JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustus 2022. Page 16-22 ISSN: 2579-7913 HUBUNGAN LEVEL AKTIVITAS FISIK DAN POLA KONSUMSI MAKANAN DENGAN STATUS GIZI MAHASISWA Evy Noorhasanah*. Nor Isna Tauhidah. Program Studi Profesi Ners Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Indonesia email: evynoorhasanah@gmail. Abstrak Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada perubahan kebiasaan mahasiswa terutama kondisi sedentary lifestyle akibat banyaknya kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara virtual dan berubahnya pola konsumsi makan. Status gizi dapat dipengaruhi oleh asupan gizi yang dikonsumsi dan aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari, dimana gizi yang baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga penting memperhatikan faktor yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan level aktivitas dan pola makan dengan status gizi pada mahasiswa tingkat satu. Desain penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. menggunakan uji Spearman Rank. Sampel berjumlah 105 orang menggunakan tehnik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara level aktivitas fisik dengan status gizi, dan ada hubungan antara variabel pola konsumsi makan dengan status gizi. Status gizi seseorang bisa diperbaiki atau dikontrol dengan meningkat pola konsumsi makan ke arah yang lebih baik dan bisa didukung dengan aktifitas fisik sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing orang, guna mencegah munculnya berbagai penyakit akibat kurangan ataupun kelebihan gizi. Kata kunci: aktifitas fisik, pola konsumsi makanan, status gizi Abstract The Covid-19 pandemic has had an impact on alterations in student behavior, particularly the state of sedentary lifestyles as a result of the numerous virtual learning activities and alterations in eating habits. Good nutrition can boost body resistance, thus it's necessary to pay attention to things that can affect a person's nutritional status. Nutritional status can be changed by nutritional intake taken and daily physical activity. This study aims to determine the relationship between activity levels and eating patterns with nutritional status in first-year The design of this study is a correlation study with a cross sectional approach using the Spearman Rank test. 105 people make up the purposive sampling sample. The findings revealed a relationship between the variables of food intake patterns and nutritional status, but not between the amount of physical activity and nutritional status. In order to prevent the appearance of various diseases owing to lack of or excess nutrition, a person's nutritional status can be improved or regulated by increasing food consumption patterns in a healthier direction and can be supported by physical activity according to each person's body's Keywords: physical activity, food consumption patterns, nutritional status PENDAHULUAN Masa remaja merupakan salah satu periode tahapan tumbuh kembang anak yang merupakan masa transisi akhir periode anak ke periode dewasa dan akan menentukan masa depan anak menuju masa dewasa produktif dan berkualitas. Menurut WHO remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun pada anak lakilaki, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 25 tahun 2014 remaja adalah individu yang pada rentang 10-19 tahun (WHO, 2. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) remaja adalah individu dengan -16- Evy Noorhasanah, et. Hubungan Level Aktivitas Fisik dan Pola Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Mahasiswa rentang usia 10-24 tahun dan belum menikah (Kementerian Kesehatan RI, 2. Data demografi menunjukkan bahwa penduduk di dunia dengan jumlah terbesar adalah populasi remaja. Di Indonesia berdasarkan hasil Biro Pusat Statistik yang dolah oleh Pusat Data dan informasi Kemenkes tahun 2018 jumlah usia anak mencapai 33% dari total estimasi penduduk 971, dengan sebaran usia remaja sekitar 20% yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Riskesdas, 2. Permasalahan kesehatan pada remaja merupakan salah satu hal penting dalam siklus kehidupan karena pola perilaku kesehatan dimasa remaja akan berkontribusi terhadap sebagian besar masalah kesehatan dimasa dewasa. Pada masa remaja juga akan terjadi penambahan kecepatan pertumbuhan/pacu tumbuh . rowth spur. yang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dan status gizi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi remaja antara lain adalah pendapatan keluarga, pola diet atau pola makan, masalah kesehatan, kekurangan gizi, pengetahuan dan pendidikan, kebebasan, aspek waktu, aktivitas fisik dan body image (Rahayu, 2. Data Riskesdas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kejadian obesitas pada usia lebih dari 15 tahun pada Riskedas 2013 sebesar 26,6% naik menjadi 31% pada Riskesdas Kondisi menunjukkan bahwa terjadinya masalah pada status gizi remaja di Indonesia yang mengarah pada kondisi gizi berlebih yang pada akhirnya akan memberikan dampak pada terjadinya peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) berlebih pada usia dewasa yang akan menjadi faktor resiko terjadinya masalah-masalah penyakit tidak menular sperti masalah sistem kardiovaskuler (Riskesdas, 2. Selain faktor-faktor perubahan situasi global dan nasional yang terjadi juga menjadi salah satu ancaman pada masa remaja khususnya yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Munculnya permasalahan emerging diseases Corona virus (Covid-. yang telah ditetapkan sebagai pandemik di Indonesia sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini memberikan dampak terhadap semua lini kehidupan termasuk pada tingkat kebugaran dan kesehatan remaja. Pembatasan ruang gerak, social distancing yang terjadi dimasa pandemi Covid-19 menjadikan keterba-tasan pola aktivitas harian serta peningkatan sedentary lifestyle pada setiap orang tidak terkecuali para remaja (Devriany and Sari. Sebelum Covid-19 menunjukkan bahwa persentase remaja di Indonesia yang menghabiskan waktu secara khusus atau biasa untuk duduk dan menonton televisi, main game komputer, mengobrol dengan teman, melakukan kegiatan lain sambil duduk atau main play station lebih dari satu jam adalah cukup tinggi . ,85%) (Kusumawardani, 2. Menurut data Riskesdas terjadi peningkatan proporsi aktivitas kurang dari 26,1% pada Rikesdas 2013 menjadi 33,5% pada rentang usia diatas 10 tahun. Selama masa pandemi Covid-19 dari hasil penelitan Abduh . tentang level aktivitas fisik pada anak SMA di kota Palu pada masa pendemik menunjukkan bahwa siswa dengan kategori level aktivitas fisik rendah sebanyak 93% hal tersebut menunjukkan bahwa masih rendahnya pola aktivitas remaja terutama pada situasi pandemi Covid-19 (Octavia. Pola aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten dengan durasi dan intensitas yang tepat akan mengurangi resiko peradangan sistemik, penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskuler, diabetis mellitus dan peningkatan massa tubuh . yang bisa menjadi salah satu faktor resiko paparan penyakit menular (Sekulic et al. , 2. Asupan energi juga merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tubuh serta status gizi pada masa remaja terutama pada masa pandemi perubahan-perubahan kebiasaan baru. Asupan yang tidak kuat maupun kelebihan akan menyebabkan seluruh unit fungsional remaja akan bermasalah dan berakibat pada peningkatan berat badan remaja yang bisa mengarah pada berbagai masalah kesehatan (Purba, 2. Data sebelum pandemi Covid-19 menunujukan bahwa remaja seringkali lebih menyukai konsumsi makanan cepat saji sekitar 54%. Konsumsi buah kurang dari satu kali sehari sebanyak . ,98%) sedangkan untuk konsumsi sayuran, sekitar 3,01% remaja tidak makan sayur dalam 30 -17- Evy Noorhasanah, et. Hubungan Level Aktivitas Fisik dan Pola Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Mahasiswa hari (Kusumawardhani, 2. Pada masa pandemik Covid-19 menurut penelitian Efrizal . terdapat perubahan pola konsumsi remaja sebelum pandemi Covid19 dan selama masa pandemik Covid-19 sebesar 37,9%. Menurut Hita . pada masa pandemi Covid-19 ini sangat penting untuk menjaga pola aktivitas fisik dan gizi seimbang karena kedua hal tersebut akan memberikan dampak pada seseorang terhadap paparan penyakit (Hita. Mahasiswa-mahasiswi berada pada kategori Midle dan Late Adolescence, terutama bagi mahasiswa yang berada di semester satu. Kondisi pandemi menjadikan beberapa perubahan kebiasaan dimana mengharuskan para mahasiswa untuk tetap belajar dan berkegiatan lebih banyak dari rumah dengan kegiatan yang perkuliahan daring setiap harinya. Perubahan situasi juga akan berdampak terhadap pola konsumsi dan aktivitas untuk sehari-hari menjaga Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara aktivitas fisik, pola konsumsi makanan dengan status gizi yang dimiliki oleh mahasiswa pada masa pandemi Covid-19 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan pendekatan cross Penelitian ini melakukan . Populasi penelitian ini seluruh mahasiswa semester 2 yang ada di fakultas keperawatan di univesitas X di Banjarmasin dengan jumlah sampel 105 orang. Tehnik sampel menggunakann Purposive sampling dengan kriteria usia berkisar 16-19 tahun dan sedang tidak dalam keadaan sakit. Pengumpulan data menggunakan instrument Global Physical Activity Quesionnaiere (CPAQ) untuk variable aktivitas fisik dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) berupa lembar check pengumpulan data status gizi menggunakan timbangan berat badan dan alat ukur tinggi badan, kemudian dihitung index masa tubuh atau IMT. Uji statistik pada penelitian ini menggunakan uji Spearman Rank dengan derajat kepercayaan 95% dan nilai =5% dianalisis dengan SPSS. Penelitian ini telah dinyatakan layak etik oleh dengan nomor 163/UMB/KE/VII/2021. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di Fakultas Keperawatan Universitas Banjarmasin yang dilaksanakan selama 4 Berikut hasil penelitian yang meliputi data jenis kelamin, level aktivitas fisik, pola konsumsi dan status gizi, hubungan antara Tabel 1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Berdasarkan tabel 1 menunjukkan responden terbanyak berjenis kelamin Tabel 2. Hasil Pengukuruan Level Aktivitas Fisik. Pola Konsumsi Makanan. Status Gizi Karakteristik Level aktivitas fisik Ringan Sedang Berat Pola konsumsi makanan Kurang Cukup Baik Status Gizi Buruk Baik Pada tabel 2 didapatkan informasi bahwa sebagian besar level aktivitas dalam kategori ringan, sedangkan pola konsumsi makan sebagian besar dalam kategori cukup, namun juga masih banyak yang termasuk dalam kategori kurang lebih dari 40%. Sebagian besar responden memiliki status gizi dalam kategori normal, namun juga diketahui masih banyak responden memiliki kategori buruk yang merupakan suatu awal masalah kesehatan yang bisa terjadi dikarenakan status gizi yang buruk termasuk didalamnya gizi kurang dan gizi lebih. Hasil penelitian menunjukkan masih banyak yang mengalami masalah gizi, baik gizi lebih dan -18- Evy Noorhasanah, et. Hubungan Level Aktivitas Fisik dan Pola Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Mahasiswa gizi kurang, yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Pada penelitian (Yahlia, 2. menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa perempuan berada dalam kisaran berat badan yang normal dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki. Mahasiswa laki-laki memiliki nilai lingkar pinggang yang lebih tinggi. Sebagian besar menunjukkan kebiasaan diet yang baik. Hampir setengah dari siswa melaporkan minum dua gelas susu dan mengonsumsi buah dan sayuran setiap hari. Skor aktivitas fisik dan gaya hidup menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak aktif secara fisik. Hanya 7% siswa yang melaporkan memiliki gaya hidup sangat aktif. Pada penelitian (Abduh et al. , 2. juga menunjukkan bahwa 93,3% responden memiliki level aktivitas fisik yang rendah, dan hanya 56,4% responden yang masuk dalam kategori status gizi normal, selebihnya mengalami kelebihan gizi dan 34,9 % memilih status gizi kurang terutama di masa pandemi Covid-19. Tabel 3. Hubungan Level Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Level Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Total Status Gizi Buruk Baik 49 75,4 40 100 65 100 Jumlah Hasil sebagian besar responden yang memiliki aktivitas fisik yang ringan lebih banyak memiliki status gizi yang baik. Hasil uji statistik didapatkan hasil p-value 0,328 dimana nilai p value > 0,05, artinya tidak ada hubungan antara level aktivitas dengan status gizi. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi status gizi. Sebagian besar responden memiliki level aktivitas yang ringan, namun tetap memiliki status gizi yang baik. Sejalan dengan (Nabawiyah, 2. bahwa tidak hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi, pada penelitian ini responden cenderung memiliki aktivitas ringan seperti duduk kuliah dalam waktu yang lama dan lebih banyak menggunakan waktu untuk bersantai, meskipun aktivitas fisik yang dilakukan dalam kategori ringan namun masih banyak yang memiliki status gizi yang baik. Berbeda dengan penelitian (Roring et , 2. yang menyebutkan ada hubungan antara aktivitas fisik, hal ini dikarenakan asupan energi atau kalori yang berlebihan jika tidak di imbangi dengan pengeluaran energi melalui aktifitas fisik dapat menyebabkan berat badan bertambah, bahkan membuat seseorang obesitas. Aktivitas yang berat terdapat pada responden yang memiliki aktivitas lebih lama berjalan kaki dan berpergian. Pada Sebagian responden didapatkan banyak memiliki tingkat aktivitas yang ringan, dikarena banyak yang berkegiatan yang tidak memerlukan aktivitas fisik yang berat, seperti kegiatan duduk pada saat kuliah yang lebih banyak makan waktu keseharian responden, ditambah dengan kondisi pandemi sekarang dimana responden hanya beraktifitas didalam rumah, sehingga tidak sedikit responden yang memiliki waktu bersantai lebih dari dua jam dan rata-rata menggunakan waktu berolahraga ringan tidak lebih dari 30 menit sehari. Responden juga sebagian besar tidak pernah melakukan olahraga berat. Berbeda dengan para atlet taekwondo yang lebih sering melakukan aktivitas olahraga dan latihan fisik (Salamah, 2. Berbeda dengan penelitian lain yang menyatakan terdapat hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada remaja putra dimana, aktivitas remaja yang cenderung gemuk, cenderung kurang aktif melakukan aktivitas (Muliyati et al. , 2. Pada orang yang jarak berolahraga bahkan tidak melakukan olahraga sangat berpengaruh pada status gizi seperti obesitas. Berolahraga yang rutin dapat mengurangi penumpukan lemak pada tubuh sehingga dapat (Zulkarnain and Alvina, 2. Salah satu aktivitas fisik yang dapat emmpengaruhi status gizi adalah kebiasaan berolahraga, hasil penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna dikarenakan sebagian besar responden tidak melakukan olahraga secara rutin, dimana semakin tinggi aktivitas fisik maka semakin rendah status gizi (Aulianti et , 2. Hal ini sejalan dengan (Noerfitri et , 2. menyatakan tidak ada hubungan -19- Evy Noorhasanah, et. Hubungan Level Aktivitas Fisik dan Pola Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Mahasiswa aktivitas fisik dengan kejadian gizi lebih pada mahasiswa. Hal ini dikarenakan banyak factor yang mempengaruhi status gizi seperti konsumsi makanan dan karbohidrat yang tinggi. Banyak factor yang mempengaruhi gizi seperti memiliki factor genetic keturunan gemuk atau kurus, akan cenderung mengalami hal yang sama dengan generasi sebelumnya. Tabel 4. Hubungan Pola Konsumsi Makanan Dengan Status Gizi Pola Konsumsi Kurang Cukup Baik Total Status Gizi Buruk Baik 20 30,8 15 37,5 37 56,9 8 12,3 40 100 65 100 Total Berdasarkan tabel 4 didapatkan data sebagian besar responden dengan kategori pola konsumsi cukup memiliki status gizi yang baik yaitu sebanyak 56,9 %. Hasil uji statistik dengan spearman rho menunjukkan nilai P-Value = 0,002 lebih kecil dari A=0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara kedua variable dengan nilai koefisien korelasi 0,304 terdapat hubungan lemah antara kedua variable hal tersebut dipengaruhi oleh banyak factor yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki pola konsumsi yang kurang baik dengan status gizi buruk. Pola konsumsi yang diterapkan oleh responden lebih banyak menggunakan nasi sebagai bahan makanan pokok utama dan untuk jenis karbohidrat lainnya termasuk sedangkan jenis protein rata-rata responden sudah mengkonsumsi jenis protein hewani yang bervariasi. Konsumsi makanan memiliki pengaruh yang penting terhadap status gizi, dimana pemilihan jenis makan, frekuensi makan dan jenis makanan menentukan kuantitas dan kualitas dari asupan nutrisi yang nantinya kan (Margiyanti, 2. Pola konsumsi dikatakan baik jika memiliki susunan makanan yang lengkap terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah. Jenis dan bahan makanan dan frekuensi makan yang paling banyak yaitu mengkonsumsi makan pokok berupa nasi, dan lauk terbanyak yaitu ayam dan telur, sedangkan untuk sayuran lebih dari 50% menambakan sayur dalam menu makan sehari-hari. Begitu pula konsumsi buah-buahan dikonsumsi oleh lebih dari 50% responden, di dapatkan mengkonsumsi buah. Jenis makanan tambahan lain yang sering dikonsumsi oleh responden yaitu berupa susu, gorengan, kerupuk dan makanan ringan lainnya. Masalah gizi pada remaja sering disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak baik dikarenakan ketidakseimbangan antara konsumsi atau intake yang di dapat dengan kecukupan gizi yang di anjurkan. Pada penelitiann ini ditemukan 41,9 % responden memiliki masalah gizi, seperti kegemukan dan kurus bahkan sangat kurus. Kegemukan pada remaja sering disebabkan oleh kebiasaan makan yang kurang baik. Asupan energi yang berlebih maupun kebiasaan remaja yang membatasi makanan yang dikonsumsi (Margiyanti, 2. Hasil penelitian menunjukkan masih banyak responden yang memiliki pola konsumsi yang kurang baik sejalan dengan penelitian (Dewi et al. , 2. bahwa hampir setengah responden semester dua jarang mengkonsumsi makanan bergizi berupa nasi, lauk, buah dan sayur, salah satu faktornya adalah daya beli. Begitu pula terkait pengetahuan terkait gizi dapat mempengaruhi seseorang melalui makanan yang dipilih, seperti memilih makanan dengan nilai gizi yang baik, masih banyak remaja yang memiliki pengetahuan terhadap gizi pada kategori kurang lebih dari 20% (Selaindoong et al. , 2. Pola konsumsi yang kurang baik memungkinkan seseorang memiliki status gizi yang buruk, seperti obesitas atau kurus menerapkan pola konsumsi yang baik untuk mencapai status gizi yang optimal guna mencegah munculnya masalah kesehatan dan efek berbahaya ketika mereka beranjak dewasa yang nanti akanl ebih sulit untuk Selain itu pola konsumsi makanan pada remaja dipengaruhi oleh tren diet ketat yang sering dilakukan oleh perempuan guna Kebiasaan mahasiswa lainnya seperti mengkonsumsi -20- Evy Noorhasanah, et. Hubungan Level Aktivitas Fisik dan Pola Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Mahasiswa melewatkan sarapan, makan tidak teratur, mengkonsumsi makanan cepat saji sehingga mengakibatkan asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (Kanah, 2. Kebiasaan makan pada remaja lainnya yang dapat mempengaruhi status gizi yaitu pembatasan diet dan kualitas dari makanan yang dikonsumsi (Meg Lawless, 2. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang sangat penting pada masa pandemi ini karena dengan makanan bergizi seimbang yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah yang dikonsumsi secara teratur akan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan penyakit kronis dan penyakit infeksi (RI Kemenkes, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara level aktivitas fisik dengan status gizi, sedangkan pola konsumsi makan dengan status gizi terdapat hubungan yang searah. Berbagai cara yang dapat dilakukan mencegah munculnya berbagai penyakit akibat masalah gizi dan juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh di masa pandemic Covid-19 salah satunya dengan pengaturan pola konsumsi makanan yang lebih baik dengan meningkatkan asupan makanan yang bernilai gizi tinggi dan didukung dengan aktifitas fisik yang sehat. REFERENSI