JURNAL ECONOMINA e-ISSN: 2963-1181 Volume 4. Nomor 10. Oktober 2025 Homepage: ejournal. id/index. php/economina Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa Pelaku UMKM di Masa Studi NTB Didin Pratama1* Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar. Makassar. Indonesia *Corresponding Author: didinpratama456@gmail. Article History ABSTRAK Received: 03-10-2025 Revised: 11-10-2025 Published: 25-10-2025 Penelitian ini bertujuan untuk memahami kemandirian finansial dan makna usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di masa studi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena meningkatnya jumlah mahasiswa yang menjalankan usaha kecil menengah menunjukkan adanya perubahan paradigma terhadap konsep belajar dan bekerja secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam kepada mahasiswa pelaku UMKM di beberapa perguruan tinggi di NTB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian finansial bagi mahasiswa tidak semata dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab, aktualisasi diri, dan strategi menghadapi tantangan ekonomi global. Usaha yang dijalankan memberikan pengalaman praktis dalam manajemen keuangan, pengambilan keputusan, dan membangun jaringan sosial Makna usaha bagi mahasiswa juga terkait erat dengan nilai-nilai kemandirian, keuletan, serta pembentukan karakter wirausaha muda yang adaptif dan inovatif. Selain itu, aktivitas usaha turut memperkuat rasa percaya diri, kedewasaan berpikir, dan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika dunia kerja. Penelitian ini menegaskan bahwa kegiatan berwirausaha selama masa studi bukan hanya berorientasi pada keuntungan material, tetapi juga sebagai proses pembelajaran kontekstual yang memperkaya pengalaman akademik dan membentuk jiwa kemandirian finansial yang berkelanjutan. Dengan demikian. UMKM mahasiswa menjadi media pembelajaran yang ef ektif dalam membangun generasi muda yang berdaya secara ekonomi dan Keywords: Kemandirian finansial. Makna usaha. Mahasiswa pelaku UMKM. org/10. 55681/economina. JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. PENDAHULUAN Perkembangan sektor Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi nasional, tetapi juga wadah penting bagi generasi muda dalam menumbuhkan kemandirian ekonomi. Di tengah tantangan globalisasi dan ketidakpastian ekonomi, banyak mahasiswa mulai berperan sebagai pelaku UMKM, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal dengan dinamika sosialekonomi dan potensi kewirausahaan lokalnya. Fenomena ini memperlihatkan pergeseran pola pikir mahasiswa dari sekadar berorientasi pada dunia akademik menuju aktualisasi diri melalui kegiatan usaha yang produktif. Menurut Suryana . dalam bukunya Kewirausahaan. Kiat dan Proses Menuju Sukses, semangat wirausaha di kalangan mahasiswa merupakan indikator positif bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, karena menumbuhkan sikap inovatif, kreatif, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Kemandirian finansial menjadi aspek penting dalam perjalanan mahasiswa pelaku UMKM. Mahasiswa yang memiliki usaha cenderung lebih mampu mengelola keuangan secara mandiri, tidak bergantung pada bantuan orang tua, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebutuhan hidupnya. Menurut Kasmir . dalam buku Kewirausahaan, kemandirian finansial adalah kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada pihak lain, yang mencerminkan kedewasaan finansial dan kesiapan menghadapi realitas ekonomi. Di kalangan mahasiswa, hal ini menjadi modal penting dalam membentuk pola pikir mandiri dan profesional sejak dini. Selain aspek ekonomi, kegiatan usaha juga memiliki makna sosial dan psikologis yang signifikan bagi mahasiswa. Bagi sebagian mahasiswa, berwirausaha bukan hanya tentang memperoleh pendapatan tambahan, tetapi juga tentang proses belajar kehidupan nyata, seperti menghadapi kegagalan, mengelola waktu antara studi dan bisnis, serta membangun jaringan sosial yang bermanfaat. Penelitian oleh Fitriani dan Wulandari . dalam Jurnal Ekonomi dan Pendidikan menunjukkan bahwa mahasiswa pelaku usaha mengalami peningkatan kemampuan manajerial dan rasa percaya diri yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa nonwirausaha. Hal ini menunjukkan bahwa makna usaha bagi mahasiswa mencakup dimensi pembentukan karakter dan penguatan identitas diri. Konteks NTB sebagai wilayah berkembang juga memberikan warna tersendiri dalam kajian ini. NTB memiliki potensi sumber daya alam dan budaya yang kuat, sehingga membuka peluang bagi mahasiswa untuk menciptakan produk lokal yang berdaya saing. Pemerintah daerah pun mendorong pengembangan wirausaha muda melalui berbagai program, seperti pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal usaha mahasiswa. Menurut Badan Pusat Statistik NTB . , lebih dari 30% pelaku UMKM di NTB merupakan kalangan muda, termasuk mahasiswa, yang memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan. Fenomena ini menandakan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen ekonomi, tetapi juga produsen yang aktif berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, menjalankan usaha di masa studi tidaklah mudah. Mahasiswa sering menghadapi dilema antara fokus akademik dan tanggung jawab bisnis. Tantangan lain seperti keterbatasan modal, manajemen waktu, dan kurangnya pengalaman menjadi hambatan yang sering dihadapi. Menurut Slamet . dalam Jurnal Pengembangan Ekonomi Lokal. Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa. Pratama JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. mahasiswa pelaku UMKM membutuhkan dukungan lingkungan kampus dan kebijakan yang kondusif untuk mengembangkan usaha tanpa mengganggu proses studi. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana mahasiswa memaknai usaha mereka tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dalam konteks pembentukan kemandirian dan identitas diri. Makna usaha bagi mahasiswa juga mencerminkan nilai-nilai kemandirian, keuletan, dan tanggung jawab sosial. Dalam pandangan Hendro . dalam Dasar-Dasar Kewirausahaan: Panduan untuk Mahasiswa, wirausaha bukan hanya kegiatan mencari keuntungan, melainkan bentuk kontribusi sosial untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Mahasiswa pelaku UMKM di NTB seringkali mengaitkan usaha mereka dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, misalnya dengan mengangkat produk lokal, bahan ramah lingkungan, atau pemberdayaan Kemandirian finansial yang dibangun melalui usaha juga memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja setelah lulus. Penelitian oleh Nurhadi dan Astuti . dalam Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Indonesia menemukan bahwa mahasiswa yang menjalankan usaha sejak kuliah memiliki tingkat kesiapan kerja lebih tinggi karena telah terbiasa mengambil keputusan, mengelola risiko, dan berinteraksi dengan pelanggan. Dengan demikian, kegiatan berwirausaha dapat dipandang sebagai laboratorium kehidupan yang mempersiapkan mahasiswa menjadi individu tangguh dan adaptif di masa depan. Lebih jauh, makna usaha bagi mahasiswa di masa studi juga berkaitan dengan transformasi nilai pendidikan tinggi. Pendidikan tidak lagi hanya dilihat sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kemampuan praktis dan karakter kewirausahaan. Sejalan dengan itu. Dewi dan Rachman . dalam Jurnal Pendidikan Ekonomi Indonesia menegaskan bahwa pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi berperan strategis dalam membangun kemandirian ekonomi mahasiswa dan memperkuat jiwa inovatif mereka dalam menghadapi era digital. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami kemandirian finansial dan makna usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di NTB. Pemahaman ini tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga praktis bagi lembaga pendidikan dan pemerintah dalam merumuskan strategi pembinaan wirausaha muda. Dengan menelusuri makna subjektif mahasiswa terhadap usaha yang mereka jalankan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pemberdayaan mahasiswa berbasis kemandirian finansial dan nilai-nilai kewirausahaan berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam makna kemandirian finansial dan usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di masa studi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali pengalaman subjektif dan pandangan individu terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Sugiyono . dalam buku Metode Penelitian Kualitatif. Kuantitatif, dan R&D, penelitian kualitatif berfungsi untuk memahami makna di balik perilaku, motivasi, dan tindakan manusia melalui proses wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Dalam konteks ini, peneliti berusaha menangkap makna personal mahasiswa dalam menjalankan usaha serta nilai-nilai kemandirian finansial yang mereka bentuk selama proses studi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasiswa aktif yang menjalankan UMKM di beberapa perguruan Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa. Pratama JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. tinggi di NTB. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria mahasiswa aktif minimal semester empat dan memiliki usaha yang telah berjalan lebih dari enam bulan. Menurut Moleong . dalam Metodologi Penelitian Kualitatif, pemilihan informan secara purposif dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa mereka dianggap paling memahami dan memiliki pengalaman relevan dengan fenomena yang diteliti. Selain itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen kampus, laporan kegiatan wirausaha mahasiswa, serta data dari Dinas Koperasi dan UKM NTB untuk memperkuat hasil temuan lapangan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yaitu melalui tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses analisis dilakukan secara simultan dengan pengumpulan data untuk memperoleh makna mendalam dari setiap informasi yang diperoleh. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu membandingkan hasil wawancara dengan data dokumentasi dan observasi. Menurut Lexy J. Moleong . dan Sugiyono . , triangulasi merupakan strategi penting dalam penelitian kualitatif untuk memastikan keabsahan temuan dan menghindari bias interpretatif. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai pengalaman mahasiswa dalam membangun kemandirian finansial melalui aktivitas usaha di masa studi HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa pelaku UMKM di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya kemandirian finansial sejak masa studi. Sebagian besar informan menyatakan bahwa keputusan untuk memulai usaha dilatarbelakangi oleh kebutuhan ekonomi dan keinginan untuk tidak bergantung pada orang Mahasiswa melihat usaha sebagai sarana belajar kehidupan nyata dan latihan mengelola Temuan ini sejalan dengan pandangan Zimmerer dan Scarborough . dalam buku Essentials of Entrepreneurship and Small Business Management, yang menyebutkan bahwa kewirausahaan merupakan proses pembelajaran berkelanjutan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemampuan menghadapi risiko secara mandiri. Mahasiswa di NTB menganggap bahwa usaha bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan wadah untuk membangun jati diri dan memperluas pengalaman sosial. Mereka memaknai usaha sebagai bagian dari perjalanan hidup untuk mengasah kemampuan beradaptasi dan mengelola tantangan. Berdasarkan wawancara, usaha mahasiswa banyak bergerak di sektor kuliner, fashion, pertanian organik, serta jasa berbasis digital. Hal ini sejalan dengan temuan Rahayu dan Sari . dalam Jurnal Manajemen dan Bisnis Nusantara, yang menjelaskan bahwa mahasiswa pelaku UMKM cenderung memilih usaha dengan risiko rendah namun berpotensi stabil untuk dikelola di tengah aktivitas akademik. Kemandirian finansial yang dicapai mahasiswa juga menjadi cerminan dari kemampuan literasi keuangan dan tanggung jawab pribadi. Informan menyebutkan bahwa mengatur arus kas dan keuntungan usaha menjadi tantangan terbesar, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan pengembangan bisnis. Menurut Lusardi dan Mitchell . dalam Journal of Economic Literature, literasi keuangan memiliki hubungan erat dengan kemandirian finansial karena membentuk perilaku pengelolaan keuangan yang bijak dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks mahasiswa, hal ini mencerminkan kesadaran terhadap pentingnya perencanaan ekonomi sejak dini. Selain itu, kegiatan usaha memberikan pengalaman praktis dalam manajemen waktu dan pengambilan keputusan. Mahasiswa dituntut untuk menyeimbangkan antara kegiatan Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa. Pratama JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. akademik, organisasi, dan bisnis agar tetap produktif. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian mahasiswa mengaku belajar banyak tentang disiplin, tanggung jawab, dan komunikasi Penelitian Slamet dan Hidayati . dalam Jurnal Pengembangan Ekonomi Lokal mendukung temuan ini, bahwa keterlibatan mahasiswa dalam UMKM meningkatkan kemampuan soft skills seperti kepemimpinan, kerja sama tim, dan ketahanan menghadapi Dalam dimensi sosial, usaha mahasiswa turut memperkuat jejaring sosial dan solidaritas ekonomi di lingkungan kampus. Beberapa pelaku usaha mengaku mendapatkan dukungan promosi dari teman-teman kampus dan komunitas wirausaha mahasiswa. Proses ini menciptakan ekosistem ekonomi kecil di lingkungan perguruan tinggi. Menurut Putnam . dalam bukunya Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, jaringan sosial berperan penting dalam memperkuat modal sosial yang mempengaruhi keberhasilan individu dan kolektif dalam kegiatan ekonomi. Kemandirian finansial mahasiswa juga berdampak pada pembentukan karakter wirausaha muda yang resilien dan adaptif. Mahasiswa yang telah menjalankan usaha selama lebih dari satu tahun umumnya menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan motivasi yang lebih tinggi. Mereka mampu menghadapi kegagalan dengan sikap positif dan menjadikannya sebagai pembelajaran. Hal ini sejalan dengan teori Bandura . dalam Self-Efficacy: The Exercise of Control, yang menegaskan bahwa pengalaman keberhasilan dan kegagalan berulang kali memperkuat kepercayaan diri seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak mandiri. Namun, penelitian juga menemukan bahwa sebagian mahasiswa menghadapi kendala modal dan keterbatasan akses pembinaan usaha. Banyak di antara mereka menjalankan bisnis dengan modal terbatas dari hasil tabungan pribadi. Dukungan lembaga kampus terhadap wirausaha mahasiswa dinilai masih minim. Berdasarkan Jurnal Ekonomi dan Pendidikan oleh Fitriani dan Wulandari . , faktor dukungan institusi pendidikan menjadi komponen penting dalam keberhasilan wirausaha muda karena memberikan akses terhadap pelatihan, pendanaan, dan mentoring. Selain itu, peran teknologi digital menjadi faktor dominan dalam keberhasilan mahasiswa UMKM di NTB. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan media sosial seperti Instagram. TikTok, dan marketplace lokal untuk promosi dan transaksi. Transformasi digital ini memungkinkan mahasiswa memperluas jangkauan pasar tanpa biaya besar. Menurut Kotler dan Keller . dalam Marketing Management, digitalisasi telah mengubah perilaku konsumen dan strategi pemasaran, memungkinkan pelaku usaha kecil bersaing di pasar yang lebih luas melalui kreativitas konten dan interaksi daring. Dari sisi psikologis, mahasiswa pelaku UMKM merasa bahwa berwirausaha memberikan rasa bangga dan makna hidup yang lebih dalam. Mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi masa depan karena telah memiliki kemampuan ekonomi mandiri. Berdasarkan wawancara, mahasiswa juga menganggap usaha sebagai sarana pembentukan karakter, terutama dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Temuan ini mendukung pandangan Suryana . dalam bukunya Kewirausahaan: Kiat dan Proses Menuju Sukses, yang menegaskan bahwa wirausaha adalah proses pembentukan karakter dan nilai-nilai ketekunan serta tanggung jawab sosial. Di sisi lain, hasil penelitian memperlihatkan bahwa mahasiswa yang aktif dalam usaha juga mengalami peningkatan kemampuan akademik secara tidak langsung. Mereka cenderung Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa. Pratama JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. lebih teratur dalam mengelola waktu dan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Menurut Dewi dan Rachman . dalam Jurnal Pendidikan Ekonomi Indonesia, keterlibatan dalam wirausaha dapat memperkuat motivasi belajar karena mahasiswa belajar menerapkan teori ekonomi dan manajemen dalam konteks nyata. Hal ini menunjukkan bahwa praktik usaha mampu melengkapi pembelajaran formal di perguruan tinggi. Mahasiswa juga mengaitkan makna usaha dengan kontribusi sosial dan pemberdayaan Beberapa pelaku usaha di NTB menggunakan produk lokal seperti tenun Sasak, madu hutan, dan bahan makanan tradisional sebagai identitas bisnis mereka. Kegiatan ini bukan hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga melestarikan budaya lokal dan memberdayakan masyarakat. Menurut Hendro . dalam Dasar-Dasar Kewirausahaan, wirausaha sejati tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada penciptaan nilai sosial dan budaya yang berdampak luas bagi masyarakat. Dari hasil temuan lapangan, dapat disimpulkan bahwa kemandirian finansial dan makna usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di NTB bersifat multidimensional. Tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup aspek sosial, psikologis, dan moral. Mahasiswa belajar untuk bertanggung jawab atas keputusan finansial mereka, mengembangkan potensi diri, serta memperkuat jejaring sosial. Dengan demikian, berwirausaha di masa studi menjadi ruang belajar yang integral bagi pembentukan karakter, nilai, dan keterampilan hidup yang berkelanjutan. Akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa UMKM mahasiswa berperan strategis dalam menciptakan generasi muda mandiri dan berdaya saing global. Kemandirian finansial yang dibangun melalui usaha bukan hanya mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sejalan dengan pandangan Gibb . dalam Entrepreneurship Education: Developing Creativity and Social Responsibility, pendidikan kewirausahaan harus diarahkan tidak hanya pada pencapaian finansial, tetapi juga penguatan nilai-nilai moral dan sosial yang mendukung pembangunan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kemandirian finansial dan makna usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki dimensi yang luas, mencakup aspek ekonomi, sosial, psikologis, dan moral. Kemandirian finansial yang diperoleh mahasiswa bukan hanya berarti kemampuan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri, tetapi juga menjadi simbol tanggung jawab dan kedewasaan dalam mengelola Melalui kegiatan usaha, mahasiswa belajar menghadapi tantangan nyata seperti keterbatasan modal, manajemen waktu, serta pengambilan keputusan bisnis yang strategis. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri, keuletan, dan kemampuan adaptif yang sangat dibutuhkan di era kompetisi global. Usaha yang dijalankan juga berperan sebagai media pembelajaran kontekstual yang melengkapi pendidikan formal di kampus, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis dan nilai-nilai kemandirian. Selain itu, makna usaha bagi mahasiswa pelaku UMKM di NTB mencerminkan semangat wirausaha sosial dan berkelanjutan, di mana aktivitas ekonomi tidak hanya berorientasi pada keuntungan material, tetapi juga pada kontribusi sosial dan pelestarian nilai Kemandirian Finansial dan Makna Usaha bagi Mahasiswa. Pratama JURNAL ECONOMINA 4 . org/10. 55681/economina v4711. budaya lokal. Mahasiswa berperan sebagai agen perubahan yang memperkuat ekonomi daerah melalui inovasi, digitalisasi, dan pemberdayaan komunitas. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dan pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih sistematis melalui program pelatihan, inkubasi bisnis, serta akses pembiayaan yang ramah bagi mahasiswa. Dengan demikian, semangat kemandirian finansial yang tumbuh di kalangan mahasiswa dapat menjadi fondasi kuat dalam mencetak generasi muda yang produktif, kreatif, dan berdaya saing tinggi untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia DAFTAR PUSTAKA