IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. KESULITAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SDN 105 PEKANBARU 1Hana Fitria *, 1Febrina Dafit Universitas Islam Riau. Indonesia *Corresponding Email: hanafitria841@gmail. Diterima: 03 Maret 2022 | Direvisi: 20 Mei 2022 | Disetujui: 09 Agustus 2022 Abstract. This study aims to determine the difficulty of reading the beginning of grade I students, the factors that influence the difficulty of reading the beginning of the students of class I, and how to overcome the difficulty of reading the beginning of the students of class I SDN 105 Pekanbaru. The type of research used is a case study with a qualitative The subjects in this study were class ID students and class ID teachers at SDN 105 Pekanbaru. Data collection techniques were carried out by tests, observations, interviews, and documentation. The data collection instruments in this study were test sheets, observation sheets, interview guidelines, and document review. The results showed that 3 students had difficulty reading the beginning. The types of difficulties experienced by students are difficulties in recognizing and distinguishing letters, difficulties in spelling words that contain diphthongs, consonants, and affixes, reading haltingly, and pronouncing wrong words. Factors that influence students' initial reading difficulties are psychological factors and environmental factors. Psychological factors occur due to lack of motivation, namely students lack of motivation and parental attention and environmental factors occur because of the background of students at home, namely students do not take Kindergarten (TK) education and students do not repeat learning at The way or solution in overcoming students' initial reading difficulties is by using learning media, giving rewards . , providing support and motivation, and including reading lessons. Keywords: Beginning Reading Difficulties. Students. Elementary School Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan membaca permulaan siswa kelas I, faktor yang mempengaruhi kesulitan membaca permulaan siswa kelas I, dan cara mengatasi kesulitan membaca permulaan siswa kelas I SDN 105 Pekanbaru. Jenis penelitian yang digunakan studi kasus dengan pendekatan kualtitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas ID dan guru kelas ID SDN 105 Pekanbaru. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan test, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar test, lembar observasi, pedoman wawancara, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 siswa mengalami kesulitan membaca permulaan. Jenis-jenis kesulitan yang dialami siswa yaitu kesulitan mengenal dan membedakan huruf, kesulitan mengeja kata yang terdapat huruf diftong, konsonan, dan huruf imbuhan, membaca terbata Ae bata, dan pengucapan kata Faktor yang mempengaruhi kesulitan membaca permulaan siswa yaitu faktor psikologis dan faktor lingkungan. Faktor psikologis terjadi karena kurangnya motivasi yaitu siswa kurang motivasi dan perhatian orang tua dan faktor lingkungan terjadi karena latar belakang siswa dirumah yaitu siswa tidak menempuh Pendidikan taman kanak-kanak (TK) dan siswa tidak mengulang pembelajaran dirumah. Adapun cara atau solusi dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan siswa yaitu dengan menggunakan Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. media pembelajaran, memberikan reward . , memberikan dukungan dan motivasi, dan memasukkan les membaca. Kata Kunci: Kesulitan Membaca Permulaan. Siswa. Sekolah Dasar PENDAHULUAN Pembelajaran adalah upaya dalam memberikan rangsangan . , bimbingan, arahan, dan dorongan kepada siswa agar adanya proses belajar Chauhan dalam (Sunhaji, 2. Pembelajaran merupakan suatu aktivitas interaksi edukatif yang di selenggarakan oleh seorang guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, sebagaimana belajar dilandasi adanya keinginan untuk memperoleh pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Keterampilan yang wajib dimiliki oleh siswa pada jenjang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) adalah keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga aspek tersebut memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, karena dengan membaca, menulis, dan berhitung siswa dapat menambah ilmu pengetahuannya dan tidak dapat dipungkiri bahwa suatu proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik karena di dasari oleh adanya kemampuan membaca. Tarigan . alam Mardika, 2017:. membaca adalah suatu usaha yang dilakukan dan dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Membaca merupakan suatu aktivitas yang dilakukan siswa untuk dapat mengenal huruf dan bacaan. Dalam membaca ada tahapan yang dapat dilakukan agar siswa mampu untuk membaca dengan baik yaitu mengenal huruf, setelah mampu mengenal huruf siswa belajar menyambungkan kata demi kata menjadi suatu makna. Membaca dibagi menjadi dua yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut, membaca permulaan diperuntukkan untuk siswa kelas rendah . atu,dua,tig. dan membaca lanjut diperuntukkan untuk siswa kelas tinggi . mpat,lima,ena. Membaca permulaan adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa yang di peruntukkan siswa Sekolah Dasar (SD) kelas permulaan. Menurut Baraja . alam Herlina, 2019:. membaca permulaan adalah siswa belajar untuk mengenal lambang-lambang bunyi huruf, merangkai huruf dan memahami maknanya. Membaca permulaan menjadi tahapan awal dari membaca sebelum masuk kedalam tahapan membaca selanjutnya. Kemampuan membaca permulaan sangat mempengaruhi kemampuan membaca lanjut Kemampuan membaca permulaan menjadi perhatian wajib yang harus IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. diperhatikan oleh seorang guru jika pada tahap membaca permulaan siswa tidak kuat maka siswa akan mengalami kesulitan untuk ketahap membaca lanjut dan mendapatkan kemampuan membaca yang baik. Kesulitan yang dihadapi siswa dalam membaca permulaan ada berbagai macam. Seperti halnya penelitian yang telah dilakukan oleh Riskiana . dimana menghasilkan bahwa salah satu karakteristik kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa yaitu mengenal huruf, dimana siswa kesulitan dalam mengidentifikasi huruf dan merangkai susunan huruf serta membalik huruf seperti pada huruf Ae huruf yang hampir sama seperti AudAy dengan AubAy. AupAy dengan AuqAy atau AugAy. AumAy dengan AunAy atau AuwAy. Selanjutnya penelitian yang telah dilakukan oleh Masykuri . 9:75-. dimana menghasilkan bahwa siswa kesulitan dalam membaca huruf diftong dan huruf konsonan. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 19 Agustus 2021 dengan ibu Mimi Indrawati S. Pd selaku wali kelas 1D SDN 105 Pekanbaru, mengungkapkan bahwa 5 dari 34 siswa kelas 1D mengalami kesulitan membaca Adapun kesulitan yang dialami siswa yaitu terdapat 4 siswa mengalami kesulitan mengenal huruf, sulit membedakan huruf Aub, d, dan pAy, membaca terbata-bata, sulit memahami huruf diftong, dan terdapat 1 siswa yang mengalami kesulitan dalam Kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa ini bisa saja terjadi karena siswa kurang konsentrasi dan kurang berlatih dirumah. Berdasarkan urian permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa tersebut, dengan ini peneliti mengangkat judul penelitian AuKesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 SDN 105 PekanbaruAy. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Bogdan & Biklen . S . alam Rahmat, 2009:2-. mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang akan menghasilkan data bersifat deskriptif berupa ucapan atau tulisan dengan mengamati perilaku-perilaku orang. Jenis penelitian yang digunakan yaitu study kasus. Menurut Rahmat . Study kasus adalah studi yang menggali suatu masalah dengan batasan terperinci, pengambilan data dilakukan secara mendalam, serta mencantumkan berbagai sumber informasi. Peneliti akan menggali data dari 3 siswa kelas Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. 1D yang mengalami kesulitan membaca permulaan guna memperoleh data kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa kelas 1 SDN 105 Pekanbaru. Data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berupa teks hasil wawancara yang diperoleh dari informan yaitu guru kelas 1 dan 3 siswa kelas 1D guna menjadi sampel dalam penelitian. Data didapat dengan mencatat wawancara dan data sekunder berupa data yang sudah ada dan dapat di peroleh dengan membaca, melihat maupun mendengarkan. Adapun data sekunder dalam penelitian ini yaitu catatan guru tentang kemampuan membaca permulaan siswa. Teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu test, observasi, wawancara, dan dokumementasi. Dalam mencari keabsahan data peneliti menggunakan Teknik triangulasi sumber dimana peneliti diarahkan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber. Dengan ini nantinya peneliti akan mengecek data hasil test kemampuan membaca permulaan dan hasil wawancara siswa kemudian membandingkannya guna melihat perbedaan kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa, kemudian peneliti melihat hasil wawancara dengan guru kelas sebagai penguat tentang kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1D SDN 105 Pekanbaru. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data oleh Miles & Huberman. Terdapat 3 komponen dalam Teknik analisis data model ini yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi. Menurut Miles & Huberman . alam Nugrahani, 2014:. ketiga komponen tersebut harus ada dalam penelitian kualitatif, sebab hubungan keterkaitan antara ketiga komponen tersebut harus di komperasikan untuk dapat menentukan arah isi simpulan guna hasil akhir HASIL DAN PEMBAHASAN Kesulitan Membaca Permulaan Kesulitan membaca adalah suatu gangguan yang menyebabkan terganggunya kemampuan membaca seseorang. Bentuk kesulitan membaca setiap orang itu berbeda. Berikut ini adalah deskripsi membaca permulaan siswa kelas 1D SDN 105 Pekanbaru. Nama Siswa : AA Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 7 Tahun IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Adapun hasil test kemampuan membaca permulaannya sebagai berikut : Mengenal huruf Siswa AA sudah dapat mengenal dan mengucapkan semua huruf A-Z baik dengan diacak ataupun tidak. Membaca suku kata Siswa AA mampu membaca 2 suku kata dengan lancar, namun pada 3 suku kata siswa AA terbata Ae bata dalam membacanya. contohnya pada kata AuCe-la-naAy. AuLe-mariAy, dan AuKe-pa-laAy. Membaca kata Siswa AA hanya mampu membaca 3 dari 12 kata yang ada pada lembar test dengan baik dan benar. Adapun 3 katanya yaitu AuJamAy. AuKebunAy dan AuSepedaAy. Membaca kalimat sederhana Pada lembar test membaca kalimat sederhana AuIbu memasak ikanAy siswa AA hanya mampu membaca kata AuIbuAy dengan benar. Pada kalimat AuKakak membaca bukuAy siswa AA hanya mampu membaca kata AuBukuAy dengan benar dan pada kalimat AuRantai sepeda Ana putusAy siswa AA hanya mampu membaca kata AuAnaAy dengan benar. Dengan ini siswa AA belum dapat membaca kalimat sederhana. Membaca teks pendek Siswa AA hanya bisa membaca kata AuAnaAy dan AuBolaAy yang ada pada lembar membaca teks cerita pendek, selebihnya AA tidak dapat membacanya. Adapun hasil observasinya sebagai berikut : Mengucapkan huruf abjad Siswa AA mampu mengucapkan 26 huruf abjad dengan lancar. Mengucapkan huruf vokal Siswa AA mampu mengucapkan semua huruf vokal Aua i u e oAy dengan lancar. Mengidentifikasi huruf konsonan Siswa AA tidak mampu membaca huruf konsonan . y,n. pada lembar test membaca kata dan teks pendek. Contohnya kata AuPulangAy. AuHanyaAy, dan AuSangatAy. Membaca suku kata Siswa AA hanya mampu membaca kata yang terdiri dari 2 suku kata. AA mengalami kesulitan dalam membaca kata yang lebih dari 2 suku kata, contohnya pada kata AuKepa-laAy dimana pada saat membaca siswa AA salah mengucapkan menjadi AuKelapaAy Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. kemudian harus di eja ulang kembali, hal ini disebabkan karena siswa AA kurang . Mengidentifikasi huruf diftong Siswa AA mengalami kesulitan dalam membaca kata yang terdapat huruf diftong . pada pada lembar test membaca kata, contohnya saat membaca kata AuAulaAy siswa AA salah membacanya menjadi kata AuAlaAy. Mengidentifikasi huruf imbuhan Siswa AA tidak bisa membaca kata yang terdapat huruf imbuhan baik pada lembar test membaca kalimat sederhana ataupun teks pendek. Membaca kalimat sederhana Siswa AA tidak dapat membaca kalimat sederhana, siswa AA hanya mampu membaca 3 kata yang ada pada lembar test membaca kalimat sederhana, contohnya kata AuIbuAy. AuAnaAy, dan AuBukuAy selebihnya siswa AA tidak dapat membacanya. Mengidentifikasi tanda baca pada teks pendek Siswa AA tidak memahami tanda baca titik (. ) dan koma (,) yang ada pada lembar test membaca teks pendek. Kelancaran membaca Untuk kelancaran membaca siswa berinisial AA masih terbata-bata dan memerlukan bimbingan dalam membaca. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut: Pengucapan tepat Siswa AA mampu mengucapkan huruf A-Z dengan berurutan maupun dengan di acak. Pada saat diminta untuk menyebutkan huruf - huruf yang ada pada namanya siswa AA juga bisa menyebutkannya dengan baik. Penggunaan frasa yang tepat Siswa AA mengatakan bahwa ia belum terlalu bisa dalam membaca kata sederhana. Intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami Siswa AA dapat memahami penggunaan intonasi suara pada saat membaca, dimana agar ia maupun teman-teman sekelas dapat memahami bacaan dengan baik yaitu siswa AA harus membaca dengan suara yang jelas. Menguasai tanda baca sederhana, tanda titik (. ) koma (,) dan seru (!) IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Siswa AA mengatakan bahwa ia belum memahami tanda baca karena ia belum belajar tanda baca. Adapun hasil telaah dokumentasinya sebagai berikut : Berdasarkan catatan dokumentasi guru kelas mengenai kemampuan membaca pada awal masuk sekolah siswa AA yaitu belum bisa membaca dan dilihat dari hasil rekapan nilai AA yaitu nilai Ulangan Tema (UT) Bahasa Indonesia mendapatkan nilai 0 dan nilai UTS Bahasa Indonesia mendapatkan nilai 40, dengan ini dapat disimpulkan bahwa siswa berinisial AA mengalami kesulitan membaca. Nama Siswa : SHA Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 7 Tahun Adapun hasil test kemampuan membaca permulaannya sebagai berikut: Mengenal huruf Siswa SHA sudah dapat mengenal dan mengucapkan semua huruf A-Z dengan baik, namun jika diacak siswa mengalami kesulitan dalam membedakan huruf yang bentuk dan pelafalannya hampir sama, seperti huruf AuFAy dengan AuVAy. AuOAy dengan AuQAy. AuPAy dengan AuRAy serta huruf AuVAy dan AuWAy. Membaca suku kata Siswa SHA mampu meng-eja 2 dan 3 suku kata dengan lancar. Membaca kata Siswa SHA hanya mampu membaca 3 dari 12 kata yang ada pada lembar test membaca kata dengan baik. Contohnya kata AuJamAy. AuKebunAy dan AuSepedaAy. Selanjutnya, pada saat membaca siswa SHA melakukan kesalahan yaitu mengganti bacaan, seperti kata AuAyamAy dibaca menjadi AuAyahAy hal ini dikarenakan siswa SHA terburu-buru dalam . Membaca kalimat sederhana Pada lembar test membaca kalimat sederhana, siswa SHA hanya mampu membaca kata AuIbuAy pada kalmiat AuIbu memasak ikanAy, pada kalimat AuKakak membaca bukuAy siswa SHA hanya dapat membaca kata AuKakak dan bukuAy, dan pada kalimat AuRantai sepeda Ana putusAy siswa SHA hanya dapat membaca kata AuSepeda dan AnaAy. Membaca teks pendek Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. Siswa SHA hanya bisa membaca kata AuAnaAy. AuBolaAy dan AuBiruAy pada lembar test membaca teks pendek dengan baik, namun pada kata AuKucingAy siswa ragu-ragu dalam membacanya dan selebihnya siswa tidak dapat membacanya. Adapun hasil observasinya sebagai berikut: Mengucapkan huruf abjad Siswa SHA mampu mengucapkan 26 huruf abjad dengan baik, namun jika diacak siswa SHA masih mengalami kesulitan dalam membedakan beberapa huruf yang bentuk dan bacaannya hampir mirip. Mengucapkan huruf vokal Siswa SHA mampu mengucapkan semua huruf vokal Aua i u e oAy dengan baik. Mengidentifikasi huruf konsonan Siswa SHA kesulitan membaca kata yang memiliki huruf konsonan . y, n. , contohnya pada kata AuHanya Ay dimana pada saat siswa membaca kata AuHanyaAy siswa malah membacanya menjadi AuHanaAy dan kata AuSangatAy siswa SHA membacanya menjadi AuSakatAy. Membaca suku kata Siswa SHA mampu mengeja 2 dan 3 suku kata dengan baik dan benar. Mengidentifikasi huruf diftong Siswa SHA kesulitan membaca kata yang terdapat huruf diftong . Contohnya pada kata AuAulaAy saat membaca siswa menghilangkan huruf . siswa membacanya menjadi kata AuAlaAy. Mengidentifikasi huruf imbuhan Siswa SHA kesulitan dalam membaca huruf imbuhan yang terdapat pada lembar test membaca kalimat sederhana, seperti kata AuMemasak, mencuci, dan membacaAy dan pada lembar test membaca teks pendek, seperti kata AuKesayangan, mempunyai, bernama, berwarna, matanya, bulunya dan menyanyangiAy. Dengan ini dapat dikatakan bahwa siswa SHA belum dapat membaca kata yang terdapat huruf imbuhan. Membaca kalimat sederhana Siswa SHA hanya dapat membaca 5 kata yang ada didalam kalimat sederhana pada lembar tes. Contohnya kata AuIbu, kakak, buku, sepeda, dan AnaAy selebihnya siswa SHA tidak dapat membacanya. Mengidentifikasi tanda baca pada teks pendek IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Siswa SHA tidak memahami tanda baca titik (. ) dan koma (,) yang ada pada lembar test membaca teks pendek. Kelancaran membaca Untuk kelancaran membaca siswa siswa SHA masih meng-eja setiap huruf. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut : Pengucapan tepat Siswa SHA mampu mengucapkan huruf A-Z dengan berurutan ataupun dengan di Pada saat diminta untuk menyebutkan huruf-huruf yang ada pada namanya pun siswa SHA bisa menyebutkannya, namun ada 1 huruf yang ragu-ragu disebutkannya yaitu huruf AuQAy. Penggunaan frasa yang tepat Siswa SHA mengatakan bahwa ia belum terlalu bisa dalam membaca kata sederhana. Intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami Siswa SHA dapat memahami penggunaan intonasi suara pada saat membaca, dimana agar ia maupun teman-teman sekalas dapat memahami bacaan dengan baik yaitu SHA harus membaca dengan suara yang besar dan jelas. Menguasai tanda baca sederhana, tanda titik (. ) koma (,) dan seru (!) Siswa SHA mengatakan bahwa ia belum memahami tanda baca karena belum belajar tanda baca. Adapun hasil telaah dokumentasinya sebagai berikut : Berdasarkan catatan dokumentasi guru kelas mengenai kemampuan membaca pada awal masuk sekolah siswa SHA yaitu belum bisa membaca dan dilihat dari hasil rekapan nilai SHA yaitu nilai ulangan tema (UT) Bahasa Indonesia mendapatkan nilai 40 dan nilai UTS Bahasa Indonesia mendapatkan nilai 20 dengan ini dapat disimpulkan bahwa siswa berinisial SHA mengalami kesulitan membaca. Nama Siswa : FJ Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 7 Tahun Adapun hasil test kemampuan membaca permulaannya sebagai berikut : Mengenal huruf Siswa FJ sudah dapat mengenal dan mengucapkan semua huruf A-Z baik dengan diacak ataupun tidak. Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. Membaca suku kata Siswa FJ mampu membaca semua suku kata yang ada pada lembar test dengan lancar. Membaca kata Siswa FJ mampu membaca semua kata yang ada pada lembar tes membaca kata dengan baik, namun ada 1 kata yang salah dalam menyebutkan yaitu pada kata AuHanyaAy dimana siswa membaca menjadi AuHayaAy hal ini dikarenakan siswa FJ terburu-buru dalam membaca. Membaca kalimat sederhana Siswa FJ mampu membaca semua kalimat sederhana yang ada pada lembar tes membaca kalimat sederhana dengan lancar. Membaca teks pendek Ketika membaca teks pendek pada lembar test siswa FJ sudah dapat membacanya namun masih terbata - bata dan ragu Ae ragu dalam mengucapkan, terutama pada kata yang terdapat huruf imbuhan seperti kata Aukesayangan dan menyanyangiAy. Siswa FJ juga melakukan kesalahan menghilangkan huruf dan mengubah bacaan yang ada pada teks pendek, seperti kata AuseekorAy menjadi AusekorAy dan kata AusangatAy dibaca menjadi AusangkatAy hal ini terjadi karena siswa FJ membaca terburu Ae buru ingin cepat selesai. Adapun hasil observasinya sebagai berikut: Mengucapkan huruf abjad Siswa FJ mampu mengucapkan 26 huruf abjad dengan baik dan benar. Mengucapkan huruf vokal Siswa FJ mampu mengucapkan semua huruf vokal Aua i u e oAy dengan lancar. Mengidentifikasi huruf konsonan Siswa FJ mampu membaca kata yang terdapat huruf konsonan . dilembar test dengan baik, namun pada huruf konsonan . siswa melakukan kesalahan dalam penyebutan, seperti kata AuHanyaAy kesalahan pengucapan ini dilakukan FJ karena siswa terburu- buru dalam membaca. Membaca suku kata Siswa FJ mampu membaca 2 dan 3 suku kata pada lembar test membaca suku kata dengan lancar. Mengidentifikasi huruf diftong IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Siswa FJ mampu membaca kata yang terdapat huruf diftong . pada lembar test membaca kata dengan baik. Contohnya pada kata AuAulaAy. Mengidentifikasi huruf imbuhan Siswa FJ sudah dapat membaca kata yang terdapat huruf imbuhan, namun pada lembar teks pendek FJ membacanya dengan sedikit ragu-ragu. Membaca kalimat sederhana Siswa FJ dapat membaca semua kalimat sederhana yang ada pada lembar test dengan . Mengidentifikasi tanda baca pada teks pendek Siswa FJ tidak memahami tanda baca titik (. ) dan koma (,) yang ada pada lembar membaca teks pendek. Kelancaran membaca Untuk kelancaran membaca siswa FJ sudah cukup baik. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut : Pengucapan tepat Siswa FJ mampu mengucapkan huruf A-Z dengan berurutan ataupun dengan diacak. Saat diminta untuk menyebutkan huruf-huruf yang ada pada namanya siswa FJ dapat menyebutkannya dengan lancar. Penggunaan frasa yang tepat Siswa FJ mengatakan bahwa ia sudah bisa membaca kata sederhana dan tulisan yang ada dibuku cetak tetapi dengan meng-ejanya. Intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami Siswa FJ dapat memahami penggunaan intonasi pada saat membaca, dimana agar ia maupun teman-teman sekalas dapat memahami bacaan dengan baik yaitu siswa FJ harus membaca dengan suara besar, jelaas dan lantang. Menguasai tanda baca sederhana, tanda titik (. ) koma (,) dan seru (!) Siswa FJ mengatakan bahwa ia belum mengerti tanda baca karena siswa FJ belum belajar tanda baca. Adapun hasil telaah dokumentasinya sebagai berikut : Berdasarkan catatan dokumentasi guru kelas mengenai kemampuan membaca pada awal masuk sekolah siswa FJ yaitu belum bisa membaca dan dilihat dari hasil rekapan data nilai FJ yaitu nilai ulangan tema (UT) mata pelajaran Bahasa Indonesia Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. mendapatkan nilai 80 dan nilai UTS mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak ada nilai. Dengan ini maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca permulaan siswa FJ memiliki peningkatan terbukti dari hasil test membaca yang telah dilakukan siswa FJ sudah cukup bagus. Berdasarkan hasil test, observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah didapat maka dapat disimpulkan bahwa ada 4 kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa yaitu sebagai berikut: . Kesulitan mengenal dan membedakan huruf AuF dan VAy. AuO dan QAy. AuP dan RAy. AuV dan WAy serta huruf AuW dan MAy. Kesulitan mengenal dan membedakan huruf ini dapat di pengaruhi oleh memori jangka pendek yang dimiliki siswa. Sama halnya dengan pendapat yang di kemukakan oleh Amitya Kumara. alam Windrawati. Wiyani dkk. , 2020:. yang mengungkapkan bahwa memori jangka pendek berguna dalam mengingat rangkaian huruf dan bunyi huruf, demikian juga dalam proses mengeja kata. Kesulitan dalam membaca kata yang terdapat huruf diftong, huruf konsonan . y,n. , dan huruf imbuhan. Kesulitan yang dialami siswa ini dipengaruhi pada kurang kuatnya kemampuan siswa dalam mengenal huruf. Jika pengetahuan siswa tentang huruf vokal dan konsonan banyak maka akan mempermudah siswa dalam membaca atau mengeja suku kata (Aprilia. Ulfiatul Inka 2021:. Pengucapan kata salah, hal ini terjadi karena siswa terburu Ae buru dalam membaca dan tidak memahami kata sehingga siswa hanya menerka Ae nerka saja. Hal ini terjadi karena siswa tidak mengenal huruf, membaca terlalu cepat, perasaan tertekan karena takut, atau karena perbedaan dialek anak dengan Bahasa Indonesia yang baku (Rizkiana, 2016:. Dan yang terakhir membaca terbata-bata. Siswa berinisial AA dan SHA masih terbata Ae bata dalam membaca. Terbata Ae bata dalam membaca ini terjadi karena siswa masih ragu Ae ragu terhadap kemampuan membacanya (Rizkiana, 2016:. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyono Abdurrahman . alam Rizkiana, 2016:. mengatakan bahwa keraguan yang dialami siswa dalam membaca disebabkan oleh siswa yang kurang mengenal huruf atau siswa kurang pemahaman. Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Membaca Permulaan Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada siswa dan guru kelas atas kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa, maka menghasilkan 3 faktor yang mempengaruhi kesulitan membaca permulaan siswa yaitu . Tidak menempuh pendidikan taman kanak-kanak. Dimasa pandemi covid-19 sekolah dilakukan secara IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. daring atau tidak tatap muka. Sekolah yang dilakukan secara daring ini membuat orang tua berpikir untuk tidak memasukkan siswa ke taman kanak-kanak (TK) karena orang tua menganggap bahwa TK hanya tempat bermain dan tidak terlalu penting atau bahkan karena faktor meningkatnya kebutuhan ekonomi. Padahal sejatinya taman kanak-kanak (TK) menjadi tempat pendidikan pertama siswa untuk mulai mengenal huruf dan angka. Hal ini sejalan dengan pendapat Thomson . yang dikutip oleh Budihastuti . dalam Hawadi mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk belajar membaca adalah pada saat anak duduk di Taman Kanak-kanak ( TK). Tidak mengulang pembelajaran Kesulitan membaca permulaan dapat diminimalisir dengan cara selalu mengulang-ulang belajar membaca. Siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan haruslah selalu berlatih dengan cara mengulang Ae ngulang pelajaran membaca Bagi siswa yang baru akan memulai belajar membaca permulaan sangat memerlukan bimbingan dari orang terdekatnya yaitu orang tua. Fikriyah, dkk . alam Aprilia. Ulfiatul Inka, dkk. , 2021:. mengungkapkan bahwa perhatian orang tua memiliki kontribusi dalam meningkatkan tanggung jawab belajar siswa, sehingga siswa yang mendapatkan perhatian orang tua yang baik akan memiliki tanggung jawab belajar yang baik dan sebaliknya jika siswa kurang mendapatkan perhatian orang tua maka memiliki tanggung jawab belajar yang kurang baik pula. Dan yang terakhir, kurang motivasi dan perhatian orang tua. Pada saat dirumah orang tua memegang peran penting dalam kesuksesan belajar siswa, namun banyak dari orang tua yang kurang memperhatikan Pendidikan siswa karena orang tua yang sibuk berkerja atau masalah keluarga yang sedang di hadapi. Aprilia. Ulfiatul Inka, dkk . mengungkapkan bahwa orang tua yang tidak memberikan perhatian kepada siswa secara maksimal akan berdampak pada rendahnya motivasi belajar membaca siswa. Cara Mengatasi Kesulitan Membaca Permulaan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan pada siswa dan guru kelas atas kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa, maka dapat disimpulkan bahwa cara mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa ada 4 yaitu: Menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat berperan penting dalam proses pembelajaran, dimana dengan adanya media pembelajaran akan mempermudah siswa dalam mengingat pelajaran. Sama halnya dengan pengajaran yang dilakukan oleh Guru kelas 1D, dimana ia menggunakan kartu huruf salam mengajar siswa Copyright . Author Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SDN 105 Pekanbaru a. berkesulitan membaca. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Firdaus. Putri Hidayah . bahwa pembelajaran menggunakan media kartu huruf dapat meningkatan kemampuan mengenal huruf siswa. Memberikan reward . Reward . dapat menjadi pendukung kesuksesan dalam sebuah proses Sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Winarsih . alam Saugadi dkk. , 2021:. menghasilkan bahwa pemberian reward dan hadiah dapat mengatasi kesulitan membaca yang di alami siswa. Guru kelas menggunakan reward . dalam menangani kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa dengan menjanjikan sebuah hadiah berupa alat tulis pensil kepada siswa jika ia dapat melafalkan 26 huruf abjad dengan lancar dan berani maju kedepan kelas. Memberikan dukungan dan motivasi. Dukungan dan motivasi sangat dibutuhkan pada siswa dalam proses belajar membaca permulaan. Firdaus. Putri Hidayah . menungkapkan bahwa dukungan dari keluarga sangat menunjang suksesnya pembelajaran terhadap perkembangan serta kemampuan siswa dalam mengenal huruf. Dan yang terakhir, memasukkan siswa les privat membaca. Memasukkan siswa khursus les membaca menjadi solusi atau cara terkahir yang dapat dilakukan orang tua guna mengatasi kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa. Les membaca dipilih karena banyak dari orang tua yang tidak ada waktu dan kesulitan dalam mengajar siswa dirumah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Udhiyanasari. Khusna Yulinda . yang menghasilkan bahwa les tambahan diluar jam kelas dapat mengatasi kesulitan membaca yang dialami siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SDN 105 Pekanbaru, dapat di tarik kesimpulan bahwa kemampuan membaca permulaan di kelas 1D sudah cukup baik terlihat hanya 3 dari 34 siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Kesulitan membaca permulaan yang dialami 3 siswa yaitu: . Kesulitan mengenal dan membedakan huruf, . Kesulitan mengeja kata yang terdapat huruf diftong, konsonan, dan huruf imbuhan, . Membaca terbata Ae bata, dan . Pengucapan kata salah. Faktor yang mempengaruhi siswa mengalami kesulitan membaca permulaan yaitu faktor psikologis dan faktor lingkungan. Faktor psikologis terjadi karena siswa kurang motivasi dan perhatian orang tua. Faktor lingkungan terjadi karena latar belakang IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. No. 02, 2022 IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. siswa dirumah yaitu siswa tidak menempuh Pendidikan taman kanak-kanak (TK) dan siswa tidak mengulang pembelajaran dirumah. Adapun cara atau solusi yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan kesulitan membaca permulaan yang dialami siswa yaitu dengan menggunakan media pembelajaran, memberikan reward . , memberikan dukungan dan motivasi, dan memasukkan les membaca. REFERENSI