2620-8563. e-ISSN: 2621-1521 Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. 3,p-ISSN: Desember 2022 . Kusmiyanti et al. /Journal of Pharmacopolium. Volume 5. No. Desember 2022, 269-278 Available online at Website: http://ejurnal. stikes-bth. id/index. php/P3M_JoP PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL 70% KULIT BUAH TIN UNGU DAN HIJAU (Ficus Carica Lin. DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Mimin Kusmiyati. Elvi Trinovani. Yayat Sudaryat. Tita Alpira. Muhamad Iqbal Rhamadianto Jurusan Farmasi. Poltekkes Kemenkes Bandung. Jl. Prof. Eyckman No. Pasteur. Kec. Sukajadi. Kota Bandung. Jawa Barat 40161. Indonesia Email: iqbalbubun@gmail. Received: 23 / 10 / 2022. Reviewed : 01 / 11 / 2022 Accepted: 09 / 11 / 2022 . Available online: 31 / 12 / 2022 ABSTRACT The peel of the fig (Ficus carica Lin. contains many polyphenolic compounds that have antioxidant activity. Antioxidant is a compound able to prevent the oxidation of fats or other compounds that are easily oxidized. The aim of the present study was to determine the total phenol content and antioxidant activity of 70% ethanol extract of purple and green fig peels. The method used Folin-Ciocalteu to total phenolic and antioxidant activity used DPPH. The results showed that the highest total phenol content was in the thick extract of the purple fig peel at 8749 mgGAE/mL and the lowest total phenol content was in the dry extract of the green fig fruit at 1. mgGAE/mL. The viscous extracts of purple and green fig peels had IC50 of 257. 3838 g/mL and 283. 4893 g/mL, while the dried extracts of purple and green fig peels had 1216, 229 g/mL and 1365,016 g/mL had high antioxidant activity very weak. Keywords: Purple fig peel, green fig peel, total phenol, antioxidant. Folin-Ciocalteu. DPPH. ABSTRAK Kulit buah tin (Ficus carica Lin. mengandung banyak senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mampu mencegah terjadinya reaksi oksidasi lemak atau senyawa lain yang mudah teroksidasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar fenol total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% kulit buah tin ungu dan hijau. Metode yang digunakan dalam penetapan kadar fenol total yaitu FolinCiocalteu dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenol total tertinggi yaitu pada ekstrak kental kulit buah tin ungu sebesar 7,8749 mgGAE/mL dan kadar fenol total terendah pada ekstrak kering buah tin hijau sebesar 1,9577 mgGAE/mL. Ekstrak kental kulit buah tin ungu dan hijau memiliki IC50 257,3838 g/mL dan 283,4893 g/mL, sedangkan ekstrak kering kulit buah tin ungu dan hijau 1216, 229 g/mL dan 1365,016 g/mL memiliki aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Kata kunci: Kulit buah tin ungu, kulit buah tin hijau, fenol total, antioksidan. Folin-Ciocalteu. DPPH. Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . PENDAHULUAN Berdasarkan data WHO penyakit degeneratif dapat menyebabkan 41 juta orang mengalami kematian setiap tahunnya, setara dengan 71% dari total kematian secara global (WHO, 2. Salah satu pemicu terjadinya penyakit degeneratif yaitu radikal bebas (Berawi & Agverianti, 2. Radikal bebas sangat bermanfaat bagi kesehatan apabila dalam jumlah yang normal, akan tetapi dalam jumlah yang berlebih akan memicu terbentuknya stres oksidatif (Susilawati, 2. Stres oksidatif akan berhenti ketika dihentikan oleh sistem antioksidan dalam tubuh atau senyawa lain yang bersifat antioksidan (Yuslianti, 2. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda atau mencegah terjadinya stres oksidatif (Santoso, 2. Antioksidan dibagi menjadi dua yaitu sintetik dan alami Antioksidan sintetik yang digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan timbulnya racun dalam tubuh sehingga lebih aman menggunakan antioksidan alami (Saati et al. , 2. Antioksidan alami banyak berasal dari bagian tumbuhan antara lain kulit, bunga, daun dan biji (Erlidawati & Safrida, 2. Buah tin banyak digunakan di beberapa negara sebagai pengobatan tradisional dikarenakan memiliki beragam manfaat seperti antipiretik, diuretik, antibakteri dan antioksidan (Bouyahya et al. Kulit buah tin mengandung banyak senyawa polifenol yaitu flavonol, antosianin dan katekin (Wang et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Arumugam et al. , 2. menunjukkan ekstrak metanol kulit buah tin memiliki kadar fenol total dan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging buah tin. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan pelarut etanol yang mampu menyari senyawa kimia lebih banyak dibandingkan dengan air dan metanol (Azizah & Salamah, 2. Dalam melakukan uji aktivitas antioksidan bisa dilakukan dengan berbagai metode salah satunya yaitu metode DPPH. Metode DPPH merupakan metode yang banyak digunakan karena waktu yang dibutuhkan lebih cepat, sangat sederhana, tidak hanya spesifik untuk antioksidan tertentu, stabil serta tersedia secara komersial (Dontha, 2. Metode ini digunakan sebagai uji aktivitas antioksidan karena sifatnya yang sangat sensitif dan penangananya yang mudah (Youssef, 2. Oleh karena itu, peneliti bertujuan untuk mengetahui kadar fenol total dan uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% kulit buah tin ungu dan hijau (Ficus carica Lin. dengan spektrofotometri UV-Vis. METODE PENELITIAN Alat Spektrofotometer UV-Vis (SpectroquantA). Rotary Evaporator (BuchiA), blender (PhilipsA), oven (MemmertA), freeze dryer, timbangan analitik (Mettler ToledoA), mikropipet (EppendorfA) dan perlengkapan alat gelas kimia yang ada di Laboratorium (PyrexA. IwakiA). Bahan Bahan yang digunakan kulit buah tin (Ficus carica L), etanol 70%, metanolp. a (MerckA). Aquadest. DPPH(SigmaA), reagen Folin-Ciocalteau (SigmaA). Na2CO3 (MerckA), asam galat (MerckA), baku pembanding . (MerckA). Gelatin 1%. H2SO4 p. NaCl 10%. HCl 2N, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, asam asetat anhidrat, n-heksan. HCl p. Mg serbuk. FeCl3 1% . Determinasi Tanaman Determinasi tanaman tin (Ficus carica Lin. yang dilakukan di Universitas Padjajaran dengan nomor sampel 45/HB/05/2021. Penyiapan Simplisia Buah yang terkumpul dikupas terlebih dahulu dengan memisahkan daging buah dan kulit buah. Kulit buah dicuci dengan hati-hati dengan air keran dan dicuci kembali dengan aquadest. Setelah itu, dikeringkan dengan cara diangin-anginkan selama 5 hari dikarenakan menghasilkan kadar flavonoid tertinggi dan kemudian di oven pada suhu 50AC selama 2 hari (Warnis et al. , 2. Kulit buah yang telah kering di blender hingga halus. Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Pembuatan Ekstrak Simplisia kulit buah tin diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan merendam serbuk simplisia ke dalam pelarut etanol 70%. Endapan dan filtrat dilakukan evaporasi menggunakan rotary evaporator pada suhu 50AC dengan kecepatan 75 rpm untuk menghilangkan etanol sehingga di dapatkan ekstrak Sebagian ekstrak dilakukan freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kering. Ekstrak yang diperoleh kemudian ditimbang dan dihitung rendemennya. Skrining Fitokimia Skrining fitokimia untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam sampel yaitu alkaloid, fenol dan tanin, flavonoid, saponin, steroid dan terpenoid (Ikalinus et al. , 2. (Julianto. Pembuatan Larutan Induk Asam Galat Asam galat sebanyak 25,0 mg dilarutkan dalam 25,0 mL metanol hingga didapatkan larutan asam galat 1000 ppm. Penentuan Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum Asam Galat Larutan asam galat dengan konsentrasi 30 ppm sebanyak 300 AAL dipipet lalu ditambah 1,5 mL reagen Folin-Ciocalteau 12,5%, kemudian dikocok dan didiamkan selama 3 menit. Setelah itu ditambahkan 2,0 mL larutan Na2CO3 5%, dikocok homogen dan diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit, kemudian absorbansinya diukur pada panjang gelombang 400-800 nm. Validasi Metode Validasi metode dilakukan untuk menentukkan apakah metode yang digunakan dalam penelitian yang digunakan layak atau tidak. Validasi metode yang dilakukan yaitu linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi dan batas kuantifikasi (Arikalang et al. , 2. Linearitas Larutan asam galat dengan konsentrasi 10. 40 dan 50 ppm. Kemudian dipipet 300 AAL ditambahkan 1,5 mL reagen Folin-Ciocalteu 12,5% kemudian dikocok dan didiamkan selama 3 menit, lalu ditambahkan 2,0 mL Na2CO3 5% setelah itu diinkubasi selama 30 menit, absorbansi dari larutan pembanding diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Dibuat kurva kalibrasi kemudian ditentukan persamaan regresi linier serta koefisien korelasi untuk mengevaluasi linearitas. Berdasarkan nilai koefisien korelasi dapat diketahui linieritasnya baik atau Akurasi Larutan asam galat baku dengan konsentrasi 20, 30, dan 40 ppm ditambahkan ke dalam sampel ekstrak etanol kulit buah tin (Ficus carica Lin. , kemudian ditambahkan 1,5 mL reagen Folin-Ciocalteu 12,5% dikocok dan di diamkan selama 3 menit, lalu ditambahkan 2,0 mL larutan Na2CO3 5%. Kemudian campuran diinkubasi selama 30 menit. Absorbansi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Hasil dinyatakan dalam persen perolehan kembali (% recover. Persen perolehan kembali dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: ya2Oeya1 % recovery = ycu 100% yaA Keterangan: A1 = Kadar analit sebelum penambahan asam galat. A2 = Kadar analit yang diperoleh setelah penambahan asam galat baku. B = Kadar asam galat baku yang ditambahkan. Presisi Larutan asam galat dengan kosentrasi 30 ppm diinkubasi selama 30 menit kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 750 nm. Uji ketelitian ini dilakukan sebanyak 6 kali Uji presisi ditentukan dengan parameter RSD (Relatif Standard Devias. berdasarkan rumus sebagai berikut: ycIya RSD = ycu 100% ycU Keterangan: SD = Standar Deviasi. X = Kadar Rata-rata Batas Deteksi (Limit of Detection. LOD) dan Batas Kuantifikasi (Limit of Quantification. LOQ) Batas deteksi dan batas kuantifikasi dapat dihitung secara statistik melalui regresi linier dari kurva kalibrasi dengan membuat larutan baku dengan konsentrasi 10. dan 50 ppm lalu dipipet masing-masing 300 AAL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 1,5 mL reagen Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Folin Ciocalteau 12,5% dan dikocok. Didiamkan selama 3 menit kemudian ditambah 2,0 mL larutan Na2CO3 5%, setelah itu diinkubasi selama 30 menit, absorbansi dari larutan pembanding diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Setelah diukur absorbansinya kemudian dihitung nilai Limit Of Detection dan Limit Of Quantitation. Limit Of Detection dan Limit Of Quantitation ditentukan dengan rumus sebagai berikut: 3 ycu ycIya LOD = LOQ = 10 ycu ycIya ycycoycuycyyce . Penetapan Kadar Fenol Total Ekstrak kulit buah tin 300 L dicampur dengan 1,5 mL reagen Folin-Ciocalteau 12,5% dikocok selama 1 menit dan diamkan selama 3 menit, lalu ditambahkan 2,0 mL larutan Na2CO3 5%. Kemudian campuran diinkubasi selama 30 menit dalam keadaan gelap pada suhu kamar. Absorbansi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Kandungan fenol total dinyatakan dalam . /mg ekstra. (Arikalang et al. , 2. , (Arumugam et al. , 2. Pembuatan Larutan DPPH 100 ppm Serbuk DPPH ditimbang sebanyak 25,0 mg dilarutkan dalam metanolsampai tepat 25,0 mL . Pembuatan Larutan Blanko Dipipet 3,0 mL metanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1,0 mL larutan DPPH. Pembuatan Larutan Pembanding Kuersetin sebanyak 25,0 mg ditimbang kemudian dilarutkan dengan 25,0 mL metanol, sehingga didapat larutan kuersetin konsentrasi 1000 ppm dan diencerkan kembali menjadi 200 ppm, dibuat variasi konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm. Pembuatan Larutan Sampel Ekstrak kulit buah tin sebanyak 50,0 mg ditimbang kemudian dilarutkan dengan 25,0 mL etanol, sehingga didapat larutan sampel konsentrasi 2000 ppm, dibuat variasi konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm. Optimasi Panjang Gelombang Penentuan panjang gelombang () dengan cara memipet 3,0 mL metanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1,0 mL larutan DPPH. Larutan ini ditentukan spektrum serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 400-800 nm serta ditentukan panjang gelombang optimumnya. Uji Aktivitas Antioksidan Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan cara larutan variasi sampel dimasukan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 1,0 mL DPPH 100 ppm. Campuran selanjutnya dikocok dan diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit di tempat gelap. Larutan tersebut diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum. Perlakuan yang sama juga dilakukan untuk larutan blanko . arutan DPPH yang tidak mengandung bahan uj. dan kontrol positif kuersetin (Arumugam et al. , 2. Lalu dilakukan perhitungan %inhibisi dan nilai IC50. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi tanaman untuk memastikan bahwa tumbuhan yang digunakan sudah sesuai dengan klasifikasinya serta menghindari kesalahan dalam mengambil sampel (Diniatik, 2. Setelah sesuai, maka dilanjutkan pembuatan simplisia. Langkah awal yaitu sortasi basah untuk memisahkan kotoran dari bahan asing lainnya. Kemudian dilakukan pencucian untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada simplisia. Perajangan dilakukan dengan memisahkan kulit buah tin dengan daging buah tin untuk mempermudah proses pengeringan. Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Kulit buah tin yang telah dipisahkan dari daging buahnya dilakukan pengeringan dengan metode kombinasi yaitu, diangin-anginkan selama 5 hari dan di oven selama 48 jam pada suhu 50AC, untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Dengan pengurangan kadar air dapat menghentikan reaksi enzimatik sehingga dapat mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia (Prasetyo & Inoriah, 2. Simplisia yang telah kering disortasi kembali untuk memisahkan bagian tanaman yang tidak dinginkan dan pengotor yang masih tertinggal, kemudian simplisia dibuat serbuk dengan menggunakan blender, untuk memperkecil ukuran partikel dan mempermudah pelarut kontak dengan serbuk simplisia. Tabel 1. Kadar air simplisia Pengujian Kulit buah tin ungu Kulit buah tin hijau Bobot cawan kosong . 22,2179 21,6175 Bobot cawan sampel basah . 23,2232 22,2879 Bobot cawan sampel kering . 23,1629 22,2306 Berat sampel awal . Berat sampel akhir . 1,0054 1,0054 0,9451 0,9481 Penetapan kadar air simplisia dilakukan dengan metode gravimetri, kadar air simplisia yang telah dikeringkan yaitu 5,9978% A 0,2601 untuk kulit buah tin ungu dan 5,7023% A 0,3049 untuk kulit buah tin hijau hasil percobaan ini ada pada tabel 1. Hasil ini telah sesuai dengan syarat kadar air simplisia yaitu O10%. Pembuatan ekstrak kulit buah tin dilakukan dengan metode maserasi karena merupakan metode yang sederhana dan tidak memerlukan pemanasan sehingga dapat menghindari rusaknya senyawa termolabil yang bisa saja memiliki efek sebagai antioksidan (Setyawardhani et al. , 2. Sampel yang direndam akan mengalami pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik (Hidayah et al. , 2. Pelarut untuk maserasi menggunakan etanol 70% yang mampu mengekstraksi antioksidan dengan cukup baik dan merupakan pelarut yang efektif menarik kandungan metabolit yang ada pada sel tumbuhan sehingga hasil rendemen didapatkan lebih banyak (Sani et al. Proses maserasi dilakukan selama 24 jam dengan sesekali pengadukan, kemudian dilanjutkan proses pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan Hasil maserat dipekatkan menggunakan vacum rotary evaporator untuk memisahkan pelarut sehingga didapatkan konsentrasi lebih pekat (Hidayah et al. , 2. Setelah didapatkan ekstrak pekat, lalu dikeringkan menggunakan freeze drying pada suhu dan tekanan yang rendah yaitu dibawah tiga titik atau 0AC (Reubun et al. , 2. Proses freeze drying dapat menghasilkan produk yang kering dengan baik karena terjadi pada suhu dingin dibandingkan dengan pengeringan biasa melalui penguapan pada suhu panas yang menyebabkan produk bagian luarnya sudah kering akan tetapi bagian dalam masih basah (Hariyadi, 2. Hasil ekstraksi dinyatakan dalam bentuk rendemen yang didapatkan dari perbandingan bobot ekstrak dan bobot simplisia. Hasil penelitian didapatkan rendemen ekstrak kental kulit buah tin hijau dan ungu yaitu 26,5082% dan 26,4773%, sedangkan hasil rendemen ekstrak kering kulit buah tin hijau dan ungu yaitu 18,0308% dan 17,5130%. Hal ini terjadi karena pada ekstrak kental terdapat kandungan air dan etanol yang belum teruapkan sehingga menambah bobot ekstrak tersebut yang mempengaruhi Untuk memastikan bahwa kandungan etanol sudah menguap maka dilakukan uji bebas etanol bertujuan untuk membebaskan ekstrak dari etanol sehingga didapatkan esktrak etanol tanpa ada kontaminasi (Kurniawati, 2. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui senyawa golongan metabolit sekunder. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi terhadap tujuh jenis golongan senyawa metabolit sekunder yang diperkirakan terdapat pada ekstrak kulit buah tin. Senyawa fitokimia tersebut adalah alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, steroid, terpenoid, dan saponin. Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Tabel 2. Hasil skrining fitokimia SENYAWA FITOKIMIA Alkaloid Fenol Tanin Steroid Terpenoid Saponin Flavonoid EKSTRAK KULIT BUAH TIN HIJAU EKSTRAK KULIT BUAH TIN UNGU Berdasarkan hasil skrining fitokimia pada tabel 2 ekstrak kulit buah tin hijau dan ungu mengandung senyawa fenol, tanin, saponin. Pada pengujian alkaloid diperoleh hasil yang negatif, menurut (Kristianti, 2. alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tanaman, tetapi sering kali kadar alkaloid dalam jaringan tumbuhan kurang dari 1%. Dari hasil pengujian flavonoid tidak terjadi perubahan warna merah, kuning, atau jingga yang menunjukkan sampel tidak mengandung flavonoid. Selain itu, sampel tidak mengadung steroid dan terpenoid. Validasi metode merupakan tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi syarat berdasarkan percobaan laboratorium. Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan yang diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit (Harmita, 2. Kurva Standar Kuersetin Absorbansi Absorbansi Kurva Standar Asam Galat y = 0,0137x 0,0939 RA = 0,9913 y = 3,9007x 7,3813 RA = 0,9983 Konsentrasi . Konsentrasi . Gambar 1. Kurva kalibrasi standar . asam galat . kuersetin Persamaan regresi linear yang didapatkan dari kurva standar asam galat yaitu y = 0,0137x 0,0939 dan kurva standar kuersetin y = 3,9007x 7,3813, y merupakan absorbansi dan x merupakan Koefisien relasi asam galat R2 = 0,9913 dan kuersetin R2 = 0,9983. Harga koefisien relasi asam galat dan kuersetin mendekati 1 menyatakan hubungan yang linier antara konsentrasi dengan serapan yang dihasilkan, dengan kata lain peningkatan nilai serapan analit berbanding lurus dengan peningkatan yang sesuai dengan kriteria penerimaan yaitu 0,99 (Arikalang et al. , 2. (Sahumena et , 2. Tabel 3. Data uji akurasi A1 . /mL) B . A2 . /mL) 28,8394 % Recovery 94,7688 9,8856 42,3187 108,1103 52,4647 106,4477 Dari tabel 2 menunjukkan hasil akurasi A1 merupakan kadar ekstrak kental kulit buah tin hijau. A2 merupakan kadar ekstrak setelah penambahan asam galat 20,30,40 ppm dan B merupakan konsentrasi asam galat yang ditambahkan ke dalam ekstrak. Persen perolehan kembali . yang diperoleh dapat diterima karena memenuhi syarat akurasi yaitu 80-120% (Harmita, 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa metode ini memiliki akurasi yang baik. Tabel 4. Data uji presisi Konsentrasi . Absorbansi 0,511 0,511 0,511 RSD Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . 0,511 Rata-rata 0,512 0,511 0,511167 1,2872 y 10-7 2,5181 y 10-5 Nilai presisi dapat ditentukan dengan membandingkan Relative Standard Deviation (RSD) atau Coeficient Variation (CV) dengan syarat keberterimaan. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan nilai %RSD O 2% (Harmita, 2. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai standar deviasi yang diperoleh dari konsentrasi 30 ppm adalah 1,2872 y 10 -7 dengan nilai RSD 2,5181 y 10-5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode yang digunakan telah memenuhin syarat nilai %RSD yang Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi sedangkan batas kuantifikasi konsentrasi terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria (Harmita. Dari hasil penelitian diperoleh nilai batas deteksi 5,1307 g/mL nilai tersebut menunjukkan jumlah analit yang masih dapat dideteksi dan batas kuantifikasi 17,1022 g/mL yang artinya pada konsentrasi tersebut bila dilakukan pengukuran masih dapat memberikan kecermatan. Batas deteksi dan batas kuantifikasi perlu dilakukan akan tetapi beberapa penelitian menyebutkan bahwa penentuan nilai batas deteksi tidak harus dilakukan karena nilai terkecil tersebut tidak selalu memberikan nilai kecermataan dan keseksamaan dalam penelitian (Yunita et al. , 2. Uji kandungan total fenol dilakukan dengan metode Follin-Ciocalteu, yang bertujuan untuk mengetahui jumlah fenol yang terdapat pada sampel (Roza et al. , 2. Reagen Follin-Ciocalteau terdiri dari asam fosfomolibdat dan asam fosfotungstat yang akan tereduksi oleh polifenol menjadi molibdenum-tungsen. Metode ini dilakukan berdasarkan kekuatan mereduksi dari gugus hidroksil Semua senyawa fenolik dapat bereaksi dengan reagen Follin-Ciocalteu, walaupun bukan penangkap radikal yang efektif (Huang et al. , 2. Adanya inti aromatis pada senyawa fenolik dapat mereduksi fosfomolibdat fosfotungstat menjadi molibdenum yang berwarna biru. Reaksi Follin Ciocalteu dengan fenol berlangsung lambat pada suasana asam, sehingga perlu penambahan natrium bikarbonat agar terbentuk suasana basa agar reaksi menjadi lebih cepat (Sriarumtias et al. , 2. Pembanding yang digunakan yaitu asam galat karena merupakan salah satu jenis golongan senyawa fenolat, murni dan mempunyai kestabilan yang tinggi (Martinus et al. , 2. Sebelum dilakukan penentapan kadar fenol total, dibuat kurva kalibrasi asam galat terlebih dahulu untuk menentukan kadar fenol total pada sampel melalui persamaan regresidari kurva kalibrasi. Kurva standar asam galat dapat dilihat pada gambar 1 diperoleh persamaan regresi linear y = 0,0137x 0,0939. Persamaan regresi linear tersebut digunakan untuk menghitung kadar fenol total dalam ekstrak kulit buah tin, dengan memasukkan serapan sampel sebagai nilai y, hingga diperoleh nilai x yaitu konsentrasi fenol total dalam ekstrak. Tabel 3. Data kadar fenol total pada masing-masing ekstrak Sampel ekstrak kulit buah tin (Ficus carica L) Ekstrak kental kulit buah tinhijau Ekstrak kental kulit buah tin Ekstrak kering kulit buah tin Ekstrak kering kullit buah tin Rata-rata 0,633 Kandungan fenol awal . /m. 39,3734 Fenol total gGAE/. 7,8749 0,524 31,0049 6,2010 0,245 11,3698 2,2740 0,228 9,7883 1,9577 Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kental buah tin ungu memiliki kadar fenol total yang lebih tinggi yaitu 7,8749 mgGAE/g bila dibandingkan dengan ekstrak yang lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Harzallah et al. , 2. menunjukkan bahwa kadar fenol total kulit buah tin tin ungu yaitu 61,47 mgGAE/g lebih tinggi kadarnya dibandingkan kulit buah tin hijau. Hal tersebut menunjukkan bahwa kulit buah tin varietas ungu memiliki kandungan fenolyang tinggi karena mengandung kadar antosianin yang tinggi, akan tetapi pada kulit yang berwarna terang kandungan antosionin lebih rendah (Solomon et al. , 2. Akan tetapi hasil kandungan fenol total yang didapatkan lebih kecil dibanding dengan penelitian sebelumnya, hal tersebut bisa terjadi karena varietas atau jenis buah tin yang digunakan berbeda yang dapat mempengaruhi kandungan fenol total, selain itu Kusmiyanti al. Penetapan Kadar Fenol A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . pengaruh wilayah, cara budidaya dan kondisi cuaca juga mempengaruhi konsentrasi senyawa fenol (Vallejo et al. , 2. Tabel 4. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah tin dengan metode DPPH Sampel Kuersetin Ekstrak kental kulit buah tin ungu Ekstrak kental kulit buah tin hijau Konsentrasi . % inhibisi 17,99308 24,39446 30,10381 36,33218 40,65744 5,275229 7,798165 IC50 . /mL) 11,46789 257,3838 16,2844 20,18349 5,769231 10,19231 13,0213 283,4893 Hasil uji aktivitas antioksidan kuersetin menunjukkan nilai IC50 sebesar 13,0213 g/mL yang menunjukkan bahwa kuersetin termasuk antioksidan yang sangat kuat. Berdasarkan tabel 4 ekstrak kental kulit buah tin ungu dan hijau memiliki IC 50 257,3838 g/mL dan 283,4893 g/mL, sedangkan ekstrak kering kulit buah tin ungu dan hijau 1216,229 g/mL dan 1365,016 g/mL. Ekstrak kental kulit buah tin ungu memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik dari ekstrak yang lainnya. Dapat dilihat bahwa sampel memiliki aktivitas antioksidan yang lebih rendah dibandingkan dengan kuersetin, karena ekstrak sampel yang diuji masih berupa ekstrak kasar . rude extrac. sehingga nilai IC50 untuk isolat spesifik senyawa fenoliknya akan bernilai lebih tinggi (Bayani, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Maghsoudlou et al. , 2. menunjukkan hasil IC50 kulit buah tin ungu 450 g/mL dan kulit buah tin hijau 3450 g/mL. Berdasarkan penelitian aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit buah tin sangat lemah bila dibandingkan dengan penelitian (Arumugam et al. , 2. ekstrak kulit buah tin memiliki IC50 63,89 g/mL termasuk ke dalam antioksidan yang kuat. Hal tersebut dapat terjadi karena kandungan fitokimia hasil dari metabolit sekunder seperti flavonoid dan beta karoten dari suatu tanaman akan berbeda pada setiap wilayah dipengaruhi oleh faktor lingkungan di antaranya cahaya, suhu, pH, ketinggian tempat, serta temperatur (Solikhah et al. , 2. KESIMPULAN Hasil uji kandungan fenol total menunjukkan ekstrak kental kulit buah tin ungu dan hijau sebesar 7,8749 mgGAE/g dan 6,2010 mgGAE/g, ekstrak kering buah tin ungu dan hijau sebesar 2,2740 mgGAE/g dan 1,9577 mgGAE/g. Ekstrak kental kulit buah tin ungu dan hijau memiliki IC50 257,3838 g/mL dan 283,4893 g/mL, sedangkan ekstrak kering kulit buah tin ungu dan hijau 1216,229 g/mL dan 1365,016 g/mL memiliki aktivitas antioksidan yang sangat lemah. DAFTAR PUSTAKA