Hasil Penelitian Diserahkan: Juni 2026 / Direvisi: Juni 2026 / Diterima: Juni 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716-151X e-ISSN: 2722-869X Biologi Reproduksi dan Faktor Kondisi Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. di Perairan Danau Toba Reproductive Biology and Condition Factors of Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. in Lake Toba Waters Novi Kristina Sinabutar. Agung Setia Batubara* Program Studi Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Medan. Medan, 20221. Indonesia *Penulis Koresponden: agungsbb@unimed. Abstrak. Danau Toba mengalami peningkatan spesies ikan introduksi sehingga perlu dikaji aspek biologi reproduksi dan faktor kondisi untuk memahami potensi invasifnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biologi reproduksi dan faktor kondisi ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. di perairan Danau Toba. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari Ae Maret 2026 di tiga stasiun pengamatan di Kecamatan Pangururan menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui penangkapan ikan menggunakan bubu, pengukuran kualitas air, pengamatan morfologi, aspek biologi reproduksi ikan serta faktor kondisi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. partipentazona memiliki tingkat kematangan gonad (TKG) yang bervariasi (TKG IAeIV), nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) betina . ,046 - 0,090%) lebih tinggi dibandingkan jantan . ,006 - 0,020%) diseluruh stasiun pengamatan, ukuran pertama kali matang gonad betina . ,58 Ae 56,89 m. lebih besar dibandingkan jantan . ,81 Ae 46,13 m. , serta nilai fekunditas berkisar antara 194 Ae 361 butir telur dengan hubungan yang berkorelasi positif dengan panjang dan bobot tubuh. Dimorfisme seksual tampak pada warna tubuh dan bentuk tubuh ikan. Nilai faktor kondisi berkisar 0,97Ae1,32 yang menunjukkan kondisi fisiologis ikan yang baik dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan serta Strategi reproduksi yang efisien ini mengindikasikan potensi adaptasi yang tinggi dari P. partipentazona di ekosistem Danau Toba. Kata Kunci: biologi_reproduksi. danau _toba. faktor_kondisi. puntigrus_partipentazona Abstract. The increasing occurrence of introduced fish species in Lake Toba highlights the need to investigate their reproductive biology and condition factor to understand their invasive potential. This study aimed to analyze the reproductive biology and condition factor of Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. in Lake Toba. The study was conducted from January to March 2026 at three sampling stations in Pangururan District using a survey method with purposive sampling. Data were collected through fish trapping using fish traps, water quality measurements, morphological observations, reproductive biology assessments, and laboratory analysis of condition factor. The results showed that partipentazona exhibited gonadal maturity stages (GMS) I - IV. The female gonadosomatic index (GSI 0,046 Ae 0,090%) was higher than that of males . ,006 Ae 0,020%) at all stations. The length at first maturity was greater in females . ,58 Ae 56,89 m. than in males . ,81 Ae 46,13 m. Fecundity ranged from 194 - 361 eggs and was positively correlated with body length and weight. Sexual dimorphism was observed in body coloration and shape. The condition factor ranged from 0,97 Ae 1,32, indicating good physiological condition and a favorable environment for growth and reproduction. These findings indicate a high adaptive potential of P. partipentazona in the Lake Toba ecosystem. Keywords: reproductive_biology. lake_toba. condition_factor. Puntigrus_partipentazona DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Danau Toba merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Danau ini memiliki nilai geologis sekaligus berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies organisme akuatik seperti ikan, plankton, moluska, dan makrozoobentos, serta berperan penting secara sosial-ekonomi melalui sektor perikanan, budidaya, pariwisata, dan penyediaan air . Kondisi ekosistemnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kecerahan, dan kandungan nutrien yang mempengaruhi struktur komunitas di Ikan sebagai salah satu komponen biotik utama berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan ikan asli seperti Neolissochilus thienemanni menghadapi lingkungan dan introduksi spesies asing. Introduksi ikan merupakan proses pemasukan spesies ikan baru ke dalam suatu perairan yang sebelumnya tidak menjadi habitat alaminya. Kehadiran spesies introduksi dapat menimbulkan dampak negatif seperti kompetisi dengan ikan asli, penyebaran penyakit, serta perubahan struktur komunitas apabila spesies tersebut berkembang secara invasif . Spesies yang mampu berpindah ke habitat baru umunya memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan, sehingga dapat bertahan hidup dan berkembang biak dengan baik pada lingkungan tersebut . Di beberapa ekosistem perairan di Indonesia, introduksi ikan seperti nilem (Osteochilus hasselt. , nila (Oreochromis niloticu. , dan mujair (Oreochromis perubahan komposisi komunitas ikan asli. Fenomena serupa kini mulai menjadi perhatian di Danau Toba yang mengalami tekanan akibat masuknya spesies ikan introduksi invasif seperti Amphilophus labiatus. Aplocheilus panchax. Cyprinus carpio. Mystacoleucus marginatus. Oreochromis mosambicus, niloticus, dan Parambassis siamensis dan baru-baru ini tercatat spesies baru yaitu Puntigrus partipentazona atau yang lebih dikenal dengan nama Tiger Barb . Spesies ini merupakan salah satu jenis ikan hias dari daerah Lembah Mekong. Mae Khlong, dan Chao Phraya di Thailand dan Semenanjung Malaysia diduga masuk pelepasan ikan hias. Ikan ini bersifat aktif, omnivora, dan cenderung agresif, sehingga berpotensi menjadi kompetitor bagi ikan lokal terutama pada fase larva dan juvenil . Keberhasilan suatu spesies menjadi invasif sangat ditentukan oleh kemampuan reproduksinya seperti fekunditas tinggi, ukuran matang gonad kecil, dan tingkat keberhasilan pemijahan baik, maka populasi ikan ini berpotensi berkembang secara eksponensial dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, kajian biologi reproduksi menjadi penting untuk memahami dinamika populasi P. Selain lain itu, faktor kondisi . ondition facto. juga penting untuk diteliti karena menggambarkan tingkat kesehatan dan ketersediaan energi ikan, serta dapat mencerminkan kondisi lingkungan yang ditempati ikan, dimana nilai yang tinggi menunjukkan kondisi pertumbuhan, sementara nilai yang rendah bisa mengindikasikan adanya tekanan lingkungan atau kompetisi dengan spesies Hingga saat ini, informasi mengenai biologi reproduksi dan faktor kondisi P. partipentazona di Danau Toba, khususnya di wilayah Kecamatan Pangururan masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena keberadaan spesies ini di Danau Toba baru dilaporkan oleh Batubara et al . , sehingga kajian mengenai aspek biologi reproduksi dan faktor kondisi belum banyak dilakukan. Keterbatasan informasi tersebut perlu pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis biologi reproduksi dan faktor kondisi P. Hasil diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah sebagai dasar kajian ekologi perairan tawar dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Danau Toba. Metode Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi pengambilan sampel dalam penelitian ini berada pada perairan Danau Toba. Kecamatan Pangururan. Kabupaten Samosir. Provinsi Sumatera Utara. Pengambilan sampel ikan dilakukan pada 3 titik stasiun yang mewakili daerah perairan Peta lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 1. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Negeri Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari Ae Maret 2026. Gambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara selektif berdasarkan terwakilnya kondisi perairan Danau Toba di Kecamatan Pangururan. Pengambilan sampel dilakukan pada pukul 00 WIB secara serentak di ketiga stasiun dengan menyesuaikan kondisi perairan Danau Toba. Sampel kemudian diawetkan dengan formalin 10% dan identifikasi jenis kelamin, pengukuran penimbangan gonad, analisis aspek biologi reproduksi dan perhitungan faktor kondisi. Seluruh data yang diperoleh selanjutnya dianalisis, disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik, kemudian kesimpulan penelitian. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian diawali dengan pengambilan sampel ikan menggunakan bubu sebanyak 100 ekor yang terdiri dari 50 ekor jantan dan 50 ekor betina, serta pengukuran kualitas air . uhu, pH. DO dan kekeruha. di setiap stasiun penelitian. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan dengan penangkapan ikan menggunakan bubu di tiga stasiun penelitian di perairan Danau Toba di Kecamatan Pangururan, yang dilanjutkan dengan pengukuran kualitas air. Sampel ikan kemudian memperoleh data morfometrik, jenis kelamin, aspek biologi reproduksi yang meliputi TKG. IKG, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas, dimorfisme seksual, serta faktor kondisi ikan. Analisis Data Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Penentuan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada P. secara morfologis disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Secara Visual . TKG Betina Jantan Ikan Muda Ovarium menyerupai sepasang benang Testis tampak seperti sepasang benang yang memanjang hingga bagian depan namun lebih pendek dibandingkan ovarium rongga perut, berwarna bening dan pada ikan betina pada stadium yang sama permukaan licin, serta belum terlihat adanya dan berwarna jernih, belum ada sperma. Masa Perkembangan Ovarium mengalami perubahan warna Testis berwarna putih pucat dan terlihat menjadi putih pucat hingga kuning pucat, lebih besar dibandingkan gonad tingkat I. mengisi A1/4 rongga perut dan butiran telur sangat halus. i Dewasa Ovarium mengisi hampir setengah rongga Testis mengisi hampir setengah rongga perut, telur-telur mulai tampak dengan mata perut dan berwarna putih susu. telanjang berupa butiran halus, gonad berwarna kuning. Matang Ovarium berwarna kuning tua/orange dan Testis semakin besar dan pejal berwarna mengisi sebagian besar rongga perut serta putih susu pekat dan mengisi sebagian butir telur semakin besar, seragam dan jelas besar rongga perut. Mijah Testis bagian anal telah kosong dan lebih Ovarium masih seperti pada tingkat IV, sebagian gonad kempes karena telah mengalami oviposisi . Indeks Kematangan Gonad (IKG) Persamaan yang digunakan untuk menghitung nilai IKG yaitu . yaAyci yayaya = ycu 100% yaAyc Keterangan: IKG = Indeks kematangan gonad = Bobot gonad . = Bobot tubuh ikan total . partipentazona pertama kali mencapai kematangan gonad (M) adalah metode Spearman-Karber dengan rumus yaitu . ycu yco = . cuyco ( )] Oe . cu Oc ycEyc. Sehingga. Lm = antilog m ycaycuycycnycoycuyci yco = yco Keterangan: kematangan gonad pertama A 1,96Ooycu 2 Oc Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Metode yang digunakan untuk rata-rata ycyycnycuycycn ycuycn Oe 1 xk = log nilai tengah kelas panjang yang terakhir ikan telah matang gonad = log pertambahan panjang pada nilai tengah = proporsi ikan matang gonad pada kelas panjang ke-i dengan jumlah ikan pada selang panjang ke-i = jumlah ikan pada kelas panjang ke Data yang berdistribusi normal kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas sebagai syarat analisis parametrik. Apabila data memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas, maka dilakukan uji t (Independent Sample t-tes. Namun, apabila data tidak memenuhi asumsi normalitas, maka analisis dilakukan menggunakan uji nonparametrik yaitu uji Mann-Whitney U. Fekunditas Fekunditas dapat diamati pada individu ikan yang berada pada TKG i dan IV. Perhitungan fekunditas dilakukan menggunakan rumus yaitu . ya ya= ycuycA yaycu Keterangan: = Fekunditas = Bobot gonad total = Bobot sub gonad = jumlah telur dalam sub gonad Selanjutnya, fekunditas dianalisis hubungannya dengan panjang dan berat tubuh ikan menggunakan analisis regresi A Hubungan antara fekunditas dinyatakan dengan persamaan ya = ycayayca A Hubungan antara fekunditas dengan berat tubuh dinyatakan dengan persamaan ya = ycaycO yca Keterangan: = Fekunditas = Panjang tubuh = Berat tubuh . a dan b = konstanta regresi Faktor Kondisi Perhitungan faktor kondisi diawali dengan analisis hubungan antara panjang dan berat tubuh ikan menggunakan persamaan . W = aLb Keterangan: = berat tubuh ikan . = panjang total ikan . a dan b = nilai konstanta yang diperoleh dari hasil regresi. Nilai konstanta a dan b ditentukan melalui transformasi persamaan ke dalam bentuk linier, yaitu: Log W = log a b log L Berdasarkan persamaan hubungan panjang-berat dilakukan analisis faktor kondisi untuk menggambarkan tingkat kegemukan P. Apabila nilai b O 3, yang menunjukkan pola pertumbuhan alometrik, maka faktor kondisi dihitung menggunakan ycO ya= ycayayca Sedangkan apabila nilai b = 3 yang menunjukkan pola pertumbuhan isometrik, maka faktor kondisi dihitung dengan 105 ycO ya= ya3 Keterangan: : faktor kondisi : berat tubuh ikan . : panjang total ikan . Nilai faktor kondisi (K) digunakan untuk menilai kondisi tubuh ikan, dimana jika nilai K > 1 menunjukkan kondisi tubuh ikan yang baik, sedangkan nilai K < 1 menunjukkan kondisi tubuh ikan yang kurang baik. Dimorfisme Seksual Pengukuran dimorfisme seksual menggunakan metode morfometrik dan berdasarkan perbedaan warna tubuh ikan . Parameter yang digunakan dalam analisis morfometrik meliputi: Panjang total (PT). Panjang standar (PS). Panjang sirip dorsal (PSD). Panjang sirip anal (PSA). Panjang sirip pektoral (PSP). Tinggi badan (TB) dan Diameter mata (DM). Data morfometrik yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas. Hasil dan Pembahasan ekor, yang terdiri dari 50 ekor jantan dan 50 ekor betina yang dikaji aspek biologi Komposisi tangkap P. partipentazona tersaji dalam Tabel 2. Komposisi Tangkap Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Ikan P. partipentazona yang ditangkap selama penelitian berjumlah 100 Tabel 2. Komposisi Tangkap Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Stasiun Stasiun I Stasiun II Stasiun i Jumlah Jantan Betina Kisaran Total Tangkap Panjang . Berat . Jantan Betina Jantan Betina 28,76-41,69 39,99-59,19 0,43-1,15 1,2-3,27 30,8-47,53 48,3-59,61 0,51-1,67 1,87-3,46 31,16-48,66 46,51-60,94 0,55-1,76 1,65-3,48 Jumlah meningkat dari stasiun I hingga stasiun i, yang mengindikasikan adanya perbedaan tingkat kelimpahan populasi atau kondisi habitat antar lokasi. Perbedaan jumlah antara jantan dan betina pada setiap stasiun tidak terlalu besar, sehingga kondisi ini menunjukkan bahwa komposisi jantan dan betina pada setiap stasiun relatif seimbang sehingga dapat mendukung keberlangsungan reproduksi populasi. Biologi Reproduksi Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Hasil Tingkat Kematangan Gonad (TKG) P. partipentazona jantan dan betina secara morfologi disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Stasiun Jenis kelamin Jantan Stasiun I Betina Jantan Stasiun II Betina Jantan Stasiun i Betina TKG i i i i i Jumlah sampel . TKG II TKG i TKG IV Gambar 2. Morfologi Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Betina Gambar 2 memperlihatkan bahwa partipentazona betina pada TKG II yang ditandai dengan gonad mulai membesar, berwarna kuning pucat, mengisi A1/4 rongga perut dan butiran telur terlihat sangat halus. Pada TKG i ditandai dengan gonad yang membesar dibandingkan pada TKG II, berwarna kuning, mengisi A1/2 rongga perut dan telur mulai tampak jelas dengan mata telanjang. Pada TKG IV ditandai dengan gonad besar dan padat, berwarna kuning tua, mengisi A3/4 rongga perut dan telur terlihat besar dan seragam . TKG I TKG II TKG i Gambar 3. Morfologi Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan berwarna putih pucat, dan mulai Pada TKG i ditandai dengan gonad membesar, berwarna putih susu, mengisi A1/2 rongga perut dan sperma belum keluar spontan . Persentase (%) Persentase (%) Gambar 3 memperlihatkan bahwa partipentazona jantan pada TKG I yang ditandai dengan gonad sangat kecil dan tipis, transparan, dan belum ada sperma. Pada TKG II ditandai dengan gonad sedikit membesar dibandingkan pada TKG I. TKG II TKG I Selang Kelas . TKG IV TKG i TKG II Selang Kelas . Persentase (%) Persentase (%) Gambar 4. Distribusi Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. pada Stasiun I TKG i TKG II TKG I Selang Kelas . TKG IV TKG i TKG II Selang Kelas . Gambar 5. Distribusi Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. pada Stasiun II Persentase (%) Persentase (%) TKG i TKG II TKG I Selang Kelas . TKG IV TKG i TKG II Selang Kelas . Gambar 6. Distribusi Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. pada Stasiun i Distribusi TKG pada ketiga stasiun juga menunjukkan bahwa peningkatan ukuran tubuh ikan diikuti dengan TKG (Gambar 4-. , menandakan fase reproduktif aktif, sejalan dengan penelitian Mujtahidah et al . pada Puntius binotatus yang menunjukkan variasi TKG serta peningkatan aktivitas reproduksi pada musim tertentu. Ikan jantan pada penelitian ini didominasi oleh TKG I-II, sedangkan betina mencapai TKG i-IV menunjukkan perkembangan gonad betina lebih cepat. Variasi TKG yang tidak serentak mengindikasikan tipe ovarium yang asinkron dan pola serial spawner, sesuai dengan penelitian Arman & yuyyncy . pada ikan Puntius tetrazona. Perbedaan distribusi TKG antar stasiun menunjukkan stasiun I-II didominasi ikan betina matang gonad, sedangkan stasiun i populasi cukup tinggi, karena keberadaan betina matang gonad dalam jumlah besar akan meningkatkan peluang terjadinya Fenomena ini juga didukung oleh penelitian Satheesh & Kulkarni . yang menyatakan bahwa dominasi ikan betina dalam suatu populasi dapat meningkatkan kapasitas reproduksi dan keberlanjutan populasi ikan di suatu Indeks Kematangan Gonad (IKG) Nilai rata-rata IKG dibandingkan ikan jantan diseluruh stasiun Hasil analisis nilai IKG pada P. partipentazona disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Stasiun Jenis Kelamin TKG Rata-Rata IKG (%) Jumlah . Jantan 0,020 0,011 Stasiun I Betina 0,048 i 0,090 0,082 Stasiun II Jantan 0,017 0,011 i 0,006 Betina 0,046 i 0,070 0,082 Stasiun i Jantan 0,015 0,008 i 0,006 Betina 0,047 i 0,072 0,082 IKG (%) IKG (%) i TKG TKG IKG (%) IKG (%) Gambar 7. Boxplot Hubungan TKG dan IKG Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Janta. pada Stasiun I i TKG i TKG Gambar 8. Boxplot Hubungan TKG dan IKG Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. pada Stasiun II IKG (%) IKG (%) i TKG i TKG Gambar 9. Boxplot Hubungan IKG dan TKG Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Janta. pada Stasiun i disebabkan oleh proses vitelogenesis, yaitu akumulasi kuning telur dalam ovarium yang menyebabkan peningkatan bobot gonad secara signifikan . Sebaliknya, pada ikan jantan nilai IKG relatif rendah dan cenderung menurun seiring peningkatan TKG, karena perkembangan testis tidak memberikan kontribusi massa sebesar Secara IKG mencerminkan alokasi energi untuk reproduksi, dimana nilai yang tinggi menunjukkan aktivitas reproduksi yang Nilai indeks kematangan gonad (IKG) menunjukkan pola yang berbeda antara jantan dan betina, dimana pada betina, nilai IKG meningkat seiring dengan kenaikan TKG dan tertinggi pada TKG i dan IV (Gambar 7-. Hal ini sejalan dengan penelitian Mujtahidah et al . , pada ikan Puntius binotatus menunjukkan nilai IKG yang meningkat seiring perkembangan gonad dan menjadi indikator utama musim Hal yang sama ditemukan pada penelitian oleh Ezung & Pankaj . pada ikan Cyprinidae lain seperti Garra langlungensis dimana nilai IKG tertinggi menunjukkan puncak musim pemijahan. Peningkatan nilai IKG pada betina Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ukuran pertama kali matang gonad merupakan ukuran tubuh ikan ketika ikan pertama kali mencapai kematangan Ukuran pertama kali matang gonad ikan P. partipentazona disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5. Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Stasiun Jenis Kelamin Ukuran Lm . Kisaran . Jantan 42,81 42,81 Stasiun I Betina 47,58 47,58 Jantan 45,12 45,12 Stasiun II Betina 52,23 50,39 - 54,13 Jantan 46,13 46,13 Stasiun i Betina 54,26 51,74 - 56,89 Berdasarkan hasil analisis ukuran pertama kali matang gonad (L. ikan P. partipentazona di perairan Danau Toba. Kecamatan Pangururan, diperoleh nilai Lm yang berbeda antar Ukuran pertama kali matang gonad (L. menunjukkan ikan betina mencapai kematangan gonad pada ukuran yang lebih besar dibandingkan ikan jantan. Hal ini membutuhkan ukuran tubuh yang lebih besar untuk mendukung produksi telur. Menurut Kasmi dkk . , ukuran pertama kali matang gonad dipengaruhi oleh faktor lingkungan, umur, ukuran, kondisi fisiologis ikan dan strategi reproduksi spesies, dimana kondisi lingkungan yang optimal kematangan gonad. Ukuran pertama kali matang gonad (L. ikan P. pada penelitian ini berada pada kisaran 42 Ae 56 mm dan relatif seragam antar stasiun yang mengindikasikan tekanan lingkungan kematangan gonad pada ukuran yang hampir sama. Berdasarkan penelitian oleh Hossain et al . pada ikan Puntius sophore, nilai Lm relatif kecil yaitu berkisar 5 cm panjang total. Hal ini menunjukkan bahwa ikan ini memiliki kematangan seksual yang cepat. Selain itu, pada spesies lain seperti Puntius denisonii, ukuran pertama kali matang gonad lebih besar yaitu sekitar 60 Ae 80 mm. Perbedaan ini menunjukkan bahwa ukuran pertama kali matang gonad sangat dipengaruhi oleh ukuran maksimum spesies, strategi hidup dan kondisi lingkungan . Fekunditas Nilai partipentazona didapat dari 47 ekor ikan betina yang telah memasuki fase matang gonad TKG i dan IV dari 50 ekor keseluruhan ikan betina yang tertangkap. Rata-rata pengamatan disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Rata-rata Nilai Fekunditas Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Stasiun TKG Jumlah Rentang Rentang Rentang Sampel Panjang Berat . Fekunditas . 50,56Ae55,11 2,16Ae2,97 i Stasiun Rataan Fekunditas A 252 A 33,73 56,14Ae59,19 2,91Ae3,27 321 A 75,21 Stasiun i 50,41Ae55,12 1,96Ae2,76 194 A 49,54 55,76Ae59,61 2,69Ae3,46 327 A 41,83 i 49,82Ae55,8 1,85Ae3,05 215 A 34,81 56,1Ae60,94 2,96Ae3,48 361 A 101,98 Stasiun i Rata-rata nilai fekunditas ikan P. partipentazona pada penelitian ini berkisar antara 194 hingga 361 butir, dengan nilai rata-rata yang meningkat dari TKG i TKG IV. Peningkatan menunjukkan bahwa jumlah telur yang bahwa fekunditas berkaitan erat dengan ukuran tubuh, bobot gonad dan diameter Selain itu, pada famili Cyprinidae seperti Garra langlungensis, fekunditas meningkat signifikan dengan ukuran tubuh dan berat ovarium . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Muslim et al . , nilai faktor kondisi (K) ikan Puntigrus tetrazona sebesar 1,00 yang sejalan dengan hasil penelitian ini yaitu nilai faktor kondisi yang mendekati 1,00, yang menunjukkan ikan berada dalam kondisi fisiologis yang baik. Kondisi tubuh yang baik berperan penting dalam mendukung proses pematangan gonad dan produksi Berdasarkan hasil analisis nilai fekunditas, kemudian dilakukan analisis hubungan fekunditas dengan panjang dan berat tubuh ikan yang disajikan dalam Gambar 10 hingga Gambar 12. Fekunditas . Fekunditas . dihasilkan sangat dipengaruhi oleh TKG. Nilai fekunditas antar stasiun bervariasi, ditemukan pada stasiun 3 yang juga merupakan lokasi dengan rata-rata ukuran tubuh ikan terbesar. Selain itu, fekunditas juga meningkat seiring bertambahnya ukuran panjang dan berat tubuh ikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Warni et al . pada spesies Puntius tetrazona, dengan jumlah telur yang dihasilkan berada dalam kisaran 448 butir per induk yang dilakukan melalui kapasitas reproduksi yang cukup tinggi. Selain itu, keberhasilan reproduksi ikan tidak hanya ditentukan oleh jumlah telur, tetapi juga oleh kondisi tubuh ikan. Pada penelitian oleh Suryaningsih et al . pada ikan Puntius orphoides, yang menunjukkan y = 0,0005x3,293 RA = 0,521 y = 103. RA = 0. Panjang Total . Bobot Tubuh . Gambar 10. Hubungan Fekunditas dengan Panjang (Kir. dan Bobot Tubuh (Kana. Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. pada Stasiun I Fekunditas . y = 1E-08x5. RA = 0. Fekunditas . variasi fekunditas dipengaruhi oleh Sementara hubungannya dengan bobot tubuh ikan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. = 0,4628 yang 46,28% dipengaruhi oleh bobot tubuh. Berdasarkan Gambar 10 fekunditas partipentazona di stasiun I menunjukkan bahwa hubungan fekunditas dengan panjang total memiliki nilai koefisien determinasi (R. = 0,521 yang berarti 52,1% y = 39. RA = 0. Panjang Total . Bobot Tubuh . Gambar 11. Hubungan Fekunditas dengan Panjang (Kir. dan Bobot Tubuh (Kana. Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. pada Stasiun II dipengaruhi oleh faktor lain. Sementara hubungannya dengan bobot tubuh ikan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. = 0,6855 yang berarti 68,55% variasi fekunditas dipengaruhi oleh bobot tubuh sementara 31,45% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Fekunditas . Fekunditas . Berdasarkan Gambar 11 fekunditas partipentazona di stasiun II menunjukkan bahwa hubungan fekunditas dengan panjang total memiliki nilai koefisien determinasi (R. = 0,6504 yang berarti 65,04% variasi fekunditas dipengaruhi oleh panjang, sementara 34,96% lainnya y = 4E-07x5. RA = 0. y = 51. RA = 0. Panjang Total . Bobot Tubuh . Gambar 12. Hubungan Fekunditas dengan Panjang (Kir. dan Bobot Tubuh (Kana. Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. pada Stasiun i Berdasarkan Gambar 12 fekunditas i menunjukkan bahwa hubungan fekunditas dengan panjang total memiliki nilai koefisien determinasi (R. = 0,7423 yang 74,23% dipengaruhi oleh panjang, sementara 25,77% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Sementara hubungannya dengan bobot tubuh ikan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. = 0,5585 yang berarti 55,85% variasi fekunditas dipengaruhi oleh bobot tubuh sementara 44,15% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Hubungan dengan panjang dan berat tubuh menunjukkan korelasi positif, yang berarti kapasitas reproduksi individu sangat abdominal ikan, semakin tinggi jumlah telur yang mampu diproduksi. Hubungan antara fekunditas dan bobot tubuh juga menunjukkan pola yang sama, dimana ikan dengan bobot yang lebih besar cenderung menghasilkan telur lebih banyak. Hal ini disebabkan oleh kapasitas tubuh yang lebih besar dalam menyimpan cadangan energi untuk reproduksi. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Ugrin et al . yang menyatakan bahwa fekunditas berkorelasi positif dengan ukuran tubuh, baik panjang maupun berat, meskipun tingkat fekunditas dapat berbeda antar spesies. Pengukuran fekunditas sangat penting dalam biologi perikanan karena digunakan untuk menilai perkembangbiakan ikan di suatu perairan . Dimorfisme Seksual Dimorfisme seksual merupakan salah satu ciri seksual sekunder ikan yang dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina . Pada ikan P. partipentazona jantan memiliki warna tubuh yang lebih cerah, tajam dan kontras yang warna-warna seperti kemerahan yang lebih pekat dibagian sirip, serta pola garis yang lebih tegas sebagai daya tarik visual untuk memikat lawan jenis. Sementara itu, ikan betina memiliki warna tubuh yang lebih kusam, pucat serta warna sirip yang berwarna kuning pucat yang berfungsi . untuk melindungi diri dari predator saat sedang membawa telur (Gambar . Bentuk perut ikan jantan cenderung ramping dan pipih, sedangkan ikan betina memiliki perut yang buncit, bulat dan melebar. Perbedaan ini berkaitan dengan fungsi reproduksi, dimana betina memerlukan ruang yang lebih besar untuk perkembangan gonad dan bentuk tubuh jantan mendukung kelincahan saat proses pemijahan . Ukuran tubuh betina yang lebih besar merupakan bentuk dimorfisme seksual yang berkaitan langsung dengan kapasitas reproduksi . Gambar 13. Morfologi Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. Berdasarkan hasil uji normalitas Shapiro-Wilk, diperoleh nilai signifikansi . < 0,. yang menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis perbedaan morfometrik antara ikan jantan betina dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney U dengan nilai p < 0,01 yang dimana ikan betina memiliki pengukuran morfometrik yang lebih tinggi dibandingkan ikan jantan yang disajikan dalam Tabel 7. Dimorfisme seksual pada ikan umumnya berkaitan dengan perbedaan fungsi reproduksi dan strategi pemijahan. Tabel 7. Hasil Uji Mann Whitney-U Pengukuran Morfometrik Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Mann Mean Mean Parameter p-value Keterangan WhitneyJantan Betina 1 Panjang total 37,46 53,97 p < 0,001 Berbeda signifikan 2 Panjang standar 28,60 41,52 p < 0,001 Berbeda signifikan 3 Panjang sirip dorsal 7,14 9,3 0 p < 0,001 Berbeda signifikan 4 Panjang sirip anal 4,15 5,64 p < 0,001 Berbeda signifikan 5 Panjang sirip pektoral 5,72 7,89 p < 0,001 Berbeda signifikan 6 Tinggi badan 12,63 19,50 p < 0,001 Berbeda signifikan 7 Diameter mata 2,92 4,14 p < 0,001 Berbeda signifikan Faktor Kondisi Hubungan Panjang dan Bobot W = 0,0001L2,4087 RA = 0,8775 Bobot Tubuh . Bobot Tubuh . W = 5E-05L2,6954 RA = 0,935 Panjang Total . Panjang Total . Gambar 14. Hubungan Panjang dan Bobot Tubuh Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. di Stasiun I Hubungan panjang dan berat ikan partipentazona di stasiun I menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. untuk jantan yaitu 0,8775 dan betina 0,935. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara panjang dan berat sebesar 87,75% untuk ikan jantan dan 93,5% untuk ikan betina (Gambar . Selanjutnya dari analisa pola pertumbuhan yang diperoleh bahwa P. baik jantan maupun betina menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif. Hasil tersebut didapatkan setelah diketahui nilai b < 3 yaitu untuk ikan jantan W = 0,0001L2,4087 dan ikan betina yaitu W = 0,00005L2,6954. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan lebih cepat memanjang dibandingkan beratnya. W = 7E-05L2,5905 RA = 0,9429 Bobot Tubuh . Bobot Tubuh . W = 9E-06L3,1556 RA = 0,9471 Panjang Total . Panjang Total . Gambar 15. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. di Stasiun II yang diperoleh bahwa P. jantan menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif, sedangkan ikan betina menunjukkan pola pertumbuhan alometrik Hasil tersebut didapatkan setelah diketahui nilai b < 3 yaitu untuk ikan jantan W = 0,00007L2,5905 dan ikan betina yaitu W = 0,000009L3,1556 dengan nilai b > 3. W = 6E-05L2,6424 RA = 0,9383 Bobot Tubuh . Bobot Tubuh . Hubungan panjang dan berat ikan partipentazona di stasiun II menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. untuk jantan yaitu 0,9429 dan betina 0,9471. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara panjang dan berat sebesar 94,29% untuk ikan jantan dan 94,71% untuk ikan betina (Gambar . Selanjutnya dari analisa pola pertumbuhan W = 3E-05L2,8585 RA = 0,8836 Panjang Total . Panjang Total . Gambar 16. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jantan (Kir. dan Betina (Kana. di Stasiun i Hasil tersebut didapatkan setelah diketahui nilai b < 3 yaitu untuk ikan jantan W = 0,00006L2,6424 dan ikan bet ina yaitu W = 0,00003L2,8585 dengan nilai b < 3. Hubungan panjang dan berat ikan i menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. untuk jantan yaitu 0,9383 dan betina 0,8836. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara panjang dan berat sebesar 93,83% untuk ikan jantan dan 88,36% untuk ikan betina (Gambar . Selanjutnya dari analisa pola pertumbuhan yang diperoleh bahwa P. menunjukkan pola pertumbuhan alometrik Faktor Kondisi Faktor kondisi menggambarkan tingkat kegemukan, kesehatan, dan hubungannya dengan lingkungan. Nilai Faktor kondisi ikan P. partipentazona dari stasiun I hingga stasiun i disajikan dalam Tabel 8. Tabel 8. Nilai Faktor Kondisi (K) Ikan Tiger Barb (Puntigrus partipentazon. Jenis Kelamin Stasiun Pola Pertumbuhan K Min K Max Stasiun I Stasiun II Stasiun i Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina Alometrik negatif Alometrik negatif Alometrik negatif Alometrik positif Alometrik negatif Alometrik negatif Nilai faktor kondisi (K) yang lebih tinggi pada ikan jantan di seluruh stasiun menunjukkan bahwa ikan jantan memiliki kondisi tubuh yang relatif lebih gemuk atau lebih baik dibandingkan ikan betina pada lokasi penelitian. Perbedaan nilai faktor kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perbedaan alokasi energi antara ikan jantan dan Ikan menggunakan sebagian besar energinya untuk proses reproduksi, khususnya dalam perkembangan gonad dan pembentukan Proses vitellogenesis . embentukan kuning telu. membutuhkan energi yang cukup besar, sehingga energi yang tersisa untuk pertumbuhan somatik menjadi lebih sedikit . Akibatnya, nilai faktor kondisi ikan betina cenderung lebih rendah dibandingkan ikan jantan. Sebaliknya, ikan pembentukan telur yang kompleks seperti betina, sehingga energi yang diperoleh dari makanan lebih banyak dialokasikan untuk pertumbuhan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh ikan jantan relatif lebih padat atau berisi, yang tercermin dari nilai faktor kondisi yang lebih tinggi. Faktor lingkungan juga dapat berperan dalam perbedaan ini. Kondisi perairan seperti ketersediaan pakan, suhu, dan kualitas air yang relatif seragam di seluruh stasiun memungkinkan ikan jantan memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien untuk pertumbuhan. Hal ini mendukung tingginya nilai faktor kondisi ikan jantan secara konsisten di semua stasiun pengamatan. Menurut Tabel 9. Hasil Pengukuran Kualitas Air Parameter Satuan Stasiun I Suhu 8,14 Kekeruhan NTU 2,89 0,94 0,93 0,83 0,91 0,89 0,86 1,61 1,30 1,17 1,07 1,19 1,11 K Rata-rata A SD 1,32 A 0,15 1,09 A 0,09 1,01 A 0,07 0,97 A 0,04 0,99 A 0,08 0,99 A 0,06 Batubara et al . , faktor kondisi juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan Penurunan nilai faktor kondisi ikan jantan dari stasiun I menuju stasiun i diduga berkaitan dengan kepadatan populasi dan kompetisi sumber daya. Sementara itu, nilai K ikan betina yang relatif stabil menunjukkan bahwa betina masih mampu mempertahankan kondisi tubuhnya dengan baik pada ketiga lokasi Perbedaan nilai faktor kondisi antar stasiun menunjukkan adanya variasi kondisi biologi ikan yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti kondisi habitat dan ketersediaan makanan. Meskipun terdapat tekanan antropogenik di perairan Danau Toba, populasi P. partipentazona menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. Didukung oleh fekunditas tinggi dan kondisi perairan yang masih toleran, spesies ini berpotensi mengalami peningkatan populasi dan mempengaruhi struktur komunitas ikan jika tidak dikelola dengan tepat. Hal ini sejalan dengan Muslim et al . yang menyatakan bahwa nilai K mendekati 1 menunjukkan kondisi ikan dan lingkungan yang baik. Kualitas Air Pengamatan kualitas air dilakukan untuk mengetahui fluktuasi kualitas air di perairan umum. Pengukuran kualitas air meliputi suhu, pH. DO, dan kekeruhan. Hasil pengukuran kualitas air dari ketiga stasiun di perairan Danau Toba di Kecamatan Pangururan tersaji pada Tabel Stasiun II 7,98 4,47 Stasiun i 7,90 2,47 Baku Mutu Kondisi kualitas air di perairan Pangururan memainkan peran yang penting dalam mendukung aktivitas reproduksi P. Menurut Muslim et al . habitat optimal bagi P. tetrazona adalah perairan dengan suhu 20ACAe26AC dan pH 6,0Ae8, namun ikan ini memiliki toleransi yang luas hingga suhu 32AC. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nawi et al . , menunjukkan nilai DO 4,12 Ae 4,48 mg/L yang menunjukkan kondisi perairan mendukung kehidupan ikan. Selain itu, tingkat kekeruhan pada penelitian ini lebih rendah yaitu 2,47 Ae 4,47 NTU dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yaitu 12,1 Ae 26,94 NTU, yang mengindikasikan kondisi perairan yang lebih jernih dan stabil. Kelimpahan ikan betina yang lebih tinggi dan ukuran tubuh yang lebih besar di stasiun i menunjukkan bahwa kualitas lingkungan di stasiun tersebut, seperti parameter fisika-kimia, sangat mendukung pertumbuhan dan pematangan gonad. Kualitas air yang berada dalam kisaran optimal seperti suhu, oksigen terlarut, pH, dan parameter kimia perairan lainnya berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan di suatu ekosistem perairan . Keberadaan vegetasi padat di zona litoral Kecamatan Pangururan substrat penempelan telur yang ideal bagi ikan ini, yang bersifat ovipar dengan telur berperekat . Secara partipentazona memiliki potensi reproduksi yang cukup tinggi di perairan Danau Toba, yang ditunjukkan oleh dominasi ikan betina matang gonad, nilai fekunditas yang meningkat seiring ukuran tubuh, serta hubungan yang kuat antara fekunditas dengan panjang dan berat tubuh. Kondisi ini mengindikasikan bahwa spesies ini berpotensi berkembang dengan cepat dan apabila tidak dilakukan pengendalian, terjadinya ledakan populasi. Peningkatan jumlah individu secara signifikan dapat memicu kompetisi yang semakin ketat, baik dalam pemanfaatan ruang maupun ketersediaan sumber pakan, sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan komunitas ikan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang tepat untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan Danau Toba. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa aspek biologi reproduksi P. di perairan Danau Toba di Kecamatan Pangururan menunjukkan pola reproduksi aktif yang ditandai oleh variasi TKG (I-IV), peningkatan IKG pada betina, dengan betina matang gonad pada ukuran yang lebih besar. Selain itu, nilai fekunditas 194361 butir yang meningkat seiring ukuran tubuh, dan adanya hubungan positif antara ukuran tubuh dengan fekunditas. Nilai faktor kondisi . ,97-1,. menunjukkan kondisi tubuh yang baik, yang menegaskan spesies ini mampu beradaptasi dengan baik di perairan Danau Toba. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah sebagai dasar informasi yang dapat dimanfaatkan dalam kajian ekologi perairan tawar serta mendukung pengelolaan dan pelestarian sumber daya perikanan secara berkelanjutan di Danau Toba. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji aspek reproduksi lainnya, seperti pola musim pemijahan. Daftar Pustaka