TEKNIK SLOW DEEP BREATHING DENGAN MENIUP BALING-BALING DAPAT MENURUNKAN NYERI SAAT PEMASANGAN INFUS ANAK PRASEKOLAH Abstrak STUDI KASUS Gusti Alvin Maulana Elfira Awalia Rahmawati 2* Juni Purnama Sari 3 1Departemen Anak dan Maternitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 2Departemen Anak dan Maternitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Anak dan Maternitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: Elfira Awalia Rahmawati email: elfira. awalia@akper-pelni. Pendahuluan: Anak-anak usia prasekolah lebih rentan terhadap penyakit dan merasa khawatir saat mendapat rawat inap di Rumah Sakit. Tindakan medis yang sering dilakukan pada anak yang menjalani rawat inap adalah pemasangan infus. Pemasangan infus merupakan hal yang tidak menyenangkan pada anak karena menimbulkan rasa nyeri. Teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling merupakan teknik relaksasi yang bertujuan untuk mengurangi skor nyeri yang dirasakan anak prasekolah akibat penusukan vena pemasangan infus. Tujuan: Melakukan analisis intervensi teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling untuk menurunkan nyeri pada anak saat tindakan prosedur pemasangan infus. Metode: Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Responden yang diteliti sebanyak 2 orang dengan usia prasekolah. Responden yang diambil yaitu anak yang mengalami nyeri akibat pemasangan infus. Intervensi diberikan selama 5 menit. Pengukuran skor nyeri pada saat penusukan vena dan 1 menit setelah penusukan vena menggunakan penilaian skor FLACC. Hasil: Hasil penelitian terdapat penurunan skor nyeri pada responden I dari hasil skor 6 . yeri sedan. saat penusukan vena menjadi skor 2 . yeri ringa. pada 1 menit setelah penusukan vena. Responden II dengan hasil skor 7 . yeri bera. pada saat penusukan vena menjadi skor 3 . yeri ringa. pada 1 menit setelah penusukan vena. Kesimpulan: Terjadi penurunan skor nyeri pemasangan infus pada kedua responden dengan intervensi teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling. Kata Kunci: Anak prasekolah FLACC Nyeri pemasangan infus Teknik slow deep breathing Diterima: 03 Juli 2025 Diperbaiki: 17 Juli 2025 Dipublikasikan: 31 Juli 2025 E-ISSN Sitasi artikel ini: Maulana. Rahmawati. , & Sari. Teknik Slow Deep Breathing Dengan Meniup Baling-Baling Dapat Menurunkan Nyeri Saat Pemasangan Infus Anak Prasekolah. Volume 2 . , 17-24. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Anak prasekolah sehat terkadang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh. Kesehatan anak akan menurun sebagai akibat dari daya tahan tubuh yang lemah (Bintang & Sahrudi, 2. Peran orang tua untuk menjaga daya tahan fisik anak prasekolah sangat penting, sebagian besar orang percaya bahwa pemberian vitamin dan gizi seimbang pada anak-anak membantu mempertahankan daya tahan tubuh anak namun bagi anak yang tidak sehat harus mendapatkan fasilitas medis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. (Mariyam et al. , 2. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Maulana. Rahmawati. , & Sari. e-ISSN: 3089-34337 Jumlah anak yang mendapat rawat inap telah mencapai 2,3% dari jumlah penduduk di Indonesia. Berdasarkan Penelitian yang dilakukan Salmela dan Ramdaniati tahun 2016 membuktikan Anak usia dini . -6 tahu. berjumlah 52,38% yang mendapat perawatan di Rumah Sakit, dan anak usia sekolah . -11 tahu. berjumlah 47,62%. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak usia dini lebih rentan terhadap penyakit dan merasa khawatir saat mendapat penanganan di Rumah Sakit (Apriliyanto et al. , 2. Tindakan medis yang sering dilakukan pada anak yang menjalani rawat inap adalah pemasangan infus yang dikenal sebagai jalur terapi intravena (IV). Tujuan pemasangan infus adalah untuk memasukkan obat- obatan, darah, atau cairan ke dalam tubuh secara teratur atau setiap saat untuk mendapatkan hasil pengobatan yang cepat (Natalia et al. , 2. Menurut data yang dirilis pada tahun 2018 oleh World Health Organization (WHO) angka kejadian nyeri akibat pemasangan infus pada empat region yaitu Eropa . ,7%). Pasifik Barat . %). Mediterina Timur . ,8%), dan Asia Tenggara . %), adapun angka kejadian nyeri akibat pemasangan infus di beberapa negara berkembang seperti Iran . ,20%). Malaysia . ,7%). Filipina . ,10%). Taiwan . ,8%). Nigeria . ,5%) dan Indonesia . ,80%) (Octaviani et al. , 2. Menurut data Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2019 angka kejadian skor nyeri di Indonesia mencapai 56,11% untuk rumah sakit pemerintah, sedangkan pada rumah sakit swasta mencapai 36,78% angka kejadian skor nyeri yang terjadi lebih dari standar yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan RI yaitu pada angka 1,7% (Hamzah et al. , 2. Teknik slow deep breathing merupakan metode yang efektif untuk menurunkan tingkat nyeri anak. Metode ini diterapkan pada kelompok anak berusia antara 3 sampai 7 tahun dengan modifikasi tiupan baling- baling yang dinilai efektif dalam mengalihkan perhatian anak saat pemasangan infus. Proses pemberian teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling sekitar 5 menit dengan 3 menit mengajarkan anak terlebih dahulu untuk menarik napas dalam melalui hidung dan nafas dikeluarkan melalui mulut. Pada menit ke 4 saat memasukkan jarum infus melalui pembuluh darah maka minta anak untuk menarik napas melalui hidung dan tahan selama tiga detik lalu menghembuskannya secara perlahan dan diulangi sampai 3 kali sampai anak merasa rileks (Herliawati et al. , 2. Hasil penelitian oleh (Puji & Mardalena, 2. ditemukan sejumlah besar pasien menghadapi skor nyeri 6 atau sedang. Selanjutnya, sebagian besar klien merasakan skor nyeri 3 atau ringan setelah latihan nafas dalam. Terakhir, sebagian besar pasien yang menerima teknik relaksasi nafas dalam dengan 26 responden mengalami nyeri sedang sebelum diberikan terapi relaksasi nafas dalam. Studi pendahuluan yang dilakukan oleh (Nirnasari & Wati, 2. mengenai dampak teknik slow deep breathing dengan meniup baling- baling dalam skor nyeri pada 10 responden yang di teliti diantaranya 5 anak yang menerima teknik slow deep breathing dengan meniup baling- baling dan 5 anak yang tidak menerima teknik. Kelompok yang menerima terapi berada di kategori nyeri ringan dengan skor 1 sampai 3, sedangkan kelompok yang tidak menerima teknik berada di kategori nyeri sedang dengan skor 4 sampai 6. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 MAULANA. RAHMAWATI. , & SARI. e-ISSN: 3089-34337 METODE Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskripsi studi kasus. Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah 2 pasien anak prasekolah yang dirawat di Ruang Anggrek Rumah Sakit Umum Pekerja. penelitian dilakukan pada 2 orang pasien anak dengan rentang usia 3-6 tahun yang dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2024 dan 8 Juli 2024 dengan kriteria inklusi sebagai berikut anak prasekolah dengan pemasangan infus tidak lebih dari 2 kali, anak kesadaran penuh, anak tampak Instrumen penelitian untuk mengukur skor nyeri menggunakan skor FLACC untuk mengetahui skor nyeri responden. Saat penusukan vena dan 1 menit setelah penusukan vena terapi, lembar observasi skor FLACC digunakan untuk mencatat pengukuran skor nyeri saat penusukan vena pemasangan infus diberikan teknik slow deep breathing dan 1 menit setelah penusukan vena dengan pemasangan infus diberikan teknik slow deep breathing HASIL Kondisi sebelum intervensi Responden I Dari hasil observasi kepada An. A dan orang tua pada tanggal 28 Juni 2024 pada jam 13:00 Wib ditemukan tangan kiri An. A yang terpasang infus terdapat bengkak ditandai dengan adanya eritema, terdapat nyeri yang ditandai dengan responden tampak meringis saat tangannya dipegang, tampak adanya edema dan vena teraba keras, hasil TTV TD:110/65. HR:70. S: 36,5C. RR: 21x/menit. SpO2 Mentis. Ibu dari An. A mengatakan 98%, keadaan umum Compos An. A mengalami demam turun naik disertai mual muntah sebanyak 3 kali dalam sehari, tangan kiri An. A bengkak setelah diberikan terapi Responden II Berdasarkan hasil observasi kepada anak dan wawancara kepada orang tua pada tanggal 7 Juli 2024 pada jam 05:30 WIB ditemukan tangan kiri anak yang terpasang infus terdapat bengkak ditandai dengan adanya eritmea, terdapat nyeri yang ditandai dengan responden tampak meringis saat tangannya dipegang, tampak adanya edema dan vena teraba keras, hasil TTV TD: 100/60 HR: 69x/menit. S: 36,8C . RR: 20x/menit SpO2: 99%. keadaan umum Compos Mentis. Ibu dari An. S mengatakan An. S mengalami demam namun tidak kejang sejak pagi disertai BAB sebanyak 4x dalam sehari, tangan kiri An. S bengkak setelah diberikan terapi infus. Kondisi sesudah intervensi 1 Responden I JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Maulana. Rahmawati. , & Sari. e-ISSN: 3089-34337 Dari hasil penelitian Studi kasus yang dilakukan oleh peneliti kepada Responden I An. yang diberikan Teknik Slow Deep Breathing dengan Meniup Baling-Baling terhadap Penurunan Nyeri pada Pemasangan Infus. Hasil pemberian teknik slow deep breathing dengan meniup balingbaling didapatkan bahwa Responden I An. A mengalami nyeri pada saat penusukan vena dengan pemasangan infus. Pengukuran skor nyeri menggunakan skor FLACC didapatkan hasil skor nyeri 6 dengan rincian sebagai berikut Face:1 menyeringai dan mengerutkan dahi. Leg : 2 menendang,kaki tertekuk. Activity: 1 menggeliat,tidak bisa diam dan tegang. Cry: 1 merintih, merengek kadang- kadang mengeluh. Consability: 1 dapat ditenangkan dengan sentuhan, bujukan dapat dialihkan,lalu 1 menit setelah penusukan vena dengan pemasangan infus diberikan teknik slow deep breathing dengan meniup baling- baling didapatkan hasil pengukuran skor nyeri menggunakan skor FLACC dengan hasil 2 dengan rincian sebagai berikut Face : tidak ada ekspresi dan khusus senyum. Leg : 1 gelisah dan tegang Activity: 0 berbaring tenang, posisi tenang, gerakan mudah. Cry: 0 tidak menangis. Consability: 1 dapat ditenangkan dengan sentuhan, bujukan dapat dialihkan. Gambar 1. Kondisi responden I sesudah intervensi Sumber: Data Primer . 2 Responden II Dari hasil penelitian Studi kasus yang dilakukan oleh peneliti kepada Responden II An. yang dilakukan oleh peneliti yang diberikan Teknik Slow Deep Breathing dengan Meniup BalingBaling Terhadap Penurunan Nyeri pada Pemasangan Infus. Hasil pemberian teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling didapatkan bahwa Responden II An. S mengalami nyeri pada saat penusukan vena dengan pemasangan infus. Pengukuran skor nyeri menggunakan skor FLACC didapatkan hasil skor nyeri dengan rincian sebagai berikut: JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 MAULANA. RAHMAWATI. , & SARI. e-ISSN: 3089-34337 Hasil pemberian teknik slow deep breathing dengan meniup baling- baling didapatkan bahwa An. S mengalami nyeri pada saat penusukan vena dengan pemasangan infus. Pengukuran skor nyeri menggunakan skor FLACC didapatkan hasil skor nyeri 7 dengan rincian sebagai berikut Face:1 menyeringai dan mengerutkan dahi. Leg: 2 menendang, kaki tertekuk. Activity: 2 kaku dan kejang Cry: 1 merintih. Consability: 1 dapat ditenangkan dengan sentuhan, bujukan dapat dialihkan dan 1 menit setelah penusukan vena dengan pemasangan infus diberikan teknik slow deep breathing dengan meniup baling- baling didapatkan hasil pengukuran skor nyeri menggunakan skor FLACC dengan hasil 3 dengan rincian sebagai berikut Face: 0 tidak ada ekspresi dan khusus senyum. Leg: 1 gelisah dan tegang. Activity: 1 menggeliat, tidak bisa diam dan tegang. Cry: 0 tidak menangis. Consability: 1 dapat ditenangkan dengan sentuhan, bujukan dengan sentuhan, bujukan dapat dialihkan Gambar 2. Kondisi responden I sesudah intervensi Sumber: Data Primer . PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang penerapan intervensi slow deep breathing dengan meniup balingbaling pada Responden I dan II terjadi penurunan skor nyeri menggunakan skor FLACC pada saat penusukan vena dan 1 menit setelah pemasangan infus. Responden I An. A berumur 5 tahun 2 bulan, jenis kelamin laki-laki dan Responden II An. S berumur 5 tahun 9 bulan berjenis kelamin perempuan. Penurunan skor nyeri menggunakan skor FLACC terhadap Responden I A. n A pada saat penusukan vena dengan pemasangan infus dengan hasil skor nyeri 6 menjadi skor 2 setelah penusukan vena dengan pemasangan infus dengan 1 kali pemberian teknik slow deep breathing selama 1 hari pada saat prosedur pemasangan infus dan penurunan skor nyeri menggunakan skor FLACC juga terjadi pada Responden II An. pada saat penusukan vena dengan pemasangan infus dengan hasil skor nyeri 7 menjadi skor 3 1 menit setelah penusukan JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Maulana. Rahmawati. , & Sari. e-ISSN: 3089-34337 vena dengan pemasangan infus dengan 1 kali pemberian teknik slow deep breathing selama 1 hari pada saat pemasangan Perbedaan usia pada Responden yang diberikan teknik slow deep breathing yaitu pada responden I yang berusia 5 tahun 2 bulan dan responden II yang berusia 5 tahun 9 bulan. Menurut pengalaman peneliti di Rumah Sakit bahwa usia memegang peranan penting dalam mempengaruhi kecemasan, karena semakin tua usia seseorang. Hal ini sejalan dengan penelitian (Afiatantri & Solikah, 2. bahwa Responden II berusia 5 tahun 9 bulan mengalami kecemasan berlebih saat dilakukan penusukan vena dengan pemasangan infus sedangkan Responden I berusia 5 tahun 2 bulan tampak tenang ketika dilakukan penusukan vena dengan pemasangan infus. Teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling diberikan untuk menurunkan skor nyeri. Hasil yang diperoleh saat penusukan vena dengan pemasangan infus pada Responden I dengan hasil skor nyeri 6 dan pada Responden II dengan hasil skor nyeri 7, lalu terjadi penurunan skor nyeri 1 menit setelah penusukan vena dengan pemasangan infus dengan hasil pada Responden I dengan hasil skor nyeri 2 dan pada Responden II dengan hasil skor nyeri 3. Kedua Responden yang diberikan teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling yaitu berjenis kelamin laki laki dan perempuan. Maka peneliti dapat membandingkan antara Responden I dan Responden II karena adanya perbedaan jenis kelamin. Reaksi kedua responden berbeda ketika dilakukan penusukan vena dengan pemasangan infus. Responden II memiliki respon terhadap penusukan vena dengan pemasangan infus seperti menangis dan dibiarkan menangis, sedangkan Responden I tampak Hal ini sejalan dengan teori bahwa beberapa budaya kelompok masyarakat percaya anak laki diwajibkan kuat juga harus menahan tangis, sementara dalam budaya lain, anak perempuan dibiarkan menangis (Yulendasari et al. , 2. Teknik slow deep breathing dengan meniup baling-baling diberikan untuk melihat tingkat perhatian anak saat dilakukan penusukan vena dengan pemasangan infus. Pada Responden I didapatkan bahwa anak tersebut saat dilakukan penusukan tampak tidak memandang arah jarum dan mampu mengalihkan perhatiannya dengan cara meniup balik-baling. Pada Responden II didapatkan bahwa anak tersebut saat dilakukan penusukan tampak memandang arah jarum dengan raut wajah merintih, namun anak mampu mengalihkan perhatiannya dengan cara meniup balik-baling. Sesuai dengan teori bahwa Fokus klien pada nyeri dapat mengakibatkan respons nyeri. Peningkatan nyeri dikaitkan dengan peningkatan perhatian. Usaha pengalihan atau distraksi dikaitkan dengan pengurang an rasa sakit. Perawat menggunakan konsep ini dalam bermacam terapi untuk menurunkan nyeri seperti pijat, teknik relaksasi dan teknik imajinasi terbimbing. Terapi membutuhkan dukungan dan fokus klien pada dorongan tambahan, seperti pengalihan dari distraksi (Wange & Arniyanti. KESIMPULAN Penerapan teknik Slow Deep Breathing dengan meniup baling-baling terbukti efektif dalam menurunkan tingkat nyeri pada anak prasekolah saat tindakan penusukan vena untuk pemasangan infus. Berdasarkan hasil pada dua responden, terjadi penurunan signifikan skor nyeri yang diukur menggunakan skala FLACC. Responden I mengalami penurunan dari skor nyeri 6 . yeri sedan. menjadi 2 . yeri ringa. , dan Responden II dari skor nyeri 7 . yeri bera. menjadi 3 . yeri ringa. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 MAULANA. RAHMAWATI. , & SARI. e-ISSN: 3089-34337 satu menit setelah tindakan. Temuan ini menunjukkan bahwa teknik pernapasan dalam yang dikombinasikan dengan aktivitas meniup baling-baling dapat menjadi intervensi nonfarmakologis yang efektif dalam mengurangi nyeri prosedural pada anak prasekolah. UCAPAN TERIMA KASIH