Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha PENGARUH KONFLIK PERAN GANDA DAN STRESS KERJA TERHADAP KINERJA PERAWAT (Studi Kasus Pada Perawat RSUP Sanglah Denpasa. Ni Komang Firda Mustiyana Yanti dan Ni Made Yudhaningsih Manajemen Sumber Daya Manusia. Fakultas Ekonomi. Universitas Mahendradatta Jl. Ken Arok No 12. Peguyangan Denpasar Utara. Bali 80115 Email : fmustiyana@gmail. nimadryudha@gmail. Abstrak Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konflik peran ganda terhadap kinerja dengan dimoderasi stress kerja pada perawat RSUP Sanglah Denpasar. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yakni non-probability sampling dengan Purposive Sampling. Untuk menguji pengaruh moderasi dari stress kerja data dianalisis dengan menggunakan MRA (Moderated Regression Analysi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa stress kerja memoderasi hubungan antara peran ganda pada variabel Work-Family Conflict sebesar (-)0,026 dan Family-Work Conlict sebesar (-)0,025 terhadap kinerja perawat. Akhirnya RSUP Sanglah Denpasar diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang dapat memfasilitasi kebutuhan perawat wanita seperti waktu kerja yang fleksibel untuk jenis pekerjaan tertentu, terdapat jadwal kerja alternatif dan kebijakan ijin keluarga. Kata kunci: Family-Work Conflict. Kinerja Perawat. Peran Ganda. Stress Kerja, dan Work-Family Conflict Abstract The purpose of this study was to determine the effect of dual role conflict on performance by moderating work stress in nurses at Sanglah Hospital Denpasar. The sampling technique in this study is non-probability sampling with purposive sampling. To test the effect of moderation from work stress data are analyzed using MRA (Moderated Regression Analysi. The results of data analysis show that work stress moderates the relationship between multiple roles in the Work-Family Conflict variable by (-) 0. 026 and Family-Work Conlict by (-) 0. 025 on the nurse's performance. Finally Sanglah Hospital Denpasar is expected to make policies that can facilitate the needs of female nurses such as flexible working hours for certain types of work, there are alternative work schedules and family permit policies. Keywords: Family-Work Conflict. Nurse Performance. Multiple Roles. Work Stress, and Work-Family Conflict Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha PENDAHULUAN Dalam sudut pandang tiap individu, pekerjaan dan keluarga merupakan dua bidang penting dalam kehidupan sosial. Tanpa bekerja seseorang tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dan keperluan keluarganya. Tanpa keluarga pula seseorang akan merasa sendirian dan tidak ada tempat untuk mencurahkan kasih sayang. Gambaran kehidupan rumah tangga dewasa ini kerap dihadapkan pada sejumlah konflik. Kehidupan yang penuh persaingan antara individu untuk memenuhi kebutuhan, menuntut individu untuk tidak berdiam diri termasuk juga pada kaum perempuan. Seiring perkembangan zaman, semakin berkembang pula emansipasi wanita yang membuktikan bahwa wanita tidak hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tetapi juga pekerjaan public dalam hal ini sebagai wanita karir. Di Bali sendiri, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada tahun 2018 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,71% menjadi 70,41% dari sebelumnya 67,70% pada tahun 2017. Hal ini menyimpulkan bahwa perempuan saat ini telah semakin aktif mengambil bagian dalam mendukung perekonomian nasional dan memiliki kesempatan yang sama di bidang pekerjaan. Menurut Netemeyer et al. 6: . terdapat dua jenis konflik peran ganda, yaitu konflik pekerjaan-keluarga atau Work-Family Conflict (WFC) dan konflik keluarga-pekerjaan atau FamilyWork Conflict (FWC). Netemeyer et al. Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih WFC sebagai bentuk konflik antar peran ketegangan yang berasal dari pekerjaan melakukan tanggung jawabnya dalam keluarga sedangkan sebaliknya FWC adalah bentuk konflik antar peran meliputi, waktu, dan ketegangan yang berasal dari keluarga mengganggu seseorang dalam melakukan tanggung jawabnya dalam pekerjaan Salah satu pekerjaan yang rentan mengalami konflik peran (WFC dan FWC) adalah perawat. Penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar yang mana merupakan salah satu UPT (Unit Pelaksana Tekni. Kesehatan Kondisi kerja perawat pada waktu yang berlawanan tidak diimbangi dengan istirahat yang berkualitas baik di dalam jam dinas . arena perawat harus tetap berada pada kondisi siap dan siaga meskipun pada kondisi istiraha. maupun diluar jam dinas . arena perawat melakukan aktivitas lain di lingkungan sosial sebagaimana yang dilakukan manusia sebagai makhluk sosia. Pada peran ganda. WFC dan FWC samasama mempengaruhi kinerja perawat. Namun, penelitian terdahulu ternyata lebih banyak melakukan penelitian terhadap WFC dibanding FWC. Hal ini dikarenakan WFC dianggap mempunyai dampak yang serius kepada karyawan dibandingkan FWC (Bagger dan Andrew. Meskipun demikian, para peneliti menganggap, bahwa antara WFC dan FWC sama48 Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha sama penting untuk dikaji lebih dalam karena keduanya sama-sama mempunyai konsekuensi terhadap Penelitian ini didasari dari beberapa Pertama, penelitian mengenai WFC ternyata lebih banyak dilakukan daripada FWC (Bagger dan Andrew, 2012: . Penelitian mengenai WFC maupun FWC terhadap variabel outcome kebanyakan dilakukan secara terpisah. Dengan demikian, penelitian kali ini mencoba menguji peran WFC dan FWC dalam satu model. Kedua, terdapat perbedaan hasil hubungan antara FWC dan WFC dengan Penelitian Azazah Indriani . menemukan, bahwa FWC maupun WFC berpengaruh negatif terhadap kinerja . Artinya, apabila karyawan mengalami FWC maupun WFC, mengakibatkan kinerja menurun. Sedangkan, dalam penelitian Wahyuni Awalya Nahwi . mengungkapkan, bahwa FWC maupun WFC ternyata mempunyai hubungan positif dengan Artinya apabila karyawan mengalami FWC maupun WFC, kinerja justru meningkat. Selain itu juga sejumlah peneliti telah mengkaji hubungan konflik peran dengan kinerja karyawan dan hasilnya menunjukkan Beberapa peneliti menemukan bahwa konflik pekerjaanAe keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Indriyani, 2009. Lee and Hui, 1999. Karatepe and Sokmen, 2006. Nugroho, 2. , konflik pekerjaanAekehidupan mempunyai hubungan negatif yang tidak signifikan dengan kinerja (Anwar and Shahzad, 2. Selanjutnya Bhuian. Menguc Borsboom menemukan hubungan tidak berarti antara konflik pekerjaanAekeluarga dan Hasil yang sama telah didokumentasikan oleh Netemeyer. Boles and McMurrian . Studi lainnya menemukan adanya pengaruh pekerjaan-keluarga terhadap kinerja (Christine. Oktorina dan Mula , 2. Ketiga. Berdasarkan observasi awal dan wawancara tidak terstruktur yang telah dilakukan, diperoleh informasi bahwa perawat RSUP Sanglah, masih banyak yang memanfaatkan hari libur dengan Dengan jumlah pasien RSUP sanglah tentunya akan menimbulkan stress bagi perawat. Stress kerja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu ketidakmampuan mengatasi konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga pekerjaan. Konflik pekerjaankeluarga dapat menjadikan perawat mengalami stress saat masalah dalam pekerjaan dibawa dan mengganggu Sedangkan konflik keluargapekerjaan dapat menjadikan perawat mengalami stress kerja saat masalah dalam keluarga dibawa dan mengganggu Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Landasan Teori Konflik Peran Ganda Menurut Davis dan Newstrom . peran diwujudkan dalam perilaku. Peran adalah bagian yang dimainkan individu pada setiap keadaan dan cara tingkah lakunya untuk menyelaraskan diri dengan keadaan. Wanita bekerja menempatkan posisi mereka di antara kepentingan keluarga dan kebutuhan untuk bekerja. Work-Family Conflict (WFC) / Konflik Pekerjaan Ae Keluarga Gutek et al, . menyebutkan bahwa konflik pekerjaan-keluarga mempunyai dua komponen, yaitu urusan keluarga pekerjaan-keluarga mencampuri urusan keluarga. Seperti banyaknya waktu yang dicurahkan untuk menjalankan pekerjaan menghalangi kewajibannya di rumah atau urusan keluarga, mencampuri urusan pekerjaan . eperti merawat anak yang sakit akan menghalangi seseorang untuk datang ke tempat kerj. Beberapa peneliti menemukan bahwa wanita cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dalam hal urusan keluarga sehingga wanita dilaporkan lebih banyak mengalami konflik pekerjaan-keluarga, sebaliknya pria cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk menangani urusan pekerjaan daripada wanita sehingga wanita dilaporkan lebih banyak mengalami konflik pekerjaanNi Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih keluarga dari pada pria. Menurut Nyoman Triaryati . , tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal dari beban kerja yang berlebihan dan waktu, seperti pekerjaan yang harus diselesaikan terburu-buru dan Family-Work Conflict (FWC) / Konflik Keluarga Ae Pekerja Keluarga dapat dilihat dalam arti kata sempit, sebagai keluarga intiyang merupakan kelompok sosial terkecil dari masyarakat yang terbentuk berdasarkan pernikahan dan terdiri dari seorang suami (Aya. , istri (Ib. dan anak-anak mereka (Munandar, 1. Keluarga adalah kesatuan dari sejumlah orang menjalankan peranan sosial mereka sebagai suami, istri, dan anak-anak, laki-laki Peran olehmasyarakat, tetapi peranan dalam Perasaan-perasaan berdasarkan tradisi dan sebagian berdasarkan pengalaman dari masingmasing anggota keluarga. Stress Kerja Stres adalah suatu keadaan yang menekankan diri dan jiwa seseorang diluarbatas kemampuannya, sehingga jika terus dibiarkan tanpa ada solusi maka ini akan berdampak pada kesehatan individu. Stres tidak timbul begitu jasa namun sebab-sebab stres timbul umumnya diikuti oleh faktor peristiwa ysng mempengaruhi kejiwaan Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha seseorang, dan peristiwa itu terjadi diluar dari kemampuannya sehingga kondisi tersebut telah menekankan jiwanya. Menurut Ivancevich dan Matteson, penyebab stres yang diakibatkan olehperan seseorang dalam menjalani suatu profesi tertentu. Peran yang dimaksud adalah sebagai wanita karir seperti yang dikemukakan oleh Ivancevich M. Konopaske dan Matteson . 7 ) stress merupakan kelebihan beban kerja, tanggung jawab atas orang lain, perkembangan karir, kurangnya kohesi kelompok, dukungan kelompok yang tidak memadai, struktur dan iklim organisasi, wilayah dalam organisasi. Stres yang dialami oleh seseorang biasanya dibagi kepada 2 . ua faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu Ukuran kesuksesan yang dicapai oleh karyawan tidak bisa di generalisasikan dengan karyawan yang lain karena harus disesuaikan dengan ukuran yang berlaku dan jenis pekerjaan yang dilakukannya (Steel Johnson, et al 2. Menurut Bernadin dan Rusell . , kinerja kerja adalah catatan mengenai akibatakibat yang dihasilkan pada sebuah fungsi kerja atau kegiatan tertentu dalam suatu jangka waktu tetentu. Kinerja kerja seorang individu merupakan gabungan dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat diukur dari akibat yang di hasilkan oleh karena itu kinerja kerja bukan menyangkut karakteristik pribadi yang ditujukan olehseseorang melainkan hasil kerja yang telah dan akan dilakukan olehseseorang. Stres karena tekanan dari dalam . nternal facto. Stres karena tekanan dari luar . ksternal facto. Kinerja Perawat Pada dasarnya kinerja karyawan merupakan cara kerja karyawan dalam suatu perusahaan selama periode Suatu perusahaan yang memiliki karyawan yang kinerjanya baik maka besar kemungkinan kinerja perusahaan tersebut akan baik, sehingga terdapat hubungan yang sangat erat antara kinerja individu . dengan kinerja perusahaan Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Kerangka Pemikiran Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Perumusan Hipotesa : Diduga Work-Family Conflict (WFC) berpengaruh terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha : Diduga Family-Work Conflict (FWC) berpengaruh terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar : Diduga Work-Family Conflict (WFC) dan Family-Work Conflict (FWC) berpengaruh terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar : Diduga Work-Family Conflict (WFC) mempengaruhi kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar dengan dimoderasi stress kerja : Diduga Family-Work Conflict (FWC) mempengaruhi kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar dengan dimoderasi stress kerja METODE Operasional Variabel Penelitian Variabel (X) Peran Ganda Greenhaus dan Beutell . Nyoman Triaryati . (X. Konflik Pekerjaan Ae Keluarga (X. Konflik Keluarga Ae Pekerjaan (Y) Kinerja Perawat Menurut Boles. James S. Gary Howard & Heather Donofrio . (Z) Stress Kerja Bernadin dan Rusell . dalam Azazah Indriyani . Indikator Konflik Waktu (Time Konflik tekanan (Strain based Konflik perilaku (Behavior based Konflik Waktu (Time Konflik tekanan (Strain based Konflik perilaku (Behavior based Kualitas kerja Kuantitas kerja Ketepatan waktu Penyelesaian Tuntutan tugas Tuntutan peran Tuntutan Struktur organisasi Kepemimpinan Organisasi Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini 528 orang perawat wanita pada RSUP Sanglah Denpasar. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yakni nonprobability sampling dengan Purposive Sampling. Teknik Purposive Sampling pada dasarnya dilakukan sebagai sebuah teknik yang secara sengaja mengambil sampel tertentu yang telah sesuai dan memenuhi segala persyaratan yang dibutuhkan yang meliputi sifat-sifat, karakteristik, ciri, dan kriteria sampel Dalam penelitian ini terdapat beberapa kriteria pemilihan sampel. Perawat Perawat wanita yang sudah memiliki Dengan penarikan sampel menggunakan rumus Slovin, dengan rumus sebagai 1 141. A n = 58,5 dibulatkan menjadi 58. Jadi sampel dalam penelitian ini yakni 58 orang perawat yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Metode Pengumpulan Data Wawancara adalah cara pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematik dan berlandaskan tujuan penelitian (Marzuki. Wawancara dilakukan dengan Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha menggunakan daftar pertanyaan, dan merupakan cara memperoleh data yang bersifat langsung. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data dan informasi dengan melakukan kegiatan kepustakaan melalui buku-buku, jurnal, penelitian terdahulu dan lain sebagainya yang berkaitan Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang mencakup semua pertanyaan dan pertanyaan yang akan digunakan bisa melalui telepon, surat ataupun tatap muka (Ferdinand, 2. Dengan kata lain kuisioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Pertanyaan yang diajukan pada responden harus jelas dan tidak meragukan responden. Dengan kuesioner untuk mengukur persepsi responden digunakan Skala Likert yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Skala Likert umumnya menggunakan 5 angka penelitian, yaitu: Sangat Setuju (SS) dengan score 5. Setuju (S) dengan score 4. Cukup Setuju (CS) dengan score 3. Tidak Setuju (TS) dengan score 2. Sangat Tidak Setuju (STS) dengan Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Teknik Analisis Data Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti (Cooper dan Schindler, dalam Zulganef. Uji kelayakan butir-butir dalam suatu daftar . mendefinisikan suatu variabel. Menilai masing-masing butir pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel. Menilai masing-masing butir pertanyaan dapat dilihat dari nilai correcte item-total Suatu butir pertanyaan dikatakan valid jika nilai r-hitung yang merupakan nilai dari corrected item-. total correlation dari r-tabel yang diperoleh melalui DF (Degree of Freedo. Atau dengan kata lain suatu instrument dikatakan valid jika korelasi antara skor faktor dengan skor total nermilai positif dan nilainya lebih dari 0,30 . E 0,. Untuk menguji valid tidaknya pertanyaan dilakukan melalui program computer SPSS. Uji Reabilitas Uji Realibilitas ukuran suatu kestabilan dan konsistensi si responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuoesioner. 60Alat ukur yang akan digunakan adalah cronbachalpa melalui program computer Excel Statistic Analysis & SPSS. Realibilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memliki nilai cronbachalpa 0,60. Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Analisis Regresi Dalam digunakan analisa data deskriptif kuantitatif, yaitu suatu cara menjelaskan hasil penelitian yang ada dengan matematis dan menghubungkannya dengan teori Ae teori yang ada, kemudian ditarik kesimpulan. Untuk mengetahui besarnya pengaruh dari variabel Ae variabel maka digunakan metode regresi linier berganda yaitu suatu alat ukur mengenai hubungan yang terjadi antara variabel terikat dengan dua atau lebih variable bebas. Formula untuk regresi linear berganda adalah sebagai berikut : Y= a b1X1 b2X2 e Dimana : Y = Variabel Terikat . Kinerja Karyawan X1 = Variabel Bebas . Work-Family Conflict (WFC) X2 = Variabel Bebas . Family- Work Conflict (WFC) a = Nilai Konstanta b = Nilai Koefisien Regresi e = Erorr (Faktor Penggangg. Uji T ( Parsial ) Uji T dikenal dengan uji parsial, masing-masing bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikatnya. Formulasi hipoteis uji T Ho : 1 = 0 tidak ada pengaruh nyata antara WFC (X. terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah (Y). Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Ho : 1 E 0 ada pengaruh nyata dan positif antara WFC (X. terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah (Y). Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Ho diterima jika t-hitung O t tabel Ou t Ho ditolak jika t-hitung E t tabel C t Uji F ( Simultan ) Uji F dikenal dengan Uji serentak atau uji Model/Uji Anova, yaitu uji untuk melihat bagaimanakah pengaruh semua variabel bebasnya secara bersama-sama terhadap variabel Atau untuk menguji apakah baik/signifikan atau tidak baik/non Uji F dapat dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan Tabel F: F Tabel dalam Excel, jika F hitung > dari F tabel, (Ho di tolak Ha diterim. maka model signifikan atau bisa dilihat dalam kolom signifikansi pada Anova (Olahan dengan SPSS. Gunakan Uji Regresi dengan Metode Enter/Full Mode. Model signifikan selama kolom signifikansi (%) < Alpha . esiapan berbuat salah tipe 1, yang menentukan peneliti sendiri, ilmu sosial biasanya paling besar alpha 10%, atau 5% atau 1%). Dan sebaliknya jika F hitung < F tabel, maka model tidak signifikan, hal ini juga ditandai nilai kolom signifikansi (%) akan lebih besar dari alpha. Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Formula Hipotesis : Ho : 1 = 0 . pengaruh nyata secara bersama-sama antara WFC dan FWC terhadap kinerja Hi : minimal satu 1 O 0 . inimal satu variabel berpengaru. berarti ada pengaruh nyata secara bersama-sama antara WFC terhadap kinerja. Taraf nyata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5% dengan derajat kebebasan df . Kriteria pengujian Hipotesis : Ho diterima jika,F hitung O F tabel H0 ditolak jika. F hitung E F tabel Analisis Moderated Analysis ( MRA ) Regression Ghozali . , uji interaksi atau sering disebut Moderated Regression Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di mana mengandung unsur interaksi . erkalian dua atau lebih independe. Menurut Ghozali . , tujuan analisis ini untuk mengetahui apakah variabel moderating akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Terdapat tiga model pengujian regresi dengan variabel (Moderated Regression Analysi. , uji nilai selisih mutlak, dan uji residual. Dalam penelitian ini akan digunakan uji MRA. MRA menggunakan pendekatan Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih analitik yang mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar utuk Metode ini dilakukan dengan menambahkan variabel perkalian antara HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Regresi Tabel 1. 1 Hasil Regresi Sederhana Variabel WORKFAMILY CONFLICT (WFC) FAMILYWORK CONFLICT (WFC) Koefisien Sig. Value (-)0,953 (-) 0,00 (-)0,819 (-) 0,00 Regresi Pengaruh antara Work Family Conflict (WFC) terhadap Kinerja Perawat diperoleh t-hitung sebesar -12. 500 pada tingkat sig sebesar 0,00. Hal ini berarti nilai thitung sebesar -12. 500 pada level probabilitas . 0,05 . %) diperoleh t-tabel sebesar 2. Hasil uji-t tersebut dikaitkan dengan hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini yaitu : Ho : 1, < 0 : menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara WFC terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar H1 : 1 > 0 : menunjukkan terdapat pengaruh antara WFC terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Kriteria diterimanya hipotesis : - Jika t-hitung > t-tabel dan sig < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. - Jika t-hitung < t-tabel, dan sig > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. - Taraf nyata = 5%, derajat kebebasan . = n-2 = 58-2 = 56 Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa nilai t-hitung sebesar -12. 500 > ttabel ((-)12. 500 E 2. dan sig < 0,05 . ,000 < 0,. hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Pengaruh antara Family Work Conflict (FWC) terhadap Kinerja Perawat antara WFC dan FWC bersama-sama Kinerja Perawat diperoleh t-hitung sebesar -13. 199 pada tingkat sig sebesar 0,00. Hal ini berarti nilai thitung sebesar -13. 199 pada level probabilitas . 0,05 . %) diperoleh t-tabel sebesar 2. Hasil uji-t tersebut dikaitkan dengan hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini yaitu : Ho : 1, < 0 : menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara FWC terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar H1 : 1 > 0 : menunjukkan terdapat pengaruh antara FWC terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah Denpasar Kriteria diterimanya hipotesis : - Jika t-hitung > t-tabel dan sig < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih - Jika t-hitung < t-tabel, dan sig > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. - Taraf nyata = 5%, derajat kebebasan . = n-2 = 58-2 = 56 Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa nilai t-hitung sebesar -13. 199 > ttabel ((-)13. 199 E 2. dan sig < 0,05 . ,000 < 0,. hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Tabel 1. 2 Determinasi Pengaruh Simultan Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Hasil uji koefisien determinasi antara WFC dan FWC secara bersama-sama dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,761. Sehingga dapat disimpulkan. WFC dan FWC dapat dijelaskan sebesar 76,1%. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variable yang lain sebesar 23,9%. Pengaruh WFC terhadap Kinerja Perawat dengan Stress Kerja sebagai Variable Moderator Tabel 1. 3 Hasil Uji MRA Hipoesis 4 Model (Constan. WFC STRESS KERJA MRAX1_Z Unstandardized Coefficients Std. Error Standar Coeffic Beta Sig. Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Nilai signifikansi untuk WFC dan variabel moderasi Stress Kerja terhadap kinerja perawat dibawah 0,05 yaitu sebesar 0,045. Nilai thitung 2,057 E ttabel 1,673. Ini berarti Ha diterima yang menyatakan bahwa variabel moderasi mempunyai pengaruh secara individual terhadap hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stress kerja memoderasi . hubungan antara WFC terhadap kinerja Y = 51. 400 - 1. 722X1 - 0,553Z1 0,26 X1Z A Dilihat dari persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa WFC memberikan -1,722 signifikansi 0,01. Variabel stress kerja memberikan nilai koefisien (-)553 dengan signifikansi 0,00. Variabel moderating X1X2 . nteraksi antara WFC dan stress kerj. memberikan nilai koefisien (-)0,026 dengan signifikansi 0,045 Nilai signifikansi untuk FWC dan variabel moderasi Stress Kerja terhadap kinerja perawat dibawah 0,05 yaitu sebesar 0,028. Nilai thitung 2,263 E ttabel 1,673. Ini berarti Ha diterima yang menyatakan bahwa variabel moderasi mempunyai pengaruh secara individual terhadap hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stress kerja memoderasi . hubungan antara FWC terhadap kinerja Y = 49. 565 - 1. 516X1 - 0,607Z 0,25 (X2Z) A Dilihat dari persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa FWC memberikan -1,516 signifikansi 0,001. Variabel stress kerja memberikan nilai koefisien (-)0,607 dengan signifikansi 0,006. Variabel moderating X1X2 . nteraksi antara FWC dan stress kerj. memberikan nilai koefisien 0,025 dengan signifikansi 0,028. Pengaruh FWC terhadap Kinerja Perawat dengan Stress Kerja sebagai Variable Moderator Pembahasan Hasil Penelitian Tabel 1. 4 Hasil Uji MRA Hipoesis 4 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta Sig. (Constan. STRESS KERJA MRAX2_Z FWC Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih Pengaruh Work Family Conflict (WFC) (X. Terhadap Kinerja Perawat (Y) Persepsi WFC dari persepsi para responden yang diperoleh melalui hasil angket kuesioner, menunjukkan bahwa WFC diterima dengan baik. Dari diungkapkan pada bab sebelumnya, bahwa dari hasil uji hipotesis dengan melakukan uji-t, ditemukan bahwa terdapat pengaruh nyata dan signifikan antara variabel WFC terhadap kinerja Hal ini dapat terlihat pada nilai Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha t-hitung sebesar -12. 500 > t-tabel . 500 C 2. dan sig < 0,05 . ,000 < 0,. hal ini berarti H0 ditolak dan H1 Hasil uji-t diperoleh t-hitung probabilitas . adalah 0,000. Jika dibandingkan pada t-tabel pada = 0,05, berarti t-hitung < t-tabel dan sig > 0,05 (-12. 500 E 2. 667 dan 0,000 > 0,. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak yaitu terdapat pengaruh yang nyata dan signifikan antara variabel WFC (X. terhadap kinerja perawat (Y) pada RSUP Sanglah Denpasar Karena RSUP Sanglah Denpasar merupakan rumah sakit umum pusat yang tentunya akan menjadi rumah sakit yang di utamakan bagi pasien yang berasal dari seluruh Bali terutama bagi pasien yang memiliki penyakit serius. Karena hal tersebut tentunya RSUP Sanglah memiliki jumlah pasien rawat inap yang tidak sedikit, tentu hal tersebut akan berdampak langsung pada perawat yang notabene nya keperluan dari pasien merupakan tanggung jawab dari Peran ganda khususnya WorkFamily Conflict (WFC) yang mana sebagai wanita karir, beban tersebut akan berdampak langsung pada kinerja Seperti yang telah diteliti, pengaruh WFC berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi WFC yang dirasakan perawat akan kinerja perawat pada RSUP sanglah Denpasar. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang pertama berbunyi WFC berpengaruh negative terhadap kinerja Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih perawat wanita rumah sakit Hal ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini memiliki kesamaan dan terdahulu, seperti tesis (Azazah Indiyani, 2. Menyatakan bahwa konflik pekerjaan-keluarga terjadinya benturan antara tanggung jawab pekerjaan di tempat kerja atau kehidupan pekerjaan dengan tanggung jawab ppekerjaan dirumah sedangkan menurut Nyoman Triaryati . , menyatakan bahwa konflik pekerjaan keluarga pada karyawan yang telah menikah dan mempunyai anak dapat di definisikan sebagai bentuk konflik peran dimana tuntutan dari peran pekerjaan kurang dapat di penuhi karena pada saat memenuhi tuntutan peran yang lain. Pengaruh Family Work Conflict (FWC) (X. Terhadap Kinerja Perawat (Y) Dari hasil olah data pada hasil jawaban responden, ditemukan bahwa Persepsi FWC yang diperoleh melalui hasil angket kuesioner, menunjukkan bahwa WFC diterima dengan baik. Dari diungkapkan pada bab sebelumnya, bahwa dari hasil uji hipotesis dengan melakukan uji-t, ditemukan bahwa terdapat pengaruh nyata dan signifikan antara variabel FWC terhadap kinerja Hal ini dapat terlihat pada nilai t-hitung sebesar -12. 500 > t-tabel . ,199 C 2. dan sig < 0,05 . ,000 < 0,. hal ini berarti H0 ditolak dan H1 Hasil uji-t diperoleh t-hitung -13,199, adalah 0,000. Jika dibandingkan pada t-tabel pada = 0,05. Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha berarti t-hitung < t-tabel dan sig > 0,05 (-13,199 E 2. 667 dan 0,000 > 0,. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak yaitu terdapat pengaruh yang nyata dan signifikan antara variabel FWC (X. terhadap kinerja perawat (Y) pada RSUP Sanglah Denpasar Wanita karir pada umumnya sudah pasti memiliki peran ganda yakni peran pada pekerjaan dan keluarga. Pada penelitian ini mengkhusus pada perawat, peran pada keluarga yakni sebagai seorang ibu memilki pengaruh negatif terhadap kinerja. Di bali sendiri, peran wanita pada keluarga bukan hanya mengurus suami maupun anak, karna di Bali mengenal Yadnya . husus pada wanita Hind. hal ini menambah tanggung jawab wanita selain hanya mengurus suami dan anak pada keluarga pada kesehariannya. Seperti yang telah diteliti, pengaruh FWC berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi FWC yang dirasakan perawat akan mempengaruhi yakni menurunkan kinerja perawat pada RSUP sanglah Denpasar. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang kedua berbunyi FWC berpengaruh negative terhadap kinerja perawat wanita rumah sakit Hal ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini memiliki kesamaan dan terdahulu, seperti tesis (Azazah Indiyani, 2. Menyatakan bahwa konflik pekerjaan-keluarga terjadinya benturan antara tanggung jawab pekerjaan di tempat kerja atau Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih kehidupan pekerjaan dengan tanggung jawab pekerjaan dirumah sedangkan menurut Nyoman Triaryati . , menyatakan bahwa konflik keluargapekerjaa pada karyawan yang telah menikah dan mempunyai anak dapat di definisikan sebagai bentuk konflik peran dimana tuntutan dari peran pekerjaan kurang dapat di penuhi karena pada saat memenuhi tuntutan peran yang lain. Pengaruh Work Family Conflict (X. dan Family Work Conflict (FWC) (X. Terhadap Kinerja Perawat (Y) Berdasarkan data tabel di atas diperoleh F-hitung sebesar 91. 562 dan sig 0,000. F-tabel pada taraf = 0. 05, df 1 = . umlah variable independen = . dan df2 . Ae k Ae 1 = 58 Ae 2 Ae 1 = . , maka nilai Ftabel = 2,77. Hal ini berarti F-hitung > F-tabel . 562 > 2,. dan sig < 0,05 . ,000 < 0,. , maka hipotesis dapat diterima. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa variabel WFC dan FWC secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap kinerja perawat, sehingga kedua variabel independen mengestimasi atau memprediksi variabel kinerja perawat. Seperti yang sudah dijelaskan pada variabel parsial, hasil yang sama pula dibuktikan pada pengaruh WFC dan FWC secara bersama-sama terhadap kinerja perawat, yakni berpengaruh Jadi semakin tinggi pengaruh WFC dan FWC akan mengakibatkan penurunan kinerja perawat RSUP Sanglah. Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang ketiga berbunyi WFC dan FWC berpengaruh negative terhadap kinerja perawat wanita rumah sakit Hal disimpulkan bahwa hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini memiliki kesamaan dan memperkuat justifikasi penelitian terdahulu, seperti jurnal (Atik Dina Nasekhah, 2. Menyatakan bahwa konflik pekerjaan-keluarga dan keluarga-pekerjaan bersama-sama mempengaruhi kinerja konflik pekerjaan-keluarga menjelaskan terjadinya benturan antara tanggung jawab pekerjaan di tempat kerja atau kehidupan pekerjaan dengan tanggung jawab pekerjaan dirumah. Pengaruh WFC terhadap Kinerja Perawat dengan Stress Kerja sebagai Variable Moderator Work-Family Conflict (WFC) memberikan nilai koefisien -1,722 dengan signifikansi 0,01. Variabel stress kerja memberikan nilai koefisien (-)553 dengan signifikansi 0,00. Variabel moderating X1X2 . nteraksi antara WFC dan stress kerj. memberikan nilai koefisien (-)0,026 dengan signifikansi 0,045 Nilai signifikansi untuk WFC dan variabel moderasi Stress Kerja terhadap kinerja perawat dibawah 0,05 yaitu sebesar 0,045. Nilai thitung 2,057 E ttabel 1,673. Ini berarti Ha diterima yang menyatakan bahwa variabel moderasi mempunyai pengaruh secara individual terhadap hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sehingga dapat dikatakan bahwa stress Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih . hubungan antara WFC terhadap kinerja Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel stress kerja dalam penelitian ini merupakan variabel moderating karena variabel interaksi antara WFC dan stress kerja negatif dan Semakin tinggi WFC dan meningkatnya stress maka kinerja perawat akan semakin menurun. Konflik peran ganda yang dibiarkan tentunya akan menimbulkan stress, pada penelitian ini telah dibuktikan bagaimana stress dapat memoderasi konflik pekerjaan-keluarga. Karena tuntutan peran baik tanggung jawab pekerjaan maupun peran sebagai ibu dan istri akan menimbulkan stress dan secara langsung akan menurunkan kinerja, dalam halm hal ini kinerja Pengaruh FWC terhadap Kinerja Perawat dengan Stress Kerja sebagai Variable Moderator Family-Work Conflict (FWC) memberikan nilai koefisien -1,516 dengan signifikansi 0,001. Variabel stress kerja memberikan nilai koefisien (-)0,607 dengan signifikansi 0,006. Variabel moderating X1X2 . nteraksi antara FWC dan stress kerj. memberikan nilai koefisien 0,025 dengan signifikansi 0,028. Nilai signifikansi untuk FWC dan variabel moderasi Stress Kerja terhadap kinerja perawat dibawah 0,05 yaitu sebesar 0,028. Nilai thitung 2,263 E ttabel 1,673. Ini berarti Ha diterima yang menyatakan bahwa variabel moderasi mempunyai pengaruh secara individual Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha terhadap hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stress kerja memoderasi . hubungan antara FWC terhadap kinerja Konflik peran ganda yang dibiarkan tentunya akan menimbulkan stress, pada bagaimana stress dapat mempengaruhi kinerja dengan memoderasi konflik keluarga-pekerjaan Karena tuntutan peran baik tanggung jawab pekerjaan maupun peran sebagai ibu dan istri akan menimbulkan stress dan secara langsung akan menurunkan kinerja, dalam halm hal ini kinerja perawat. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Secara parsial. Work-Family Conflict (WFC) berpengaruh signifikan negative terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah. Artinya pekerjaan-keluarga perawat akan menurunkan kinerja perawat pada RSUP sanglah Denpasar. Konflik pekerjaan-keluarga cenderung mengarah pada stress kerja karena ketika urusan pekerjaan mencampuri kehidupan keluarga, tekanan sering kali terjadi pada individu untuk mengurangi waktu yang dihabiskan dalam pekerjaan dan menyediakan lebih banyak waktu untuk Secara parsial Family-Work Conflict (FWC) berpengaruh signifikan negative terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah. Artinya semakin tinggi konflik kelurgapekerjaan yang dirasakan perawat akan menurunkan kinerja p erawat pada Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih RSUP sanglah Denpasar. Konflik keluarga-pekerjaan dapat mengarah pada stress kerja dikarenakan banyaknya menangani urusan pekerjaan dan ini merupakan sumber potensial terjadinya stress kerja. Secara Simultan Work-Family Conflict (WFC) dan Family-Work Conflict (FWC) bersama-sama terhadap kinerja perawat RSUP Sanglah. Artinya pekerjaan-keluarga keluarga-pekerjaan perawat akan menurunkan kinerja perawat pada RSUP sanglah Denpasar. Stress kerja dalam penelitian ini merupakan variabel moderating karena interaksi antara pekerjaan-keluarga dan stress kerja negatif dan signifikan. Yang artinya semakin tinggi konflik pekerjaankeluarga dan disaat bersamaan perawat juga merasakan stress kerja maka kinerja perawat akan semakin menurun. Stress kerja dalam penelitian ini merupakan variabel moderating karena interaksi antara keluarga-pekerjaan dan stress kerja negatif dan signifikan. Hal tersebut berarti semakin tinggi konflik kelurgapekerjaan dan meningkatnya stress kerja maka kinerja perawat akan semakin SARAN Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada variabel stres kerja yang terletak pada indikator tuntutan tugas memperlihatkan hasil yang mendominasi dikeluhkan perawat maka RSUP Sanglah Jurnal Satyagraha Vol. No. Pebruari 2021 Ae Agustus 2021 ISSN : 2620-6358 http://ejournal. id/index. php/satyagraha Denpasar hendaknya tepat dalam diberikan perawat sehingga perawat tidak merasa berat dan jenuh dengan pekerjaan yang harus diselesaikan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja karyawan. Kepada RSUP Sanglah Denpasar terutama perawat wanita yang sudah menikah diketahui bahwa sebagian perawat mengalami konflik peran ganda dan stres kerja, oleh sebab itu instansi rumah sakit diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan memfasilitasi kebutuhan perawat wanita, khususnya yang telah berkeluarga seperti, waktu kerja yang fleksibel untuk jenis pekerjaan tertentu, terdapat jadwal kerja alternatif dan kebijakan ijin Dengan kebijakan tersebut, diharapkan stres kerja karyawan yang merupakan dampak dari peran ganda dapat diminimalisir. RSUP Sanglah Denpasar diharapkan dapat memfasilitasi sedini mungkin memberdayakan atasan/pimpinan untuk memberikan konseling atau layanan konseling melalui orang-orang yang Hal ini dapat mendeteksi dengan cepat konflik yang terjadi dan mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan perusahaan seperti mangkir atau aktivitas yang kontra produktif. Berdasarkan penelitian, perawat RSUP Sanglah menggalami stres kerja, yang berarti terdapat sebuah ketidak-cocokan harapan antara kontribusi dalam satu peran yaitu antara pekerjaan dengan peran lainnya yaitu sebagai ibu rumah tangga, maupun sebaliknya. Oleh karena itu, wanita sebaiknya dapat mengelola waktu dalam menjalankan perannya Ni Komang Firda Mustiyana Yanti Ni Made Yudhaningsih sebagai pekerja maupun sebagai ibu Serta dialami dengan pihak keluarga . maupun dengan pihak organisasi . ekan kerja dan pimpina. Subyek penelitian ini adalah rumah sakit yang telah memenuhi kriteria saja, dengan sampel seperti ini, tentu saja tidak dapat dilakukan generalisasi bahwa penelitian yang sama dengan subyek yang lebih beragam akan memberikan hasil dan temuan temuan yang tidak penelitian mendatang sebaiknya menggunakan subyek penelitian yang tidak hanya Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar . isalnya: RSUD Wangaya. Rumah Sakit Bakti Rahayu khususnya penelitian di Bal. untuk memungkinkan generalisasi hasil-hasil DAFTAR PUSTAKA