Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Sekolah Bebas Makanan Ultra Proses: Olah Sampah Organik Jadi Solusi Lingkungan dengan Biopori Syaina Ulfah Azhara1*. Heru Winarno2. Aini Novitasari3. Adelia Juliyanti4,Yudistira Istisam5,Robi Saputra6 1,2Teknik Industri. Teknik. UNSERA. Jl. Raya Cilegon Drangong Serang Ae Banten. 3Akuntansi. Ekonomi dan Bisnis. UNSERA. Jl. Raya Cilegon Drangong Serang Ae Banten. 4Ilmu Komunikasi. FISIP. UNSERA. Jl. Raya Cilegon Drangong Serang Ae Banten. 5Manajemen. Ekonomi dan Bisnis. UNSERA. Jl. Raya Cilegon Drangong Serang Ae Banten. 6Teknik Sipil. Teknik. UNSERA. Jl. Raya Cilegon Drangong Serang Ae Banten. *Email: syainaulfah@gmail. ABSTRAK Kesadaran akan pentingnya makan sehat dan menjaga lingkungan kini mulai tumbuh di dunia Salah satu contohnya terlihat di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas yang menerapkan aturan untuk tidak membawa makanan ultra proses. Aturan ini secara tidak langsung mengubah jenis sampah yang dihasilkan di sekolahAidari yang sebelumnya banyak sampah plastik, kini lebih didominasi oleh sampah organik. Meski begitu, muncul persoalan baru karena belum ada cara khusus untuk mengelola sampah organik tersebut. Dari situlah muncul ide membuat lubang biopori sebagai solusi sederhana yang bisa diterapkan langsung di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diawali dengan penjelasan tentang manfaat dan cara kerja biopori, lalu dilanjutkan dengan praktik pembuatan bersama warga sekolah. Antusiasme warga sekplah cukup tinggi, terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap prosesnya. Biopori tidak hanya berguna untuk mengurai sampah organik, tapi juga menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan membangun rasa peduli terhadap lingkungan. Dari hal kecil seperti ini, sekolah bisa ikut berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan Dalam kegiatan ini, berhasil dibuat lima lubang biopori berdiameter 10 cm di halaman sekolah sebagai upaya nyata mengelola sampah organik secara sederhana dan efektif. Kata kunci: Biopori. Makanan Ultra Proses. Sampah Organik ABSTRACT Awareness of the importance of healthy eating and protecting the environment is now starting to grow in the world of education. One example can be seen at TAUD SAQU Insan Cerdas School, which implements a rule not to bring ultra-processed food. This rule indirectly changes the type of waste generated at school - from a lot of plastic waste, now it is more dominated by organic waste. Even so, a new problem arose because there was no specific way to manage the organic waste. From there, the idea of making biopore holes emerged as a simple solution that could be applied directly in the school environment. This activity began with an explanation of the benefits and how biopores work, then continued with the practice of making them with the school community. The enthusiasm of the school community was quite high, as seen from their involvement in every process. Biopores are not only useful for decomposing organic waste, but also a fun learning tool and build a sense of caring for the environment. From small things like this, schools can play a role in creating a cleaner and healthier environment. In this activity, five biopore holes with a diameter of 10 cm were successfully made in the school yard as a real effort to manage organic waste simply and effectively. Keywords: Biopori. Organic waste. Ultra process food SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN MASYARAKAT LPPM UNIVERSITAS SERANG RAYA Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 PENDAHULUAN Kesadaran pentingnya pola hidup sehat dan menjaga lingkungan kini mulai tumbuh dan diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Salah satu bentuk nyatanya terlihat di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas, yang menerapkan aturan unik: siswa tidak diperbolehkan membawa makanan ultra proses ke sekolah. Kebijakan ini tidak hanya mengubah kebiasaan makan anakanak, tapi juga berdampak pada jenis sampah yang dihasilkan. Dulu, sampah plastik menjadi yang paling banyak dijumpai di lingkungan sekolah, namun kini bergeser menjadi sampah organik dari sisa makanan. Sayangnya, sekolah belum memiliki cara khusus untuk mengelola sampah organik tersebut. Akibatnya, sampah hanya ditampung begitu saja dan berisiko menimbulkan bau tidak sedap hingga menjadi sarang lalat. Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, mencemari lingkungan sekolah. Padahal, menurut Anisa et al. , sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau diuraikan secara alami melalui teknologi sederhana seperti lubang biopori. Biopori merupakan salah satu metode pemrosesan sampah organik yang efektif, hemat biaya, dan cocok diterapkan dalam skala kecil seperti di lingkungan sekolah (Wahyuni & Fitriani, 2. Teknologi ini juga telah terbukti dapat meningkatkan resapan air ke dalam tanah serta mengurangi genangan saat musim hujan (Prasetyo. Berdasarkan hal tersebut, solusi permasalahan di sekolah ini adalah pembuatan lubang biopori disertai edukasi Solusi ini tidak hanya berguna untuk mengelola sampah, tapi juga bisa jadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna untuk siswa soal pentingnya menjaga lingkungan. Tujuan dari kegiatan ini sebenarnya sederhana: membantu sekolah kelola sampah organik dengan cara yang praktis, sambil mengajari siswa agar lebih peka Harapannya, kegiatan ini tidak hanya memberi solusi jangka pendek, tapi juga menumbuhkan kebiasaan baik yang bisa terus dilakukan dalam keseharian mereka. METODE PELAKSANAAN PERENCANAAN Pada identifikasi permasalahan mitra secara mendalam. Dari hasil pengumpulan data, dilakukan analisis untuk mencari jalan diterapkan sesuai dengan kondisi yang ada. Sosialisasi dan Edukasi Melakukan sosialisasi kepada mitra sekolah TAUD SAQU INSAN CERDAS mengenai konsep dan manfaat pengelolaan sampah organik menggunakan lubang Sosialisasi dilakukan melalui pendekatan interaktif dan disertai alat peraga. Implementasi Kegiatan Implementasi dilakukan sesuai rencana dengan melibatkan semua pihak terkait, seperti guru, dan staf sekolah yang ada di Taud Saqu Insan Cerdas. Pada tahap ini, proses pembuatan lubang biopori dilaksanakan secara kolaboratif sebagai solusi pengelolaan sampah Monitoring dan Evaluasi Setelah implementasi selesai, memantau apakah solusi yang diterapkan benar-benar berjalan sesuai harapan. Selama proses masukan dari guru serta staf turut dikumpulkan untuk memahami berbagai kendala yang muncul di menyusun rekomendasi perbaikan ke depannya. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Pelaporan dan Dokumentasi Semua kegiatan dicatat dan didokumentasikan secara lengkap sebagai bahan laporan akhir. Untuk memastikan kegiatan ini terdokumentasi dengan baik, kami menyertakan foto, video, dan hasil evaluasi sebagai bukti nyata dari proses pelaksanaannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan masyarakat yang dilaksanakan di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas berjalan sesuai rencana dan mendapatkan respon yang sangat positif dari seluruh warga sekolah. Dari kegiatan ini, muncul beberapa hasil nyataAimulai dari produk fisik yang bisa pemahaman warga sekolah tentang pengelolaan sampah, sampai perubahan kebiasaan yang lebih peduli terhadap Luaran Fisik: Pembuatan Lubang Biopori Sebagai hasil akhir dari kegiatan membuat lima lubang biopori di area halaman sekolah. Lubang ini masingmasing memiliki diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100 cm. Lokasi pembuatan dipilih di area yang mudah diakses siswa dan guru, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk membuang sampah organik dari sisa makanan. Gambar 2. Kegiatan praktik pembuatan lubang biopori di halaman Luaran Edukatif: Peningkatan Pemahaman Warga Sekolah Sebelum kegiatan ini dimulai, banyak warga sekolah yang belum tahu apa itu lubang biopori, apalagi cara mengelola sampah organik dengan benar. Melalui sesi sosialisasi dan praktik langsung, peserta didik dan guru memperoleh ramah lingkungan. Gambae 3. Penyampaian materi edukasi tentang biopori di ruang kelas Gambar 1. Alat dan bahan biopori Perubahan Kondisi Mitra Sebelum kegiatan, sekolah belum memiliki sistem pengelolaan sampah organik yang efektif. Sampah makanan siswa dibuang begitu saja ke tempat sampah terbuka, menyebabkan bau dan menarik lalat. Setelah lubang biopori mulai digunakan, sampah Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 organik sekarang langsung dibuang ke Hasilnya, bau tak sedap berkurang dan risiko munculnya penyakit pun ikut menurun. hanya soal tempat buang sampahnya aja yang berubah, tapi juga cara pandang warga sekolah. Siswa dan pegawai jadi lebih hati-hati waktu membuang sisa makanan. Bahkan, para guru sekarang mulai melibatkan mereka buat ikut memantau isi lubang biopori, jadi semua merasa punya tanggung jawab bersama. Tidak pengelolaan sampah, kegiatan ini juga membuka ruang tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan siswa, guru, dan pegawai sekolah. Mereka jadi lebih peduli dan merasa ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan sekitar. Dari sini dapat terlihat, langkah kecil seperti bioporiAikalau dilakukan bareng-bareng dan disertai edukasi yang tepatAiternyata bisa membawa perubahan nyata dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada LPPM dan UNSERA atas kesempatan dan dukungan dalam acara Pengelolaan Sampah Sekolah. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh warga Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas yang telah menerima tim dengan tangan terbuka, serta aktif terlibat dalam setiap tahapan kegiatan. Semangat dan antusiasme yang diberikan menjadi salah satu kunci suksesnya pelaksanaan kegiatan ini. Gambar 4. Penanaman biopori KESIMPULAN Kegiatan pengabdian ini sukses menjadi solusi sederhana tapi berdampak nyata untuk masalah sampah organik di Sekolah TAUD SAQU Insan Cerdas. Lewat pendekatan yang edukatif dan melibatkan semua pihak, warga sekolah tidak hanya mengenal konsep lubang biopori, tapi juga langsung diajak turun tangan buat mencoba membuat dan menggunakan Hasilnya, lima lubang biopori dimanfaatkan untuk membuang sampah organik sehari-hari. Dampaknya cukup terasaAibau lingkungan jadi lebih bersih, dan siswa pun mulai terbiasa memilah serta membuang sisa makanan dengan cara yang benar. DAFTAR PUSTAKA