Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN PLEBITIS DI RUANG MARWAH RSU HAJI SURABAYA (Factors Affecting The Plebitis Events In The Marwah Room Of Haji Hospital Surabay. Sukadiono1. Ika Novianti2. Musrifatul Uliyah3. Dede Nasrullah4 Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surabaya Program Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya Program Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya Program Studi Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya Submitted : September 2018 Accepted : Januari 2019 Published : Januari 2019 ABSTRACT Intravenous therapy is the installation of an invasive device into a vein during a patient undergoing treatment in the hospital. One of the complications of intravenous therapy 5% - 70% is the incidence of plebitis. The incidence of plebitis in government hospitals is 50. In Haji Hospital Surabaya, the incidence of plebitis is a problem in patients who receive intravenous therapy in the hospital. The purpose of this study is to analyze the existence of factors that influence the incidence of plebitis. Methods: this study uses analytic design that is observational. The population was all patients who received intravenous therapy in the Marwah Room of the Hajj Hospital Surabaya. The sample of the research by probabability sampling is simple random sampling design with 82 respondents. Research variables include age, location of installation, type of fluid and duration of infusion. The instruments used were interviews and document studies. Data analysis using Linear Regression test with R Square = 0. 3 and significance significance = 0. Result & Discussion: The results of the study of age . , and the type of infusion fluid . had no influence on the incidence of plebitis, whereas the location of infusion . , and the length of day of infusion . influenced the incidence of plebitis. Conclusions from the study of the location of the installation factors and the duration of infusion installation affect the incidence of plebitis. Thus it is necessary to hold training related to how to prevent plebitis. Keywords : Plebitis, infusion, location of infusion. Correspondance to : sukadiono1912@gmail. ABSTRAK Terapi intravena merupakan pemasangan alat invasif kedalam pembuluh darah selama pasien menjalani masa perawatan dirumah sakit. Salah satu komplikasi dari terapi intravena 5% - 70 % adalah kejadian Kejadian plebitis di rumah sakit pemerintah sebesar 50,11%. Di RSU Haji Surabaya kejadian plebitis adalah masalah pada pasien yang mendapatkan terapi intravena di rawat inap. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisa adanya faktor-faktor yang memengaruhi kejadian plebitis. Metode penelitian ini menggunakan desain analitik yang bersifat observasional. Populasi adalah semua pasien yang mendapatkan terapi intravena di Ruang Marwah RSU Haji Surabaya. Sample penelitian secara probabability sampling desain simple random sampling sejumlah 82 responden. Variabel penelitian meliputi usia, lokasi pemasangan, jenis cairan dan lama pemasangan infus. Instrumen yang digunakan berupa wawancara dan studi dokumen. Analisis data menggunakan uji Regresi Linier dengan R Square = 0. 3 dan signifikasi kemaknaan =0,05. Hasil penelitian faktor usia didapatkan . , dan faktor jenis cairan infus . tidak terdapat pengaruh terhadap kejadian plebitis faktor lokasi pemasangan infus . , dan faktor lama hari pemasangan infus . Faktor yang paling signifikan memengaruhi kejadian phlebitis yaitu lokasi pemasangan infus dan lama pemasangan infus dengan <0,05. Kesimpulan dari penelitian faktor Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 lokasi pemasangan dan faktor lama pemasangan infus. Dengan demikian perlu diadakan pelatihan yang berkaitan cara pencegahan plebitis. Kata kunci: Plebitis, cairan infus,lokasi pemasangan infus Korespondensi : sukadiono1912@gmail. PENDAHULUAN mencerminkan kualitas, citra, peran, fungsi, pelayanan kesehatan dan keperawatan di rumah sakit tersebut. Kualitas pelayanan menjamin keselamatan pasien selama menjalani masa perawatan dirumah sakit, sehingga segala bentuk upaya, tindakan, proses, pengobatan dan perawatan kesehatan perlu mendapatkan perhatian khusus. Berdasarkan studi pendahuluan angka kejadian plebitis di RSU Haji Surabaya mulai tahun 2016 hingga tahun 2018 terus mengalami penurunan hingga 5,29A. Angka kejadian plebitis tersebut masih sesuai dengan standar yaitu (<16A), namun masih terdapat ruang rawat inap yang belum sesuai dengan standar yaitu Al-Aqsha 5 . ,05A) dan shofa 3 . ,31A). RSU Haji Surabaya memiliki 20 ruang rawat inap dengan angka kejadian plebitis pada Tahun 2018 paling tinggi yaitu pada ruang rawat inap Marwah 3 . Marwah 1 . Kejadia. dan Marwah 2 . , dimana ruang rawat inap Marwah memiliki jumlah pasien yang terpasang alat intravena lebih banyak dibandingkan dengan ruangan lainnya. Penelitian Christian Komaling, dkk . diketahui bahwa dari total 21 responden yang lama pemasangan infus lebih dari 72 jam (Ou 3 har. , 16 responden . ,6%) mengalami plebitis, sedangkan 5 responden . ,6%) tidak mengalami plebitis. Sedangkan dari 37 responden yang dipasangi infus 48 Ae 72 jam (O 3 har. , 4 responden . ,9%) mengalami plebitis, sedangkan 33 responden . ,9%) tidak mengalami plebitis (Komaling, 2. Menurut penelitian sebelumnya tahun 2013 oleh Yasir Haskas di Makasar menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis infus, pemasangan infus, dan lama infus terpasang dengan kejadian plebitis. Pasien yang dirawat di rumah sakit, hampir 90-95% mendapatkan terapi intravena atau biasa disebut dengan terapi infus. Tujuan pemberian terapi intravena antara lain untuk mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk pemberian obat intravena dan membantu pemberian nutrisi parenteral (Hidayat,2. Pasien yang mendapatkan terapi intravena dalam jangka panjang berisiko tinggi terinfeksi, plebitis dan ekstravasasi Plebitis ditandai dengan adanya nyeri, kemerahan, teraba lunak, pembengkakan, dan rasa hangat pada lokasi penusukan (Wallis. Plebitis dapat menyebabkan trombus mendadak . rombus terlepas kemudian diangkut oleh aliran darah keseluruh tubuh sehingga menimbulkan katup bola pada jantun. dan berujung kematian pada pasien (Martinho and Rodrigues, 2008. Loewenstein. Pasien yang mendapatkan terapi infus diperkirakan sekitar 25 juta pasien per tahun, dengan pemasangan berbagai bentuk alat akses intravena dan lama perawatannya (Hampton, 2. Pasien yang mendapatkan terapi intravena sebesar 5%-70% mengalami kejadian plebitis (Zarate,2. Data dari Depkes RI Tahun 2013 angka kejadian plebitis di Indonesia sebesar 50,11% untuk Rumah Sakit Pemerintah sedangkan untuk Rumah Sakit Swasta sebesar 32,70%. Angka kejadian plebitis merupakan Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 Penyebab dari plebitis terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor penyebab internal dari plebitis adalah usia, status gizi, stres, kondisi vena, faktor penyakit pasien rawat inap yang terpasang infus serta jenis kelamin (Perry dan Potter, 2. Sedangkan faktor eksternal dari plebitis terdiri dari 3 jenis yaitu faktor kimia seperti jenis cairan hipertonis, isotonis dan hipotonis serta jenis infus disisi bahan infus yang terbuat dari polivinil atau polietelin (Teflo. mempunyai resiko terjadinya plebitis lebih besar dibandingkan dari bahan silicon atau poliuretan, (Alexander,et al, 2. Faktor mekanik seperti bahan kanule, ukuran infus, lokasi pemasangan infus, jenis insersi juga berpengaruh terhadap kejadian plebitis dan akibat faktor bakterial antara lain: teknik aseptik yang kurang pada saat penusukan, pemasangan yang terlalu lama, pembungkus yang bocor atau robek dapat mengandung bakteri, tempat penyuntikan yang jarang diinspeksi visual (INS, 2. Penelitian dilakukan pada 83 responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien yang terpasang kateter intravena dan menjalani perawatan di Gedung Marwah RSU Haji Surabaya. Gedung Marwah RSU Haji Surabaya terdiri dari empat ruang perawatan yaitu Ruang Marwah 1 adalah ruang perawatan untuk kemoterapi. Marwah 2 adalah ruang perawatan khusus untuk balita dan kanak-kanak, sedangkan ruang perawatan untuk orang dewasa ditempatkan di Ruang Marwah 3 bagi laki-laki dan Marwah 4 bagi Jumlah responden pada masingmasing ruang yaitu Marwah 1 sebanyak 23 responden . ,7%). Marwah 2 sebanyak 26 responden . Marwah 3 sebanyak 22 responden . ,5%), dan Marwah 4 sebanyak 12 responden . ,5%). Pada penelitian ini terdapat data umum dan data khusus. Data umum berdasarkan karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan dan status pernikahan (Tabel . Data khusus berdasarkan Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kejadian plebitis meliputi faktor lokasi pemasangan infus, faktor jenis cairan infus dan faktor lama pemasangan infus (Tabel . METODE Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik yang bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi kejadian plebitis. Penelitian ini bersifat observasional karena dilakukan pengamatan terhadap responden di lapangan. Berdasarkan dilakukan secara cross sectional, penelitian ini diobservasi sekaligus pada suatu waktu tertentu untuk menggambarkan keadaan pada waktu tersebut dengan analisa uji regresi linier =<0,05. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 82 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi diambil dengan teknik simple random sampling. Variabel independen adalah Usia. Jenis Cairan. Lokasi pemasangan infus. Lama pemasangan infus dan variabel dependen adalah kejadian plebitis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah bundle intravena perifer dan laporan angka kejadian plebitis. Tabel 1 Distribusi karakteristik responden Data Umum Usia Kanak-kanak . -11 tahu. Remaja . -25 tahu. Dewasa . -45 tahu. Lansia (Ou46 tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Belum sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Status Pekerjaan PNS Swasta HASIL PENELITIAN Frekuensi Persentase . (%) Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 Tidak Bekerja Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Total 100,00 Tabel 2 Distribusi faktor-faktor memengaruhi kejadian plebitis Data Khusus Lokasi Pemasangan Metacarpal Cephalic Vena Basilic Median Antebrachial Jenis Cairan Hipotonis Isotonis Hipertonis Lama Pasang Alat O 3 hari > 3 hari Total Frekuensi . Persentase (%) 100,00 Data yang diperoleh menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia lansia . ,2%), berjenis kelamin laki-laki . ,8%), pendidikan terakhir yang ditempuh adalah belum sekolah . ,3%), tidak bekerja . ,9%), dan sudah menikah . ,2%). gejala plebitis sebagian besar terjadi pada usia kanak-kanak yaitu 0-11 tahun sebesar 60. (Tabel . Berdasarkan tabulasi silang antara lokasi pemasangan infus terhadap kejadian plebitis menunjukan bahwa responden yang terdapat gejala plebitis sebagian besar terpasang alat intravena atau infus di bagian metacarpal sebesar 61. responden yang tidak terdapat gejala plebitis sebagian besar terpasang alat intravena di bagian Cephalic sebesar 86. 7% (Tabel . Berdasarkan tabulasi silang antara jenis cairan infus terhadap kejadian plebitis menunjukan bahwa responden yang terdapat gejala plebitis sebagian besar mendapatkan terapi cairan Hipertonis sebesar 62. 5% dan responden yang tidak terdapat gejala plebitis sebagian besar mendapatkan terapi cairan Isotonis sebesar 54. 2% (Tabel . Berdasarkan tabulasi silang antara lama pemasangan infus terhadap kejadian plebitis menunjukan bahwa responden yang terdapat gejala plebitis sebagian besar dengan lama pemasangan alat intravena >3 hari Sedangkan, responden tanpa gejala plebitis sebagian besar dengan lama pemasangan alat intravena O 3 hari sebesar 8% (Tabel . Data yang diperoleh menunjukan bahwa sebagian besar lokasi pemasangan kateter intravena responden pada lokasi Metacarpal . 3%), mendapat terapi cairan isotonis . ,1%), dan dengan lama pemasangan kateter intravena kurang dari sama dengan tiga hari . ,9%). Berdasarkan tabulasi silang antara usia terhadap kejadian plebitis menunjukan bahwa responden dengan gejala plebitis sebagian besar pada lansia Ou46 tahun sebanyak 22 responden . 9%) dan 17 responden tanpa Tabel 3 Tabulasi Silang faktor-faktor yang dapat memengaruhi kejadian plebitis Kejadian Plebitis Faktor Tidak R Square Usia Kanak-kanak ( 0-11 tahun ) 3 17 60. Remaja ( 12-25 tahun ) 4 5 55. Dewasa ( 26-45 tahun ) 5 6 54. Lansia (Ou46 tahun ) 9 13 37. Lokasi Pemasangan Infus Metacarpal 7 23 38. Signifikansi < 0,05 Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 Cephalic Vena Basilic Median Antebrachial Jenis Cairan Isotonis Hipertonis Lama Pemasangan Infus O3 hari > 3 hari Total Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 PEMBAHASAN plebitis peneliti sudah melakukan pergantian Peneliti menemukan juga responden lansia lupa bahwa mereka terpasang infus artinya peneliti menemukan infus terlepas pada responden lansia sehingga plebitis tidak Pada sebagian kecil responden kategori kanak-kanak yaitu berusia 6-11 tahun dimana responden banyak melakukan aktivitas, mendapatkan terapi cairan isotonis dengan minimal pemberian terapi intravena yang lain, serta lebih banyak mendapatkan terapi peroral. Penelitian penelitian yang dilakukan oleh Pradini pada tahun 2016 di RSUD Tugurejo Semarang yang menyatakan bahwa variabel umur pasien tidak berhubungan dengan kejadian plebitis pada pasien rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang tahun 2016 . value0,762 > . Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah pada Tahun 2011 di RSUD Tugurejo Semarang yang menyatakan bahwa plebitis tidak hanya pada usia namun juga pada lokasi penusukan, jenis cairan dan hari infeksi. Pengaruh Faktor Usia Terhadap Kejadian Plebitis Usia adalah umur individu yang terhitung mulai dari dilahirkan sampai saat berulang tahun. Seiring dengan penambahan usia maka akan terjadi berbagai perubahan fungsi tubuh baik secara fisik, biologis, psikologi dan sosial. Teori Smeltzer and Bare . menyebutkan bahwa pada usia lanjut terjadi peningkatan kerentanan terhadap penyakit. Seiring dengan bertambahnya usia diikuti dengan adanya penurunan dan perubahan fungsi tubuh baik secara fisik, biologis, psikologis, dan sosial, salah satu perubahan fisik tersebut adalah penurunan sistem imunitas dalam tubuh. Faktor penyebab kejadian plebitis pada kelompok lansia sering dikaitkan dengan penurunan sistem imunitas, penurunan fungsi tubuh, status nutrisi, riwayat penyakit, faktor degenerasi sel tubuh. Fungsi imunitas tubuh yang menurun perubahan vena juga terjadi seiring dengan peningkatan usia dimana pasien yang usianya >60 tahun, memiliki vena yang bersifat rapuh, tidak elastis dan mudah hilang . , sedangkan pada pasien anak vena lebih bersifat kecil, elastis dan mudah hilang . hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi kejadian plebitis pada seseorang. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan uji statistik Regresi Linier diketahui R Square sebesar 0. 011 dengan signifikansi sebesar 0. 345 menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh antara usia terhadap kejadian plebitis. Hal ini dapat dikarenakan sebagian besar responden kategori lansia usia 46-65 mendapatkan terapi intravena yang tidak menyebabkan plebitis seperti jenis cairan isotonis dan hanya mendapatkan terapi peroral serta pada responden lansia peneliti menemukan kesulitan dalam berkomunikasi terpasangnya infus responden mengalami keterbatasan aktifitas, serta kondisi vena yang mudah rapuh sehingga sebelum terjadi Pengaruh Faktor Lokasi Pemasangan Infus Terhadap Kejadian Plebitis Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa responden yang terdapat gejala plebitis sebagian besar terpasang alat intravena atau infus di bagian Metacarpal sedangkan, responden yang tidak terdapat gejala plebitis sebagian besar terpasang alat intravena di bagian Cephalic Penempatan kateter pada area fleksi lebih sering menimbulkan kejadian plebitis, oleh karena pada saat ekstremitas digerakkan kateter yang terpasang ikut bergerak dan meyebabkan trauma pada dinding vena. Pada pemasangan intravena catheter pemilihan vena harus diperhatikan dengan Diantaranya dalah vena yang besar, vena yang diperifer terlebih dulu, vena yang tidak bercabang, dan vena yang terletak tidak didekat persendian. Banyak tempat yang dapat digunakan untuk terapi intravena. Vena yang digunakan adalah vena di daerah ekstermitas yang perifer . Terdapat beberapa Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 jalur penusukan yang biasa dilakukan oleh perawat, yaitu: lengan, punggung tangan dan punggung kaki. Lokasi dipilih, lokasi yang tidak mengganggu mobilisai fisik (Rizky & Supriyatiningsih, 2. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan uji statistik Regresi Linier diketahui R Square sebesar 0. 161 dengan signifikansi sebesar 0. Menurut hasil pengaruh antara lama pemasangan infus dengan kejadian plebitis. Lama pemasangan infus berpengaruh terhadap kejadian plebitis. Hal ini menunjukan bahwa lokasi pemasangan infus dibagian metacarpal memiliki risiko lebih tinggi terjadi plebitis dibandingan dengan lokasi lainnya. Hal ini dapat dikarenakan lokasi metacarpal lebih sering dipilih sebagai lokasi penusukan dibandingkan dengan lokasi lainnya karena memiliki pembuluh darah yang besar sehingga pemasangan lebih mudah. Dari hasil observasi peneliti sebagian mengatakan lebih nyaman bila responden terpasang infus di lokasi metacarpal karena responden lebih leluasa untuk melakukan Faktor kenyamanan pasien harus pemasangan infus. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumara pada tahun 2017 di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan lokasi terapi intravenus terhadap kejadian phlebitis dengan p= 0,002. mencetuskan kelebihan cairan dan dehidrasi. Para ahli umumnya sepakat bahwa makin lambat infus larutan hipertonik diberikan makin rendah risiko plebitis. Vena perifer yang paling besar dan kateter yang sekecil dan sependek mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infuse yang diinginkan, dengan 45 mm. Kanula harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau kemerahan. Infus relatif cepat ini lebih relevan dalam pemberian infus juga sebagai jalan masuk obat, bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi parenteral. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan uji statistik Regresi Linier diketahui R Square sebesar 0. 013 dengan signifikansi sebesar 0. 305 menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh antara jenis cairan infus terhadap kejadian plebitis. Hal ini dapat dikarenakan responden yang mendapatkan terapi cairan hipertonis sebelum ditemukan tanda-tanda plebitis dilakukan pergantian infus serta pada responden yang mendapatkan terapi antibiotik dan analgetik obat tersebut sebelum dimasukkan dilakukan pengenceran dengan cairan isotonis seperti normal saline sehingga plebitis tidak terjadi. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pradini pada tahun 2016 di RSUD Tugurejo Semarang yang menyatakan bahwa variabel jenis cairan tidak berhubungan dengan kejadian phlebitis pada pasien rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang tahun 2016 . value 0,269 > . Pengaruh Faktor Jenis Cairan Terhadap Kejadian Plebitis Cairan yang bersifat hipertonis memiliki osmolaritas yang lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah, misalnya: Dextrose 5%. NaCl 45% hipertonik. Dextrose 5% RingerLactate dan Manitol. Larutan-larutan ini menarik air dari kompartemen intraseluler ke ekstraseluler dan menyebabkan sel-sel Jika diberikan dengan cepat dan dalam jumlah besar, dapat menyebabkan kelebihan volume ekstra seluler dan Pengaruh Faktor Lama Pemasangan Infus Lama pemasangan kanula akan mengakibatkan tumbuhnya bakteri pada area Semakin lama pemasangan tanpa dilakukan perawatan optimal maka bakteri akan mudah tumbuh dan berkembang (INS. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan uji statistik Regresi Linier diketahui R Square sebesar 0. 065 dengan signifikansi sebesar 0. 020 menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara lokasi pemasangan infus dengan kejadian plebitis. Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 Hal ini menunjukan bahwa pasien dengan lama pemasangan infus lebih dari tiga hari memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan pasien dengan lama pemasangan kurang dari dua hari. Pada saat penelitian berlangsung, terdapat responden dengan gejala plebitis namun tidak bersedia dilakukan pergantian infus dengan alasan pada hari tersebut direncanakan KRS, memperoleh lebih dari tiga macam terapi intravena dan kondisi vena responden yang kecil dan mudah Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian di Amerika. Center of Disease Control and Prevention (CDC) yang merekomendasikan penggantian dan pindah tempat insersi dilakukan 48 - 72 jam pada pasien dewasa (Pearson, 1. Hasil studi observasi Karadag dan Gorgulu . didapatkan rata-rata plebitis tertinggi terdapat pada pasien yang menggunakan kateter IV setelah hari ke-4 . ,4%) sedangkan 34,5% pemakaian IV selama 1 sampai dengan 3 hari. Lama pemasangan kateter IV akan mengakibatkan tumbuhnya bakteri pada area dilakukannya perawatan yang optimal. REFRENSI Agustini. Chandra, dkk. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Phlebitis pada Pasien yang Terpasang infuse di Ruang Medikal Chrysant Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. Tersedia https://media. com/media/publica tions/186499-ID-analisis-faktoryangberhubungan-dengan. phlebitis diakses pada tanggal 18 Januari 2020 pukul 55 WIB. Akbar. Nella Mega. Hubungan Faktor Instrinsik. Kimia. Dan Mekanik Pada Pasien Terpasang Kateter Intravena Dengan Kejadian Plebitis Di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Skripsi. Universitas Airlangga. Surabaya Alexander. Burns. Dellinger. Garland. Heard. Saint. Guidelines for the prevention of catheter-related . -journal Amerika : American Journal of Infection Control, 39. : pp 1-34. Tersedia di id/journal/2011/01. diakses pada 11 September 2019 pukul 00 WIB Campbell. IV-Related Plebitis. Complications And Length Of Hospital Stay:2. British Journal of Nursing, 7 . , 1364-1370. CDC. Nursing Washington DC. Center of Disease and Control Tersedia di w. Daugherty. Standard For Infusion Therapy. The RCN IV Therapy Forum. Dougherty L, dkk. Standarts for infusion therapy. Third edition. London: Royal collage of nursing. Gayatri,D & Handiyani. Jurnal Keperawatan Indonesia Hubungan Jarak Pemasangan Terapi Intravena dari Persendian Terhadap Waktu Terjadinya Phlebitis Edisi 11 No. SIMPULAN Kejadian plebitis dipengaruhi oleh lokasi pemasangan (P=0. dan lama pemasangan infus (P=0. Usia dan Jenis cairan infus tidak memengaruhi kejadian phlebitis namun, kejadian plebitis sebagian besar terjadi pada responden dengan kategori lansia dan mendapat cairan hipertonis. Perlunya pelatihan yang berkaitan dengan asuhan invasif dan pemberian terapi intravena, serta cara pemasangan infus yang sesuai SOP dengan memperhatikan teknik aseptic dalam pemasangan infus. Selain itu, perlu mengetahui pedoman pemasangan infuse sesuai jenis cairan dan lokasi pemasangan serta melakukan pergantian infus setiap 48-72 jam sesuai Bundle Prevention Plebitis. Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Jakarta. Graber. Prof. Terapi Cairan. Elektrolit dan Metabolik Edisi 3. Farmedia. Jakarta. Hankins. Lansway. Mitchell. Kumar. Abbas. Fausto, 2001. Infusion Terapi In Clinical Practice. Philadelphia. Saunders Company. Hidayat,A. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika Hidayat,A. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data Edisi Pertama. Jakarta : Salemba Medika Hidayat,A. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data Edisi Pertama. Jakarta : Salemba Medika Infusion Nurses Society. Infusion Nursing Standards of Pratice. Journal of Infusion Nursing: Supplement 34 Johnson. , 2004. Treatment of Phlebitis at Mayo Clinic. Intravenous infusion therapy for nurses: Principles and Albany. New York :Delmar Publishers Karadag. , and Gorgulu. Effect of two different short peripheral catheter materials on phlebitis development. Journal of Intravenous Nursing, 23 . 158- 166. Komaling, dkk, 2014. Hubungan Lamanya Pemasangan Infus (Intraven. dengan Kejadian Flebitis Pada Pasien Irina F BL U RSUP Prof. Dr. Kandou Manado. Jurnal Keperawatan. Vol II. No. Februari 2014. Hlm. Lyda Zoraya Rojas-Synchez, et al,2015. Incidence and factors associated with the development of phlebitis: results of a pilot cohort study. Revista de Enfermagem Referyncia. Vol. IV,No. Januari 2015 Martinho and Rodrigues, 2008. Occurrence of phlebitis in patients on intravenous Einstein. : pp 459462. Notoatmodjo. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nurjanah, dkk, 2011. Hubungan antara Lokasi Infus dan Tingkat Usia dengan Kejadian Flebitis di Ruang rawat inap Dewasa RSUD Tugurejo Semarang. Artikel penelitian Nursalam 2014. Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika O'Grady. Alexander. Burns. Dellinger. Garland. Heard. Saint. Guidelines for the prevention of intravascular catheterrelated infections. American Journal of Infection Control, 39. S1-34. Tersedia http://w. com/10. 1016/j. 003 diakses pada tanggal 12 September 2019 Pukul 15. 50 WIB Pearson. Guideline for prevention American Journal of Infection Control. Peraturan Menteri Kesehatan No 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Kesehatan. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Perry. Potter. , 2006. Knowladge: Fundamentals of Nursing, 8th Ed. Mosby, pp 1-136. Vital Book file. Potter. , and Perry A. , 2005. Buku ajar keperawatan fundamental. Jakarta. Pradini. Putri Cahya Ayu. FaktorFaktor yang Berhubungan dengan Kejadian Phlebitis pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2016. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang. Rizky. Wahyu. Analisis Faktor yang Berhubungan Kejadian Phlebitis pada Pasien yang Terpasang Kateter Intravena di Ruang Bedah Rumah Sakit Ar. Bunda Prabumulih. Qanun Medika Vol. 3 No. 1 Januari 2019 JNKI. Vol. No. Tahun 2016, 10210. Smeltzer SC and Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Smeltzer SC dan Bare BG, 2005. Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2-3. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Sumara. Retno. Hubungan Lokasi Terapi Intravenus dengan Kejadian Plebitis. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 2 . Ulusoy S. Akan H. Arat M. Baskan S,. The prevention of intravasculer catheter infections guides. J Hosp Infect. : pp. 15Ae26. Wallis. Phlebitis and intravenous Nursing. -journa. New Zealand: IVNNZ Inc Tersedia dihttp://w. nz/journals/200 5/Infection-Control/Phlebitis diakses pada tanggal 15 September 2019 pukul 20 WIB. Wayunah, 2011. Kenyamanan Pasien Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Indramayu. Tesis. Universitas Indonesia. Suliana, 2013. Au The Effect Of Progressive Muscle Relaxation Technique Exercise Against Rheumatoid Arthritis Pain Intensity On ElderlyAy. Nursing Journal, vol 05, no 001, hal 31-35, diakses tanggal 23 agustus 2016, http://digilib. id/ojs/index. php/jip/article/dow nload/87/80 Tamsuri, 2007. Konsep Dan Penatalaksanaan Nyeri. EGC. Jakarta. RS, 2006. Anatomi Kulit Untuk Mahasiswa Kedokteran. EGC. Jakarta. Taylor, 2007. Fundamental Of Nursing: The Art And Science Of Nursing Care. Philadelpia. Newyork . Verydwi. Bab 1 Very Blogger. di akses http://verydwi131. com/2015/ 01/bab-1-pendahuluan-n-yerimerupakan.