapal juga bisa menjadi timbulnya kemacetan dan bahaya, sebab itu harus sering diperiksa mengenai kelancaran Non return valve Non return valve harus sering-sering dibuka dan diperiksa jangan sampai berkarat dan dudukan valve harus dicek, valve ini harus dicek apakah bisa berfungsi selama sistem gas lembam dioperasikan. Deck isolating valve Deck isolating valve harus diperiksa sesering mungkin dan diputar-putar agar bisa digunakan dengan lancar. Press or Vacum breaker (P/V breake. Pemeliharaan dan pencegahan kerusakan pada P/V breaker yaitu periksa pada bagian permukaan liquid pada gelas duga. Jika tekanan dalam sistim sama dengan tekanan dalam atmosfir. METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 Method (Process or Inspectio. Setiap kapal tanker yang sudah dilengkapi dengan sistem gas lembam, tidak menjamin sepenuhnya bahwa kapal tersebut aman, akan sebuah bahaya kebakaran dan Hal tersebut disebabkan karena penggunaan dan pengoperasian yang tidak sesuai dengan prosedur pengoperasiannya, sehingga gas yang dihasilkan masih mengandung kadar oksigen yang cukup tinggi menimbulkan kebakaran atau ledakan. Hal tersebut mengancam keselamatan kapal. Maka dari itu kapal tanker yang sudah dilengkapi peralatan tetap sistem gas lembam, umumnya wajib tersedia buku petunjuk pengoperasian . nstruction manual boo. yang sesuai dengan ISGOTT dan juga Standard Operational Procedure (SOP), yang harus tersedia di setiap komponen sistem gas lembam tersebut. Akan tetapi keberadaan manual book tersebut tidak terlalu diperhatikan dan tidak dipahami oleh crew kapal MT. Galunggung. Machine (Equipmen. Sistem gas lembam menggunakan boiler sebagai penghasil gas lembam untuk disalurkan ke dalam tangki muat. Sumber dari inert gas adalah gas buang dari boiler atau auxilary boiler, yang dialirkan kedalam tangki melalui pipa . setelah didinginkan dan Alasan utama menggunakan gas buang dari boiler adalah kadar oksigen dalam gas tersebut cukup rendah, jika boiler terpelihara dengan baik dan pembakaran cukup sempurna, maka akan didapat kadar oksigen dalam gas sekitar 3% - 4% dan bisa turun sampai 2%, dan pemakaian sistem gas lembam pada saat kapal loading, discharging sambil oil washing dan ballasting, yang pada waktu itu umumnya kapal berada di pelabuhan, dimana sedangkan Main Engine (ME) tidak Kelebihan berbahaya dan dapat memicu percikan api. Oksigen merupakan salah satu komponen dari segitiga api. Hal tersebut dapat terjadi ketika pembakaran di dalam boiler yang kurang sempurna terutama pada keadaan beban berkurang . ow load conditio. Pembakaran tidak sempurna ini disebabkan karena besarnya viscoucity pada bahan bakar dan bercampur dengan air, yang mengakibatkan nyala api terlalu kecil, maka flame eye sensor juga tidak mendeteksi adanya pembakaran. Hal ini dapat mengakibatkan kandungan oksigen yang meningkat di dalam kandungan gas lembam. Saat pembongkaran, proses inerting gas ke dalam tangki tidak akan terjadi. Karena sistem gas lembam tersebut akan mati, ketika pada oksigen konten menunjukan angka lebih 8% kandungan oksigen. Dan jika kandungan oksigen lebih dari 8% sangatlah berbahaya dan kemungkinan terjadi ledakan di dalam tangki sangatlah besar, dikarenakan kandungan oksigen tersebut yang terlalu banyak. Hal lain yang menjadi faktor tidak optimalnya kerja boiler adalah steam dump yang tidak berfungsi, sehingga tekanan steam sering melebihi setting point yang ditentukan. Karena adanya safety device, maka setelah melewati setting point boiler akan mati dengan Saat MT. Galunggung bongkar di Crude Island Berth (CIB) 2 Cilacap tanggal 19 Mei 2018. MT. Galunggung mengalami kecelakaan kerja berupa ledakan di dalam tangki muatan dua kanan . S). Terjadi pada saat jam jaga Mualim i dimana Mualim i tidak memahami sistem gas lembam. Pada saat kejadian. Mualim I sedang melaksanakan inspeksi bersama dengan inspektor dan Nakhoda. Ledakan di dalam tangki muat ini disebabkan oleh tidak stabilnya supply gas lembam ke dalam tangki muatan, sehingga oksigen di dalam tangki melebihi kadar 8%. Tidak stabilnya supply gas lembam ke dalam tangki muatan ini dikarenakan tidak berjalannya sistem gas lembam secara maksimal, karena terganggunya kerja boiler akibat dari tingginya viscoucity bahan bakar pada main engine dan kurangnya perawatan pada alat-alat sistem gas lembam. Pada saat sistem gas lembam tidak berjalan secara maksimal, pompa kargo terus dijalankan. Padahal sistem gas lembam dan pompa kargo tersebut dipasang parallel. Jadi, ketika sistem gas lembam tidak bekerja maka seharusnya pompa kargo juga tidak akan dioperasikan, karena merupakan sebuah safety dalam system cargo handling. Secara umum, pengoperasian sistem gas lembam digunakan untuk menjaga keadaan tangki cargo kapal tetap aman. Gas hidrokarbon yang biasanya ditemui di kapal tanker, tidak dapat terbakar oleh atmosfir yang mengandung kurang dari 11% oksigen berdasarkan volume. Oleh karena itu, salah satu cara untuk memberikan perlindungan terhadap kebakaran atau ledakan didalam ruang tangki adalah dengan menjaga kadar oksigen dibawah angka tersebut. Hal ini biasanya dicapai dengan menggunakan pengaturan perapian tetap, untuk meniup gas lembam ke masing-masing tangki, untuk mengurangi kadar oksigen. Maka dari itu kandungan oksigen yang rendah dapat membuat tangki tidak mudah untuk terbakar. METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 No Subjek Man Faktor Kurangnya education dan Material Method Machine Kurangnya komunikasi dan kerjasama antar sesama crew. Kurangnya alat dan bahan untuk perawatan dan Keterlambatan supply alat dan Crew manual book. Bahan viscoucity yang Steam tidak berfungsi. Tabel 1. Hasil Analisis Fishbone Upaya Pihak perusahaan mengadakan kualifikasi rekruitmen crew kapal, memberikan pengetahuan dasar mengenai sistem gas lembam sebelum naik ke kapal yang mempunyai sistem gas lembam, mengadakan training dan memperdalam keterampilan terhadap crew kapal mengenai pemahaman sistem gas lembam. Pihak kepala kerja kapal yang meliputi nakhoda, chief officer, dan KKM memberikan familiarisasi dan memperdalam pengetahuan mengenai sistem gas lembam terhadap crew kapal yang baru naik kapal MT. Galunggung. Menjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antar crew kapal serta perusahaan, melakukan evaluasi dan penghargaan atas etos kerja yang baik. Chief officer dan KKM selalu mengecek ketersediaan alat dan bahan yang tersedia di kapal serta memastikan alat dan bahan dalam kondisi baik dan benar. Mengirim requestion list ke perusahaan apabila kurangnya alat dan bahan sistem gas lembam di kapal. Diharapkan perusahaan agar segera melengkapi alat dan bahan yang diperlukan untuk menunjang kerja sistem gas lembam di kapal. Membuat meeting dengan seluruh crew kapal dengan menekankan masalah pentingnya sistem gas lembam dan pemahamannya sesuai dengan manual book sistem gas lembam yang digunakan kapal MT. Galunggung. KKM dan fourth engineer selalu mengecek penggunaan bahan bakar dan memastikan bahan bakar tidak kotor atau bercampur dengan air dan memiliki viscoucity yang rendah sehingga pembakaran dapat berjalan sempurna, nyala api besar dan photocell atau flame eye sensornya dapat mendeteksi adanya pembakaran. Melakukan perbaikan pada steam dump sehingga tidak terjadi tekanan steam yang melebihi set point yang ditentukan. Gambar 2 Flammability Chart Hal ini dapat dijelaskan dengan mengacu pada diagram diatas yang mana hidrokarbon dalam campuran gas atau udara Batas terbakar atau flammable METEOR STIP Marunda. Vol. No. 2 Juni 2019 Akar Masalah Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak limit adalah campuran gas hidrokarbon dan Tidak dapat dinyalakan kalau komposisinya tidak terletak dalam jangkauan konsentrasi gas dalam udara, yang disebut . angkauan Batas bawah dari jangkauan ini disebut LFL . ower flammable limi. , adalah suatu konsentrasi hidrokarbon yang apabila hidrokarbon tidak cukup untuk mendukung Batasan atas dari jangkauan, yang disebut UFL . pper flammable limi. , adalah suatu konsentrasi hidrokarbon yang apabila diatas dari konsentrasi tersebut, udara tidak cukup untuk mendukung pembakaran hidrokarbon. Batasan bakar berbeda dari setiap macam gas hidrokarbon murni, dan untuk campuran gas yang dihasilkan dari berbagai macam minyak Namun demikian didalam praktek, batas bakar bawah dan batas bakar atas dari berbagai muatan yang dibawa oleh tangki kapal untuk keperluan umum, dapat dipakai 1% dan 10% hidrokarbon by volume. Kebakaran dan ledakan bisa terjadi jika memenuhi persyaratan dari segitiga api yaitu asal dari percikan api . ource of ignatio. , hidrokarbon yang dalam hal ini dapat memenuhi persyaratan sebagai fuel, dan oksigen yang cukup terbakar. Kalau salah satu dari tiga unsur tersebut tidak memenuhi persyaratan kadarnya atau jumlahnya, maka tidak akan terjadi sebuah kebakaran dan Hidrokarbon yang memenuhi persyaratan dari oksigen yang cukup dapat mengancam keselamatan kerja. Salah satu dari tiga unsur ini tidak ada atau tidak persentasenya, maka tidak akan terjadi kebakaran dan ledakan, sehingga penerapan dari sistem gas lembam ini bertujuan memutuskan rangkaian segitiga api, dengan cara penekanan volume kadar oksigen didalam tangki muatan hingga maksimal 8% . elapan perse. , sehingga mencegah terjadinya bahaya kebakaran atau ledakan di dalam tangki-tangki muat pada kapal tanker pada saat kapal beroperasi. Pada sistem gas lembam diperlukan cara yang tepat dan sesuai dengan prosedur dalam mengoperasikan gas lembam tersebut, agar berfungsi dengan baik dan mendapatkan hasil yang optimal, guna mencegah terjadinya bahaya kebakaran dan meledaknya tangki muatan kapal tanker khususnya MT. Galunggung, saat melakukan pelayaran atau pada saat pengoperasian pemuatan muatan. KESIMPULAN Penyebab pelaksanaan sistem gas lembam di MT. Galunggung tidak optimal adalah kurangnya familiarisasi, pengetahuan dan training kepada crew kapal serta kurangnya alat dan bahan untuk perawatan dan perbaikan, mengoptimalkan pelaksanaan sistem gas Penyebab terjadinya ledakan dalam proses bongkar di MT. Galunggung adalah kurang stabilnya supply gas lembam ke dalam tangki, sehingga kadar oksigen lebih dari 8%. Perusahaan mengenai sistem gas lembam untuk crew kapal serta kewajiban Nakhoda. Mualim I dan KKM untuk memberikan familiarisasi. Pelru dilakukan pengecekan untuk memastikan alat dan bahan dalam keadaan baik dan apabila tidak, bisa mengirim requesition list ke perusahaan. DAFTAR PUSTAKA