ELASTICITY p-ISSN: 3063-9859 e-ISSN: 3063-9468 Vol. No. 1, 2024 Journal of Applied Engineering Science ANALISIS ARAH PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI NEGERI NEGERI LIMA Fikram S. Watianan1. Willem D. Nanlohy2. Adnan Affan Akbar Botanri3 1, 2, 3 Universitas Pattimura. Jl. Ir. Putuhena. Poka. Ambon. Maluku, 97233. Indonesia Email: fikramwatianan@gmail. Article History Received: 26-07-2024 Revision: 21-08-2024 Accepted: 04-09-2024 Published: 18-09-2024 Abstract. Negeri Lima is one of the countries in Leihitu District. Central Maluku Regency which has an area of 19 km2. On July 13, 2012, there was a mountain avalanche in Negeri Lima due to heavy rain that resulted in the closure of the river which resulted in the construction of the dam. A year later, the dam broke, and the water went directly towards the residents' settlements, destroying part of the residents' houses and infrastructure in Negeri Lima. Seeing the conditions as described, the fact of this research is how the direction of the development of residential areas in Negeri Lima. Leihitu District. Central Maluku Regency. This study aims to find out the direction of the development of residential areas in Negeri Lima. Leihitu District. Central Maluku Regency. The variables used in this study are related to the number of populations, the tragedy of the collapse of the Wae Ela Dam and changes in the location of residents' settlements. The analysis used in this study is by using two analyses, namely qualitative descriptive analysis, and spatial analysis . The results of data analysis show that settlements in Negeri Lima develop to the south and north of the country whose settlements are built following access to highways and coastal routes. But in the southern part of the country, settlement construction has a higher intensity. This is because many people whose houses were destroyed have land owned/inherited at that location. Keywords: Development Direction. Residential Area. Spatial Overlay Abstrak. Negeri Lima merupakan salah satu negeri di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah yang memiliki luas sebesar 19 km2. Pada Tanggal 13 Juli Tahun 2012 terjadi longsoran gunung di Negeri Lima akibat hujan lebat sehingga mengakibatkan tertutupnya aliran sungai yang mengakibatkan terbuatnya bendungan. Setahun setelahnya bendungan tersebut jebol dan airnya mengarah langsung kearah permukiman warga sehingga menghancurkan sebagian rumah warga dan sarana prasarana Negeri Lima. Melihat kondisi seperti yang telah di jelaskan maka fakus penelitian ini adalah bagaimana arah perkembangan kawasan pemukiman di Negeri Lima Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arah perkembangan kawasan pemukiman di Negeri Lima Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Adapun variabel yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu terkait jumlah penduduk, tragedi jebolnya Dam Wae Ela dan perubahan lokasi permukiman warga. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunkan dua analisis yaitu analisis deskriptif kualitatif dan analisis spasial . Hasil analisis data menunjukkan bahwa permukiman di Negeri Negeri Lima berkembang ke arah selatan dan utara negeri yang permukimannya terbangun mengikuti akses jalan raya dan jalur pesisir pantai. Tetapi pada lokasi bagian selatan negeri pembangunan permukiman memiliki intensitas yang lebih Hal ini disebabkan karena masyarakat yang rumahnya hancur mayoritas memiliki tanah milik/waris pada lokasi tersebut. Kata Kunci: Arah Perkembangan. Kawasan Permukiman. Spasial Overlay How To Cite: Watianan. Nanlohy. , & Botanri. A, . Analisis Arah Perkembangan Kawasan Permukiman di Negeri Negeri Lima. ELASTICITY: Journal of Applied Engineering Science, 1 . , 01-09. http://doi. org/10. 54373/elastic. Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA PENDAHULUAN Negeri Lima merupakan salah satu negeri yang berada pada Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah yang dimana perkembangan permukimannya di akibatkan oleh bencana alam. Pada Tanggal 13 Juli Tahun 2012 terjadi longsoran gunung di Negeri Lima akibat hujan lebat sehingga mengakibatkan tertutupnya aliran sungai yang mengakibatkan terbuatnya bendungan. Pada tanggal 25 juli tahun 2013 bendungan tersebut jebol. Jebolnya bendungan yang telah terbentuk kurang lebih setahun ini di akibatkan air bendungan yang terus bertambah di karenakan hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah pulau ambon terutama pada sepekan terakhir. Air dari jebolnya bendungan ini mengarah langsung kearah permukiman warga sehingga menghancurkan ratusan rumah warga dan sarana prasarana Negeri Lima. Akibat dari bencana tersebut masyarakat berduka dikarenakan adanya korban jiwa dan 3 SOA (Neger. hancur di bawa arus air jebolnya bendungan yang sangat Setelah terjadinya tragedi jebolnya Dam Wae Ela, masyarakat Negeri lima yang rumahnya telah hancur mulai membangun ulang rumahnya tetapi sudah tidak lagi pada lokasi terdahulu. Yang dulunya rumah masyarakat lebih berpusat pada area tengah kampung dan dekat dengan jalur aliran sungai kini sudah berpindah lokasi rumahnya ke berbagai arah tetapi ada juga masyarakat yang masih membangun ulang rumahnya pada lokasi yang sama. Sehingga menyebabkan permukiman di Negeri Lima telah menyebar dan berkembang pesat seiring Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui arah perkembangan kawasan permukiman di Negeri Negeri lima. METODE Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu data kualitatif dan kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu survey. Survey yang dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Populasi yang digunakan penelitian ini yaitu Masyarakat Negeri Lima Kecamatan Leihitu untuk masyarakat dengan jumlah 5. Teknik purposive sampling untuk menentukan jumlah sampel sehingga sampel yang digunakan sebesar 30 orang. Metode yang digunakan yaitu untuk mengetahui arah perkembangan kawasan permukiman di Negeri Negeri Lima, peneliti menggunakan 2 analisis yakni analisis deskriptif kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis overlay digunakan untuk mengetahui arah perkembangan kawasan permukiman di Negeri Negeri Lima pada tahun 2012 sebelum terjadi jebolnya Dam Wae Ela dan pada tahun 2024 setelah terjadi jebolnya Dam Wae Ela dalam bentuk peta. Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA HASIL DAN DISKUSI Gambaran Umum Negeri Negeri Lima Negeri Negeri Lima merupakan salah satu negeri yang berada pada Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah dengan luas wilayah sebesar 19 km2. Penduduk asli Negeri Negeri Lima semuanya beragama islam dan terbagi ke dalam 27 fam atau marga asli, dengan fam soulisa sebagai fam pemangku jabatan raja . atarumah parenta. Seperti halnya NegeriNegeri yang di Maluku pada umumnya dan di Leihitu pada khususnya Negeri Lima merupakan Negeri Adat, dimana pada umumnya Negeri ini merupakan Negeri di gunung, yakni masyarakat hidup dan menetap digunung. Saat di gunung kehidupan masyarakat terbagi dan terkonsentrasi atas wilayahnya masing-masing, dengan setiap wilayah dipimpin oleh kepala Negeri-Negeri tersebut tersebar di dalam lima wilayah yang kemudian hari wilayah tersebut dikenal dengan Soa yang ada sekarang, ke Lima wilayah gunung tersebut adalah: Hena Nau menetap di gunung/ Dusun Ulakhatu. Hena Lale menetap digunung/ Dusun Wasi Hedale. Hena Helu menetap di gunung/Dusun Hena. Hena Ulasiahu menetap di gunung/Dusun Hena Nau. Hena Ela Tua menetap di gunung/ Dusun Tuni. Dalam perjalanan waktu, dalam kesadaran hidup bersama dan rasa saling memiliki akhirnya kelima negeri tersebut berkonsensus untuk turun dari negeri digunung dan menetap di wilayah pantai. Mulai saat itulah Negeri Lima yang dikenal sekarang mulailah menjadi satu Negeri yang utuh. Setelah Kelima Negeri di gunung ini bersatu, maka wilayah yang terpisah tadi menjadi bagian yang tak terpisahkan, yang kemudian dikenal dengan sebutan Soa, atau dengan kata lain lima lingkungan adat. Secara geografis Negeri Negeri Lima memiliki batasbatas sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan selat Seram. Sebelah timur berbatasan dengan Negeri Seith. Sebelah selatan berbatasan dengan Negeri Hatu. Sebelah barat berbatasan dengan Negeri Ureng. Kondisi Eksisting Negeri Negeri Lima Kondisi eksisting merupakan keadaan nyata yang ada pada lokasi atau wilayah tertentu. Dalam hal ini kondisi eksisting pada Negeri Negeri Lima yang di ambil meliputi lokasi permukiman Negeri Negeri Lima, wilayah Lokasi Banjir dan lokasi bendungan Wae Ela. Lokasi Permukiman Lokasi permukiman yang paling padat pada Negeri Negeri Lima berlokasi pada pusat Negeri. Hal ini juga dikarenakan pada lokasi permukiman disini tidak terkena bencana dari jebolnya Dam Wae Ela Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA Gambar 1. Permukiman Negeri Negeri Lima Permukiman yang berlokasi pada ujung Negeri lebih renggang diakibatkan karena permukiman disini merupakan permukiman baru yang di bangun diakibatkan jebolnya Dam Wae Ela menghancurkan permukiman warga. Gambar 2. Permukiman Baru Negeri Negeri Lima Lokasi Jebolnya Dam Wae Ela Jebolnya Dam Wae Ela mengakibatkan 470 rumah warga hancur yang dimana 3 Soa (Neger. disapu bersih oleh kuatnya banjir tersebut. Gambar 3. Lokasi Jebolnya Dam Wae Ela Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA Lokasi Bendungan Wae Ela Bendungan yang terbentuk pada tanggal 13 juli 2012 dan jebol pada tanggal 25 juli 2013 ini berlokasi pada gunung Ulak Hatu yang jarak dari permukiman warga ke lokasi itu sekitar 30 menit jalan kaki. Gambar 4. Lokasi Bendungan Wae Ela Analisis Arah Perkembangan Wilayah Perkembangan permukiman di Negeri Lima terjadi akibat Bencana Jebolnya Dam Wae Ela pada tanggal 25 juli 2013 sehingga menyebabkan pembangunan permukiman pada lokasi yang baru. Gambar 5. Peta Digitasi Permukiman Negeri Negeri Lima 2012 Gambar 6. Peta Permukiman Negeri Negeri Lima 2024 Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA Analisis Overlay Overlay merupakan gabungan lebih dari satu peta yang memberikan informasi yang baru dari gabungan keduanya. Hasil overlay peta permukiman Negeri Negeri Lima pada tahun 2012 Gambar 7. Peta Overlay Perkembangan Permukiman Negeri Negeri Lima Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat pada peta di atas bahwa pada tahun 2012 sebelum terjadinya jebol Dam Wae Ela luas permukiman terbangun sebesar 46. 60 ha. Permukiman di Negeri Negeri Lima yang terdiri dari 5 Soa (Neger. yakni Soa Hena Lale. Soa Ela Tua. Soa Ulesiahu. Soa Hena Helu dan Soa Nau semuanya masih terkumpul menjadi 1 wilayah permukiman tanpa ada jarak yang jauh. Semua permukiman di Negeri Negeri Lima masih berfokus pada daerah pesisir yang tergolong dataran rendah yang telah berdiri dari zaman dulu. Pada tahun tersebut semua sarana prasarana penunjang kehidupan masyarakat Negeri Negeri Lima memiliki jarak yang dekat dengan permukiman warga sehingga akses perjalanan tergolong mudah dan cepat. Sarana prasarana penunjang yang dimaksud yakni 3 sekolah dasar yang berlokasi pada Soa Hena Helu yang dimana juga bertempat pada pusat permukiman warga, puskesmas yang berlokasi pada Soa Hena Lale. SMP dan SMA yang berlokasi pada Soa Ela Tua. Semua sarana prasarana tersebut memiliki lokasi yang dekat dengan permukiman warga sehingga memiliki akses yang cepat dan mudah dan tidak ada gangguan dan keluhan yang timbul dari masyarakat terkait jarak. Pada tahun ini juga masyarakat belum terlalu melakukan pembangunan perumahan dikarenakan belum terlalu butuh karena jumlah penduduk yang belum terlalu banyak sehingga wilayah Negeri Negeri Lima masih memiliki banyak lahan yang masih kosong. Sedangkan dari Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA hasil analisis dapat dilihat dari peta di atas bahwa pada tahun 2024 setelah terjadi Jebolnya Dam Wae Ela luas wilayah permukiman terbangun sebesar 63. 48 ha. Perkembangan arah permukiman masyarakat Negeri Negeri Lima terjadi secara signifikan. Hal ini disebabkan karena pada saat jebolnya Dan Wae Ela pada tahun 2013 itu menghancurkan sebagian permukiman masyarakat Negeri Negeri Lima yang dimana 3 Soa yang hancur akibat tragedi 3 Soa tersebut antara lain Soa Hena Helu. Soa Ela Tua dan Soa Ulesiahu yang juga merupakan lokasi dengan permukiman terbanyak dan tempat sarana prasarana penunjang kehidupan masyarakat yakni Puskesmas 3 sekolah dasar dan SMA. Setelah terjadi jebolnya Dam Wae Ela tersebut masyarakat Negeri Negeri lima yang merupakan korban dari tragedi tersebut mulai melakukan pemabangunan permukiman pada lokasi baru dikarenakan pada lokasi lama yang di terjang jebolnya Dam Wae Ela tersebut sudah tidak layak dijadikan lokasi permukiman karena sudah menjadi lokasi yang tandus dan merupakan jalur air ketika terjadi hujan yang lebat. Sehingga masyarakat melakukan pembangunan permukiman kini terpencar ke 2 arah yang berbeda yakni ada yang membangun pada lokasi bagian utara yang berbatasan dengan Negeri Seith dan ada yang membangun pada lokasi bagian selatan yang berbatasan dengan Negeri Ureng. Perkembangan permukimannya dapat dilihat pada peta di atas. Masyarakat yang memilih membangun ulang rumah pada lokasi bagian utara Negeri lebih sedikit ketimbang arah selatan. Hal ini disebabkan karena kebanyakan masyarakat yang rumahnya hancur akibat jebolnya Dam Wae Ela pada tahun 2013 tersebut memiliki lahan/tanah sendiri yang diturunkan dari generasi ke generasi. Setelah terjadinya jebol Dam Wae ela tersebut, selain permukiman masyarakat yang berpindah lokasi, sarana prasarana penunjang kehidupan masyarakat yang terkena imbas tragedi tersebut juga berpindah lokasi. Setelah terjadinya perpindahan lokasi sarana prasarana tersebut, yang sangat berimbas pada kehidupan sehari-hari masyarakat yakni 3 sekolah dasar dan puskesmas. Untuk puskesmas sendiri memiliki jarak yang jauh dari permukiman warga sehingga menimbulkan keluh kesah masyarakat Negeri. Sedangkan untuk 3 sekolah dasar ini yang dulunya berlokasi berdekatan pada lokasi yang sama kini terpencar ke 3 arah yang berbeda yakni SD Negeri 138 Maluku tengah yang berlokasi di bagian ujung timur Negeri Kompleks Latan. SD Negeri 246 Maluku Tengah yang berlokasi di Soa Nau dan SD Negeri 208 Maluku Tengah yang berlokasi pada kompleks Wae Lapu. Sehingga masyarakat yang telah menyekolahkan anak-anaknya pada 3 sekolah dasar tersebut mengeluh akibat permukiman sekarang dan lokasi sekolah memiliki jarak yang jauh. Dari peta di atas dapat disimpulkan bahwa arah perkembangan fisik wilayah Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA dari hasil Overlay perkembangan permukiman tahun 2012 dan tahun 2024 adalah mengikuti jalan yang berfokus pada pembangunan permukiman di kawasan pesisir Negeri Negeri Lima. Perkembangan paling signifikan terdapat pada bagian selatan Negeri Negeri Lima yang dimana pembangunan permukimannya berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Hal ini juga tidak menutup kemungkinan akan ada juga banyaknya pembangunan di bagian utara Negeri kedepannya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa diketahui pada tahun 2012 sebelum jebolnya Dam Wae Ela, permukiman di Negeri Negeri Lima terkumpul menjadi 1 kesatuan yang di mana terdiri dari 5 Soa (Neger. dengan luas permukiman sebesar 60 ha. Tetapi, setelah terjadinya bencana jebol Dam Wae Ela pada tahun 2024 3 dari ke 5 Soa tersebut hancur tak tersisa sehingga menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat Negeri Negeri Lima. Akibat bencana tersebut, masyarakat Negeri Negeri Lima mulai membangun ulang permukimannya pada lokasi yang baru sehingga menyebabkan perkembangan kawasan pada lahan yang baru dengan luas permukiman sebesar 63. 48 ha. Hal ini dikarenakan lokasi permukiman yang dulu tersapu jebolnya Dam Wae Ela sudah tidak layak huni dan kecemasan masyarakat ketika membangun ulang rumah pada lokasi dulu akan terjadi bencana yang terulang kembali. Dari pembangunan permukiman yang terjadi, diketahui permukiman di Negeri Negeri Lima berkembang ke arah selatan dan utara negeri yang permukimannya terbangun mengikuti akses jalan raya dan jalur pesisir pantai. Tetapi pada lokasi bagian selatan negeri pembangunan permukiman memiliki intensitas yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang rumahnya hancur mayoritas memiliki tanah milik/waris pada lokasi REKOMENDASI Dari hasil penelitian tentang arah perkambangan wilayah di Negeri Negeri Lima Adapun beberapa rekomendasi saran yakni: Kajian lebih lanjut sangat diperlukan tentang perkembangan wilayah pada lokasi yang termasuk perkembangan wilayah rendah dan tinggi agar adanya pemerataan pembangunan dan kelengkapan sarana prasarana yang memadai. Permukiman yang terbangun sekarang mengikuti pesisir pantai hendaknya dibatasi mengingat potensi gempa dan bencana tsunami jika terjadi di kemudian hari. Sehingga perlu di buat regulasi terkait pembatasan penggunaan lahan pada area pesisir Watianan et al. Analisis Arah perkembangan Kawasan PermukimanA REFERENSI