Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Melalui Media Pembelajaran Audio Visual pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Kelas X MAS Tapan Wardatut Toyibah 1. Jennita2 MA. Al-Furqan 2 MAS Tapan Correspondence: wardahthayyibah@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Kemampuan Pemahaman. Audio Visual. Sejarah Kebudayaan Islam. ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa kelas X MAS Tapan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) melalui penerapan media pembelajaran audio visual. Latar belakang penelitian adalah rendahnya skor rata-rata hasil belajar siswa serta minimnya keterlibatan siswa akibat metode ceramah yang dominan. Subjek penelitian adalah 30 siswa kelas X MAS Tapan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang di mana setiap siklus terdiri dari 4 tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi hingga refleksi. Teknik pengumpulan data mengunakan tes hasil belajar . re-test dan post-tes. , lembar observasi aktivitas guru dan siswa, serta catatan lapangan. Kriteria Keberhasilan Tindakan (KKT) ditetapkan pada minimal 75% siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan pemahaman siswa. Pada tahap pra-siklus, persentase ketuntasan klasikal hanya mencapai 33,3% dengan nilai rata-rata 64,8. Setelah implementasi Siklus I dengan media audio visual, persentase ketuntasan ini meningkat menjadi 66,7% dengan nilai rata-rata 73,9. Peningkatan optimal tercapai pada Siklus II yang di mana persentase ketuntasan klasikal mencapai 86,7% dengan nilai rata-rata 81,5. Peningkatan ini juga didukung oleh data observasi yang menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan keterlibatan siswa dalam proses Dengan demikian, penerapan media audio visual ini efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman siswa kelas X MAS 1 Tapan pada mata pelajaran SKI. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan memiliki peran fundamental dalam pembentukan karakter dan intelektualitas peserta didik. Di lingkungan Madrasah Aliyah, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai historis serta pemahaman mendalam tentang akar peradaban Islam. Namun, pada kenyataan di lapangan sering menunjukkan bahwa SKI, yang sarat dengan materi naratif dan kronologis, menghadapi tantangan serius terkait minat belajar dan kemampuan pemahaman siswa. Kasus yang teramati yaitu di MAS Tapan, khususnya pada kelas X, yang menunjukkan indikasi yang perlu disikapi. Data awal dari hasil ujian tengah semester (UTS) dan pengamatan di kelas menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman siswa terhadap materi SKI ini masih rendah. Kemampuan pemahaman yang dimaksud yaitu kemampuan siswa untuk menangkap makna, menginterpretasi fakta serta mengidentifikasi hubungan sebab-akibat dalam peristiwa sejarah. Nilai rata-rata kelas X masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 75. Dari total 30 siswa, hanya 10 siswa . ,3%) yang berhasil Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mencapai ketuntasan, kondisi ini diperparah dengan suasana pembelajaran yang cenderung Guru masih dominan menggunakan metode ceramah konvensional, yang membuat materi SKI yang seharusnya menarik malah menjadi terasa kering, abstrak serta sulit dibayangkan oleh siswa (Supriadi, 2. Media pembelajaran konvensional seperti buku teks dan papan tulis saja terbukti kurang mampu dalam menjembatani kesenjangan antara materi abstrak SKI dengan daya serap siswa yang didominasi oleh generasi visual. Kurangnya variasi media juga berimplikasi pada rendahnya motivasi hingga keterlibatan siswa dalam diskusi. Sebagai contoh, ketika membahas materi AuProses Masuk dan Berkembangnya Islam di NusantaraAy, siswa kesulitan dalam memvisualisasikan jalur perdagangan, peran ulama dan bentuk akulturasi budaya yang terjadi. Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi beberapa masalah utama: Rendahnya kemampuan pemahaman siswa kelas X di MAS Tapan pada mata pelajaran SKI . ilai rata-rata di bawah KKM . Keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang inovatif yaitu dengan dominasi metode ceramah. Rendahnya antusiasme dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran SKI. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menganggap penting dalam mengimplementasikan inovasi pembelajaran yang dapat memfasilitasi visualisasi dan kontekstualisasi materi SKI. Media pembelajaran audio visual dipilih sebagai tindakan intervensi karena kemampuannya dalam menyajikan informasi secara dinamis melalui kombinasi gambar bergerak, suara hingga teks (Arsyad, 2. Penggunaan media ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memvisualisasikan peristiwa sejarah, sehingga pemahaman mereka menjadi lebih konkrit, mendalam dan terintegrasi. Tujuan utama dari Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa kelas X di MAS Tapan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui penerapan media pembelajaran audio visual. Maka, secara lebih spesifik, tujuan penelitian ini yaitu meliputi: Mendeskripsikan proses implementasi media pembelajaran audio visual dalam mata pelajaran SKI kelas X di MAS Tapan. Mengukur sejauh mana peningkatan kemampuan pemahaman siswa setelah menggunakan media audio visual di Siklus I dan Siklus II. Mendeskripsikan respons dan tingkat keaktifan siswa terhadap penggunaan media audio visual dalam pembelajaran SKI. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: Bagi Siswa: Meningkatkan kemampuan pemahaman, motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran SKI. Bagi Guru: Memberikan alternatif media serta strategi pembelajaran yang efektif untuk materi SKI, khususnya yang bersifat historis. Bagi Sekolah: Menjadi bahan masukan dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran dan fasilitas media hingga meningkatkan kualitas lulusan. (Hidayat, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Classroom Action Researc. yang bersifat kolaboratif dan partisipatif. Desain PTK yang digunakan mengacu pada model Kemmis dan McTaggart yang meliputi 4 tahapan dalam satu siklus, yaitu: Perencanaan (Plannin. Pelaksanaan Tindakan (Actin. Observasi (Observin. , dan Refleksi (Reflectin. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 (Sutama, 2. Penelitian ini dilaksanakan di MAS Tapan selama semester ganjil pada tahun pelajaran 2024/2025. Subjek Penelitian: Seluruh siswa kelas X di MAS Tapan yang berjumlah 30 siswa, yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Objek Penelitia ini yaitu peningkatan kemampuan pemahaman siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, yang diintervensi melalui penggunaan media pembelajaran audio visual. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan materi yang berbeda pada setiap siklus, disesuaikan dengan kurikulum merdeka SKI kelas X. Pra-Siklus (Studi Pendahulua. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan data awal . aseline dat. mengenai kondisi kemampuan pemahaman siswa sebelum diberikan suatu tindakan. Instrumen yang digunakan adalah tes awal . re-tes. dan observasi awal. Siklus I A Perencanaan: Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengintegrasikan media audio visual . eperti video dokumenter tentang Masa Khulafaur Rasyidi. Menyiapkan instrumen observasi dan tes . ost-test . A Pelaksanaan Tindakan: Guru melaksanakan pembelajaran sesuai RPP, diawali dengan apersepsi dan dilanjutkan dengan penayangan suatu video audio visual, kemudian melakukan diskusi dan tanya jawab. A Observasi: Pengamat . ekan sejawa. mencatat aktivitas guru serta siswa menggunakan lembar observasi, yang berfokus pada keaktifan dan respons siswa. A Refleksi: Menganalisis hasil tes post-test 1 dan data observasi. Jika Kriteria Keberhasilan Tindakan (KKT) belum tercapai . inimal 75% siswa tunta. , maka akan dilakukan perbaikan untuk Siklus II. Siklus II A Perencanaan: Merevisi RPP berdasarkan hasil refleksi Siklus I. Materi yang diajarkan adalah tentang Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Umayyah. Menyiapkan media audio visual yang lebih interaktif . eperti animasi sejara. dan instrumen post-test 2. A Pelaksanaan Tindakan: Mengimplementasikan pembelajaran dengan perbaikan yang difokuskan pada peningkatan interaksi siswa dengan media, misalnya dengan jigsaw learning setelah penayangan video. A Observasi: Melakukan observasi yang lebih detail terhadap indikator keaktifan dan pemahaman siswa. A Refleksi: Menganalisis hasil post-test 2. Jika KKT tercapai maka penelitian Data dikumpulkan melalui 3 teknik utama: Tes (Hasil Belaja. : Menggunakan soal uraian untuk mengukur kemampuan pemahaman siswa (C2-C3 Taksonomi Bloo. Tes dilakukan pada pra-siklus . re-tes. dan akhir setiap siklus . ost-tes. Observasi: Menggunakan lembar observasi terstruktur untuk mengukur keaktifan dan perhatian siswa, hingga kinerja guru selama proses pembelajaran. Dokumentasi: Pengumpulan data nilai awal. RPP dan foto kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dianggap berhasil apabila terjadi peningkatan pada: Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Ketuntasan Klasikal: Minimal 75% siswa kelas X di MAS Tapan mencapai nilai KKM . Rata-rata Kelas: Nilai rata-rata kelas mencapai minimal 75. Aktivitas Siswa: Peningkatan persentase keaktifan siswa . mencapai kategori Baik . inimal 70%). (Sudjana, 2. RESULTS AND DISCUSSION Data hasil penelitian disajikan secara sistematis, dimulai dari kondisi awal (Pra-Siklu. , dilanjutkan dengan hasil dan analisis Siklus I serta diakhiri dengan hasil dan analisis Siklus II, yang mencerminkan upaya peningkatan kemampuan pemahaman siswa. Kondisi Pra-Siklus Kondisi Pra-Siklus adalah tahap pengumpulan data awal yang dilakukan melalui pre-test untuk mengukur kemampuan pemahaman siswa sebelum intervensi menggunakan media audio visual. Hasil Tes Awal (Pre Tes. Indikator Jumlah Siswa (N) Nilai Maksimum Nilai Minimum Nilai Rata-rata Kelas KKM Jumlah Siswa Tuntas (Ou KKM) Presentase Ketuntasan Klasikal Nilai 10 siswa 33,3% Hasil Pra-Siklus menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman siswa pada materi SKI berada pada tingkat yang rendah. Nilai rata-rata kelas 64,8 jauh di bawah KKM 75. Hanya 33,3% siswa yang tuntas secara individu. Jadi, kondisi ini memperkuat kebutuhan untuk segera dilakukan Tindakan perbaikan. Hasil Observasi Awal Pengamatan di kelas permasalahan utama yaitu: Pra-Siklus . Keaktifan: Hanya sekitar 40% siswa yang terlihat aktif dalam bertanya atau Sebagian besar siswa . %) lainnya hanya mendengarkan. Perhatian: Siswa cenderung mudah bosan dan terdistraksi, terutama pada pertengahan jam pelajaran . evel perhatian hanya sekitar 55%). Gaya Mengajar: Guru dominan menggunakan metode ceramah dan membaca buku teks, tanpa menggunakan media visual pendukung. Siklus I Siklus I difokuskan pada pengenalan dan implementasi media audio visual . ideo dokumenter/animasi sederhan. sebagai intervensi utama dengan materi tentang Masa Khulafaur Rasyidin. Perencanaan Tindakan Siklus I Menyusun RPP SKI tentang Khulafaur Rasyidin. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Menyiapkan proyektor, speaker dan video pembelajaran yang relevan dan Menyusun soal post-test 1 untuk mengukur pemahaman setelah tindakan. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Tindakan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Guru menyajikan materi dengan memadukan ceramah singkat serta penayangan video audio visual berdurasi 15-20 menit. Siswa diminta mencatat poin-poin penting dan merangkumnya. Diskusi dilakukan secara klasikal setelah penayangan. Hasil Observasi Siklus I Indikator Observasi Perhatian terhadap media Keaktifan bertanya/menjawab Kinerja guru dalam penggunaan media Rata-rata Keaktifan Kelas Presentase Keterangan Keaktifan Siswa Meningkat signifikan Ada peningkatan, namun belum merata Penggunaan media berjalan baik 73,3% Kategori cukup baik Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan perhatian siswa yang terutama saat media audio visual ditayangkan. Siswa menjadi lebih fokus karena materi yang abstrak dapat divisualisasikan. Hasil Tes Akhir Siklus I (Post-test . Indikator Nilai Nilai rata-rata kelas Jumlah siswa tuntas (Ou KKM . Presentase ketuntasan klasikal 20 siswa 66,7% Peningkatan dari Pra-Siklus Naik 9,1 poin Naik 10 siswa Naik 33,4% Meskipun terjadi peningkatan yang cukup signifikan . ata-rata kelas naik dari 64,8 menjadi 73,9 dan ketuntasan klasikal dari 33,3% menjadi 66,7%). Namun. Kriteria Keberhasilan Tindakan (KKT) . % ketuntasan klasika. belum Refleksi menunjukkan bahwa: Penggunaan media audio visual sudah efektif, namun interaksi siswa dengan media masih bersifat satu arah . elihat dan mencata. A Masih ada beberapa siswa yang kesulitan dalam menganalisis informasi dari video (C. serta hanya mencatat informasi dasar (C. Siklus II Siklus II dilakukan untuk memperbaiki kekurangan di Siklus I dengan fokus pada peningkatan interaksi siswa setelah penayangan media audio visual, dengan materi tentang perkembangan Islam pada Masa Dinasti Umayyah. Perencanaan Tindakan Siklus II Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Merevisi RPP dengan menambahkan teknik Diskusi Kelompok Kecil . isalnya Numbered Heads Togethe. setelah penayangan video. Menyiapkan media audio visual yang lebih kaya grafis dan narasi yang menantang analisis siswa. Menyusun soal post-test 2 yang lebih menekankan pada kemampuan analisis dan interpretasi (C. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Guru melaksanakan tindakan dengan langkah-langkah: . Apersepsi dan motivasi, . Penayangan media audio visual tentang Dinasti Umayyah, . Pembentukan kelompok serta Diskusi Terstruktur menggunakan lembar kerja berdasarkan video yang ditayangkan, . Presentasi hasil diskusi oleh perwakilan kelompok, dan . Post-test 2. Hasil Observasi Siklus II Indikator Observasi Perhatian terhadap media Keaktifan bertanya/menjawab/diskusi Kerjasama kelompok Rata-rata Keaktifan Kelas Presentase Peningkatan dari Keaktifan Siklus I Siswa Naik 15% Naik 20% 87,7% Sangat Tinggi Kategori Sangat Baik Pada siklus II, terjadi peningkatan drastis pada keaktifan siswa. Strategi diskusi kelompok setelah penayangan video tersebut membuat siswa termotivasi untuk menyimak video lebih cermat karena mereka harus menggunakan informasi tersebut dalam diskusi. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kombinasi media audio visual dengan metode interaktif ini sangat efektif (Sanjaya, 2. Hasil Tes Akhir Siklus II (Post-Test . Indikator Nilai rata-rata Jumlah siswa tuntas (Ou KKM Presentase Nilai Peningkatan dari Siklus I 81,5% Naik 7,6 poin Peningkatan dari Pra-Siklus Naik 16,7 poin Naik 16 siswa Naik 6 siswa 86,7% Naik 20% Naik 53,4% Hasil Post-Test 2 menunjukkan bahwa Kriteria Keberhasilan Tindakan (KKT) telah tercapai. Nilai rata-rata kelas mencapai 81,5% dan presentase ketuntasan klasikal mencapai 86,7% . elebihi target 75%). Peningkatan ini menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual yang disempurnakan dengan teknik pembelajaran interaktif ini berhasil secara signifikan meningkatkan kemampuan pemahaman siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Rekapitulasi Hasil peningkatan Tahap Pra-Siklus Siklus I Siklus II Ratarata Nilai Ketuntasan Klasikal Keterangan 33,3% 66,7% 86,7% Gagal/Perlu tindakan Belum mencapai KKT Mencapai KKT Jadi. Hasil penelitian tindakan kelas ini secara tegas menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran audio visual terbukti efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan pemahaman siswa kelas X di MAS Tapan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Pembahasan ini mengulas temuan penelitian dengan membandingkannya dengan teori hingga hasil penelitian sejenis. Peran Media Audio Visual dalam Meningkatkan Pemahaman Peningkatan signifikan dari Pra-Siklus . ,3%) hingga Siklus II . ,7%) ini mendukung hipotesis tindakan. Media audio visual, yang menyajikan informasi secara visual dan auditori, ternyata berhasil mengatasi kelemahan utama pembelajaran SKI yang didominasi oleh ceramah: keabstrakan materi sejarah. Menurut Suryani . , salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran sejarah yaitu kesulitan siswa dalam melakukan re-imagining peristiwa masa lalu. Video atau animasi dalam media audio visual memberikan gambaran visual yang konkrit tentang lokasi, tokoh hingga suasana zaman yang secara langsung memfasilitasi proses pemahaman konseptual siswa. Ketika siswa melihat peta jalur perdagangan atau visualisasi benteng peninggalan Dinasti Umayyah, konsep yang dijelaskan dalam buku teks menjadi lebih nyata dan mudah diingat. Analisis Perubahan Kualitas Pembelajaran Peningkatan kemampuan pemahaman sejalan dengan peningkatan keaktifan siswa . ari 55% rata-rata awal menjadi 87,7% di Siklus II). Siklus I: Peningkatan ketuntasan dari 33,3% ke 66,7% menunjukkan bahwa media audio visual saja sudah memberikan dampak positif yang besar dalam menarik perhatian hingga mentransfer informasi. Namun, kegagalan mencapai KKT menunjukkan bahwa pemahaman yang lebih dalam . evel analisis/C. masih belum Hal ini selaras dengan temuan Arsyad . yang menyatakan bahwa media yang baik harus didukung oleh strategi instruksional yang tepat. Siklus II: Perbaikan pada Siklus II dengan mengintegrasikan media audio visual dengan diskusi kelompok terstruktur (Numbered Heads Togethe. berhasil mencapai KKT . ,7%). Strategi ini memaksa siswa untuk tidak hanya menyerap informasi pasif, namun juga memproses, menganalisis dan menginterpretasikan informasi yang mereka dapat dari video untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan di lembar kerja Aktivitas sosial ini seperti diskusi memicu konstruksi pengetahuan yang lebih mendalam, mengubah siswa dari penerima pasif menjadi partisipan aktif dalam pemahaman materi (Hidayat, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Relevansi dengan Teori Belajar Temuan ini sangat relevan dengan prinsip teori kognitif yang menekankan bahwa pentingnya organisasi dan visualisasi informasi untuk memfasilitasi proses penyimpanan serta pemanggilan memori. Ketika informasi diterima melalui 2 saluran . udio dan visua. secara bersamaan, terjadi penguatan jejak memori yang menghasilkan pemahaman yang lebih kuat dan tahan lama (Ma'ruf, 2. Selain itu, media audio visual juga secara efektif merangsang motivasi intrinsik. Pembelajaran SKI yang dikemas secara menarik melalui video mengurangi persepsi bahwa pelajaran sejarah adalah pelajaran yang membosankan, sehingga secara tidak langsung meningkatkan self-efficacy siswa serta keinginan mereka untuk mencapai ketuntasan (Supriadi, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya bahwa media inovatif merupakan kunci untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran mata pelajaran humaniora di madrasah, asalkan media tersebut diintegrasikan dengan metode pembelajaran aktif yang mendorong interaksi dan analisis. Kegagalan di Siklus I ini menjadi pembelajaran penting bahwa media adalah alat, bukan tujuan dan efektivitasnya bergantung pada desain intervensi guru di dalam pelaksanaannya. CONCLUSION Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada Penelitian Tindakan Kelas yang telah dilakukan di kelas X di MAS Tapan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: . Penerapan media pembelajaran audio visual dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini telah berhasil meningkatkan kemampuan pemahaman siswa kelas X di MAS Tapan. Peningkatan ini ditunjukkan dari data ketuntasan klasikal dan nilai rata-rata kelas dari PraSiklus hingga Siklus II. Kemampuan pemahaman siswa mengalami peningkatan yang Pada kondisi Pra-Siklus, persentase ketuntasan klasikal hanya 33,3% dengan nilai rata-rata 64,8. Pada akhir Siklus I, persentase ketuntasan meningkat menjadi 66,7% . ata-rata 73,. Peningkatan optimal tercapai pada akhir Siklus II yang di mana persentase ketuntasan klasikal mencapai 86,7% dengan nilai rata-rata 81,5, sehingga Kriteria Keberhasilan Tindakan (KKT) . % ketuntasa. berhasil dilampaui. Peningkatan hasil belajar ini didukung oleh peningkatan keaktifan dan antusiasme siswa dari rata-rata 55% di awal menjadi 87,7% di Siklus II. Kombinasi media audio visual dengan metode pembelajaran aktif . iskusi kelompok terstruktu. terbukti menjadi kunci keberhasilan tindakan, ini karena memaksa siswa untuk terlibat secara kognitif dan sosial dalam memproses informasi sejarah. REFERENCES