SIMBIOSIS. Vol. 1 No. Halaman: 16-20 Februari 2024 SIMBIOSIS ( Jurnal Sains Pertania. DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Pengaruh Berbagai Aktivator Terhadap Perubahan Suhu Pada Proses Pengomposan Blotong THE EFFECT OF VARIOUS ACTIVATORS ON TEMPERATURE CHANGES IN THE BLOTONG COMPOSTING PROCESS Lisa Pratama1*. Mufty Ali1, dan Destiana2 Program Studi Sains Pertanian, 2Mahasiswa Program Studi Sains Pertanian. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Nurul Huda. Sukaraja. OKU Timur Indonesia E-mail: lisa. pratama2@gmail. Abstrak Pengomposan blotong dalam mengurangi pencemaran limbah pada Pabrik Gula membutuhkan waktu lama, karena itu perlu ditambahkan aktivator untuk mempercepatnya. Tujuan penelitian ini yaitu mengamati aktivitas dan perubahan kompos blotong selama dekomposisi berlangsung dan mengetahui pengaruh beberapa aktivator terhadap kualitas kompos blotong. Penelitian ini dilakukan di Green House . Laboratorium Tanah dan Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan rancangan percobaan faktor tunggal. Perlakuan yang diteliti tiga jenis aktivator (EM4. Stardec, kotoran sap. dengan masing Ae masing tiga sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivator berpengaruh terhadap dinamika populasi dan aktivitas mikrobia, suhu naik diawal kemudian stabil diakhir pengomposan. Aktivator yang lebih sesuai pada pengomposan blotong yaitu aktivator Stardec dengan suhu kompos 28,7 oC. Kata kunci: kompos, blotong, aktivator Abstract Composting filter cake in reducing waste pollution at Sugar Factory takes a long time, therefore it needs to be added activator to speed. The purpose of this study is to observe the activities and changes in filter cake compost during decomposition takes place and determine the effect of some activators to the quality of filter cake compost. The research was conducted at the Green House. Laboratory of Soil and Biotechnology Laboratory of the Agriculture Faculty. University of Muhammadiyah Yogyakarta. The experiment was conducted using experimental methods developed in completely randomized design with a single factor experimental design. The treatments studied three types of activators (EM4, stardec, cow dun. with every three as replication. The results showed that the activator effects to population dynamics and microbiology activity, the temperature rise at the beginning and then stabilized at the end of composting. Activators are more appropriate in the filter cake compost activator stardec the compost temperature 28. 7 A C. Keywords: compost, filter cake, activators E-ISSN 3046-9988 SIMBIOSIS. Vol. 1 No. Halaman: 16-20 Februari 2024 SIMBIOSIS ( Jurnal Sains Pertania. DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. PENDAHULUAN Tanaman tebu (Saccharum officinaru. merupakan salah satu komoditas perkebunan penting yang ditanam untuk bahan baku terutama pada industri gula. Industri gula merupakan salah satu industri yang masyarakat Indonesia. Limbah masih menjadi mengeluarkan limbah berbentuk cairan, padatan, dan gas. Salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan ialah blotong, produksinya mencapai 3,8 % dari total keseluruhan tebu yang digiling (Santoso, 2. Selama ini, blotong hanya dibuang begitu saja di lahan terbuka tanpa ada penanganan khusus. Akibatnya, dihasilkan pandangan dan bau yang tidak sedap di sekitar lahan tersebut (Santoso, 2. Berdasarkan hal tersebut diatas, perlu diterapkan suatu teknologi untuk mengatasi limbah-limbah tersebut, antara lain dengan menggunakan teknologi daur ulang limbah padat menjadi produk pupuk organik . yang bernilai guna tinggi. Pengolahan bahan organik menjadi kompos, merupakan salah satu teknologi berkelanjutan karena bertujuan untuk konservasi lingkungan, dan penggunaan kompos dapat mereduksi penggunaan pupuk kimia dan pemberi nilai tambah pada limbah. Pembuatan kompos secara alami membutuhkan waktu lama yaitu mencapai waktu 3 Ae 4 bulan bahkan ada yang mencapai 6 bulan lebih (Isroi, 2. Usaha untuk mempecepat proses pengomposan telah banyak dilakukan, diantaranya yaitu dengan inokulasi aktivator yang berisi campuran mempergiat proses dekomposisi dan fer mentasi hingga menghasilkan kompos berkualitas baik dalam waktu relatif singkat yaitu 2- 3 minggu (Harry, 1. Saat ini banyak ditawarkan aktivator kompos, beberapa diantaranya yaitu Efektive Organisme 4 (EM. Stardec. Starbio. Organodec dll. Hasil penelitian Isa . dan Badan Litang Pertanian Bengkulu . menunjukan bahwa rata Ae rata waktu yang dibutuhkan dalam pengomposan menggunakan EM4 adalah 15 hari . , sedangkan lama pengomposan menggunakan Stardec. membutuhkan waktu 3 Ae 4 minggu. Komposisi mikrobia pada aktivator dan aktivitas mikrobia selama proses dekomposisi pada berbagai macam bahan organik sangat mempengaruhi lama dekomposisi dan kualitas kompos. Untuk itu perlu diadakan penelitian tentang pengaruh macam aktivator terhadap proses dekomposisi terhadap kualitas kompos blotong dari limbah pabrik gula METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Green House. Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta . Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain daun ga,al. EM4, stardec, kotoran sapi, limbah blotong. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan rancangan percobaan faktor tunggal. Perlakuan yang diteliti tiga jenis activator dengan masingmasing tiga sebagai ulangan, sehingga terdapat Sembilan satuan percobaan. Perlakuan Ae perlakuan tersebut adalah sebagai berikut: E = Kompos blotong dengan activator EM4 S = blotong dengan activator E-ISSN 3046-9988 SIMBIOSIS. Vol. 1 No. Halaman: 16-20 Februari 2024 Stardec K = blotong Kotoran Sapi SIMBIOSIS ( Jurnal Sains Pertania. DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. pembalikan pada bahan kompos. dengan activator Kegiatan dimulai dengan melarutkan activator dengan dosis 1 liter untuk 1 ton atau setara dengan 1 ml activator untuk1 kg bahan Aktivator yang dilarutkan sebelum pelaksanaan pembuatan kompos adalah Aktivator EM4. Dosis penggunaan Aktivator EM4 yaitu 1 liter untuk 1 ton campuran bahan kompos atau setara dengan 1 ml aktivator untuk 1 kg bahan kompos dengan konsentrasi larutan aktivator 10 ml/liter air. Dalam Aktivator EM4, difermentasikan dengan cara melarutkan 1 liter aktivator ditambah dengan gula pasir 500 g dam 1 liter air, kemudian dimasukkan dalam tempat tertutup seperti botol air mineral dan didiamkan selama 2 Ae 3 hari. Setelah itu siap dipakai untuk proses dekomposisi pada blotong. Tahapan pembuatan kompos: Daun Gamal dipotong/dicacah kecilkeci Blotong dan daun gamal dicampurkan sampai rata . engan perbandingan 7:. masing-masing yaitu 45 kg blotong dan 5kg daun gamal pada setiap Air kemudian disiramkan pada campuran blotong dan daun gamal dengan 30-40%, diaduk sampai merata. Setelah itu kering anginkan sebentar dan bahan kompos dimasukan kedalam karung sampai agak penuh. Kemudian karung diikat rapat-rapat menggunakan tali Karung ditusuk-tusuk secara merata agar oksigen . dara sega. bisa masuk. Setiap seminggu sekali dilakukan Pengamatan suhu dilakukan setiap hari pada bahan kompos. Pengamatan temperature pada bahan kompos dilakukan dengan cara menancapkan thermometer ke dalam lapoisan bawah kompos pada tiga titik yang berbeda . tas, tengah, dan bawa. Aktivitas proses dekomposisi dari berbagai perlakuan disajikan dalam bentuk Hasil pengamatan kuantitatif dianalisis dengan menggunakan sidik ragam atau analysis of variance pada taraf 5%. Apabila ada perbedaan nyata antar perlakuan yang diujikan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan DuncanAos Multiple Range Test (DMRT). HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Suhu adalah salah satu indikator kunci di berhubungan dengan jenis mikroorganisme Pengamatan temperatur ini digunakan untuk melihat kerja Pengukuran dilakukan setiap hari selama proses pengomposan menggunakan alat thermometer derajat Celcius . C) dengan melihat skala yang ditunjuk pada alat tersebut. Dari Gambar 1 menunjukan bahwa fluktuasi suhu pada kompos dengan aktivator B diminggu pertama lebih tinggi dibandingkan dengan aktivator lainnya disebabkan karena Aktivator B mengandung mikroba lignolitik, selulotik, proteolitik, lipotik, aminolitik, dan miroba fiksasi nitrogen non simbiotik sehingga mikrobia didalamnya bekerja lebih intensif. Sedangkan pada minggu kedua ketika suhu kompos dengan aktivator A dan B mulai menurun, suhu kompos dengan aktivator kotoran sapi justru mulai meningkat. E-ISSN 3046-9988 SIMBIOSIS. Vol. 1 No. Halaman: 16-20 Februari 2024 SIMBIOSIS ( Jurnal Sains Pertania. DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Suhu . C) Peningkatan suhu pada kompos kotoran sapi yang cenderung lambat dibandingkan kompos pada aktivator lainnya disebabkan karena pada kotoran sapi sebagai aktivator alami hanya mengandung beberapa mikrobia pengurai saja yang menyebabkan aktivitas mikrobia berjalan 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 Hari KeGambar 1. Grafik hubungan hari pengomposan dengan perubahan suhu pada tiap perlakuan Keterangan: E = Kompos blotong dengan aktivator A S = Kompos blotong dengan aktivator B K = Kompos blotong dengan aktivator Kotoran sapi Tabel 1. Suhu kompos pada hari ke 2,4 dan 6 Suhu . C) Perlakuan Hari Hari Hari ke- 2 ke- 4 ke- 6 Kompos 49,87 a 43,78 a 40, 43 a Kompos 52,13 a 46,17 a 41,20 a Kompos 46,26 a 41,93 a 40,53 a E-ISSN 3046-9988 Kotoran Rata - rata 49,42 43,96 40,71 Dari hasil analisis sidik ragam suhu, perubahan suhu pada minggu pertama yaitu pada hari ke 2, 4 dan ke 6, pengomposan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata disetiap perlakuannya. Pengomposan blotong menggunakan aktivator A. B, dan kotoran sapi tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan suhu selama pengomposan. Hal ini disebabkan karena pada masing Ae masing aktivator mengandung mikrobia yang aktif, terutama pada minggu pertama proses PEMBAHASAN Menurut Miller . , suhu merupakan penentu dalam aktivitas pengomposan. Pengamatan suhu dapat digunakan untuk mengukur kinerja sistem pengomposan, disamping itu untuk mengetahui bagaimana proses dekomposisi berjalan. Faktor suhu pengomposan karena berhubungan dengan aktivitas mikroorganisme dalam dekomposisi. Jika diamati dan hasilnya dituangkan ke dalam bentuk grafik akan menghasilkan kurva berbentuk parabola. Bentuk ini menunjukan adanya peningkatan suhu pada awal proses pengomposan hingga suatu waktu akan mencapai suhu tertinggi dan akan menurun kembali mencapai suhu ruang (Suhut dan Salundik 2. Proses dekomposisi / pengomposan akan berjalan dalam empat fase, yaitu mesofilik, termofilik, pendinginan, dan masak. Namun secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap SIMBIOSIS. Vol. 1 No. Halaman: 16-20 Februari 2024 SIMBIOSIS ( Jurnal Sains Pertania. DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o Ae 70o Suhu akan tetap tinggi selama waktu Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Suhu ideal dalam pengomposan adalah suhu termofilik karena pada suhu ini terjadi dekomposisi atau penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba - mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air, dan Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus (Isroi. KESIMPULAN Dari hasil pengomposan blotong selama 30 hari menggunakan suhu kompos pada masing Ae masing aktivator di hari ke 28 telah sesuai dengan standar kualitas menurut SNI19-7030-2004 yang mencapai suhu air tanah . urang dari 30oC) yaitu 28,6 oC pada kompos dengan aktivator A. 28,7 oC pada kompos dengan aktivator B. 28,8 oC kompos blotong dengan aktivator kotoran sapi. UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR PUSTAKA