Gorontalo Development Review https://jurnal. id/index. php/gdrev Vol 8. No 2. Oktober Tahun 2025 P-ISSN : 2614-5170. E- ISSN :2615-1375 Nationally Accredited Journal. Decree No. 225/E/KPT/2022 Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi. Investasi. Dan Pendidikan Terhadap Ketimpangan Pendapatan Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Economic Growth. Investment, and Education Influences on Income Inequality in Yogyakarta Ninda Ayu Wigi Trisnaningrum1. Wiwin Priana Primandhana2 1,2 Program Studi Ekonomi Pembangunan/Fakultas Ekonomi dan Bisnis/Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur Email: 21011010024@upnjatim. Article info Article history: Received. 03-08-2025 Revised. 18-09-2025 Accepted. 04-10-2025 Keywords: Average Years of School. Economic Growth. Investment. Abstract. This study examined the factors influencing income inequality in the Special Region of Yogyakarta, specifically looking at economic growth, investment, and the average years of The results indicate that while economic growth has no significant effect, investment plays a crucial role in reducing income inequality. Interestingly, the average years of schooling was found to be positively and significantly correlated with income inequality, suggesting that higher education levels may be widening the income inequality. Abstrak. Studi ini meneliti faktor-faktor yang memengaruhi ketidaksetaraan pendapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara khusus, penelitian ini melihat pertumbuhan ekonomi, investasi, dan rata-rata lama sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak memiliki efek signifikan, tetapi investasi memainkan peran penting dalam mengurangi ketidaksetaraan pendapatan. Menariknya, rata-rata lama sekolah ditemukan berkorelasi positif dan signifikan dengan ketidaksetaraan pendapatan, menyiratkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi justru dapat memperlebar kesenjangan pendapatan. Coresponden author: Email: 21011010024@upnjatim. Pendahuluan Ketimpangan pendapatan adalah masalah yang dihadapi hampir semua negara di dunia. Isu ini mencerminkan adanya ketidakmerataan dalam proses distribusi pendapatan nasional, dimana sebagian besar pendapatan hanya dirasakan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat. Ketimpangan yang tinggi bisa memunculkan hambatan terhadap pencapaian pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif (Anderson, 2. Menurut Todaro dan Smith, ketimpangan pendapatan terjadi ketika 20% penduduk terkaya memperoleh proporsi pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan 40% kelompok penduduk termiskin (Todaro & Smith, 2. Ketimpangan pendapatan yang tinggi akan mengakibatkan peningkatan angka kemiskinan, terutama di negara-negara berpendapatan menengah (Todaro & Smith, 2. Dengan melihat bagaimana dampaknya, maka ketimpangan pendapatan telah ditetapkan oleh World Economic Forum sebagai risiko global yang harus diwaspadai (Forum, 2. Negara-negara berkembang secara umum cenderung lebih rentan terhadap dapak ketimpangan pendapatan. Hal ini disebabkan oleh struktur ekonomi yang belum sepenuhnya inklusif, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan dasar, serta lemahnya perlindungan sosial bagi kelompok rentan (United Nations Development Programme, 2. Salah satu prioritas utama dalam SDGs 10 adalah mengurangi kesenjangan Tujuannya adalah memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan rentan, bisa merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi secara adil dan merata (Innovillage, 2. Dengan demikian, ketimpangan pendapatan tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif (Candrawati & Nugroho, 2. Dalam mengukur derajat ketimpangan pendapatan, salah satu indikator yang paling luas digunakan di tingkat internasional adalah Indeks Gini (Todaro. Indeks ini menggambarkan sejauh mana distribusi pendapatan dalam suatu negara atau wilayah menyimpang dari distribusi yang merata. Nilai Gini berada di antara 0-1 . tau 0 sampai 100 jika dalam perse. , di mana nilai 0 menunjukkan pemerataan sempurna . etiap orang punya pendapatan sam. , sedangkan nilai 1 menunjukkan bahwa ada ketimpangan sempurna . eluruh pendapatan hanya dimiliki oleh satu individu (Todaro & Smith, 2. Sebagai salah satu negara berkembang. Indonesia juga dihadapkan dengan ketimpangan pendapatan yang menjadi tantangan struktural dalam jangka panjang. Beberapa wilayah menunjukkan tingkat ketimpangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, meskipun berada dalam satu sistem ekonomi nasional yang sama. Salah satu wilayah yang konsisten mencatatkan ketimpangan tertinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selama lebih dari satu dekade terakhir, provinsi ini menempati posisi dengan Rasio Gini tertinggi secara nasional. Ketimpangan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan struktur ekonomi antarwilayah, tetapi juga oleh faktor lain seperti konsentrasi investasi yang lebih terpusat di perkotaan serta kesenjangan kualitas pendidikan antar kabupaten/kota. Kondisi ini menyebabkan sebagian wilayah berkembang pesat, sementara wilayah lain tertinggal. Beberapa penelitian sebelumnya juga telah mencoba menjelaskan faktor penyebab ketimpangan, baik pada level nasional, regional, maupun daerah spesifik. Pada level nasional, (Maorencia & Marwan, 2. meneliti pengaruh pertumbuhan ekonomi, investasi, dan Indeks Pembangunan Manusia terhadap ketimpangan di Indonesia dan menunjukkan bahwa kualitas pembangunan manusia memainkan peran penting dalam mereduksi kesenjangan. Pada lingkup regional, meneliti Pulau Jawa dan menekankan bahwa ketimpangan di wilayah ini erat kaitannya dengan (Zusanti et al. , 2. kualitas sumber daya manusia dan kondisi pasar tenaga kerja. Sementara itu, penelitian (Faranisa et al. , 2. yang berfokus pada Daerah Istimewa Yogyakarta menemukan bahwa disparitas investasi serta perbedaan capaian pendidikan antarwilayah turut memperbesar ketimpangan. Namun, penelitian tersebut belum mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi sebagai variabel analisis. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menguji secara simultan pengaruh pertumbuhan ekonomi, investasi, dan rata-rata lama sekolah terhadap ketimpangan pendapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, investasi, dan rata-rata lama sekolah terhadap ketimpangan pendapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hipotesis yang diajukan adalah ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh terhadap ketimpangan pendapatan di wilayah tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode 2015Ae2024, sehingga total data yang dianalisis adalah 50 observasi. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan jenis Data Panel, yaitu kombinasi dari data runtut waktu . aktu ke wakt. dan data silang . ntar-wilaya. Ada tiga model yang bisa dipilih dalam regresi data panel: Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Sebelum melakukan analisis regresi, dilakukan serangkaian uji untuk menentukan model mana yang paling tepat, seperti Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji LM, sesuai dengan panduan (Ghozali, 2. Variabel Gini Rasio (Y) Pertumbuhan Ekonomi (X. Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Deskripsi Sumber Merupakan sebuah alat ukur Badan Pusat yang menunjukkan seberapa Statistik merata pendapatan di suatu Angkanya antara 0 sampai 1. Jika angkanya mendekati 0, itu berarti distribusi merata, hampir semua orang memiliki bagian yang setara. Sebaliknya, sehingga sebagian kecil orang memiliki pendapatan jauh lebih penduduk lainnya. Didefinisikan sebagai persentase Badan Pusat perubahan tahunan dari Produk Statistik Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan. PDRB sendiri adalah total nilai semua barang dan jasa yang dihasilkan Satuan Rasio . Persentase (%) Variabel Deskripsi dari seluruh kegiatan ekonomi di wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu. Investasi (X. Didefinisikan sebagai jumlah total penanaman modal yang terbentuk dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Investasi adalah kegiatan menanamkan modal untuk mendirikan usaha di suatu wilayah, baik oleh penanam modal dari dalam maupun luar Rata-Rata Menggambarkan rata-rata total Lama Sekolah tahun yang telah dijalani oleh (X. penduduk usia 25 tahun ke atas dalam mengikuti pendidikan Indikator digunakan untuk menilai tingkat pendidikan penduduk di suatu Sumber Satuan Badan Pusat Statistik Rupiah Badan Pusat Statistik Tahun Hasil Dan Pembahasan Hasil Pemilihan Model Terbaik Uji Chow Tabel 2. Hasil Uji Chow Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square Sumber: E-Views 13. Data Diolah Prob. Berdasarkan hasil Uji Chow, nilai probabilitas pada Cross section Chi-square 299 yang berada di bawah tingkat signifikansi 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, model yang terbaik adalah Fixed Effect Model dibandingkan dengan Common Effect Model. Uji Hausman Tabel 3. Hasil Uji Hausman Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. f Prob. Cross-section random 9. Sumber: E-Views 13. Data Diolah Berdasarkan hasil uji Hausman, nilai probabilitas Cross-section random sebesar 0, 0687 (<0,. , artinya bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa Random Effect Model lebih tepat apabila dibandingkan dengan Fixed Effect Model yang digunakan dalam analisis data panel. Uji Asumsi Klasik Uji Multikoloinearitas Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas Sumber: E-Views 13. Data Diolah Berdasarkan hasil uji multikolinearitas, menunjukkan jika dari tiga variabel independen yang digunakan dalam analisis menunjukkan apabila koefisien korelasi antarvariabel bebas <0,9 artinya tidak terjadi multikolinearitas di tiap variabel Uji Hetetokedasitas Tabel 5. Hasil Uji Heterokedastisitas Prob. Sumber: E-Views 13. Data Diolah Berdasarkan hasil uji Glejser, indikasi adanya heteroskedastisitas dapat diketahui melalui nilai probabilitas. Apabila nilai probabilitas >0,05, maka model regresi tidak mengalami gejala heteroskedastisitas. Persamaan Regresi Data Panel Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. 82E-15 61E-15 Sumber: E-Views 13. Data Diolah Dari hasil analisis regresi maka model persamaan regresi linier berganda yang didapat yaitu: Y = 0. 000611*X1 - 7. 82E-15*X2 0. 028201*X3 e Keterangan: : Ketimpangan Pendapatan : Pertumbuhan Ekonomi : Investasi : Rata-Rata Lama Sekolah : error term Sehingga dari persamaan regresi dapat dijelaskan: Konstanta = 0, 143241 Menunjukkan bahwa jika semua variabel independen bernilai nol, rasio Gini rata-rata di DIY adalah sekitar 0,143. Nilai ini memberikan gambaran awal mengenai tingkat ketimpangan yang ada sebelum memasukkan pengaruh variabel lain. Meskipun dalam praktik nilai semua variabel independen sama dengan nol tidak realistis, intercept tetap menjadi referensi untuk memahami dasar model. Pertumbuhan Ekonomi (PE, koefisien = -0. Memiliki tanda negatif, yang menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi sedikit menurunkan ketimpangan pendapatan. Efeknya relatif kecil, sehingga pertumbuhan ekonomi di DIY selama periode 2015Ae2024 hanya memberikan kontribusi minor terhadap penurunan rasio Gini. Investasi (Investasi, koefisien OO -7. 82 y 10. Memiliki nilai yang nyaris nol. Hal ini mengindikasikan bahwa investasi, baik domestik maupun asing, tidak memiliki pengaruh nyata pada ketimpangan pendapatan di kabupaten/kota DIY selama periode tersebut. Rata-rata Lama Sekolah (RLS, koefisien = 0. Memiliki tanda positif, yang menunjukkan bahwa peningkatan lama sekolah rata-rata berkorelasi dengan peningkatan rasio Gini. Artinya, meskipun pendidikan meningkat, manfaatnya belum tersebar merata di seluruh kabupaten/kota. Uji Hipotesis Uji Koefisien Determinasi Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi R-squared Adjusted R-squared of regression Sumber: E-Views 13. Data Diolah Berdasarkan hasil pengelolaan data yang tercantum pada tabel 12, nilai Adjusted R-squared diperoleh nilai 0. Nilai ini menunjukkan jika variabel independen yang tersusun dari pertumbuhan ekonomi. PMA dan PMDN, serta ratarata lama sekolah mempu menjelaskan variabel dependen, yakni ketimpangan pendapatan sebesar 75,51%. Sementara itu, sisanya sebesar 24,49% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar variabel penelitian. Uji Simultan Tabel 8. Hasil Uji F F-statistic Prob (F-statisti. Sumber: E-Views 13. Data Diolah Berdasarkan hasil uji F, diperoleh Fhitung sebesar 51. Sementara itu, nilai Ftabel ditentukan berdasarkan derajat kebebasan df1= k=3 dan df2 = n-k = 503-1 = 46, dengan tingkat signifikansi 0,05. Berdasarkan tabel distribusi F, diketahui bahwa nilai Ftabel yaitu 2,80. Uji Parsial Tabel 9. Hasil Uji T Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. 82E-15 61E-15 Sumber: E-Views 13. Data Diolah Merujuk pada hasil dari uji t yang disajikan dalam tabel , diperoleh nilai probabilitas untuk tiap variabel dalam penelitian sebagai berikut: Pengaruh secara parsial antara Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Pendapatan Pertumbuhan ekonomi. Variabel ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Dengan koefisien sebesar 0,000611 dan nilai probabilitas 0,5611 (>0,. , dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi, baik naik maupun turun, tidak secara langsung memengaruhi rasio Gini di kabupaten/kota DIY. Investasi terbukti memiliki pengaruh signifikan dalam mengurangi ketimpangan pendapatan. Koefisiennya adalah -7,82y10a dengan nilai probabilitas 0,0044 (<0,. Tanda negatif ini menunjukkan bahwa semakin tinggi investasi, semakin kecil ketimpangan pendapatan, meskipun dampaknya secara matematis sangat kecil. Rata-rata lama sekolah memiliki pengaruh signifikan yang justru meningkatkan ketimpangan pendapatan. Koefisiennya positif sebesar 0,028201 dengan nilai probabilitas 0,0000 (<0,. Hal ini menyiratkan bahwa peningkatan tingkat pendidikan ternyata tidak dinikmati secara merata oleh semua kalangan, sehingga justru memperlebar jurang pendapatan. Pembahasan Secara keseluruhan. Pertumbuhan Ekonomi. Investasi, dan Rata-rata Lama Sekolah terbukti punya pengaruh pada ketimpangan pendapatan di Provinsi DIY selama periode 2015Ae2024. Namun, ketika dilihat satu per satu, pengaruh setiap variabel berbeda. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pendapatan Secara teori, pertumbuhan ekonomi diharapkan meningkatkan kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja dan akumulasi modal (Harrod-Doma. serta dalam jangka panjang mampu menurunkan ketimpangan . ipotesis Kuznet. Namun, hasil penelitian menunjukkan pengaruh pertumbuhan ekonomi tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan jika pertumbuhan ekonomi di DIY belum inklusif, karena lebih terkonsentrasi di Sleman dan Kota Yogyakarta. Ketimpangan tetap terjadi akibat distribusi manfaat pertumbuhan yang tidak merata antarwilayah. Temuan ini menunjukkan adanya fenomena pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif. Artinya, meskipun kue ekonomi membesar, pembagiannya tidak merata. Peningkatan pertumbuhan ekonomi sering kali hanya terkonsentrasi di pusat-pusat bisnis dan pariwisata seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Akibatnya, daerah lain yang kurang berkembang tidak ikut merasakan manfaatnya, dan jurang pendapatan antarwilayah tetap lebar. Ini menegaskan bahwa pertumbuhan saja tidak cukup. pemerintah perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi didistribusikan secara adil ke seluruh wilayah agar tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Temuan ini sama dengan hasil penelitian (Rifki, 2. yang didapat hasil bahwa pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah di Indonesia khususnya Provinsi DIY tidak selalu berimplikasi pada penurunan ketimpangan pendapatan. Faktor distribusi sumber daya, akses pendidikan, dan konsentrasi investasi mempengaruhi sejauh mana pertumbuhan ekonomi mampu merata di masyarakat. Investasi dan Ketimpangan Pendapatan Teori pertumbuhan endogen (Rome. menekankan pentingnya investasi dalam mendorong produktivitas dan pemerataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Artinya, semakin banyak investasi masuk, baik dari dalam maupun luar negeri, ketimpangan pendapatan cenderung menurun. Hal ini sejalan dengan teori pertumbuhan modern yang menekankan peran investasi dalam menciptakan lapangan kerja dan memajukan sektor produktif. Meskipun banyak investasi terkonsentrasi di daerah-daerah maju, efeknya terasa hingga ke wilayah lain. Investasi ini memicu penciptaan lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang memberikan kesempatan lebih banyak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, investasi adalah salah satu kunci penting untuk mendorong pemerataan ekonomi dan mengurangi kesenjangan pendapatan. Penelitian terdahulu juga mendukung temuan ini. (Aga & Rifki, 2. menemukan bahwa investasi berkontribusi dalam pemerataan pendapatan di tingkat regional melalui penciptaan lapangan kerja lokal, pengembangan industri kecil, dan peningkatan kapasitas ekonomi daerah. Rata-Rata Lama Sekolah dan Ketimpangan Pendapatan Menurut teori Human Capital (Becke. , pendidikan meningkatkan produktivitas dan pendapatan individu sehingga seharusnya menurunkan Namun, penelitian ini menunjukkan hasil berbeda yakni Ratarata Lama Sekolah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Artinya, semakin tinggi rata-rata pendidikan, semakin besar ketimpangan pendapatan. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh disparitas akses dan kualitas pendidikan. Di DIY, akses terhadap sekolah-sekolah berkualitas tinggi dan universitas unggulan cenderung terpusat di perkotaan. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di perkotaan atau memiliki sumber daya lebih mudah mendapatkan pendidikan yang lebih baik, sehingga mereka memiliki peluang kerja dan pendapatan yang jauh lebih tinggi. Sementara itu, mereka yang berada di daerah pinggiran dengan akses pendidikan terbatas tidak dapat bersaing, dan akhirnya terjebak dalam pekerjaan dengan upah rendah. Hal ini menciptakan siklus ketidaksetaraan, di mana pendidikan yang seharusnya menjadi alat untuk mobilitas sosial justru memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk memastikan bahwa pendidikan berkualitas bisa diakses oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Penelitian dengan hasil yang serupa oleh (Ike & Rendra, 2. menegaskan bahwa peningkatan pendidikan yang tidak disertai pemerataan akses akan memperkuat ketimpangan, karena kelompok yang sudah berpendidikan tinggi cenderung lebih cepat mendapatkan manfaat ekonomi dibandingkan kelompok dengan akses pendidikan terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pengurangan ketimpangan di DIY tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, melainkan perlu kebijakan distribusi investasi dan pemerataan akses pendidikan. Dengan demikian, peran pemerintah daerah menjadi krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan, investasi, dan pendidikan dapat berfungsi sebagai instrumen pemerataan Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Sesuai dengan hasil analisis, didapat kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif terhadap ketimpangan pendapatan namun tidak signifikan, sehingga manfaat pertumbuhan masih terkonsentrasi di wilayah Investasi memiliki penngaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan, mencerminkan bahwa peningkatan investasi mampu menekan kesenjangan melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan sektor Sementara itu, rata-rata lama sekolah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan, menandakan bahwa distribusi manfaat dari pendidikan yang tidak merata antarwilayah justru memperlebar kesenjangan Temuan ini menyoroti bahwa ketidakmerataan akses dan kualitas pendidikan antarwilayah justru memperlebar jurang pendapatan, alih-alih Secara keseluruhan, temuan ini menekankan bahwa ketidaksetaraan di DIY tidak dapat diatasi hanya dengan mengandalkan pertumbuhan, melainkan memerlukan kebijakan yang lebih terarah pada distribusi manfaat ekonomi secara adil. Saran Untuk mengatasi ketimpangan pendapatan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah daerah perlu mengambil langkah strategis. Pertama, pemerintah harus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan sektor produktif di wilayah yang masih tertinggal, bukan hanya terpusat di perkotaan. Kedua, optimalisasi investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, harus diarahkan agar tersebar ke seluruh kabupaten/kota dan berfokus pada sektor padat karya untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak. Terakhir, pendidikan harus ditingkatkan tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga pemerataan akses dan kualitasnya di seluruh wilayah, serta menjamin keterkaitan antara pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja agar lulusan mudah diserap. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menambahkan variabel lain seperti distribusi sektor ekonomi, layanan kesehatan, kebijakan fiskal, atau infrastruktur agar pemahaman mengenai faktor-faktor ketimpangan di DIY menjadi lebih komprehensif. Daftar Pustaka