Perang Ekonomi dalam Dunia yang Interdependen Djisman S. SIMANDJUNTAK Ketidakberdayaan (Wehrlosigkei. musuh yang disebut oleh von ClauseA witz sebagai tujuan perang1 memerlukan tidak saja penghancuran angkatan perang musuh, tetapi juga penghancuran atau penguasaan setiap potensi yang dapat membantu musuh mengakhiri ketidakberdayaannya. Karena itu, tidak sedikit Perjanjian Perdamaian yang tidak lebih daripada gencatan senjata, sementara mengandung unsur-unsur yang dapat disebut sebagai kelanjutan perang dengan perlengkapan lain. Perjanjian Versailles tidak saja menganA dung demiliterisasi Jerman yang kalah, tetapi juga reparasi yang menurut John M. Keynes sendiri, seorang perunding Inggris dalam Konperensi PerdaA maian Paris, melebihi kemampuan Jerman2 dan hanya beberapa tahun kemuA dian menjadi ladang subur bagi nasionalisme terbiadab yang pernah disaksiA kan manusia. Makalah yang disampaikan pada SESKOAL. Jakarta, tanggal 28 Juli 1987. 'Dalam keadaan seperti itulah suatu negara kehilangan kemauan untuk menentang apa pun yang didiktekan oleh penakluknya. Carl von Clausewitz. Vom Kriege, edisi ke-18 (Bonn: Duemmlers Verlag, 1. , hal. Tetapi merupakan pertanyaan yang sangat besar apakah keadaan seperti ini dapat dicapai dan dipertahankan tanpa pemusnahan bangsa musuh. 2Sebenarnya Perjanjian Versailles dapat juga disebut sebagai perang ekonomi dengan syaratsyarat yang didiktekan oleh sekutu di bawah ancaman penerusan blokade atas Jerman yang sudah dilanda kelaparan. Tujuannya adalah pelumpuhan Jerman. Woodrow Wilson, yang semula menentang aneksasi dan kontribusi tidak berdaya menghadapi Georges Clemenceau yang mengA hendaki pelumpuhan Jerman untuk selama-lamanya, dan David Lloyd George yang mengikuti kurs Clemenceau karena takut kehilangan jabatan. Alhasil, yang disebut perdamaian antara lain berisi aneksasi wilayah yang dihuni oleh 7,6 juta penduduk Jerman dengan produksi batubara sekitar 61 juta ton/tahun. pengiriman paksaan batubara kepada Perancis. Italia. Belgia dan LuxA emburg sebesar 40 juta ton/tahun selama 10 tahun. penyerahan kepada sekutu semua kapal dagang berbobot lebih dari 1. 600 GRT, separuh dari kapal berbobot antara 1. 600 ton, seperempat dari armada perikanan dan seperlima dari armada sungai. 000 lokomotif' dan 000 gerobak kereta api. Semua investasi dan kekayaan Jerman di luar negeri akan dikonfiskasi dan reparasi sebesar A6,6 milyar harus dibayar kepada sekutu. Tentu saja di samping PERANG EKONOMI Dengan kata lain, ketidakberdayaan musuh memerlukan juga penggunaan perlengkapan non-militer. Frekuensinya dapat justru meningkat karena kedahsyatan perang militer yang oleh von Clausewitz dianggap tidak dapat menghindari hukum eskalasi (Zweite Wechselwirkun. , sudah semakin prohibitif dalam arti sangat menakutkan. Kenyataannya, paruhan kedua abad ini yang oleh banyak orang disebut sebagai masa interdependensi sudah menyakA sikan berbagai perang non-militer. Ke dalam perang non-militer dapat dimasukkan perang propaganda yang dapat semakin penting dalam hidup yang semakin padat informasi. Tahun 1980 yang lalu banyak negara termasuk Indonesia memboikot Olympiade Moskow sebagai balasan terhadap penyerbuan Afghanistan oleh Uni Soviet setahun sebelumnya dan peristiwa ini hanya satu di antara banyak peristiwa Tetapi yang menjadi perhatian tulisan ini hanya perang yang mengguA nakan perlengkapan ekonomik dan karena itu disebut sebagai perang ekonoA mik . conomic warfar. Penulisan ini tidak mempunyai hubungan apa pun dengan friksi-friksi perA dagangan yang sering terjadi belakangan ini dan secara terburu-buru disebut oleh banyak orang sebagai perang ekonomi. Mungkin juga ia tidak tepat waktu bagi kebanyakan orang karena sanksi-sanksi ekonomi yang sekarang masih berlaku sudah dianggap lumrah. Tetapi kenyataan bahwa perang ekonomi masih saja digunakan oleh pemimpin-pemimpin dunia walaupun lingkungan sudah sangat tidak kondusif bagi keberhasilannya, kiranya adalah alasan yang cukup untuk mendiskusikan perang ekonomi, strateginya, pendekatannya dan akhir beberapa perang ekonomik yang pernah pecah sesudah Perang Dunia II. Tetapi kesimpulan pokoknya adalah bahwa perang ekonomi seperti yang menggunakan embargo, dalam kata-kata Gunnar AdlerKarlsson adalah: Ay. suatu ekspresi dari rasa muak yang dalam atas tindakantindakan suatu pemerintahan asing, tetapi pada saat yang sama juga dari suatu ketidakmampuan untuk berbuat apa pun tentang hal itu,Ay3 atau seperti sanksi ekonomi yang menurut Margaret Doxey adalah: Ay. alat-alat tumpul syarat-syarat di atas masih ada demiliterisasi dan hukuman moral. Sebelum ditandatangani pun Keynes sudah meramalkan bahwa pelaksanaan perjanjian di alas akan bermuara pada eksplosi Dan memang terbukti Jerman tidak sanggup memikul beban AoAoperdamaian. Ay Dalam Pemilu bulan Juli 1932 NSDAP Hiller sudah keluar sebagai partai dengan suara terbanyak. Apa yang terA jadi setelah kenaikan Hitler, pertama-tama adalah nulifikasi Perjanjian Versailles. Tentang episode ini lihat misalnya Major-General J. Fuller. The Conduct of War 1789-1961 (London: Eyre Nethuen, 1. , terutama Bab XII, hal. Lihat juga Theodor Sehieder. Die Neuordnung Europas auf der Pariser Friedenskonferenz, dalam Handbuch der Europaeischen Geschichte. Vol. Theodor Sehieder ed. (Stuttgart: Ernst Klett, 1. Buku 1, hal. nAoGunnar Adler-Karlsson. The Efficiency of Embargoes and Sanctions, dalam Economic WarA fare or Detente: An Assessment of East- West Economic Relations in the 1980s, ed. Reinhard Rode and Hans-D. Jacobsen (Boulder: West view Press, 1. , hal. ANALISA 1987-12 yang mungkin tidak mengenai sasarannya yang benar dan bahkan makan Ay4 PENGERTIAN: MAKSUD NON-EKONOMIK Pengertian perang ekonomik dapat sangat sempit atau sangat luas. Holsti misalnya mengatakan bahwa: AoAoPerang ekonomi adalah kebijakan-kebijakan ekonomi yang dipergunakan sebagai tambahan pada operasi-operasi militer selama masa perang. Tujuannya adalah mempertahankan atau menguasai sumber-sumber strategis sehingga pasukan-pasukan militer dapat beroperasi dengan kekuatan maksimal, atau mencegah musuh menguasai sumber-sumber ini sehingga kemampuannya untuk bertempur akan menjadi lemah. Ay5 Tetapi batasan ini kiranya terlalu sempit walaupun mempunyai keuntungan karena mengurangi kekaburan dengan mengatakan bahwa hanya dalam masa perang . saja ada perang ekonomik. Sebaliknya sangat luas adalah pengertian yang diberikan dalam EnA cyclopedia Americana dengan menggunakan perang ekonomik untuk menaA mai AoAoberbagai bentuk persaingan antar-bangsa-bangsa. Ay6 Tarif, kuota impor atau alat lain yang bermaksud memperbaiki posisi ekonomik atau finansial suatu bangsa, menurut pengertian luas ini adalah perlengkapan perang Pengertian ini kiranya terlalu luas. Tarif atau bahkan kuota impor mungkin saja dikenakan oleh suatu bangsa tanpa niat bermusuhan dengan bangsa lain. Sangat penting kiranya adalah tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan perlengkapan ekonomik tertentu. Kalau ia bersifat ekoA nomik saja seperti pemajuan produksi dalam negeri atau penjaminan penaA waran dalam negeri, penggunaan kata perang kiranya adalah salah tempat. Lain halnya kalau yang dikejar melalui penggunaan perlengkapan ekonomik adalah tujuan non-ekonomik, kejadiannya kiranya dapat disebut sebagai perang ekonomik, meskipun pembatasan ini juga tidak bebas dari kesembarangan. Tujuan non-ekonomik tersebut dapat sangat beraneka-ragam. Ia dapat berupa penyadaran bahwa negara tertentu sudah melanggar asas' tertentu. Barangkali Presiden Carter sendiri pun tidak percaya bahwa embargo padipadian yang dikenakannya akan mengubah sikap Uni Soviet tentang AfghaA Tetapi melalui embargo itu Amerika Serikat menjelaskan betapa ia menentang penyerbuan Soviet terhadap Afghanistan. Namun demikian, perang ekonomik adalah terlalu mahal kalau bertujuan hanya untuk menunA 4Margaret Doxey. AoAoEconomic Sanctions: Benefits and Costs,Ay World Today (Desember 1. : hal. Holsti. International Politics. A Framework for Analysis, edisi ke-2 (Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1. , hal. 6Encyclopedia Americana, jilid , hal. PERANG EKONOMI jukkan sikap. Dalam kebanyakan hal yang dikejar melalui perang ekonomik adalah lebih daripada sekedar unjuk-rasa. Ia dapat berupa hukuman seperti embargo dan boikot tahun 1948 yang dikenakan oleh Uni Soviet dan negara komunis lain atas Yugoslavia karena ketidakmauan Tito untuk mengakui dominasi Uni Soviet dalam hal-hal yang menyangkut ideologi dan politik. Amerika Serikat mengenakan sanksi-sanksi ekonomi atas Kuba dalam tahuntahun belakangan lebih banyak sebagai hukuman daripada sebagai upaya unA tuk memutar roda sejarah di Kuba. Tetapi dalam kebanyakan hal, tujuan perang ekonomi tidak kurang daripada perubahan sikap negara sasaran dalam arti supaya negara itu mengambil sikap yang didiktekan oleh negara pemrakarsa. Uni Soviet mengA hentikan perdagangan dengan Finlandia dalam bulan November 1958 untuk memaksa Finlandia membentuk suatu pemerintah yang lebih bersahabat dengan Moskow. 9 Tahun 1948 Uni Soviet menutup semua jalan darat ke Berlin Barat dalam apa yang dikenal sebagai AoAoBlokade Berlin. Ay Dengan pengumpamaan bahwa Berlin Barat tidak akan dapat dihidupi oleh sekutu Barat melalui AoAojembatan udara,Ay Uni Soviet berharap dapat memaksa Amerika Serikat. Inggris dan Perancis untuk meninggalkan Berlin Barat atau menyeA rahkannya ke pangkuan Uni Soviet. 10 Presiden Carter memblokir harta Iran pada bank-bank Amerika Serikat di dalam maupun di luar Amerika Serikat dengan tujuan memaksa Khomeini mengakhiri penyanderaan yang melatarA belakangi boikot ini. 11 OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countrie. mengenakan embargo minyak atas negara-negara industri dengan tujuan untuk melemahkan dukungan mereka pada Israel. Dari tahun 1965 sampai 1979 Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenakan sanksi-sanksi ekonomi atas Rhodesia untuk menolkan deklarasi independen unilateral tahun 1965, dan pengakhiran AoAoapartheidAy adalah tujuan dari sanksi-sanksi yang dikenaA kan oleh PBB. Commonwealth. Masyarakat Eropa dan kelompok lain atas Afrika Selatan. Akhirnya, hubungan ekonomi Timur-Barat adalah contoh hubungan ekoA nomi yang sangat rawan terhadap perang ekonomik. Sejak tahun 1949, secara rahasia Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya melalui COCOM (CoA ordinating Committe. mengenakan larangan ekspor teknologi tinggi dan/atau berkegunaan-ganda . ual us. ke negara-negara komunis untuk 7Holsti. International Politics, hal. 9Ibid. 10Louis J. Halle. Der Kalte Krieg Ursachen. Verlauf. Abschluss (Frankfurt am Main: Fischer Verlag, 1. , hal. 1AoLihat Robert Carswell. AoAoEconomic Sanctions and the Iran Experience,Ay Foreign Affairs (Winter 1981-1. : hal. ANALISA 1987-12 memperlambat kemajuan teknologi yang bersangkutan di negara-negara Dalam tahun 1981-1983 penjadwalan ulang utang Polandia kepada Barat digunakan oleh Barat untuk meraih konsesi dari Pemerintah Polandia dalam hubungan dengan Martial Law dan gerakan buruh AoAoSolidaritas. Ay12 Singkatnya, penggunaan perlengkapan ekonomi dalam pengejaran tujuan non-ekonomik sudah hampir merupakan sesuatu yang lumrah. Dalam hal tertentu seperti Perjanjian Versailles yang hampir terulang dalam Rencana Morgenthau,13 yang dikejar tersebut bahkan tidak kurang dari pelumpuhan suatu bangsa. Tentu saja ada perbedaan pendapat tentang kewajaran pengejaran tujuantujuan non-ekonomik dengan bantuan perlengkapan ekonomik. Perbedaan ini tidak mudah ditelusuri karena dipengaruhi oleh sangat banyak faktor seperti pandangan politik dasar seseorang, partai seseorang, dan profesi seseA Antara pandangan dasar politik dan perkiraan tentang keampuhan perang ekonomik tampaknya ada hubungan timbal-balik. Yang menganggap perang ekonomi sebagai sesuatu yang wajar akan menganggapnya sebagai perlengkapan yang efektif dan sebaliknya. Tidak heran bahwa penerusan perang dengan perlengkapan ekonomik yang tampaknya sudah setua civilisasi manusia sendiri senantiasa diliputi oleh Ada yang menganggapnya sebagai yang perlu di antara unsurunsur strategi suatu bangsa dalam hubungannya dengan bangsa lain. 14 Tetapi seperti telah disinggung di depan ada juga yang menganggapnya sebagai cerA min ketidakberdayaan menghadapi bangsa lain. Ke dalam kelompok ini terA masuk Adler-Karlsson dan Margaret Doxey. Ada juga yang menentangnya karena mengkhawatirkan biaya ekonomik yang sering harus dipikul oleh orang-orang di luar pemerintah sendiri seperti yang berupa peluang usaha yang hilang. 15 Dan ada juga yang mendukung perang ekonomik dengan negara tertentu seperti negara komunis, tetapi menentangnya kalau dikenakan atas negara lain seperti Afrika Selatan. Diskusi mengenai niat Amerika Serikat menggagalkan proyek pipa gas dari Urai ke Eropa Barat dan ekspor gandum 12Abraham S. Becker. Economic Leverage on the Soviet Union in the 1980s (Santa Monica: Rand Corporation, 1. , hal. !3Inti rencana ini adalah pengakhiran riwayat Jerman sebagai negara industri. Sarana proA duksi industrial yang belum hancur karena perang, menurut Morgenthau Jr. , perlu dihancurkan, begitu juga pertambangan. Tetapi sejak semula Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sudah menentang rencana ini, begitu juga PM Churchill. Lihat Michael Freund. Deutsche Geschichte (Munich: Bertelsmann, 1. , hal. 14Lihat misalnya Samuel P. Huntington. AoAoTrade. Technology and Leverage: Economic Diplomacy,Ay dalam Foreign Policy. No. 32 (Fall 1. : hal. 63-81, dan Louis J. Walinsky. AoAoCoherent Defense Strategy: The Case for Economic Denial,Ay dalam Foreign Affairs (Winter 1982/1. : hal. 15Lihat misalnya Otto von Amerongen. AoAoEconomic Sanctions as a Foreign Policy Tool?,Ay dalam International Security. Vol. : hal 159-167. PERANG EKONOMI Amerika Serikat ke Uni Soviet mengungkap dengan jelas bahwa sikap tentang perang ekonomik dipengaruhi lebih banyak oleh kepentingan nasional yang sering sangat tergantung pada situasi di samping didefinisi secara sembarangan oleh yang berkuasa, daripada oleh ideologi. PENDEKATAN-PENDEKATAN Sudah berkali-kali kata-kata sanksi ekonomi, boikot, dan embargo disebut di depan tanpa penjelasan. Kata-kata itu adalah bagian dari pendekatanpendekatan yang sering ditempuh dalam penyelenggaraan perang ekonomik. Dengan sendirinya sudah timbul pertanyaan tentang keaneka-ragaman pendekatan dan persenjataan perang ekonomik yang tampaknya tidak kalah dibanding dengan perang militer. Perang ekonomik terpanjang dan sampai sekarang masih berlangsung adalah yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama sekutunya terhadap Uni Soviet bersama sekutunya pula dan yang dikenakan oleh negara-negara Arab atas Israel. Tidak mengherankan kalau strategi atau pendekatan perang ekonomik sangat kuat dipengaruhi oleh temuan-temuan yang menyangkut perang ekonomik Amerika Serikat-Uni Soviet. Dalam arti luas seperti dikatakan di depan, perang ekonomik dapat mengA gunakan AoAostrategi denialAy yang melalui pembatasan aliran sumber ke negara sasaran menghambat pertumbuhan ekonomik yang pada gilirannya berarti menghambat kemampuan militer negara sasaran. Strategi denial ini dapat berA sifat total, umum atau terbatas pada sektor-sektor tertentu saja. AoAoDalam hal yang mana pun pendekatan itu ditujukan untuk membatasi keuntungan-keunA tungan perdagangan yang dapat diperoleh oleh negara sasaran dengan memA batasi tingkat atau komposisi perdagangan. Ay16Apakah negara pemrakarsa akan memilih denial total, umum atau terbatas, tergantung pada beberapa faktor, antara lain kecukupan perlengkapan tersebut dibanding dengan tujuan yang hendak dicapai. Lain dengan AoAostrategi leverageAy yang bermaksud: AoAotidak untuk melemahkan, tetapi untuk memanfaatkan kerawanan negara sasaran melalui penerapan suatu keuntungan negara pemrakarsa agar dapat mempengaruhi keputusan-keputusan politik negara sasaran. Ay17 Sebaliknya, keputusan-keputusan politik negara sasaran dapat juga dipengaruhi melalui AoAostrategi benefaction,Ay yang berbeda dengan dua yang terdahulu, berisi banA tuan sumber yang memungkinkan negara sasaran mencapai tingkat keseA jahteraan yang melebihi taraf yang dimungkinkan oleh sumber-sumbernya 16Lihat Judith C. Fernandez. Modelling Economic Leverage (Santa Monica: Rand CorporaA tion, 1. , hal. Catat bahwa pengarang ini menganggap hanya strategi denial total yang terA masuk ke dalam perang ekonomik. ^Ibid. , hal. PERANG EKONOMI Pembatasan aliran sumber ke negara sasaran atau penggunaan AoAoleverAy tertentu oleh negara pemrakarsa dapat mengambil berbagai bentuk. Amerika Serikat, misalnya, yang menganggap bahwa ekspor gandumnya yang dahulu memang sangat besar ke Uni Soviet adalah vital bagi yang terakhir, mengenaA kan embargo atau penghentian ekspor gandum dengan harapan dapat mempengaruhi politik Afghanistan Uni Soviet. Ini adalah contoh AoAoleverage. Ay Kerawanan Uni Soviet terletak dalam ketergantungannya pada impor, terutama impor dari Amerika Serikat, sesedikitnya menurut perkiraan penA dukung embargo. Agak lain halnya dengan embargo teknologi tinggi dan teknologi berkegunaan ganda yang merupakan bagian dari strategi denial. Embargo seperti ini tidak harus didasari oleh asumsi bahwa negara sasaran tidak akan dapat mengembangkan teknologi tertentu tanpa impor dari negara Sudah cukup kalau diasumsi bahwa embargo tersebut memperA lambat dan/atau mempermahal pengembangan teknologi tertentu tersebut yang berarti keunggulan tertentu bagi negara pemrakarsa. Sebagai perlengkapan perang ekonomik, embargo biasanya menimbulkan pertentangan dalam negara pemrakarsa. Ia menimbulkan biaya besar18 berupa kehilangan pasar ekspor yang sangat penting. Seperti dialami oleh Amerika Serikat dalam tahun 1981,19 pengakhiran embargo tidak selalu dapat memulihkan pasar semula, dan kehilangan pasar seperti itu akan tercermin juga dalam berbagai neraca seperti neraca ketenagakerjaan. Biaya embargo dirasakan paling dahulu oleh negara pemrakarsa dan karena itu embargo biasanya ditentang secara kuat oleh kelompok yang kepentingannya tersentuh secara langsung seperti petani dalam kasus embargo gandum. Lebih tidak langsung bagi negara pemrakarsa dan karena itu juga lebih diremehkan olehnya adalah biaya boikot, yaitu perlengkapan perang ekonoA mik yang juga sangat sering digunakan. Melalui perlengkapan ini keputusan politik negara sasaran hendak dipengaruhi oleh negara pemrakarsa dengan penghentian impor barang tertentu yang menurut perkiraan negara pemraA karsa akan menimbulkan biaya besar atas negara sasaran. Dalam menghadapi Fidel Castro. Amerika Serikat misalnya mengandalkan boikot gula yang terA bukti tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan politik Castro. Untuk memaksa Pemerintah Afrika Selatan mengubah politik apartheid-nya secara berbondong-bondong negara-negara Utara dan Selatan. Timur dan Barat mengenakan boikot atas besi dan baja dan berbagi produk lain asal Afrika Selatan, di samping mengenakan atau mengancam mengenakan embargo, terA 18Kalau hanya kecil saja. AoAoleverAy atau aliran sumber yang dihambat tentu tidak cukup berA bobot untuk mempengaruhi keputusan politik negara sasaran. Seandainya impor gandum Uni Soviet dari Amerika Serikat adalah kecil saja, ia tidak bernilai sebagai lever. 19Pangsa Amerika Serikat dalam impor gandum Uni Soviet turun dari rata-rata 65% dalam tahun 1975/1976-1979/1980 . ebelum embarg. menjadi 35% dalam tahun 1981/1982 . esudah Lihat Becker. Economic Leverage, hal. PERANG EKONOMI masuk embargo jasa penerbangan. 20 Boikot bahkan dapat dan tampaknya juga disalahgunakan dalam kasus Afrika Selatan, sebagai selubung proteksioA Tentu saja salah untuk menganggap bahwa biaya boikot dipikul sematamata oleh negara sasaran. Penghentian impor tidak selalu berarti berkat walaupun kelompok kepentingan yang menggunakan tameng nasionalisme sering mengatakan demikian. Amerika Serikat dan Eropa Barat tidak memA boikot AoAobahan-bahan strategikAy Afrika Selatan21 karena boikot seperti itu akan menghantam industri-industri penting pemboikot sendiri, termasuk inA dustri kapal terbang kecuali kalau negara-negara ini bersedia mengimpor bahan-bahan tersebut dari Uni Soviet. Dengan kata lain, pemboikotan pun tidak semudah seperti membaliktangan. Bahkan negara-negara sekitar Afrika Selatan pun dipaksa oleh kenyataan-kenyataan ekonomiknya untuk tetap berhati-hati dalam mengenaA kan sanksi atas Afrika Selatan. Apa yang dilakukan oleh banyak negara melalui boikot atas Afrika Selatan lebih banyak adalah pekerjaan humas dalam arti memberi sedikit bukti bagi politik anti-apartheid mereka daripada menimbulkan kerusakan yang berarti pada ekonomi Afrika Selatan. Botha juga menyadari bahwa boikot oleh negara-negara lain belum akan menimpa bahan-bahan strategik yang justru membentuk tulang-punggung ekonomi Afrika Selatan. Singkatnya, dalam banyak hal boikot memang lebih mudah daripada embargo untuk diumumkan oleh negara pemrakarsa, tetapi dalam beberapa hai. ia juga dihindari karena biaya yang prohibitif. Suatu negara yang sudah mengembargo dan memboikot - gabungan kedua perlengkapan ini dapat disebut sebagai isolasi - negara sasaran dapat mempergencar serangannya melalui apa yang dikenal sebagai AoAopendaftarhitamanAy . lack-listin. Negara-negara Arab yang berusaha mempengaruhi keputusan politik Israel melalui perang ekonomik misalnya dapat memperA besar kerusakan ekonomik Israel dengan mendaftarhitamkan atau menyisihA 2(,Dewasa ini perang ekonomik yang bertujuan menghapus apartheid Afrika Selatan sudah bersifat global menurut keikutsertaan negara-negara walaupun masih tetap dan tampaknya akan tetap selektif menurut sasaran-sasarannya. Yang diboikot oleh Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa misalnya adalah besi dan baja, dan hasil tekstil yang tidak menyentuh AoAotulang punggungAy ekonomi Afrika Selatan yang tampaknya terletak dalam emas dan berlian yang justru tidak terkena boikot. Bagi yang ingin mempelajari perang ekonomik kasus ini adalah yang sangat Lihat misalnya buku yang deskriptif dan non-emosional dari J. Hayes. Economic EfA fects of Sanctions on Southern Africa (London: Trade Policy Research Centre, 1. 21 Ke dalam material strategik termasuk chrom, cobalt, mangan dan kelompok platinium yang banyak dipergunakan dalam industri kendaraan bermotor. Mereka disebut strategik antara lain justru karena perdagangan dunianya didominasi oleh satu atau dua negara saja, dalam hal ini Afrika Selatan dan Uni Soviet. Yang berminat lihat United States Office of Technology AssessA ment. Strategic Materials: Technologies to Reduce US Import Vulnerability (Washington. ANALISA 1987-12 kan di negara pemrakarsa perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungA an bisnis dengan Israel. Pendaftarhitaman dapat bersifat umum, tetapi juga dapat selektif. Masih banyak perlengkapan perang ekonomik yang dapat dipilih oleh suatu negara pemrakarsa. Ekonomi negara sasaran dapat dilemahkan oleh tindakan-tindakan yang menaikkan harga bahan-bahan impor penting negara sasaran sedemikian hingga arus barang ke negara sasaran berhenti atau mengalir dengan menguras devisanya. Pendekatan ini dikenal sebagai preempA tive buying . engurasan pasa. yang tentu mensyaratkan ketersediaan devisa di pihak pemrakarsa. Sebaliknya, ketergantungan suatu negara sasaran pada ekspor barang tertentu dapat juga dieksploitasi melalui pelepasan cadangan yang sudah ditimbun sebelumnya. Pendekatan ini dapat disebut AoAopembanjiran pasarAy yang juga mensyaratkan ketersediaan dana bagi penimbunan perseA Tentu saja berbagai perlengkapan perang ekonomik dapat digunakan Dan memang, perang ekonomik juga kiranya tunduk pada zweite wechselwirkung yang disebut oleh von Clausewitz, yaitu pengaruh timbalbalik yang mendorong penggunaan perlengkapan yang terdahsyat. SeandaiA nya Amerika Serikat sungguh-sungguh menganggap sangat penting pelemahA an ekonomi Uni Soviet melalui perang ekonomik, maka denial misalnya cenderung akan bersifat total. FAKTOR-FAKTOR DI BALIK KEGAGALAN Adalah sangat susah mencari kasus-kasus perang ekonomik yang dapat dianggap sebagai contoh yang baik dari keberhasilan pengejaran tujuan politik dengan menggunakan perlengkapan ekonomik. Walaupun Yugoslavia akhir tahun 1940-an sangat tergantung pada Uni Soviet, sanksi yang dikenaA kan oleh negara-negara komunis terhadapnya bukan saja tidak berhasil memaksa Tito untuk mengakui dominasi Uni Soviet tetapi malahan sebaliknya melahirkan tipe baru sosialisme riil, yaitu workersAo self-management yang dirancang dan dipropagandakan oleh Milovan Djilas dan Eduard Kardelj sebagai perwujudan AoAokoperasi produsenAy Karl Marx, yaitu yang justru bertentangan dengan ekonomi Stalinis yang di samping sentralistis juga tidak memberi tempat terhormat pada buruh. Blokade oleh Amerika Serikat juga tidak berhasil membalik sejarah Kuba. Gula Kuba ternyata juga manis di luar Amerika Serikat, yaitu negara-negara Meskipun hampir semua bangsa sudah mengenakan satu atau beberapa sanksi ekonomik atas Afrika Selatan, apartheid masih hidup dan* 22Lihat Christopher Prout. Market Socialism in Yugoslavia (New York: Oxford University Press, 1. , hal. PERANG EKONOMI Pemerintah Afrika Selatan belum menganggap perlu untuk mengakhirinya. Keberhasilan ASEAN untuk meyakinkan banyak negara tentang keperluan pengenaan sanksi ekonomi atas Vietnam23 dan kenyataan bahwa sejumlah bantuan yang sudah disetujui sekalipun ditangguhkan oleh negara atau badan tertentu ketika Vietnam menghadapi kekurangan sumber,24 tidak berhasil memaksa Vietnam untuk mengubah politik Kamboja-nya sesuai dengan yang dikehendaki ASEAN. Namun demikian, menurut Hufbauer dan Schott, 40% dari 99 kasus sanksi ekonomi antara 1914-1983 mencapai sasaran yang dikeA hendaki,25 walaupun metodologi yang digunakan meragukan. Penonjolan kasus-kasus kegagalan di atas sedikit banyak mengungkapkan ketidaksetujuan penulis terhadap pelanjutan perang dengan menggunakan perlengkapan ekonomik. Sebenarnya bukan pekerjaan mudah untuk menilai keefektifan prang ekonomik. Ada kalanya negara pemrakarsa tidak mengA umumkan secara jelas tujuan yang dikejarnya dengan perang ekonomik. Banyak perang ekonomik seperti sanksi ekonomik yang dikenakan oleh Australia atas Perancis sehubungan dengan tes nuklir di Pasifik Selatan atau boikot besi dan baja Afrika Selatan oleh banyak negara, sejak semula adalah lost case dan hanya mempunyai arti simbolik. Pendukung perang ekonomik selalu dapat mengatakan bahwa perang ekonomik tertentu akan mencapai sasarannya seandainya dilangsungkan lebih 28 Dan tentu saja mereka dapat mengatakan bahwa kegagalan sering terA jadi karena ketidakbulatan tekad negara pemrakarsa sehingga mengenakan senjata yang terlalu lemah dibanding dengan tujuan yang dikejar. 29 Argumen terakhir ini sekaligus juga berarti bahwa perang ekonomi pun mengandung 23Kalau dalam banyak kasus Amerika Serikat memaksa sekutunya mengenakan sanksi atas Uni Soviet, dalam kasus Vietnam adalah ASEAN yang mendesak Jepang. Australia. Masyarakat Eropa. Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia untuk mengenakan sanksi atas Vietnam. Lihat misalnya William Bach. AyA Change in Cambodia,Ay dalam Foreign Policy (Spring 1. : hal. 24Apa yang tidak diperoleh Vietnam dari Jepang dan negara-negara non-komunis lain ternyata diperolehnya dari Uni Soviet. Lihat misalnya Sheldon W. Simon. AoAoThe Indochina Imbraglio and External Interest,Ay dalam Australian Outlook. Vol. 37 (Agustus 1. : hal. 25Sebagaimana dikutip oleh J. Hayes, op. , hal. 26Lihat Hedley Bull. AoAoEconomic Sanctions and Foreign Policy,Ay dalam The World Economy. Vol. 7 (Juni 1. : hal. Dalam resensi ini tiga buku baru mengenai sanksi ekonomik dibahas dengan panjang-lebar. 27Ibid. , hal. 28Argumen ini misalnya digunakan oleh Alan Abouchar ketika mengritik keputusan Reagan mengakhiri embargo gandum atas Uni Soviet. Lihat tulisannya. AoAoThe Case for the US Grain EmA bargo,Ay dalam The World Today. Juli-Agustus 1981, hal. 29Ini adalah contoh penting dari kesulitan metodologis dalam pengiraan keefektifan perang Tentang ini lihat resensi yang disebut terdahulu dan Fernandez. Modelling Economic Leverage. ANALISA 1987-12 tekanan untuk. menggunakan senjata yang terdahsyat yang dapat memaksa negara sasaran untuk memulai perang militer sebagaimana blokade yang dikeA nakan Amerika Serikat adalah di antara faktor-faktor yang mendorong Jepang untuk menyerbu Pearl Harbour. Terlepas dari apakah di masa silam lebih banyak perang ekonomik yang gagal daripada yang berhasil, dalam dunia berteknologi tinggi sekarang di mana barang dan jasa dapat bergerak sangat cepat mengikuti perubahan konA disi pasar yang pada gilirannya tersiar secara cepat sekali ke segala penjuru, banyak faktor-faktor yang semakin membatasi A* keampuhan perang ekonomik. Pertama, setiap perang ekonomik menimbulkan biaya di negara pemrakarsa. Kalau itu embargo, yang terpukul paling dahulu adalah pengekspor, lalu tenaga kerja, dan tentu juga pemerintah. Kalau itu boikot, yang pertama merasakan biaya adalah pengimpor, lalu konsumen. Singkatnya, di dalam negeri sendiri pemrakarsa sudah harus menghadapi tentangan yang semakin keras, semakin besar biaya yang harus dipikul karena tujuan yang ambisius Apakah nasionalisme dapat diandalkan untuk mematahkan tenA tangan ini adalah pertanyaan yang sangat besar, lebih-lebih dalam negara di mana perumusan kebijakan sangat dipetigaruui oleh kelompok kepentingan. Kedua, dalam lingkungan seperti yang berlaku sekarang setiap negara mempunyai peluang yang baik untuk mempertahankan diri terhadap AoAoserA buanAy ekonomik atau sesedikitnya untuk mencegah kemenangan total bagi negara pemrakarsa. Mula-mula negara sasaran akan mengetatkan ikatpinggang. Tetapi dalam perjalanan waktu upaya-upaya swasembada dan substitusi akan mendatangkan hasil. Penguasaan karet alam melalui penduA dukan Asia Tenggara oleh Jepang misalnya sangat mendorong kemajuan dalam karet sintetik yang pada akhirnya menguasai bagian besar dari keseA luruhan pasar karet. 30 Hukum yang sama juga masih bekerja ketika OPEC berusaha mengeruk terlalu banyak dari pasar minyak yang oligopolistik. Dan daya kerja hukum ini bukannya melemah, melainkan menguat berkat kemajuA an teknologi yang memperbesar peluang-peluang substitusi. Karena itu, kemauan negara sasaran untuk menentang tuntutan pemrakarsa yang mengeA nakan sanksi ekonomi, cenderung membesar daripada mengecil. Ketiga, salah satu berkat interdependensi adalah kemudahan relatif bagi suatu negara yang menghadapi keadaan darurat untuk berpaling kepada negara lain. Kuba yang diblokade Amerika Serikat berpaling pada Uni Soviet. Yugoslavia yang diblokade negara-negara komunis berpaling pada negarawlni adalah contoh yang penting dari dampak bumerang perang ekonomik walaupun yang terkena bumerang tersebut dalam kasus ini bukan Jepang yang merupakan pemrakarsa, melainA kan negara-negara Asia Tenggara yang sudah merdeka. Contoh-contoh serupa dapat dilihat dalam Nathan Sosenberg. Inside the Black Box: Technology and Economics (Cambridge: CamA bridge University Press, 1. Lihat juga Djisman S. Simandjunlak. AoAoMembahas Drucker dalam Konteks Indonesia,Ay dalam Prisma (Februari 1. : hal. PERANG EKONOMI negara lain. Vietnam yang dihadapkan pada embargo kredit dunia Barat berA paling ke Uni Soviet. dan Uni Soviet yang menghadapi embargo gandum Amerika Serikat berpaling pada sekutu atau sahabat Amerika Serikat, terutama Argentina. Australia dan Masyarakat Eropa. Memang kepentingan ekonomi memainkan peran yang penting sekali dalam hubungan ini. Embargo oleh negara tertentu pada umumnya akan dilihat oleh pengekspor lain sebagai kesempatan emas untuk mendapat pasar yang lukratif. Hal serupa juga berlaku bagi boikot. Singkatnya, tidak ada negara yang samasekali tidak tergantikan dalam hubungan ekonomi. Eropa Barat sekalipun tidak dapat dipaksa oleh Amerika Serikat untuk mendukung setiap perang ekonomik yang dilancarkannya. Bukan hanya satu dua kali saja hubungan Amerika Serikat dengan sekutunya menjadi tegang karena kegigihA an Eropa Barat menentang perang ekonomi yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap negara-negara komunis seperti digarisbawahi oleh Karlsson dalam bukunya yang dikutip di depan. Akhirnya, berbeda dengan banyak jenderal yang cenderung menganut garis keras terhadap musuhnya, ekonom pada umumnya tidak simpatik dengan perang ekonomik. Tetapi di luar ekonom pun kiranya sudah semakin sulit mencari orang-orang yang percaya pada perang ekonomik. EKSTERNALITAS BURUK Daftar faktor-faktor yang memperlemah keampuhan ekonomik masih dapat diperpanjang. Faktor-faktor itu diketahui oleh kebanyakan pembuat keputusan di negara pemrakarsa maupun negara sasaran sebagaimana mereka dan para jenderal mengetahui bahwa perang militer tidak mengubah sikap politik rezim yang diperangi. Namun demikian, perang ekonomik tetap saja terjadi, apakah untuk memuaskan kebutuhan pemerintah akan perbuatan tertentu31 ataukah untuk memenuhi tuntutan kelompok kepentingan yang mungkin saja kecil, tetapi ditakuti oleh politisi. Padahal, setiap perang memA punyai eksternalitas buruk di samping dampak langsung yang mungkin tidak terasa di kantor departemen luar negeri tetapi dapat sangat terasa di kantor departemen sosial dan tenaga kerja suatu bangsa. Salah satu eksternalitas terburuk dari perang ekonomik adalah pengejaran swasembada yang di banyak negara dewasa ini praktis adalah buta biaya, walaupun harus digarisbawahi bahwa pertimbangan keamanan hanya satu di antara banyak alasan pengejaran swasembada. Sangat jelas tampak ira31 Perang suatu bangsa dalam porsi besar terkadang adalah perang pemimpinnya. Bagaimana ambisi pribadi, filsafat hidup pribadi, kompleks superioritas dapat berpengaruh besar atas jalanA nya perang dapat dilihat dalam Christopher Thorne. Allies of a Kind: The United States. Britain and the War against Japan, 1941-1945 (London: Hamish Hamilton, 1. ANALISA 1987-12 sionalitas itu dewasa ini di sektor pangan. Setiap negara yang mempunyai timA bunan modal dan pengetahuan memproduksi surplus yang semakin besar dan berbiaya semakin tinggi. Kemudian dengan subsidi, surplus ini diobral di pasar dunia dengan akibat bahwa negara yang miskin modal dan teknologi semakin tidak berdaya dalam penyediaan pangannya walaupun biaya satuan bisa lebih rendah dari biaya satuan di negara yang padat modal dan pengetahuan, di samping kehilangan pasar ekspor yang juga dibanjiri oleh pangan obralan. 32 Ternyata daftar barang atau jasa yang mempunyai nilai strategik memanjang dalam perjalanan waktu. Ke dalamnya kini sudah terA masuk besi dan baja, tekstil, semen, kapal dan seterusnya. Perpanjangan ini tidak mengherankan karena yang berminat dapat saja mengumpulkan argumen untuk mengatakan bahwa kancing di seragam serdadu tanpa mana sang serdadu tidak dapat berlari ke pertempuran, adalah sestrategik seperti AoAoSenjata makan tuanAy adalah sangat lumrah dalam perang ekonomik. Tetapi tidak hanya itu. Negara ketiga juga dapat menderita akibat perang ekonomik sebagaimana negara-negara sekeliling Afrika Selatan pasti menderiA ta akibat sanksi-sanksi yang dikenakan oleh banyak negara atas Afrika SelaA Negara sasaran sendiri mungkin saja juga menderita. Tetapi kerugiannya pada umumnya adalah terlalu kecil untuk mengubah keputusan politik seperti yang dikehendaki negara pemrakarsa. Itu berarti bahwa perang ekonomik menimbulkan dead-weight loss yang pasti juga diketahui oleh pemerintah negara pemrakarsa. Bahwa perang ekonomik tetap dilancarkan, adalah ungkapan ketidakberdayaan. Sayangnya, tidak ada alasan kuat untuk mengharapkan bahwa pemimpin-pemimpin dunia akan semakin bijaksana dalam menghadapi musuhnya. Bagaimanapun mahalnya dan bagaimanapun tidak efektifnya, perlengkapan ekonomik akan tetap digunakan untuk menA coba mendikte bangsa musuh. 32Bantuan pangan adalah unsur yang sangat tradisional dari AoAostrategi benefaction,Ay yaitu strategi untuk mempengaruhi keputusan politik bangsa lain melalui pemberian kemanfaatan Tetapi bantuan seperti ini yang sering disediakan dengan harga nol menghambat proA duksi lokal.