Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. Talaqqi Online: Sebuah Resepsi dalam Mengaggungkan alQurAoan di SDIT Qurrota AAoyun Ponorogo Abu Muslim abumuslimm04@gmail. Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Info Artikel Submit : 17 Desember 2020 Revisi : 14 Januari 2021 Diterima : 10 Februari 2021 Publis : 30 Maret 2021 Kata kunci Abstrak Secara historis. Nabi melakukan pengajaran membaca alQurAan kepada sahabat dengan talaqqi untuk memudahkan dalam mempraktikan al-QurAan yang di ucapkan oleh Nabi. Namun di era milineal seperti saat ini di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo mempraktikan pengajaran al-QurAan menggunakan metode talaqqi online, melalui video call aplikasi Imo dan Skype. Aplikasi ini bisa mempertemukan seseorang dilayar kaca handphone meski dalam tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan kajian living QurAoan, yang berusaha menampilkan pola sosial terhadap al-QurAan. Fokus kajian dalam penelitian ini ada dua, yaitu: bagaimana motif talaqqi itu tetap terjadi? dan apa yang melatar belakangi pergeseran praktik tallaqi tersebut? Kesimpulan penelitian ini adalah: Pertama, di dasari oleh keyakinan bahwa para penghafal al-QurAan memiliki derajat istimewa di sisi Allah. Selain itu, mereka juga berkeyakinan bahwa alQurAan adalah kitab yang agung dan harus tetap dijaga. Kedua, pergeseran itu terjadi karena adanya kecanggihan teknologi yang merubah sebagian besar tatanan kehidupan, termasuk pendidikan al-QurAan. Kendala geografis antara guru dan murid masih bisa ditolong dengan menggunakan aplikasi Imo dan Skype. SDIT Qurrota AAyun. Talaqqi Online. Mengaggungkan AlQurAan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 Pendahuluan Selama ini, al-QurAan diyakini sebagai kitab suci yang dibawa Nabi Muhammad sebagai petunjuk umat muslim sedunia. Selain itu, al-QurAan merupakan sumber utama umat Islam dalam mengimplentasikan ajarannya yang dituangkan dalam syariat. Semua urusan agama selalu dikembalikan kepada wahyu Allah SWT maka setiap muslim wajib mempelajari Al-QurAan sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana representasi keyakinan terhadap al-QurAan adalah dengan mempelajari atau mengajarkan cara membacanya dengan baik sesuai tajwid dan makha>rij al-. uru>f huruf. Praktik ini diyakini sebagai salah satu sikap mengaggungkan al-QurAan. Dulu ketika Nabi Muhammad mengajarkan al-QurAan kepada sahabat maupun malaikat Jibril dengan cara talaqqi secara langsung dalam satu tempat. Nabi bertatap muka dengan mereka. Lalu setiap kali Nabi membacakan al-QurAan, para sahabat mendengarnya setelah selesai baru menirukan apa yang di lontarkan oleh Nabi. Begitu juga dengan para sahabat, seperti yang dilakukan sahabat Ibnu MasAud yang disuruh Nabi untuk membaca di hadapanya. AuRasul berkata padaku: bacakan kepadaku al-QurAan. Ibnu MasAud menjawab: ya Rasul, aku membaca di hadapanmu, sedangkan al-QurAan diturunkan kepadamu. Rasul berkata: aku ingin mendengarkan bacaan darimuAy. Lalu Ibnu MasAud membaca surah alNisaA, lalu Nabi berkata cukup berhenti di situ. Zaman Nabi Muhammad bangsa Arab sebagian besar buta huruf. Artinya mereka belum banyak mengenal kertas sebagai alat tulis seperti sekarang. Sebab itu setiap Nabi menerima wahyu dari Jibril selalu dihafalnya, lalu di sampaikan kepada para sahabat dan diperintahkannya untuk menghafalkan dan menuliskan di batu-batu, pelepah kurma, kulit binatang dan apa saja yang bisa dipakai untuk menuliskannya. Namun ada hal berbeda yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan di Ponorogo yakni Sekolah Dasar Islam Terpadu Qurrota AAyun dalam mengajarkan al QurAan kepada murid-muridnya. Selain pengajaran membaca al-QurAan dengan bertatap muka langsung { }> } 1 Mu. ammad bin Isma>Ail al-Bhuka>ri. Sahih Bhukari. Juz 3. tp: Maktabah Dahlan, t. , 2093. 2 Muhaimin Zen. Tata Cara atau Problematika Menghafal Al-QurAoan dan Petunjuk- Petunjuknya (Jakarta: PT Maha Grafindo, 1. , 5-6. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 dalam satu kelas atau dalam satu tempat, di tempat tersebut juga menggunakan media sosial seperti Imo dan Skype untuk mengajarkan membaca al-Quran di luar jam sekolah. Saat melihat peristiwa diatas Ae meminjam bahasa Wilbert E. Moore Ae adalah suatu proses transformasi dari suatu arah ke arah yang lebih maju dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana hal tersebut dapat dikatakan sebagai proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju untuk mendapatkan Proses transformasi kehidupan yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola ekonomis dan politis menjadi ciri-ciri negara Barat yang stabil. 3 Dalam persoalan di atas terdapat pola yang berbeda dalam pelaksanaan proses praktik talaqqi. Menurut Ahmad Rafiq, proses menerima, merespon, memanfaatkan, atau menggunakan al-QurAan adalah bentuk resepsi, orang akan berbeda-beda dalam bereaksi terhadap al-QurAan yang mengandung makna tertentu. Dari persoalan diatas, memunculkan pertanyaan dalam benak penulis, bagaimana pergeseran tradisi itu bisa terjadi? Lantas bagaimana praktik talaqqi yang menggunakan media sosial seperti Skype dan Imo yang dilakaukan guru terhadap santri di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo? Apa yang melatar belakangi tindakan tersebut?. Tujuan penelitian ini untuk melihat sejauh mana peran media sosial Imo dan Skype sebagai alat perform yang digunakan untuk proses talaqqi al-QurAan hingga menggeser kebiasaan lama yang dulu dipraktikkan Nabi. Tradisi Talaqqi Pada Zaman Nabi Secara historis praktik talaqqi sudah ada sejak Nabi pertama kali menerima wahyu Allah dari malaikat Jibril. Hal ini dapat dilihat sebagaimana yang di ungkapkan Ibnu Hajar Asqalani yang meriwayatkan dari Ibn Abbas ra. Ia berkata. AuKetika Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, beliau menggerak-gerakan lisan dan bibirnya dengan maksud Wilbert E. Moore, "Social Verandering" dalam Social Change, terj. Basoski. Prisma Boeken (Utrech: Antwepen, 1. , 129. Kemunculan proses reaksi terhadap al-QurAan terdapat sisi informative sehingga menimbulkan performatif yang termanifestasikan dalam bentuk perilaku sosial atau budaya tertentu dalam masyarakat. Ahmad Rafiq. AuSejarah al-QurAan: dari Pewahyuan ke Resepsi (Sebuah Pencarian Awal Metodolog. Ay dalam Sahiron Syamsuddin Islam. Tradisi, dan Peradaban (Yogyakarta: Bina Mulia, 2. , 73. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 Lalu Jibril melarang hal itu, kemudian Jibril mengajarkan cara yang baik, yaitu jika kami selesai membaca, ikutilah bacaan itu, nanti kami akan menjelaskan pula. Maka ketika Jibril membacakan al-QurAan. Nabi lalu diam dan mendengarkan bacaan Jibril, kemudian Nabi menirukan bacaannya. Begitu juga di setiap bulan ramadhan antara malaikat Jibril dan Nabi Mummad saling melakukan tukar pembacaan. Ketika Jibril membaca al-QurAan lalu nabi diam Setelah Nabi mendengarkan Jibril membacakan al-QurAan, kemudian Nabi Muhammad balik melakukan pembacaan al-QurAan di hadapan malaikat Jibril. Mereka saling menyimak apa yang mereka lakukan terhadap pembacaan al QurAan. 6 Dalam riwayat Ibn Abbas sebelum mengajarkan surat al-AAlaq. Jibril menyuruh nabi Muhammad untuk membaca taAoawwudh terlebih dahulu. Pada zaman Rasulullah proses dokumentasi wahyu memang masih sangat Hal ini disebabkan terbatasnya kalangan sahabat yang mampu untuk membaca dan menulis. Selain itu. Rasulullah sendiri merupakan sosok yang ummy . idak pandai membaca dan menuli. , sehingga setiap kali menerima wahyu dari Allah. Rasulullah langsung menghafalkannya dan menyuruh para sahabat yang mampu menulis untuk mencatatnya pada pelepah kurma, tulang, batu, atau kulit domba. Selain memerintahkan kepada para sahabat untuk menulis wahyu. Nabi juga memandu mereka untuk meletakkan urutan ayat dan menentukan surah-surahnya. Ayat-ayat Al-QurAan yang sudah dihafalkan dan disampaikan kepada para sahabat tidak dikawatirkan akan hilang atau dilupakan. Sebab dalam pembelajaran al-QurAan Nabi terlebih dahulu memberitahukan bagaimana al-QurAan diturunkan dan memberi arahan bagaimana beliau men-tallaqqi al-QurAan kepada para sahabat tersebut. Misalnya Nabi memberitahukan kepada para sahabat meliputi proses turunnya al-QurAan dari langit ke bumi, menjelaskan kepada mereka situasi, kondisi, dan sebab diturunkan al-QurAan. Selain itu. Rasulullah juga memberitahukan kapan ayat-ayat al-QurAan diturunkan, karena pernah terjadi ayat-ayat al-QurAan turun berturut-turut sebelum Nabi wafat. Mereka juga } { }> } 5 Ibn H. jar Asqalani. Fath al-Bari bi Syarh Sahih Bukhari, 6Ibid. , 160. > >} 7 Al-Razi. Mafatih al Ghayb. juz 8 (Kairo: Da>r al-Taqwa, 2. , 524. juz 17 (Beirut: Dar Fikr, 1410 H), 103. 8 Fahmi Amrullah. Ilmu Al Quran untuk Pemula (Jakarta: CV Artha Rivera, 2. , 44-45. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 mengetahui ayat-ayat yang diturunkan pada siang atau malam hari, dan mengetahui ayatayat yang diturunkan pada musim panas atau musim dingin. Misalnya sahabat Ummu Salamah mengatakan. AuMalaikat Jibril mendiktekan al-QurAan kepada Nabi MuhammadAy. Artinya, malaikat Jibril membacakan huruf-huruf dengan cara perlahan seperti orang yang Sebagaimana Rasulullah men-talaqqi dari Jibril huruf demi huruf. Hal ini berkaitan dengan aspek bagaimana seharusnya membunyikan suara ketika adanya pertemuan antara satu huruf dengan huruf lainnya. Terlebih lagi apabila hal tersebut berkaitan dengan panjang pendeknya bunyi huruf yang harus disuarakan. Baik untuk huruf hidup . maupun huruf mati . Selain itu. Nabi juga bertugas meluruskan ketidak-benaran dalam membunyikan panjang-pendek bacaan dan perubahan bunyinya. Para sahabat juga melakukan talaqqi al-QurAan dengan Nabi. Proses transformasi pembelajaran al-QurAan pada zaman sahabat juga sama dengan apa yang diajarkan Nabi kepada mereka. Di Da>r al-Arqa>m di kaki bukit S. fa dekat Masjid alH. ra>m Makkah Aemilik sahabat al-Arqam bin Abu ArqamAe Nabi menyampaikan wahyu dan mengajarkan kepada mereka. 11 Begitu juga pada sahabat di Madinah. Nabi juga mengajarkan kepada sahabat melalui beberapa tempat pendidikan. Misalnya di Da>r al-Qarra>Ao rumah milik Makrimah bin Naufal. Selain digunakan untuk tempat tinggal, rumah ini juga digunakan untuk tempat pendidikan pembelajaran al-QurAan. Dalam mengajarkan al-QurAan kepada sahabat. Nabi sangat hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Nabi membacakan kepada para sahabat dengan perlahan-lahan agar mudah diingat dan dipahami oleh para sahabat. Begitu juga sebaliknya dalam menghafal al-QurAan, para sahabat selalu ingin bertalaqqi kepada Nabi serta mendengarkan sebagai penjelasannya sebagaimana Jibril menjelaskan kepada Nabi. Misalnya seperti sahabat AUmar bin Kha. a>b biasa bergantian dengan sahabat lainya mendatangi Nabi pada hari-hari tertentu. Para sahabat sangat antusias saat mereka menyimak wahyu dari Nabi. Kendati demikian, ketika mereka tidak memahami makna kandungan ayatnya mereka lantas 9 Muhammad Djarot Sensa. Komunikasi QurAoaniah: Tadzabbur untuk Pensucian Jiwa (Bandung: Putaka Islamika, 2. , 67. 10 Abu Abdullah Az-Zanjani. Tarikh Al-QurAoan (Bandung: Mizan, 1. , 53. 11 M. M Azami. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodefikasinya, terj. Ali Mustafa Yakub (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2. , 12 Al-Bukha>ri. Sa { h. h> } Al-Bukhar> i. Juz I. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 bertanya kepada Nabi, di saat itu Nabi langsung menjelaskan ayat tersebut. Di dalam menjelaskan makna suatu ayat. Nabi terdakang menghubungkan ayat satu dengan ayat lainnya . ufassiru baAo. uhu baAo. Ketika menafsirkan ini. Nabi tidak berangkat dari dirinya melainkan berdasarkan dari petunjuk al-QurAan yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Menurut al-S. buni, para sahabat pada dasarnya memahami dan mempelajari alQurAan baik dari mufradat maupun tarkib-nya. Hal ini didasari atas pengetahuan mereka terhadap bahasa Arab sebagai bahasa inti al-QurAan. Kendati demikian terkadang mereka membutuhkan penjelasan apabila mendapati ayat-ayat yang tidak dipahami. Tradisi membaca al-QurAan dilakukan mayoritas sahabat, mereka melakukannya dengan berlomba-berlomba menghatamkan al-QurAan dan mengulanginya setiap malam. Selain itu, para sahabat juaga menyampaikan dan mengajarkan al-QurAan kepada anak dan istri mereka. Apalagi pada qiya>mu al-layl suara menghafalkan al-QurAan para sahabat seperti suara lebah yang mendengung. Pada intinya teknik dari metode Jibril adalah taqlid atau menirukan, yaitu murid menirukan apa yang dibacakan gurunya. Begitu juga yang dilakukan Jibril bersifat metode teacher-centris, dimana posisi guru sebagai sumber belajar atau pusat informasi dalam proses Metode ini sudah dipakai pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Setiap kali Nabi Muhammad menerima wahyu yang berupa ayat-ayat al-QurAan lalu membacanya di depan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. Disamping menyuruh menghafalkan. Nabi menyuruh kutab . enulis wahy. untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu. Nabi memiliki sekretaris peribadi di dalam menuliskan wahyu. Saat itu media yang digunakan untuk menuliskan wahyu adalah pelapah kurma, kulit binatang, tulang dan lain. Di antara para sekretaris wayhu adalah sahabat AAli bin Abi> T. >lib. Zayd bin Tha>bit. Ubay bin Kab. Abu> Bakar. AUmar bin Kha. a>b. Uthma>n bin AAffa>n. MuAawiyah bin Abu> Sufya>n. Abu> Ubadah bin al-Jarah. Zayd bin Arqam. ah bin AUbadilla>h dan Yazi>d bin Abu Sufya>n. > fi> Ulu>m al-QurAoa>n (Beirut: Da>r al-Kutub al-AIlmiyah, 1. , 339. 13 Mu. ammad AAli a -Sa>buni, al-Tibyan 14 MannaA Al Qathan. Mabahith fi Ulum al-QurAoan (Kairo: Manshurat al-A. r al-H. di>th, t. , 120. 15 Muhammad Hadi MaArifat. Sejarah al-QurAoan (Jakarta: al Huda, 2. , 37. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 Kekuatan hafalan merupakan salah satu ciri atau keistimewaan bangsa Arab sejak masa jahiliyah. Akan tetapi, bukan berarti bahwa keistimewaan ini tidak menghalangi mereka untuk melakukan kegiatan tulis menulis. Ibn Sad mengatakan bahwa seseorang pada zaman Jahiliyyah dan masa permulaan Islam dikatakan sempurna apabila menguasai tiga hal, yakni tulis menulis, renang dan memanah. Metode talaqqi ini sudah dipakai pada zaman Rasulullah hingga para sahabat, di mana setiap kali Rasulullah saw. menerima wahyu, ayat-ayat Al-QurAan dan mengajarkannya kepada para sahabat. Metode belajar seperti ini terus berjalan sampai pada akhir masa pemerintahan Bani Umayyah, seperti yang dilakukan oleh AAli bin Abi> T. >lib. Uthma>n bin AAffa>n. Ubai bin Kab. Zayd bin Tha>bit. Abdulla>h bin MasAu>d. Abu> Mu>sa al-AshAary dan Abu> Darda>A. Media Baru Dan Talaqqi Modern Seiring perkembangan zaman, metode talaqqi ini juga ikut mewarnai perkembangan Adaptasi tersebut tidak lain bertujuan untuk memudahkan kegiatan sehari-hari. Dale F. Eickelman mengatakan bahwa munculnya kelas baru Auaktivis IslamAy di seluruh dunia muslim telah berlangsung seiring dengan penyebaran teknologi informasi baru, seperti kaset. CD audio, televisi satelit dan internet. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana kaum muslim menampilkan diri dengan identitas dirinya di tengah masyarakat yang terus berubah dengan sifat agresifnya, menciptakan struktur dan tatanan baru sehingga berdampak mengubah pola-pola mapan dalam kehidupan masyarakat. Seperti dalam mempelajari al-QurAan, seseorang tidak bisa melakukannya sendiri tanpa seorang guru, karena dalam al-QurAan terdapat bacaan-bacaan sulit . yang tidak bisa dikuasai hanya dengan mempelajari teorinya saja. Bacaan mushkil tersebut hanya bisa dipelajari dengan berguru. Oleh sebab itu, seorang murid hendaknya berguru secara lasngsung . kepada seorang hafizh al-QurAan atau kepada orang yang telah dikenal Jadi seseorang yang ingin menghafalkan al-QurAan tidak boleh sendiri tanpa belajar kepada para guru, karena di dalam al-QurAan itu terdapat bacaan-bacaan yang sulit dan terkadang ditemukan bacaan yang tidak sesuai dengan tulisannya. 16Dale F. Eickelman. AuNew Media in the Arab Middle East and the Emergence of Open SocietiesA, dalam Robert W. Hefner . Remaking Muslim Politics: Pluralism. Contestation. Democratization (Princeton: Princeton University Press, 2. , 37-59. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 Salah satu cara mempelajari al-QurAan melalui metode tallaqi atau sorogan. Metode inilah yang dapat mengantarkan seseorang untuk menghafal al-Qur'an supaya lancar dan Dengan demikian terwujudlah hasil sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu menjadi insan Qur'ani, bisa menghafalnya dengan baik dan benar dan sekaligus mengamalkan ajaran al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Metode talaqqi merupakan suatu proses pembelajaran dengan cara menyetorkan hafalan baru kepada guru tahfizh. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemajuan hafalan seorang calon hafizh dari hari ke hari. Ber-talaqqi harus berhadapan dengan guru, begitu juga rekan lainya secara bergiliran berhadapan satu persatu membaca di hadapan guru. Metode tersebut seperti yang dilakukan sahabat Ibnu MasAud, ketika disuruh Nabi untuk membaca dihadapanya. AuNabi berkata padaku: bacakan kepadaku al-QurAan. Ibnu MasAu>d menjawab. ABaiklah Rasul! Aku membaca di hadapanmu sedangkan al-QurAan di turunkan kepadamu. Nabi berkata. AuAku ingin mendengarkan bacaan darimuAy. Lalu Ibnu MasAud membaca surat an Nisa>A. Kemudian Nabi berkata cukup berhenti di situ. Kendati demikian, metode talaqqi di era modern ini juga mengalami perkembangan. Seperti yang dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Qurrota AAyun Ponorogo yang menggunkan metode talaqqi untuk mengajarkan al-QurAan baik untuk bi al-na. ar maupun bi al-ghayb . Menariknya di SDIT ini salah satu metode talaqqi-nya menggunakan video call seperti aplikasi Skype dan Imo. Para santri atau murid memang merasakan kemudahan dalam menggunakan aplikasi ini. Sebab bagi mereka, selain terkendala kondisi geografis, mereka tetap masih bisa untuk melaporkan sejauh mana proses hafalan al-QurAan Mereka melakukan tatap muka melalui video call aplikasi Skype atau Imo kemudian santri menyetorkan hafalannya dengan membaca al-QurAan. Dalam proses ini antara murid dengan guru sama-sama membacakan ayat al-QurAan hafalanya kemudian guru memperhatikan serta mengkoreksi bacaan yang dilakukan oleh 17 Raisya Maula Ibnu Rusyd. Panduan Tahsin. Tajwid, dan Tahfizh untuk Pemula (Yogyakarta: Saufa, 2. , 176. mengambil menerima. Al Zakarsyi menyatakan seorang yang ber talaqqi harus berhadapan dengan guru, begitu juga rekan lainya secara bergiliran berhadapan satu persatu membaca di hadapan guru. lihat Al Zakarsyi, al-Burhan fi> AoUlum > al-QurAoan> (Kairo: Da>r al-H. di>th, 2. , 290. 19 Al-Bhukari. Sa { h. h> B } hukar> i. Juz 3. 18Talaqqi berasal dari kata talaqqa yatalaqqa artinya bertemu, berhadapan. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 murid tersebut. Apabila kurang tepat, guru membenarkan bagaimana cara membacanya atau mengingatkan kesalahan yang mereka lakukan. Di sisi lain mereka mengatakan, penggunaan media komunikasi ini mempunyai banyak kelebihan. Pertama, bagi santri, mereka lebih mudah mengatur waktu. Dengan metode belajar al-QurAan melalui talaqqi online ini, mereka dapat menghafalnya saat di rumah dan lebih flesibel. Dengan demikian waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan keberhasilan studi selama menuntut ilmu. Kedua, seorang siswa atau santri yang lupa atas pelajaranya bisa mengulangi bahan pelajaran cukup di rumah lalu menggunakan media sosial untuk video call dengan gurunya. Apa yang guru jelaskan tidak mesti semuanya, dan hanya menjelaskan hal-hal yang terkesan masih samar-samar dalam ingatan. Pengulangan memang sangat membantu untuk memeperbaiki semua kesan yang masih samar-samar itu, sehingga menjadi jelas di dalam ingatan murid. Kegiatan ini mereka lakukan karena dorongan bahwa membaca al-QurAan dan menghafalnya adalah tugas seorang muslim. Oleh karena itu kapapun dan di manapun seorang muslim harus berusahan mengingat kalam Allah. Mereka berkeyakinan bahwa alQurAan adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan membacanya merupakan suatu ibadah. Menurut mereka menjaga dan memelihara al-QurAan dengan cara mempelajari dan memenghafalnya merupakan perbuatan yang sangat mulia. Dengan alQurAan. Allah SWT akan mengangkat derajat para penghafal al-QurAan dan kedua Menghafal al-QurAan adalah sebuah usaha untuk meningkatkan kualitas penghambaan bagi sang penghafal kepada Allah dan akan membukakan banyak jalan lebih dari apa yang diharapkan oleh sang penghafal. Sebuah kebaikan dan keberkahan menyerbu dari berbagai penjuru, karena menurut mereka menghafal al-QurAan adalah kunci dari kesuksesan dan kebahagian hidup yang penuh berkah. Selain itu, mereka beralasan bahwa Nabi sangat menganjurkan untuk menghafal alQurAan karena disamping menjaga kelestariannya, menghafal ayat-ayatnya adalah pekerjaan yang terpuji dan amal yang mulia. Rumah yang tidak ada orang yang membaca al-QurAan di dalamnya seperti kuburan atau rumah yang tidak ada berkahnya. Dalam shalat juga demikian, yang menjadi imam shalat diutamakan bagi mereka yang banyak membaca Al- Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 QurAan, bahkan yang mati dalam perang pun, yang dimasukkan dua atau tiga orang ke dalam kuburan, yang paling utama didahulukan adalah yang paling banyak menghafal alQurAan. Selain keyakinan tersebut, dorongan mereka melakukan talaqqi online dengan menggunakan aplikasi Imo maupun Skype adalah kondisi geografis. Para santri yang rumahnya jauh, dapat mempermudah mereka melakukan setoran bacaan al-QurAan kepada ustad-ustadzahnya. Dengan demikian, menurut mereka menghafal al-QurAan merupakan suatu perbuatan terpuji dan mulia serta harus dilestarikan. Orang-orang yang mempelajari, membaca atau menghafal al-QurAan merupakan orang-orang pilihan Allah untuk menerima warisan kitab suci al-QurAan. Selain itu orang yang menghafal al-QurAan memiliki kedudukan tinggi dalam agama Islam, karena orang tersebut berusaha memelihara kelestarian dan kemurniaan sumber utama ajaran agama sampai akhir zaman. Sebuah Transisi dan Trasformasi Matode Talaqqi dari Tradisi Klasik ke Tradisi Online Sejak awal Al-QurAan diturunkan hingga saat ini umat muslim banyak yang menghafal al-QurAan. Belajar menghafal al-QurAan memang tidak bisa semaunya sendiri. Dalam hal ini metode mempunyai peranan penting untuk membantu menentukan keberhasilan balajar alQurAan. Salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan al-QurAan adalah dengan menghafal, karena memelihara kesucian dengan menghafal adalah metode terbaik dan pekerjaan yang terpuji dan amal yang mulia. Nabi sendiri dan para sahabat banyak yang hafal Al-QurAan. Hingga sekarang tradisi menghafal al-QurAan masih dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Begitu juga yang diterapkan di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo. Di era milineal ini para murid melakukan hafalan al-QurAan setiap hari. Setoran kepada gurunya menjadi bukti bahwa mereka telah menghafal. Kendati demikian, mereka ketika menyampaikan setoran hafalan menggunakan media eletronik video call berupa aplikasi Imo dan Skype. Pada proses ini, guru melihat murid membaca al-QurAan melalui handphone-nya. Selama murid membaca al-QurAan, guru diam mendengarkan apa yang dibacakan murid, setelah selesai guru lalu mengkoreksi bacaan murid dan membenarkan apa yang salah. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 Berbeda ketika metode ini dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, mereka melakukan pertemuan secara langsung dan berhadap-hadapan dalam satu tempat. Seperti ketika Jibril menyampaikan wahyu. Nabi menggerak-gerakan lisan dan bibirnya dengan maksud Tetapi Jibril melarang hal itu. Kemudian Jibril mengajarkan cara baca yang baik, lalu Nabi menirukan bacaannya. Begitu juga sahabat seperti sahabat Ibnu MasAud yang disuruh Nabi untuk membaca dihadapanya. Lalu Nabi mengoreksi bacaannya. Melihat persoalan di atas, menurut Ahmad Rafik suatu bentuk resepsi tehadap alQurAan dalam masyarakat dapat terwujud fenomena sosial budaya al-QurAan. Misalnya bisa berbentuk cara baca yang disuarakan, diperdengarkan, ditulis, dipakai, atau ditempatkan. Resepsi ini bisa berupa praktek individual, kelompok, rutin insidentil, atau temporer hingga sistem sosial adat dan lain sebagainya, sehingga menjadi tradisi resepsi yang baru terhadap al-QurAan. Setidaknya terdapat tiga bentuk resepsi, yakni: Pertama, bentuk resepsi eksegesis. Resepsi eksegesis adalah memposisikan al-QurAan sebagai teks yang berbahasa Arab dan bermakna secara bahasa. Resepsi pada bentuk ini mewujud dalam praktik penafsiran al-Quran, seperti karya-karya tafsir yang beredar di masyarakat. Kedua, resepsi estetis. Bentuk resepsi ini adalah memposisikan al-Quran sebagai teks yang bernilai keindahan. Al-QurAan sebagai teks yang estetis, artinya resepsi ini berusaha menunjukkan keindahan al-QurAan. Bentuk ini bisa berupa kajian puitis yang terkandung dalam bahasa al-QurAan. Al-QurAan diterima dengan cara yang estetis, artinya al-QurAan dapat ditulis, dibaca, disuarakan, atau ditampilkan dengan cara yang estetik seperti kaligrafi dan qiraAoat (Meng-iramakan al-QurAa. Ketiga, resepsi bentuk fungsional. Dalam resepsi ini al-QurAan diposisikan sebagai kitab yang ditujukan untuk tujuan tertentu. Maksudnya al-QurAan adalah memiliki fungsi terhadap manusia, baik karena merespon suatu kejadian atau mengarahkan manusia . umanistic hermeneutic. , serta dapat dipergunakan untuk tujuan tertentu, berupa tujuan normatif maupun praktis yang mendorong lahirnya perilaku baru. Melihat persoalan di atas metode talaqqi yang dilakukan di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo di dorong oleh semangat tinggi dan keyakinan kuat bahwa dengan menghafal alQurAan, mereka akan mendapatkan derajat mulia di sisi Allah. Dengan demikian, di mana Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 saja dan kapan saja, mempelajari dan menjaga al-QurAan harus tetap dilakukan meskipun terkendala oleh jarak yang jauh. Pada sisi transisi dan transformasi, metode talaqqi sudah digunakan sejak pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu dari malaikat Jibril. Metode pertemuan secara langsung tersebut berguna untuk mempermudah Jibril dalam menyampaikan wahyu, apalagi Nabi Mu. ammad adalah ummi. Di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo memiliki metode talaqqi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Nabi, di sana tidak dilakukan tatap muka di satu tempat tetapi aplikasi Skype dan Imo. Hal tersebut dilakukan karena kondisi geografis serta waktu yang tidak memadai sehingga media tersebut dapat digunakan untuk memudahkan belajar al-QurAan. Melihat fenomena di atas, terdapat perubahan mengenai nilai dan norma sosial dalam praktik talaqqi di SDIT Qurrata AAyun Ponorogo. Perilaku masyarakat tersebut merupakan gejala sosial yang normal, mengingat manusia akan selalu mencari cara terbaik dan mudah untuk keluar dari permasalahnnya. Praktik talaqqi ini menurut penulis sesuai dengan resepsi bentuk fungsional, dimana praktik talaqqi tersebut digunakan untuk tujuan mengaggungkan alQurAan. Kesimpulan Metode talaqqi online di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo dapat disimpulkan sebagai berikut: Dari teologis normatif, mereka berkeyakinan bahwa al-QurAan adalah kitab yang agung dan menghafal al-QurAan adalah amal perbuatan yang mulia. Orang yang menghafalnya akan mendapatkan keberkahan hidup dari Allah dan derajat yang tinggi. samping itu al-QurAan juga merupakan pedoman bagi seluruh umat manusia sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Dari segi transisi dan transformasi metode talaqqi online yang dilakukan di SDIT Qurrota AAyun Ponorogo karena persoalan geografis sehingga media sosial video call melalui aplikasi Skype dan Imo dapat menjadi solusi dalam pembelajaran alQurAan. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 7, nomor . Maret, 2021 P-ISSN 2442-5907 DAFTAR PUSTAKA