p-issn 2087 9296 e-issn 2685 6166 PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR SUNDA PADA RANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG EMPAT DI BANDUNG Awalia Azhari Nurul Azizah. Theresia Pynkyawati a 4 POSTMODERNISME. SPIRIT-EKUILIBRIUM DAN ARSITEKTUR Basuki. Rudyanto Soesilo a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA BANGUNAN APARTEMEN KAHIRUPAN Muhammad Yusrizal Mahendra,Theresia Pynkyawati a. A 18 IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI DI KAMPUS SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Studi Kasus : Ruang Kelas 202, 301 dan 303 Maulana Hasanudin. Eka Widiyananto a. PENERAPAN PRINSIP DESAIN ARSITEKTUR PADA GEDUNG CIPTA NIAGA MENURUT TEORI F. CHING Ridwan Setiadi. Farhatul Mutiah a 27 STRUKTUR SEBAGAI ESTETIKA PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Mona Fitria Nur'Annisa. Nurhidayah . APLIKASI MATERIAL BAMBU PADA BANGUNAN UTAMA PESANTREN ASY-SYIFAA TANJUNGSARI. SUMEDANG Ardhiana Muhsin. Noer Aidha Suciati. Herly Hendiwan Rahmadi. Oki Ramadhan a KOMBINASI ARSITEKTUR ISLAM JAWA DAN ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID Studi Kasus : Masjid Dog Jumenang Astana Gunung Jati Cirebon Mariska Ershaputri . Sasurya Chandra a. a VOLUME 14 NOMOR 1 Jl. Evakuasi No. 11 Cirebon. April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 KATA PENGANTAR Jurnal Arsitektur adalah jurnal yang diperuntukan bagi mahasiswa program studi arsitektur dan dosen arsitektur dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengabdian dengan ruang lingkup penelitian dan pengabdian mengenai ilmu arsitektur diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah,filsafat dan teoti arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur. Hasil kajian dan penelitian dalam Jurnal Arsitektur ini adalah berupa diskursus, identifikasi, pemetaan, tipelogi, review, kriteria atau pembuktian atas sebuah teori pada fenomena arsitektur yang ada maupun laporan hasil pengabdian masyarakat. Semoga hasil kajian dan penelitian pada Jurnal Arsitektur Volume 14 No. 1 Bulan APRIL 2022 ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada keilmuan Hormat Saya. Ketua Editor Sasurya Chandra Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 TIM EDITOR Ketua Sasurya Chandra | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Anggota Iwan Purnama | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Nurhidayah | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Farhatul Mutiah | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Manager Editor Eka Widiyananto | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Jurnal Arsitektur p-ISSN 2087-9296 e-ISSN 2685-6166 A Redaksi Jurnal Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd. Lt. 1 Jl. Evakuasi No. Cirebon 45135 Telp. 482196 - 482616 Fax. 482196 E-mail : jurnalarsitektur@sttcirebon. website : http://ejournal. id/index. php/jas Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 14 No. 1 April 2022 DAFTAR ISI Kata Pengantar a. Daftar Isi a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR SUNDA PADA RANCANGAN HOTEL BISNIS BINTANG EMPAT DI BANDUNG Awalia Azhari Nurul Azizah. Theresia Pynkyawati a POSTMODERNISME. SPIRIT-EKUILIBRIUM DAN ARSITEKTUR Basuki. Rudyanto Soesilo a. PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA BANGUNAN APARTEMEN KAHIRUPAN Muhammad Yusrizal Mahendra,Theresia Pynkyawati a. IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI DI KAMPUS SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Studi Kasus : Ruang Kelas 202, 301 dan 303 Maulana Hasanudin. Eka Widiyananto a. PENERAPAN PRINSIP DESAIN ARSITEKTUR PADA GEDUNG CIPTA NIAGA MENURUT TEORI F. CHING Ridwan Setiadi. Farhatul Mutiah a STRUKTUR SEBAGAI ESTETIKA PADA BANGUNAN GEREJA SANTO YUSUF CIREBON Mona Fitria NurAoAnnisa. Nurhidayah . a APLIKASI MATERIAL BAMBU PADA BANGUNAN UTAMA PESANTREN ASY-SYIFAA TANJUNGSARI. SUMEDANG Ardhiana Muhsin. Noer Aidha Suciati. Herly Hendiwan Rahmadi. Oki Ramadhan a KOMBINASI ARSITEKTUR ISLAM JAWA DAN ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID Studi Kasus : Masjid Dog Jumenang Astana Gunung Jati Cirebon Mariska Ershaputri . Sasurya Chandra a Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 APLIKASI MATERIAL BAMBU PADA BANGUNAN UTAMA PESANTREN ASY-SYIFAA TANJUNGSARI. SUMEDANG Ardhiana Muhsin1. Noer Aidha Suciati2. Herly Hendiwan Rahmadi3. Oki Ramadhan4 Program Studi Arsitektur - Institut Teknologi Nasional Bandung Email: dade@itenas. 1, iamfuturearchitect@gmail. 2, herlyhendiwan@gmail. okiramadhan84@gmail. ABSTRAK Bambu dikenal sebagai bahan bangunan untuk struktur bangunan yang terdapat di berbagai negara beriklim tropis, termasuk di Jawa Barat. Bambu saat ini dianggap sebagai material berkelanjutan karena dengan umur 3-4 tahun sudah dapat dijadikan bahan bangunan dengan tetap memiliki nilai estetika. Penggunaan material bambu dapat ditemukan pada bangunan utama Pesantren Asy-Syifaa. Tanjungsari. Sumedang dengan keunikan bentuk atap yang menyerupai bentuk atap rumah tradisional Minangkabau. Penelitian ini membahas aplikasi bambu sebagai estetika pada bagian struktur atasnya saja. Pendekatan penelitian melalui metode kualitatif yang dimulai dengan penetapan objek, perumusan permasalahan yang dipilih pada bangunan yang dikaitkan dengan teori estetika serta sumber-sumber lain yang terkait dengan penelitian. Hasil yang didapat menunjukan bahwa pesantren tersebut memenuhi beberapa kriteria estetika dari prinsip arsitektur seperti proporsi, skala, sumbu, simetri, hirarki, irama dan tekanan/pusat perhatian. Kata kunci : bambu, estetika, pesantren PENDAHULUAN Bambu, menurut Khamidi dan Tukur . merupakan tanaman yang termasuk ke dalam jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya serta dikatakan bahan bangunan yang kriterianya, antara lain memerlukan lebih sedikit energi daripada bahan konvensional, menggunakan sumber daya alam yang terbarukan . enewable resource. serta memiliki dampak negatif yang rendah terhadap lingkungan. Tumbuh di berbagai tempat dengan iklim yang beragam, mulai dari iklim sub tropis sampai dengan iklim tropis. Hal ini menjadikan bambu merupakan tanaman dengan tingkat penyebaran tertinggi di dunia. Di Indonesia, seperti yang dikemukakan oleh Widjaja . , bambu ditemukan tersebar sekitar seratus empat puluh lima . spesies dengan penyebaran keragamannya meliputi. Sumatera 75 spesies. Kalimantan 22 spesies. Sulawesi 23 spesies. Maluku 13 spesies. Papua 30 spesies. Nusa Tenggara 14 spesies. Jawa 60 spesies dan Bali 19 Bambu mempunyai siklus umur yang relatif singkat, mulai dari penanaman hingga pemanenan yaitu sekitar 3-4 tahun, bandingkan dengan kayu yang untuk mencapai kematangan dapat memakan waktu hingga 40 tahun. Bambu mempunyai kekuatan yang tinggi, ringan dan mudah untuk dibentuk, sifatnya yang juga lentur membuat bambu tahan terhadap gempa apabila dijadikan struktur Bambu yang merupakan material alami, menurut Bui. Grillet dan Tran . memiliki kelemahan berupa sensitifitas yang tinggi terhadap air dan kelembaban. Hal yang harus diantisipasi oleh perencana guna meningkatkan daya tahan bambu selain melalui pengawetan adalah dengan menghindarkan desain bambu yang terpapar air secara langsung, baik terhadap air hujan maupun air Air hujan dapat diantisipasi dengan teritisan yang lebar. Upaya ini juga termasuk menghindarkan cipratan air hujan dari tanah. Air tanah dapat dihindarkan dengan peninggian lantai atau berupa pedestal, apalagi dengan iklim tropis lembab seperti di Indonesia, sangat besar peluang air tanah masuk ke batang bambu sehingga mengakibatkan Hal lainnya adalah kondisi iklim di Indonesia yang sangat berpengaruh terhadap ketahanan bambu. Sebaiknya kondisi tropis lembab ini diantisipasi dengan sirkulasi udara yang baik. Banyak dijumpai, bangunan-bangunan bambu di Indonesia, serta negara-negara lain di Asia Tenggara memiliki denah yang terbuka dan tidak berdinding sehingga memungkinkan terjadinya pergantian udara yang baik dan tidak meninggalkan lembab pada bagian dalam bangunannya (Handoko , 2. Semakin berkembangnya pengetahuan Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 dan teknologi yang digunakan pada bangunan bambu sebetulnya menghadirkan faktor estetika Bangunan bambu menurut Maurina . mengoptimalkan karakter material bambunya tanpa berusaha menggantikan atau berperan sebagai material lain sehingga eksplorasi elemen struktur dan detailnya menjadi sangat berpengaruh terhadap Penelitian ini membahas sejauh mana penerapan material bambu sebagai estetika arsitektur pada bangunan utama pesantren AsySyifaa Tanjungsari. Sumedang. Pesantren yang internasional di Jawa Barat ini sudah memiliki keunikan dalam hal pemakaian material bambu pada bagian atap dan kolom bangunannya yang berbentuk atap rumah tradisional Minangkabau. Temuan yang didapat diharapkan dapat menjadi salah satu gambaran bagaimana mendeskripsikan unsur estetika pada bangunan dengan material KERANGKA TEORI Selain masalah bentuk atau wujud yang dapat dilihat secara langsung, terdapat beberapa prinsip desain dalam arsitektur menurut D. Ching . yang mempengaruhi estetika, diantaranya: Skala Merupakan perbandingan ukuran bangunan dengan perbandingan ruang dengan elemen arsitektur yang Atmadjaja dan Dewi . kemudian merinci beberapa ketentuan yang umum dipakai dalam mewujudkan skala pada bangunan yaitu skala intim, skala normal dan skala monumental. 2 Sumbu Definisi prinsip desain ini menurut Matondang menghubungkan beberapa komposisi massa bangunan, dapat juga sebagai suatu garis cermin yang memperlihatkan keseimbangan pada peletakan massa bangunan atau pada fasad bangunan. Simetri Berkaitan erat dengan sumbu pada bangunan. Suatu komposisi yang seimbang dapat dikatakan simetri baik pada peletakan massa bangunan maupun pada fasad bangunan. Irama Merupakan pola pengulangan dari suatu elemen Irama yang statis tersusun dari pengulangan yang konsisten sedangkan irama yang dinamis menggunakan beberapa pola yang berbedabeda. Pusat perhatian Merupakan elemen kontras yang akan menjadi perhatian utama pada suatu komposisi massa bangunan, fasad maupun pada suatu ruang. Pusat perhatian dapat dihasilkan melalui unsur bentuk, warna, ukuran, posisi, serta tekstur (Hilmi dkk. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode secara kualitatif yaitu metode penelitian yang menggambarkan objek sesuai dengan kenyataan melalui pengamatan . Pendekatan melalui metode kualitatif dilakukan dengan menetapkan dan merumuskan objek serta perumusan terkait permasalahan yang akan diteliti yaitu pesantren Asy-Syifaa yang berlokasi di kecamatan Tanjungsari provinsi Jawa Barat. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah terkait dengan penggunaan material bambu yang dijadikan sebagai elemen estetika. Hal ini dikarenakan pada bangunan tersebut menggunakan material bambu sebagai struktur utamanya. Tahap pertama adalah mengumpulkan data berupa teori dan sumber-sumber terkait dengan penelitan seperti data mengenai estetika struktur, prinsip elemen estetika, dan semua hal yang yang terkait dengan Tahap kedua yaitu melakukan survey dan wawancara kepada ahli bangunan yang membuat desain pesantren Asy-Syifaa, serta mengumpulkan data yang terkait dengan penelitian. Langkah ketiga adalah observasi terhadap objek penelitian yang menggunakan material bambu yaitu komposisi kolom dan konstruksi atap pada pesantren Asy-Syifaa. Permasalahan estetika arsitektur yang akan dibahas, dibatasi lingkupnya dari teori estetika arsitektur yang ada. Selanjutnya adalah observasi ke lapangan dengan 2 cara yaitu wawancara dan observasi obyek secara langsung. Kedua kegiatan tersebut dipertemukan kembali dengan teori estetika untuk memulai analisis dan pembahasannya hingga menghasilkan kesimpulan. Guna menghindari kesalahpahaman dari hasil wawancara dan kesalahan melihat data pada tahap observasi obyek, jika diperlukan kedua tahap tersebut masing-masing dikonfirmasikan ulang sebelum memulai analisis. PEMBAHASAN Berikut ini merupakan hasil analisis yang terdiri dari penerapan material bambu pada bangunan Asy-Syifaa Tanjungsari. Sumedang. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Gambar 1. Atap yang bertumpuk pada bangunan Tinggi Skala Bentuk atap yang bertumpuk . dan juga ujung atap yang melengkung . pada bangunan utama pesantren mengadaptasi dari bentuk atap rumah gadang . yang bertumpuk dan runcing pada bagian ujungnya dan dinamakan gonjong. Gambar 2. Tampak depan bangunan utama pesantren Analisis Skala Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Merujuk pada Atmadjaja dan Dewi . tentang 3 jenis skala yang berperan dalam estetika arsitektur, bangunan utama pesantren Asy-syifaa ternyata hanya menggunakan 2 jenis skala, yaitu: Skala manusia/normal/natural Skala utama bangunan menggunakan skala manusia/normal/natural berdasarkan fungsi dari Hal ini dapat dilihat dari ketinggian lantai sampai bagian balok atap bangunan adalah 4 meter . ambar 6 dan . Tidak diterapkannya skala monumental seperti bangunan peribadatan lainnya dikarenakan selain sebagai tempat ibadah . bangunan ini juga sering dipakai untuk kegiatan belajar dan mengajar sehingga diputuskan untuk menggunakan skala yang normal. Skala intim Penerapan skala intim dilakukan pada bagian interior masjid . , yaitu dengan cara melakukan peninggian lantai. Hal ini dilakukan untuk membedakan fungsi ruang pada bangunan yaitu antara ruang utama yang digunakan sebagai tempat beribadah dan mengaji dengan koridor penghubung sebagai sirkulasi dalam bangunan. Gambar 1. Tampak depan rumah gadang Sumber: https://limakaki. com/menilik-rumahgadang. html diakses pada 14 januari 2017 Gambar 3. Gonjong pada atap rumah gadang Sumber: http://kebudayaan. diakses pada 14 januari 2017 Analisis Bentuk Atap Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Arsitektur bambu banyak didominasi oleh bentuk atap pada tampilan fasadnya karena pada umumnya struktur atapnyalah yang menjadi daya tarik utama untuk memperlihatkan kemampuan bambu sebagai material utama sebuah bangunan. Tampak depan bangunan utama pesantren ini memang unik karena memiliki kesamaan dengan tampak depan rumah gadang di Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 dan 2. Gambar 4. Skala manusia Gambar 2. Lengkungan atap pada bangunan pesantren Tinggi manusia . ata arsite. Gambar 5. Skala perbandingan ketinggian Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Peninggian Gambar 6. Skala intim Analisis Sumbu Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Bangunan utama pesantren Asy-syifaa memiliki sumbu utama di dalam bangunan. Garis sumbu utama bangunan terlihat pada alur menuju masjid, sebuah garis yang mengacu langsung pada ruang ibadah . yaitu membagi fasad menjadi dua bagian pada bagian tengah bangunan, sehingga terlihat bahwa kedua sisi yang dipotong memiliki kesamaan bentuk, pola dan ukuran. Pola simetri yang paling terlihat adalah jumlah atap yang sama rata di sisi kanan dan kiri tampak bangunan. Selain tampak bangunan utama yang dijadikan sebagai pintu masuk, pola simetris lainnya juga dapat terlihat dari fasad bangunan dengan fungsi ruang sebagai tempat wudhu . Pola simetris bilateral juga dapat dilihat saat membagi fasad menjadi dua buah bagian dari tengah bangunan. Kesamaan bentuk, pola, ukuran yang sama antara bagian kanan dan kiri bangunan ini dapat dikatakan telah memenuhi kiteria estetika dari segi simetri. Sumbu Gambar 9. Simetri bilateral pada fasad Belum Ada Ruangan Gambar 7. Garis sumbu pada awal pembangunan Seiring perkembangan masjid sumbu ini pun mulai hilang dan berubah mengikuti posisi entrance Hal ini menyebabkan akses menuju ruang utama . uang ibada. tidak terlihat jelas . dan menyebabkan bangunan tidak memiliki garis sumbu yang jelas. Sumbu Saat Awal Perencanaan Sumbu Saat Ini Berdasarkan Letak Entrance Gambar 8. Perubahan garis sumbu berdasarkan posisi Analisis Simetri Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Tampak depan bangunan utama pesantren AsySyifaa menerapkan konsep simetri bilateral Gambar 10. Simetri bilateral pada tempat wudhu Analisis Irama Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Fasad bagian depan bangunan utama memiliki pola A-A-A-A-A-A-A-B-A-A-A-A-A-A-A Pola irama ini terbentuk karena perbedaan ukuran atap. Ukuran atap yang lebih besar dipakai sebagai penanda atau ciri pintu masuk Jarak antar kolom pada fasad bangunan memiliki irama yaitu A-B-A-B-A-B-A-C-A-B-AB-A-B-A . pola irama ini terbentuk karena jarak antar kolom memiliki dua macam jarak dan juga dimasukan elemen pagar sehingga mempengaruhi pola irama. Bentuk irama yang terjadi pada sepanjang koridor bangunan utama pesantren Asy-syifaa ini adalah pola irama pengulangan secara terus menerus. Bentuk struktur kolom bangunan dengan material bambu dan juga siku-siku sebagai penguat antara kolom dan balok tarik pada atap di susun mengikuti pola grid pada bangunan . Pola tersebut diulang terus menerus diseluruh bagian bangunan. Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Gambar 13. Irama ukuran atap pada fasad Analisis Pusat Perhatian Bangunan Utama Pesantren Asy-Syifaa Fasad bagian depan bangunan pesantren Asy-syifaa . memiliki pusat perhatian yaitu pada bagian pintu masuk utama bangunan. Pintu masuk utama ini dibuat berbeda dan menonjol dari bagian Hal ini terjadi karena atap pada bagian pintu masuk utama dibuat dengan ukuran yang lebih besar dari atap di sisinya . Gambar 14. Irama jarak antar kolom bangunan Gambar 18. Tekanan pada pintu masuk Gambar 15. Irama struktur kolom pada koridor Bagian lain yang memiliki pengulangan terdapat pada koridor utama bangunan yang memiliki jumlah kolom bambu yang banyak yaitu sekitar 17 Jumlah sebanyak itu dikarenakan kolom bambu dibuat dengan jarak yang pendek yaitu 3,5 meter . Gambar 16. Kolom bambu pada koridor Gambar 19. Tekanan ukuran atap pada fasad Analisis Estetika Bambu Dari Sambungan Struktur Telah disebutkan sebelumnya bahwa dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi bambu sebenarnya rangkaian struktur yang membentuk bangunan bambu serta perkembangan detailnya dapat menjadi keindahan tersendiri. Sayangnya pada bangunan pesantren ini tidak memiliki hal tersebut meskipun memenuhi kebenaran sesuai teori sambungan bambu yang ada menurut Frick, . Berikut beberapa sambungan bambu yang telah dianalisis: Sambungan memanjang Gambar 17. Bidang tercipta dari garis deretan kolom Kolom-kolom bambu ini diperlakukan seperti material kayu sehingga banyak menggunakan teknik sambungan kayu dengan panjang batang yang terbatas seperti kayu juga dengan panjang maksimal 4 meter . ayu yang umum dipasara. Keuntungannya, selain kokoh secara struktur, dari sisi arsitektur jumlah kolom bambu yang ada dan juga jarak antar kolom bambu yang berdekatan ternyata menghasilkan estetika irama tersendiri serta membuat kesan bidang sebagai pembatas tegas berupa area sirkulasi . ambar 16 dan . Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Sambungan Gambar 20. Sambungan memanjang pada bangunan utama Sambungan tiang dengan palang Penghubung antara kolom dengan balok pada gambar kiri di bawah dan sambungan Aotusuk sateAo Paku dan Plat . antar balok diagonal pada gambar kanan menggunakan sambungan plat dan paku, dililit ijuk disekelilingnya. (Gambar 24 dan . Kayu solid sebagai pengisi rongga bambu Bambu yang akan disambung Palang dan Gambar 21. Detail sambungan memanjang Meski tidak begitu terlihat sambungannya karena tertutupi ijuk yang dililit . , namun bentuk lurusnya yang terpatah memperlihatkan bahwa bambu tersebut perlu diperpanjang dengan teknik sambungan memanjang yang baru . untuk kemudian ditutupi ijuk yang dililit. Sambungan tiang dan kuda penopang Penghubung antara kolom dengan balok dan kuda penopang menggunakan sambungan seperti huruf AoTAo dengan menggunakan plat yang dipaku. (Gambar 22 dan . Gambar 24. Sambungan tiang dengan palang dan Palang Sokong Tiang/ Gambar 25. Detail sambungan tiang dengan palang dan penopang Sambungan pada rangka batang Penggunaan paku dan Sambungan tiang dan kuda penompang Gambar 22. Sambungan tiang dan kuda Tali ijuk dan plat sebagai ikatan sambungan bambu Balok tarik Gambar 26. Sambungan pada rangka batang Penggunaan paku dan ijuk Kolom Penggunaan paku dan ijuk Gambar 23. Detail sambungan tiang dan kuda Penggunaa n paku, ijuk dan Gambar 25. Detail sambungan tiang dengan palang dan penopang Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 14 / No 1 / April 2022 Pada rangka batang yang memiliki gaya tarik atau tekan akan diberi plat dan diperkuat dengan paku agar kuat menahan gaya dan dililit dengan ijuk disekelilingnya agar lebih kokoh. (Gambar 26 dan Gambar 28. Ornamentasi pada struktur Tali ijuk digunakan pada bangunan utama sebagai material penutup sambungan struktur bambu yang terdiri dari plat dan paku (Gambar . Selain sebagai penutup pada sambungan bambu, ikatan ijuk ini berfungsi untuk mencegah terjadinya Pemilihan sambungan dengan paku memang beresiiko terjadinya retakan sejajar serat pada bambu. Hasil yang diperoleh dari ikatan ijuk ini menghasilkan estetika visual pada bangunan dan dikatakan ornamen struktur pada bangunan karena ikatan ijuk ini hanya penutup saja dan bukan berfungsi sesungguhnya sebagai sambungan PENUTUP Estetika arsitektur pada bangunan ini dicapai dengan kesesuaian konfigurasi prinsip-prinsip arsitektural yang dimulai dari pengunaan konsep bentuk atap rumah gadang, penggunaan skala pada bangunan sesuai fungsi, sumbu - yang pada awalnya berada pada pusat dari bangunan namun kemudian bergeser karena penambahan fungsi, simetri pada fasad bangunan, irama yang teratur hingga tekanan/pusat perhatian pada pintu masuk Hasil analisis lainnya mengenai aplikasi material bambu pada bangunan utama pesantren Asy-Syifaa menyimpulkan bahwa material bambu pada bangunan ini diperlakukan seperti material kayu sehingga keunggulan yang dimiliki satu batang bambu tidak dimanfaatkan secara maksimal Hal ini terlihat pula dengan penggunaan skur/penopang pada pertemuan kolom dengan balok tariknya. Permasalahan lain adalah penggunaan paku dan plat sebagai alat sambungannya yang mana sangat beresiko akan terjadinya retak sejajar serat yang sangat berbahaya bagi bambu dengan beban sebagai struktur utama. Kedua hal terakhir inilah yang masih dapat dikembangkan berupa penelitian lain seperti kajian estetika dari segi struktur serta kajian kekuatan sambungan bambu terkait metode sambungan yang DAFTAR PUSTAKA