KEBENCIAN SEBAGAI AKAR DEHUMANISASI: Inspirasi dari kisah Sarah dan Hagar Andreas Maurenis Putra* Abstract: The story of Sarah and Hagar, as told in the Biblical narrative, is a poignant illustration of the destructive power of hatred and its ability to strip individuals of their humanity. Through literature analysis methods, this article explores the dynamics of Sarah and Hagar's relationship, examining how hatred causes the dehumanization of Hagar, a woman caught in the conflict between Sarah's despair and insecurity. With a careful analysis of the text and its implications, it is confirmed that hatred, explicit or implicit, can strip a person of their humanity, and lead to a cycle of oppression from generation to This analysis not only highlights certain stories in the Bible but also offers broader insight, especially the relationship of these stories to contemporary human life, especially the problem of dehumanization which is rooted in In the end, alternative answer to dehumanization is rehumanization based on understanding humans as the image of God. Keywords: hatred. Sarah. Hagar. Genesis 16 power dynamics. contemporer relevance. * Penulis adalah lulusan Magister Humaniora. Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan dan praktisi pendidikan. Penulis dapat dihubungi melalui email: karvalho@yahoo. Jurnal Amanat Agung Abstrak: Kisah Sarah dan Hagar, sebagaimana diceritakan dalam narasi Alkitab, merupakan ilustrasi yang tajam tentang kekuatan destruktif dari kebencian dan kemampuannya untuk melucuti kemanusiaan individu. Melalui metode analisis pustaka, artikel ini mengeksplorasi dinamika hubungan Sarah dan Hagar, mengkaji bagaimana kebencian menyebabkan dehumanisasi Hagar, seorang perempuan yang terjebak dalam konflik antara keputusasaan dan ketidakamanan Sarah. Dengan analisis yang cermat terhadap teks tersebut dan implikasinya, ditegaskan bahwa kebencian, secara eksplisit maupun implisit, dapat melucuti kemanusiaan seseorang, dan berujung pada siklus penindasan dari generasi ke generasi. Analisis ini tidak hanya menyoroti kisah-kisah tertentu dalam Alkitab tetapi juga menawarkan wawasan yang lebih luas, terutama kaitan kisah ini dengan kehidupan manusia kontemporer terutama persoalan dehumanisasi yang berakar pada kebencian. Pada akhirnya, alternatif jawaban untuk dehumanisasi adalah rehumanisasi berbasis pemahaman manusia sebagai citra Allah. Kata-kata kunci: kebencian. Sarah. Hagar. Kejadian 16 dan 21. relevansi kontemporer. Pendahuluan Kebencian, sebuah emosi yang kuat, mempunyai kapasitas untuk merusak hubungan dan merusak interaksi manusia. Narasi alkitabiah tentang Sarah dan Hagar memberikan ilustrasi yang tajam tentang menghancurkan ikatan keluarga dan menyebabkan penderitaan. Narasi ini tidak hanya berfungsi sebagai perumpamaan agama tetapi juga Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi sebagai komentar mendalam tentang kekuatan destruktif dari kebencian dan kemampuannya untuk melucuti kemanusiaan seseorang. Kisah kuno ini, meskipun berakar pada konteks teologis YudeoKristiani selaras dengan isu-isu kontemporer mengenai identitas, kepemilikan, dan konsekuensi tragis dari kebencian. Di sini kebencian dapat menimbulkan dehumanisasi, tidak hanya terhadap objek yang dibenci tetapi juga pada individu yang membencinya. Kisah Sarah dan Hagar dalam Kejadian 16 dan 21 menggugah manusia masa kini untuk mengkaji hubungan berbasis primordial dan upaya membangun hubungan yang efektif bagi kualitas hidup individu, terutama kesadaran dan kemampuan melihat "yang lain" dengan segala keunikannya sebagai subjek yang bermartabat, bukan objek yang siap dimanipulasi. Kisah Sarah dan Hagar mencerminkan realitas kemanusiaan global kontemporer terutama dehumanisasi terhadap "yang lain. Yuting Zhang mengatakan bahwa hanya ada dua motif yang mendasari perilaku manusia: cinta atau rasa takut. Jika tindakan dimotivasi oleh cinta, maka itu akan menghasilkan respons yang lebih damai bagi individu dan masyarakat. Jika dimotivasi rasa takut, maka akan menimbulkan lebih banyak konflik dan kontradiksi baik bagi individu maupun masyarakat. Kemampuan untuk bersikap tenang dimotivasi oleh cinta, sedangkan kebiasaan berkelahi atau lari dilatarbelakangi oleh rasa takut. Maka dapat dikatakan bahwa penyebab utama dehumanisasi dan objektifikasi adalah yang lebih Jurnal Amanat Agung penuh konflik daripada perdamaian. 1 Dehumanisasi juga mengarah ke Ia dapat terjadi dalam dua sisi. Pertama, penyangkalan terhadap keunikan manusiaAikualitas yang membedakan manusia dari hewan seperti moralitas, intelektualitas, dan budaya. Bentuk dehumanisasi ini melibatkan persepsi atau perlakuan terhadap orang lain sebagai orang yang tidak cerdas, tidak beradab, atau tidak rasional. Kedua, manusiaAikualitas memisahkan manusia dari benda mati, seperti memiliki emosi, kehangatan, dan fleksibilitas. Penyangkalan terhadap sifat manusia melibatkan persepsi atau perlakuan terhadap yang lainnya seolah-olah adalah objek yang tidak berperasaan, dingin, dan kaku, yang hanya memiliki nilai instrumental. 2 Di sisi lain, dehumanisasi tampaknya mengharuskan para pelakunya untuk menyangkal dan mengakui kemanusiaan korbannya dengan cara tertentu. Contohnya, propaganda Nazi menyamakan orang-orang Yahudi dengan tikus dan "peracun Di Uni Soviet, rezim Stalinis menyebut lawannya sebagai hama, tetapi tetap mengadili mereka. Selama genosida di Rwanda, suku Hutu mengidentifikasi suku Tutsi dengan kecoak, tetapi tetap memperkosa perempuan Tutsi. Yuting Zhang. AuFear: The Roots of Dehumanization Among Human Beings,Ay Journal of Research in Social Science and Humanities 2, no. 4 (April 2. : 97. Gery C. Karantzas. Jeffry A. Simpson, dan Nick Haslam. AuDehumanization: Beyond the Intergroup to the Interpersonal,Ay Current Directions in Psychological Science 32, no. 6 (Desember 2. : 501. Adrienne De Ruiter. AuTo Be or Not to Be Human: Resolving the Paradox of Dehumanisation,Ay European Journal of Political Theory 22, no. (Januari 2. : 73. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi Dalam konteks alkitabiah, dehumanisasi adalah topik yang juga dieksplorasi oleh para teolog, feminis, maupun womanis. Secara khusus dalam kisah Sarah dan Hagar (Kej. 26 dan . , kita dapat menemukan persoalan dehumanisasi. Meskipun para peneliti menyingkap adanya tindakan dehumanisasi dalam kisah ini, penelitian mereka cenderung mempertimbangkan fokus yang berbeda daripada melihat kebencian sebagai gagasan utama. Penelitian A. Rebecca Basdeo Hill dan Lee R. Martin dalam artikel jurnal mereka berjudul "Seeing and hearing Hagar: An affective reading of Genesis 16" . mengungkap dimensi afektif-retoris dari narasi Keduanya juga menjelaskan pentingnya kasih sayang dalam berbagai tradisi agama, menganalisis penganiayaan dan dehumanisasi yang dialami Hagar di tangan Sarah dan Abraham, serta menyelidiki perjumpaan Hagar dengan Tuhan, dan mengeksplorasi penemuan harapan dan kebebasan melalui pengalaman tersebut. 4 Chandra Wahyuni Irawati dalam jurnal artikelnya berjudul "God who saw me: Faith And Dehumanization of Exegesis Studies Genesis 16" . mengeksplorasi permasalahan keluarga, keyakinan, dan dehumanisasi dalam kisah Kejadian 16. Artikel ini juga mencoba menjembatani kesenjangan antara Perjanjian Lama dengan konteks masyarakat saat Rebecca Basdeo Hill dan Lee R. Martin, "Seeing and hearing Hagar: An affective reading of Genesis 16" In die Skriflig 58. : 1. Jurnal Amanat Agung ini, di mana terjadi diskriminasi terhadap manusia, ras, dan martabat Xolani Maseko dan Thandi Soko-de-Jong dalam artikel mereka berjudul "Hagar's spirituality prior to and after captivity: An African and gendered perspective" . meksplorasi narasi Hagar dari sudut pandang teologi womanis Afrika. Artikel ini berfokus pada spiritualitas Hagar sebelum dan sesudah pembuangannya (Kej. Tujuannya adalah untuk menginspirasi perempuan Afrika modern . an diaspor. untuk mendapatkan kembali spiritualitas Afrika mereka dalam cerita dan pengalaman mereka. 6 Servinus Haryanto Nahak dalam artikelnya berjudul "Kisah Hagar dan apa Ismael Sebagai Terowongan Silaturahmi: Dasar Biblis Melawan Anti Peradaban" . melihat bahwa kisah pengusiran Hagar dan Ismael dapat dijadikan landasan biblis bagi pembicaraan tentang dialog antaragama sebagaimana Hagar dan Ismael dibela oleh Allah sendiri dan ditemani dalam penderitaan mereka di padang gurun. Penulis mempunyai pandangan yang berbeda dengan para peneliti di atas. Menurut hemat penulis, kebencian . sebagai emosi yang tidak terkendali menjadi alasan di balik berbagai isu Chandra Wahyuni Irawati, "God who saw me: Faith And Dehumanization of Exegesis Studies Genesis 16". QUAERENS 4, no. 1 (Juni 2. : 14. Xolani Maseko dan T. Soko de Jong, "Hagar's spirituality prior to and after captivity: An African and gendered perspective". HTS Teologiese Studies 80. : 1. Servinus Haryanto Nahak, "Kisah Hagar dan apa Ismael Sebagai Terowongan Silaturahmi: Dasar Biblis Melawan Anti Peradaban" Jurnal Pelayanan Pastoral 5, no. 2 (Oktober 2. : 136. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi dehumanisasi dalam berbagai bentuk. Kebencian adalah perasaan negatif yang kuat terhadap objek kebencian. Pembenci melihat objek kebenciannya sebagai sesuatu yang buruk, tidak bermoral, berbahaya, atau semua itu secara bersamaan. 8 Dengan kata lain, kebencian tidak hanya memupuk perpecahan, tetapi juga melemahkan rasa kemanusiaan yang menyatukan kita semua. Konsep kebencian ini sendiri ditemukan dalam kisah Sarah dan Hagar (Kej. 16 dan . dan memiliki implikasi terhadap kehidupan kontemporer. Kebencian yang mengakar dalam diri Sarah merusak hubungannya dengan Hagar. Tulisan ini bukanlah sebuah studi Alkitab yang ketat . , melainkan sebagai upaya untuk mengambil poin-poin penting yang dapat dianalisis, direfleksikan, dan dikorelasikan dengan persoalanpersoalan dehumanisasi kontemporer. Poin-poin penting yang diangkat dalam narasi tersebut masih dapat memberikan kedalaman pemahaman mengenai potensi destruktif dari kebencian manusia terhadap satu sama lain. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak setiap Kristiani, mengendalikan emosi, terutama kemungkinan timbulnya rasa benci, agar tidak merugikan orang lain bahkan diri sendiri. Dengan kata lain, artikel ini mengajak setiap individu untuk menghidupkan tanggung jawab moral agar sanggup melihat kemanusiaan dalam diri orang lain dalam konteks citra Allah di dunia kontemporer yang rentan konflik Jose I. Navarro. AuThe Psychology of Hatred,Ay The Open Criminology Journal 6, no. 1 (April 2. : 10Ae17. Jurnal Amanat Agung Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam analisis topik ini adalah studi pustaka atau studi literatur. Metode ini, sebagaimana diartikulasikan oleh Creswell9, melibatkan penyelidikan dan analisis sistematis terhadap literatur, dokumen, dan catatan yang ada yang disimpan di dalam Creswell mendefinisikan penelitian sebagai penyelidikan sistematis yang mengumpulkan data dan menganalisisnya untuk menjawab pertanyaan dan memberikan kerangka untuk topik. Komponen-komponen ini memfasilitasi pemahaman komprehensif tentang topik penelitian dengan mensintesis pengetahuan yang ada dan mengidentifikasi kesenjangan. Dalam melakukan studi pustaka, peneliti melibatkan berbagai sumber, termasuk buku, artikel jurnal, artikelartikel di media online. Creswell menganjurkan pendekatan sistematis terhadap tinjauan literatur dan menyoroti pentingnya mensintesis temuan dari berbagai sumber. Sintesis ini memungkinkan peneliti untuk membangun narasi yang memadai. Dengan mengidentifikasi pola, tema, dan kontradiksi dalam literatur, peneliti dapat mengartikulasikan pentingnya kontribusi mereka dan membenarkan pertanyaan penelitian Berdasarkan pemahaman ini, penerapan metode ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi teks-teks kunci. Teks-teks Alkitab utama ditempatkan, dengan fokus W Creswell dan J. D Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches, edisi ke-5 (New York: SAGE Publications, 2. , 28-30. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi pada Kitab Kejadian 16:1-16 dan 21:1-21. Kedua, mengidentifikasi dan menganalisis sumber ilmiah seperti buku-buku, komentar teologis, dan artikel jurnal akademis yang secara teologis, psikologis, maupun sosiologis berbicara tentang Sarah dan Hagar, kebencian, dan Ketiga, melihat konteks sejarah dan budaya . ecara garis besa. untuk memberikan pemahaman singkat tentang dinamika masyarakat dalam narasi tersebut. Keempat, mengelaborasi dan mensintesis temuan. Gagasan yang diperoleh dari sumber primer dan sekunder dielaborasi dan disintesis untuk membentuk analisis kohesif terhadap tema kebencian dan dehumanisasi dalam kisah Sarah dan Hagar. Langkah-langkah komprehensif tentang implikasi psikologis, sosiologis, dan teologis kebencian melalui narasi alkitabiah Sarah dan Hagar dapat dicapai. Meskipun tidak sangat terperinci, analisis topik ini tetap berkontribusi pada wacana yang lebih luas tentang hubungan antarmanusia dan tanggung jawab moral yang melekat di dalamnya, dalam dunia Hasil dan Pembahasan Konteks Narasi Narasi Sarah dan Hagar terdapat dalam Kejadian 16 dan 21, di mana ketegangan antara kedua perempuan tersebut terjadi dengan latar belakang perjanjian Tuhan dengan Abraham. Sarah dan Hagar berperan penting dalam narasi ini dan mewakili aspek-aspek kontras dari pengalaman manusia. Sarah, sebagai istri utama. Jurnal Amanat Agung awalnya mewujudkan cita-cita iman dan kesetiaan. Namun, keputusannya untuk menawarkan Hagar . amba dari Mesi. sebagai sarana untuk menjadi ibu mengungkapkan kerentanan dan keterbatasan imannya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Sarah mempertanyakan "kelambanan" Allah. Sarah menyalahkan Yahweh karena para dewa di zaman dahulu. Timur Dekat Kuno, adalah pemberi kesuburan sehingga mereka harus terlibat agar pembuahan akan terjadi. 10 Janji Tuhan "tidak dipahami oleh Abram dan Sarah dalam ayat ini. Janji Tuhan merupakan anugerah yang harus diterima dengan iman dalam perjalanan iman. "11 Janji itu adalah konteks di mana Sarah dan Abraham memasuki dimensi iman dan melihat Tuhan bekerja dalam diri-Nya dengan caranya sendiri dan bukan dengan cara Sarah dan Abraham. Tindakan Sarah menawarkan Hagar kepada Abraham adalah upaya manusia untuk memanipulasi janji Tuhan tentang seorang Hal ini mencerminkan kecenderungan bawaan manusia untuk mengambil tindakan sendiri alih-alih memercayai waktu dan metode Tuhan. Selain itu tindakan "menawarkan Hagar" bukan hanya menunjukkan lemahnya iman Sarah, tetapi sekaligus mencerminkan praktik budaya ibu pengganti yang lazim di Timur Dekat kuno, di kemampuannya menghasilkan ahli waris. Kesuburan seorang wanita Philemon Ibrahim. AuHow Heartless Is the Mistress of Hagar? Hagar, the Used and Rejected Egyptian Slave,Ay The American Journal of Biblical Theology 22, no. : 3. Chandra Wahyuni Irawati, "God who saw me,Ay 24. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi menentukan fungsi dan kekuasaannya dalam pernikahannya serta tidak dapat dipisahkan dari identitasnya. 12 Perempuan yang tidak mempunyai anak sering kali diawasi, distigmatisasi, dijadikan bahan cemoohan, dan dianggap kurang dari manusia seutuhnya di Israel 13 Kemandulan merupakan stigma yang memalukan bagi wanita di dunia Israel kuno, seperti yang diilustrasikan oleh dalam ratapan putus asa Rahel "Berikanlah aku anak, supaya aku tidak mati" (Kej. atau dalam penderitaan Hana yang tersiksa . Sam. 1:6Ae. Maka ide "menawarkan Hagar" bukan sebuah ide yang sangat aneh atau tidak terpikirkan dalam masyarakat Timur Dekat Para leluhur masyarakat Timur Dekat kuno biasanya memiliki lebih dari satu istri, sebagian besar untuk mendapatkan lebih banyak anak bagi suku tersebut. Rahel, istri Yakub, juga mempunyai "ibu pengganti". Bilha untuk anak-anaknya yang sulung (Kej. Namun, tindakan ini kemudian menjadi permulaan konflik dan penderitaan, menyingkapkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari upaya manusia untuk memanipulasi janji-janji Ilahi. Sarah menjadi benci terhadap Hagar, apalagi ia dipandang rendah oleh Hagar. Dipandang rendah, dalam beberapa interpretasi, misalnya dari Trible dan Russell, dilihat sebagai sikap menurunkan harga diri, yang P de-Whyte. Wom. an: A Cultural-Narrative Reading of the Hebrew Bible Barrenness Narratives (Leiden: Brill, 2. , 2-3. Hill dan Martin, "Seeing and hearing Hagar,Ay 3 Hill dan Martin, "Seeing and hearing Hagar,Ay 3 Katerina Koci. AuPutting on SarahAos Skin: Victim Identity in the Abrahamic Stories and Beyond,Ay Open Theology 10, no. 1 (Desember 2. 3Ae4. Jurnal Amanat Agung mencerminkan berkurangnya status Sarah jika dikaitkan dengan Hagar. 16 Bahasa Ibrani memperlihatkan ketegangan ini dalam frasa "ia memandang dengan jijik kepada majikannya" (Kej. Frasa ini memiliki arti, "dianggap remeh" atau "majikannya tidak terhormat di Kebencian Sarah bertumbuh. Kebencian Sarah terhadap Hagar bukan hanya bersifat pribadi, tetapi bersifat eksistensial, berakar pada ketakutannya akan kehilangan identitas dan statusnya. Situasi ini mengarah pada perselisihan (Kej. 16:4. Kej. , yang menggambarkan kecenderungan manusia untuk mengendalikan situasi daripada memercayai waktu Ilahi. Sarah mempertegas perselisihan ini, dengan mengatakan kepada Abraham: "Engkau tahu. Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak" (Kej. Kebencian Sarah memuncak, dan hal ini diafirmasi dalam Kejadian 21:10, berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak. " Di sini rasa benci Sarah berubah menjadi upaya menghasut, melukai, memperlakukan secara kejam . , dan memperlakukan Hagar secara tidak Sarah mengusir Hagar bersama anaknya. Ismael. Kejengkelan dan rasa jijik Sarah juga tergambar jelas dalam Kejadian 21:10, ketika Sarah mengeluh kepada suaminya tentang "budak Pyllis Trible dan Letty M. Russell. Hagar. Sarah, and Their Children: Jewish. Christian, and Muslim Perspectives (Louisville: Presbyterian Publishing Corporation, 2. , 39. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi wanita ini", menghina dan bahkan tidak menyebut namanya . Kej. 16:5-. 17 Kehadiran Ismael, terutama ketika "Sarah melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri (Kej. ", semakin memperkeruh rasa benci. Sarah, dalam situasi ini pun, melihat Ismael sebagai ancaman bagi putranya. Menurut Sara Ahmed, ancaman yang dirasakan ini mempunyai fungsi transformasi "tubuh orang lain" . he body of other. menjadi "yang dibenci" . he hate. melalui wacana kesakitan. 18 Subyek utamanya . alam hal ini Sara. adalah ditafsirkan sebagai terluka atau terluka oleh kehadiran "yang lain" . alam hal ini Hagar dan Ismae. 19 Gagasan ini sangat penting untuk memperlakukan satu sama lainAipenderitaan pribadi dan kolektif sering mengakibatkan kekerasan. Hagar sebaliknya tampil sebagai sosok yang tangguh. Dalam artian, secara spiritual, ia menunjukkan ketahanan, iman, dan keberanian dalam menghadapi pengabaian dan kesulitan. 21 Awalnya ia adalah partisipan pasif dalam narasi tersebut, ia menjadi Juliana Claassens. AuJust Emotions: Reading the Sarah and Hagar Narrative (Genesis 16, . through the Lens of Human Dignity,Ay Verbum et Ecclesia 34, no. 2 (September 2. : 1Ae6. Sara Ahmed. The Cultural Politics of Emotion (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2. , 24. Ahmed. The Cultural Politics of Emotion, 27. Judith Butler. Precarious Life: The Powers of Mourning and Violence (London: Verso Books, 2. , 28Ae29. Lihat Maseko dan de Jong, "Hagar's spirituality prior to and after captivity,Ay 4-5. Jurnal Amanat Agung diberdayakan melalui perjumpaannya dengan Tuhan. Ketika ia melarikan diri dari penganiayaan Sarah, dia bertemu dengan malaikat Tuhan, yang memanggil namanya dan berjanji untuk memperbanyak keturunannya (Kej. Perjumpaan ini tidak hanya menegaskan nilai Hagar, tetapi juga menyoroti kepedulian Tuhan terhadap mereka yang terpinggirkan. Tanggapan Hagar, menyebut Tuhan sebagai "El Roi" (Tuhan yang meliha. , menggarisbawahi tema teologis tentang perhatian ilahi terhadap penderitaan manusia. Dengan kata lain dari karakteristik Hagar, menunjukkan implikasi Pertama. Hagar dipilih Allah sebagai pribadi spesial, dibuktikan dengan inisiatif Allah memperlihatkan diri sebanyak dua kali kepada Hagar (Kej. 16:7-11. 21:17-. Dalam budaya saat itu, hal ini dilihat sebagai ketidakmungkinan terutama Hagar adalah seorang hamba, perempuan, dan bukan bagian dari kelompok etnis Abraham. Kedua, perintah Allah . elalui Malaika. agar Hagar kembali merendahkan dirinya . di bawah otoritas Sarah, yang kemudian dilakukan Hagar, memperlihatkan kesalehan Hagar. Karakterisasi Sarah memperlihatkan pergulatan dengan iman dan ambiguitas moral dari tindakan. Tuntutan agar Hagar dikeluarkan mencerminkan keinginannya untuk menegaskan kembali kendali atas hidup dan keadaannya, bahkan dengan mengorbankan kesejahteraan wanita lain. Kisah Sara dan Hagar berpotensi menjadi ruang untuk merenungkan persoalan etika hidup yang kompleks. Terutama persoalan etika yang timbul dari interaksi dan relasi antar Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi suku, ras, agama, dan budaya. 22 Kisah Sara dan Hagar membantu manusia untuk memahami diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Sementara Hagar adalah representasi kelompok-kelompok terpinggirkan berdasarkan jenis kelamin, status, dan maupun Karakteristik Hagar juga menunjukkan pemeliharaan dan perhatian Allah. Pengakuan Ilahi atas penderitaan Hagar memberikan pemahaman mendalam mengenai nilai yang melekat pada setiap individu, tanpa memandang status sosial. Seperti dicatat oleh Delores Williams dalam "Sisters in the Wilderness", pengakuan Ilahi ini menekankan bahwa "perhatian Tuhan meluas kepada mereka yang terpinggirkan dan tertindas. "23 Kisah Hagar menjadi kisah tentang ketahanan dan pengakuan, menantang struktur yang berupaya tidak memanusiakan dirinya. Kebencian Sebagai Akar Dehumanisasi Kebencian, seperti yang digambarkan dalam narasi, bukan sekadar respons emosional tetapi menjadi katalisator dehumanisasi. Dehumanisasi berarti "menganggap atau bertindak seolah-olah seseorang lebih rendah dari manusia, melanggar satu atau lebih Yohanes Wahyu Prasetyo, "Relevansi Kisah Sarah dan Hagar (Kejadian 16 dan . Untuk Menjalani Hidup Dalam Konteks Global," Gita Sang Surya 17, no. 3, (Mei-Juni 2. : 64-65. Delores S. Williams. Sisters in the Wilderness: The Challenge of Womanist God-Talk (Maryknoll: Orbis Books, 1. , 20. Jurnal Amanat Agung elemen ciri kemanusiaan"24, "memahami orang lain sebagai makhluk yang tidak manusiawi, mengaitkan esensi yang tidak manusiawi kepada manusia"25, dan dengan demikian menyebabkan atau lebih mungkin menimbulkan kerugian. 26 Intinya, dehumanisasi adalah proses melucuti kemanusiaan individu, menjadikan mereka sekadar instrumen untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Kebencian dan dehumanisasi dalam kisah Sarah dan Hagar terjalin di sepanjang Melalui kisah tersebut dapat dikatakan bahwa kebencian sebagai akar dehumanisasi dapat dilihat dalam beberapa hal. Pertama, mendominasi dirinya, ia cenderung kehilangan empati terhadap orang lain. Sarah, dalam kebenciannya, tidak hanya menyakiti Hagar secara emosional tetapi juga secara fisik, ketika dia meminta Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismael. Tindakan ini kemanusiaan seseorang sehingga tidak mampu melihat penderitaan orang lain. Psikolog sosial bernama Johnathan Haidt berpendapat bahwa kebencian dapat mengarah pada "pelepasan moral", di mana individu merasionalisasikan tindakan yang merugikan terhadap orang Natalie Deffenbaugh. AuDe-Dehumanization: Practicing Humanity,Ay International Review of the Red Cross 106, no. 925 (April 2. 56Ae89. David L. Smith. Making Monsters: The Uncanny Power of Dehumanization (Cambridge: Harvard University Press, 2. , 235. Deffenbaugh. AuDe-Dehumanization,Ay 62. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi Kedua, dengan kebencian yang mengakar maka seseorang atau sekelompok orang akan menciptakan hierarki sosial yang tidak sehat, di mana individu atau kelompok merasa lebih unggul dari yang Dalam narasi ini. Sarah dan Hagar mewakili dua posisi sosial yang Sarah sebagai istri sah dan Hagar sebagai pembantu. Kebencian Sarah terhadap Hagar atau sebaliknya. Hagar yang "memandang rendah" Sarah, tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga mencerminkan struktur sosial yang lebih luas terkait diskriminasi Terutama dalam hal ini berhubungan dengan reproduksi dan status sosial. Ketiga, di mana ada kebencian, selalu ada keinginan untuk memerintah dan mendominasi orang lain. Keputusan Sarah yang menggunakan Hagar sebagai ibu pengganti menunjukkan bahwa Hagar tidak dipandang sebagai sosok yang punya harapan, ketakutan, dan keinginan sendiri. Hagar dipandang sebagai alat untuk mencapai Objektifikasi ini semakin diperparah oleh dinamika kekuasaan yang ada, karena Hagar adalah seorang budakAiotonomi dan martabatnya telah dikompromikan oleh statusnya. Keempat, meskipun kebencian selalu ditujukan pada orang tertentu, namun emosi ini sering kali juga mengarah pada kelompok secara Mengenai kisah Sarah dan Hagar, terlihat bagaimana penyebutan Hagar, seorang Mesir yang dilakukan secara berulangulang, mempunyai fungsi untuk menarik secara tajam batas-batas antara Israel dan salah satu negara tetangganya (Mesi. Tikva Jurnal Amanat Agung Frymer-Kensky27 pun menunjukkan bahwa narasi Sarah dan Hagar ini dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas mengenai persinggahan Israel di Mesir di mana peran tuan atau budak terbalik secara Dalam arti, kisah mikro dari krisis pribadi Sarah karena tidak mampu melahirkan anak dan perlakuannya terhadap Hagar, hambanya, dapat dibaca pada tingkat makro ketika Israel sedang berada di bawah tangan Mesir di mana mereka mengalami penderitaan yang berat seperti yang diriwayatkan dalam kitab Keluaran. 28 Di sini dapat dilihat bahwa dominasi dan objektifikasi karena rasa superior bisa dialami oleh siapa pun dan bangsa mana Kelima, kebencian menyebabkan individu atau kelompok memandang "orang lain" sebagai pendatang, orang luar, dan kotor. Kebencian akan melihat orang atau kelompok lain sebagai musuh yang layak diasingkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Pandangan terhadap "yang lain" seperti yang dikatakan Sartre, tampak seperti "saingan yang mengancam, mengambil alih "29 Pengusiran Sarah terhadap Hagar semakin menegaskan ketidaklayakan Hagar sebagai bagian dari sekelompok manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, otoritas dan pilihan hidup sendiri. Hagar bukan hanya seorang imigran tetapi juga dipandang sebagai Tikva Frymer-Kensky. Reading the Women of the Bible: A New Interpretation of Their Stories (New York: Knopf Doubleday Publishing Group, 2. , 236. Claassens. AuJust Emotions,Ay 3-4. Franz Magnis Suseno. Etika Abad Ke-20, edisi ke-1 (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 58. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi "orang luar" . ain, berbed. yang patut dikucilkan, dan kotor . ianggap menjijikka. Kebencian menghalangi Sarah untuk memandang Hagar sebagai manusia yang sadar sepenuhnya. Pengusiran ini juga menegaskan bahwa dalam kebencian, orang menciptakan jarak dari "orang lain", sehingga menciptakan batasan tegas antara Aukita" dan "mereka". Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ketika seseorang atau sekelompok orang dipandang sebagai objek atau alat, maka hak dan martabatnya terabaikan. Hal ini kemudian menciptakan siklus kebencian dan penindasan yang sulit diputus. Saat ini, dalam kehidupan kontemporer, dehumanisasi yang lahir dari kebencian terus terjadi dalam berbagai bentuk, seperti rasisme, seksisme, dan Ketika kelompok tertentu dianggap Auorang lain", mereka akan selalu menjadi sasaran kebencian dan kekerasan. Mereka akan tetap dianggap bukan "diri saya yang lain". Konsekuensi Dehumanisasi Konsekuensi dari dehumanisasi yang disebabkan oleh kebencian sangatlah luas dan mendalam, tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat langsung tetapi juga keturunan mereka dan masyarakat luas. Dalam kasus Sarah dan Hagar, dampak langsungnya adalah rusaknya hubungan Sarah dan Hagar, berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan berlanjut dari generasi ke generasi. Pelarian Hagar ke hutan belantara adalah momen menyedihkan yang menggarisbawahi keputusasaan akibat Jurnal Amanat Agung Dengan kata lain, kebencian melahirkan isolasi. Tindakan melarikan diri ini tidak hanya melambangkan pelarian fisik tetapi juga perpecahan emosional, psikologis, dan bahkan spiritual. Hutan belantara, tempat yang sunyi, melambangkan metafora keterasingan, sebuah ruang di mana Hagar dilucuti identitasnya dan dipaksa bergulat dengan rasa sakit. Hagar menjadi korban dari keadaan di luar kendalinya. Namun, dalam keterasingan. Hagar bertemu dengan Tuhan. Di sini terjadi pengakuan akan penderitaan dan janji terhadap masa depan bagi Ishmael. Perjumpaan ini menandakan kembalinya kemanusiaan Hagar, sekaligus juga menyoroti kenyataan tragis bahwa dehumanisasi selalu berujung pada keterasingan spiritual dan emosional. Narasi ini juga semakin menggambarkan bagaimana konsekuensi dehumanisasi tidak hanya berdampak pada individu Ketegangan antara Sarah dan Hagar memicu konflik warisan antara keturunan masing-masing, antara Ishak dan Ismael. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa permusuhan antara kedua garis keturunan ini . ering diartikan sebagai asal usul Yahudi dan Ara. berasal dari persoalan kekuasaan, identitas, dan pengakuan yang belum terselesaikan. Terutama jika mengacu pada beberapa tafsir yang mengatakan bahwa "Islam sangat menghormati Hagar, karena jasanya dalam merawat dan membesarkan Ismail. Orang Arab pengikut Nabi Muhammad menganggap Ismail sebagai nenek Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi moyang Nabi Muhammad. "30 Dehumanisasi yang berakar pada . ikap merendahkan Hagar dan pembalasan Sara. tidak hanya berdampak pada situasinya saat ini, tetapi juga menabur benih perselisihan yang akan terus berdampak pada generasi mendatang. Konflik antara dua garis keturunan ini melambangkan tema perpecahan dan perselisihan yang lebih luas yang timbul dari perlakuan terhadap individu sebagai kurang dari Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa permasalahan mengenai akibat langsung dan tidak langsung dari narasi tersebut sejalan dengan permasalahan kontemporer mengenai marginalisasi dan diskriminasi. Dalam masyarakat yang memupuk kebencian, berdasarkan ras, gender, atau status sosial ekonomi, individu sering kali memupuk sikap dan perilaku tidak manusiawi dan menempatkan orang-orang yang dibenci sebagai pihak yang terpinggirkan dalam Kisah Sarah dan Hagar merupakan pengingat akan bahayanya membiarkan kebencian mengarahkan interaksi manusia dengan orang lain, sehingga mengarah pada siklus pengucilan dan 30 Meylianus Rahayu Doki. AuHagar. Batu Yang Dibuang Tetapi Dipilih Oleh Allah,Ay Divinitas Jurnal Filsafat Dan Teologi Kontekstual 1, no. (Agustus 2. : 187. Jurnal Amanat Agung Rekonsilasi dan Penebusan Narasi Kejadian 16 dan 21 ini menjadi sebuah alegori, diperkaya dengan tema rekonsiliasi dan penebusan. Dalam konteks teologis, narasi ini menawarkan wawasan mendalam tentang hubungan manusia dan Tuhan, serta dinamika sosial yang muncul akibat konflik dan ketidakadilan. Narasi ini tidak berakhir dengan keputusasaan karena konflik antara dua individu (Sarah dan Haga. dalam pengalaman pahitnya masing-masing. Intervensi Tuhan dalam penderitaan Hagar berfungsi sebagai narasi tandingan yang kuat terhadap dehumanisasi. Ketika Hagar melarikan diri, malaikat Tuhanlah yang menemukannya di padang gurun, memberikan penghiburan dan janji pengharapan (Kej. 16:7-. Momen Tuhan Hal kemanusiaan dan nilai Hagar, melawan kebencian yang dialami. Malaikat Hagar menunjukkan sebuah tindakan penting yang mengembalikan identitas dan martabat Hagar. Penegasan dari Allah . elalui Malaika. mengingatkan bahwa meski dalam menghadapi kebencian, penebusan adalah mungkin. Hagar, sebagai individu yang telah terpinggirkan, diangkat menjadi subjek perhatian Allah. Refleksi teologis terhadap konteks ini adalah afirmasi tentang sifat Allah yang Sifat kemanusiaan, pentingnya martabat, dan seruan untuk mengakui nilai yang melekat pada setiap individu merupakan tuntutan yang mendesak untuk direfleksikan dan dipraksiskan acara Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi personal maupun kolektif. Konsekuensi dehumanisasi tidak hanya bersifat pribadi namun juga tertanam dalam komunitas dan Walter Brueggemann mengatakan bahwa kisah ini menantang pembaca untuk menghadapi keterlibatan mereka dalam sistem penindasan dan mencari keadilan bagi mereka yang 31 Selain itu, kisah ini menggarisbawahi pentingnya Perjumpaan Hagar dengan Tuhan menjadi pengingat bahwa kasih Tuhan melampaui batas-batas sosial dan bahwa semua individu, apa pun statusnya, berharga di hadapan Tuhan. Perjumpaan Hagar dengan Tuhan "menunjukkan bahwa Allah menentang orang-orang yang menjunjung tinggi jenis kelamin, status ekonomi, dan kebangsaan tertentu. Karena orang-orang seperti itu sering kali mengabaikan dan memandang sebelah mata 'yang lain'. "32 Pemahaman ini penting mengingat, mengutip Judith Butler bahwa, pada tataran wacana, kehidupan tertentu sama sekali tidak dianggap Mereka yang hidup dalam kondisi tertentu sering kali dianggap tidak pantas dimanusiakanAidehumanisasi terjadi terlebih dahulu pada tataran pemikiran/gagasan/pandanga. Dan tataran ini Pandangan Walter Brueggemann. Genesis (Louisville: John Knox Press, 1. , 153. Prasetyo, "Relevansi Kisah Sarah dan Hagar (Kejadian 16 dan . Untuk Menjalani Hidup Dalam Konteks Global," 62. Butler. Precarious Life, 32. Jurnal Amanat Agung menyerukan redefinisi radikal tentang cara setiap orang memandang dan memperlakukan orang lain. Penderitaan sering kali merupakan jalan menuju penebusan. Hagar mengalami penderitaan yang mendalam ketika terpaksa meninggalkan rumah Abraham dan Sarah. Namun melalui penderitaan . Hagar menemukan identitas dan tujuan Tuhan berjanji bahwa keturunannya akan banyak dan ia akan mendapat tempat penting dalam rencana-Nya (Kej. 16:10-. Secara teologis, penderitaan sering kali merupakan sarana penebusan dan Pengalaman Hagar menunjukkan inklusivitas kasih Allah. Kasih Tuhan melampaui hierarki sosial. Pertemuan (Hagar dengan Tuha. merupakan pengingat bahwa penebusan tersedia bagi semua orang, melampaui kondisi sosial individu. Inklusivitas Allah ini tidak berhenti pada Sarah dan Hagar (Perjanjian Lam. namun bergema dan berpuncak pada karya keselamatan dalam Perjanjian Baru, melalui peristiwa Salib dan kebangkitan Kristus. Perjumpaan antara Allah dengan kedua perempuan ini menjadi pengingat bahwa rekonsiliasi sering kali membutuhkan pengakuan atas keterbatasan diri dan kebutuhan akan Tuhan. Pertama, tawa Sarah melambangkan keraguan dalam hubungannya dengan Tuhan, momen di mana iman tampaknya tak terjangkau. Tawanya menyiratkan mekanisme pertahanan diri, sebuah cara untuk mengatasi kekecewaannya yang mendalam. Ia menertawakan gagasan memiliki anak di usia sembilan puluh tahun (Kej. Tawa ini bukan sekadar reaksi, tawa ini merangkum skeptisisme dan Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi rasa sakit mendalam yang dirasakannya selama bertahun-tahun karena janji-janji yang tak terpenuhi. Respons awal terhadap janji Tuhan adalah ketidakpercayaan, yang mendorongnya untuk mengambil tindakan sendiri dengan memberikan hambanya. Hagar, kepada Abraham (Kej. Tindakan putus asa ini tidak hanya memperumit hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga menimbulkan konflik dalam keluarganya. Namun ketika Allah penuhi janjinya, tawanya berubah dari skeptisisme menjadi kegembiraan -perubahan mendalam yang menandakan rekonsiliasinya dengan Tuhan. Kedua. Hagar tidak secara eksplisit tekstual mengalami rekonsiliasi pribadi dengan Sarah. Namun kembalinya Hagar, didukung oleh kepastian Ilahi, "menandakan" gerakan menuju Hagar mengingatkan kenangan masa lalunya. Namun momen kembalinya ke rumah Sarah, terlebih setelah pengalaman perjumpaannya dengan Malaikat di padang gurun memberikan kekuatan dan ketegasan baru dalam diri Hagar. Ia bukan hanya sebagai budak yang tunduk, tetapi sebagai seorang perempuan dengan identitas dan hak pilihannya sendiri. Tindakan kepulangan ini tidak hanya dimaknai sebagai iman Hagar di dalam rencana Allah tetapi juga sebagai langkah berani menuju pemulihan hak pilihan, bahkan di tengah situasi yang menindas. Hal ini, sekurang-kurangnya, dapat dibaca sebagai rekonsiliasi Hagar dengan masa lalunya sendiri. Dengan pengalaman dan keputusan Sarah dan Hagar, bisa dikatakan bahwa rekonsiliasi . etidaknya dengan masa lalu sendir. dapat bertumbuh. Jurnal Amanat Agung namun bagaimanapun, membutuhkan kerendahan hati, kemauan untuk menghadapinya, dan menerima keterlibatan Allah. Busur penebusan ini menggarisbawahi refleksi mengenai potensi rekonsiliasi dalam kehidupan kontemporer. Persinggungan kompleks ini . eskipun tidak pernah terjadi rekonsiliasi pribadi antara Sarah dan Haga. tetap menantang dan menawarkan pelajaran berharga bagi dunia modern. Sehingga di era yang rentan perpecahan dan konflik, tema rekonsiliasi dan penebusan harus Dinamika antara Sarah dan Hagar mencerminkan Kisah ini juga mengingatkan bahwa rekonsiliasi selalu berakar pada kerendahan hati, empati, dan kemauan untuk menghadapi kebenaran yang pahit. Rekonsiliasi dan penebusan menjadi hal yang penting bagi rehumanisasi setiap pribadi. Pesan potensi rekonsiliasi dan penebusan, yang dipetik dari narasi, dapat juga berakar pada pengakuan akan nilai-nilai kemanusiaan bersama. Kesedihan bersama dapat menjadi katalisator untuk penyembuhan. Tindakan berkumpul untuk menghormati Abraham . enguburan Abraham. Kej. menandakan pengakuan atas warisan bersama Isak dan Ismael, terlepas dari konflik historis dan pribadi yang telah memisahkan mereka. Momen persatuan . eskipun sebenta. sangat kontras dengan ketegangan sebelumnya yang dijelaskan dalam Kejadian 16, yang menggambarkan potensi pertumbuhan dan penyembuhan sebuah hubungan yang retak. samping konflik historis, momen penguburan hendak mengatakan Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi bahwa Isak dan Ismael mampu melihat dan mengakui "common ground" dalam garis keturunan yang sama. Ishak "bertetangga" dengan Ismael di Lahai Roi pun menarik untuk diamati. Pada bab terakhir siklus Abraham terdapat sepotong informasi menarik: "Setelah Abraham mati. Allah memberkati Ishak, anaknya itu. dan Ishak diam dekat sumur Lahai Roi" (Kej. Detail ini mengejutkan karena Lahai Roi adalah sumur yang diberi nama oleh Hagar (Kej. 16:13-. , melekat dengan figur Hagar dan Ishmael. Aron Pinker dalam analisisnya mengatakan bahwa, dari sisi geografis, lokasi pengungsian Hagar dan Ismael masih berada di satu kawasan dengan Abraham. Sara dan Ishak. Dengan demikian, relasi mereka sebenarnya tidak pernah terputus total. 34 Dalam arti bahwa "tinggal berdekatan" ini, barangkali lebih dimaknai sebagai kesediaan untuk terlibat dengan sejarah bersama, mengakui perbedaan, dan sekaligus mengakui ikatan kekeluargaan. Sebab, jika dikatakan relasi mereka tidak pernah putus . alam arti terjadi rekonsiliasi antarindivid. akan semakin problematik sebab secara tekstual tidak pernah dikatakan. Paralel Kisah Dengan Dunia Kontemporer Tema kebencian dan dehumanisasi yang dieksplorasi dalam narasi Sarah dan Hagar bergema dalam lanskap sosiopolitik saat ini. Di seluruh dunia, kita menyaksikan permasalahan etika kemanusiaan Nahak. AuKisah Hagar dan Ismael sebagai AoTerowongan SilahturahmiAo,Ay142. Jurnal Amanat Agung mengenai kelompok marginal seperti pengungsi, ras minoritas, dan mereka yang memiliki latar belakang agama berbeda. Masalahmasalah ini sering kali dipicu oleh kebencian yang diwujudkan melalui ketidakadilan sistemik dan prasangka pribadi. Individu dapat melihat bahwa kebencian kemudian melanggengkan lebih banyak konflik dan kontradiksi secara pribadi maupun kelompok. Kebencian keunikan manusia . oralitas, intelektualitas, dan buday. Dalam situasi ini, manusia diperlakukan sebagai pribadi yang tidak cerdas, tidak beradab, atau tidak rasional. Kebencian juga menargetkan pengingkaran terhadap sifat manusia . mosi, kehangatan, dan Ada kecenderungan bahwa orang-orang diperlakukan seolah-olah mereka adalah objek yang tidak berperasaan, dingin, dan kaku yang hanya memiliki nilai instrumental. Dengan kata lain, dunia modern kita sangat rentan terhadap pengingkaran atau pengakuan terhadap identitas kemanusiaan seseorang atau sekelompok orang dengan cara tertentu. Kebencian selalu bersifat multidimensi. Salah satunya bisa mengakar sebagai ideologi, yang kemudian menjadi sarana Pemerintahan Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler dan pemerintahan Soviet di bawah kepemimpinan Joseph Stalin dalam keterlibatannya dalam praktik-praktik tidak manusiawi dapat dijadikan contoh. Contoh Nazi termasuk propaganda yang menggambarkan orang Yahudi sebagai "cacing pita dalam organisme manusia", dokumen negara yang menyebut orang Yahudi sebagai Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi "pembawa bakteri wabah". Joseph Goebbels menyatakan bahwa "Orang Yahudi harus dibunuh seperti tikus" dan seterusnya. Musuh di Uni Soviet juga digambarkan oleh Stalin sebagai "pengisap darah, laba-laba, dan vampir" dan oleh Kepala Jaksa Andrej Vishinsky sebagai "anjing", "reptil", "hewan pemangsa", "hama", dan "kutu". Mengenai isu-isu seperti ini, seruan untuk mengakui dan menegaskan kemanusiaan orang lain masih relevan saat ini seperti halnya dalam narasi Alkitab. Penghapusan identitas dan pengingkaran martabat manusia juga terlihat dalam konflik-konflik yang terjadi saat ini. Salah satu contohnya adalah konflik antara Israel dan Palestina. Terlepas dari latar belakang konflik tersebut, terdapat permasalahan serius yang mengharuskan dunia melakukan rehumanisasi melampaui batasbatas primordial dan geografis. Konflik Israel-Palestina, bahkan bagi sebagian orang, dikaitkan dengan narasi Sarah dan Hagar. "Konflik Israel-Palestina yang kita lihat di Timur Tengah saat ini dimulai dari Ishak dan Ismael. Benarlah kata-kata Tuhan dalam Kejadian 16:12 menjadi kenyataan, bahwa Ismael dan kaumnya, kaum Ismael, akan menimbulkan perselisihan dan peperangan terhadap kerabat mereka karena kaum Ismael adalah musuh bangsa Israel di kemudian hari dalam Alkitab. "36 Jonathan Leader Maynard dan Aliza Luft. AuHumanizing Dehumanization Research,Ay Current Research in Ecological and Social Psychology 4 . : 2. Kelly-Jayne McGlynn. Au4 Powerful Lessons from the Life of Hagar,Ay diakses pada 30 Juni 2023, https://w. com/biblestudy/topical-studies/4-powerful-lessons-from-the-life-of-hagar. Jurnal Amanat Agung Kerangka teologis seperti semangat teologi pembebasan dapat dijadikan inspirasi untuk melawan kebencian yang berujung pada dehumanisasi. Kontekstualisasi iman pada Allah yang melakukan advokasi terhadap kaum tertindas, terpinggirkan . erdasarkan gender, warna kulit, etnis, status sosia. dan mengakui martabat yang melekat pada setiap individu. Walter Brueggemann mengatakan "sungguhnya. YHWH selalu memperhatikan orang asing, orang pendatang, pengungsi, kaum terpinggirkan, kaum terlantar, dan kaum tertindas. "37 Pembebasan harus berakar pada sifat Allah yang peduli. Allah yang melihat (El Ro. Allah selalu datang sebagai pihak yang menawarkan keselamatan kepada semua orang, terutama mereka yang menderita dan tertindas. Keberpihakan ini bukan didasarkan pada latar belakang primordial seseorang, melainkan atas dasar pilihan bebas-Nya untuk mendukung dan menyelamatkan orang-orang yang paling malang. 38 Tawaran keselamatan Allah melampaui kebangsaan, etnis, dan status sosial. Perspektif ini mendorong setiap orang untuk menilai peran masing-masing dalam melestarikan atau menantang keberagaman Narasi Sarah dan Hagar pada akhirnya bermuara pada upaya untuk menafsirkan kembali manusia sebagai "gambar dan rupa Allah" Brueggemann. Genesis, 152 Nahak. AuKisah Hagar dan Ismael sebagai AoTerowongan SilahturahmiAo,Ay 143. Hemchand Gossai. Power and Marginality in the Abraham Narrative (Eugene: Pickwick Publications, 2. , 14. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi (Imago De. , yang kini menjadi isu krusial dalam wacana Persoalan ini tentu tidak hanya muncul secara eksplisit seperti dalam narasi Sarah dan Hagar, namun juga lebih halus, namun memiliki nilai yang sama. Orang melakukan dehumanisasi satu sama lain karena status, berusaha melenyapkan satu sama lain secara sistematis, merasa terancam dengan kehadiran "yang lain" sehingga perlu dihancurkan, mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi, dan mengingkari kebebasan dan martabat orang lain. Isu-isu ini pun mengakar dalam lingkungan pendidikan, sosial, politik, seni, medis, dan bahkan ekologi. Kini dehumanisasi juga muncul secara halus melalui gaya hidup dan perilaku media. Gaya hidup mereduksi diri menjadi bawahan terhadap pilihan-pilihan hidup. Di media, masyarakat kehilangan pandangan terhadap subjektivitas etis sehingga mudah menyerang, menghasut, merendahkan, dan mengucilkan satu sama lain. Dampaknya pun sama, kesenjangan sosial semakin tajam, mengikis keharmonisan hidup masyarakat, dan berujung pada keterasingan manusia dari kehidupan sosial dan Manusia terasing dari nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi pedoman hidup, terputus dari akar sosial dan budayanya, kehilangan kepekaan terhadap sesama, dan menjauh dari prinsipprinsip kemanusiaan. 40 Pada akhirnya, secara tak langsung, manusia menggerus relasi dengan Allah. Syamsul Kurniawan. AuDehumanisasi Dan Humanisasi: Rekam Jejak Dan Refleksi Kemanusiaan,Ay diakses pada 11 Februari 2025. Jurnal Amanat Agung Melihat permasalahan tersebut, semangat pembebasan yang bersumber dari intervensi Tuhan terhadap Hagar, di mana sering dikaitkan dengan harapan dan pemberdayaan bagi kaum tertindas, dapat menjadi inspirasi bagi dunia kontemporer. Gustavo Gutiyrrez mengatakan bahwa Tuhan mempunyai pilihan yang lebih baik bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan, serta meneguhkan martabat dan hak pilihan mereka. 41 Perjumpaan Hagar dengan Tuhan menggarisbawahi keyakinan bahwa pembebasan bukan sekedar usaha manusia tetapi juga karya Allah. Allah bahkan menunjukkan pembebasan secara radikal. Pembebasan yang paling radikal yang ditawarkan Allah kepada umat manusia terjadi melalui peristiwa Salib, pengorbanan Yesus Kristus. Delores Williams, seorang teolog feminis hitam, berpendapat bahwa kisah Hagar adalah kisah bertahan hidup dan perlawanan, menekankan bahwa warisannya adalah pemberdayaan dan bukan viktimisasi. Pentingnya perlawanan Hagar terletak pada kemampuannya menginspirasi gerakan kontemporer yang berupaya menantang dan mengekspos sistem 42 Hagar dapat menjadi salah satu inspirasi bagi upaya pembebasan apalagi, sebagaimana catatan Williams bahwa Hagar adalah "perempuan pertama dalam Alkitab yang membebaskan dirinya dari struktur kekuasaan yang menindas. "43 Dehumanisasi https://w. com/read/opini/11022025/dehumanisasi -dan-humanisasi-rekam-jejak-dan-refleksi-kemanusiaan. Gustavo Gutiyrrez. A Theology of Liberation (Maryknoll: Orbis Books, 1. Williams. Sisters in the Wilderness, 19. Williams. Sisters in the Wilderness, 19. Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi selalu menjadi konteks global, bertransisi melampaui waktu dan budaya, dan muncul dalam berbagai bentuk. Isu dehumanisasi menjadi masalah bagi semua orang, dari semua lapisan masyarakat. Pemulihan dan pembebasan mereka yang terpinggirkan . arena gender, status, etnis, budaya, tingkat pendidikan, stereotip, kemanusiaan yang mendasar. Hagar bertemu Tuhan, menciptakan kerangka pemahaman kolektif bahwa manusia di mata Tuhan, akan dipelihara, dan bahwa Tuhan tidak akan menyangkal diri-Nya dalam kemanusiaan setiap orang. Dunia kontemporer memerlukan pemulihan dan pembebasan melalui rehumanisasi karena esensi keilahian yang mengalir dalam keberadaan setiap individu. Rehumanisasi harus berakar dari pemahaman manusia sebagai citra Allah. Dengan demikian, pemulihan dan pembebasan ini bukan hanya sebuah doktrin, tetapi sebuah imperatif teologis dalam hidup untuk mengubah cara kita melihat diri kita sendiri, orang lain, dan Allah. Kesimpulan Kisah Sarah dan Hagar adalah eksplorasi kontekstual tentang kekuatan kebencian yang merusak dan kemampuannya untuk melakukan dehumanisasi. Melalui hubungan keduanya yang penuh gejolak, kita menyaksikan bagaimana ketidakamanan dan kebencian dapat merusak interaksi antarmanusia, sehingga berujung pada penderitaan dan keterasingan. Di dunia yang sering ditandai oleh perpecahan -baik dalam keluarga, hubungan sosial, maupun Jurnal Amanat Agung dinamika politik- kisah hubungan yang kompleks antara Sarah. Hagar. Ismael dan Isak dalam rumah Abraham, tidak sebatas atau berhenti pada konflik dan perselisihan, tetapi bisa menjadi pengingat akan potensi penyembuhan melalui pengalaman bersama dan rasa saling Narasi tersebut juga menawarkan harapan, mengingatkan kita bahwa bahkan di tengah keputusasaan, masih ada potensi penebusan dan rekonsiliasi. Namun perlu diperhatikan bahwa potensi penebusan dan rekonsiliasi manusia pada dasarnya selalu melibatkan intervensi Allah. Perjumpaan Hagar dan Malaikat dapat memberi afirmasi tentang hal ini. Dalam konteks ini, kerendahan hati dan kesediaan berdamai dengan pengalaman masa lalu memberikan jalan bagi upaya rekonsiliasi dan penebusan. Di dunia yang semakin terpecah karena kebencian dan prasangka, pelajaran dari narasi Kejadian 16 dan 21 ini tetap relevan. Hal ini menantang kita untuk menghadapi bias kita sendiri, mengenali sisi kemanusiaan orang lain, dan menumbuhkan empati dalam interaksi kita. Pada akhirnya, kisah Sarah dan Hagar menjadi pengingat yang kuat bahwa meskipun kebencian mungkin berusaha untuk tidak memanusiakan manusia, cinta, pengertian, dan pengharapan pada keterlibatan Allah memiliki kapasitas untuk memampukan setiap orang dalam upaya memulihkan martabat dan harapan setiap orang. Dalam dehumanisasi selalu ada kemungkinan Meskipun rehumanisasi sering kali penuh kesulitan namun tetap menjadi potensi. Kisah Sarah dan Hagar . ipenuhi Kebencian sebagai Akar Dehumanisasi konflik dan permusuha. menjadi seruan dan mendorong perubahan perspektif kita semua, dari pertentangan pada kesadaran untuk Terutama kita tidak bisa memungkiri bahwa pada sisi paling dalam, kita semua memiliki satu "common ground" yaitu sebagai citra Allah. Daftar Pustaka