Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN: e 2776-785X Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa Barat Zahra Ikhsania Putri1A. Cucu Sukmana2 1,2 Departemen Pendidikan Masyarakat. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia Email : zahraikhsaniap@upi. CucuSukmana@upi. Article history: Received: 2022-12-10 Revised: 2023-03-19 Accepted: 2023-04-28 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil evaluasi program pelatihan melalui model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. pada program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method yaitu menyatukan dua metode antara metode kualitatif dengan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi dan kuesioner yang dihitung melalui pengukuran skala likert. Untuk mendapatkan data yang kredibel peneliti menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari evaluasi wawancara, observasi dan dokumentasi diperoleh kategori nilai baik. Sedangkan untuk hasil kuesioner peserta diperoleh hasil sangat baik dengan persentase 88,16%. Hasil evaluasi aspek context, setelah di akumulasikan dari segi latar belakang dan ketersediaan dokumen dikategorikan Hasil evaluasi aspek input, setelah di akumulasikan dilihat dari segi widyaiswara program, kurikulum program, sarana dan prasarana, peserta pelatihan, serta pendanaan program maka secara umum dapat dikategorikan cukup baik. Hasil evaluasi aspek process setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa dilihat dari segi persiapan program, pengelolaan program, evaluasi program, dan kesesuaian perencanaan dengan hasil pelaksanaan maka secara umum termasuk ke dalam kategori baik. Hasil evaluasi aspek product setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa dari segi hasil pembelajaran dan tanggapan terhadap pelaksanaan program maka secara umum termasuk ke dalam kategori baik. Kata Kunci: Evaluasi. Pelatihan Fungsional Dasar. Model CIPP ABSTRACT This study aims to describe the results of the evaluation training programs through the CIPP evaluation model (Context. Input. Process. Produc. in the Basic Functional training program for Family Planning Instructors at BKKBN. West Java Province. This study uses a mixed method approach, which combines two methods between qualitative and quantitative methods. Data collection techniques used were interviews, observation, documentation and questionnaires which were calculated using a Likert scale To obtain credible data, researchers use method triangulation and source triangulation. The results of the study show that judging from the evaluation of interviews, observation and documentation, good grades are obtained. As for the results of the participant questionnaire, very good results were obtained with a percentage of 88. The results of the evaluation of the context aspect, after being accumulated in terms of background and availability of documents are categorized as good. The results of the evaluation of input aspects, after being accumulated in terms of program widyaiswara, program curriculum, facilities and infrastructure, training participants, and program funding, in general can be categorized as quite good. The evaluation results of the process aspect after being accumulated show that in terms of program preparation, program management, program evaluation, and conformity of planning with implementation results, in general it is included in the good category. The evaluation results of product aspects after being accumulated show that in terms of learning outcomes and responses to program implementation, they are generally included in the good category. Keywords: Evaluation. Basic Functional Training. CIPP Model Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa BaratI Zahra Ikhsania Putri1. Cucu Sukmana2 PENDAHULUAN Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak yang signifikan dalam proses modernisasi, hal ini perlu diseimbangi dengan sumber daya manusia yang kompeten untuk dapat memanfaatkan momentum agar menjadi masyarakat yang berdaya. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor kunci dalam upaya mencapai keberhasilan suatu Peningkatan kualitas sumber daya manusia yakni ditujukan untuk menciptakan kaderkader bangsa yang akan melaksanakan pembangunan serta menjadi faktor penentu keberhasilan Dalam hal ini pendidikan memiliki peranan penting untuk menunjang peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompeten. Pendidikan merupakan salah satu hal yang menjamin keberlangsungan hidup suatu negara. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional, pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Salah satu satuan pendidikan nonformal adalah lembaga pendidikan dan pelatihan yang berfokus kepada perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi suatu program pelatihan dan berfungsi sebagai sebuah wadah bagi seseorang atau karyawan untuk mengembangkan potensi dalam dirinya serta meningkatkan kualitas diri dalam melaksanakan suatu tugas secara lebih optimal. Pelatihan merupakan sebuah usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya dengan lebih efektif dan efisien. Sedangkan menurut menurut Dessler, pelatihan adalah proses mengajarkan karyawan baru atau lama dalam meningkatkan keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam dunia kerja. Dessler dalam (Agusta & Sutanto, 2. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau yang bisa disingkat dengan BKKBN merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berada di bawah naungan Menteri Kesehatan dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Kesehatan. Adapun bidang yang bertanggung jawab dalam meningkatan kapasitas serta kompetensi pegawai di BKKBN yaitu Bidang Pelatihan dan Pengembangan (Latban. BKKBN. Bidang Pelatihan dan Pengembangan ini melaksanakan kegiatan pelatihan yang diperlukan instansi maupun masyarakat. Petugas yang berada di garda terdepan khususnya di lapangan adalah Penyuluh Keluarga Berencana (PKB). PKB diibaratkan sutradara yang mampu menggerakan berbagai pihak untuk mencapai output dalam program yang diselenggarakan. Oleh karena itu, seorang PKB harus memiliki pengetahuan yang paripurna karena semua program dilaksanakan oleh PKB di lapangan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi PKB ialah melalui Pelatihan Fungsional Dasar. Pelatihan Fungsional Dasar merupakan pelatihan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan tugas dan kewenangan sebagai fungsional Penyuluh Keluarga Berencana (PKB). Pelatihan Fungsional Dasar berperan sebagai pembekalan dasar mengenai tugas pokok dan fungsi PKB di lapangan serta untuk melengkapi persyaratan kompetensi sesuai jabatan fungsional masing-masing yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas Setelah program pelatihan dilaksanakan tentu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan dapat menjadi bahan perbaikan untuk penyelenggaraan pelatihan di tahun Evaluasi merupakan bagian yang harus ada dalam pelaksanaan kegiatan atau program dalam memastikan tujuan sesuai standar (Amin et al. , 2. Merujuk pada Arikunto dan Jabar . menyatakan bahwa evaluasi program dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk penelitian, yaitu penelitian evaluatif. Pelaksanaan evaluasi dilihat dari berbagai macam aspek dan komponen, dalam pelatihan ini penulis menggunakan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. Evaluasi CIPP merupakan kerangka yang komprehensif untuk mengarahkan pelaksanaan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif terhadap obyek program pembelajaran (Fahruddin, 2. Maka dari itu peran evaluasi menjadi sangat krusial dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan efektivitas program agar mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan. Melalui evaluasi yang tepat diharapkan manfaat yang diperoleh adalah dapat menentukan keberhasilan PKB ketika mengikuti program pelatihan. Dengan diadakannya kegiatan evaluasi ini menjadi salah satu upaya melakukan supervisi program pelatihan dalam rangka melihat dan menilai sejauh mana keberhasilan dan kebermanfaatan program pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Provinsi Jawa Barat. Page Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah mixed method. Mixed method research design merupakan suatu rancangan prosedur dalam upaya mengumpulkan, menganalisis, dan menyatukan dua metode yaitu metode kualitatif dengan metode kuantitatif dalam sebuah penelitian atau serangkaian penelitian untuk memahami permasalahan dalam penelitian. Creswell & Plano Clark . 5, hlm. Pendekatan dilakukan secara gabungan bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan serta pertanyaan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi dan kuesioner yang dihitung melalui pengukuran skala likert. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis data Milles & Huberman. Sementara itu model evaluasi yang digunakan adalah evaluasi model CIPP (Context. Input. Pro-cess. Produc. Model CIPP tidak hanya dirancang untuk mengevaluasi aspek-aspek tertentu saja, tetapi dapat digunakan secara komprehensif untuk melihat berbagai hal yang berkaitan dengan suatu program dengan tujuan untuk memperbaiki program termasuk program pengembangan (Nyoman Gunung & Darma, 2. Untuk mendapatkan data yang kredibel peneliti menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Teknik triangulasi sumber data yang diperoleh dari subjek dan informan. Yakni terdiri dari pihak pengelola, widyaiswara dan peserta pelatihan pada program pelatihan Fungsional Dasar di BKKBN Provinsi Jawa Barat. Triangulasi metode pengumpulan data dilakukan dengan cara memeriksa data kepada sumber yang sama namun dengan teknik yang berbeda. Hasil data yang didapatkan dari wawancara kemudian diperiksa kembali menggunakan teknik observasi dan Hal ini dilakukan dengan membandingkan antara data hasil observasi, wawancara serta dokumentasi, karena dengan begitu sangat memungkinkan agar terjadi kesesuaian antara data yang Sehingga hasil keseluruhan data akan lebih akurat dan memiliki tingkat kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada evaluasi hasil akan dirumuskan beberapa rekomendasi yang relevan untuk mening-katkan kualiatas suatu program (Kurniawa-ti & Munawaroh, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan evaluasi di lembaga, evaluator melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui gambaran secara garis besar mengenai program yang akan di evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi dengan model evaluasi CIPP pada program Pelatihan Fungsional Dasar di BKKBN Provinsi Jawa Barat, didapatkan data serta informasi terkait program yang diperoleh melalui hasil kuesioner, observasi, dokumentasi dan wawancara terstruktur. Data tersebut diperoleh melalui sumber data yang diberikan oleh beberapa narasumber yang terdiri dari pihak pengelola, widyaiswara, dan juga peserta Evaluator menyebarkan kuesioner dan wawancara, dimana pertanyaan yang diberikan kepada Kepala Bidang Pelatihan dan Pengembangan Program juga Sub Koordinator Penyelenggara dan Evaluasi Program sebanyak 29 item pertanyaan kemudian kepada Widyaiswara Program Pelatihan sebanyak 19 item pertanyaan. Setiap item pertanyaan wawancara dijawab dengan narasi jawaban dari responden untuk kemudian dilakukan analisis dan penilaian. Persepsi responden akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar responden memberikan jawaban yang akan digunakan dalam melakukan pembahasan hasil. Untuk pertanyaan kuisioner sebanyak 19 item yang dibagikan kepada peserta pelatihan akan memiliki skor sesuai dengan perhitungan menggunakan skala likert. Selanjutnya observasi dan dokumentasi akan dinilai sesuai dengan ketersediaan, kelayakan, juga keberfungsian di lembaga. Data yang telah didapatkan kemudian diolah dan dijabarkan melalui pembahasan dan analisis. Pada perhitungan hasil evaluasi kuesioner, evaluator menggunakan skala likert sebagai acuan Berikut rumus penilaian yang digunakan: Tabel 1. Skor Jawaban Kuesioner Nilai Jawaban Skor Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Sumber: Sugiyono, . Skor ideal merupakan skor yang digunakan untuk menghitung dan menentukan rating skala. Untuk menjumlahkan skor . dari seluruh item digunakan rumus sebagai berikut: No. Page 8 of 11 Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa BaratI Zahra Ikhsania Putri1. Cucu Sukmana2 Skor Kriterium = Nilai skala x Jumlah Item Pertanyaan Rumus 4 x 19 3 x 19 2 x 19 1 x 19 0 x 19 Tabel 2. Skor Kriterium Skor Skala Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Tabel 3. Interval Penilaian Nilai jawaban Skala 58 Ae 76 Sangat Baik 39 Ae 57 Baik 20 Ae 38 Kurang Baik 0 Ae 19 Tidak Baik Sangat Tidak Baik Setelah kuesioner disebar dan diperoleh data hasil dari perhitungan skala likert sebelumnya, maka ditemukan respon dari para responden dengan penjabaran dibawah ini. Evaluasi Context Tabel 4. Hasil Penilaian Aspek Context Skala Frekuensi Jumlah Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Jumlah Keterangan Jawaban: Pada pertanyaan pertama, hasil kuesioner menunjukkan bahwa 2 orang peserta sangat setuju bahwa tujuan pelatihan sudah sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan dan 3 orang lainnya memilih setuju. Sebagian besar peserta mengatakan bahwa kebutuhannya dapat terpenuhi melalui pelatihan ini, sehingga tujuan pelatihan dapat dikatakan sesuai dengan kebutuhan peserta. Hal ini diperkuat pula dengan pernyataan dari pihak pengelola bahwa latar belakang pelatihan tersebut diselenggarakan ialah karena melihat kebutuhan peserta pelatihan terkait keterampilan dan kompetensi untuk bertugas di lapangan ketika akan menghadapi akseptor. Lalu pada pertanyaan kedua di aspek ini hasil menunjukkan seluruh peserta memilih setuju bahwa lembaga melakukan assessment terlebih dahulu dan program yang dihasilkan dari hasil assessment sesuai dengan kebutuhan peserta. Evaluasi Input Tabel 5. Hasil Penilaian Aspek Input Skala Frekuensi Jumlah Sangat Baik Baik 24 x 3 Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik . Page Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Jumlah Keterangan Jawaban: Pada pertanyaan pertama, hasil kuesioner menunjukkan bahwa seluruh peserta setuju apabila kurikulum program pelatihan sudah sesuai dengan tuntutan pengembangan kompetensi peserta pada unit kerjanya. Karena materi yang disampaikan itu meliputi kebutuhan peserta. Pada pertanyaan yang kedua, 2 orang memilih sangat setuju apabila tersedia sarana pendukung dan modul yang diberikan muatannya sudah sesuai dengan kurikulum program pelatihan sedangkan 3 orang lainnya memilih setuju. Pada pertanyaan ketiga, 2 orang memilih sangat setuju bahwa ketersediaan sarana dan prasarana lembaga memiliki kondisi yang sesuai standar dan kapasitas yang memadai dengan alasan yaitu semua kondisi sarana dan prasarana dalam kondisi yang baik dan memenuhi kebutuhan peserta. Sedangkan 3 orang lainnya memilih setuju dengan alasan terdapat ruang pembelajaran yang kapasitasnya hanya cukup untuk 10 Ae 30 orang saja, hal ini dirasa menjadi salah satu kekurangan sehingga terkadang diklat tidak dapat dilaksanakan di lembaga. Pada pertanyaan keempat, 3 orang peserta memilih setuju apabila lembaga menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan pembelajaran berbasis praktek yang dibutuhkan oleh peserta. Namun 2 orang lainnya memilih tidak setuju dengan alasan karena untuk praktek yang menggunakan laptop/komputer tidak di sediakan secara khusus oleh lembaga, mempertimbangkan karena terdapat beberapa kasus yang lupa membawa atau device yang dimiliki kurang mumpuni untuk menunjang praktek. Pada pertanyaan kelima, seluruh peserta memilih setuju bahwa jumlah peserta pelatihan tidak melebihi standar optimal kelas dengan alasan setiap tahun pelatihan diselenggarakan memiliki batas kuota maksimal sehingga jumlah peserta tidak akan melebihi batas ketentuan. Pada pertanyaan keenam, seluruh peserta memilih setuju bahwa persyaratan yang harus dipenuhi tergolong mudah karena para peserta hanya diminta untuk menunjukkan ijazah yang telah di sahkan oleh BKN. Evaluasi Process Tabel 6. Hasil Penilaian Aspek Process Skala Frekuensi Jumlah Sangat Baik 12 x 4 Baik 21 x 3 Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Jumlah Keterangan Jawaban: Pada pertanyaan pertama di aspek process, hasil kuesioner menunjukkan seluruh peserta sangat setuju bahwa program dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga sudah sesuai prosedur. Karena tidak ada penjadwalan ulang atau jam yang mundur ketika pelatihan dilaksanakan. Pelatihan tersebut dilaksanakan tepat waktu. Pada pertanyaan kedua, seluruh peserta memilih tidak setuju karena presensi hanya di data ketika para peserta memasuki ruangan sebelum kegiatan dilaksanakan. Tidak terdapat presensi di tengah-tengah dan akhir kegiatan. Pada pertanyaan ketiga, seluruh peserta memilih setuju apabila materi yang diberikan sesuai dengan kurikulum dan modul pembelajaran, karena isi dari materi tersebut mengacu kepada kurikulum. Pada pertanyaan keempat, seluruh peserta memilih setuju bahwa peserta diberikan modul pembelajaran sebelum acara dimulai dan sertifikasi kelulusan/surat tanda kelulusan di akhir kegiatan. Pada pertanyaan kelima, 3 orang memilih setuju bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan lingkungan belajar dan kebutuhan peserta Page 10 of 11 Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa BaratI Zahra Ikhsania Putri1. Cucu Sukmana2 Sedangkan 2 orang lainnya memilih tidak setuju karena merasa bahwa metode ceramah dengan durasi lebih dari 1 jam terasa melelahkan. Pada pertanyaan keenam, seluruh peserta memilih setuju bahwa terdapat pihak mentor yang memonitoring keberjalanan program pelatihan. Pada pertanyaan ketujuh, seluruh peserta memilih sangat setuju bahwa penyelenggara melakukan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan test/ujian secara individu melalui kuis dan tugas belajar mandiri serta ujian seminar. Pada pertanyaan kedelapan, 2 orang memilih setuju bahwa keinginan peserta untuk berkembang dapat terpenuhi sedangkan 3 orang lainnya memilih setuju dengan alasan setelah mengikuti pelatihan tersebut para peserta memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Evaluasi Product Tabel 7. Hasil Penilaian Aspek Product Skala Frekuensi Jumlah Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Jumlah Keterangan Jawaban: Pada pertanyaan pertama, seluruh peserta memilih setuju apabila para peserta mendapatkan hasil belajar/ouput yang sesuai dengan standar kriteria kelulusan. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil belajar peserta berada pada rata-rata 80 Ae 95%. Pada pertanyaan kedua, seluruh peserta memilih sangat setuju apabila mereka mengalami perubahan berupa peningkatan kompetensi dan mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dari program pelatihan pada perusahaan/instansi tempat bekerja. Dengan alasan setelah mengikuti pelatihan tersebut keterampilan dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu terasa lebih baik dari sebelumnya. Pada pertanyaan ketiga, 3 orang memilih sangat setuju bahwa mereka merasa puas mengikuti program pelatihan dan kebutuhan peserta sudah sangat terpenuhi. Sedangkan 2 orang lainnya memilih setuju, kesimpulannya para peserta merasa dengan diadakannya pelatihan ini peserta mampu menjadi PKB yang handal dan berkompeten sehingga dapat membantu lembaga mencapai tujuan yang diharapkan. Akumulasi Nilai Hasil Evaluasi Tabel 8. Skor Hasil Penilaian Keseluruhan Program Skala Frekuensi Jumlah Sangat Baik 20 x 4 Baik 60 x 3 Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Jumlah 269 : 4 = 67 . Kriterium Penilaian Tabel 9. Kriterium Penilaian Skala Skor Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik Rentang 58 Ae 76 39 Ae 57 20 Ae 38 0 Ae 19 11 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Akumulasi dalam bentuk persen 67 : 76 x 100 = 88,16% Berdasarkan hasil kuesioner yang telah diberikan kepada peserta pelatihan, evaluator dapat menarik kesimpulan bahwa hasil evaluasi CIPP pada lembaga BKKBN termasuk ke dalam kategori sangat baik. Setelah ditemukan hasil dari observasi, wawancara dan kuesioner kepada 8 orang narasumber, berikut merupakan pembahasan dan analisis data secara keseluruhan evaluasi pelaksanaan program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat dengan mengacu kepada model CIPP yang terdiri dari 4 aspek, yaitu: Evaluasi Konteks (Contex. Evaluasi aspek konteks pada program tersebut mencakup 3 indikator mengenai landasan hukum dan pedoman pelaksanaan program, kesesuaian tujuan program dengan kebutuhan peserta, dan analisis kebutuhan peserta. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak penyelenggara yaitu Ibu Maya Yulia Safitri. Psi. Selaku Sub Koordinator bidang penyelenggara dan evaluasi. Beliau mengatakan bahwa terdapat landasan hukum dalam pelaksanaan program yang tercantum di dalam SOP/pedoman pelaksanaan program. Salah satunya adalah Peraturan Kepala BKKBN No. 92/PER/B5/2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana. Tujuan dari dilaksanakannya program pelatihan adalah sebagai pembekalan dasar mengenai tugas pokok dan fungsi PKB di lapangan sebagai tenaga teknis penggerak program agar dapat memiliki keterampilan dan kompetensi yang mumpuni ketika menghadapi tokoh formal maupun informal di lingkungan masyarakat. Dan tujuan tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan peserta, karena pelatihan fungsional dasar diselenggarakan berdasarkan hasil analisis kebutuhan atau assessment melalui rapat teknis dan melihat kondisi di lapangan. Sehingga dalam proses perencanaan dan penyusunan program dibuat dengan menyesuaikan kepada kebutuhan peserta pelatihan, hal ini didukung pula oleh hasil kuesioner yang dibagikan kepada peserta pelatihan. Ketersediaan dari dokumen yang dijadikan landasan hukum. SOP pelaksanaan program sudah sesuai dengan standar dan lengkap. Dokumen-dokumen tersebut juga berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak di salah gunakan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi aspek konteks pada program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat masuk ke dalam kategori baik. Evaluasi Masukan (Inpu. Evaluasi aspek input pada program ini mencakup beberapa indikator yakni: . Widyaiswara program pelatihan, . Kurikulum program pelatihan, . Sarana dan Prasarana lembaga, . Peserta pelatihan dan . Pendanaan program pelatihan. Masuk kepada indikator pertama yaitu mengenai widyaiswara program terkait dengan jumlah, kualifikasi dan kompetensi widyaiswara. Terdapat 5 widyaiswara yang bertugas dalam mendidik, mengajar, dan memberikan pelatihan sesuai kurikulum yang berlaku di lembaga, jumlah tersebut sangat mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan program pelatihan. Setiap widyaiswara memiliki bagian dan perannya masing-masing dalam pelaksanaan tugasnya sehingga kehadirannya saling melengkapi. Dalam proses merekrut widyaiswara, lembaga menetapkan standar kualifikasi yang harus dipenuhi yaitu widyaiswara diwajibkan telah mengikuti Training of Trainers atau TOT minimal satu kali dalam masa jabatannya. Apabila syarat tersebut sudah terpenuhi maka widyaiswara akan diizinkan untuk berpartisipasi dalam program pelatihan. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa jumlah widyaiswara sudah sesuai dengan kebutuhan serta terdapat standar kualifikasi bagi widyaiswara sehingga tidak diragukan lagi kualitas pengajaran yang diberikan kepada peserta, namun lembaga tidak menunjukkan ketersediaan dokumen terkait, maka indikator pertama masuk ke dalam kategori cukup baik. Pada indikator kedua yaitu kurikulum program pelatihan, kurikulum program relevan dengan kompetensi yang diharapkan oleh peserta pada unit kerjanya. Hal ini dibuktikan dengan hasil kuesioner yang dibagikan kepada peserta pelatihan bahwa materi yang disampaikan oleh widyaiswara beserta praktek yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan para peserta pelatihan. Namun tidak terdapat pedoman penyusunan kurikulum karena kurikulum yang digunakan di lembaga di rancang dan di susun oleh pihak lembaga pusat. Dapat disimpukan bahwa indikator kedua masuk ke dalam kategori baik. Page 12 of 11 Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa BaratI Zahra Ikhsania Putri1. Cucu Sukmana2 Indikator ketiga yaitu sarana dan prasarana lembaga. Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan kuesioner ketersediaan sarana prasarana tergolong lengkap dan dalam kondisi yang layak digunakan. Namun terdapat sarana dan prasarana juga alat praktek yang perlu dilengkapi agar mampu memenuhi standar dan kebutuhan pembelajaran. Oleh karena itu untuk indikator sarana dan prasarana masuk ke dalam kategori cukup baik. Pada indikator keempat yaitu peserta pelatihan, jumlah peserta pelatihan sesuai dengan standar optimal kelas sehingga pelatihan dapat berjalan dengan baik dan tidak timbul kendala yang Serta terdapat persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon peserta yang akan mengikuti program pelatihan sehingga pelatihan hanya bisa diikuti oleh orang tertentu yang sesuai dengan kompetensi dan unit kerjanya. Dapat disimpulkan bahwa indikator keempat masuk ke dalam kategori Indikator terakhir yaitu pendanaan program pelatihan terbagi ke dalam 2 komponen yaitu sumber pendanaan dan kecukupan dana pelaksanaan program. Sumber anggaran biaya pelaksanaan program pelatihan Fungsional Dasar berasal dari DIPA BKKBN atau Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran dimana DIPA ini berfungsi sebagai dasar pencairan dana maupun pengesahan bagi bendahara umum sebagai akibat pendayagunaan bagi PKB dan PLKB dalam melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana di lini lapangan. Anggaran dana operasional program ini berkisar Rp 38. 000,- dan jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan dalam pelaksanaan program. Namun lembaga tidak dapat menunjukkan dokumen terkait RAB dan laporan keuangan, maka indikator pendanaan dapat dikategorikan cukup baik. Apabila di akumulasikan hasil evaluasi aspek input program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat dilihat dari segi widyaiswara program yang mendapat kategori cukup baik, kurikulum program dengan kategori baik, sarana dan prasarana dengan kategori cukup baik, peserta pelatihan dengan kategori baik, serta pendanaan program yang mendapat kategori cukup baik. Maka secara umum aspek input program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori cukup baik. Evaluasi Proses (Proces. Aspek proses merupakan aspek yang meliputi perencanaan, pengelolaan dan penyelenggaraan, evaluasi pada program pelatihan, dan kesesuaian perencanaan dengan hasil pelaksanaan pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil wawancara, temuan observasi dan kuesioner, proses pelaksanaan program pelatihan berjalan dengan baik dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai proses penyelenggaraan pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat. Persiapan pelaksanaan program pelatihan dilakukan dengan menetapkan jadwal pelatihan dan melaksanakan program sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2022 sampai 1 Juli 2022 yang dilakukan secara hybrid dengan jumlah peserta sebanyak 29 PKB dari berbagai macam daerah. Maka dari segi persiapan aspek process masuk ke dalam kategori baik. Selanjutnya pengelolaan pelaksanaan program terdiri dari tingkat kehadiran peserta dan widyaiswara, materi yang diberikan, metode yang digunakan dan fasilitas yang diperoleh peserta Terkait daftar presensi pelatihan hanya dilakukan di awal sebelum pelatihan dilaksanakan dan tidak terdapat daftar kehadiran widyaiswara karena khusus widyaiswara di data secara langsung oleh pihak penyelenggara. Kehadiran dan tingkat partisipasi peserta pada pertemuan pertama hingga pertengahan tergolong sangat baik, namun semakin mendekati akhir pertemuan partisipasi peserta terlihat menurun sehingga tingkat kehadiran beberapa peserta berada di angka 90%. Untuk tingkat kehadiran widyaiswara tergolong sangat baik karena seluruh widyaiswara selalu hadir dalam setiap Berikutnya materi yang diberikan telah sesuai dengan kurikulum dan modul pembelajaran, hal tersebut dibuktikkan dengan hasil wawancara, observasi dan kuesioner dengan tingkat kesamaan 80% Ae 100%. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah ceramah, diskusi dan metode praktek on the job training yang disesuaikan dengan lingkungan belajar peserta pelatihan. Sedangkan fasilitas yang diperoleh peserta terdiri dari ruang pembelajaran yang nyaman, coffee break, modul, sarana prasarana layak pakai dan sertifikat kelulusan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tahap pengelolaan program masuk ke dalam kategori baik. 13 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Evaluasi pembelajaran terbagi ke dalam 2 aspek yaitu pelaksanaan monitoring dan pelaksanaan evaluasi. Dalam pelaksanaan monitoring penyelenggara tidak melakukan monitoring secara langsung, monitoring dilakukan oleh mentor khusus program yang tugasnya melakukan monitoring dan evaluasi harian secara langsung di lapangan selama pelatihan berjalan dan memberikan laporannya kepada penyelenggara. Pelaksanaan evaluasi dibagi ke dalam beberapa bagian yaitu evaluasi peserta yang mencakup evaluasi ujian seminar dan evaluasi hasil, evaluasi untuk fasilitator/widyaiswara dan evaluasi penyelenggaraan. Untuk evaluasi peserta dilihat dari tingkat kehadiran minimal 90% dan evaluasi pembelajarannya mengacu pada kurikulum tidak lagi menggunakan pre-test atau post-test tetapi berbentuk kuis dan tugas belajar mandiri. Maka evaluasi pembelajaran masuk ke dalam kategori cukup baik. Perencanaan pelatihan sudah sesuai dengan pelaksanaan, berdasarkan hasil wawancara program pelatihan berjalan dengan terstruktur, terencana dan minim hambatan. Kegiatan dimulai dengan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Untuk hambatan lebih banyak datang dari partisipasi peserta yang menurun dari waktu ke waktu. Maka aspek ini dapat dikategorikan baik. Apabila di akumulasikan hasil evaluasi aspek process program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat dilihat dari segi persiapan program yang mendapat kategori baik, pengelolaan program dengan kategori baik, evaluasi pada program pelatihan dengan kategori cukup baik, dan kesesuaian perencanaan dengan hasil pelaksanaan dengan kategori baik. Maka secara umum aspek process program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori baik. Evaluasi Produk (Produc. Aspek product merupakan tahapan terakhir dalam mengevaluasi sebuah program pelatihan dengan tujuan untuk memberikan penilaian seberapa jauh keberhasilan program dalam memenuhi tujuan serta kebutuhan peserta pelatihan. Terdapat 2 indikator didalam aspek product yakni kualitas peserta pelatihan dan tanggapan terhadap pelaksanaan program. Berdasarkan hasil wawancara, hasil pembelajaran peserta setelah mengikuti pelatihan selama kurang lebih satu bulan melebihi kriteria kelulusan yang telah ditetapkan oleh lembaga di angka 70,01%. Laporan hasil pelatihan menunjukkan rata-rata peserta memperoleh nilai 80 Ae 95% dalam ranah kognitif, psikomotorik, afektif. Hal ini didukung dengan hasil kuesioner yang dibagikan kepada peserta, seluruh peserta mengatakan bahwa mereka mengalami peningkatan kompetensi dan keterampilan setelah mengikuti pelatihan dan menerapkan ilmu yang didapatkan ketika sedang bertuagas di lapangan. Maka hasil pembelajaran peserta masuk ke dalam kategori baik. Berikutnya tanggapan peserta terhadap pelaksanaan program secara umum peserta merasa bahwa pelatihan tersebut memberikan ilmu pengetahuan yang baru dan membawa banyak perubahan dalam tingkat kompetensi dan keterampilan. Sedangkan widyaiswara merasa pelatihan sudah berjalan dengan sangat baik sebagaimana mestinya, widyaiswara pun mengatakan pelatihan tersebut memberi banyak sekali pengalaman-pengalaman yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Maka hasil tanggapan dapat dikategorikan baik. Apabila di akumulasikan hasil evaluasi aspek product program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat dilihat dari hasil pembelajaran yang mendapat kategori baik dan tanggapan terhadap pelaksanaan program dengan kategori baik. Maka secara umum aspek product program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori baik. Setelah menganalisis hasil evaluasi secara keseluruhan berdasarkan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Maka diperoleh akumulasi secara umum yaitu aspek Context memperoleh kategori baik, aspek Input berkategori cukup baik, aspek Process memperoleh kategori baik, dan aspek Product memperoleh kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat memperoleh nilai baik. Sedangkan untuk hasil kuesioner peserta diperoleh hasil sangat baik dengan persentase 88,16%. SIMPULAN Setelah dilakukannya evaluasi program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Page 14 of 11 Evaluasi Program Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana di BKKBN Provinsi Jawa BaratI Zahra Ikhsania Putri1. Cucu Sukmana2 Hasil evaluasi wawancara, observasi dan dokumentasi memperoleh nilai baik. Sedangkan untuk hasil kuesioner peserta diperoleh hasil sangat baik dengan persentase 88,16%. Hasil evaluasi aspek context setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa dari ketersediaan dokumen yang dijadikan landasan hukum dan SOP pelaksanaan program sudah sesuai dengan standar dan lengkap. Dokumen-dokumen tersebut juga berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak di salah gunakan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi aspek konteks pada program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat masuk ke dalam kategori baik. Hasil evaluasi aspek input setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa dilihat dari segi widyaiswara program yang mendapat kategori cukup baik, kurikulum program dengan kategori baik, sarana dan prasarana dengan kategori cukup baik, peserta pelatihan dengan kategori baik, serta pendanaan program yang mendapat kategori cukup baik. Maka secara umum aspek input program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori cukup baik. Hasil evaluasi aspek process setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa dilihat dari segi persiapan program yang mendapat kategori baik, pengelolaan program dengan kategori baik, evaluasi pada program pelatihan dengan kategori cukup baik, dan kesesuaian perencanaan dengan hasil pelaksanaan dengan kategori baik. Maka secara umum aspek process program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori baik. Hasil evaluasi aspek product setelah di akumulasikan menunjukkan bahwa hasil pembelajaran mendapat kategori baik dan tanggapan terhadap pelaksanaan program mendapat kategori baik. Maka secara umum aspek product program pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) di BKKBN Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam kategori baik. 15 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 3 No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X REFERENSI