JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma1. Misnan Misnan2. Iswahyu Pranawukir3* Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957. Jakarta. Indonesia *prana1enator@gmail. Abstract The purpose of research is to know the cultural ethnic cohesiveness in theconformity of local wisdom, a study of social construction and management of intercultural communication among Chinese citizens in Bogor Regency. By using qualitative descriptive method and analysis, the several findings were First, in the Chinese Village of Inkopad-Inkopol. West Bogor, the cultural cohesiveness has been initiated since the colonial era, through a family approach. The conformity of local wisdom is shown by the involvement of ethnic Chinese in "abangan" Islamic worship. Second, in the Chinese Community Housing Cinere Depok, the cohesiveness is more visible on the socio-economic side. When the Chinese community shows their simplicity of living in a rural village, there is an interaction of closeness and togetherness. There is a kind of inclusiveness. The local cultural conformity is shown through the mixed of Chinese citizens in supporting social and cultural activities. Third, at the Wihara Amurwa Bhumi Cibinong. Chinese Ethnic Communication Forum, the Chinese aremore dominant in showing their organizational character and ancestral culture that they continue to fight for. The cultural cohesiveness occured precisely in an exclusivity strategy. As a result, the exclusivity gave birth to uniqueness, which turned out to be a kind of tourist attraction for the surrounding community. This area is actually very well known for its ethnic performances. Keywords: conformity, cohesiveness, intercultural communication. Tionghoa of Bogor Abstrak Tujuan penelitian ingin mengetahui kohesivitas kultural etnik dalam konformitas kearifan lokal, yang merupakan studi tentang konstruksi sosial dan manajemen komunikasi antarbudaya warga Tionghoa di Kabupaten Bogor. Melalui metode penelitian dan analisis deskriptif kualitatif, didapatkan beberapa hasil Pertama, di Perkampungan Tionghoa Keturunan Inkopad-Inkopol Bogor Barat, kohesivitas budaya sudah dirintis sejak jaman penjajahan, melalui pendekatan kekeluargaan. Konformitas kearifan lokal ditunjukkan oleh keterlibatan etnik Cina dalam peribadatan bernada Islam AuabanganAy. Kedua, di Perumahan Komunitas Tionghoa Cinere Depok, kohesivitas lebih tampak pada sisi sosial ekonomi. Ketika komunitas Cina/Tionghoa menunjukkan kesederhanaannya bermukim pada kampung pedesaan sehingga terjadi interaksi kedekatan dan kebersamaan. Artinya, terjadi semacam inklusivitas. Konformitas budaya lokal ditunjukkan melalui berbaurnya warga Cina dalam mendukung kegiatankegiatan sosial budaya kemasyarakatan. Ketiga, di Forum Komunikasi Etnis Tionghoa wihara Amurwa Bhumi Cibinong, etnis Tionghoa lebih dominan menunjukkan karakter keorganisasiannya dan budaya leluhur yang terusdiperjuangkan. Kohesivitas budaya terjadi justru dalam strategi eksklusivitas. Akibat eksklusivitas ini melahirkan keunikan, yang ternyata membuat semacam daya tarik wisata masyarakat Wilayah ini justru sangat dikenal dengan pertunjukan etniknya. Kata kunci: konformitas, kohesivitas, komunikasi antarbudaya. Tionghoa Bogor PENDAHULUAN Collins dan Raven (Lagu, 2. menyebut kohesivitas sebagai kekuatan yang mampu mendorong seorang anggota kelompok masyarakat tetap menempati domisilinya tanpa meninggalkan lingkar kelompok yang telah menjadi lingkungan Dengan kata lain, kohesivitas Submitted: February 2023. Accepted: March 2023. Published: March 2023 ISSN: 2614-8153 . ISSN: 2614-8498 . Website: http://journal. id/index. php/pustakom JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 merupakan kondisi yang mengikat seorang anggota menjadi nyaman dan tidak memiliki alasan tertentu untuk meninggalkan kelompok tersebut atau mencari kelompok yang baru. Hal ini terjadi pada semua strata ekonomi, dari kalangan atas sampai kalangan yang tidak berpenghasilan. Kohesivitas antara pengangguran misalnya, pada akhirnya membentuk kampung Di daerah perkotaan hal ini merupakan fenomena wajar, mengingat problema pengangguran serta kemiskinan merupakan masalah besar harus dihadapi bangsa Indonesia. (Nurdin et al. , 2. Sampai era pasca reformasi, warga Tionghoa mengekspresikan budaya aslinya dengan tetap merasakan keamanan sosial, terus Bahkan dalam hal tertentu, budaya yang ditunjukkan menjadi keunikan, yang diterima oleh masyarakat sekitar tanpa Budaya mereka tumbuh dalam Tidak ada konflik akibat praktik budaya yang ditunjukkan. Artinya, secara sederhana warga Tionghoa dapat melakukan kompromi dan menjalin kerekatan . dengan lapisan masyarakat dan lingkungan sosial dimana mereka berdomisili. Konformitas merupakan kata sifat dari kompromi yang berkaitan dengan efek sosial (Lubis et al. , 2. Efek ini berdampak secara personal, sehingga individu yang dimaksud berupaya melakukan perubahan terhadap tingkah laku/sikap dirinya sendiri dengan tujuan menyesuaikan diri terhadap norma sosial tempat dia tinggal (Philipus. Sehingga, konformitas kearifan lokal (Lubis et al. , 2. adalah upaya warga Tionghoa yang sama sekali tidak keberatan mengikuti sebagian budaya lokal, namun tetap tidak kehilangan kekhasan budaya Tionghoa asli. Demikian, terminologi judul, yang terkait erat dengan manajemen komunikasi antarbudaya warga Tionghoa. Melihat antarbudaya tidak terlepas dari eksistensi manusia yang memang sudah diliputi AukonflikAy antarbudaya. Keberadaan manusia tidak dapat dilepaskan dari dua hal, yaitu keterbatasan dan ketakterbatasan (Gorda & Anggria Wardani, 2. Dari sisi kewilayahan, manusia sangat terbatas, karena dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam area budaya, dimana manusia tinggal maka di situlah konflik budaya terjadi. Konflik ini dalam konteks rendah ketika manusia tersebut lahir dan menetap di tanah Hal itu akan berbanding terbalik jika manusia itu AumerantauAy kemudian mendiami wilayah budaya Auorang lainAy. Yang kemudian terjadi adalah unsur keterbatasan pribadi yang harus menghargai orang lain. Pada sisi inilah terjadi konformitas, demi ketahanan hidup. Di lain pihak, unsur ketakterbatasan manusia tidak pernah menghilang begitu saja, termasuk dalam hal pembawaan budaya. Dimanapun mereka tinggal mereka tetap ingin mengaktualisasikan budaya aslinya dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi jika mereka hidup dalam sebuah komunitas. Ikatan ini menciptakan kohesivitas, sebuah keinginan untuk tetap menjaga dan melestarikan sisi komunal dengan tetap menjaga konformitasnya. Konformitas demi ketahanan hidup dan kohesivitas bukan merupakan sesuatu yang akan lepas dan berjalan, mengalir begitu saja. Di dalamnya akan berdinamika dalam konflik. Konformitas akan berbentuk perjuangan man against environment, yakni pribadi dengan lingkungan budaya lain, sementara itu kohesivitas akan berbentuk perjuangan man against himself, yakni emosionalitas budaya ibu yang selelau menuntut kanalisasinya. Selanjutnya, antara konformitas dan kohesivitas akan pula berbentuk perjuangan man against man karena akan selalu dalam konteks diterima atau ditolak dengan terus berdinamika dengan tuntutan ideologi, sosial, budaya ataupun hukum. Jika pelakukonformitas dan kohesivitas adalah pihak minoritas, maka KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 unsur ketahanan hidup yang dimaksud tidak akan dapat dilepaskan dari aspek komunikasi, bahkan mungkin dalam dalam konteks yang lebih universal, sebagai alternatif pemecahan masalah. Pada sisi ini komunikasi menjadi sangat penting, mengingat aspek konformitas dan kohesivitas yang dimaksud berintikan faktor Inilah yang membuat penulis tertarik memilih topik kohesivitas dalam konformitas pada penelitian ini. Ditinjau Tionghoa dipengaruhi oleh dinamika politik dan kekuasaan pemerintahan. Budaya Cina pernah terdesak di era Suharto, namun diterima secara terbuka di era Gus Dur (Waluyo, 2. Dengan berbegai dinamika yang ada, etnis Cina dapat dikatakan memiliki daya adaptivitas tinggi atau kecerdasan emosional yang proporsional. Hal ini dapat dikaitkan dengan konsep kecerdasan emosional, yakni kemampuan seseorang mengelola emosi dalam dirinya dan emosi pada orang lain agar menghasilkan output produktif bagi individu atau organisasi (Asrarudin & Dewi, 2. Kecerdasan inilah yang membuat orangorang Cina dapat tinggal di bagian manapun dan dalam situasi apapun. Mereka dapat melihat lingkungan eksternal mereka sebagai suatu potensi untuk mandiri. Secara teoritis lingkungan eksternal tersebut adalah lingkungan yang diidentifikasi adalah variabel sosial ekonomi, pemerintahan, (Andriyanty et al. , 2. Di ujung era Suharto etnis Cina justru merasa sebagai korban era reformasi. Namun demikian, isu Cina sebagai Aupengganggu stabilitasAy terus merebak sampai saat ini. Hal ini tidak luput dari berbagai ketidakpuasan masyarakat tentang berbagai fasilitas negara yang banyak diasumsikan lebih berpihak pada etnis Cina dibanding pribumi. Di beberapa tempat, isu warga Cina yang dianggap masih sebagai oposisi pribumi terus terjadi. Akhirnya kecemburuan sosial terjadi, sebaga i akibat dari dominasi lahan bisnis. Sampai juga stigma bahwa orang Cina sebagaipenjajah. Dari sisi agama, isu ekstrim sebagai hambatan gerakan Islam juga terjadi, misalnya melalui isu kristenisasi serta kebijakan dalam industri- industri yang dominan AudikuasaiAy etnis Cina. Jajaran didominasi oleh etnis Cina, tentunya terhadap konformitas Hal ini agaknya cukup disadari oleh mereka. Hal ini banyak terbukti, yakni demikian banyaknya etnis Cina di daerah/pedesaan yang justru harmonis dengan warga asli. Mereka tetap percaya diri dengan budaya sendiri tetapi mampu berdampingan dengan tradisi lokal. Dari pemaparan tersebut terdapat hipotesis kerja yang berkaitan dengan manajemen komunikasi antarbudaya, antara lain wacana: ada strategi komunikasi antarbudaya tertentu, ada kemampuan kohesif . ampu menempatkan dir. , ada kemampuan konformitas . erbaur dgn budaya kearifan loka. Proses inilah yang menarik untuk didalami. Proses yang dimaksud akan terkait dengan . konstruksi sosial negatif tentang etnis Tionghoa masih sangat dominan sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas etnik. Pemberitaan media dan sentimen budaya lokal terhadap berbagai fenomena politik etnis Tionghoa cenderung memojokkan posisi etnis Tionghoa. Dominasi kesuksesan etnis Tionghoa menjadi kecemburuan sosial yang dalam catatan sejarah sempat menjadikan konflik yang cukup masif. Dibutuhkan kemampuan manajemen komunikasi bagi Tionghoa untuk dapat diterima secara . Terdapat celah kearifan lokal dengan karakteristik terbuka yang menjadi potensi ketahanan hidup bagi etnis Tionghoa. Konformitas sebagai alternatif utama survival budaya meskipun di sisi lain kohesivitas menjadi tuntutan dan dorongan KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 primitif yang abadi (Krisnayana, 2. Dengan demikian, warga Tionghoa memang terus mewarnai dinamika restorasi sosial masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan. Restorasi sosial adalah upaya penguatan kembali solidaritas bangsa Indonesia (Andriyanty & Dewi, 2. Kata kunci dari kohesivitas adalah daya ikat. Daya ikat yang dimaksud bersifat sosiofugal, yakni suatu kekuatan yang Kelompok dengan kohesivitas tinggi dapat dikatakan telah memiliki strategi-strategi menghadapi masalah, kebutuhan dan Di dalamnya telah terjalin erat kebersamaan. Secara fundamental mengakibatkan perubahan pola pikir manusia, cara manusia berinteraksi dengan orang lain serta akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dan berbagai bidang seperti sosial, ekonomi dan politik (Bachri & Muliyati, 2. Kata pemahaman tentang kohesivitas adalahsuatu kondisi kedekatan, kenyamanan seperti halnya keluarga besar dalam sebuah visi dan misi yang saling mendukung satu sama lain. Sifat kohesif akhirnya dapat dipahami sebagai situasi dan kondisi aman, nyaman dan harmonis, sehingga setiap individu di dalamnya merasa bahwa tempat tinggalnya merupakan pilihan paling tepat untuk terus didiami (Fajriyanti et al. , 2. Kohesivitas juga dapat dipahami sebagai atraksi dalam dua level. Pertama, keeratan individu akibat individu lain. Kedua, kelompok lain atau efek dari harmonisasi dengan yang terkondisidari kelompok lain. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat antar para ahli, yakni soal level pertama yang dianggap bukan merupakan bahasan dari kohesivitas. Sebagai contoh misalnya seorang pemain bola yang kemudian AumembelaAy timnya atau club-nya disertai rasa bangga dan rasa memiliki, akibat dari situasi dan kondisi sosial dalam kelompok tersebut yang sangat kondusif dan konstruktif menciptakan harmonisasi dan kenyamanan (Nashir, 2. Dalam arti kesiapan mentalitas lokal untuk beradaptasi. Di seluruh dunia, ada perdebatan tentang bagaimana seharusnya negara terbuka untuk imigran dan melakukan bisnis lintas batas (Misnan et al. , 2. Adapun konformitas dapat dijelaskan dalam beberapa pemahaman. Kata kunci konformitas adalah agresivitas. Jika suatu kelompok memiliki kriteria kebenaran tertentu, maka terjadi sosialisasi tentang nilai dari kebenaran tersebut, misalnya dalam hal AutawuranAy. Jika peristiwa ini dianggap merupakan hal normatif bahkan dianggap sebagai bagian kebenaran yang telah diyakini bersama, maka kejadian AutawuranAy kemudian dianggap sebagai momentum implementatif dari kebenaran yang telah diyakini tersebut (Afiah, 2. Dalam bidang ekonomi, konformitas juga Seorang wanita tentu memiliki kebutuhan ekonomi yang berbeda dengan Konsumerisme akibat kosmetik, pihak wanita lebih dominan dan hal ini telah dimaklumi bersama (Rohmiyati, 2. Konformitas juga berkaitan dengan perilaku seks pranikah di mana remaja akan melakukan perilaku seks pranikah karena prinsip sexual achievement dalam kelompok teman sebayanya (Mualifah & Punjastuti. Dampak konformitas juga dapat berdampak negatif, jika strategi konformitas tersebut tanpa disertai kemampuan memilah dan memilih. Seorang remaja kemudian menjadi pecandu minuman beralkohol hanya karena dirinya merasa penting untuk melakukan sosialisasi dan menjalin keeratan (Zakiah et al. , 2. Jika disimak dalam dunia pendidikan, konformitas positif terjadi dalam bentuk motivasi, misalnya saling berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dalam mengukir prestasi (Hardiansah. Selanjutnya mengenai AuidentitasAy. Dalam memenuhi tuntutan era globalisasi sudah menjadi keharusan adanya sumber KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 daya manusia yang berkualitas (Hendriana, 2. (Misnan & Prisila, 2. Kata global tentu akan terkait dengan semua aspek Sekian banyak aspek budaya, pada akhirnya akan mendorong pelakunya untuk mengaitkan budaya dengan identitas. Strategi untuk menunjukkan identitas tersebut, akan terkait dengan pola-pola Pada konformitas pun, hal yang tetap penting adalah identitas. Identitas merupakan representasi dari keturunan, historitas budaya, jalur kekerabatan sampai pada persepsi, stigma, karakter maupun konteks komunikasi (Yulianto, 2. Kohesivitas tentu terjadi tidak hanya disebabkan oleh penerimaan identitas individu baru, tetapi juga konformitas dari lingkar sosial lama. Melalui pengetahuan tentang identitas, maka proses saling mengidentifikasi Jika dalam proses ini terjalin sinergi dan sinkronisasi, maka identitas tersebut akan berkembang menjadi identitas masyarakat dan seterusnya. Adapun mengenai kultural etnis banyak disebabkan oleh perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Pola hidup masyarakat yang berubah (Alamsyah et al. , selalu akan terkait dengan pola-pola kultural yang terbentuk. Adapun kultural etnik tentunya akan tampak ketika pola-pola tersebut diimplementasikan pada waktu dan momentum tertentu. Terminologi ini mengacu pada sebuah praktik budaya yang diaplikasikan oleh kelompok etnik tertentu. Ciri utama terpenting adalah kemampuan untuk berbagi sifat budaya yang sama. Inilah keunikan dari kultural etnis. Di samping terdapat upaya distributif tetapi juga Maksudnya adalah adanya unit-unit budaya ataupun berbagai hal yang turut membangun substansi unit-unit yangdimaksud sehingga terbentuk karakter budaya yang khas dan relatif homogen (Krisnadi, 2. Identitas kultural etnis menurut Stuart Hall (Danewid, 2. , dapat dibagi dalam dua terminologi, yakni identitas budaya dan Identitas merupakan identitas yang terbentuk sejak zaman nenek moyang berdasarkan urutan Unsur utamanya AupersamaanAy. Dari sebuah genealogi persamaan ini kemudian diketahui bahwa suatu kelompok merupakan satu garis asalusul. Atas kesamaan ini kemudian membentuk simbol-simbol budaya dalam komunitas stabil dan tidak mudah untuk Adapun kultural etnis yang terkait dengan identitas politik merupakan perjuangan mendapatkan positioning di tengah masyarakat tertentu. Pada sisi inilah kesolidan kultural etnik mendapatkan tantangannya, yakni tantangan kompetensi komunikasi antarbudaya. Jadi, komunikasi antarindividu dalam suatu kelompok masyarakat, biasanya terjadi dalam ras berbeda, kesatuan bangsa yang berbeda atau sosial ekonomi yang berbeda, ataupun mix dari unsur-unsur berbeda. Jika kebudayaan merupakan gaya hidup yang diciptakan dan dianut oleh sekelompok individu dan bertahan dari satu usia ke usia lainnya (Kewas & Darmastuti, 2. , maka komunikasi yang terjalin antaranggota masyarakat yang berbeda budaya (Rinjani & Subhani, 2. (Natsir et al. , 2. (Wahyono, 2. Berdasarkan disiplin sosiolinguistik, komunikasi antarbudaya berakar dari persamaan bahasa (Oktavianus, 2. Komunikasi antarbudaya juga menjelaskan hubungan antarindividu serta kelompokkelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda dalam proses berkomunikasi serta berbeda dalam interpretasi. Beberapa kajian pengujian terhadap apa yang terjadi dalam proses interaksi antarbudaya yaitu saat proses komunikasi melibatkan orang-orang yang secara budaya tersebar. Jika budaya mereka sama, maka interaksi simbolik KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 menjadi lebih dominan dalam kesepahaman yang sama, tidak banyak menggunakan caracara verbal, utamanya penggunaan Bahasa. Sebaliknya, jika budaya yang dimaksud berbeda, maka komunikasi verbal . engan mengandalkan bahas. menjadi fenomena yang menonjol. Terdapat seleksi alam di antaranya, misalnya Bahasa Sunda yang kemudian diterima di antara masyarakat Jawa Ae Sunda, maka pola percakapan Sunda akan menjadi dominan. Jika tidak ada yang saling dominan, maka alternatif Bahasa ketiga yang dipilih, misalnya Bahasa Indonesia (Septiani et al. , 2. Permasalahan dalam komunikasi antarbudaya akan muncul Ausaat orang-orang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelompok yang memiliki ciri khas dari sebuah bangsa atau etnis tertentu dan tidak mau melakukan pertukaran ide-ide tentang bagaimana cara menunjukkan identitasnya serta tidak menyetujui norma-norma untuk kepentingan interaksiAy (Darus & Jerry Abdullah, 2. Untuk tercapainya keefektifan komunikasi pengembangan kompetensi antarbudaya pada diri setiapindividu yang merujuk pada keterampilan sangat dibutuhkan sehingga komunikasi antarbudaya yang efektif dapat (Rashid mengidentifikasikan sejumlah keterampilan antarbudaya, yaitu personality strength, adjustment and cultural awareness. Adapun antarbudaya, secara prinsip terdiri dari dua hal, yakni enkulturasi dan akulturasi. Enkulturasi mengacu pada sebuah proses yaitu sebuah kultur di transmisikan pada tiap Proses pengiriman . kultur dilalui dalam proses belajar, bukan gen/keturunan. Enkulturasi di transmisikan melalui lembaga-lembaga seperti orang tua, kelompok sebaya . , sekolah, guru, pemerintahan (Sintowoko, 2. Dengan demikian, akulturasi mengacu pada proses kultural, yaitu kultur seseorang yang dimodifikasikan melalui kontak langsung dengan kultur yang lain. Misalkan, ada sekelompok orang yang berdiam di sebuah kelompok yang memiliki kultur sebelumnya, lama kelamaan kultur dari kelompok orang itu akan dipengaruhi oleh kelompok tuan rumahnya. Cara berprilaku, nilai-nilai bahkan kepercayaannya akan bisa Selanjutnya state of the art penelitian, yang pertama adalah AuPola Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghoa Dengan Masyarakat PribumiAy. Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada pola komunikasi yang terjadi antara etnis Tionghua dengan masyarakat pribumi yang terjadi sejak tinggal di Indonesia khususnya di daerah Kelurahan Mekarsari Tangerang atau biasa disebut dengan Cina Benteng, serta menghubungkannya dalam berbagai konteks kegiatan seperti perkawinan, keagamaan, penggunaan bahasa, prasangka serta nilai sosial dan budaya. Dalam menghadapi persoalan komunikasi antarbudaya, dalam konteks perkawinan campuran, stereotip dapat mempengaruhi penilaian keluarga besar terhadap seseorang yang akan dijadikan pendamping hidup. Begitu kuatnya, persoalan kedua adalah latar belakang personal atau individu pelaku kawin campur. Mayoritas pasangan yang memutuskan melakukan kawin campur harus memiliki pola pikir terbuka terhadap budaya yang dibawa oleh pasangannya, termasuk kepercayaan, nilai dan norma (Putri, 2. Referensi kedua adalah AuKomunikasi Antarbudaya Etnis Tionghoa Dan Pribumi di Kota PalembangAy. Tiga elemen pandangan dunia yang diteliti meliputi agama atau kepercayaan, nilai-nilai dan perilaku, yang merupakan bagian dari teori persepsi budaya menurut Larry A. Samovar. Richard E. Porter dan Edwin R. McDaniel. Agama atau kepercayaan merupakan satu yang hak dan tidak dapat dipaksa. Namun melalui KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 perkawinan antara etnis Tionghoa dan pribumi maka terjadinya perpindahan agama kepada Islam dan Kristen sehingga pandangan keagamaanpun berubah. Selain mengubah cara pandang terhadap nilai-nilai budaya Tionghoa dan Pribumi di kota Palembang. Dengan demikian mendorong perilaku individu menjadi positif dan sekaligus pandangan dunianya (Meilinda Hardi, 2. Referensi ketiga adalah AuKomunikasi Antar Budaya Etnis Tionghoa Dan Penduduk Muslim di Banten (Studi Fenomenologi Etnis Tionghoa Penduduk Muslim di Pantai Tanjung Kai. Komunikasi antarbudaya etnis Tionghoa dengan penduduk muslim di kawasan Pantai Tanjung Kait Tangerang cukup kompleks. Terlihat dari kehidupan bermasyarakat umat beragama yang hidup berdampingan sejak dahulu, sehingga muncul sikap toleransi, partisipasi dan saling menjaga satu sama lain dalam berbagai kegiatan seperti kegiatan agama, budaya, sosial dan ekonomi (Saputra et al, 2. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana manajemen Tionghoa/warga Cina di Kabupaten Bogor? Rumusan tersebut secara rinci mencakup tujuan-tujuan sebagai berikut: . Ingin mengetahui konstruksi sosial etnis Tionghoa di Indonesia. Ingin mengetahui manajemen komunikasi konformitas etnis Tionghoa karakteristik keterbukaan kearifan lokal. Ingin mengetahui manajemen komunikasi kohesivitas etnis Tionghoa dalam memenuhi tuntutan dan tantangan komunal serta strategi menempatkan budaya di tengah pandangan lokal. METODOLOGI PENELITIAN Paradigma yang digunakan adalah Konstruktivisme adalah menginstruksikan realitas yang nampak berdasarkan konseptual yang lahir dari pikiran (Riyantie et al. , 2. Bagi pelaku konstruktivis, bahasa ibarat cetakan es. hanyalah objek yang tidak berbentuk tetapi melalui cetakan akan menjadi bentuk sesuatu dan akan terus bertambah nilainya jika dikonstruksi oleh bahasa. Oleh karena itu, bahasa bukan sebagai ungkapan atas realitas objektif semata, tetapi juga realitas Maksudnya, seorang komunikator sebagai penyampai pesan sangat sentral dalam proses konstruksi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme juga melihat komunikan/decoder menjadi pihak penting dalam perkembangan Dalam hubungan sosial yang syarat dengan interaksi, proses konstruksi bahasa terus berkembang dalam bahasabahasa budaya yang baru. Pandangan konstruksionis melihat kebenaran aktivitas publik bukan realitas yang semestinya, melainkan dibingkai dari Dengan cara ini, konsentrasi penyelidikan pada pandangan dunia konstruksionis adalah untuk menemukan bagaimana peristiwa atau kebenaran tersebut dibangun, dengan cara apa mereka Dalam teori komunikasi, pemahaman tentang konstruksionis ini sering disinggung sebagai pemahaman penciptaan dan pertukaran kepentingan. Konstruktivisme dibenturkan dengan pemahaman positivis atau pemahaman tentang transmisi. Paradigma konstruktivisme tidak mau mengakui pemahaman positivisme yang Konstruktivisme menganggap bahwa bahasa tidak lagi sebagai alat untuk memahami sebuah realita objek belaka dan dipisahkan dari subjeknya sebagai usaha penyampaian pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor utama dalam kegiatan komunikasi serta hubunganhubungan sosial (Karman, 2. KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Jadi penelitian ini ingin menggambarkan bagaimana makna-makna terbangun dalam proses komunikasi antarbudaya etnis Tionghoa di tempat Teknik menggunakan observasi, yakni observasi lapangan secara langsung ke tempat penelitian kemudian membuat catatancatatan hasil wawancara awal dan identifikasi jejak-jejak budaya yang tampak. Selanjutnya adalah wawancara mendalam semi terstruktur untuk memperoleh maknamakna yang disampaikan oleh para Kemudian, studi dokumentasi sinkronisasi data yang diperoleh untuk lebih memperkaya data hasil wawancara verbal dengan potret realitas yang terjadi. Analisis data melalui tahapan deskripsi data, reduksi data dan interpretasi data sampai pada simpulan-simpulan konstruksi bahasa yang dapat ditemukan. Oleh karena itu untuk memaksimalkan peroleh konstruksi-konstruksi bahasa yang ditargetkan, metode pemilihan infoman dilakukan dengan teknik purposive. Sumber data penelitian diperoleh dari 3 tempat penelitian, yakni . Masyarakat Tonghoa generasi ketiga di Inkopol-Inkopad Bogor sebanyak 5 keluarga. Kampung Tionghoa kawasan Limo Cinere sebanyak 5 keluarga dan . Umat Budha di wihara Amurwa Bhumi Cibinong, sebanyak 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kohesivitas Kultural Etnik Kohesivitas kultural etnik dibangun melalui karakter relativitas bahasa. Bahasa sebagai cermin budaya, memiliki makna bahwa semakin besar perbedaan latar belakang budaya akan semakin besar perbedaan komunikasi maupun simbolsimbol non verbal. Semakin menonjol perbedaan antarbudaya, semakin penting kerentanan dan ketidakjelasan dalam proses penyampaian pesan. Namun demikian, kemampuan menyesuaikan bahasa sangat Dimanapun etnis Tionghoa berada, mereka meramalkan, dan mengklarifikasi perilaku orang lain. Dalam hal menerima perbedaan, masyarakat lokal memiliki karakter sangat Hal ini dapat dibuktikan oleh beberapa informan penelitian. Menurut mereka, masyarakat lokal sudah memiliki kesadaran terjadinya perbedaan budaya dalam pranata keseharian. Perbedaan budaya memang sudah sejak lama menjadi Jadi, agar individu baru dengan budaya baru dapat diterima kemudian terjalin keeratan, maka aspek bahasa menjadi media utama. Dari sisi psikologis, kemampuan mengomunikasikan budaya budaya lokal, akan menjadikan komunikasi terjalin Audari hati ke hatiAy. Pendekatan adaptif inilah yang telah dilakukan dengan baik oleh etnis Tionghoa. Komunikasi Audari hati ke hatiAy tersebut dapat dijelaskan berdasarkan tahapan aware, appeal, ask, act, advocate. Tahapan menunjukkan identitas mereka sebagai warga Tionghoa yang egaliter, membaur dan sejajar sebagai WNI. Ketika tahapan ini dapat dilampaui, maka tahapan appeal adalah menunjukkan kekhasan mereka dalam mengaplikasikan budaya-budaya mendeklarasikan sesuatu, kecuali hanya menunjukkan bahwa ada permohonan apresiasi dari asli diri . ultural sel. dalam Selanjutnya adalah act, yakni pro aktif dalam membangun kebersamaan terhadap budaya lain, misalnya dalam berbahasa, dukungan terhadap budaya setempat, mematuhi tata tradisi umum yang sudah terbentuk dan menjaga harmoni. Yang KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 menempatkan diri secara moderat dalam menyikapi perbedaan budaya, sangat kompromistis dengan perbedaan dengan tetap mengedepankan pesan-pesan verbal dan simbolik untuk saling menghargai. Kohesivitas kultural etnik dalam konformitas kearifan lokal, berdasarkan kelompok narasumber dapat dikategorikan sesuai 3 tempat penelitian. Di 3 . tempat penelitian terdapat kekhasan temuan. Kohesivitas budaya sudah dirintis dan terjadi sejak jaman penjajahan, dengan penerimaan masyarakat setempat melalui pendekatan kekeluargaan. Konformitas kearifan lokal ditunjukkan oleh keterlibatan etnik Cina dalam peribadatan yang bernada Islam AuabanganAy. Abangan adalah golongan masyarakat yang menjalankan agama, tetapi masih memegang teguh tradisi-tradisi leluhur, misalnya upacara bersih desa. Proses terjadinya abangan tidak terlepas dari masuknya agama Islam yang melalui jalur Mereka menjalankan perintah agama dengan mengikuti para pemuka meninggalkan tradisi warisan leluhur dalam mitos tertentu. Representasi dari pemaparan tersebut adalah adanya menu sesajen yang ada di rumah warga pribumi dan warga Tionghoa . Gambar 1. Menu Sesajen Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2022. Konformitas dalam Bingkai Komunikasi Antarbudaya Dari hasil sintesa teori, konformitas dapat disimpulkan sebagai suatu jenis pengaruh sosial ketika individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Dengan demikian, konformitas dan norma sosial berkaitan dengan paksaan untuk melakukan sebuah konformitas, sebagai sebuah kenyataan bahwa pada beberapa konteks terdapat aturan-aturan, baik yang secara eksplisit maupun yang tidak terucap. Berbagai aturan yang memungkinkan setiap individu dapat bebas bertingkah laku tersebut pada akhirnya membentuk norma sosial . ocial norm. Norma sosial inilah yang kemudian sangat penting dan strategis bagi individu baru. Konformitas adalah proses dalam diri anggota kelompok untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma yang ada dalam kelompok (Riggio, 2. Konformitas juga suatu jenis pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Beberapa contoh dari konfomitas adalah ketika menengok orang sakit, orang akan membawakan buah atau makanan lainnya. Dengan adanya norma, maka dapat dipastikan bahwa aspek-aspek positif lebih dominan dibanding aspek-aspek Inilah yang membuat etnis Tionghoa tidak terlalu cemas ketika memasuki komunitas baru, karena mereka yakin, norma masyarakat Indonesia sangat egaliter dan inklusif. Jadi, pada awalnya norma dibentuk dari kebiasaan individu yang dapat diterima secara intersubjektif. Oleh karena terdapat kesamaan universal antara enik pribumi dan (Tiongho. , tercapainya harmoni, maka norma individu tersebut akhirnya menjadi normal sosial. Dalam konteks konformitas, kedua budaya (Tionghoa dan pribum. berkembang secara paralel akibat kesadaran universal ini. Dampaknya adalah ketika momentum rutin budaya Tionghoa tampak diaplikasikan dalam kurun waktu tertentu, kemudian menghilang, maka warga setempat juga merasa kehilangan, meskipun mereka menyadari bahwa budaya yang dimaksud bukan milik mereka. Dalam norma terdapat aturan-aturan. Aturan-aturan ini seringkali memberikan KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 pengaruh kuat pada perilaku individu. antaranya, terdapat satu norma yang erat kaitannya dengan konformitas, yaitu norma injungtif (Pambudi & Wisuantari, 2. Norma ini merupakan suatu norma yang menginformasikan tentang apa yang seharusnya dilakukan pada situasi tertentu. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konformitas Beberapa hal yang dimaksud antara lain adalah: pengaruh dari orang-orang yang Orang-orang yang disukai akan Perkataan dan perilaku mereka cenderung akan diikuti atau diamini oleh orang lain yang menyukai dan dekat dengan mereka. Selanjutnya adalah kekompakan kelompok. Pada kampung- kampung di segenap lapisan masyarakat Indonesia, utamanya pedesaan, telah terbentuk kekompakan kelompok, yang sering juga disebut sebagai kohesivitas. Semakin kohesif suatu kelompok maka akan membentuk pola pikir dan perilaku anggota Jika individu etnis Tionghoa memasuki area yang demikian, maka hal pertama yang dilakukan adalah menyatakan keinginan mereka untuk berpartisipasi atau melibatkan diri. Tentu saja, norma sosial setempat tidak akan mengabaikan apalagi menolaknya, meskipun dibutuhkan proses. Faktor selanjutnya adalah ukuran kelompok dan tekanan sosial Konformitas bertambahnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar kelompok tersebut maka akan semakin besar pula kecenderungan kepesertaan, walaupun dalam menerapkan sesuatu akan berbeda dari sebelumnya. Bertambahnya permasalahan dan solusi. Berikutnya juga terdapat norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif. Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma ini akan memengaruhi tingkah laku dengan cara memberi tahu siapa saja mengenai apa yang umumnya dianggap efektif atau bersifat adaptif dari situasi tertentu tersebut. Sementara itu, norma injungtif akan memengaruhi individu dalam menetapkan apa yang seharusnya dilakukandan tingkah laku apa yang diterima atau tidak diterima pada situasi tertentu. Bagi etnis Tionghoa, norma deskriptif dapat dengan mudah diikuti, tetapi tidak demikian dengan norma Namun demikian, etnis Tionghoa mampu mengatasi permasalahan dengan sikap saling membantu. Bagaimanapun, sikap kepedulian merupakan strategi simbolik yang efektif dalam berbagai Adapun di antara sebagian informan juga menyatakan bahwa tidak mudah melakukan konformitas. Secara psikologis, keinginan untuk disukai tetaplah menjadi dorongan natural dalam komunikasi Bagaimanapun. AupersetujuanAy diperlukan, agar individu mendapatkan Oleh karena pada dasarnya banyak orang senang akan pujian maka banyak orang berusaha untuk kompromi dengan Rasa takut akan penolakan tetap ada, tetapi informan sangat yakin jika konformitas penting dilakukan agar individu mendapatkan penerimaan dari kelompok atau lingkungan tertentu. Jika individu memiliki pandangan dan perilaku yang berbeda maka dirinya akan dianggap bukan termasuk dari anggota kelompok dan lingkungan tersebut. Selanjutnya timbul pula keinginan untuk merasa benar. Banyak keadaan menyebabkan individu berada dalam posisi yang dilematis karena tidak mampu mengambil keputusan. Jika ada orang lain dalam kelompok atau kelompok ternyata mampu mengambil keputusan yang dirasa benar maka dirinya akan ikut serta agar dianggap benar. Oleh karena itu, konsekuensi kognitif banyak individu berpikir melakukan konformitas untuk KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 konsekuensi kognitif, agar keanggotaan terhadap kelompok dan lingkungan di mana berada dapat kompromistis. Adapun alasan mengapa Individu tidak melakukan konformitas, setidaknya disebabkan oleh deindividualisasi, ketika individu ingin dibedakan dari orang lain. Individu akan menolak kompromistis karena tidak ingin dianggap sama dengan yang lain. Artinya, karena merasa menjadi orang bebas, maka individu juga menolak untuk AukonformAy karena dirinya memang tidak ingin untuk AukonformAy. Menurutnya, tidak ada hal yang bisa memaksa dirinya untuk mengikuti norma sosial yang ada. Kecenderungan melakukan konformitas akan lebih rendah pada budaya yang menekankan individualitas atau budaya individualis dibandingkan budaya yang menekankan keanggotaan kelompok atau Pada masyarakat lokal merupakan kelompok Dalam proses konformitas, pengaruh dari orang-orang pribumi/lokal yang disukai . rang-orang yang disukai akan memberikan pengaruh lebih besa. Perkataan dan perilaku tokoh lokal cenderung diikuti atau diamini oleh orang Cina yang menyukai dan dekat dengan mereka. Dengan tentang konformitas budaya lokal dan identitas kultural etnik tidak terlepas dari manajemen komunikasi antarbudaya. Etnis Cina pada akhirnya selalu menemukan momentum harmoninya. Inilah bukti strategi konformitas dan pengelolaan pesan kultural etnik yang berhasil. Proses adaptasi budaya itu setidaknya berjalan berdasarkan siklus eksternalisasi, objektivasi, legitimasi, institusionalisasi. Sisi eksternalisasi adalah masyarakat luas yang menyuarakan kedamaian, kompromistis dan saling mencari persamaan dibanding Sisi objektivasi, pengetahuan mengenai hal eksternalisasi tersebut disadari sebagai pesan utama dalam melihat perbedaan budaya, sehingga terbentuk semacam kata kunci dalam bermasyarakat, yakni harmoni. Selanjutnya terdapat legitimasi, yang didukung oleh birokrasi, cendekiawan, akademisi dan mayoritas gerakan sosial, sehingga penguatan terhadap harmoni tersebut justru menemukan karakter bermasyarakat, khususnya dalam menerima Tionghoa. Adapun institusionalisasi, makna harmoni tersebut telah banyak menjadi aturan-aturan tertulis, terutama teks ideologis yang memang selalu ada dalam aturan manapun. Etnis Tionghoa sangat memahami hal ini ditunjang oleh kultur masyarakat Indonesia yang cenderung ramah dalam menerima perbedaan. Tahapan internalisasi didukung oleh agama dan budaya Timur . ilosofi bangsa Timur: saling asah, asih dan asu. yang berkembang secara paralel, sampai pada tahapan yang sangat penting bagi etnis Tionghoa adalah Sosialisasi budaya bagi mereka adalah warisan nenek moyang yang tidak dapat dihilangkan, namun semua patut dipahami hanya dalam konteks internal tanpa sedikitpun terdapat misi memperluas pengaruh apapun. Dari sinilah identitas etnik itu justru dilestarikan dengan dukungan masyarakat Konstruksi sosial etnis Cina dalam kehidupan pedesaan diterima sebagai keunikan yang diterima secara wajar. Dalam konformitas, individu merasa butuh untuk memenuhi harapan kelompok karena individu tidak ingin ditolak dalam Dapat disimpulkan konformitas adalah bentuk sikap penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat atau kelompok karena dirinya terdorong untuk mengikuti kaidah-kaidah serta nilai-nilai yang sudah ada di dalam kelompok. Kohesivitas sebagai daya ikat terjadi karena kekuatan yang seragam dilakukan oleh seluruh anggota kelompok etnis Cina. Terdapat semangat kohesif keutuhan kelompok dalam menyelesaikan masalah KONFORMITAS DAN KOHESIVITAS SEBAGAI MANAJEMEN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA WARGA TIONGHOA DI KABUPATEN BOGOR Agus Hitopa Sukma. Misnan Misnan. Iswahyu Pranawukir JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol 6. No. Maret 2023, hlm 191-204 secara bersama-sama. Hal ini tampak pada saat hari-hari besar agama, warga Cina menunjukkan identitasnya, namun juga mereka sangat pro aktif dalam kegiatan keagamaan yang lain, minimal dalam berbahasa dengan nuansa agama lain, misalnya mengucap syukur ala budaya lain serta meminta maaf dan saling bermaafan di kala lebaran. SIMPULAN Sebagaimana tujuan penelitian, yakni menunjukkan aspek konformitas dan kohesivitas sebagai strategi komunikasi antarbudaya warga Tionghoa, maka fenomena lapangan menunjukkan adanya harmonisasi antara budaya masyarakat pribumi yang dominan islami dengan budaya Cina yang tidak saling menegasikan. Di satu sisi, dalam interaksi simbolik budaya lebih menampilkan corak kekerabatan, meskipun nuansa budaya nenek moyang tetap diperagakan. Untungnya, proses ini saling mendukung, karena Islam tidak menentang penggunaan dupa dan ciri khas etnik Cina lainnya. Kohesivitas di tempat lainnya lebih tampak pada sisi sosial ekonomi, ketika komunitas Cina/Tionghoa menunjukkan kesederhanaannya bermukim pada kampong pedesaan sehingga terjadi interaksi kedekatan dan kebersamaan. Artinya terjadi semacam inklusivitas. Konformitas budaya lokal ditunjukkan melalui berbaurnya warga Cina mendukung kegiatan-kegiatan sosial budaya kemasyarakatan di wilayah lingkungannya. Di tempat terakhir, agak berbeda dengan tempat penelitianterdahulu, maka di wilayah ini etnis Tionghoa lebih dominan menunjukkan karakter keorganisasiannya Jadi, kohesivitas budaya terjadi justru dalam strategi eksklusivitas. Akibat eksklusivitas ini melahirkan keunikan, yang ternyata membuat semacam daya tarik wisata masyarakat sekitar. Wilayah ini justru sangat dikenal dengan pertunjukan etniknya. Eksklusivitas dalam bentuk ritual wihara dan pertunjukan barongsai yang hanya beranggotakan kalangan internal warga wihara. Namun demikian, daya tarik untuk melestarikan kesenian ini justru digemari pula oleh para DAFTAR PUSTAKA