Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Student Engagement in Integrated Science and Social Studies (IPAS) at Madrasah Ibtidaiyah Assafinah: A Collaborative Approach to Active Learning Nini Herdiani1. Sri Susilawati2 1 Madrasah Ibtidaiyah Assafinah 2 Madrasah Ibtidaiyah Assafinah Correspondence: nini. herdiani31@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Active IPAS curriculum, student engagement. Madrasah Ibtidaiyah, integrated learning, collaborative learning, education improvement. ABSTRACT This research aims to improve student engagement and understanding in the Integrated Science and Social Studies (IPAS) curriculum at Madrasah Ibtidaiyah Assafinah. The study focuses on the implementation of active learning strategies, fostering a collaborative and student-centered approach in the classroom. By integrating interactive methods such as group discussions, hands-on experiments, and project-based learning, the research seeks to encourage critical thinking, creativity, and better retention of knowledge among students. The research was conducted over a period of three months, involving students from grades 4 to 6. Data were collected through observations, student feedback, and pre-and post-assessment tests. The results indicate a significant improvement in both student participation and comprehension of the material. Students displayed higher motivation levels and demonstrated a deeper understanding of IPAS concepts. The study concludes that active learning techniques play a crucial role in enhancing the quality of education in Madrasah Ibtidaiyah Assafinah, contributing to a more dynamic and effective learning environment. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan di jenjang Madrasah Ibtidaiyah memegang peranan penting dalam pembentukan dasar pengetahuan siswa, baik dalam aspek ilmiah (IPA) maupun sosial (IPS). Sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran, kurikulum IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. diterapkan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih menyeluruh dan terintegrasi. Di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah, penerapan IPAS menjadi tantangan besar, mengingat keberagaman tingkat pemahaman siswa dan terbatasnya metode pengajaran yang Pembelajaran yang cenderung tradisional, di mana guru banyak memberi ceramah dan siswa hanya mendengarkan, cenderung menyebabkan kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam memahami materi yang diajarkan (Budi, 2. Hal ini jelas bertentangan dengan tujuan pembelajaran IPAS yang mengutamakan pemahaman yang mendalam, bukan hanya penghafalan konsep-konsep dasar. Seiring berkembangnya tuntutan pendidikan abad ke-21, keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif menjadi sangat penting bagi siswa. Pembelajaran aktif, yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar melalui diskusi, eksperimen, dan proyek, terbukti mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi serta keterampilan sosialnya. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya memperoleh pengetahuan lebih baik, tetapi juga dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan kreativitas yang penting untuk menghadapi tantangan masa depan (Siti, 2. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran aktif di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah dalam pembelajaran IPAS diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, meskipun metode pembelajaran aktif telah terbukti efektif, penerapannya tidak selalu Banyak sekolah, termasuk madrasah, menghadapi tantangan dalam merancang pembelajaran yang benar-benar mengaktifkan siswa, seperti kurangnya pelatihan bagi guru dalam menggunakan teknik tersebut dan terbatasnya sumber daya untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif (Ariani, 2. Guru di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah sering kali dihadapkan pada keterbatasan waktu dan sarana untuk mengimplementasikan pembelajaran aktif, yang mengakibatkan penggunaan metode yang lebih konvensional dan kurang optimal. Padahal, dengan penyesuaian yang tepat, metode ini dapat memperkaya proses pembelajaran dan mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam setiap topik yang diajarkan. Selain tantangan teknis, ada juga kendala dalam hal pendekatan integrasi antara sains dan sosial yang terkadang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kurangnya pemahaman menyeluruh tentang bagaimana menghubungkan konsep-konsep dalam kedua bidang ilmu ini menjadi salah satu penyebab siswa merasa kesulitan dalam memahami hubungan antara fenomena alam dan sosial yang terjadi di sekitar mereka (Lestari, 2. Padahal, pengajaran IPAS yang menyatukan kedua disiplin ini dengan cara yang kontekstual dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh, yang melibatkan tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga aspek sosial dan emosional siswa. Oleh karena itu, penerapan metode pembelajaran yang aktif dan kontekstual diharapkan dapat mengatasi hambatan-hambatan ini dengan lebih baik. Pentingnya pembelajaran aktif dan kolaboratif dalam IPAS juga tidak lepas dari kebutuhan untuk membentuk karakter siswa. Pembelajaran yang tidak hanya menekankan pengetahuan akademis, tetapi juga nilai-nilai sosial dan lingkungan, dapat membantu siswa mengembangkan sikap yang lebih peduli terhadap masalah sosial dan lingkungan yang mereka Seiring dengan kurikulum yang berbasis kompetensi, siswa diharapkan mampu tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran yang menekankan kerja kelompok dan penyelesaian masalah bersama cenderung menunjukkan peningkatan dalam kemampuan interpersonal dan keterampilan kolaboratif mereka (Rahmawati, 2. Dengan demikian. IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah dapat berfungsi sebagai sarana yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa menjadi lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap dunia di sekitarnya. Namun demikian, penggunaan pembelajaran aktif dalam konteks Madrasah Ibtidaiyah masih menghadapi kendala lain, yakni keterbatasan dalam penyediaan fasilitas yang mendukung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru di sekolah dasar, termasuk madrasah, terkadang kesulitan dalam memanfaatkan teknologi atau media pembelajaran yang interaktif karena terbatasnya anggaran dan sumber daya yang ada (Salim, 2. Kondisi ini dapat menghambat implementasi pembelajaran yang optimal, meskipun berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif dapat membantu siswa untuk memahami konsep lebih baik dan lebih cepat. Di sisi lain, pentingnya dukungan manajerial dalam mengimplementasikan perubahan pembelajaran juga perlu diperhatikan. Kepala sekolah dan pihak manajemen pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah perlu memastikan bahwa setiap guru memiliki akses terhadap pelatihan dan dukungan dalam menggunakan metode pembelajaran aktif dan integratif. Riset menunjukkan bahwa ketika kepala sekolah memberikan dorongan terhadap inovasi pembelajaran, serta menyediakan sumber daya yang memadai, hasilnya akan sangat positif bagi kualitas pembelajaran di sekolah (Juniarti, 2. Oleh karena itu, penting untuk memiliki kebijakan yang mendukung serta perencanaan yang matang dalam menghadapi perubahan ini. Implementasi pembelajaran aktif di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah bukan hanya soal menggunakan teknik tertentu, tetapi juga melibatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang karakteristik siswa dan kebutuhan mereka. Siswa di madrasah ibtidaiyah memiliki ciri khas yang berbeda dari siswa di sekolah umum, baik dari segi nilai-nilai agama maupun sosial. Hal Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 ini memerlukan pendekatan yang sensitif terhadap aspek-aspek budaya dan religius yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, pengembangan materi dan metode pembelajaran IPAS yang relevan dengan konteks lokal dan religius di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah menjadi sangat penting (Nuraini, 2. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan konsep sains dan sosial dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Penerapan metode aktif dalam pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah tersebut dan menciptakan ruang kelas yang lebih interaktif dan kontekstual. Dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berbasis pada pemecahan masalah, diskusi kelompok, serta penerapan proyek nyata, diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan mampu memahami konsep-konsep yang diajarkan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam pembelajaran berbasis proyek tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan bekerja sama dalam kelompok (Anwar, 2. Sebagai tambahan, salah satu keunggulan dari penerapan pembelajaran aktif di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah adalah peningkatan keterampilan siswa dalam menghadapi ujian atau penilaian yang berbasis pada kemampuan berpikir dan aplikasi pengetahuan. Pembelajaran aktif cenderung mengurangi ketergantungan pada hafalan dan lebih menekankan pada pengembangan keterampilan problem-solving dan analisis yang lebih mendalam. Hal ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan nasional yang berfokus pada pengembangan kompetensi siswa secara holistik dan tidak hanya terbatas pada penguasaan pengetahuan semata (Suryani, 2. Dengan demikian. Madrasah Ibtidaiyah Assafinah dapat memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan pendidikan yang lebih berkualitas. Di sisi lain, studi tentang penerapan pembelajaran aktif juga menunjukkan bahwa ada perubahan signifikan dalam sikap siswa terhadap pembelajaran ketika mereka merasa lebih terlibat dalam proses tersebut. Pembelajaran yang melibatkan siswa dalam perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan kegiatan belajar membuat mereka lebih bertanggung jawab atas hasil belajar mereka sendiri (Halimah, 2. Sebagai hasilnya, siswa menjadi lebih mandiri dan memiliki motivasi intrinsik yang lebih tinggi untuk belajar. Oleh karena itu, penerapan metode pembelajaran aktif di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah berpotensi besar dalam menciptakan perubahan positif dalam sikap dan kinerja akademik siswa. Menghadapi berbagai tantangan dan peluang ini, penelitian tindakan kelas di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah berfokus pada penerapan metode pembelajaran aktif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat tercapai peningkatan dalam keterlibatan siswa, pemahaman materi, dan pengembangan keterampilan sosial dan karakter mereka. Implementasi metode pembelajaran yang tepat akan membantu Madrasah Ibtidaiyah Assafinah untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih berkualitas, serta menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan global dengan keterampilan yang relevan dan karakter yang kuat (Ariani, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK), yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah melalui penerapan metode pembelajaran aktif. PTK dipilih karena fokus utamanya adalah pada perbaikan langsung di lapangan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk beradaptasi dan melakukan penyesuaian terhadap praktik pembelajaran berdasarkan data dan temuan yang muncul selama proses berlangsung (Suryani, 2. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan setiap siklus Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 4 hingga 6 di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah yang terdaftar dalam mata pelajaran IPAS. Pemilihan kelas ini didasarkan pada fokus pembelajaran IPAS yang semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis pada eksperimen serta analisis sosial. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive, di mana peneliti memilih siswa yang memiliki karakteristik dan kemampuan yang beragam dalam hal pengetahuan dasar IPAS. Hal ini bertujuan untuk melihat efektivitas penerapan metode aktif di kelas dengan tingkat keberagaman yang ada (Ariani, 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan tes hasil Observasi dilakukan untuk menilai tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta dinamika yang terjadi selama proses belajar mengajar. Wawancara dengan guru dan siswa digunakan untuk mengidentifikasi tantangan, persepsi, serta umpan balik mengenai implementasi metode pembelajaran aktif dalam kelas. Selain itu, pre-test dan post-test diberikan kepada siswa untuk mengukur pemahaman mereka terhadap materi IPAS sebelum dan sesudah penerapan metode pembelajaran aktif. Data kuantitatif dari tes ini akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui perubahan hasil belajar siswa (Halimah. Selama pelaksanaan, peneliti juga melakukan refleksi dan diskusi dengan guru untuk menilai apakah pendekatan yang digunakan telah sesuai dengan tujuan pembelajaran IPAS. Pada tahap ini, analisis dilakukan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh siswa dan guru serta solusi yang bisa diterapkan pada siklus berikutnya. Selain itu, hasil wawancara dan observasi juga digunakan untuk mengevaluasi tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar yang aktif. Hasil refleksi ini menjadi dasar untuk menyusun rencana pembelajaran yang lebih baik pada siklus berikutnya (Rahmawati, 2. Prosedur penelitian dimulai dengan identifikasi masalah yang terjadi di kelas terkait pembelajaran IPAS yang kurang melibatkan siswa. Setelah itu, peneliti merancang rencana pembelajaran yang mengintegrasikan metode pembelajaran aktif. Pelaksanaan dilakukan dengan melibatkan siswa dalam kegiatan praktikum, diskusi kelompok, dan presentasi. Setiap siklus diakhiri dengan refleksi yang bertujuan untuk melihat keberhasilan atau kendala yang Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan tes hasil belajar kemudian dianalisis untuk melihat sejauh mana metode aktif dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS (Budi, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas penerapan metode pembelajaran aktif dalam pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah. Berdasarkan observasi yang dilakukan selama dua siklus penelitian, ditemukan bahwa penerapan metode aktif, seperti diskusi kelompok, eksperimen sains, dan pembelajaran berbasis proyek, dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada siklus pertama, meskipun beberapa siswa awalnya ragu dan kurang percaya diri, mereka mulai menunjukkan minat yang lebih tinggi terhadap materi setelah beberapa kali dilibatkan dalam kegiatan diskusi kelompok dan Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi lebih banyak dengan materi dan teman sekelas mereka (Suryani, 2. Pada siklus kedua, terdapat peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif dalam diskusi, mulai aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pendapat mereka. Selain itu, kerja kelompok yang terorganisir dengan baik memfasilitasi siswa dalam mengerjakan proyek bersama, memperkuat pemahaman mereka terhadap materi IPAS, dan meningkatkan keterampilan sosial mereka. Peningkatan ini Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menunjukkan bahwa metode pembelajaran aktif dapat merangsang partisipasi siswa, yang sebelumnya cenderung terbatas dalam metode ceramah (Halimah, 2. Selain keterlibatan yang meningkat, temuan lain yang signifikan adalah adanya perbaikan dalam pemahaman konsep siswa. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, skor rata-rata siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah penerapan pembelajaran aktif. Siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek dan eksperimen menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep-konsep IPAS yang sulit, seperti siklus air, rantai makanan, dan keterkaitan sosial dalam masalah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses eksperimen dan diskusi memberi mereka pengalaman yang lebih bermakna dan memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep yang diajarkan (Rahmawati, 2. Namun, tidak semua siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa siswa masih kesulitan mengikuti langkah-langkah eksperimen atau mendalami topik yang diajarkan melalui diskusi kelompok. Peneliti mengidentifikasi bahwa siswa dengan kemampuan dasar yang lebih rendah cenderung lebih lambat dalam beradaptasi dengan metode ini. Meskipun demikian, refleksi yang dilakukan setelah siklus pertama dan kedua menunjukkan bahwa adaptasi metode yang lebih fleksibel, seperti pemberian waktu lebih untuk pemahaman individu dan pendekatan yang lebih mendalam pada materi dasar, dapat membantu siswa yang kesulitan ini (Ariani. Temuan lain terkait dengan implementasi metode pembelajaran aktif adalah pentingnya dukungan dari guru dalam mengelola kelas dan memberi motivasi kepada siswa. Meskipun metode ini efektif, keberhasilan pelaksanaannya sangat bergantung pada kesiapan guru untuk menjadi fasilitator, bukan hanya penyampai materi. Pada awal siklus, beberapa guru merasa kesulitan dalam mengatur kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Namun, setelah mendapatkan pelatihan dan melakukan refleksi secara berkala, guru dapat lebih siap mengelola kelas dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang tepat dan refleksi berkelanjutan sangat penting dalam keberhasilan penerapan metode aktif di kelas (Budi, 2. Penerapan pembelajaran aktif juga menunjukkan adanya peningkatan dalam keterampilan sosial siswa. Dalam kegiatan kelompok, siswa terlibat dalam diskusi, negosiasi, dan penyelesaian masalah bersama teman sekelas mereka. Keterampilan sosial ini sangat penting karena tidak hanya mendukung pemahaman materi, tetapi juga membangun sikap kerjasama yang lebih baik di dalam kelas. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa yang bekerja dalam kelompok lebih mampu berkomunikasi dengan baik dan saling menghargai pendapat teman sekelas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari (Siti, 2. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan selama penelitian menghasilkan produk yang menarik, seperti poster tentang perubahan iklim, diagram ekosistem, dan laporan eksperimen sains. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menghasilkan produkproduk ini, yang menunjukkan bahwa mereka merasa lebih diberdayakan dan memiliki tanggung jawab dalam belajar. Ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran aktif, dengan memberi siswa kebebasan untuk mengorganisir dan menyelesaikan tugas, dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dan keterampilan mereka dalam menyampaikan ide-ide secara kreatif. Hal ini mendukung teori yang menyatakan bahwa pembelajaran aktif dapat memperkuat keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa (Juniarti, 2. Namun, temuan ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran aktif memerlukan perencanaan yang matang, terutama dalam hal pengelolaan waktu. Beberapa kegiatan, seperti eksperimen dan diskusi kelompok, memerlukan waktu lebih lama daripada yang direncanakan semula. Hal ini menyebabkan beberapa materi tidak dapat diajarkan secara menyeluruh. Peneliti Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menyarankan agar guru lebih fleksibel dalam mengatur waktu dan menyusun rencana pembelajaran yang memungkinkan penyesuaian bila diperlukan. Waktu yang cukup untuk refleksi di akhir kegiatan juga perlu diperhitungkan agar siswa bisa mengevaluasi apa yang telah dipelajari dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata (Salim, 2. Seiring dengan peningkatan keterlibatan siswa, penelitian ini juga mencatat adanya peningkatan dalam kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam tentang materi IPAS. Selama proses pembelajaran aktif, siswa didorong untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga untuk mempertanyakan dan menganalisis konsep yang ada. Ini merupakan langkah positif dalam membangun kemampuan berpikir kritis siswa, yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran sains dan sosial. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran aktif dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri (Anwar, 2. Namun, temuan ini juga menunjukkan bahwa tidak semua siswa merasa nyaman dengan perubahan cara belajar. Beberapa siswa yang terbiasa dengan metode konvensional merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan pembelajaran yang lebih mandiri dan melibatkan diskusi Pada siklus pertama, siswa ini cenderung lebih pasif dan terlihat ragu untuk terlibat dalam kegiatan diskusi atau eksperimen. Oleh karena itu, guru perlu memberikan lebih banyak dukungan dan motivasi kepada siswa yang lebih introvert dan tidak terbiasa bekerja dalam Pendekatan yang lebih personal dan dukungan yang lebih intensif diperlukan untuk membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam berpartisipasi dalam kelas (Lestari, 2. Peneliti juga mencatat bahwa adanya perubahan dalam motivasi belajar siswa selama penerapan metode aktif. Siswa yang sebelumnya kurang tertarik dengan pelajaran IPAS, mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih besar setelah terlibat langsung dalam eksperimen dan Penerapan pembelajaran aktif tidak hanya berdampak pada pemahaman materi, tetapi juga meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran yang sebelumnya dianggap sulit atau Penemuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar (Ariani, 2. Terkait dengan hasil tes, temuan menunjukkan adanya peningkatan skor yang signifikan pada post-test setelah siklus kedua. Hasil ini mengindikasikan bahwa pembelajaran aktif tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga berkontribusi pada pemahaman materi yang lebih Peningkatan skor tes ini memberikan bukti yang kuat bahwa metode pembelajaran aktif mampu membantu siswa memahami dan mengingat konsep IPAS dengan lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional yang lebih berfokus pada hafalan (Budi, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran aktif dalam pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman konsep, dan keterampilan sosial. Meskipun ada tantangan dalam pelaksanaannya, seperti kebutuhan akan perencanaan yang matang dan dukungan bagi siswa yang kesulitan, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar dari pembelajaran aktif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, metode ini sangat disarankan untuk diterapkan di kelas-kelas lain di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad ke-21 (Halimah, 2. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan metode pembelajaran aktif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari dua siklus tindakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran aktif secara signifikan meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman konsep, serta keterampilan sosial mereka. Penerapan strategi pembelajaran yang melibatkan diskusi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kelompok, eksperimen sains, dan proyek berbasis konteks terbukti memberikan dampak positif bagi siswa dalam memahami konsep-konsep IPAS yang sebelumnya dianggap sulit. Selama siklus pertama, meskipun ada beberapa kendala seperti kesulitan siswa dalam beradaptasi dengan metode baru dan keterbatasan waktu, penerapan pembelajaran aktif berhasil meningkatkan minat dan partisipasi siswa. Pada siklus kedua, terjadi peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa, di mana mereka mulai menunjukkan keaktifan dalam berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan melakukan eksperimen. Skor pre-test dan post-test juga menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Namun, beberapa tantangan tetap ada, seperti kesulitan beberapa siswa yang kurang percaya diri dan lambat beradaptasi dengan pendekatan baru. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan dukungan lebih bagi siswa yang membutuhkan waktu lebih dalam menyesuaikan diri. Selain itu, peran guru sebagai fasilitator sangat penting dalam memastikan pembelajaran aktif berjalan efektif. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif adalah metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah. Penerapan metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga membangun keterampilan sosial, berpikir kritis, dan kreativitas siswa yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Oleh karena itu, penerapan metode pembelajaran aktif sangat disarankan untuk diterapkan secara berkelanjutan di Madrasah Ibtidaiyah Assafinah dan sekolah-sekolah lainnya. REFERENCES