Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 108-116 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. PENERAPAN KONSELING KRISIS UNTUK MENGATASI TRAUMA PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN REMAJA PEREMPUAN Agoes Dariyo Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta Email: agoesd@fpsi. Masuk: 06-10-2023, revisi: 20-10-2023, diterima untuk diterbitkan: 30-11-2023 ABSTRAK Korban perundungan ialah seseorang . elompok oran. yang menjadi perlakuan agresif dari orang lain . ekelompok oran. , sehingga orang tersebut merasa trauma secara psikologis dan membutuhkan bantuan koseling professional. Penelitian bertujuan mengetahui bagaimana penerapan konseling krisis untuk mengatasi trauma psikologis pada remaja perempuan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan teknik pengambilan data melalui wawancara dan observasi. Jumlah partisipan sebanyak 2 remaja perempuan yang menjadi korban perundungan. Teknik pengabilan sampling dengan purposive sampling yaitu berdasarkan kriteria tertentu. Teknik analisis data dengan pendekatan tematik yang didasari konsep teori psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian konseling krisis cukup efektif untuk mengatasi trauma psikologis korban perundungan remaja perempuan. Konseling krisis mampu menggali pengalaman alam bawah sadar maupun alam tidak sadar untuk diungkapkan dalam alam sadar, sehingga klien dapat melakukan katharsis secara leluasa selama proses konseling. Seusai sesi konseling, terjadi perubahan perilaku klien yang dimulai dari upaya untuk mengubah pola pikir, menerima kenyataan masa lalu, serta berani perubahan diri untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Kata Kunci: Konseling Krisis. Trauma Psikologis. Korban Perundungan ABSTRACT A victim of bullying is a person . roup of peopl. who is subjected to aggressive treatment from another person . group of peopl. , so that the person feels psychologically traumatized and needs professional counseling assistance. The research aims to find out how crisis counseling is applied to overcome psychological trauma in adolescent This type of research is qualitative research, with data collection techniques through interviews and The number of participants was 2 teenage girls who were victims of bullying. The sampling technique is purposive sampling, which is based on certain criteria. Data analysis technique with a thematic approach based on the concept of Sigmund Freud's psychoanalytic theory. The results of research on crisis counseling are quite effective in overcoming the psychological trauma of female victims of bullying. Crisis counseling is able to explore subconscious and unconscious experiences to be expressed in the conscious world, so that clients can carry out katharsis freely during the counseling process. After the counseling session, there is a change in the client's behavior starting from efforts to change thought patterns, accept the reality of the past, and dare to change oneself to face a better future. Keywords: Crisis Counseling. Psychological Trauma. Victims of Bullying PENDAHULUAN Perundungan . ialah perilaku seseorang . tau sekelompok oran. yang secara sengaja menyerang terhadap orang lain, sehingga orang tersebut menjadi korban perundungan . ullying victi. (Bacher-Hicks, et al, 2. Pelaku perundungan adalah seseorang . ekelompok oran. yang merasa memiliki wewenang, kekuasaan atau kekuatan yang lebih hebat dibandingkan dengan orang lain yang akan dijadikan sebagai korban. Seseorang sudah mempersepsikan diri sebagai pribadi yang superior . ebih menonjol, lebih kuat, atau memiliki kelebiha. , sehingga ia dapat menjalankan aksinya untuk menyerang orang lain (Nasti. Intra. Palmiero, & Brighi, 2. https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PENERAPAN KONSELING KRISIS UNTUK MENGATASI TRAUMA PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN REMAJA Agoes Dariyo Jika seseorang mempersepsikan diri-sendiri lebih rendah daripada orang lain, maka ia tidak akan melakukan perundungan. Ia sudah harus mampu memperhitungkan rencana aksinya, apakah akan dijalankan atau tidak dijalankan. Karena itu, pelaku perundungan seringkali memilih orang-orang yang dianggap lemah, tak berdaya dan cenderung tak berani melawan kembali terhadap pelaku perundungan (Basiliei. Paladino, & Menesini, 2. Korban perundungan ialah seseorang . tau sekelompok oran. yang benar-benar telah diperlakukan secara agresif oleh pelaku perundungan, sehingga muncul perasaan takut, sedih, kecewa, kuatir, cemas dalam diri korban jika pengalaman tersebut terulang kembali di kemudian hari (Agindag et al, 2011. Suryana et al, 2022. Morgan. Farkas. Woods et al, 2. Seseorang merasakan trauma psikologis akan pengalaman buruk yang telah menimpa dirinya. Ada perasaan sedih, kecewa, sakit hati, takut, kuatir, cemas, tak berdaya, dendam, marah, kesal yang campur aduk dalam dirinya. namun ia tidak tahu harus bagaimana melampiaskan perasaan tersebut. juga tidak tahu. kepada siapa, korban perundungan harus mengadukan nasib hidupnya (Salmivalli, & Nieminen, 2001. Potard. Kubiszewski. Combes, et al. Jika ia mengungkapkan kepada teman-teman tentang pengalaman buruknya, ia merasa malu dan belum tentu akan memperoleh perhatian positif dari mereka. Bahkan bisa jadi, teman-temannya justru semakin menyalahkan, menyudutkan dan atau mentertawakannya. Karena itu, korban perundungan cenderung memilih berdiam diri dan menyimpan pengalaman buruknya erat-erat dalam hidupnya. Ia semakin menarik diri . dari pergaulan sosial. lebih memilih menyendiri, sehingga terisolasi . engisolasi dir. dari teman-temannya (Meng et al, 2022. Morgan. Farkas. Woods, et al. Ada perubahan perilaku yang dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan, juga diketahui oleh teman-teman pergaulannya. Ketika seorang korban perundungan semakin menjaga jarak sosial dengan teman-temannya, maka hidupnya semakin menderita, sengsara dan tidak bahagia. Ekspresi wajahnya murung, dan mencerminkan kondisi dan suasana hatinya yang masih sedih, kecewa atau sakit hati akibat perundungan tersebut di masa lalunya. Pengalaman menjadi korban perundungan benar-benar membuat dirinya merasa tidak bisa hidup dengan tenang, karena seringkali pengalaman trauma itu teringat dalam pikirannya. Akibatnya, korban perundungan merasa resah, gelisah, pikiran kacau, tidak bisa tidur nyenyak, dan kadang mengalami mimpi buruk di tengah malam . (He et al. Karena itu, kondisi psikologis tersebut harus memperoleh perhatian serius dari professional, seperti konselor yang dapat membantu dengan pemberian konseling krisis, sebuah konseling untuk mengatasi krisis psikologis akibat dari perilaku perundungan di sekolah. Atas dasar pemikiran tersebut, maka dirumuskan bagaimana peran konseling krisis untuk mengatasi trauma psikologis korban perundungan pada remaja perempuan? Berbagai penelitian (Nasmith, 2023: Hoffberg. Stearns-Yoder KA, & Brenner,2019. Brodbent. Grespan. Axpford, et al, 2. telah dilakukan oleh para praktisi psikologi atau konselor professional menunjukkan bahwa konseling krisis yang dijalankan secara professional dan dengan pendekatan tertentu . isalnya: psikoanalisis klasi. pada konseli yang mengalami depresi, maka konseli mampu melakukan katarsis seluruh pengalaman hidupnya, serta membangkitkan semangat hidupnya dari depresinya. Mereka merasakan lega, bahagia, dan memperoleh kesadaran untuk keluar dari tekanan masalahnya, serta memulai untuk menjalankan aktivitas hidupnya seperti sedia kala. Secara psikososial, konseli memperoleh dukungan emosional dan dukungan sosial dari konselor untuk berani memperbaharui pola pikir, sikap maupun tindakan menghadapi kenyataan hidup. Ditambahkan pula, menurut penelitian Sulistianingsih & Parmana . bahwa konseling krisis dengan pendekatan CBT . ognitive behavior therap. yang dilakukan secara individu memberi hasil efektif untuk mengubah pola pikir klien yang negatif menjadi positif. Perubahan pola pikir positif akan disertai pula dengan https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 108-116 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. perubahan perilaku yang lebih baik. Jadi ada perubahan perilaku . yang dimulai dari perubahan pola pikir . , dan ditransformasi ke dalam kebiasaan perilaku sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, sebuah penelitian yang menekankan pada fenomena psikososial pada kasus-kasus tertentu. Dalam konteks ilmu psikologi . ermasuk ilmu sosia. , studi kasus mengacu penelitian yang memfokuskan pada kasus, peristiwa, kejadian tertentu pada partisipan tertentu (Tumangkeng & Maramis, 2. Teknik pengambilan data melalui wawancara mendalam . ept intervie. dan observasi selama wawancara. Selama wawancara, peneliti minta ijin partisipan untuk membuat catata-catatan penting sebagai data, agar mudah dingat atau untuk menghindari faktor kelupaan. Partisipan penelitian ini sebanyak 2 orang perempuan dengan rentang usia 14 Ae 19 tahun. Teknik pengambilan sampling dengan purposive sampling. Teknik analisis data dengan menggunakan pendekatan tematik berdasarkan konsep teori psikoanalisis yang mengacu pada konsep alam bawah sadar, bawah sadar dan ketidak-sadaran individu (Hall. Lindzay, & Campbell, 1. Adapun prosedur penelitian yaitu para partisipan datang dan bertemu langsung dengan konselor Sebelum pertemuan, antara partisipan dengan konselor mengadakan kesepakatan janji bertemu dengan tujuan untuk mengikuti konseling. Kegiatan konseling dilaksanakan secara individual, dengan durasi waktu 100 menit. Konseling ada 2 sesi yaitu sesi pertama 50 menit dan sesi kedua 50 menit. Setiap sesi pada sesi pertama terdiri pembukaan . , sesi konseling, dan sesi penutupan. Sesi kedua, melanjutkan sesi pertama, sehingga konseling langsung menuju pada masalah dan pemecahan masalah, serta penutup. Kegiatan konseling dilaksanakan di ruang yang nyaman, tenang dan tetap menjaga privasi Ruang konseling sengaja bersifat transparan/terbuka yang mudah dilihat oleh orang lain, karena untuk menjaga etika sosial, sebab konselor . aki-lak. dan konseli . emaja perempua. Sebelum sesi konseling, konseli . bersedia untuk mengisi informed concent sebagai bentuk keseriusan dalam kegiatan konseling dan penelitian. HASIL Tabel 1. Karakteristik partisipan No Partisipan Usia Pemicu Korban Perundungan Syr Perceraian orangtua Diledek, dihina, caci-maki temanteman kelas/sekolah Ibu meninggal Dihina, caci-maki, direndahkan oleh kakak iparnya. Tabel 2. Hasil Sesi Konseling https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PENERAPAN KONSELING KRISIS UNTUK MENGATASI TRAUMA PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN REMAJA No Partisipan Pra-konseling Agoes Dariyo Konseling Post-konseling Sedih, kecewa, kuatir, dendam Terlibat aktif Lega, memaafkan, tenang, percaya Smt Sedih, sakit hati, cemas, dendam. Terlibat aktif Menerima diri-sendiri, belajar memaafkan, optimis masa depan. PEMBAHASAN Konseling krisis ialah sebuah kegiatan interaksi sosial yang bersifat professional antara seorang konselor dengan konseli dengan tujuan konselor dapat membantu menangani masalah psikologis yang dihadapi konseli agar pulih kembali (Apaydin & Celebi, 2. Konseli sedang menghadapi kondisi krisis yang harus segera ditolong secara professional, namun tetap memperhatikan sisi kemanusiaan, kekeluargaan, dan keakraban untuk menjaga kesejahteraan Kondisi krisis bersifat spesifik, subjektif dan personal sesuai dengan pengalaman individu yang bersangkutan. Bisa saja, beberapa orang mengalami peristiwa tertentu yang sama, namun masing-masing individu memiliki penghayatan personal yang berbeda-beda. Mungkin bagi seseorang, suatu pengalaman tertentu dianggap hal biasa saja dan tidak ada artinya apa-apa, namun bagi orang lain mungkin pengalaman tersebut berdampak negatif sehingga dirinya merasakan sakit-hati, kecewa, sedih, atau terluka batinnya. Dalam penelitian ini, kedua partisipan (Syr. Sm. merasakan trauma psikologis akibat diri mereka menjadi korban perundungan dari perilaku perundungan yang dilakukan oleh temanteman sekolahnya (Sy. dan orang terdekat, kakak iparnya (Sm. Partisipan Syr . diledek, dihina, dicaci-maki dan kadang-kadang didorong-dorong oleh teman-temannya di sekolah. Perilaku ini bukan hanya sekali-dua kali, tetapi berkali-kali dan bahkan tidak terhitung. Para pelaku peundungan yaitu mereka, teman-teman laki-laki yang rata-rata berbadan besar, sedangkan Sr adalah seorang perempuan berbadan agak kurus. Sr tak mampu melawan mereka, karena postur fisiknya lebih kecil dibandingkan dengan mereka. Teman-teman perempuan yang lain, tak bisa berkutik dan hanya menonton saja atas peristiwa perundungan tersebut. Jika mereka hendak membantu Sr, justru mereka juga akan diancam dan akan diperlakukan hal yang sama. Karena itu, teman-temannya hanya mendiamkan saja. Sedangkan, partisipan Fn sering diejek oleh kakak iparnya, karena dianggap orang pembawa sial, yaitu ibunya meninggal dunia. Setiap kali. Sr diperlakukan secara kasar dan agresif oleh teman-temannya, muncul ungkapan kata-kata umpatan, hujatan atau caci-maki yang merendahkan harga dirinya. Sr benar-benar merasa sedih, kecewa, sakit hati, dendam dan marah terhadap mereka, namun Sr tak bisa melawan mereka, karena Sr hanya seorang diri dan tak ada teman yang dapat mendukung atau Ia tidak dapat mengadu kepada orangtuanya, karena kedua orangtuanya telah bercerai, sejak Sr masih berada dalam kandungan ibunya. Ayah kandungnya telah meninggalkan ibunya dan menikah dengan perempuan lain. Ibu kandungnya pun juga telah menikah dengan laki-laki lain. Kini. Sr tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya, serta saudara-saudara Kedua orangtua ini tak bisa diharapkan untuk menolong dirinya. Mereka hanya bisa mencemooh Sr, jika Sr berbicara dengan mereka. Karena itu. Sr lebih memilih diam saja, jika bertemu dengan mereka dan tak akan membicarakan masalah pribadinya. Demikian pula, guruguru sekolah tak memberi respon yang positif, jika Sr berkeluh-kesah atas pengalaman buruk Sementara itu. Fn juga hanya bisa diam saja dan tidak membalas apa pun. Karena itu, https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 108-116 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. para partisipan tertarik untuk meminta bantuan ahli konseling guna dapat membantu menangani Konseling merupakan sebuah kegiatan professional yang dijalankan oleh seorang ahli yang terdidik melalui pendidikan khusus terkait dengan bidang keahlianya, serta berpengalaman dalam bidang keahlian tersebut (Pamuji. Muzaki & Julaeha, 2. Mereka sebagai professional siap untuk menjadi penolong bagi klien yang memiliki masalah psikologis (Gunawan, & Amalia. Kegiatan konseling ditangani langsung oleh seorang konselor yang matang pribadiya (Materu personalit. (Marjo & Sodiq, 2. Pribadi yang matang ialah pribadi yang mampu mengendalikan diri, serta menyimpan rahasia klien secara rapi. Artinya konselor sangat menjaga kerahasiaan klien dan tidak akan membocorkan kepada orang lain yang tidak berhak atas data rahasia tersebut. Selama menjalankan tugas dan tanggung-jawab konseling, seorang konselor tetap berpegang pada etika profesi yang mengedepankan kesejahteraan psikologis klien, serta tetap menjalankan proses konseling secara professional dan bijaksana (Syamila & Marjo, 2021. Caraka & Zuhdi, 2. Selama konseling, seorang konselor sangat memperhatikan pengalaman apa saja yang diungkapkan oleh konseli . selama kegiatan konseling berlangsung. Seorang konselor lebih mengedepankan untuk mendengarkan dengan seksama seluruh pengalaman hidup klien yang meliputi aspek kognitif, afektif maupun konatif. Klien melakukan katharsis yaitu mengekspresikan keluh-kesah, kegelisahan, kesedihan, sakit-hati, kekecewaan, rasa amarah, dendam yang tersimpan dalam bawah sadar. Semua uneg-uneg yang mengganjal dalam hidup klien, diluapkan sedemikian rupa secara transparan, terbuka dan tanpa rasa malu di hadapan Bahkan semua memori yang selama ini terpendam dalam alam bawah sadar atau tidak sadar, dapat distimulasi untuk dikeluarkan melalui kegiatan katharsis dalam konseling (Ardiansyah dkk, 2. Setelah konseling, klien Syr merasa lega, puas dan bahagia karena memperoleh kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dan diperhatikan secara seksama oleh konselor. Klien Syr merasa senang, bisa tertawa lepas dan kini ada beban psikologis berat yang semakin terasa lebih Ia menyadari bahwa semua pengalaman buruk traumatis psikologis masa lalu telah mampu dialihkan dari alam bawah sadar . an juga alam tidak sada. ke alam sadar. Ia menjadi sadar diri bahwa pengalaman masa lalu tetap menjadi bagian hidupnya, namun ia berani untuk menerima kenyataan dan menyikapi secara bijaksana (Shedler, 2. Ia pernah menjadi korban perundungan oleh teman-temannya, namun ia harus berani untuk mengubah pemikiran, sikap, tindakan maupun perilakunya. Sama seperti Syr, maka partisipan Fn mampu menerima kenyataan yaitu apa pun kejadian masa lalu terkait meninggalnya ibunya, bukan karena dirinya, tetapi memang sudah takdir kematiannya dari Tuhan Yang Maha Esa. Tak perlu disesali, yang penting Fn harus menatap masa depan. Ia memaafkan kakak iparnya. Jika para partisipan (Syr dan F. hanya berkeluh-kesah, menangis, dan tidak ada progress perubahan apa-apa atas kehidupannya, maka hidupnya tidak akan lebih baik. Mereka akan tetap menderita, sengsara, dan bahkan mengalami depresi. Sebab segala beban psikologis tersebut sangat menekan jiwanya dalam alam bawah sadar, bahkan alam tidak sadar, sehingga klien berada dalam kondisi depresi (Qizi, 2022. Shedler, 2. Hal ini sangat tidak menguntungkan Klien Syr dan Fn sempat muncul pikiran, gagasan atau ide untuk bunuh diri (Rerung. Bahkan Syr sempat mencoba melakukan bunuh diri, namun dapat dicegah oleh orangtua atau tetangganya. Upaya bunuh diri Fn juga digagalkan tetangannya. Dengan pencegahan tersebut, klien Syr dan Fn bersyukur bahwa dirinya diperhatikan oleh mereka, dan masih diberi https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PENERAPAN KONSELING KRISIS UNTUK MENGATASI TRAUMA PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN REMAJA Agoes Dariyo kesempatan untuk hidup dan menjalani kehidupannya. Masih ada kesempatan luas untuk memperbaiki hidupnya, caranya dengan fokus belajar mencapai cita-citanya. Klien Syr merasa senang, bahagia dan optimis untuk menghadapi masa depannya. Ia mulai menata diri dengan memperbaiki pribadinya. Ia harus berani untuk membuka diri dengan mengembangkan kemampuan bergaul dengan siapa pun. ia berani untuk menjadi asertif yaitu menyatakan ya, jika ya. dan menyatakan tidak, jika tidak. Bahkan ia harus berani melawan, menghadapi atau membela diri terhadap siapa pun yang mencoba melakukan perundungan atas Meskipun postur fisiknya agak kurus, kecil atau kulitnya berwarna agak gelap. namun ia mencoba untuk meningkatkan kapasitas pribadinya dengan berani untuk menghadapi siapa pun. Keberanian ini ditunjukkan secara konkrit Ketika berhadapan dengan setiap orang. Baik temanteman yang pernah melakukan perundungan, guru-guru, atau siapa pun juga yang belum dikenal. Klien Syr sadar bahwa semuanya itu sangat tergantung atas diri-sendiri. Ia sedang melakukan perubahan pribadi dari kondisi inferior . endah diri, minder, suit bergaul, menarik diri, terisolas. , dan mentransformasi menjadi pribadi yang mandiri, berani untuk bergaul . , bertanggung-jawab atas masa depan, serta focus pada pencapaian cita-cita. Semuanya, demi mencapai kondisi superior, bukan inferior. Bagi klien Fn bahwa ia tak akan dapat mengubah masa lalu, tetapi ia berharap dan berusaha untuk mengubah masa depan yang lebih baik bagi dirinya. Apa yang terjadi di masa lalu, tak perlu disesali, tetapi harus diterima apa adanya, selanjutnya ia fokus memperbaiki diri demi mencapai masa depan yang lebih baik, gemilang dan bahagia. Konseling krisis yang diikuti oleh klien Syr memberi perubahan paradigma pemikiran. Dirinya tidak harus minder dengan kondisi fisik, maupun pengalaman masa lalu. Ia bisa menerima kenyataan diri apa adanya, rasional, objektif. Namun, ia bergegas untuk membuat perubahan yang signifikan atas hidupnya. ia mempunyai kapasitas kognitif yang cukup baik, yaitu pencapaian prestasi belajar sebagai juara ke-2 atau ke-3 di kelas. Demikian pula, ia juga aktif mengembangkan ketrampilan organisasi yaitu menjadi bendahara OSIS. Selain itu, ia mulai aktif dan rajin untuk beribadah. Semua itu langkah konkrit untuk proses perbaikan bagi hidupnya di saat ini maupun untuk masa depan. Demikian pula, konseling Krisis yang dijalani oleh Fn membuat hidupnya menemukan kelegaan, kebahagian dan harapan untuk menatap masa depan. Fn harus memfokuskan studinya sebagai mahasiswi untuk menjadi seorang sarjana. Ia menata masa depan demi hidup yang lebih baik dan berbahagia. Apa yang dialami oleh klien Syr dan Fn, sesuai dengan hasil penelitian Sulistianingsih & Parmana . bahwa konseling individu memberi hasil efektif untuk mengubah pola pikir klien yang negatif, sehingga perubahan pola pikir akan disertai pula dengan perubahan perilaku yang lebih baik. Jadi perubahan perilaku . dimulai dari perubahan pola pikir . Hasil penelitian Nasmith . menyatakan bahwa remaja yang terindikasi dengan keinginan bunuh diri harus segera diperhatikan secepatanya. Konselor professional dapat memanfaatkan konseling krisis untuk menangani klien remaja tersebut, dan mereka akan segera memperoleh pemulihan dan mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Demikian pula. Brodbent. Grespan. Axpford, et al, . menemukan bahwa konseling krisis tepat untuk diterapkan bagi konseli yang sedang mengalami krisis yang ditandai dengan keinginan bunuh diri. Dengan pendekatan psikonalisis klasik, konseli akan mampu melakukan katarsis dan mencurahkan seluruh pengalaman hidupnya, sehingga klien dapat menemukan kesadaran diri untuk bankit dari keterpurukan hidupnya. Selanjutnya. Castillo. Cartwright. Greaves, & Maniss, . bahwa penerapan konseling krisis oleh konselor professional dirasakan efektif bagi klien, karena klien mampu menyadari dan menerima akan pengalaman buruk masa lalu, sehingga klien dapat menumbuhkan perasaan keyakinan diri . elf-eficac. untuk menghadapi masa depannya. https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 108-116 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. KESIMPULAN DAN SARAN Konseling krisis cukup efektif untuk mengatasi trauma psikologis korban peundungan remaja Konseling krisis mampu menggali pengalaman alam bawah sadar maupun alam tidak sadar untuk diungkapkan dalam alam sadar, sehingga klien dapat melakukan katharsis secara leluasa selama proses konselinng. Seusai sesi konseling, terjadi perubahan perilaku klien yang dimulai dari upaya untuk mengubah pola pikir, menerima kenyataan masa lalu, serta berani perubahan diri untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Secara spesifik, konselor tetap harus disarankan untuk memantau perkembangan perilaku klien, meskipun sesi konseling sudah selesai, demi untuk memastikan bahwa konseling krisis memang berjalan efektif. Jika ada hal-hal yang perlu diwaspadai terhadap klien, maka konselor tetap bertanggung-jawab untuk melakukan konseling lanjutan yang bertujuan untuk menstabilisasikan kondisi pribadi klien di masyarakat. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Jakarta (LPPM Untar Jakart. (SPK No. 0550-Int-KLPPM/UNTAR/VII/2. yang telah memberi dukungan dana, sehingga kegiatan peneltian hibah fasilitasi ini dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya. REFERENSI