https://jurnal. id/index. php/pustakamitra DOI : https://doi. org/10. 55382/jurnalpustakamitra. Vol. No. E ISSN : 2808-2885 Upaya Pencegahan Rabies pada Masyarakat Melalui Komunikasi Informasi Edukasi Di Tawiri Laha. Ambon Ikbar Adreansyah1. Elpira Asmin2. Muliati3. Ariel Sousii Makasale4 1,3,4Pendidikan Profesi Dokter. Universitas Pattimura. Indonesia 2Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Pattimura. Indonesia 1adreansikbar0707@gmail. com, 2elpira. asmin@lecturer. id, 3muliatizr@gmail. com, 4arielmakasale@gmail. Abstract Rabies or also called mad dog disease is a zoonotic disease that infects the central nervous system caused by an RNA virus from the Rhabdoviridae family, genus Lyssavirus. Data from WHO estimates that rabies causes around 55,000 human deaths each year, where more than 99% of cases are caused by dog bites that have been infected with the rabies virus. Education carried out by Young Doctors in the Public Health Sciences clinical clerkship aims to increase knowledge related to rabies prevention to reduce the incidence of rabies. The method used is counseling and socialization using powerpoint media to 108 Palungan Kasih church congregations. The results of the counseling carried out were to get a good response from the surrounding community which was marked by enthusiastic participants until the end of the counseling activity about the dangers of rabies. The counseling or IEC . ommunication, information, and educatio. carried out was to increase public insight about the dangers of rabies. It is also hoped that all elements of society will move their hearts to fight together in reducing rabies. Keywords: education, rabies, preventive Abstrak Rabies atau disebut juga penyakit anjing gila merupakan penyakit zoonosis yang menginfeksi susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus RNA dari famili Rhabdoviridae, genus Lyssavirus. Data dari WHO memperkirakan bahwa rabies menyebabkan sekitar 55. 000 kematian manusia setiap tahunnya, di mana lebih dari 99% kasus disebabkan oleh gigitan anjing yang telah terinfeksi virus rabies. Edukasi yang dilakukan oleh Dokter Muda pada kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkait pencegahan rabies untuk menurukan angka kejadian rabies. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan sosialisasi menggunakan media powerpoint terhadap 108 jemaat gereja Palungan Kasih. Hasil dari penyuluhan yang dilakukanadalah mendapat respon yang baik dari masyarakat disekitar yang di tandai dengan peserta yang antusias hingga selesai kegiatan penyuluhan tentang bahaya rabies. Adanya penyuluhan atau KIE . Informasi, dan Edukas. yang dilakukan untuk dapat menambah wawasan masyarakat tentang bahaya rabies. Diharapkan juga segala elemen masyarakat menggerakan hatinya untuk berjuang bersama dalam mengurangi Kata kunci: edukasi, rabies, pencegahan A 2025 Author Creative Commons Attribution 4. 0 International License Submitted : 08-07-2025 | Reviewed : 13-07-2025 | Accepted : 04-09-2025 Ikbar Adreansyah1. Elpira Asmin2. Muliati3. Ariel Sousii Makasale4 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 313 Ae 316 Pendahuluan Rabies atau disebut juga penyakit anjing gila merupakan penyakit zoonosis yang menginfeksi susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus RNA dari famili Rhabdoviridae, genus Lyssavirus. Semua mamalia, termasuk manusia, dapat terinfeksi virus rabies. Lebih dari 99% kasus rabies pada manusia ditularkan melalui anjing. Selain itu, setengah dari populasi dunia tinggal di daerah endemik rabies pada anjing dan karena itu berisiko tertular rabies. , . Rabies merupakan penyakit endemik yang ditemukan di hampir seluruh benua, kecuali Antartika. Menurut laporan WHO tahun 2018, sekitar 95% kasus rabies terjadi di benua Asia dan Afrika. Seiring waktu, penyakit ini telah tercatat di 92 negara dan dinyatakan sebagai endemik di 72 Jumlah kematian akibat rabies yang ditularkan oleh anjing paling banyak ditemukan di Asia, terutama di India, serta di Afrika yang juga mencatat angka kejadian dan kematian tinggi. Data WHO menyebabkan sekitar 55. 000 kematian manusia setiap tahunnya, di mana lebih dari 99% kasus disebabkan oleh gigitan anjing yang telah terinfeksi virus rabies. Penyebaran rabies oleh anjing ini sebagian besar menimpa anak-anak yang tinggal di wilayah pedesaan dengan kondisi ekonomi rendah. Sekitar 80% kematian akibat rabies terjadi di daerah pedesaan, yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran masyarakat serta keterbatasan akses terhadap pengobatan profilaksis pasca pajanan. Di Indonesia, jumlah rata-rata kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) selama periode 2015 hingga 2019 mencapai sekitar 80. 861 kasus per tahun, dengan angka kematian tahunan sebanyak 103 kasus (Case Fatality Rate/CFR sebesar 0,13%). Beberapa provinsi dengan jumlah kasus rabies tertinggi meliputi Kepulauan Riau. Bangka Belitung. Papua. Papua Barat. DKI Jakarta. Jawa Tengah. DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Masing-masing daerah tersebut telah merespons tingginya kasus rabies dengan memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian, antara lain melalui koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan program vaksinasi terhadap hewan peliharaan. Tingkat kematian akibat rabies (CFR) dari tahun 2015 menunjukkan pola yang fluktuatif. Meskipun demikian, secara nasional angka kematian akibat rabies masih tergolong tinggi dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang . Data Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) pada Bulan Januari hingga April 2025 di Kota Ambon sebanyak 730 kasus GHPR dengan 6 kasus Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan kejadian tahun 2024 dan merupakan masalah serius yang harus segera ditangani. Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat rabies disebabkan oleh belum optimalnya pelaksanaan program pengendalian dan pencegahan, seperti vaksinasi antirabies pada hewan penular seperti anjing dan kera. Selain itu, kurangnya upaya sosialisasi dan advokasi langkah-langkah . Rabies 100% dapat dicegah melalui vaksinasi pada hewan dan manusia. WHO merekomendasikan profilaksis prapajanan . reexposure prophylaxi. bagi mereka yang memiliki risiko paparan virus rabies yang terus-menerus, sering, atau meningkat . isalnya, dokter hewan dan petugas penanganan Jika seseorang terpapar hewan yang WHO pemberian profilaksis pascapajanan (PEP), yang terdiri dari penanganan luka segera, vaksinasi segera, serta pemberian imunoglobulin rabies untuk paparan dengan risiko tinggi. Namun demikian, vaksinasi anjing dianggap sebagai strategi paling hemat biaya dalam mencegah rabies pada . Meskipun telah tersedia bukti dan pedoman untuk pengendalian serta penanganan rabies, negara-negara di Asia Tenggara menghadapi berbagai kendala dalam upaya pengendalian rabies. Kendala tersebut meliputi keterbatasan sumber daya, kurangnya komitmen politik, tidak adanya kesepakatan strategi, lemahnya koordinasi antar sektor, sistem surveilans yang tidak responsif, akses terbatas terhadap vaksin rabies modern dan masalah pasokan, serta kurangnya kesadaran dan kerja sama dari . Berdasarkan hal tersebut, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting dalam meningkatkan pemahaman mengenai rabies, termasuk penyebab, faktor risiko, serta komplikasi yang dapat timbul. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi angka kejadian rabies melalui pencegahan yang lebih efektif. Masyarakat yang memiliki/tinggal di daerah yang banyak hewan penular rabies merupakan kelompok yang rentan terhadap rabies, sehingga sangat penting bagi mereka untuk memahami konsep rabies, faktorfaktor risikonya, serta dampak buruk yang dapat Metode Pengabdian Masyarakat Kegiatan pengabdian kepada masyarat kecamatan sukarami menggunakan metode sosialisasi dengan pendekatan edukasi peningkatan kesehatan dan mencegah terjadinya rabies. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan selama 1 hari di Gereja Palungan Kasih yang terletak di Lorong Bo Bo Ho. Jl. Dr. Leimena Dusun Riang. Desa Tawiri. Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon. Provinsi Maluku. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah Submitted : 08-07-2025 | Reviewed : 13-07-2025 | Accepted : 04-09-2025 Ikbar Adreansyah1. Elpira Asmin2. Muliati3. Ariel Sousii Makasale4 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 313 Ae 316 108 orang yang terdiri atas laki-laki dan perempuan dari kalangan anak-anak hingga lansia. Kegiatan dilaksanakan dengan pembukaan yaitu meliputi doa pembuka, perkenalan tim atau Masyarakat, penjelasan tujuan dan tahapan kegiatan. Kemudian selanjutnya kegiatan dilaksanakan dengan pemberian materi sosialisasi edukasi pencegahan penyakit Materi sosialiasi yang telah diberikan yaitu pengertian, penyebab, tanda, gejala, komplikasi, hingga pencegahan penyakit rabies. Sosialisasi Kesehatan ini diberikan dengan metode paparan atau presentansi tanya jawab serta diskusi. Media yang digunakan adalah powerpoint. Evaluasi juga dilakukan dengan tanya jawab antara warga dengan kelompok pengabdia masyarakat tentang rabies setelah diberikan sosialisasi Kesehatan. Kegiatan ini diakhiri dan ditutup dengan ucapan terimakasih kepada seluruh jemaat Gereja Palungan Kasih dan doa penutup. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Gereja Palungan Kasih yang terletak di Lorong Bo Bo Ho. Jl. Dr. Leimena Dusun Riang. Desa Tawiri. Kecamatan Teluk Ambon. Kota Ambon. Provinsi Maluku. Pelaksanaan penyuluhan mendapat respon yang baik dari masyarakat disekitar yang di tandai dengan peserta yang antusias hingga selesai kegiatan penyuluhan tentang bahaya rabies . Adanya penyuluhan atau KIE . Informasi, dan Edukas. yang dilakukan untuk dapat menambah wawasan masyarakat tentang bahaya rabies. Diharapkan juga segala elemen masyarakat menggerakan hatinya untuk berjuang bersama dalam mengurangi rabies. yang dilatarbelakangi pengetahuandan pandangan seseorang tentang penyakit, rabies. Begitu juga pendapat Notoatmodjoyang dikutip (Abidin & Budi, 2. bahwa pengetahuan merupakan aspek penting dalam menciptakantindakan seseorang sehingga perilaku seseorang dalam menangani suatu rabies, seperti partisipasi dalam program pencegahan rabies dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai penyakit . Berdasarkan hasil penelitian . , bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan rabies dimana pengetahuan yang baik akan menimbulkan upaya pencegahan rabies yang baik pula pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tomoni Timur. Adapun masyarakat dengan tindakan pencegahan baik namun memiliki pengetahuan kurang sehingga upaya tenaga kesehatan masyarakat tetap dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang penyakit rabies. Akan tetapi, kebiasaan yang sudah menjadi budaya masyarakat dalam memelihara anjing di setiap rumah menyebabkan tingkat Gigitan Hewan Penular Rabies masih belum dapat dikendalikan secara . Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Prihartini . di Desa Sanggarhoroho didapatkan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya GHPR dan sulitnya sarana prasarana bagi masyarakat untuk melakukan vaksinasi diwilayah terpencil menjadikan alasan masyarakat dalam mencegah rabies. Namun, saat petugas kesehatan masyarakat melakukan penyuluhan mengenai cara pencegahan rabies masyarakat kurang berpartisipasi sehingga kasus kematian rabies masih terjadi akibat telatnya penanganan GHPR dan sikap acuh tak acuh Tidak Tahu Tahu Gambar 2. Tingkat Pengetahuan Sebelum Penyuluhan tentang Rabies Gambar 1. Penyuluhan rabies yang diikuti oleh Masyarakat Upaya pencegahan rabies tidak hanya di lakukan dengan melakukan program sosialisasi tetapi yang paling utama adalah vaksinasi anjing liar atau anjing Dalam upaya pemberantasan rabies, permasalahan tidak hanya berfokus pada anjing karena dapat melibatkan manusia sehingga keberhasilan dalam pemberantasan rabies ditentukan oleh pemahaman manusia mengenai penyakit rabies (Vaksinasi Anjing Untuk Cegah Rabies AeSehat Negeriku, n. Menurut (Mohan, 2. bahwa munculnya suatu penyakit disebabkan oleh perilaku Tidak tahu Tahu Gambar 3. Tingkat Pengetahuan Setelah Penyuluhan tentang Rabies Submitted : 08-07-2025 | Reviewed : 13-07-2025 | Accepted : 04-09-2025 Ikbar Adreansyah1. Elpira Asmin2. Muliati3. Ariel Sousii Makasale4 Jurnal Pustaka Mitra Vol . 5 No. 313 Ae 316 di Kabupaten Buleleng pada Tahun 2021,Ay Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako, vol. 9, no. 1, 2023. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat telah dilakukan dalam bentuk edukasi tentang pencegahan rabies pada gereja Palungan Kasih. Dengan tingkat pemahaman yang masih terbatas, melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman akan pentingnya pencegahan rabies agar angka kejadian dan kematian rabies dapat ditekan secara Saran yang dapat diberikan berupa peningkatan kerja sama dengan dinas kesehatan agar sosialisasi dan penyuluhan perlu perlu terus dilakukan agar masyarakat dapat mengadopsi perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab terhadap kesehatan mereka sendiri dan lingkungan sekitar mereka. Irma. Kamrin, dan Harleli. AuEpidemiologi Faktor Host Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di Kabupaten Kolaka Utara,Ay Global Health Science, vol. 1, hlm. 27Ae33. Mar 2023. M, dan I. AuTrends and Clinic-Epidemiological Features of Human Rabies Cases in Bangladesh 2006Ae ,Ay Sci Rep, vol. 10, no. 1, hlm. 1Ae11, 2020. Syahfitri RI. Pengaruh tingkat pengetahuan terhadap pencegahan penyakit rabies. PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat. : hal 28-53 . Mohan. Sikap Dan Perilaku Masyarakat Terhadap Pencegahan Penyakit Rabies Di Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung Bali Tahun 2015 Kaviraj Mohan Program Studi Pendidikan Dokter . Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Abstrak Pendahuluan : Kasus Rabies Pada. , 65Ae77. Abidin. , & Budi. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit rabies pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Tomoni Timur tahun 2020. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Dengan Tema AuKesehatan Modern Dan Tradisional,Ay 8. , 32Ae42. https://dspace. Prihartini. Syamruth. , & Hinga. Factors Related to Rabies Prevention Measures in Nangapanda Community Health Center. East Nusa Tenggara. Journal of Health Promotion and Behavior, 08. , 78Ae84. https://doi. org/https://doi. org/10. 26911/thejhpb. Ucapan Terimakasih