A Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume. Nomor. 2 April 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. DOI: https://doi. org/10. 59841/miftahulilmi. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/MiftahulIlmi Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari Dila Deviana Putri1* Mahasiswa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Agama Islam (PAI). Fakultas Tarbiyah. Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon Indonesia Korespondensi penulis: ukhtydiladeviana@gmail. Abstract. The subject of Aqidah Akhlaq in Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) plays a central role in establishing the foundations of faith and commendable character from an early age. However, the transformation of values from the classroom into real-life habituation is often inconsistent, creating a gap between moral knowing and moral action. This study aims to describe the perceptions of 4th-grade MDT students regarding the application of Aqidah Akhlaq values in daily life, identify the influencing factors, and analyze implications for character formation. A qualitative descriptive approach supported by simple percentage data was employed. The subjects were 28 fourth-grade students of MDT Al Anwar. Grobogan Regency, selected through purposive sampling, with 5 students as in-depth interview informants, 1 teacher, and 1 parent as triangulation informants. Data were collected through eight sessions of participatory observation, a four-point Likert scale questionnaire, semi-structured interviews, and student habituation journal documentation. Analysis followed the interactive model of Miles. Huberman, and Saldaya . Results showed that 85. 7% of students perceived Aqidah Akhlaq values as a genuine life necessity, not merely examination material. The most consistent application was observed in respect toward teachers . 3%) and disciplined ablution . 6%), while independence in performing prayers at home and academic honesty remained fluctuating and dependent on external supervision. Key factors building positive perceptions were teacher exemplarity, structured daily habituation systems, and active family support, while digital media exposure served as the primary inhibiting factor. This study recommends a more structured synergy among the three pillars of education as the key to consistent and autonomous value Keywords: Aqidah Akhlaq. Character Habituation. Madrasah Diniyah. Religious Values. Student Perception. Abstrak. Mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) memegang posisi sentral dalam membentuk fondasi keimanan dan karakter terpuji anak sejak usia dasar. Namun, transformasi nilai dari ruang kelas menuju pembiasaan dalam kehidupan nyata kerap tidak konsisten, menciptakan kesenjangan antara moral knowing dan moral action. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi siswa kelas 4 MDT terhadap penerapan nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan sehari-hari, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta menganalisis implikasinya bagi pembentukan karakter. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang diperkuat persentase data sederhana. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas 4 MDT Al Anwar Kabupaten Grobogan yang dipilih melalui purposive sampling, dengan 5 siswa sebagai informan wawancara mendalam, serta 1 ustadzah dan 1 orang tua sebagai triangulasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif delapan pertemuan, angket skala Likert empat poin, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi jurnal pembiasaan siswa. Analisis mengikuti model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . Hasil penelitian menunjukkan 85,7% siswa mempersepsikan nilai-nilai Akidah Akhlak sebagai kebutuhan hidup yang genuine, bukan sekadar materi ujian. Penerapan paling konsisten tampak pada nilai hormat kepada ustadz/ustadzah . ,3%) dan ketertiban wudu . ,6%), sementara kemandirian shalat di rumah dan kejujuran akademik masih fluktuatif dan bergantung pada pengawasan eksternal. Faktor utama pembentuk persepsi positif adalah keteladanan ustadz/ustadzah, sistem pembiasaan harian terstruktur, dan dukungan aktif keluarga, sedangkan paparan media digital menjadi penghambat utama. Penelitian ini merekomendasikan sinergi tripusat pendidikan yang lebih terstruktur sebagai kunci internalisasi nilai yang konsisten dan otonom. Kata Kunci: Akidah Akhlak. Madrasah Diniyah. Nilai Keagamaan. Pembiasaan Karakter. Persepsi Siswa. Naskah Masuk: 17 Februari 2026. Revisi: 27 Maret 2026. Diterima: 24 April 2026. Terbit: 30 April 2026 Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. PENDAHULUAN Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) hadir sebagai lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang secara strategis melengkapi dimensi pendidikan agama yang tidak tertampung sepenuhnya dalam kurikulum sekolah dasar formal. Kehadirannya bukan sekadar suplemen akademis, melainkan laboratorium pembentukan karakter islami yang bekerja melalui mekanisme pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan yang berkelanjutan (Kementerian Agama RI, 2. Di antara seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Akidah Akhlak menduduki posisi yang paling fundamental karena secara simultan menggarap dua dimensi pembentukan manusia: dimensi vertikal berupa penguatan keyakinan kepada Allah . ablum minalla. dan dimensi horizontal berupa pembentukan moralitas sosial . ablum minanna. (Muhaimin. Siswa kelas 4 MDT yang berusia 9Ae10 tahun berada pada fase operasional konkret menurut Piaget . , yakni tahap di mana pemahaman anak sangat bergantung pada contoh nyata dan pengalaman langsung. Ini menjadikan usia ini sebagai momen kritis sekaligus strategis dalam pembentukan karakter: nilai-nilai yang ditanam dengan cara yang tepat pada fase ini memiliki potensi berakar kuat dan bertahan hingga dewasa (Daradjat, 2. Namun, realitas lapangan justru menampilkan paradoks yang mengkhawatirkan. Siswa yang fasih menghafal definisi jujur dan hadits tentang shalat, dalam praktiknya masih ditemukan mencontek, menunda shalat tanpa pengawasan orang tua, atau berbicara kurang sopan di rumah (Syafaat, 2. Hawari . menegaskan bahwa anomali ini merupakan buah dari pendidikan yang hanya berhenti pada transfer pengetahuan tanpa pembiasaan terstruktur yang Kesenjangan antara moral knowing dan moral action ini semakin diperparah oleh penetrasi teknologi digital yang menawarkan stimulus yang jauh lebih imersif dan kompetitif dibandingkan nilai-nilai yang diajarkan di kelas (Nata, 2. Di tengah realitas inilah, memahami persepsi siswa menjadi sangat krusial. Persepsi berfungsi sebagai mediator utama antara proses pengajaran dan internalisasi nilai. ketika siswa secara tulus mempersepsikan nilai-nilai akidah akhlak sebagai sesuatu yang bermakna dan relevan bagi kehidupannya, jembatan dari moral knowing menuju moral action akan terbuka jauh lebih lebar (Walgito. Kajian-kajian terdahulu seperti Nata . Zuriah . , dan Syafaat . telah memberikan kontribusi berharga, namun mayoritas memotret persoalan dari sisi strategi guru . eacher-centere. Sangat sedikit riset yang secara khusus menggali narasi subjektif siswa MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. MDT tentang bagaimana mereka sendiri memaknai dan mempersepsikan relevansi nilai-nilai akidah akhlak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Celah inilah yang menjadi alasan utama penelitian ini hadir. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 4 MDT Al Anwar Kabupaten Grobogan, sebuah lembaga yang menerapkan program pembiasaan akhlak harian terdokumentasi, sehingga menyediakan konteks penelitian yang kaya dan verifikatif. Hasil penelitian diharapkan menjadi basis rekomendasi praktis bagi ustadz/ustadzah dalam merancang pembelajaran akidah akhlak yang lebih kontekstual dan berbasis pembiasaan LANDASAN TEORITIS Hakikat Persepsi dalam Pembelajaran Nilai Agama Persepsi merupakan proses aktif dan konstruktif di mana individu menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan stimulus menjadi gambaran yang bermakna tentang realitasnya (Walgito, 2. Dalam konteks pendidikan agama, persepsi siswa berfungsi sebagai variabel mediator yang menentukan seberapa dalam suatu nilai diserap dan Sugiyono . menegaskan bahwa persepsi positif terhadap relevansi suatu materi secara langsung meningkatkan motivasi penerapannya dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, persepsi bahwa materi bersifat abstrak dan tidak kontekstual menciptakan hambatan psikologis yang menumpulkan proses internalisasi, seberapa baik pun metode Daradjat . menambahkan dari perspektif psikologi Islam bahwa persepsi anak terhadap nilai agama sangat dipengaruhi oleh kualitas pengalaman emosional yang menyertai proses penyampaiannya. Nilai yang disampaikan dalam suasana hangat dan disertai keteladanan nyata akan membentuk asosiasi positif yang kuat, sehingga dipersepsikan sebagai sesuatu yang patut dianut. Dua kategori faktor utama yang membentuk persepsi adalah: faktor internal . ematangan faktor eksternal . ualitas keteladanan guru, budaya pembiasaan madrasah, lingkungan keluarga, pengaruh teman sebaya, dan paparan medi. Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kurikulum MDT Akidah secara terminologis merujuk pada keyakinan fundamental Islam yang mencakup enam rukun iman, sedangkan akhlak merujuk pada keadaan jiwa yang secara spontan mendorong perbuatan baik tanpa memerlukan pertimbangan panjang (Ramayulis. Keduanya merupakan satu kesatuan organik: akidah yang kokoh adalah akar, sementara Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. akhlak mulia adalah buah yang lahir darinya secara alami. Kementerian Agama RI . merumuskan nilai-nilai inti Akidah Akhlak tingkat MDT yang meliputi: . penguatan keimanan melalui penghayatan asmaul husna, . disiplin ibadah, khususnya shalat dan thaharah, . , . hormat kepada orang tua dan guru, . tolong-menolong . a'awu. , dan . kesantunan dalam tutur kata dan perilaku sosial. Keberhasilan pencapaian nilai-nilai ini tidak diukur dari aspek kognitif semata, melainkan dari konsistensi penerapannya dalam perilaku nyata lintas konteks kehidupan. Internalisasi Nilai dan Pembentukan Karakter Internalisasi nilai adalah proses bertahap di mana nilai-nilai eksternal secara gradual diserap hingga menjadi bagian dari sistem nilai internal individu yang mengarahkan perilaku secara konsisten dari dalam, bukan lagi karena tekanan luar (Zuriah, 2. Dalam kerangka pendidikan Islam. Ulwan . mengidentifikasi tiga mekanisme utama internalisasi yang harus berjalan sinergis: ta'lim . engajaran kogniti. , uswah . eteladanan figur otorita. , dan ta'wid/tadrib . embiasaan perilaku yang konsisten dan berulan. Lickona . menegaskan bahwa karakter sejati terbentuk dari integrasi tiga komponen tak terpisahkan: moral knowing . engetahui yang bai. , moral feeling . erasakan dorongan tulus untuk berbuat bai. , dan moral action . ertindak nyata secara konsiste. Kegagalan pendidikan karakter umumnya terjadi ketika proses pembelajaran hanya menyentuh moral knowing tanpa secara memadai mengembangkan moral feeling dan moral action. Inilah mengapa persepsi siswa menjadi sangat kritis: persepsi yang bermakna adalah jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan perasaan moral, yang bersama-sama mendorong lahirnya tindakan yang tulus dan konsisten. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang diperkuat penyajian data persentase sederhana. Paradigma interpretivis dipilih karena penelitian ini bermaksud mengeksplorasi dan mendeskripsikan secara mendalam bagaimana siswa secara subjektif mempersepsikan dan memaknai nilai-nilai Akidah Akhlak dalam kehidupan nyata mereka, sebuah fenomena yang tidak dapat direduksi menjadi angka statistik semata (Creswell & Poth. Lokasi dan Waktu. Penelitian dilaksanakan di MDT Al Anwar. Kecamatan Pulokulon. Kabupaten Grobogan, pada semester ganjil 2026/2027. Pemilihan lokasi didasarkan pada: . penerapan program pembiasaan akhlak harian yang terdokumentasi dalam jurnal pembiasaan siswa, . keberagaman latar belakang sosio-ekonomi siswa yang representatif, dan . dukungan penuh dari pengelola madrasah. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Subjek dan Sampling. Seluruh 28 siswa kelas 4 . perempuan, 13 laki-lak. menjadi responden angket. Melalui purposive sampling, dipilih 5 siswa sebagai informan wawancara mendalam yang mewakili variasi karakteristik: siswa konsisten berakhlak baik . , ratarata . , dan menunjukkan kesenjangan nyata antara pengetahuan dan perilaku . Ditambah 1 ustadzah dan 1 orang tua sebagai informan triangulasi. Pengumpulan Data dilakukan melalui empat instrumen yang saling melengkapi: Observasi partisipatif selama delapan pertemuan, berfokus pada pembiasaan wudu, salam, shalat berjamaah, dan interaksi sosial, . Angket tertutup skala Likert empat poin (SS. KS. TS) yang terdiri dari 20 butir pernyataan mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik persepsi siswa. Wawancara semi-terstruktur secara individual dengan panduan pertanyaan terbuka yang dirumuskan dalam bahasa ramah anak dan . Dokumentasi berupa telaah kurikulum. RPP, buku ajar, jurnal pembiasaan siswa, dan foto kegiatan. Analisis Data mengadopsi model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . yang terdiri dari tiga tahapan siklikal: kondensasi data melalui pengkodean tematik, penyajian data dalam narasi deskriptif dan tabel persentase, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber . iswa, ustadzah, orang tu. , triangulasi metode . ngket, wawancara, observas. , dan member checking. PEMBAHASAN DAN HASIL Deskripsi Persepsi Siswa terhadap Nilai-Nilai Akidah Akhlak Peneliti membagi indikator persepsi ke dalam tiga ranah utama: pemahaman konseptual . , penerapan di lingkungan rumah, dan penerapan di lingkungan madrasah. Hasil angket dari 28 responden disajikan dalam tabel-tabel berikut dan divalidasi melalui data wawancara serta observasi. Tabel 1. Pemahaman Konseptual Siswa tentang Nilai Akidah Akhlak Pernyataan Indikator Akidah berarti keyakinan kepada Allah 67,9% 28,6% 3,5% 0% yang harus tercermin dalam perilaku Akhlak baik harus dilatih setiap hari, 71,4% 25,0% 3,6% 0% tidak cukup dipelajari di kelas Materi Akidah Akhlak sangat berguna 75,0% 21,4% 3,6% 0% Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. bagi kehidupan, bukan hanya untuk Perilaku tanda 60,7% 32,1% 7,2% 0% lemahnya iman . Tabel 1 menampilkan penerimaan kognitif yang sangat kuat. Gabungan SS dan S pada setiap butir konsisten berada di atas 92%, dengan angka tertinggi pada butir relevansi materi bagi kehidupan . ,4%). Ini mengindikasikan bahwa pembelajaran di MDT Al Anwar telah berhasil membangun persepsi meaningful learning, bukan sekadar orientasi akademis. Temuan ini selaras dengan pandangan Sugiyono . bahwa persepsi kebermaknaan merupakan prediktor terkuat bagi motivasi pengamalan nilai. Satu catatan penting: 7,2% siswa belum memahami keterkaitan organik antara akidah dan akhlak, masih memandangnya sebagai dua ranah terpisah. Ini mengimplikasikan perlunya penguatan pembelajaran yang lebih eksplisit tentang hubungan kausal antara keyakinan internal dan manifestasi perilaku eksternal. Tabel 2. Penerapan Nilai Akidah Akhlak di Lingkungan Rumah Pernyataan Indikator Mengucap salam dan cium tangan 82,1% 14,3% 3,6% orang tua saat keluar-masuk rumah Shalat 5 waktu secara mandiri tanpa 46,4% 32,1% 17,9% 3,6% harus selalu diingatkan orang tua Berkata jujur kepada orang tua 39,3% 42,9% 14,3% 3,5% meskipun takut dimarahi Menghindari berbicara kasar kepada 50,0% 35,7% 10,7% 3,6% saudara di rumah Bersyukur atas apa yang dimiliki, 57,1% 35,8% 7,1% tidak mudah cemburu Tabel 2 menampilkan variasi yang sangat signifikan. Nilai paling konsisten diterapkan adalah salam dan cium tangan orang tua . ,4%) serta rasa syukur . ,9%), keduanya merupakan ritual sosial yang sudah terpola otomatis. Sebaliknya, kemandirian shalat . ,5%) dan kejujuran kepada orang tua . ,2%) menunjukkan tingkat konsistensi yang lebih rendah dan sangat bergantung pada pengawasan eksternal. Data wawancara memberikan penjelasan yang sangat vivid. Informan 1 (AR, laki-laki, 10 tahu. mengakui: "Kalau Bapak atau Ibu ada di rumah, saya langsung shalat waktu adzan. Tapi kalau mereka lagi kerja dan saya sendiri MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. sama kakak, kadang saya nunda dulu karena lagi main game. " Pernyataan ini secara tajam mengilustrasikan bahwa internalisasi nilai AR masih berada tahap compliance . epatuhan karena pengawasa. , belum mencapai tahap internalization yang Kondisi ini selaras dengan Lickona . yang menegaskan bahwa moral action yang konsisten hanya terwujud ketika moral feeling telah benar-benar tumbuh dari dalam. Informan 3 (DP, perempuan, 10 tahu. mengungkapkan konflik internal yang dialaminya: "Waktu saya tidak mengerjakan PR, saya bilang ke Ustadzah bahwa PR ketinggalan di rumah. Saya tahu itu Tapi saya takut dimarahi. Nanti saya mau lebih jujur. " Menariknya, pernyataan penutup "nanti saya mau lebih jujur" mengindikasikan bahwa moral feeling sesungguhnya telah tumbuh, namun belum cukup kuat untuk secara konsisten mengalahkan dorongan menghindari konsekuensi negatif. Ini adalah tanda perkembangan moral yang sehat dan wajar untuk usianya. Tabel 3. Penerapan Nilai Akidah Akhlak di Lingkungan Madrasah Pernyataan Indikator Bersikap kepada 64,3% 25,0% 10,7% 0% Ustadz/Ustadzah saat mengajar dan Berwudu dengan tertib dan antri 57,1% 21,5% 17,9% 3,5% sebelum mengaji Membantu teman yang kesulitan 53,6% 35,7% 10,7% 0% membaca atau memahami pelajaran Tidak berkata kotor atau mengejek 42,8% 39,3% 14,3% 3,6% teman di madrasah Merasa malu jika berbuat tidak baik 60,7% 32,1% 7,2% karena takut mengecewakan Allah dan Ustadzah Penerapan nilai di lingkungan madrasah secara keseluruhan lebih konsisten dibandingkan di rumah. Ini dapat dipahami karena madrasah menyediakan konteks yang jauh lebih kondusif: pengawasan langsung, tekanan norma kelompok yang positif, dan sistem pembiasaan terstruktur. Nilai hormat kepada ustadz/ustadzah mencapai 89,3%, sementara 92,8% siswa mengakui merasa malu berbuat tidak baik karena takut mengecewakan Allah dan Fakta tentang rasa malu ini sangat signifikan secara teologis. Al-hayaa' . asa mal. Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. dalam Islam merupakan cabang keimanan yang fundamental. Bahwa siswa mengaitkan rasa malu dengan Allah SWT dan bukan hanya dengan figur manusiawi menunjukkan telah mulai tumbuhnya kesadaran muraqabatullah . erasa selalu diawasi Alla. , sebuah pencapaian internalisasi nilai yang sangat berharga. Observasi peneliti mengonfirmasi gambaran ini: suasana di MDTA Nurul Iman saat kegiatan berlangsung tampak sangat tertib dan penuh adab, bahkan tanpa harus ada perintah eksplisit dari ustadzah. Tabel 4. Rekapitulasi Persepsi dan Penerapan Nilai Akidah Akhlak Ranah Pemahaman Konseptual Rata-rata Positif (SS S) Nilai Tertinggi Nilai Terendah 96,2% Relevansi bagi Kaitan akidahkehidupan akhlak . ,8%) . ,4%) Penerapan 87,8% Salam & cium Kemandirian di Rumah tangan . ,4%) shalat . ,5%) Penerapan 90,5% Hormat Menghindari di Madrasah ustadz/ah . ,3%) . ,1%) Rata-rata 85,7% Keseluruhan Tabel rekapitulasi mengonfirmasi bahwa 85,7% siswa memiliki persepsi sangat positif terhadap nilai-nilai akidah akhlak. Terdapat pola yang sangat konsisten: tingkat penerapan berbanding lurus dengan tingkat pengawasan eksternal dan kekuatan struktur pembiasaan di setiap lingkungan. Ini secara teoritis mengonfirmasi Piaget . bahwa pada usia ini anak masih dalam transisi dari heteronomous morality menuju autonomous morality, di mana kesadaran moral otonom yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal sedang dalam proses pembentukan. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persepsi dan Penerapan Nilai Berdasarkan analisis tematik terhadap seluruh data, empat faktor utama teridentifikasi sebagai pembentuk dan pemengaruh persepsi siswa. Pertama: Keteladanan dan Kualitas Relasi Ustadz/Ustadzah Faktor ini muncul paling dominan dan paling sering disebut informan. Ustadzah yang menampilkan keteladanan nyata dalam kesabaran, kejujuran, dan kedisiplinan ibadah terbukti memiliki daya pengaruh yang jauh melampaui metode ceramah apapun. Informan 2 (NH, perempuan, 10 tahu. menyatakan: "Ustadzah kita sabar banget. Kalau kita salah bacaan, tidak pernah dimarahi, malah diajarin pelan-pelan sampai bisa. Saya mau jadi orang sabar kayak Ustadzah. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana keteladanan mentransformasikan konsep sabar dari materi abstrak menjadi nilai yang dipersonifikasikan oleh figur nyata yang dikagumi. MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. Ustadzah R . mengonfirmasi: "Saya selalu berusaha menjadi contoh pertama dari apa yang saya ajarkan, termasuk jujur mengakui ketika saya salah dan meminta maaf kepada anak-anak. Mereka sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orang dewasa. " Pandangan ini merangkum esensi uswatun hasanah yang ditekankan Ulwan . sebagai instrumen pedagogis paling berpengaruh dalam pendidikan karakter. Kedua: Sistem Pembiasaan Harian Terstruktur di Madrasah MDT Al Anwar menerapkan program pembiasaan yang disebut secara internal sebagai "5S Plus" (Salam. Salim. Senyum. Sopan. Santu. ditambah antri wudu tertib dan shalat berjamaah Ashar setiap hari setelah pembelajaran. Rutinitas ini dijalankan secara konsisten tanpa pengecualian. Observasi peneliti mengonfirmasi efektivitasnya: siswa yang tiba di madrasah secara otomatis mengucap salam, antri wudu, dan bergabung di barisan shalat tanpa perlu diperintahkan secara individual. Informan 5 (MF, laki-laki, 9 tahu. merefleksikan: "Di sini sudah biasa banget antri wudu. Kalau ada yang nyerobot, langsung ditegur sama teman-temannya sendiri. " Pernyataan ini mengungkap dimensi yang sangat menarik: pembiasaan yang konsisten tidak hanya membentuk perilaku individu, tetapi menciptakan norma kelompok positif di mana tekanan konformitas teman sebaya justru berfungsi memperkuat nilai, bukan melemahkannya. Ini adalah konfirmasi empiris paling kuat dari teori Lickona . bahwa moral action terbentuk dari repetisi yang konsisten hingga menjadi watak otomatis. Ketiga: Dukungan Aktif dan Konsistensi Keluarga Analisis data menunjukkan korelasi yang sangat jelas antara keterlibatan aktif orang tua dengan konsistensi perilaku siswa. Dari 28 siswa, 16 yang jurnal pembiasaannya rutin dipantau dan ditandatangani orang tua menunjukkan tingkat kemandirian shalat 87,5%, sementara 12 siswa yang jurnalnya tidak dipantau hanya mencapai 58,3%. Perbedaan 29,2 poin persentase ini merupakan bukti empiris yang sangat kuat tentang signifikansi peran orang tua. Ibu F . rang tua, triangulas. berbagi praktiknya: "Setiap malam saya tanya ke anak, 'Tadi di madrasah belajar apa? Sudah dicoba belum?' Buku jurnal dari madrasah sangat membantu, jadi saya tahu harus mengingatkan hal apa. Saya juga bilang ke anak bahwa Ibu lagi belajar sabar juga seperti yang ustadzah ajarkan ke kamu. " Praktik parenting Ibu F ini adalah contoh ideal sinergi madrasah-keluarga yang dikonfirmasi Kholis . sebagai salah satu faktor terpenting dalam konsistensi akhlak anak di luar lingkungan formal. Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. Keempat: Paparan Media Digital sebagai Faktor Penghambat Hampir seluruh informan mengakui memiliki akses ke gawai dan menghabiskan waktu signifikan pada game online dan YouTube. Informan 4 (ZA, laki-laki, 10 tahu. mengakui: "Game yang saya mainkan kadang ada bagian yang tokohnya saling serang dan ngomong kasar. Saya tahu di madrasah tidak boleh seperti itu. Tapi waktu main, asyik " Pengakuan ini menggambarkan dengan vivid bagaimana paparan media digital menciptakan disonansi kognitif pada anak, di mana nilai yang diajarkan madrasah bersaing dengan stimulus yang lebih imersif dan adiktif. Nata . memperingatkan bahwa tantangan terbesar pendidikan akhlak di era digital bukan lagi pada tataran penyampaian materi, melainkan pada kompetisi pengaruh antara ekosistem pendidikan dengan ekosistem digital yang jauh lebih menarik. Temuan ini mengimplikasikan urgensi integrasi literasi media Islam ke dalam kurikulum Akidah Akhlak MDT. Implikasi bagi Pembentukan Karakter Siswa Tiga implikasi utama teridentifikasi dari keseluruhan temuan. Pertama, kesenjangan konsistensi penerapan antara madrasah . ebih tingg. dan rumah . ebih renda. menunjukkan bahwa internalisasi nilai masih sangat kontekstual dan belum membentuk karakter otonom. Ini menuntut program home-madrasah connection yang jauh lebih intensif dan terstruktur. Kedua, nilai-nilai yang paling sulit diterapkan mandiri . halat dan kejujura. adalah yang membutuhkan pengendalian diri internal terkuat, mengimplikasikan perlunya integrasi latihan self-regulation yang konk konkret dalam pembelajaran, bukan hanya penyampaian materi kognitif. Ketiga, dominannya pengaruh keteladanan ustadzah mengimplikasikan bahwa investasi terpenting dalam mutu MDTA adalah pada pengembangan kualitas moral dan pedagogis ustadz/ustadzah itu sendiri, bukan semata pada kelengkapan sarana fisik. KESIMPULAN Penelitian ini menghasilkan empat konklusi utama. Pertama, siswa kelas 4 MDTA Nurul Iman secara keseluruhan memiliki persepsi yang sangat positif terhadap nilai-nilai Akidah Akhlak, dengan 85,7% memaknainya sebagai kebutuhan hidup yang genuine. Kedua, terdapat variasi konsistensi penerapan yang berbanding lurus dengan tingkat pengawasan eksternal, di mana nilai-nilai yang terkondisikan oleh pembiasaan terstruktur di madrasah, seperti hormat kepada ustadz/ah . ,3%), lebih konsisten dibandingkan nilai yang membutuhkan otonomi internal di rumah, seperti kemandirian shalat . ,5%) dan kejujuran . ,2%), yang menunjukkan bahwa proses internalisasi masih berada pada tahap compliance MIFTAHULILMI Ae VOLUME. NOMOR. 2 APRIL 2026 E-ISSN . : 3064-1527. P-ISSN . : 3089-5448 Hal. menuju internalization sejati. Ketiga, terdapat empat faktor utama yang membentuk persepsi dan penerapan nilai, yaitu keteladanan ustadz/ustadzah, sistem pembiasaan harian yang terstruktur, dukungan aktif keluarga, serta paparan media digital sebagai faktor penghambat. Keempat, kunci keberhasilan pendidikan akidah akhlak di MDTA terletak pada kekuatan sinergi tripusat pendidikan, yaitu madrasah, keluarga, dan komunitas teman sebaya yang saling menguatkan dalam menanamkan nilai kebaikan. Berdasarkan temuan tersebut, beberapa saran dapat diajukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan internalisasi nilai. Bagi ustadz/ustadzah, direkomendasikan untuk mengembangkan metode storytelling kisah keteladanan Nabi dan sahabat yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak, simulasi role-play skenario akhlak, serta proyek amal harian . aily good deeds projec. , dengan penekanan pada pengembangan moral feeling melalui pendekatan emosional dan spiritual, tidak hanya moral knowing melalui hafalan, serta mengintegrasikan literasi media Islam agar siswa mampu berpikir kritis terhadap konten digital. Bagi pengelola MDT, disarankan untuk mengembangkan program kemitraan terstruktur dengan orang tua melalui forum parenting Islami bulanan serta optimalisasi jurnal pembiasaan siswa sebagai media komunikasi antara madrasah dan keluarga. Sementara itu, bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengkaji efektivitas model structured Islamic parenting dalam memperkuat konsistensi nilai privat seperti shalat mandiri dan kejujuran pada siswa MDT, serta melakukan penelitian longitudinal untuk merekam perkembangan internalisasi nilai dari kelas 4 hingga DAFTAR REFERENSI Abidin. Pendidikan akidah akhlak di madrasah ibtidaiyah: Konsep dan Kencana. Bawafi. Penerapan strategi pembelajaran aktif dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah menengah atas Al-Falah Silo. ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2. , 55Ae65. https://doi. org/10. 47732/adb. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches . th ed. SAGE Publications. Daradjat. Ilmu pendidikan Islam. Bumi Aksara. Djamarah. Psikologi belajar. Rineka Cipta. Hamalik. Proses belajar mengajar. Bumi Aksara. Persepsi Siswa Kelas 4 Madrasah Diniyah terhadap Penerapan Nilai-Nilai Akidah Akhlak dalam Kehidupan Sehari-Hari. Hastia. Bunyamin. , & Akil. Peran guru pendidikan agama dalam membina akhlak siswa di MAN Gowa. Journal of Gurutta Education, 2. , 112Ae129. https://doi. org/10. 33096/jge. Hawari. Pembentukan karakter anak usia dasar dalam perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 7. , 145Ae158. Kementerian Agama RI. Kurikulum madrasah diniyah takmiliyah: Standar kompetensi dan kompetensi dasar. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Kholis. Peran keluarga dalam internalisasi nilai-nilai keislaman pada anak usia sekolah dasar. Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 17. , 55Ae70. Lickona. Educating for character: How our schools can teach respect and Bantam Books. Musyarif. (Peer revie. Moderation and mainstream of pesantren or madrasah Noor. Safitri. Darwis. , & Ananiah. Pengaruh pemberian reward terhadap kepercayaan diri siswa pada mata pelajaran akidah akhlak. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 7. , 145Ae156. https://doi. org/10. 37968/masagi. Setiawan. Peran guru dalam membentuk akhlak siswa. Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 33Ae47. Sugiyono. Metode penelitian pendidikan. Alfabeta. Syafaat. Peran madrasah diniyah dalam pembinaan akhlak anak. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 78Ae92. Ulwan. Pendidikan anak dalam Islam (Edisi revisi. Miri. Trans. Pustaka