Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor 2 September 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 DOI: https:// 10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK Yohanes Mihit1* Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda. Indonesia *yohanesmihit. pr@gmail. Alamat: Jl. WR. Soepratman. No. Samarinda. Kalimantan Timur 75121 Korespondensi penulis: yohanesmihit. pr@gmail. Abstract. This article aims to examine the pedagogical content of Laudato Si' in the Catholic Religious Education (PAK) curriculum for junior high school students as a strategy for developing students' ecological character. This research uses a qualitative approach with a case study method, as well as content analysis of three official PAK textbooks for grades VII. Vi, and IX published by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia. The results of the analysis indicate that ecological values emerge gradually and contextually. In grades VII and Vi, ecological values emerge more implicitly through reflections on faith in creation and social relations, while the grade IX textbook explicitly includes a call to build friendship with nature. The integration of Laudato Si' values is reflected in a narrative, reflective, and practical faith approach that emphasizes the unity between spirituality and ecological These findings reinforce the importance of religious education as a means of developing ecological character in the context of the global environmental crisis. Faith education integrated with ecological awareness not only shapes knowledge but also builds an ecological lifestyle as a concrete manifestation of ecological repentance and responsible faith towards creation. Keywords: Laudato SiAo. Catholic religious education, ecological character, junior high school curriculum, ecological pedagogy. Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji muatan pedagogi Laudato SiAo dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik (PAK) tingkat SMP sebagai strategi pembentukan karakter ekologis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, serta analisis isi terhadap tiga buku ajar resmi PAK kelas VII. Vi, dan IX yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai-nilai ekologis hadir secara bertahap dan kontekstual. Pada kelas VII dan Vi, nilainilai ekologi lebih banyak muncul secara implisit melalui refleksi iman atas ciptaan dan relasi sosial, sedangkan buku kelas IX memuat secara eksplisit ajakan untuk membangun persahabatan dengan alam. Integrasi nilai Laudato SiAo tercermin dalam pendekatan naratif, reflektif, dan praksis iman yang menekankan kesatuan antara spiritualitas dan tanggung jawab ekologis. Temuan ini memperkuat pentingnya pendidikan agama sebagai sarana pembentukan karakter ekologis dalam konteks krisis lingkungan global. Pendidikan iman yang diintegrasikan dengan kesadaran ekologis tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga membangun gaya hidup ekologis sebagai wujud konkret pertobatan ekologis dan iman yang bertanggung jawab terhadap ciptaan. Kata kunci: Laudato SiAo. Pendidikan Agama Katolik. Karakter Ekologis. Kurikulum SMP. Pedagogi Ekologis. Received: Agustus 27, 2025. Revised: September 10, 2025. Accepted: September 12, 2025. Online Available: September 30, 2025. *Corresponding author, yohanesmihit. pr@gmail. E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 LATAR BELAKANG Lingkungan hidup merupakan anugerah ciptaan Allah yang dipercayakan kepada manusia untuk dipelihara dan dilestarikan. Lingkungan terdiri atas dua komponen utama, yakni abiotik seperti tanah, air, udara, sinar matahari, dan batuan. serta biotik yang mencakup manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme (Keller, 2. Dalam pandangan iman Katolik, seluruh ciptaan memiliki nilai yang melekat karena berasal dari Sang Pencipta. Ensiklik Laudato SiAo menegaskan bahwa bumi. Aurumah bersamaAy, bukan sekadar tempat tinggal manusia, tetapi bagian dari satu komunitas ciptaan yang saling terhubung secara mendalam (Laudato SiAo, 2. Lingkungan sosial manusia juga mencakup warisan budaya seperti bahasa, simbol, ritus keagamaan, dan sistem nilai yang menjadi ciri khas setiap komunitas (Suhaimi. Dalam tradisi Gereja, budaya adalah medan pewahyuan, tempat manusia menemukan makna hidupnya dan sekaligus ruang bagi pewartaan Injil. Namun, interaksi manusia dengan lingkungan tidak selalu berjalan selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Aktivitas eksploitatif manusia kerap merusak keutuhan ciptaan, dari perusakan hutan, polusi udara dan air, hingga perubahan iklim yang ekstrem (Hary Susanto, 2. Kitab Kejadian mencatat bahwa Allah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk Aumengusahakan dan memelihara tamanAy (Kej. , bukan untuk mengeksploitasinya secara semena-mena. Dalam terang ajaran ini, manusia memiliki peran ganda: sebagai pemelihara ciptaan dan sekaligus sebagai pihak yang berpotensi Perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan merupakan bentuk ketidaksetiaan terhadap perintah Allah (Mizzoni, 2. Oleh sebab itu, pendidikan iman Katolik harus turut serta membentuk kesadaran ekologis sejak dini (Hindmarsh, 2. Kerusakan lingkungan dewasa ini menunjukkan bahwa krisis ekologis tidak hanya bersifat teknis atau ilmiah, tetapi juga moral dan spiritual. Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai Aukrisis moral manusia modernAy. Oleh karena itu. Gereja memandang bahwa solusi terhadap masalah lingkungan harus menyentuh dimensi terdalam manusia, yakni hati nurani dan relasinya dengan Allah, sesama, dan ciptaan (Edwards, 1. Perubahan paradigma dari antroposentrisme menuju ekosentrisme teosentris menjadi sangat mendesak untuk ditanamkan melalui pendidikan Katolik (Radigan, 2. MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK Agama memiliki kekuatan besar dalam membentuk nilai dan sikap umat beriman terhadap lingkungan. Dalam tradisi Katolik, spiritualitas ekologis telah lama hadir, khususnya melalui teladan Santo Fransiskus dari Assisi yang melihat seluruh ciptaan sebagai Ausaudara dan saudariAy. Konsep ini kembali ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo sebagai landasan untuk membangun semangat kasih, hormat, dan tanggung jawab terhadap alam semesta (Francis, 2. Maka, pendidikan agama Katolik harus dilihat sebagai wahana strategis untuk menanamkan nilai-nilai ekoteologis kepada peserta didik. Dalam pendidikan formal, kurikulum Pendidikan Agama Katolik (PAK) di tingkat SMP memiliki fungsi strategis untuk mentransmisikan nilai-nilai ekoteologis. Kurikulum ini diharapkan mampu membentuk karakter Kristiani yang integral: beriman, cerdas, dan berkeutamaan (Ajibola, 2. Sayangnya, sebagian besar pendekatan masih dominan pada aspek kognitif dan belum sepenuhnya menyentuh dimensi afektif dan tindakan Laudato SiAo menekankan bahwa gaya hidup ekologis hanya dapat dibentuk melalui pendidikan yang transformatif, holistik, dan berbasis relasi. Maka diperlukan evaluasi kritis terhadap buku ajar PAK untuk mengukur sejauh mana semangat Laudato SiAo telah diintegrasikan dalam kurikulum, baik melalui materi, aktivitas, maupun evaluasi Berdasarkan itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana muatan pedagogi Laudato SiAo hadir dalam kurikulum dan buku ajar PAK SMP sebagai strategi pembentukan karakter ekologis peserta didik. Tujuan ini menjadi sangat relevan mengingat pentingnya pendidikan agama dalam menjembatani iman dan tanggung jawab ekologis di tengah krisis lingkungan global. Kurikulum dan buku ajar PAK perlu dilihat sebagai sarana katekese ekologis yang efektif, yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk agen perubahan yang peduli pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan (JPIC). Pendidikan agama yang membumi dalam kehidupan peserta didik menjadi dasar kuat bagi pembentukan generasi Katolik yang profetik dan peduli terhadap seluruh ciptaan Allah. KAJIAN TEORITIS Pendekatan pedagogi Laudato SiAo berakar pada pandangan teologis dan etis Gereja Katolik tentang relasi manusia dengan alam ciptaan, sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato SiAo . yang menyebut bumi sebagai Aurumah Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 bersamaAy yang harus dijaga dengan rasa hormat dan tanggung jawab moral. Gagasan ini selaras dengan prinsip teologi ekologi yang memandang seluruh ciptaan memiliki nilai intrinsik karena berasal dari Allah, sehingga pendidikan ekologis tidak hanya menyampaikan pengetahuan lingkungan, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual, afektif, dan praksis yang berpihak pada keutuhan ciptaan. Dalam konteks ini, teori pendidikan karakter seperti yang dikemukakan (Lickona, 2. menjadi relevan, di mana pembentukan karakter peserta didik dipahami sebagai hasil dari proses pembiasaan nilai dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Agama Katolik dengan pendekatan katekese reflektif dan transformatif memiliki potensi besar sebagai wahana pembentukan karakter ekologis melalui integrasi ajaran iman dan aksi konkret dalam menjaga lingkungan. Sejumlah penelitian mendukung hal ini, seperti studi Deane-Drummond dan Bedford-Strohm . yang menekankan pentingnya dialog antara teologi, ekologi, dan pendidikan dalam membentuk ekospiritualitas, serta penelitian Veldman et al. yang menunjukkan peran signifikan lembaga agama dalam membangun kesadaran ekologis kolektif. Di Indonesia, studi Ramdhani . dan Nurulloh . mengungkap bahwa muatan pendidikan lingkungan dalam pembelajaran agama masih bersifat implisit dan belum dikembangkan secara sistematis. Oleh karena itu, kajian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menganalisis isi buku ajar PAK SMP guna melihat sejauh mana pedagogi Laudato SiAo telah diinternalisasi dalam kurikulum, dengan asumsi bahwa integrasi nilai ekologis dalam pendidikan agama Katolik dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter ekologis peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang memungkinkan peneliti mengkaji secara mendalam fenomena spesifik, yaitu muatan pedagogi Laudato SiAo dalam buku ajar Pendidikan Agama Katolik (PAK) tingkat SMP sebagai bagian dari kurikulum nasional (Creswell et al. , 2. Desain penelitian menggunakan metode analisis isi dokumen . ontent analysi. yang difokuskan pada isi tiga buku ajar PAK kelas VII. Vi, dan IX untuk menelusuri sejauh mana nilai-nilai ekologis yang diangkat dalam Laudato SiAo tercermin dalam materi pembelajaran. Pendekatan ini merujuk pada langkah-langkah sistematis dari Lapan et al. yaitu menentukan tujuan, memilih dokumen, mengkategorikan dan mengodekan isi. MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK menganalisis data, serta menginterpretasikan hasil, dengan peneliti sebagai instrumen utama yang menentukan validitas melalui pemahaman teologis dan pedagogis yang tajam (Elo & Kyngys, 2. Sumber data utama adalah buku ajar resmi PAK dan Budi Pekerti SMP kelas VIIAeIX yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Agama, sementara data sekunder meliputi dokumen kurikulum, dokumen Gereja seperti Laudato SiAo, dan literatur akademik terkait pendidikan lingkungan dan karakter. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi yang meliputi pembacaan cermat, identifikasi, dan penandaan terhadap istilah atau gagasan ekologis, dengan validitas diuji melalui validitas semantik dan reliabilitas dikonfirmasi melalui pembacaan ulang, pencatatan sistematis, dan diskusi sejawat (Badzinski et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep pendidikan lingkungan hidup secara eksplisit mulai dimunculkan dalam beberapa bagian dari buku ajar Pendidikan Agama Katolik (PAK) untuk SMP kelas VII hingga IX, meskipun belum diorganisasikan dalam bentuk bab tersendiri. Nilai-nilai ekologis dan semangat pelestarian ciptaan sebagaimana diajarkan dalam Laudato SiAo tercermin dalam refleksi iman, ajakan tindakan konkret kasih terhadap alam, serta pemahaman akan pentingnya membangun "rumah bersama" bagi seluruh makhluk hidup. Untuk memahami sejauh mana nilai-nilai ekologis ini hadir dalam kurikulum, dilakukan analisis frekuensi kemunculan istilah seperti Aulingkungan hidupAy. AualamAy. AuciptaanAy, serta kata-kata kunci lain yang relevan dengan semangat ekologi integral. Istilah-istilah tersebut digunakan sebagai indikator untuk menelusuri keterkaitan substansi kurikulum PAK dengan misi pedagogis Laudato SiAo, yaitu membentuk peserta didik yang memiliki kesadaran ekologis yang berakar pada iman. Selanjutnya, konsepkonsep tersebut dianalisis keterkaitannya dengan kompetensi dasar dalam buku ajar, yang merupakan kemampuan esensial yang harus dikuasai oleh peserta didik untuk mengembangkan indikator pembelajaran. Hasil dari analisis isi tersebut dirangkum dan disajikan dalam bentuk tabel guna memberikan gambaran kuantitatif awal terhadap tingkat integrasi nilai ekologis dalam buku ajar PAK SMP. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 Tabel 1. Analisis Istilah dan Nilai Ekologi dalam Buku Ajar PAK SMP Kelas Jumlah Kata Terkait VII Vi Kata/Istilah yang Muncul Letak dan Konteks Lingkungan hidup. Ditekankan dalam konteks ciptaan, bumi, alam, manusia sebagai citra Allah partner kerja Allah memelihara ciptaan dan "tugas bersama" ciptaan, tanggung jawab terhadap alam, rumah Terkait dalam bab mengenai Kerajaan Allah perutusan murid, namun hanya disebut secara tidak ekosistem, kelestarian, alam. Laudato SiAo. Fransiskus Asisi, bumi. Terfokus dalam Bab 5 AuMenghargai Martabat Manusia dan AlamAy dan Bab 6 tentang persaudaraan Materi edukasi lingkungan dalam buku ajar Pendidikan Agama Katolik SMP menunjukkan perkembangan bertahap pada setiap jenjang. Berdasarkan hasil analisis isi, pemunculan istilah dan gagasan lingkungan hidup paling banyak ditemukan dalam buku kelas IX dengan 32 kata kunci ekologis, disusul oleh kelas VII . , dan kelas Vi . Muatan di kelas IX mencakup istilah yang berkaitan langsung dengan Laudato SiAo dan tanggung jawab etis terhadap ciptaan, menunjukkan penguatan eksplisit nilai-nilai ekologis pada jenjang akhir SMP. Sementara itu, muatan ekologis pada buku kelas VII dan Vi masih bersifat implisit dan muncul dalam bentuk narasi Kitab Suci serta ajakan moral untuk bersikap bijak terhadap ciptaan. Konsep seperti alam, ciptaan, dan tanggung jawab terhadap makhluk hidup lainnya dipresentasikan dalam relasi iman dengan Allah dan sesama makhluk . ablum minal makhlu. , yang sejalan dengan pendekatan ekoteologis Gereja Katolik yang melihat ciptaan sebagai refleksi kasih Allah (Edwards, 1. Ini mengindikasikan bahwa pendidikan lingkungan telah mulai diintegrasikan dalam pembelajaran iman secara konseptual. Buku ajar kelas IX menghadirkan pendekatan yang lebih eksplisit melalui bab Menghargai Martabat Manusia dan Alam dan subtopik Membangun Persahabatan MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK dengan Alam, yang menghadirkan ajakan konkret menjaga lingkungan, teladan Santo Fransiskus dari Assisi, serta kutipan Kitab Suci. Pendekatan ini mendukung model pembelajaran transformatif, yaitu pembelajaran yang menghasilkan perubahan sikap dan tindakan ekologis yang nyata (Litera, 2. Muatan ini juga memperkuat ranah kognitif, afektif, dan praksis dalam menanamkan karakter iman yang utuh, agar dapat membentuk kebiasaan dan gaya hidup ekologis dalam kehidupan sehari-hari (Laudato SiAo, 2. Dalam hal ini, standar kompetensi yang dikembangkan dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik sejalan dengan arah pengembangan karakter ekologis. Nilainilai seperti tanggung jawab sosial, keadilan ekologis, dan solidaritas global menjadi dasar aktivitas pembelajaran (Massaro, 2. meskipun istilah Aulingkungan hidupAy tidak selalu disebutkan secara eksplisit. Pembiasaan sikap ekologis ditanamkan sebagai bagian dari spiritualitas hidup yang berakar pada iman (Kusuma, 2. Hal ini sangat penting. Sebagaimana ditegaskan oleh Lickona . , pembentukan karakter membutuhkan keteladanan dan pembiasaan nilai. Sebab, integrasi nilai Laudato SiAo dalam buku ajar PAK SMP, terutama pada kelas IX, menjadi peluang strategis untuk memperkuat pendidikan iman yang bertanggung jawab secara ekologis dalam terang ajaran Gereja (Batu & Sihotang, 2. Mewujudkan Karakter Ekologis dalam Iman Katolik (Buku Kelas VII) Buku ajar Pendidikan Agama Katolik kelas VII memuat dasar-dasar ajaran iman yang secara erat berkaitan dengan sikap menghargai ciptaan, walaupun istilah Aulingkungan hidupAy belum banyak disebutkan secara eksplisit. Tema-tema seperti Auciptaan AllahAy. Aualam semesta sebagai anugerahAy, dan Autanggung jawab manusia terhadap sesama makhlukAy secara konsisten dihadirkan untuk menumbuhkan kesadaran akan martabat dan nilai ciptaan. Ini selaras dengan prinsip pedagogi Katolik bahwa pendidikan iman harus menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah (Widiyanti, 2. Dalam bab tentang pengalaman iman terhadap Tuhan Pencipta, peserta didik diajak menyadari bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dirawat dalam semangat tanggung jawab moral. Dalam terang Laudato SiAo, pendidikan harus membentuk relasi harmonis antara manusia dan lingkungan melalui pertobatan ekologis (Paus Fransiskus, 2015, art. Pembentukan karakter ekologis dalam buku ajar kelas VII dimulai dari pendekatan spiritualitas, bukan sekadar ajaran moral. Spiritualitas ekologis ini mengakar dalam Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 pengalaman kasih Allah melalui ciptaan (Jimmy, 2. dan ditekankan sebagai pendekatan integral oleh Deane-Drummond . , yaitu melibatkan relasi spiritual dan liturgis antara manusia dan alam. Gagasan ini ditanamkan melalui ajakan bersyukur atas alam, berdoa bagi bumi, dan menghargai keindahan alam yang Tuhan ciptakan (BR Agung Prihartana, 2. Lebih dari itu, pembelajaran juga mengajak peserta didik untuk mengamati lingkungan sekitar secara naratif dan reflektif. Mereka diajak menceritakan pengalaman melihat pohon, sungai, atau hewan, lalu merefleksikannya sebagai bentuk pengenalan akan kehadiran Allah dalam ciptaannya (Festiyed, 2. Pendekatan ini mencerminkan pedagogi Ignasian yang menekankan kontemplasi dalam aksi, yakni merenungkan ciptaan dengan rasa syukur dan tanggung jawab (SHERLEY et al. , 2. Aktivitas seperti ini memperkuat keterlibatan afektif anak terhadap lingkungan, bukan hanya pada tataran kognitif. Karakter ekologis, menurut Conradie . , dibentuk melalui tiga tahapan: kesadaran akan krisis ekologis, refleksi iman terhadap krisis tersebut, dan tindakan konkret sebagai wujud tanggung jawab. Buku kelas VII telah mulai membentuk dua tahapan awal tersebut, khususnya melalui kisah Kitab Kejadian dan teladan tokoh-tokoh Kitab Suci yang hidup harmonis dengan alam (Arianto et al. , 2. Hal ini menjadi dasar teologis untuk menumbuhkan kepekaan ekologis pada jenjang berikutnya. Kendati istilah seperti AuekologiAy dan AuLaudato SiAoAy belum disebutkan secara langsung, namun kesadaran spiritual terhadap lingkungan mulai dibangun. Peserta didik dikenalkan pada pemahaman bahwa semua makhluk memiliki tempat dalam rencana keselamatan Allah, dan bahwa merusak lingkungan berarti merusak karya Allah (Wirzba, 2. Pemahaman ini membantu membentuk cara pandang bahwa dunia bukan objek eksploitatif, melainkan Ausaudara dan saudariAy sebagaimana diajarkan Santo Fransiskus dari Assisi. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa buku ajar Pendidikan Agama Katolik kelas VII dapat dipahami sebagai fondasi awal pembentukan karakter ekologis peserta didik yang dibangun melalui iman, spiritualitas, dan refleksi terhadap ciptaan. Meskipun belum menempatkan isu lingkungan sebagai tema utama, narasi-narasi iman yang diangkat memberi ruang bagi pengembangan pedagogi ekologis yang lebih eksplisit pada kelas selanjutnya. Dalam perspektif ini, karakter ekologis bukan sekadar kompetensi kognitif, tetapi menjadi panggilan hidup Kristiani yang utuh sebagaimana ditekankan dalam visi Laudato SiAo (Reynaldo et al. , 2. MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK Membangun Kesadaran Ekologi Sosial (Buku Kelas V. Buku ajar Pendidikan Agama Katolik kelas Vi tidak banyak menampilkan istilah yang secara eksplisit merujuk pada lingkungan hidup. Namun demikian, semangat ekologis tetap hadir secara implisit melalui tema-tema relasional dan sosial yang dikembangkan di dalamnya (Soetoprawiro, 2. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah membentuk kesadaran peserta didik terhadap pentingnya menjaga harmoni relasi, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam ciptaan (Sihotang. Dalam kesadaran, dapat ekologis dibangun melalui nilai-nilai sosial seperti tanggung jawab, kepedulian, dan solidaritas yang juga menjadi nilai utama dalam spiritualitas ekologis. Materi ajar yang menyoroti hubungan sosial dan solidaritas membuka ruang reflektif bagi peserta didik untuk memahami bahwa hidup bermasyarakat tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan (Reynaldo et al. , 2. Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo menegaskan bahwa krisis ekologis juga merupakan krisis sosial karena keduanya saling berkaitan erat (LS, art. Ketidakadilan terhadap lingkungan sering kali berakar dari ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, pendidikan iman harus mendorong peserta didik untuk melihat dampak dari gaya hidup yang tidak peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungan (Fui & Lega, 2. Buku kelas Vi menekankan pentingnya tindakan kasih dalam kehidupan sosial. Walaupun fokus utamanya adalah pembentukan karakter Kristiani dalam relasi antarmanusia, ajakan untuk peduli terhadap kebutuhan orang lain secara tidak langsung memperluas kesadaran ekologis peserta didik. Mereka diajak memahami bahwa mencintai sesama juga berarti menciptakan kondisi hidup yang layak, sehat, dan bersih, termasuk dengan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar. Dalam perspektif teologi ekologis, pendekatan ini dikenal sebagai ekologi integral, yakni pendekatan yang tidak memisahkan antara perhatian terhadap manusia dan terhadap lingkungan (Deane-Drummond, 2. Pembelajaran semacam ini menyiapkan landasan bagi pemahaman yang lebih mendalam terhadap tanggung jawab ekologis, dimulai dari tindakan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, atau menjaga fasilitas umum sekolah. Buku ajar ini juga menyediakan ruang reflektif yang penting bagi peserta didik. Melalui berbagai kegiatan yang meminta mereka mengevaluasi pengalaman sosial Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 sehari-hari, peserta didik dilatih untuk menilai tindakannya dalam terang ajaran iman. Pendekatan reflektif ini menjadi salah satu metode utama dalam pedagogi Katolik karena membentuk pribadi yang bertanggung jawab, bukan hanya secara spiritual tetapi juga secara sosial dan ekologis. Penelitian oleh Celia Deane-Drummond . menunjukkan bahwa pembentukan karakter ekologis justru dapat diperkuat melalui pendidikan nilai-nilai sosial seperti keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian. Dalam konteks kelas Vi, pendekatan sosial ini menjadi jembatan yang sangat relevan untuk menyatukan pendidikan karakter dengan kesadaran ekologis yang utuh. Pembelajaran yang menyentuh dimensi relasi sosial akan menumbuhkan empati terhadap penderitaan makhluk lain serta terhadap kerusakan lingkungan yang nyata di sekitar peserta didik. Meskipun tidak terdapat bab khusus yang membahas lingkungan hidup dalam buku kelas Vi, nilai utama yang dikembangkan adalah prinsip keterhubungan . antar semua makhluk. Ini sejalan dengan ajaran Laudato SiAo bahwa bumi adalah rumah bersama dan seluruh ciptaan merupakan satu keluarga besar (LS, art. Melalui pendekatan ekologi sosial ini, peserta didik dipersiapkan untuk menyadari bahwa setiap tindakan manusia terhadap alam akan berpengaruh langsung terhadap martabat dan kelangsungan hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa buku ajar PAK kelas Vi, meskipun secara tidak langsung, telah menyimpan fondasi penting untuk pembentukan kesadaran ekologis melalui pendekatan sosial dan relasional. Kesadaran ini selaras dengan tujuan pendidikan iman Katolik, yakni membentuk pribadi yang tidak hanya beriman, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan ciptaan. Laudato SiAo dan Tanggung Jawab Etis terhadap Alam (Buku Kelas IX) Buku ajar Pendidikan Agama Katolik kelas IX menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemunculan dan pengolahan tema-tema ekologis dibandingkan dengan dua jenjang sebelumnya. Bab V yang berjudul AuMenghargai Martabat Manusia dan AlamAy menjadi ruang eksplisit untuk mengarahkan peserta didik pada pemahaman teologis tentang relasi manusia dengan alam. Subbab AuMembangun Persahabatan dengan AlamAy secara langsung menyuarakan nilai-nilai ekologis yang sebelumnya hanya hadir secara implisit dalam buku kelas VII dan Vi. Pendekatan MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK ini mencerminkan kesadaran kurikulum PAK dalam merespons seruan Laudato SiAo untuk menumbuhkan tanggung jawab moral dan etis terhadap ciptaan. Dalam bab tersebut, peserta didik diajak untuk memahami alam sebagai sahabat, bukan sekadar sumber daya yang bisa dimanfaatkan secara bebas. Konsep ini berakar kuat dalam spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, yang menjadi ikon dalam Laudato SiAo sebagai sosok yang menghayati kedekatan rohaniah dengan seluruh Ajaran ini sejalan dengan pandangan Paus Fransiskus bahwa Auhubungan kita dengan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari relasi kita dengan sesama dan dengan AllahAy (Laudato SiAo, art. Buku kelas IX tidak hanya menghadirkan konsep etis, tetapi juga pendekatan teologis dan relasional terhadap lingkungan hidup. Aktivitasaktivitas seperti menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, dan tindakan kecil lainnya disusun sebagai bagian dari proses pembelajaran transformatif (T. Groome, 1. yang bertujuan mengubah kesadaran menjadi tindakan. Keterlibatan aktif peserta didik dalam aksi ekologis juga didukung oleh temuan Jenkins . yang menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan konkret adalah iman yang hampa. Buku ajar ini membentuk peserta didik sebagai agen moral yang mampu merespons krisis ekologis melalui tindakan iman yang nyata (Pabubung, 2. Kisah hidup Santo Fransiskus Asisi, yang dihadirkan sebagai tokoh teladan (Wijaya et al. memperkuat dimensi afektif dan spiritual dalam pembelajaran. Sementara itu, kesadaran bahwa kerusakan lingkungan merupakan dampak dari dosa struktural dan keserakahan manusia (Den et al. , 2. dijadikan titik tolak untuk membentuk pertobatan ekologis. Dengan pendekatan naratif, reflektif, dan praksis, buku kelas IX menghadirkan muatan pedagogi ekologis yang kuat dan relevan dalam semangat Laudato SiAo, serta memperkuat posisi pendidikan agama Katolik sebagai sarana transformatif dalam membentuk generasi muda yang peduli lingkungan dan beriman secara integral (Inayah et al. , n. Integrasi Nilai Ekologis dalam Pendidikan Iman Katolik SMP Integrasi nilai-nilai ekologis dalam pendidikan iman Katolik di tingkat SMP terlihat mengalami perkembangan yang progresif dari kelas VII hingga IX. Pada kelas VII, peserta didik diperkenalkan dengan konsep dasar tentang ciptaan Allah dan rasa syukur atas alam semesta. Meskipun muatan ekologis masih bersifat implisit, pendekatan naratif dan reflektif yang digunakan menjadi pondasi penting bagi Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 kesadaran ekologis awal. Pendidikan iman yang diberikan bukan sekadar menyampaikan doktrin, melainkan mengajak peserta didik untuk mengalami kehadiran Allah dalam keindahan dan keteraturan alam ciptaan (Suyanto et al. , 2. Memasuki kelas Vi, integrasi nilai ekologis mulai dikembangkan melalui relasi sosial dan kepedulian terhadap sesama. Nilai seperti tanggung jawab, solidaritas, dan kepedulian sosial menjadi jembatan menuju kesadaran bahwa kerusakan lingkungan berkaitan erat dengan ketimpangan sosial. Pendekatan ini memperluas horizon peserta didik dari hubungan pribadi dengan Allah menuju keterlibatan aktif dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan lestari. Nilai ini sejalan dengan pandangan Laudato SiAo tentang ekologi integral, yang menyatukan dimensi ekologis dan sosial dalam kerangka iman Kristiani (Laudato SiAo, art. Kelas IX menjadi titik kulminasi dari proses pembentukan karakter ekologis dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik SMP. Bab tentang Membangun Persahabatan dengan Alam menjadi bukti kuat bahwa semangat Laudato SiAo telah secara sadar diinternalisasi dalam kurikulum. Pembelajaran dalam kelas ini tidak hanya mengajak peserta didik memahami teologi ciptaan, tetapi juga mempraktikkan kasih dan tanggung jawab terhadap bumi melalui tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, dan mengurangi sampah (Iryanti, 2. Pendidikan Katolik dalam hal ini mengambil peran sebagai agen perubahan moral dan spiritual dalam membangun kesadaran ekologis. Integrasi nilai ekologis ini selaras dengan prinsip pedagogi Katolik yang menekankan formation of the whole person, pembentukan manusia seutuhnya. Menurut Thomas H. Groome . , pendidikan iman yang otentik harus melibatkan intelek, hati, dan kehendak untuk membentuk murid yang tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga hidup dalam kebenaran dan cinta (T. Groome, 1. Dalam konteks ini, pendidikan lingkungan bukan sekadar tambahan kurikulum, melainkan bagian tak terpisahkan dari pembentukan murid Kristiani yang hidup sesuai dengan panggilan imannya di tengah krisis ekologis global. Penelitian yang dilakukan oleh Veldman et al. juga menegaskan bahwa komunitas dan institusi agama memainkan peran penting dalam membentuk norma dan tindakan kolektif dalam menghadapi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan (Veldman et al. , 2. Maka, pendidikan Katolik yang menyentuh ranah ekologis MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK bukan hanya berfungsi sebagai pendidikan moral pribadi, tetapi juga sebagai pendidikan profetik yang membentuk peserta didik menjadi pembawa kabar baik bagi bumi dan seluruh isinya. Demikian juga, integrasi nilai ekologis ke dalam kurikulum PAK SMP menjadi wujud nyata dari misi Gereja dalam merawat rumah bersama. Dari keseluruhan analisis, dapat disimpulkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Katolik SMP telah mengembangkan dimensi ekologis secara bertahap dan Buku ajar dari kelas VII hingga IX menunjukkan bahwa nilai-nilai Laudato SiAo dapat ditanamkan secara kontekstual dan integratif. Pendidikan iman yang diarahkan untuk mencintai ciptaan bukan hanya memperkaya pemahaman peserta didik tentang iman Katolik, tetapi juga membentuk karakter ekologis yang mampu menjawab tantangan zaman dengan penuh harapan dan tanggung jawab. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis terhadap buku ajar Pendidikan Agama Katolik SMP kelas VII. Vi, dan IX, dapat disimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai ekologis dalam kurikulum telah berjalan secara bertahap dan kontekstual. Buku kelas VII dan Vi masih menyampaikan muatan ekologis secara implisit melalui narasi ciptaan, syukur atas alam, dan ajaran sosial, sedangkan buku kelas IX mulai menampilkan secara eksplisit ajakan konkret untuk membangun persahabatan dengan alam. Muatan ini sejalan dengan semangat Laudato SiAo yang menekankan pentingnya pertobatan ekologis, ekologi integral, dan tanggung jawab etis terhadap ciptaan. Kurikulum ini menggabungkan dimensi kognitif, afektif, dan praksis, sehingga mampu membentuk karakter ekologis peserta didik secara utuh dalam terang iman Katolik. Oleh karena itu, kurikulum PAK SMP perlu terus diperkuat dengan menyisipkan nilai-nilai ekologis secara eksplisit sejak kelas VII, serta mengintegrasikan Laudato SiAo sebagai sumber refleksi dan aksi iman. Pendidikan karakter ekologis sebaiknya dilanjutkan dalam bentuk proyek kolaboratif, aksi konkret, dan pembiasaan gaya hidup ekologis di sekolah, agar pendidikan agama tidak hanya mencetak peserta didik yang beriman secara pribadi, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial dan ekologis yang mencintai bumi sebagai rumah bersama. DAFTAR REFERENSI Ajibola. A Theological Analysis of Confessional-Centric Curriculum of Christian Religious Education: Towards an Inclusive Religious Pluralistic Centered Curriculum for Nigeria Colleges of Education. Duquesne University. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 Arianto. Firmanto. , & Aluwesia. Tindakan ekologis Gereja Katolik di Indonesia dari perspektif moral lingkungan hidup William Chang. Forum, 50. , 113Ae130. Badzinski. Woods. , & Nelson. Content analysis. In The Routledge handbook of research methods in the study of religion . 180Ae. Routledge. Batu. , & Sihotang. Peran guru pendidikan agama Katolik dalam memerangi radikalisme di SMP Swasta Santo Xaverius 2 Kabanjahe. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 22. , 116Ae135. BR Agung Prihartana. How To Be Stronger Your Marriage. Pohon Cahaya. Creswell. Hanson. Clark Plano. , & Morales. Qualitative research designs: Selection and implementation. The Counseling Psychologist, 35. , 236Ae264. Deane-Drummond. Laudato SiAoand the natural sciences: An assessment of possibilities and limits. Theological Studies, 77. , 392Ae415. Den. Bandur. Lon. Denar. , & Haru. Pater Ernest Waser. SVD: Keagamaan Dan Humanitas. Pohon Cahaya. Edwards. The integrity of creation: Catholic social teaching for an ecological Pacifica, 5. , 182Ae203. Elo. , & Kyngys. The qualitative content analysis process. Journal of Advanced Nursing, 62. , 107Ae115. Festiyed. Model Pembelajaran Sains Berbasis Multisensori-Ekologi (Psb Mug. Bagi Anak Usia Dini. Edu Publisher. Francis. Laudato si. Vatican City: Vatican Press. May, 24, w2. Fui. , & Lega. PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS SISWA KELAS VII. CREDENDUM: Jurnal Pendidikan Agama, 7. , 80Ae100. Groome. Sharing faith: A comprehensive approach to religious education and pastoral ministry: The way of shared praxis. Wipf and Stock Publishers. Groome. Educating for life: A spiritual vision for every teacher and parent. More. Hary Susanto. Religion and Environment Environmental Damage and Ecological Conversion. The 7th LITERARY STUDIES CONFERENCE, 11. Hindmarsh. Towards an ecologically sustainable Catholic primary school. Inayah. Budiarti. Solichah. , & Maki. KURIKULUM CINTA. Iryanti. Pembentukan karakter peduli lingkungan melalui pendidikan agama Islam: Studi multisitus di SMP Negeri 10 dan SMP Negeri 22 Malang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Ives. Kidwell. Anderson. Arias-Aryvalo. Gould. Kenter. , & Murali. The role of religion in shaping the values of nature. Ecology and Society, 29. , 10. MUATAN PEDAGOGI LAUDATO SIAo DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMP SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER EKOLOGIS PESERTA DIDIK Jimmy. Dari Konsumsi ke Kontemplasi: Membangun Gaya Hidup Ekologis di Kalangan Kaum Muda Katolik Kalimantan. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik, 10. , 53Ae68. Keller. Ecology and justice: citizenship in biotic communities (Vol. Springer. Kusuma. Internalisasi Semangat Vincentian Bagi Pembentukan Karakter Peserta didik Melalui Pembiasaan (Studi Kasus Di SMP Katolik Santo Vincentius Surabay. STKIP Widya Yuwana Madiun. Laudato SiAo, art. Seri-Dokumen-Gerejawi-No-98-LAUDATO-SI-1. Paus Fransiskus, 1Ae161. Lickona. Pendidikan karakter: Panduan lengkap mendidik siswa menjadi pintar & baik. Nusamedia. Litera. Dialektika Pendidikan dan Agama di Era Kontemporer. Massaro. Living justice: Catholic social teaching in action. Bloomsbury Publishing PLC. Mizzoni. Environmental ethics: A Catholic view. Environmental Ethics, 36. , 405Ae419. Pabubung. AuLAUDATO SIAoUAJYAy: BERAGAMA DAN BERDAMPAK BAIK BAGI LINGKUNGAN HIDUP. Euntes: Jurnal Ilmiah Pastoral. Kateketik. Dan Pendidikan Agama Katolik, 2. Radigan. Integration-with-creation: New spiritual dimensions of ecological stewardship for Catholic education. University of St. MichaelAos College. Reynaldo. Wurningsih. Tjondro Sugianto. Janu Hamu. Vinsentius Sarah. Marseli. Belen Keban. Wasiyati. Bhoki. , & Annga. Menyongsong Pendidikan Katolik di Era Transformasi: Mengukir Generasi Cerdas. Bermartabat dan Tangguh. SHERLEY. Abdul. , & Bharoto. Rumah Retret Kaum Muda di Tuntang. universitas Diponegoro. Sihotang. Harmoni moderasi beragama: Pemahaman, kesadaran, dan Penerbit P4I. Soetoprawiro. Bukan kapitalisme bukan sosialisme: memahami keterlibatan sosial gereja. PT Kanisius. Suhaimi. Katolik dan Budaya Lokal Betawi: Studi atas Akulturasi Katolik terhadap Budaya Lokal Betawi Di Kampung Sawah. Bekasi. Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Suyanto. Taruno. Harum. Prasetianto. , & Kama. KATOLISITAS Pendidikan Agama Katolik. Penerbit Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Veldman. Szasz. , & Haluza-DeLay. How the worldAos religions are responding to climate change. Taylor & Francis London. Widiyanti. Pengaruh Pendidikan Karakter Dengan Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dan Motivasi Belajar terhadap Kepribadian Siswa dalam Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 138-153 Pendidikan Agama Katolik di SMP Katolik Se-Kota Madiun. UNS (Sebelas Maret Universit. Wijaya. Harun. Wiryono. Widianarko. Binawan. Rakam. Hendani. Prasetyo. Mariam. , & Yesus. Spiritualitas Pustaka KSP Kreatif. Wirzba. The paradise of God: Renewing religion in an ecological age. Oxford University Press.