JURNAL RISET DAN INOVASI PENDIDIKAN SAINS (JRIPS) Vol. 4 No. http://jurnal. id/index. php/JRIPS/ p-ISSN: 2809-5200 e-ISSN: 2809-5219 PENGARUH ICE BREAKING PADA MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA DI SMPN 18 KOTA BENGKULU Puput Marsela1. Irwandi2*. Nasral3. Saparudin Saroni4 1,2*,3,4 Pendidikan Biologi. FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu Coresponden Author : irwandi@umb. ABSTRAK Proses pembelajaran yang menoton membuat siswa merasa bosan dalam belajar, untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang inovatif. Salah satu strateginya adalah pemberian ice breaking. Penelitian ini dalam rangka menganalisis apakah terdapat pengaruh ice breking terhadap hasil dan motivasi belajar Biologi siswa di SMPN 18 Bengkulu. Dengan Desain Kelompok Kontrol Nonekuivalen, penelitian ini bersifat kuasieksperimental. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 29 siswa dari dua kelas: VII. elompok eksperime. dan VII. elompok kontro. Hasil studi menemukan, motivasi serta hasil studi siswa mengalami kenaikan melalui pemberian ice breaking. Kata Kunci : Hasil belajar. Ice Breaking. Motivasi. PENDAHULUAN Ice Breaking merupakan suatu kegiatan dalam pembelajaran untuk menghilangkan kebosanan, supaya siswa bersemangat lagi dalam belajar (Khoerunisa & Amirudin, 2. Di kelas, guru tidak memberikan siswa kesempatan yang cukup untuk mencairkan suasana. Siswa dapat dicegah agar tidak bosan selama sesi mencairkan suasana dengan sorak-sorai, nyanyian, dan permainan (Ayu, 2. Selain itu, ice breaking dapat meningkatkan kerja sama dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih kondusif. Untuk mencapai tujuan pedagogis mereka, para pendidik menggunakan beragam taktik ice breaking. Untuk memastikan setiap siswa di kelas besar memahami materi, guru perlu menggunakan strategi yang berbeda dibandingkan di kelas kecil. Guru mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan mengubah teknik ice breaking yang digunakan, meskipun strategi yang diterapkan tetap sama (Khoerunisa & Amirudin, 2. Siswa selama ini kurang memiliki motivasi dalam belajar. Motivasi sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa (Suprihatin, 2. Berdasarkan hasil pengamatan di SMPN 18 Kota Bengkulu, pembelajaran IPA-Biologi kurang inovatif sehingga menimbulkan kebosanan siswa dalam belajar. Motivasi siswa untuk belajar tinggi, sehingga memasukkan ice breaking pada pelajaran biologi kemungkinan akan meningkatkan nilai akhir mereka. Untuk itu penulis ingin meneliti pengaruh Ice Breaking terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA-Biologi di SMPN 18 Kota Bengkulu METODE PENELITIAN Jenis penelitian kuasi-eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Pengukuran dilakukan dalam dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah perlakuan, untuk menentukan efektivitas perlakuan tersebut. Sebagai ukuran keberhasilan perlakuan, perbedaan antara pengukuran awal dan akhir diambil (Sugiyono, 2. Teknik pengambilan sampel adalah secara random dengan menggunakan undian. Sampel kelas eksperimen adalah kelas VII 5 dengan 29 orang dan control VII 8 dengan 29 orang. Strategi pembelajaran Ice Breaking merupakan variabel bebas dan terikatnya adalah motivasi belajar dan hasil belajar HASIL Motivasi Belajar Penilain motivasi belajar melalui kuesioner motivasi dengan statement sebanyak 20 poin berupa opsi jawaban: Ausangat setujuAy . AusetujuAy . Aukurang setujuAy . Autidak setujuAy . Ausangat tidak setujuAy . Perhitungan Total Skor Skor Tertinggi Skor Rendah Rata-Rata Tabel 1. Skor Pretest Motivasi Kelas Eksperimen 87,27586 Kontrol 74,41379 Berdasarkan Tabel 1, siswa . ang diberi perlakua. memiliki rerata skor motivasi 87,23 . erkisar antara 97 hingga . , sementara itu, siswa . skor motivasi rata-rata 74,41 . erkisar antara 87 hingga . Angka-angka ini menunjukkan bahwa siswa dalam kelompok eksperimen rata-rata lebih termotivasi untuk berpartisipasi di kelas setelah menggunakan teknik ice breaking dibandingkan dengan kontrol. Tabel 2. Uji Normalitas Kelas Statistic Sig. Eksperimen ,121 ,200* Kontrol ,123 ,200* Data motivasi siswa kontrol dan eksperimen mengikuti distribusi normal (Tabel . Hal ini disebabkan oleh nilai signifikansi untuk kedua kelompok sebesar 0,200, yang lebih tinggi daripada alfa yang umum digunakan. Tabel 3. uji Homogenitas Levene Statistic ,016 Sig. ,901 Tingkat signifikansi 0,901 . ,901 > 0,. menunjukkan bahwa data motivasi belajar siswa memiliki varians yang homogen, menurut hasil penelitian. Verifikasi bahwa data mengikuti distribusi normal dengan varians konstan memungkinkan penggunaan uji-t untuk melihat apakah motivasi belajar rata-rata siswa bervariasi secara signifikan. Tabel 4 . Uji Hipotesis atau Angket Motivasi Belajar siswa Sig. ,016 ,901 8,515 Sig. ,000 Nilai signifikansi 0,000 diperoleh dari analisis uji-t, yang kurang dari 0,05. Selain itu, nilai T hitung 8,515 > T tabel . Temuan ini menunjukkan bahwa teknik ice breaking berdampak signifikan pada keinginan belajar. Hasil Pretest Tabel 5. Rata-Rata Hasil Pretest Terendah Tertinggi Pre-Test Eksperimen Pre-Test Kontrol Valid N . Rerata 68,14 66,24 Standar 6,075 7,219 Data dalam tabel 5 membuktikan rerata skor pretes total untuk hasil belajar kelas eksperimen yaitu 68,14, di mana nilai tertinggi 77, serta terendah 56. Sebaliknya, hasil pretes kelompok kontrol berkisar antara 50 hingga 78, dengan nilai rata-rata 66,24. Tabel 5. Uji Normalitas Preetest Hasil belajar Siswa Statistic ,112 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol ,148 Sig. ,200* ,105 Tingkat signifikansi hasil belajar kelas eksperimen adalah 0,200, lebih tinggi dari ambang batas 0,05 (Tabel . Dengan demikian, data hasil belajar dari pretes mengikuti distribusi normal. Tabel 6. Uji Homogenitas Pretest Hasil Belajar Levene Statistic ,496 Sig. ,484 Analisis varians menunjukkan bahwa data pra-tes hasil belajar kedua kelompok secara statistik serupa, dengan tingkat signifikansi 0,484, yang lebih tinggi dari ambang batas 0,05. Tabel 7. Hasil Uji-T Pretest Kemampuan Hasil Belajar Sig. ,496 ,484 1,082 Sig. ,484 Hasil uji-t menghasilkan angka 0,284 > 0,05. Skor pretes hasil belajar kelas eksperimen dan kontrol untuk kedua kelas sampel tidak berbeda secara signifikan. Hasil Belajar Siswa Posttest Tabel 8. Rata-Rata Kemampuan Hasil Belajar Berdasarkan Posttest Minimum Posttest Kelas Eksperimen Posttest Kelas Kontrol Valid N . Maximum Mean 85,55 78,03 Std. Deviation 3,521 5,025 Hasil post-test kelas eksperimen berkisar antara rata-rata 85,55 hingga terendah 80 (Tabel . Sebaliknya, hasil post-test kelompok kontrol berkisar antara terendah 67 hingga tertinggi 89, dengan skor rata-rata 78,03. Tabel 9. Uji Normalitas Posttest Kemampuan Hasil Belajar Kelas Statistic Sig. Kelas Eksperimen ,127 ,200* Kelas Kontrol ,148 ,105 Hasil belajar siswa akan terdistribusi normal jika tingkat signifikansi . > = 0,05 berdasarkan uji normalitas. Data tabel menunjukkan bahwa data hasil belajar post-test kelas eksperimen . yaitu melebihi batas ambang 0,05. Dengan demikian, hasil posttest hasil belajar siswa mengikuti distribusi normal. Tabel 10. Uji Homogenitas Posttest Kemampuan Hasil Belajar Levene Statistic 1,038 Sig. ,313 Terdapat perbedaan yang signifikan antara data pra-tes dan pasca-tes hasil belajar siswa . ig: 0,313 > 0,. karena uji varians. Akibatnya, varians data pasca- tes yang berkaitan dengan hasil belajar tidak berbeda antara kelompok eksperimen dan kontrol. Tabel 11. Hasil Uji-T Posttest kemampuan hasil belajar Sig. 1,038 ,313 6,598 Sig. ,000 Pada Tabel 11 terlihat jelas bahwa hasil uji t . ua sis. kurang dari 0,05, dan selisih antara Thitung . dengan Ttabel . menunjukkan bahwa Thitung lebih besar dari Ttabel. Keinginan belajar siswa dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang bersifat memecah kebekuan . ce breakin. PEMBAHASAN Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Ice Breaking Pembelajaran melalui Ice Breaking terbukti tepat pada peningkatan motivasi belajar, dengan hasil persentase motivasi sebesar 93,3% yang termasuk dalam kategori sangat tinggi. Ice breaking yang dilakukan guru memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar. antusias, dapat lebih terlibat, dan gembira di dalam Memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dapat ditingkatkan dengan memasukkan faktor-faktor pembelajaran yang Lingkungan yang positif mendorong siswa untuk belajar lebih banyak (Husna 2. Menurut Fahri . , perkembangan emosional, kognitif, dan sosial siswa dapat berkembang pesat di lingkungan kelas yang nyaman dan Menurut Deswanti et al. penggunaan ice breaking di kelas telah terbukti meningkatkan keterlibatan dan retensi siswa terhadap materi Pendekatan ini dapat mengaktifkan kembali pembelajaran siswa dan memotivasi antusiasme mereka terhadap kegiatan belajar. Peningkatan Hasil Belajar Menggunkan Ice Breaking Hasil belajar sains siswa dipengaruhi oleh teknik pemecah kebekuan, menurut penelitian tersebut. Skor pasca-tes berkisar antara 80 hingga 92, dengan rata-rata 85,55 dan simpangan baku 3,521. Kelompok kontrol yang tidak mengalami pemecah kebekuan memiliki rentang skor antara 67 hingga 89, dengan rata-rata 78,03, dan simpangan baku 5,025. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang sangat bersemangat mengakibatkan meningkatnya hasil belajar siswa (Sunarto . Menurut Arimbawa et al. , untuk meningkatkan hasil belajar, pembelajaran pemecah kebekuan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Menurut Wurjani et al . pembelajaran Ice Breaking juga menaikkan hasil belajar siswa. Selvia et al . melaporkan, strategi ice breaking dapat meningkatkan berpikir kreatif, percaya diri dan sikap ilmiah KESIMPULAN Temuan-temuan berikut diperoleh dari penelitian ini. Motivasi belajar siswa dalam pelajaran IPA dan Biologi di SMPN 18. Kota Bengkulu, dipengaruhi oleh Ice Breaking. Prestasi belajar siswa dalam pelajaran IPA dan Biologi di SMPN 18. Kota Bengkulu, dipengaruhi oleh Ice Breaking. SARAN Penulis menyarankan agar sebelum memulai proses pembelajaran, guru harus mampu menguasai teknik ice breaking. DAFTAR PUSTAKA