Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 ISSN 2528-4967 . dan ISSN 2548-219X . Efektivitas Program Sosialisasi Konsep Keamanan Pangan terhadap Peningkatan Pengetahuan Siswa SMA The Effectiveness of the Food Safety Concept Socialization Program on Increasing the Knowledge of High School Students Okta Pringga Pakpahan 1*. Desiana Nuriza Putri2. Nadia Mardhiyah3 Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian-Peternakan. Universitas Muhammadiyah Malang Email: okapringga@umm. id1, desiana@umm. id 2, mardhiyah. nadia@gmail. *Corresponding author: desiana@umm. ABSTRAK Keamanan pangan ialah keadaan dan usaha untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran kimia, biologis, dan benda lain yang merugikan, mengganggu, dan membahayakan kesehatan manusia. Rendahnya tingkat keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) masih menjadi persoalan yang Data pengawasan PJAS yang dilakukan BPOM RI Direktorat Inpeksi dan Sertifikasi Pangan menyatakan bahwa 45% PJAS tidak memenuhi ketentuan keamanan yaitu PJAS tersesbut ternyata mengandung bahan kimia seperti boraks, formalin, rhodamin, dan mengandung Bahan Tambahan Pangan (BTP), seperti benzoat dan siklamat yang melebihi batas aman. Permasalahan di SMA Negeri 2 Batu yaitu di sekolah terdapat banyak jajanan tidak sehat, jajan di sekolah yang menjadi kebiasaan siswa, tidak ada media dari sekolah yang dapat digunakan sebagai media transfer pengetahuan jajanan sehat, dan pengetahuan pihak kantin yang kurang terhadap keamanan pangan. Kegiatan sosialisasi terdiri dari penyampaian materi mengenai keamanan pangan, praktek uji formalin dan boraks, serta evaluasi keberhasilan program melalui kuisoner. Pengabdian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh program sosialisasi terhadap peningkatan pengetahuan siswa melalui pengukuran pre-test post-test melalui kuesioner. Data dianalisis menggunakan metode nonparametrik uji 2 sampel berhubungan Wilcoxon. Hasil dari pengabdian menunjukkan bahwa pogram sosialisasi konsep keamanan pangan dapat meningkatkan pemahaman siswa, guru, dan civitas akademika dalam memahami keamanan pangan. Kata Kunci: Keamanan Pangan. Penyuluhan. Sehat. Siswa SMA ABSTRACT Food safety is a condition and effort to prevent food from the possibility of chemical, biological, and other objects that harm, disrupt, and harm human health. The supervision of PJAS conducted by BPOM RI Directorate of Inpeksi and Food certification has stated that 45% PJAS does not meet the safety requirements of PJAS, it contains chemicals such as borax. Formalin, and contain food additives (BTP). The problem in SMA Negeri 2 Batu is that in school there are many unhealthy snacks, snacks in schools that are a habit of students, no media from the school that can be used as a medium transfer knowledge of healthy food, and canteen knowledge of the lack of food safety. Socialization activities consist of delivering material on food safety, formalin and borax test practice, as well as evaluation of program success through kuestionnaires. This research aims to determine the influence of the socialization program to increase students ' knowledge through pre-test post-test through questionnaires. Data was analyzed using a nonparametric test method of 2 samples associated with Wilcoxon. The results of the research show that the socialization program of food safety concept is a real effect on increasing students ' knowledge . < 0. Keywords: Food Safety. Healthy. Students. Counseling Copyright A 2022. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. http://journal. um-surabaya. id/index. php/Axiologiya/index DOI: http://dx. org/10. 30651/aks. Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 PENDAHULUAN Sekolah utama dalam proses pembelajaran formal pada tingkat dasar (SD sederaja. sampai dengan tingkat atas (SMA Sederaja. rata-rata peserta didik belajar 8Ae10 jam/hari setiap 5 hari dalam 1 minggu. Makanan jajanan memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan energi dan zat gizi lain bagi anak-anak usia sekolah (Hamida dkk, 2. Meski demikian, pengelolaan kantin diberikan kepada pihak ketiga, dalam hal ini pihak sekolah juga memiliki peranan untuk memberikan pembelajaran kriteria dikonsumsi peserta didik dan pengelola kantin. Secara kontaminasi merupakan tantangan utama proses pengolahan makanan. Kontaminasi bakteri, virus, atau penyakit dari suatu sumber tertentu pada makanan baik saat proses produksi atau Hal ini disebabkan oleh debu, manusia, udara, peralatan, bahan baku, binatang, dan air. Selanjutnya, proses ini menghasilkan mikroorganisme yang memproduksi senyawa yang bersifat beracun dan Mikroorganisme yang menyebabkan jenis keracunan makanan seperti ini contohnya ialah Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium (Martanda, 2. Praktik-praktik dan sanitasi yang buruk dapat bawaan makanan. Beberapa tahun terakhir, ada kejadian keamanan pangan yang menjadi berita utama dan memusatkan atensi kepada praktik sanitasi yang buruk dan kontrol keselamatan di semua bidang sistem pangan. Beberapa insiden ini ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Jenis kontaminasi pada Penyebab Makanan Es krim Banyak O157:H7 macam Benzene Air Listeria Daging Big Au8Ay Banyak Glass Botol Kaca Efek 224,000, keracunan 732 sakit, 4 kematian Penarikan kembali seluruh dunia dari 160 juta botol 101 sakit, 21 4Ae5% penduduk Indonesia memiliki alergi makanan. 20150 orang meninggal setiap tahun 15,4 juta botol ditarik dihancurkan, dan Tabel diatas memaparkan contoh pentingnya sanitasi dari awal pemrosesan bahan, sanitasi yang tepat dari manufaktur makanan dan peralatan, serta fasilitas pelayanan Konsekuensi dari sanitasi buruk adalah mengurangi penjualan, merusak kepercayaan penerimaan Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 kepercayaan konsumen, tercemarnya citra merek hilangnya pangsa pasar, serta, berakhir pada tindakan hukum. Masalah-masalah ini dapat dicegah dengan praktik sanitasi yang manajemen keamanan pangan yang Dinas Pendidikan Kabupaten Batu terdapat 36 sekolah tingkat atas, dengan daya 356 siswa/tahun. Untuk mengenai makanan yang aman dan makanan, maka dirasa perlu adanya penyuluhan dan pembinaan kantin sehat di lingkungan sekolah tingkat Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Batu. SMAN 2 Batu memiliki permasalahan utama yaitu rendahnya pengawasan pengelolaan kantin sehat dan tingginya populasi kelompok pedagang jajanan luar Selain itu, guru, dan siswa juga tidak memiliki pemahaman mengenai keamanan pangan dan rendahnya pengetahuan mengenai bahan pangan. Selanjutnya, inspeksi dan pengawasan pedagang jajanan sekolah oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) belum dikarenakan jumlah pedagang yang banyak dan selalu berpindah-pindah. Pembimbingan pedangang jajanan yang dilakukan instansi pemerintah juga bersifat tentatif sesuai dengan APBD. Maka dari itu perlu dilakukannya program penyuluhan keamanan pangan serta evaluasi meningkatkan pengetahuan siswa di sekolah tersebut. METODE PENELITIAN Program merupakan pengabdian bersifat kuantitatif yang mempunyai tujuan untuk melihat pengaruh program sosialisasi terhadap peningkatan pemahaman responden. Metode yang yang digunakan adalah one grup pretest posttest. Metode one group pretest posttest adalah metode yang membandingan nilai responden sebelum dengan sesudah mengikuti materi sosialisasi. Penelitian program sosialisasi ini tidak memiliki Kemudian, posttest digunakan sebagai bentuk evaluasi efektivitas Pengambilan evaluasi menggunakan kuisioner. Evaluasi dilaksanakan berdasar pada sejumlah daftar pertanyaan yang konsep keamanan pangan. Penelitian program sosialisasi ini memiliki 2 variabel, variabel bebas yang dimiliki yaitu sosialisasi konsep keamanan pangan dan variabel terikat yaitu pengetahuan mengenai jajanan sehat dan aman. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Batu. Responden dalam penelitian program sosialisasi ini ialah 31 siswa yang Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 ada di kelas XII IPA1. Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel menggunakan teknik Instrumen yang digunakan dalam penelitian program sosialisasi ini yaitu materi penelitian, bahan pendeteksi formalin atau boraks, dan Pengumpulan data dalam penelitian program sosialisasi ini menggunakan hasil pengamatan yang dilanjutkan dengan wawancara, dan kuesioner pada awal dan akhir Analisis data yang digunakan ialah uji statistik nonparametrik Two Related Sampel (Wilcoxo. Materi disampaikan meliputi : Produksi makanan sesuai yang dengan kriteria Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) Pengenalan dan identifikasi nilai gizi bahan makanan Makanan yang aman dan sehat Jenis dan bahaya kontaminasi kimia, fisik, dan mikrobiologi Metode deteksi makanan yang tidak aman HASIL DAN PEMBAHASAN Data Responden Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 25 September 2019 bertempat di salah satu ruang kelas SMA Negeri 2 Batu. Sebelum penjelasan materi yang disampaikan oleh salah satu dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang, responden diminta mengisi kuisioner pretest sebagai alat untuk mendata tingkat pengetahuan awal. Pemberian materi berlangsung secara interaktif yang ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh responden, hal ini menunjukkan bahwa responden tertarik dan antusias dengan topik pembahasan keamanan pangan. Selain itu, penjelasan materi menggunakan bahasa yang efektif untuk dipahami serta pemberian contoh yang berdekatan dengan kehidupan seharihari. Penyampaian materi dengan media Powerpoint yang interaktif dan didukung dengan pemateri yang komunikatif mampu mendapatkan perhatian yang bagus dari semua Gambar Peneliti pemateri, guru dan responden Ruang lingkup keamanan pangan yang disampaikan dalam sosialisasi meliputi pentingnya mengonsumsi makanan dan minuman yang aman serta dampak jika mengknsumsi makanan dan minuman yang tidak Pada responden diminta kembali untuk Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 mengisi kuisioner posttest. Pengisian mengetahui sejauh mana pemahaman Pada waktu kegiatan sosialisasi jajanan sehat berlangsung, mengikuti kegiatan tersebut dengan Hasil responden dalam penelitian ini adalah sebesar 31 responden. Dari 31 responden, 67,75% adalah laki-laki atau sebanyak 21 responden laki-laki dan sisanya sebanyak 10 merupakan responden perempuan. Distribusi banyaknya responden dipaparkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Persentase 32,25 67,75 Dari Tabel 3 diketahui bahwa mayoritas respoden 64,52% memiliki uang saku lebih dari Rp. 000 per hari, sejumlah 22,58% responden mempunyai uang saku antara Rp. 000 hingga Rp. 000 dan sebanyak 12% responden yang memiliki uang saku terendah yaitu kurang dari Rp. Hal ini berbanding lurus dengan tempat makan yang menjadi pilihan responden, yaitu hampir sebanyak responden memilih kantin sekolah sebagai tempat makan pilihan, sedangan sejumlah 32,27% dan 25,80% responden memilih tempat makan yang lain yaitu rumah dan luar sekolah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra . yaitu 92,2% responden membeli makanan jajanan pada saat jam istirahat sekolah. Salah satu alasan responden mengonsumsi jajanan di sekolah adalah untuk mengurangi rasa lapar setelah beberapa jam belajar di kelas. Rasa lapar mengurangi kemampuan anak memperhatikan, dan memperoleh informasi (Chitra, 2. Distribusi frekuensi tempat makan yang dipilih responden dijelaskan dalam Tabel 4. Berdasarkan mengenai besar uang saku dan pilihan tempat makan, program sosialisai dalam penelitian ini dirasa tepat untuk membantu meningkatkan pengetahuan siswa tentang jajanan yang aman dan sehat sehingga dapat dijadikan dasar pemilihan oleh makanan dan minuman. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Uang Saku Responden perhari Uang Saku Rp. <10. Rp 10. Rp. >15. Total Frekuensi Persentase 12,90 22,58 64,52 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tempat Makan Responden Tempat Makan Responden Sekolah (Kanti. Luar Sekolah Frekuensi Persentase 41,93 25,80 Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 Rumah Total 32,27 Data Skor Pre-test dan Post-test Penilaian pengetahuan awal dilaksanakannya penelitian program pemberian soal pretest kepada Responden memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Distribusi ditampilkan dalam Tabel 5. Tingkat pemahaman paling rendah dengan nilai 30 hingga 50 memiliki frekuensi responden terbesar yaitu 64,52%, pemahaman tertinggi yaitu yang mendapatkan nilai 7 hingga 90 hanya sebesar 9,68%. Tingginya frekuensi responden yang memiliki tingkat belum adanya program pendidikan gizi atau penyuluhan mengenai keamanan pangan yang dilaksanakan di sekolah. Jumlah tertinggi dengan skor 71 hingga 90 meningkat lebih dari 100% setelah dilaksanakan sosialisasi, sedangkan jumlah responden dengan tingkat pemahaman terrendah dengan skor 30 hingga 50 mengalami penurunan secara signifikan yaitu sebesar 9 Distribusi frekuensi nilai dijelaskan dalam Tabel 6. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Nilai Pengetahuan Pretest Tingkat Pemahaman Total Frekuensi Persentase 64,52 25,80 9,68 Tabel 6. Distribusi Frekuensi Nilai Pengetahuan Posttest Tingkat Pemahaman Total Frekuensi Persentase 35,48 48,39 16,13 Hasil penyuluhan, hal ini dikarenakan adanya proses transfer informasi selama proses penyuluhan. Menurut Lestari . menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi meningkatnya pengetahuan ialah adanya informasi yang telah Metode penyuluhan yang dikombinasikan dengan praktek deteksi cemaran secara langsung menggunakan kit dan penyampaian . <0,. pemahaman seseorang, hal ini karena Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 informative dan interaktif dapat meningkatkan antusias dan rasa ingin tau responden sehingga transfer informasi berjalan efisien. Hasil Aprilaz pendidikan kesehatan dengan metode Penelitian lain. Pratiwi . juga memaparkan bahwa pengetahuan pada 2 kelompok kesehatan menggunakan metode menggunakan metode ceramah. Pemberian meningkatkan pengetahuan yang akan diikuti dengan perubahan sikap, dan tingkah laku individu, kelompok khusus, keluarga, dan masyarakat. Pengetahuan manusia didapatkan stimulus dengan menggunakan alat indera (Hamida, 2. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan pendidikan kesehatan. Metode yang pendidikan kesehatan sangat banyak macamnya antara lain metode kelompok, dan lain sebagainya. Kegiatan penyuluhan adalah salah satu usaha yang dilakukan dalam memberikan pendidikan kesehatan. Guna memeragakan dan membantu gakan dalam proses pendidikan kesehatan perlu adanya suatu media. Media dapat diketahui sangat membantu sasaran didik dalam mendapatkan informasi berdasarkan kemampuan penangkapan panca indera (Wulandari, 2. Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality KolmogorovSmirnova Stat Pre_ Test Post_ Test Shapiro-Wilk Sig. Stat Sig. Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Shapiro-Wilk Test karena jumlah responden sebanyak 31 . ampel O Hasil pengujian normalitas data yaitu data pretest dan posttest tidak terdistribusi normal (Sig < 0,. Sehingga pengujian statistik untuk perlakuan menggunakan metode statistik nonparametrik Wilcoxon. Berdasarkan uji statistik, program terhadap peningkatan pengetahuan repondes, hal ini karena metode pemberian materi melalui praktek detekasi formalin dan boraks dapat memberikan pengalaman langsung responden lebih mudah memahami konsep keamanan pangan dan Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 berkaitan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemberian kuisioner dianggap dapat menjadi alat ukur responden, dengan memberikan pertanyaan dan jawaban multiple Tabel 8. Ranks Ranks Mean Sum of Rank Ranks Negativ e Ranks Post_Test Positive - Pre_Test Ranks Ties Total Post_Test < Pre_Test Post_Test > Pre_Test Post_Test = Pre_Test Tabel 9. Hasil Uji Statistik Test Statisticsa yang mempunyai tujuan untuk mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku yang ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan Penyediaan peralatan dan fasilitas sangat terlaksananya proses belajar yang Dengan fasilitas yang maksimal, siswa dapat menimba pengetahuan lebih banyak lagi (Hendarwati, dkk, 2. Pendidikan kreativitas sehingga menghasilkan (Nasrullah, dkk, 2. Demonstrasi Pengujian Berbagai Jajanan yang Mengandung Zat Berbahaya atau Tidak Berbahaya Post_Test Pre_Test Asymp. Sig. -taile. Wilcoxon Signed Ranks Test Based on negative ranks. Pengetahuan berlaku setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi menggunakan panca indera manusia, yakni indera pendengaran, penglihatan, rasa, penciuman, dan raba. Perubahan pengetahuan pada seseorang bisa terjadi disebabkan adanya pemberian kesehatan ialah pengalaman belajar Gambar 2. Pengujian Kandungan Formalin/Boraks Kegiatan demonstrasi deteksi formalin dan boraks melibatkan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang. Beberapa jenis jajanan yang dijual di kantin diuji dengan kit boraks dan formalin dilakukan Okta Pringga Pakpahan. Desiana Nuriza Putri. Nadia Mardhiyah /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Agustus 2022 Hal 378 Ae 387 secara acak. Kegiatan ini menguji jajanan yang biasa dijual di kantin SMA Negeri 2 Batu dan 2 jenis jajan yang positif mengandung boraks. Demonstasi responden mengenai jajanan yang tidak sehat. Demonstrasi ini juga mengikut-sertakan guru, sehingga manajemen sekolah dapat memberi info kepada pengelola kantin mengenai keamanan jajanan yang boleh dikonsumsi siswa. Setelah pelaksanaan demonstrasi uji kit pada jajanan, dilakukan serah terima Reagen Kit kepada pihak sekolah yang diterima oleh perwakilan sekolah tersebut. Penyerahan reagen kit memiliki tujuan untuk memantau menyediakan berbagai jajanan untuk Hasil Uji Boraks 33,33 66,66 Positif Negatif Gambar 3. Diagram Hasil Uji Boraks Hasil uji kandungan boraks dan formalin yang dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan test kit terhadap 6 sampel jajanan yang ada dikantin sekolah. Berdasarkan hasil pengujian dari 6 sampel jajanan yang diuji secara kualitaif dengan menggunakan test kit menunjukkan 2 ,33%) mengandung boraks dan 4 sampel ,66%) Hasil pengujian dilihat dari terbentuknya perubahan warna yang terjadi pada sampel. SIMPULAN Pemberian penyuluhan yang disertai dengan praktik langsung untuk mendetekasi cemaran kimia pengetahuan dan juga sikap dari perubahan perilaku siswa dalam memilih jajanan yang akan mereka konsumsi perlu dilakukan intervensi lebih dalam dan membutuhkan faktor yang mendukung atau suatu kondisi kebijakan sekolah mengenai standar jajan atau makanan yang boleh beredar dalam sekolah. Demonstrasi pengujian jajanan yang mengandung boraks dan formalin menggunakan reagen kit dapat meningkatkan pengetahuan siswa, guru, pihak kantin, dan pihak sekolah dalam memahami kesehatan dan keamanan jajan yang dikonsumsi. DAFTAR PUSTAKA